Levi menatap layar digital kecil pada termometer elektronik di tangannya. Matanya menyipit kesal sebelum akhirnya manik abu-abu dengan bias kebiruan yang kadang terlihat itu ganti menatap sosok yang tengah berbaring tak berdaya di atas tempat tidur dengan selimut ditarik sampai ke batas dagu.

"Kenapa demammu malah naik sih?" tanya Levi sambil menghela nafas. Pria itu tanpa permisi mendudukan dirinya di sisi Eren Jeager yang mengerjapkan matanya tidak fokus. Wajahnya merah namun tubuhnya menggigil.

Levi mematikan termometer dengan sentuhan ringan pada tombol kecil di sebelah layar abu-abu. Angka 38,9° sebelumnya terhapus begitu bunyi pip pelan menandakan peranti kecil itu sudah dinon-aktifkan. Kotak P3K yang ada di atas buffet di sebelah tempat tidur dibuka dan Levi meletakan kembali termometer itu pada tempatnya.

Eren hanya mengerang; enggan menjawab. Levi sebenarnya tahu alasannya. Semua ini karena Eren tidak tidur dengan benar pada malam penyerangan itu. Levi menyuruhnya bersembunyi di bawah tempat tidur yang sama artinya berbaring di permukaan lantai yang dingin. Lalu setelah keributan mereda, pemuda itu malah tidak bisa tidur sampai pagi menjelang dan pihak Recon dan Polisi militer datang menjemput tersangka.

Eren bergerak-gerak tidak nyaman, gelisah. Entah karena pernafasannya agak terganggu karena hidungnya tersumbat atau bagaimana, Eren memiringkan badannya ke arah Levi. Tubuhnya secara otomatis bergelung.

Levi menghela nafas sekali lagi lalu menepuk-nepuk kepala Eren. Ternyata bocah keras kepala seperti ini pun kalau sedang sakit akan menunjukan sisi lemahnya. Dan buat Levi ini cukup manis.

Pintu kamar Eren diketuk, suara Carla terdengar. "Levi...? Ini Carla..."

Sesuai kesepakatan yang dibuat Levi, kamar Eren selalu terkunci dan kunci hanya boleh dipegang oleh Eren dan Levi saja. Bahkan Carla pun sudah cukup memahami alasan di balik semua ini. Setelah keberhasilan Levi yang gemilang di malam penyerangan dua hari sebelumnya, respek wanita itu pada Levi sudah berkembang lebih jauh sampai tahap yang—menurut Eren—mengerikan.

Levi beranjak untuk membukakan pintu. Tentunya tanpa lupa untuk mengecek lewat celah kecil di permukaan pintu apa benar yang berdiri di depan kamar itu Carla. Beberapa agen yang Levi kenal selama bekerja di Garrison dulu membuatnya belajar bahwa beberapa orang tertentu memang terlahir bakat memalsukan suara yang hebat.

Menyadari bahwa benar yang ada di depan pintu adalah Carla, Levi membukakan pintu dengan cepat. Senyum Carla mengembang melihat Levi berdiri menyambutnya.

"Maaf jadi merepotkanmu menjaga Eren..." ujar Carla sambil bergegas masuk ke dalam kamar Eren. Nampan di kedua tangan. Sosok pria lain yang sudah Levi kenal membuntuti Carla dari belakang. Rupanya yang tadi mengetuk pintu bukan Carla.

Jean Kirschtein datang dengan membawa sekeranjang kecil apel yang sudah dibungkus plastik dan pita warna merah dengan rapi. Pemuda itu menatap Levi dengan segan—Carla tentunya sudah menceritakan aksi heroik Levi sampai Jean bisa demikian canggung.

Keduanya beradu pandang. Atmosfir tak menyenangkan terasa menggantung di udara.

"Eren..." Carla menghampiri anaknya dan duduk di tempat yang sebelumnya Levi duduki. Tangannya mengusap rambut coklat Eren penuh kasih sayang. Jean membuntuti Carla lagi sementara Levi menutup pintu kamar.

Eren merespon sentuhan penuh afeksi sang ibu dengan erangan pelan. Jean meletakan buah tangannya di atas meja belajar Eren yang tidak jauh dari tempat tidur. Editor muda dari sang Jeager itu ikut memanggil Eren.

"Eren..."

Levi memerhatikan. Jika pada sentuhannya—yang normalnya akan mengundang protes—dan sentuhan Carla, Eren hanya mengerang pelan, jelas sekali bahwa ketika Jean memanggilnya, Eren mau membuka matanya, tidak peduli seberat apa rasanya kelopak matanya akibat efek samping obat yang membuat ngantuk.

"...uum..."

Kenapa Levi mendadak merasa terganggu dengan fakta trivial itu?

.

.

PROTECTION

Disclaimer: Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama.

This is only a fan works. Non-profitable one.

3—

Fear

.

.

Eren duduk bersandar pada headboard ranjang. Mengapit sisi kiri dan kanan pahanya, sebuah meja lipat kecil diletakan untuk menyangga semangkuk rissoto hangat dan gelas berisi air mineral. Carla yang memasakan sendiri semua untuk Eren. Sebagai seorang ibu yang baik, ia selalu memanjakan Eren. Setidaknya Levi kini tahu darimana Eren mendapatkan perangainya yang cenderung tidak mau kalah itu.

"Makanlah Eren... Kalau tidak nanti bagaimana mau minum obat?" ujar Carla prihatin.

Satu hal lain tentang Eren Jeager yang dipelajari Levi dalam waktu singkat; Eren itu mudah stress. Di bawah tekanan mental tertentu, fungsi tubuh pemuda itu sepertinya mudah berubah. Perutnya jadi tidak sering menagih makanan sesuai frekuensi normalnya. Dan pemuda itu akan tidur lebih banyak dari jam yang seharusnya.

Eren menggeleng. Matanya menatap rissoto di depannya tidak berselera.

"Tidak nafsu makan..."—jawabnya.

Carla tampak hendak meninggikan suaranya ketika telepon parallel di kamar Eren berdering. Carla lekas mengangkat telepon itu hanya untuk mendapati salah satu pelayan memberitahu bahwa ada perubahan janji dengan beberapa klien Grisha—kini klien Carla—perkara pembukaan museum.

Levi sempat mendengar bahwa Museum yang tadinya akan diresmikan oleh Grisha Jeager selaku salah satu tokoh masyarakat yang terkenal akan pengetahuannya mengenai benda seni akan mempercepat waktu peresmiannya. Mungkin ini percakapan lanjutan yang waktu itu.

Carla mengundurkan diri dengan agak terburu-buru ketika ia dikabari bahwa salah satu tamunya ada di ruang tamu untuk menyusun jadwal sekali lagi.

Kini di dalam ruangan hanya ada Jean, Eren, dan Levi. Pria berambut hitam itu duduk di kursi meja belajar yang ditariknya ke dekat ranjang sambil melipat dua tangan di depan dada. Jean mengacak rambut Eren dan masih berusaha membujuknya untuk makan, walau hanya sesuap.

Ucapan hanya sesuap itu hanya bujukan tentu saja. Levi yakin sekali Eren menurutinya, Jean akan membuat Eren melahap habis sajian di depannya. Eren masih menggeleng keras kepala.

"Aku tidak mau makan, Jean..." ujarnya bersikeras. "Aku tidak lapar..."

Levi melihat Jean menghela nafas berat, tapi rupanya pria itu tidak putus asa. Di luar dugaan, level kengototan seorang Jean Kirschtein patut mendapat acungan jempol juga.

Jean tampaknya mengubah taktik. Diraihnya sendok Eren dan disendoknya makanan di dalam mangkuk. Eren terperangah ketika Jean menyodorkan sendok tersebut ke dekat mulutnya.

"Makan ya..."

Eren gelagapan sesaat. Tapi Jean yang tidak bergeming akhirnya membuatnya mengalah. Pemuda berambut coklat itu membuka mulutnya dan melahap makanannya. Jean tersenyum senang dan menghadiahi Eren elusan sayang di puncak kepala.

"Pintar..." ujarnya dengan senyum terkembang lebar.

Eren merajuk. "Aku bukan anak kecil lagi, Jean!"

"Kau belum delapan belas. Belum usia legal berarti masih anak kecil..." tukas Jean sambil tertawa kecil. Pemuda itu kembali menyendok risotto dan menyuapkannya pada Eren yang kini makan dengan patuh.

Levi tidak tahu lagi rona yang menyepuh pipi Eren berasal dari demamnya atau emosi yang sama sekali lain. Yang Levi tahu, apapun alasannya, pemandangan di depannya ini sangat mengganggunya.

.

.

Jean mengundurkan diri begitu Eren selesai makan dan berpesan supaya buah yang dibawanya jangan lupa dimakan. Mereka sempat berbincang sebentar dan Jean memberi kecupan di dahi Eren—seperti sebelumnya—sebelum pulang.

Levi tidak pernah merasa lebih senang mengantar orang pergi—walau hanya sampai keluar pintu kamar saja—sebelum ini. Ada hal yang membuat Levi tidak bisa menyukai pria yang lebih muda bermarga Kirschtein itu.

Eren tampak lebih sehat setelah makan satu porsi risotto sampai habis. Levi menarik kembali kursi ke posisinya di meja belajar dan duduk di posisi awalnya, di sisi ranjang Eren.

"Senang?" tanya Levi dengan nada dingin—yang terdengar ofensif dan sarat sindiran di telinga Eren.

Eren memalingkan muka, tidak mau menatap Levi. Levi hanya memutar bola matanya. Dasar bocah, pikirnya. Tapi dia sendiri yang terganggu karena aksi bocah macam Eren mungkin perlu melatih kontrol diri sekali lagi. Kapan terakhir Levi bekerja dalam kondisi emosi tidak stabil?

Oh, ya. Ketika ia melakukan tindakan yang membawanya pada hukuman penjara dua puluh lima tahun. Dan Levi sudah berjanji bahwa saat itu adalah kali pertama dan terakhir dia akan nekat. Dia yakin setelah 'kejadian itu' tidak akan ada lagi alasan yang bisa membuatnya cukup gila untuk melupakan norma dan hukum yang berlaku sekali lagi.

Levi menelpon ke dapur, minta staf pelayan membawakan pisau buah dan piring. Eren masih diam tidak mau meresponnya. Tangan Levi baru saja beres melucuti plastik pembungkus kiriman Jean ketika pelayan mengantarkan benda-benda yang dimintanya.

"Kau melupakan pencuci mulutmu, bocah... Beterimakasihlah... Karena hanya beberapa orang tertentu yang pernah makan buah yang aku kupas..." ujar Levi. Persetan dengan kalimatnya yang terkesan sangat narsistik dan angkuh.

Eren menatap Levi lagi kali ini. Matanya yang tampak kemerahan karena pengaruh demam bersinar gusar. Walau nafasnya masih tidak teratur karena pernafasannya ikut tersumbat, sikap pemarah—dan tsundere—Eren Jeager tampaknya bukan sesuatu yang mudah luntur begitu saja.

"A-aku tidak minta kau mengupaskan buah untukku!"

Levi menatap Eren dengan seringai meremehkan. "Dan seharusnya fakta itu membuatmu semakin berterimakasih padaku, bocah manja..."

Entah apakah Levi yang memang memiliki karakter buruk, senang menyiram minyak pada api, atau memang sumbu emosi Eren yang kelewat pendek, kombinasi tuan-majikan ini tampaknya akan mengalami proses panjang sebelum benar-benar akur.

Levi baru saja menguliti kulit merah sempurna dari apel yang diambilnya dari keranjang ketika Eren menghardiknya. "Aku tidak perlu kau mengupaskannya untukku! Aku bisa sendi—akh!"

Rupanya pergerakan Eren yang tiba-tiba merebut pisau buah dari tangan Levi malah membuat Eren melukai dirinya sendiri. Darah terbit dari luka di telapak tangan kanan Eren. Untung saja hanya goresan pisau buah yang mata pisaunya tidak terlalu tajam.

"Kau!" Levi nyaris meledak karena ia begitu kesal. Apa bocah ini tidak bisa semenit saja tidak merepotkan Levi selain pada porsi yang memang sudah menjadi tugas Levi?

Eren meringis sampai Levi menarik paksa tangannya—memaksanya mengekspos luka tersebut agar bisa dilihat lebih baik oleh Levi. Dengan seksama Levi memeriksa. Lukanya tidak dalam. Hanya goresan minor walau memang cukup panjang dan pastinya cukup perih. Tapi setidaknya tidak akan mengganggu kerja Eren sebagai seniman yang banyak mengandalkan tangannya. Bocah di depannya ini benar-benar harus belajar caranya merawat diri sindiri sebagai aset di masa mendatang. Eren tidak boleh lupa bahwa bagi seorang pelukis seperti dirinya, tangannya adalah nyawanya.

Kotak P3K yang masih tergeletak di atas buffet difungsikan kembali. Levi memaksa Eren untuk diam. Tangan diletakan di atas paha Levi sementara pria berambut hitam itu memebubuhkan cairan antiseptik pada kapas berbentuk bola-bola. Di punggung tangannya, Eren dapat merasakan fabrik mahal yang membungkus kaki Levi dan jantungnya berdebar.

Ini adalah salah satu alasan Eren tidak suka dekat-dekat dengan Levi. Pemuda tujuh belas tahun itu terlalu 'sadar' akan keberadaan Levi. Berbeda dengan Jean yang selalu bersamanya sedari kanak-kanak, Levi seolah menyebarkan feromon tersendiri yang sama sekali lain.

Dan terjebak dalam feromon tersebut adalah hal terakhir yang dikehendaki Eren Jeager.

Tidak, tidak, tidak. Dia sudah merasakan sakitnya perasaan yang bertepuk sebelah tangan akibat penyimpangan orientasinya yang ia sadari belum lama ini. Siapapun yang ia sukai, Jean atau bukan, selama partnernya bukan seseorang dari kelompok gender berbeda, Eren tidak mau merasakan perasaan aneh yang kadang membuatnya merasa seolah tengah memelihara kupu-kupu terbang di perutnya.

Eren Jeager dalam masa penyangkalan diri.

Eren yakin betul Levi sendiri bukan dari kelompok straight seratus persen. Tapi apapun orientasi Levi, pria itu dan semua pesonanya seolah membunyikan alarm tanda bahaya dalam benak Eren.

"Akh!"—Eren meringis ketika ia merasakan kapas dingin yang sudah dibubuhi antiseptik menyetuh lukanya, membuat perih yang sebelumnya menjadi sensasi sakit yang seolah menggigit. "Pelan-pelan!"

"Jangan memerintahku bocah. Ingat! Yang membayarku itu ibumu..." tukas Levi angkuh. Pria bermarga Ackerman itu dengan telaten membersihkan luka Eren sebelum membalutnya dengan perban.

"I-ini berlebihan..." ujar Eren sambil memerhatikan Levi membalut tangannya dengan rapi tanpa cela. Ia berusaha untuk tidak memfokuskan perhatiannya pada tangan Levi yang kini tengah menggenggam tangannya—memaksa tangan itu diam di tempat.

"Plesternya tidak cukup lebar. Diam saja..." potong Levi serius. "Ini akibar kecerobohanmu sendiri..."

Eren diam lagi. Tidak tahu bagaimana harus membantah karena memang Levi benar, dia yang ceroboh sampai terluka begini. Padahal apa susahnya berkompromi dengan Levi sampai ulang tahunnya yang ke delapan belas tiba?

Eren sendiri yang membuat semuanya menjadi kompleks.

Levi menatap hasil kerjanya yang rapi dengan ekspresi puas diri. Otomatis ibu jarinya mengelus jari-jari Eren dalam genggamannnya. Terperangah, Eren buru-buru menarik tangannya. Begitu cepatnya sampai Levi kaget dibuatnya.

Levi diam beberapa detik. Eren tidak mau mengangkat kepalanya menatap Levi.

"Ho..." Levi berbisik. "Kau sebegitu tidak sukanya padaku, bocah...?"

Jujur saja, Eren ingin sekali menjawab 'bukan begitu' tapi dengan mempertimbangkan probabilitas bahwa jika ia mengiyakan Levi akan sedikit tahu diri dan menjaga jarak dengannya, Eren diam—dan berharap Levi mengasosiasikan diamnya itu sebagai jawaban 'iya'—seperti yang dilakukan banyak orang.

Sayangnya Levi bukan termasuk kategori orang normal; jika kata normal disamakan dengan 'sama seperti kebanyakan orang'. Levi unik. Khusus. Berbeda.

"Ah... Aku mengerti..." Eren hampir menarik nafas lega namun nyatanya Levi datang padanya dengan konklusi yang sama sekali berbeda dengan bayangnya. Rupanya kata 'mengerti' itu tidak berhubungan dengan pertanyaan Levi sebelumnya.

Levi meraih dagu Eren, mendekatkan wajah mereka. Matanya menatap Eren tajam dalam cara yang sulit dideskripsikan.

Mata Eren melebar. Tubuhnya mendadak kaku. Levi mau apa?

"Kau takut padaku..." ujar Levi dengan suara rendah di dekat bibirnya. Nafas Levi hangat dengan samar aroma tembakau, menerpa bibir Eren. Dan Levi tidak bertanya. Pria itu memberi pernyataan terbuka pada Eren, yakin benar dirinya tidak salah menerka. "...Kenapa bocah? Takut hatimu berkhianat dan berpaling dari Kirschtein...?"

Mendengar nama Jean disebut-sebut, Eren menghimpun tenaga untuk merespon Levi. Didorongnya pundak pria itu menjauh sekuat yang ia bisa. Alih-alih bergeming, Levi semakin berani mempermainkan Eren.

Pintu terkunci, hanya Eren dan dirinya yang punya kunci ke ruangan ini. Ini perangkap sempurna. Pangeran Eren Jeager terperangkap dalam kamarnya sendiri.

Levi bertumpu pada salah satu lututnya di ranjang Eren. Dua tangannya melewati sisi kiri dan kanan kepala Eren, bertumpu pada headboard di belakangnya. Eren dalam posisi terjepit. Wajahnya itu kini menunjukan ekspresi tak terdefinisi—campuran merah demam, rona malu, dan pucat pasi ketakutan. Levi menyeringai. Dia tidak tahu mengintimidasi orang lain ternyata bisa sebegini menyenangkan.

Mungkin ini bisa jadi adiksi baru Levi Ackerman selain rokok dan minuman berkafein tinggi.

Levi mendesak Eren semakin jauh. Didekatkannya bibirnya ke daun telinga Eren dan berbisik di sana.

"Apa yang kau takutkan dariku, bocah?" tanya Levi dengan suara rendah yang membuat Eren benar-benar dilanda kengerian. Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup Eren Jeager diintimidasi sampai sebegininya. Andai dia tidak demam, mungkin dia bisa melawan.

Bisakah?

Eren sendiri tidak seratus persen yakin.

"A-aku tidak takut..."

"Kau mau bohong dengan gestur, ekspresi, dan nada suara seperti itu, bocah? Taruhan, kau dulu di sekolah dasar pasti anak baik-baik yang tidak punya pengalaman mencontek."

"Kau terlalu dekat! Aku tidak nyaman! Itu saja kok!" Eren bersikeras. Tangannya konsisten menahan badan Levi agar tidak lebih dekat lagi. Sedikit saja ia melonggarkan pertahanan, Eren pasti sudah berada dalam pelukan Levi.

"Buktikan kau tidak takut padaku..." Levi merasa ini akan jadi permainan yang menarik. Mari lihat sejauh mana Eren Jeager bisa melayaninya.

"Ca...ranya?" tanya Eren dengan suara parau dan nada terputus-putus. Dasar. Sudah seperti itu masih bersikeras menyangkal? Siapa pula yang bisa percaya? Jelas bukan Levi.

"Hm..." Levi memikirkan sejumlah opsi di dalam benaknya. "Peluk aku..."

"Apa?!" Eren lebih dari sekedar kaget. Siapa menyangka tantangan Levi akan demikian gila? Memeluk?!

"Ya... sederhana bukan?" Levi memasang ekspresi meremehkan. Ingin rasanya Eren menampar wajah puas diri itu. "Kalau kau tidak takut padaku, memelukku bukan perkara sulit..."

"Ke-kenapa aku harus melakukan itu?!"

"Berarti kau takut?"

"Tidak!"

"Buktikan..."

Eren memejamkan mata erat-erat, melewatkan tangannya yang sebelumnya menahan pundak Levi ke lehernya dan menarik pria berambut hitam itu dalam sebuah pelukan. Tubuh Eren panas karena demamnya. Tapi Levi tahu benar debar jantung yang bertalu-talu seperti timpani orkestra yang ramai itu bukan karena demam.

Levi menahan seringainya. Tidak buruk, Eren. Level kekeraskepalaanmu itu patut dihargai.

Levi membiarkan Eren melepaskannya setelah lima belas detik berlalu. Eren kini tambah tidak mau memandangnya. Begitu bisa melepaskan diri dari Levi, Eren langsung beringsut masuk ke selimutnya dan menariknya sampai menutupi kepala.

"Aku sudah buktikan aku tidak takut! Sekarang aku mau tidur! Jangan dekat-dekat!" ujar Eren dengan suara yang agak tidak jelas karena teredam selimut.

Ranjang berderit lagi. Eren merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari tempatnya ketika dirasakannya Levi mendekat sesaat. Tangan bertumpu di sisi tubuh Eren dan bibir dengan tepat berada di dekat telinganya yang seharusnya tidak jelas letaknya karena Eren menyelubungi dirinya dengan selimut.

"Kerja bagus... walau tidak cukup meyakinkan tapi bolehlah..." ujar Levi angkuh. Ucapan tersebut membuat Eren menyesal. Memeluk Levi atau tidak, Levi jelas tahu bahwa Eren memang sedikit banyak takut padanya. Ini sama saja jatuh ke dalam perangkap musuh untuk kesia-siaan. Eren memarahi dirinya. Apa demamnya berefek sebegitu jauhnya pada pola pikirnya?

Atau... karena ini adalah Levi? Makanya semua logikanya seperti digerus habis nyaris tak bersisa?

.

.

Pembukaan Sina Art Center, gallery yang memfokuskan pada koleksi karya-karya seni aliran kontemporer, sangat ramai. Carla Jegaer adalah tipe sosialita istimewa yang disenangi khalayak. Dia dermawan, murah senyum, dan tidak sombong. Menjadi istri dari tokoh masyarakat sekelas almarhum Grisha Jeager tidak menjadikannya sama dengan streotip nyonya dari keluarga berpangkat tinggi— angkuh.

Dengan gaun panjang berwarna peach yang membuat kulitnya tampak merona sehat dan selendang tipis senada, Carla tampak sangat cantik. Eren jelas mewarisi fitur wajah manis itu dari sang ibu.

Eren yang belum benar-benar pulih seratus persen, mendampingi ibunya dengan mengenakan jas hitam yang serasi dengan kemeja putih dan dasi pita berwarna sama dengan gaun sang ibu. Sang ibu berjalan menggandeng sang putra semata wayang yang tampan dan juga terkenal dengan bangga di karpet merah yang digelar dari halaman penyambutan tamu sampai pada gerbang depan Sina Art Center. Levi berjaga di sudut salah satu pilar tersembunyi. Matanya memerhatikan Eren yang mengantar Carla ke podium untuk memberikan kata sambutan.

Bangunan dengan gaya kolonial kuno—dengan banyaknya pilar di depan pintu—memudahkan Levi berjaga di dekat kliennya tanpa perlu tampil mencolok.

Eren meminta secara khusus pada ibunya supaya Levi tidak usah terlalu menempel padanya hari ini. Eren beralasan dia tidak ingin ditanya-tanya soal jati diri Levi oleh rekan kerjanya yang lain yang kebetulan turut diundang dalam acara pembukaan, cukup Jean saja yang tahu. Itupun karena Jean adalah teman masa kecilnya.

Kata sambutan Carla cukup lumayan. Levi tidak sepenuhnya menyimak tapi dia bisa menilai. Setidaknya humor segar yang diselipkan wanita itu dalam kata-katanya berhasil mengundang simpati pendengar untuk menyukainya. Sikapnya sangat profesional. Walau baru saja ditinggal pergi suami terkasih, pekerjaan dan kehidupannya tetap ia tangani dengan profesional.

Usai seremoni yang sebenarnya hanya formalitas itu, tiba waktunya bagi Carla menggunting pita peresmian yang membentang dari ujung sisi kiri ke kanan pintu masuk utama Sina Art Center.

Seorang wanita muda berparas lumayan cantik memberikan gunting pada Eren untuk kemudian diestafet kepada Carla. Eren tersenyum lemah sambil mengucapkan terima kasih. Paras gadis itu merona dan Levi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengasihani gadis itu. Preferensi Eren yang sudah sangat jelas bagi Levi, membuat Levi tidak bisa tidak mengasihani gadis yang sudah tertipu mentah-mentah oleh senyuman sang tuan muda itu.

Andaikata Eren Jeager straight mungkin banyaknya wanita yang mengerubunginya sudah seperti semut pada gula.

Gunting berpindah tangan kepada Carla yang sempat memberikan pose terbaiknya pada kamera.

Belum ada lima detik setelah pita digunting, suara letusan timah panas terdengar. Kepanikan instan terjadi ketika Eren Jeager di sisi ibunya rubuh akibat tembakan pada bahu kiri.

"Argh!"

Eren jatuh terduduk memegangi bahu kirinya. Kulit yang tercabik timah panas terasa sakit bukan main. Darah mengucur membasahi garmen yang mebalut tubunya.

"EREN!"

Levi dan Carla berteriak bersamaan. Levi mengeluarkan handgun dari balik jasnya. Dengan daya pandang yang lebih unggul dari orang normal pada umumnya, hanya dengan memperkirakan lokasi datangnya peluru, Levi dapat melihat sosok hitman bertopi hitam dari balkon terbuka gedung di sebelah Sina Art Center. Gedung di sebelah itu adalah gedung yang masih dalam masa konstruksi, mudan bagi orang asing untuk menyusup dengan senjata ke tempat seperti itu.

Levi balas menembak. Namun dengan handgun, dan di tengah kepanikan yang tercipta, sulit berkonsentrasi mengincar lawan. Temabakan kedua dari hitman dilepaskan.

Carla yang tengah memeluk Eren refleks menjadikan tubuhnya tameng. Levi mengutuki tindakan tidak bijak wanita tersebut dan lekas menarik meja terdekat yang sebelumnya menjadi tempat meletakan beberapa perkakas yang dibutuhkan sebagai blokade peluru. Tidak terlalu berguna, tapi setidaknya lumayan.

"Le-Levi!" Carla jelas sekali sangat panik. Eren mengerang kesakitan.

"Eren!" Jean yang berhasil menerobos kerumunan menghampiri Eren dan Carla dari belakang. Ia menunduk sebisanya agar tidak perlu ikut menjadi target dari penembak misterius.

"Je-Jean... Eren... Darahnya..." suara Carla bergetar. Kekhawatiran membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

"Kirschtein! Hentikan pendarahannya. Ikat lengannya seerat mungkin!" Levi memberi komando sebelum melompati blokade meja dan berusaha membalas musuh di sela-sela usahanya menghindar.

Tembakan Levi sebenarnya hanya gertakan, namun tampaknya karena Levi berhasil menghindari semua peluru yang diarahkan padanya dengan sigap, penembak misterius itu kehilangan kepercayaan diri dan mundur sementara dari medan pertarungan.

Jean menarik ikat pinggangnya dan menggunakannya untuk mencegah pendarahan lebih lanjut dari luka Eren.

"Eren!" Jean menepuk-nepuk pipinya. "Bertahanlah!"

Levi yang kembali melopmati meja yang menajdi blokade, mendecak tidak sabar melihat Jean yang tidak gesit. Segera diraupnya Eren dalam gendongan.

"Kita segera ke rumah sakit!"

Pembukaan Sinar Art Center dirangkum dengan satu kata; chaos.

.

.

Eren menerima luka jahitan di bahu kirinya. Peluru berhasil diangkat dan pendarahan dihentikan. Akan tetapi kehilangan banyak darah membuat Eren lemas dan kini tertidur untuk memulihkan diri, dokter juga sudah memberinya penenang syaraf. Dokter menyarankan opname yang ditolak Levi mentah-mentah. Rumah sakit dan fasilitas umum lainnya adalah tempat yang sangat tidak aman.

Carla duduk di bangku tunggu selama Eren masih menerima perawatan dengan Jean merangkulnya dan menyandarkan kepala wanita itu di bahunya. Jean berusaha menenangkan Carla sebiasanya.

Di sisi lain, rasa penasaran Levi tak bisa lagi dibendung. Sebagai bodyguard dia harus tahu apa masalah kliennya ini sehingga ia bisa menentukan level perlindungan yang bisa ia berikan. Maka itu keputusan Levi; menuntut penjelasan final.

"Ma'am..." Levi berujar.

Carla merespon dengan suara bergetar. "Ah, Levi. Maaf, aku lupa kau juga sama kagetnya dengan kami..."

Levi berdecak. "Sudah tugasku... Aku yang lalai menjaga Eren."

"Tidak ada yang salah. Kita semua tidak menyangka akan ada serangan di waktu siang begini..." ujar Jean yang akhirnya membuatnya dihadiahi pelototan oleh Levi.

"Maaf, kalau boleh bertanya..." Levi memulai.

"Ya?"

Dia harus tahu. "Sebenarnya, kenapa Eren menjadi target pembunuhan setelah meninggalnya Mr. Jeager...?"

.

.

TBC

.

.

Maafkan untuk keterlambatan sehari dari yang dijanjikan (akhir minggu). Kuota saya habis dan terpaksa menunggu Senin untuk memanfaatkan wi-fi kampus.

Menanggapi jumlah words, saya mencoba konsisten 3k lebih, karena ini akan diupdate setiap minggu (kalau tidak ada halangan). Itu batasan saya sendiri mengenai minimal words dari satu chapter yang harus mampu dikejar bersamaan dengan tugas kuliah dan lain sebagainya. Semoga bisa dimaklumi.

Daiki Hanna: Semoga menikmati kelanjutannya. Saya berusaha irit bicara di A/n biar nggak kelepasan spoiler sih. Dan berharap anda menikmati ceritanya sendiri tanpa perlu penjelasan lebih lanjut dari saya yang mungkin bikin cerita ini nggak seru.

Witchsong: Maaf telat sehari dari weekend. Perkara teknis... *bow*

Kim Arlein: Udah mau kissu ya? Hahaha... sepertinya Levi butuh perjuangan panjang. Tapi semoga pelukan di chapter ini dianggap cukup lumayan.

Eiwayyu: saya juga berdoa semoga update perminggu ga sekedar jadi wacana. Kehidupan kampus saya sedang agak padat, makanya hanya bisa update pendek setiap minggu. Semoga tidak kecewa. Terima kasih juga koreksi typo-nya. Akan saya perbaiki begitu ada waktu.

Nabilaagain: ini mencoba tidak terlambat (wakau tekat seharidari weekend) tapi semoga bisa dinikmati ya.

FayRin Setsuna D Fluorite: Di sini juga Levi suka mengintimidasi Eren *nyengir*, kesukaan saya soalnya. Hahaha... semoga interaksi di chapter ini juga bisa dinikmati Fay-san.

Nareudael: Ini chapter 3 lho. Soalnya bab pertama saya itung prolog. Chapter 4 semoga rampung minggu ini. :) semoga menikmati.

Rivaille Yuki Gasai 2: Words kali ini lebih banyak. Tapi tetap sedikit mungkin buat pembaca (buat saya juga sedikit sebetulnya), ini demi update seminggu sekali dan... yah *nyengir* cliffhanger. *bow*

Babyberrypie: terima kasih sudah difave. :) saya punya alasan sendiri menggunakan kata respek. Entah kenapa diksi 'respek' itu enak aja buat saya. Kalau menggambarkan hubungan Carla-levi, rasanya lebih pas karena Carla lebih tua. Itu saja sih. :) tapi terima kasih masukannya. Saya akan berusaha memperkaya diksi lagi.

Terima kasih.