Levi berjalan di lorong kediaman Jegaer dengan sosok majikan dalam gendongan. Entah sedatif apa yang diberikan dokter pada Eren Jeager namun tampaknya dosisnya cukup besar mengingat Eren sama sekali tidak terbangun walaupun Levi menggendongnya menaiki tangga. Sebelumnya Jean bersikeras bahwa dia yang akan menggendong Eren, namun Levi mengabaikanny dengan kalem—membuat yang bersangkutan kesal. Namun, berhubung ada Carla di sana, Jean memutuskan bungkam.

Carla sangat mempercayai Levi dan Jean tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula memang semua orang-orang terdekat Eren harus berterima kasih bahwa nyawa sang pemuda berambut coklat sudah diselamatkan oleh Levi.

Carla membukakan pintu kamar Eren dengan kunci yang diambilnya dari saku Eren. Bunyi 'klik' pelan menandakan pintu kamar yang telah terbuka. Carla masuk lebih dahulu dan menyisihkan selimut dari tempat tidur Eren. Levi yang menyusul di belakang wanita bermarga Jeager itu lekas menurunkan Eren ke atas ranjang.

Levi menyamankan posisi kepala Eren di atas bantal putih dan empuk. Suara dengkur halus yang nyaris tidak audible terdengar memenuhi ruangan. Eren benar-benar lelap. Carla bernafas lega.

"Terima kasih untuk bantuanmu, Levi..."

Levi menundukan badan sedikit. "Tidak juga. Bagaimanapun Eren terluka..."

Carla tersenyum lemah sebelum kemudian menepuk pundak Levi. Suaranya begitu lembut. "Tanpamu mungkin aku sudah kehilangan Eren..."

Levi terdiam. Carla menepuk pipi Levi seperti halnya dia biasa menepuk pipi Eren.

"Aku benar-benar berterimakasih, Levi..."

"Bukan masalah besar..." ujar Levi datar. "Sebaiknya anda bersiap-siap, ma'am. Anda akan sibuk dengan wartawan dan semua pertanyaan mereka..."

"Ah..." Carla seolah teringat akan kewajibannya. "Kau benar, Levi... Sebaiknya aku segera menghubungi yang berwajib agar mereka tutup mulut tentang motif asli di balik insiden ini..."

Yang mengaggetkan Levi adalah ketika Carla memeluknya pelan sebelum kemudian melepaskan diri dan menatapnya penuh gratifikasi.

"Aku benar-benar berterimakasih... Tanpamu... Eren tidak akan ada di sini sekarang..."

Levi hanya mengangguk pelan. Carla mendekati pembaringan Eren dan mengecup pipi anaknya yang tengah tertidur penuh sayang sebelum berlalu keluar kamar. Kunci diserahkan pada Levi yang langsung menutup pintu kamar Eren.

Menghela nafas panjang, sang bodyguard berambut hitam mendudukan diri di samping Eren. Secara alami, Levi merasakan hasrat untuk melarikan tangannya ke pipi halus dan pucat tuan muda Jeager.

Buku-buku jari Levi dapat merasakan kelembutan kulit Eren.

"...Kau ini benar-benar merepotkan, nak..."

.

.

PROTECTION

Disclaimer: Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama.

This is only a fan works. Non-profitable one.

4—

Touch

.

.

"Suamiku adalah seorang pebisnis barang antik... Seperti yang sudah kau tahu, Levi..."

Suara Carla ketika menceritakan kisah di balik perburuan oleh entah siapa terhadap Eren terekam jelas di otak Levi. Setiap informasi yang membuat keseluruhan cerita wanita itu terasa seperti potongan film murahan yang biasanya hanya akan membuat Levi mendengus meremehkan.

"Tidak ada yang tahu apa saja yang dimilikinya karena ia menyimpan banyak rahasia. Bahkan terhadapku, istrinya. Namun menjelang kematiannya, dia pernah berkata bahwa semua warisannya akan diberikannya pada Eren..."

"Dan banyak yang curiga dari sekian harta yang tidak diketahui itu... ada sesuatu yang membuat Eren diincar begitu banyak pihak seperti sekarang ini. Aku sendiri masih bertanya-tanya apakah itu..."

Levi mengepalkan tangannya sampai memutih. Gusar. Grisha Jeager adalah pria penuh misteri. Tidakkah pria tua itu tahu bahwa dengan bersikap penuh teka-teki, ia malah membuat pewaris tunggalnya berada dalam bahaya? Andai pria tua itu ada di sini sekarang, Levi akan menghadiahinya tinju telak.

Realisasi akan suatu hal menampar Levi sesaat setelah ia berpikir demikian.

Realisasi bahwa ia hampir saja melanggar batasan antara klien dan dirinya dengan mengadakan suatu keterikatan emosional.

Bukankah tugasnya hanya melindungi Eren? Dengan demikian ia akan segera bisa mendapat uang untuk membayar kebebasannya. Namun mengapa kini ada perasaan lain di hatinya? Perasaan khawatir terhadap Eren, spesifik. Bukan khawatir gagal dalam tugas.

"Ukh..." Levi mengacak-acak helai hitam lembut di kepalanya frustasi. Seandainyapun dia melihat Eren sebegai sesuatu yang lebih daripada klien, pastinya itu sebagai 'mainan'—karena tingkah Eren ketika diganggu sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Tapi benarkah ia menganggap Eren hanya sebatas itu?

"Kau ini bocah menyusahkan..." ujar Levi pada Eren yang tengah tertidur lelap.

Mungkin karena tuntunan insting, Eren berbalik memunggungi Levi ketika mendengar suara pria itu. Levi menghela nafas panjang.

"Sebaiknya saat kau bangun nanti kau tidak merayuku lebih dari yang sudah kau lakukan sekarang. Bocah feromon brengsek..."

Levi kembali ke pintu dan mengcek semua celah sudah terkunci rapat sebelum mengambil pakaian ganti dari kopernya yang diletakan di sudut kamar Eren. Dengan tenang, pria itu masuk ke kamar mandi. Segera setelah pintu geser tertutup rapat dan suara shower terdengar, Eren yang semula berbaring di tempat tidur memejamkan mata membuka kelopak matanya.

Ia terbangun ketika Levi memakinya dengan sebutan 'bocah menyusahkan'. Tapi yang tidak ia sangka adalah ketika Levi menuduhnya yang—ia kira—tengah tertidur bahwa Eren merayunya. Wajah Eren memerah. Namun ia tidak berani banyak bergerak karena ia tahu jika Levi mengecek rekaman kamera pengawas dan menemukannya bereaksi aneh setelah pengakuan Levi, maka pria itu mungkin melakukan hal yang lebih jauh.

Hukuman a la Levi adalah sesuatu yang Eren tahu harus ia hindari jika ia masih ingin jatungnya sehat berpuluh tahun ke depan.

'Kau yang menyebarkan feromon tahu!'—umpat Eren dalam hati.

.

.

Suara khawatir Christa di telepon membuat Eren meringis. Hari ini dia menerima telepon dari sahabatnya itu pagi-pagi sekali. Mungkin Christa sudah membaca koran ataupun melihat berita pagi mengenai insiden di pembukaan Sina Art Center. Gadis itu sepertinya terisak, Eren menyadarinya dari suaranya yang terdengar agak bergetar.

"Aku tidak apa-apa, Christa... Jangan nangis," ujar Eren sambil tertawa kecil. Levi yang duduk di samping Eren sambil memerhatikan berita di internet dan memuji dalam hati betapa Carla sangat hebat dalam menggunakan pengaruhnya menutupi kebenaran kasus hanya mendengus geli mendengar Eren yang biasanya bicara dengan nada tinggi dan memberontak bisa demikian lembut saat bicara pada Christa.

Bicara tentang berita pagi, Levi merasa perlu bertepuk tangan memuji taktik Carla menyamarkan Eren sang target pembunuhan sebagai korban yang kebetulan apes karena orang gila yang membuat kekacauan. Orang yang tidak tahu bahwa Eren diincar akan mudah percaya. Bagaimanapun jumlah kriminal pesakitan di dunia ini memang meningkat pesat akhir-akhir ini.

"Aku sangat khawatir!"

"Kau sudah dengar dari Jean bukan? Bahwa aku tidak apa-apa?"

"...aku tidak bisa percaya Jean jika aku tidak mendengar sendiri suaramu, Eren..."

Eren tertawa kecil lagi ketika mendengar suara Jean samar-samar memprotes kalimat Christa sebelumnya. Tapi dia mengerti sekali kenapa Christa tidak bisa mempercayai Jean—dan dirinya juga—untuk beberapa hal. Bagaimanapun gadis itu biasa dibohongi oleh Jean dan juga Eren jika ada berita-berita buruk.

Bukannya mereka berdua berniat jelek, tapi bagaimanapun juga jantung Christa yang lemah membuat mereka mempertimbangkan banyak hal sebelum menyampaikan berita-berita tertentu.

"...Aku benar-benar baik-baik saja. Hanya harus istirahat total sampai luka ini benar-benar pulih..."

"Kau harus beristirahat. Aku akan marah kalau sampai aku tahu kau masih bekerja di tengah kondisimu sekarang..."

"Hm... aku tahu. Aku janji akan banyak istirahat..."

Levi tidak berniat menguping pembicaraan Eren. Tapi bagaimanapun mendengar Eren bicara dengan suara semanis dan sesabar itu, ditambah pula ekspresi lembut di wajahnya, jangan salahkan Levi yang mulai mengutuki feromon bocah ini yang seolah menguar secara alami begitu kuatnya sampai bisa menjerat Levi.

"Eren... Aku tahu ini egois... Tapi..."

"Ya?"

"Walau kau sedang beristirahat... dan aku sendiri memintamu istirahat total... apakah seminggu lagi kau bisa..."

Ekspresi lembut Eren berubah sesaat. Namun karena Levi diam-diam memerhatikan, perubahan sedikit saja di wajah manis itu tidak lepas dari pengamatannya. Levi mengerutkan dahi. Ada apa lagi?

Levi mengakhiri aktivitasnya membaca berita di internet dan memutuskan untuk mengamati Eren. Yang bersangkutan tidak menyadarinya karena sibuk mendengarkan suara Christa.

"...datang ke pernikahan kami?"

Eren tertawa. Lewat sambungan telepon mungkin tidak akan ada yang sadar bahwa tawa itu dipaksakan—Eren Jeager sungguh aktor ulung—namun berhubung Levi ada di sisinya dan memerhatikannya, Levi bisa melihat mata heterokromatik Eren tidak ikut tertawa. Mata itu kosong dan penuh kekalutan.

"Tentu saja, Christa. Aku akan mengamuk pada siapapun yang menghalangiku datang ke pernikahanmu dan Jean..."

Tidak ada yang tahu betapa besar rasa sakit yang menikam dada pemuda berambut coklat itu ketika mengatakannya. Tidak juga Levi. Tapi Levi mengerti rasanya pasti sakit sekali.

Suara tawa renyah dan merdu milik Christa tersampaikan ke telinga Eren yang lalu tersenyum pahit.

"Aku sayang sekali padamu, Eren. Kedua setelah Jean..."

"Aku juga sangat menyayangimu, Christa..."

"Uum. Aku tahu..."

Telepon diakhiri dengan nada riang. Eren menghela nafas ketika meletakan telepon genggamnya di atas meja di samping tempat tidur.

Andai tidak ada Levi di sana, Eren pasti dapat dengan puas menangis. Andai saja dia sendirian sekarang ini. Tapi Levi tidak membiarkannya sendirian, dan Eren tahu, pria itu tidak akan membiarkannya sendirian. Bodyguard-nya yang—menurut penilaiannya—sialan ini tidak akan beranjak sedikitpun karena kepatuhannya pada kontrak kerjanya.

Tapi Levi bukannya tidak bisa membaca suasana. Dia tahu bahwa Eren tengah berusaha untuk tidak hancur. Anak itu seolah tengah menggenggam hatinya sendiri erat-erat di dua telapak tangan supaya retakannya tidak berserakan di mana-mana.

"Kalau mau menangis... menangis saja..." ujar Levi. Tidak sensitif sama sekali. Keterusterangannya malah membuat Eren gusar. Memang nyaman menangis di depan orang? Apalagi status Eren laki-laki. Menangis di depan orang lain itu hanya akan mempermalukannya.

Atau Levi memang ingin membuatnya malu? Eren jadi curiga padanya.

"Diam!" Eren menimpuk Levi dengan bantal di sisinya. Levi menghindar dengan cekatan, masih ditambah menangkap bantal yang sebelumnya dilempar Eren.

Levi mendecak kesal. Dia sedang mencoba baik hati di sini. Kenapa rasanya dia dan Eren tidak pernah mencapai kata mufakat dalam hal apapun. Eren punya tendensi menganggap sikap baik Levi itu menyebalkan sementara Levi yang tidak memahami kenapa Eren begitu kompleksnya malah menjadi jengkel pada anak itu. Bocah tidak matang yang menyusahkan.

"Kau ini benar-benar bocah yang sulit ditangani..." ujar Levi dengan nada kesal yang kentara.

"Kau ini om tua yang menyebalkan!" balas Eren, membuat Levi sampai menaikan satu alisnya, mencetak ekspresi kesal di wajah tampannya.

Eren masih menambahkan dengan tinjuan di bahu Levi yang duduk di dekatnya. Lupa bahwa bahu kirinya terluka. Segera setelah ia mendaratkan tinju—yang buat Levi tidak ada apa-apanya—Eren meringis menahan sakit.

"Ck... Jangan bilang lukamu terbuka lagi..." Levi berujar sambil melarikan tangannya membuka kancing piyama Eren. Yang bersangkutan langsung protes.

"M-mau apa?"

"Memeriksa lukamu, bocah tolol. Jangan bilang kau lupa aku yang tadi pagi mengganti perbanmu..."

Eren terpaksa diam dengan wajah tertekuk. Kesal, kesal, kesal. Dia tidak bisa menang melawan argumen Levi dan itu membuatnya marah pada dirinya sendiri.

Levi menarik kerah piyama Eren sampai ke bahu dan memeriksa perban yang pagi ini baru saja digantinya dengan rapi. Tampaknya tidak ada masalah.

Eren enggan mengakui ini, tapi selama Levi menjaganya, selain tingkahnya yang kadang kurang sopan dan menurut Eren seperti sengaja memancing emosinya, Eren tidak punya keluhan lain tentang kinerja pria itu. Levi serba bisa. Pria itu cekatan, kuat, sigap, dan bahkan entah bagaimana mengerti bagaimana harus merawat luka dengan baik. Mungkin berkat pengalaman menjadi detektif Garrison.

"Tampaknya lukanya tidak terbuka lagi..." ujar Levi pelan. "Eren...?"

Eren yang baru saja melamun terperangah kaget. "Y-ya?"

Levi memasang ekspresi khawatir—membuat Eren berdebar. Ini pertama kalinya dia melihat Levi memasang ekspresi demikian. Dan mengetahui wajah khawatir itu ditujukan untuknya membuat Eren merasa jantungnya berdegup dalam kecepatan yang tidak manusiawi.

Ini gila! Berdebar karena pria seperti Levi yang menurutnya sombong, angkuh, dan menyebalkan adalah hal terakhir yang diinginkan Eren saat ini.

Satu tangan Levi mengusap pipi Eren.

"Aku tidak bercanda ketika kukatakan aku boleh menangis... Aku tidak akan mentertawakan."

Bagaimanapun Levi masih cukup berperasaan untuk tidak menjadikan perasaan Eren bahan mempermainkan anak itu. Tidak di saat kondisi Eren serapuh ini. Berdasarkan percakapan Eren, Levi dapat menyimpulkan bahwa pernikahan Jean dan Christa adalah pukulan untuknya.

Eren menunduk, tangannya kini menarik ujung kemeja putih yang membungkus tubuh Levi dengan begitu pasnya.

"...Aku bahagia untuk mereka... Aku jujur..." ujar Eren dengan suara bergetar. Keningnya menempel pada bahu kanan Levi.

"Aku tahu..." tukas Levi. Secara instingtif, pria itu mendekap Eren.

Eren menarik bagian belakang kemeja Levi. "Tapi rasanya tetap saja sakit..."

Kemeja Levi terasa basah di bagian bahu. Levi tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela nafas panjang dan menepuk-nepuk kepala remaja itu. Dia tidak pernah mengalami apa yang Eren tengah alami sekarang. Dan karena sejak awal dia bukan pria untuk kata-kata, dia tahu dia tidak punya kata-kata penghiburan yang pantas untuk Eren. Tepatnya dia tidak tahu.

Jadi yang bisa ia lakukan hanya meminjamkan bahunya untuk Eren menangis barang sebentar saja.

"...Aku merasa kotor... tidak bisa berbahagia untuk dua orang yang sangat kusayangi..."

Levi sekali lagi menghela nafas panjang. Harusnya ia bisa menduga bahwa di balik penampilannya yang suka marah dan emosional, Eren Jeager punya sisi rapuhnya sendiri. Levi hanya tidak menyangka dia bisa serapuh ini. Mungkinkah ini tendensi seorang seniman untuk memikirkan segala hal yang berhubungan dengan 'hati' sampai kepada hal yang paling mendetail?

"...kebahagiaan orang lain, orang yang paling kita sayangi sekalipun tidak seharusnya jadi ukuran kebahagiaan kita. Tidak ada orang yang persis sama, makanya... kurasa wajar saja kalau kebahagiaan mengambil wujud dan takaran berbeda untuk setiap orang..."

Eren tidak menanggapi lebih jauh. Hanya isak pelan yang dapat terdengar di dalam ruangan.

Beberapa saat kemudian, Levi mendorong lembut bahu Eren dan mempersuasi anak itu untuk menatapnya dengan satu sentuhan di dagunya.

Mata indah yang kini tampak kemerahan, pipi sembab karena air mata yang kini dihapus oleh ibu jari Levi, bibir yang terbuka sedikit karena pernafasan yang tidak teratur akibat terisak sebelumnya...

Semua begitu mengundang.

Levi tidak peduli apapun lagi. Tidak dengan statusnya dan Eren sendiri. Tidak pula dengan kontrak kerjanya pada Carla. Begitupun Eren.

Tangan Levi menangkup dua pipi Eren, menahan sebentuk wajah rupawan itu untuk tidak menghindar. Eren menggenggam kedua pergelangan tangan Levi dan memejamkan mata ketika wajah tampan pengawalnya itu bergerak semakin dekat menghapus jarak.

Levi menatap Eren yang memejamkan mata dengan perlahan sampai akhirnya kedua manik heterokromatik itu tersembunyi sempurna di balik kelopak mata yang dihiasi bulu mata yang berjejer rapi. Tidak ada keraguan. Mereka berdua sama-sama setuju dalam hal ini.

Bibir keduanya bertemu dalam sentuhan yang terasa asing sekaligus alami. Bibir Levi dingin dan lembut. Sementara bibir Eren penuh dan empuk. Bagi keduanya sentuhan yang sama sekali baru ini sangat adiktif.

Berbeda dengan pernafasan buatan yang dilakukan Levi terburu-buru dan dirasakan Eren dalam keadaan setengah sadar. Kali ini keduanya sepenuhnya tahu apa yang tengah mereka lakukan.

Cumbuan yang tidak dikamuflase oleh alasan apapun.

Levi melepaskan Eren. Ciuman itu singkat dan ringan. Levi hanya ingin tahu bagaimana Eren akan bereaksi pada semua itu. Dan melihat Eren yang menatapnya dengan wajah memerah diliputi frustasi, Levi menemukan dirinya sulit menahan diri.

Levi mendorong lembut bahu Eren untuk berbaring di atas ranjang sementara dia menaiki pembaringan sang tuan muda dengan bibir yang telah kembali dilekatkan.

Eren tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Tidak pernah ada yang mencium bibirnya selain Levi. Tidak pula Jean, pemuda yang sudah jadi objek afeksinya sekian tahun ini. Namun secara alami, ketika ia merasakan lidah Levi menyapu bibirnya dengan intensi mengintrusi dan menambah dalam intimasi mereka, Eren memberinya akses. Tanpa perlawanan walaupun memang responnya masih penuh dengan keragu-raguan.

"Aahn..." Lenguhan natural terlepas dari bibir Eren. Levi terkesiap dan melepaskan tautan bibirnya dengan Eren.

Eren yang tersadar dan langsung merasa malu bukan main hanya membuang muka ka arah samping. Punggung tangannya menutupi bibirnya yang telah sedikit membengkak akibat gigitan pelan dari ciuman dengan Levi.

Eren Jeager adalah mesin feromon bernyawa. Levi melabelinya seperti itu. Siapapun yang mengklaim dirinya masih memiliki apa yang disebut 'hasrat' tidak mungkin tidak tertarik pada Eren. Levi dan semua sikap dinginnya bahkan tidak kuasa menampik pesona Eren yang memancar demikian kuat tanpa disadari sama sekali oleh yang bersangkutan.

Levi melarikan bibirnya ke leher Eren yang menggelinjang geli.

"Le-Levi..."

Alih-alih berhenti, seolah disemangati, Levi mengigit kulit lembut di bahu Eren. Menghisap rakus dan meraup bagian epidermis yang ada dalam jangkauan bibirnya.

Levi baru saja meninggalkan satu tanda kemerahan di leher Eren ketika telepon parallel di kamar Eren berbunyi. Dering perangkat komunikasi tersebut membuat keduanya seolah terlempar kembali ke kenyataan.

Eren dengan terburu-buru lekas mendudukan diri dan mendorong Levi yang dengan tahu diri menyingkir. Levi dengan hak istimewanya yang sudah diketahui seluruh pelayan keluarga Jeager, mengambil kehormatan untuk mengangkat telepon itu.

"Halo..."

"Ah, Levi... Syukurlah kau yang mengangkat..."

Levi mengenali suara di ujung sambungan telepon sebagai suara si pirang busuk—julukannya untuk Erwin. Dia mengumpat kesal.

"Bisa katakan kenapa kau menggunakan telepon kediaman Jeager?"

"Kau ini tidak pernah mau basa-basi, eh? Aku dan Armin hanya mengantar berkas penyelidikan terhadap dua tersangka yang menyerang Mr. Jeager muda beberapa hari yang lalu..."

"Cepat juga. Tapi kenapa kau repot-repot mengantar kemari...?"

"Mrs. Jeager memintaku dan Nile secara eksklusif menyelidiki ini... kupikir karena akan bertemu dengan Mrs. Jeager kenapa tidak sekalian mengecek keadaanmu? Armin juga khwatir mendengar berita bahwa—"

"Terima kasih untuk Arlelt. Katakan dia tidak perlu khawatir. Hal lain?"

"Tidak. Hanya mengecek saja... pelayan kediaman Jeager menawarkan kami menggunakan telepon parallel rumah ini."

"Pirang busuk..."

Levi menutup telepon dengan tidak sopan. Matanya beralih pada Eren yang kini sudah menyelubungi dirnya seperti kepompong dengan selimut. Anak itu tentunya merasa malu bukan main. Levi kini merasa amat jengkel pada Erwin yang menginterupsinya.

"...Eren..."

Eren menolak untuk menjawab. Levi mendesah panjang. Satu kebiasaan Eren yang tidak ia suka; sikap kekanak-kanakannya menolak menghadapi kenyataan di depan mata. Anak itu selalu, selalu, selalu menghindarinya dengan taktik ini. Bergulung di balik selimut seolah benda itu dapat melindunginya dari Levi.

"...Kalau kau tidak suka yang barusan itu, lupakan saja..." ujar Levi lagi. Setidaknya, walau ia akan kesal setengah mati jika Eren benar-benar lupa bahwa mereka sudah berciuman, Levi tidak mau sikap Eren bertambah tidak kooperatif dan menyulitkannya dalam melakukan penjagaan.

"Anggap kita tidak sedang berpikir jernih tadi..."

.

.

Eren menguspakan handuk ke rambutnya yang basah sehabis keramas dengan perlahan. Titik-titik ai yang lolos menetes membasahi dada bidangnya yang walau tidak sebagus badan Levi, namun cukup terbentuk untuk anak seusianya. Pergerakan Eren begitu hati-hati karena beban berlebih hanya akan membuat luka bekas tembakannya terasa sakit lagi.

Eren menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tirus—hasil stress dan sakit yang membuatnya tidak nafsu makan sebelumnya—dan matanya tampak seperti panda dengan lingkaran hitam yang jelas itu. Eren menyalahkan Levi karena tidak bisa tidur beberapa hari ini akibat memimpikan dirinya.

Pria sialan itu bahkan membuat Eren terbangun tengah malam hanya karena mimpi sensual yang sungguh tidak Eren inginkan. Beruntung Levi sedang melakukan patroli malam ketika Eren pada malam yang sama diharuskan mengurus dirinya sendiri yang nyaris kelepasan mengotori ranjangnya dengan sangat memalukan.

Kini Eren menatap tubuhnya di cermin dalam keadaan sungguh memprihatinkan. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk makan sedikit lebih banyak dari porsi normalnya untuk mengembalikan bobot tubuhnya ke ukuran idealnya.

Ujung jemari Eren menyentuh permukaan kaca yang halus. Dingin terasa di ujung jemarinya. Eren menghela nafas. Bekas luka tembakan di bahu kiri terpantul kentara, luka yang hampir kering itu bisa dipastikan nantinya akan meninggalkan bekas parut yang jelek sekali. Kali ini Eren besyukur ini bukan perempuan karena anak perempuan biasanya akan meributkan hal-hal kecil seperti itu.

Mata Eren tidak bisa menghindar untuk tidak melihat bekas kemerahan yang nyaris sepenuhnya pudar di perpotongan bahunya. Biasanya bagian itu tertutup kaus, makanya Eren tidak khawatir. Namun dengan memerhatikan sendiri bekas tersebut, wajah Eren menghangat.

Bisa-bisanya ia kehilangan kontrol diri dan membiarkan Levi menciumnya bahkan sampai sempat menandainya seperti ini. Eren merasa bodoh. Hampir seminggu sudah tanda itu bertengger setia di bahunya dan selama itu pula Eren selalu merasa tidak nyaman dan malu.

Eren menutup tanda tersebut untuk jaga-jaga supaya benar-benar tidak ada yang tahu bahwa ia dan Levi pernah begitu dekat.

Hari ini adalah hari pernikahan Jean dengan Christa. Eren harus tampak segar.

Mungkin... Eren harus berterimakasih pada Levi karena seminggu ini pikiran Eren sibuk terdistraksi dengan tanda dari Levi dan bagaimana cara supaya tanda tersebut hilang lebih cepat jadi dia tidak terlalu bersedih atas pernikahan Jean.

Eren keluar dari kamar mandi sudah dengan kemeja formal dan jas hitam licin yang sudah disetrika rapi. Dia hanya perlu mencari dasi merahnya dan penampilannya akan sempurna.

Levi di kamar Eren tengah mengancingkan kancing di ujung lengan kemejanya ketika Eren melihatnya. Eren memalingkan muka. Walau tingginya melampaui Levi, tubuh Levi jauh lebih bagus darinya dan kemeja pas badan yang menegaskan itu pada Eren malah membuatnya malu.

Sejak ciuman pertama itu, Eren sadar bahwa dirinya semakin peka terhadap keberadaan Levi.

Levi memerhatikan dari sudut matanya keanehan Eren tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya. Dipakainya rompi khususnya yang sudah didesain sedemikian rupa untuk bisa menampung senjata lebih banyak dan dilapisinya dengan jas sementara Eren menyelsaikan mengikat dasi pitanya.

Carla menelpon Eren untuk memintanya lebih cepat atau mereka akan terlambat.

.

.

Hymne pernikahan yang manis mengiringi langkah Christa yang dituntun ayahnya menuju altar. Awalnya gadis itu akan didorong di atas kursi roda namun yang bersangkutan menolak keras. Ia yakin ia bisa dan ia tidak mau tampak tidak cantik hari ini hanya karena kursi rodanya.

Walau sesekali ia harus berhenti dan ayahnya akan menunggunya menyelaraskan irama nafas, Christa akhirnya dapat mencapai tempat Jean. Jean menggenggam tangannya bangga. Eren menyaksikan dengan perasaan campur aduk.

Namun sebagai salah satu teman masa kecil Christa, ia turut bangga gadis mungil itu bisa berjuang demikan keras untuk Jean—orang yang sama-sama mereka cintai.

Sumpah diucapkan. Jean dan Christa menjawab dengan khidmat 'ya'. Penuh kesungguhan. Jean mengambil cincin dari gadis kecil pembawa cincin yang tampak manis dengan gaun putih yang senada dengan warna tema dekorasi acara pernikahannya.

Logam mulia berwarna emas itu melingkari jari manis Christa dengan begitu pasnya.

Eren bertepuk tangan di barisan terdepan bersama Carla dan Levi—yang ikut melakukannya hanya karena formalitas.

Namun ketika Christa baru saja akan melakukan hal yang sama pada Jean, kelopak mata gadis itu menutup dan kakinya seolah kehilangan kekuatan.

Kepanikan terjadi. Pengantin wanita pingsan di depan hadirin. Jean yang sigap menangkap Christa dalam pelukan panik bukan main. Ditepuk-tepuknya pipi Christa.

"Christa!"

Eren menghampiri dengan panik bersama Carla. Ayah Christa histeris memanggil-manggil dokter dan suster. Beberapa suster yang sengaja dibawa ke acara pernikahan segera sigap menghubungi rumah sakit.

Jean menggendong Christa dan segera berlari ke mobil pengantinnya. Eren bersikeras ikut bersama Levi yang kini menggantikan supir yang bersangkutan dengan alasan 'mampu menyetir lebih cepat'.

Eren tidak henti-hentinya memantau ke kursi belakang tempat Jean yang tengah menggendong Christa duduk dengan tampang pucat pasi. Levi menyetir secepat ia bisa.

"Jean... Christa akan baik-baik saja..."

Katakan Eren mencoba menenangkan Jean, tapi sungguh ia sendiri setengah berdoa kata-katanya tidak akan menjadi kebohongan semata.

'Bertahanlah Christa.'

.

.

TBC

.

.

Masih belum ada kuota, jadi nyolong wi-fi kampus lagi. Dan telat lagi sehari. Maaf. *sungkem*

Naerudael: Kissu-nya sekarang. Hahaha... tapi itu juga baru kissu karena masinge ngerasa frustasi sih. Kalau yang mutual, entah kapan...

Babyberrypie: nggak bawel kok. Saya senang dapat masukan :) ini juga update senin lagi. Maaf ya, telat

Daiki hana: semoga menikmati update kali ini juga

Rivaille Yuki Gasai 2: saya... penyuka cliffhanger sih. *nyengir* kali ini juga tbc di bagian yang nggak elit kayaknya. Gomen. Hehehe

Kim Arlein 17: Eren tsun karena dia homo in denial sih. Tapi mungkin abis ini dia bakal galau sendiri. Makin tsun deh. Haha...

Eiwayyu: eh? Fan service? *tengok chapter 3* padahal saya belum buat mereka ngapa-ngapain. www. Semoga kissu mereka kali ini bisa jadi servis lagi ya.

Wizald: wah, daku sebenernya bukan anak yang kuliah seni. Suka sih, tapi kalau sampe mendetail isi museum itu apa mungkin mesti cari refrensi dulu~

Nabila Again: tepat seminggu yah updatenya. Semoga ini cukup cepat. Hehehe

Shila Fantasy: typo itu penyakit saya kalau ngetik memang. Di chapter ini juga kayaknya ada. *nyengir* akan diperbaiki lain waktu, terima kasih koreksinya.

FayRin: diusahakan tiap minggu. Soalnya takut lupa banyak hal kalau tiap minggu ga ditulis idenya. Hehehe

Nagi Sa Mikazuki: Untung masalah cast, saya ga bisa jawab, takutnya kelepasan spoiler. Gomen. Soal kenapa eren diincar juga baru akan mulai dikupas pelan-pelan. Semoga tidak keburu membuat bosan.

Makisukii: semoga menikmati kelanjutannya

Terima kasih banyak semuanya.