Lorong rumah sakit diterangi lampu-lampu neon bersinar terang. Bangku-bangku berbentalan keras dan tipis yang sengaja disediakan untuk pengunjung yang menunggu giliran besuk rapi berjajar di kiri dan kanan lorong. Televisi layar datar yang disediakan sebagai satu-satunya teman menunggu tengah menampilkan berita bencana alam di belahan dunia lain ketika Jean Kirschetein dan Eren Jeager duduk bersisian menunggu pintu dengan tulisan 'Instalasi Gawat Darurat' terbuka dan dokter yang mereka tunggu keluar memberitahukan kabar Christa.
Jean duduk dengan posisi menundukkan kepala. Tangan saling mengepal erat. Sang calon penagntin pria dalam balutan jas putih yang elegan tampak menyedihkan sementara Eren hanya bisa duduk di sampingnya dan terdiam seribu bahasa. Eren tidak tahu harus mengatakan apa.
Levi bersandar pada dinding di seberang tempat Eren dan Jean duduk. Tampaknya hanya dia yang masih cukup tenang di sini.
Baik Jean maupun Eren tampak hancur dan berantakan. Ah, Levi jadi teringat dirinya sendiri. Mungkin Jean dan Eren seperti dirinya dulu. Dalam hal ini, setidaknya dia bisa simpati pada keduanya.
Sudah setengah jam lebih, Christa berada di ruang perawatan intensif. Dokter dan suster tengah mengupayakan yang terbaik agar sang pengantin wanita selamat. Jantung gadis itu memang rapuh bagai kaca, tapi siapa menyangka jantung tersebut akan berulah di hari sepenting ini? Di hari pernikahannya dengan pria yang ia cintai?
Permainan takdir memang kadang begitu keji.
Jean memejamkan mata dan dahinya berkerut, kepalanya tertunduk dalam. Mungkin pemuda itu sedang mengucap doa bagi Christa. Levi bahkan yakin Jean tengah berusaha merayu dan menyogok Tuhan atau entitas apapun yang Jean percayai bisa mengabulkan permintaannya untuk tidak mengambil Christa secepat ini.
Dia, Eren, dan siapapun yang mengenal gadis itu sama sekali belum siap akan hal ini.
Bunyi sepatu berkelotak di lantai ubin rumah sakit. Levi, Eren, dan Jean memandang bersamaan ke arah datangnya bunyi langkah kaki untuk mendapati kerabat-kerabat terdekat mereka, termasuk Carla, tengah menghampiri mereka dengan wajah khawatir. Ayah Christa, seorang pria tua dengan perawakan sedikit gemuk, tampak pucat pasi.
"Eren... Jean... Bagaimana Christa?" tanya Carla dengan wajah sarat kecemasan.
Eren menjawab menggantikan Jean yang sulit menemukan kata-kata. "Belum ada kabar. Dokter masih mengusahakan yang terbaik di dalam sana..."
"Oh, Christa..." Seorang wanita cantik dengan rambut bewarna sama dengan Christa menutupi wajahnya yang sudah sembab karena air mata.
Carla menghela nafas panjang. Wanita itu merangkul wanita yang Levi tebak sebagai ibunda dari gadis pirang calon mempelai Jean itu. "Tenanglah... Christa anak yang kuat..."
.
.
PROTECTION
Disclaimer: Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama.
This is only a fan works. Non-profitable one.
—5—
Life Cycle
.
.
Lima menit setelah kehadiran Carla dan yang lainnya, yang merupakan setengah jam terpanjang dalam hidup Jean Kisrchtein dan Eren Jeager, pintu ruang Instalasi Gawat Darurat terbuka. Dokter berkepala botak dengan sedikit sisa ambut putih perak mengkilap keluar dari ruangan dan mengatakan agar mereka semua menarik nafas lega.
Pertolongan pertama yang diberikan sesegera mungkin masih sempat menolong Christa kali ini.
Lorong rumah sakit dalam sekejap dipenuhi senyum haru, dan tangis bahagia. Carla memeluk ibu Christa sementara ayah sang mempelai wanita tampak nyaris roboh saking leganya. Di antara euforia kebahagiaan tersebut, Jean dengan cepat menarik Eren yang duduk di sebelahnya dalam satu pelukan hangat. Eren terkesiap, begitupun Levi.
Tangan Jean gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar. Eren tidak dapat melakukan apapun selain membalas pelukan Jean dan memberinya tepukan menenangkan di punggung.
"Christa akan baik-baik saja, Jean..."
"...ya... karenanya, aku benar-benar lega..."
Mata Levi menyipit tak suka. Sakit yang nyaris tak kentara terasa menikam dadanya. Tapi walau demikian, Levi tahu apa maksud rasa sakit ini yang dirasakan.
Dia cemburu pada Jean.
.
.
Carla Jeager menggandeng sang putra semata wayang memasuki kediaman mereka yang besar. Beberapa pelayan menunggui mereka di depan pintu dan membantu Carla membawa tas pestanya kembali ke kamar. Beberapa mengatakan pada sang nyonya besar bahwa air mandi dan makan malam sudah disiapkan.
Carla mengatakan agar Eren juga bergegas pergi mandi dan mereka akan bertemu di ruang makan. Levi mengekori Eren dengan setia sampai masuk kepada kamar.
Ini hal yang sudah membuat Eren terbiasa. Maka ketika Levi menutup pintu dalam diam di belakangnya dan mengunci akses ke kamar Eren, Eren tidak lagi heran. Dia sudah lelah memporotes pada Carla mengenai batas-batas privasinya yang dilanggar Levi. Tapi Levi tidak mau mendengarkan dan Eren juga tidak bisa membantah ketika Carla mengatakan bahwa semua untuk kebaikan Eren. Semua aksi heroik Levi hanya membuktikan itu semua di mata Carla dan Eren skakmat di tempat, tidak punya argumen lain untuk mendebat.
Eren baru saja membuka jas hitamnya dan melonggarkan dasi ketika ia merasakan Levi di belakangnya. Tangan dingin Levi menjamah pundaknya. Sentuhan itu membuat Eren menoleh pada Levi, tatapan heran dilayangkan pada pengawalnya yang berambut sehitam kayu eboni itu.
Keduanya diam dan saling bertatapan beberapa saat. Levi dengan tatapan menilai. Eren bingung juga risih ditatap seperti itu.
"Le...vi? Ada apa?"
Levi melepaskan tangannya yang semula berada di bahu Eren. "...Bukan apa-apa."
Eren tambah tidak mengerti tapi karena dia tahu sekalipun dipaksa kalau Levi tidak mau bicara dia benar-benar tidak akan bicara, maka Eren hanya mengedikan pundak dan melangkah masuk kamar mandi.
Levi mendudukan diri sekenanya di sofa kamar Eren ketika ia mendengar suara pintu geser ke kamar mandi tertutup dan suara pancuran dinyalakan. Menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa dan menatap langit-langit kamar Eren. Levi memejamkan mata. Satu lengannya dipakai menutupi matanya lagi.
Ini gila. Pria itu mengehal nafas panjang.
Dia seharusnya menyadarinya sejak awal.
Dia mulai nekat menyebrangi garis batas bertajuk profesionalisme. Levi Ackerman yang terkenal dingin dan tenang, mulai tergoda mencampuradukan urusan pribadi dan pekerjaan. Perasaan dan kontrak. Suatu hal yang tidak pernah ia perkirakan akan terjadi.
Mestinya dia sadar sejak detik paling awal. Jika hatinya tidak ikut andil dalam permainan kecilnya mengganggu Eren Jeager sesekali, dia tidak akan pernah sebodoh itu untuk mencium Eren. Terlepas dari fakta bahwa pekerjaan yang membuatnya mesti ekstra siaga dan senantiasa waspada itu memberinya banyak tekanan dan stress yang mungkin memicu libidonya untuk naik ke tingkatan lebih tinggi, Levi tahu tindakannya tidak bisa dibenarkan.
Ini gila. Pertemuannya dengan Eren Jeager memutarbalikan hidupnya sedemikian rupa. Kemana dirinya yang selalu tenang dan profesional? Kemana perginya sikap dinginnya pada siapapun tanpa kecuali?
Tindakannya salah dan hal yang paling memukul Levi adalah, ketika kini ia melakukan introspeksi diri, tidak ada bagian dari dirinya yang menyesali tindakannya mencumbu Eren.
Bukankah Eren membalas semua cumbunya?
Mungkin... tidak apa-apa memainkan permainan ini sedikit lebih lama. Levi hanya perlu sadar bahwa, seperti apapun permainan ini nantinya, dia tidak boleh jatuh lebih jauh lagi dalam perangkap pesona Eren Jeager.
.
.
Eren, masih dengan diikuti Levi kemana-mana menyambangi toko bunga dimana pelayannya adalah seorang gadis manis dengan rambut hitam dikepang dua. Senyumnya ramah walaupun tampak adanya sedikit kebingungan melihat tokoknya disambangi dua orang pria yang datang bersama-sama.
Eren mengambil mawar putih dan pink untuk dirangkai menjadi buket cantik sebagai buah tangan menjenguk Christa. Levi mengatakan buah lebih baik karena secara teknis bunga bisa layu dan tidak ada faedah lebihnya selain jadi pajangan semata, tapi Eren tidak mengindahkannya. Persetan apa kata Levi. Eren yang mengenal Christa dan tahu kesukaan gadis itu.
"Ada yang mau anda tuliskan pada kartunya? Apakah ini untuk kekasih anda?" tanya sang pelayan dengan name tag 'Mina'. Senyum ramah terpulas di wajahnya. Tangannya sendiri bergerak lincah membungkus bunga pilihan Eren dengan plastik bertepi renda yang manis warna putih.
"Ah bukan... bukan untuk pacarku..." Eren menggaruk pipinya yang tidak gatal canggung. "Untuk teman perempuanku di rumah sakit. Aku akan mengantarnya sendiri. Jadi tidak perlu kartu..."
Pelayan itu tersenyum lagi sembari memberikan sentuhan terakhir pada buket berupa pita berwarna merah muda. Eren membayar sejumlah harga yang tertera pada mesin kasir dan berjalan keluar menghampiri mobil hitamnya.
Levi mengeluarkan kunci mobil Eren dari saku celananya. Satu sentuhan pelan pada remot otomatis membukakan pintu pengemudi bagi Levi dan pintu duduk untuk Eren di sisinya. Levi kini juga bekerja ganda menjadi pengantar Eren kemana-mana. Dia tidak mengizinkan siapapun menyentuh mobil Eren dan selalu memeriksa mesinnya sendiri.
Perjalanan menuju rumah sakit tempat Christa di rawat begitu sunyi. Eren tidak tahu harus membicarakan apa dengan Levi. Semua yang berhubungan dengan pria itu membuanya tidak nyaman dan terkadang malu sendiri. Seperti apapun Eren menolak untuk mengakuinya, dia harus mengakui bahwa belakangan ini, dia tidak terlalu memikirkan Jean lagi.
Levi menguasai pikirannya, menjajah sampai ke tiap sudut. Bahkan membuat koloni di alam bawah sadar Eren sampai saat tidur pun kadang Eren memimpikannya. Tangan yang mendorongnya lembut ke atas ranjang berseprai halus. Bibir dingin dan lembut yang bergerak ahli di atas bibir Eren sendiri. Gigi-gigi putih dan tersusun sempurna yang melayangkan gigitan ke leher—menandai Eren, dan bermacam hal lain.
Eren meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah reaksi alami. Anggaplah sama dengan ketika ia membaca novel dengan genre erotik atau menonton film dengan tema romansa dewasa. Terlepas dari siapapun yang melakukannya, Eren yakin, sebagai laki-laki normal dia pasti akan bereaksi. Semua ini bukan karena alasan khusus bahwa yang menyentuhnya adalah Levi. Eren memaksa dirinya untuk tidak berpikir terlalu jauh. Takut semakin terperosok semakin dalam jika ia mengakui bahwa Levi memesona dan memikatnya dengan begitu kuat.
Kata siapa Levi tidak menebarkan feromon? Hanya orang buta yang tidak mengerti esensi keindahan yang bisa berkata demikian.
Tenggelam dalam pikirannya, Eren tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di halaman parkir rumah sakit tempat Christa dirawat. Levi memanggilnya tiga kali dan Eren masih tercenung diam. Ketika tangan Levi menepuk pundaknya barulah Eren terkesiap kaget. Dengan refleks, ia menghalau tangan Levi.
Wajahnya memerah ketika ia melihat Levi yang memasang ekspresi heran yang tidak terlalu kentara karena memang dirinya begitu kalem.
"Eren...?"
"A-ah..." Eren tidak tahu harus menjelaskan dengan apa. Maka ia menghindari Levi. Dibukanya pintu mobil dengan cepat dan terburu-buru. Levi sampai harus berlari mengejarnya ke lobi rumah sakit usai mengunci mobil secara otomatis lewat remote control.
Eren bersyukur lift yang mereka naiki menuju kamar Christa tidak begitu ramai namun masih terisi orang lain. Dia benar-benar tidak ingin ada berdua saja dengan Levi saat ini.
Kenapa dia selalu begitu bodoh dan ekspresif di depan Levi? Eren benci dirinya sendiri. Sekian tahun ia bisa menyembunyikan perasaannya pada Jean dan juga Christa. Tapi mengapa di depan Levi ia selalu seperti berada di ujung tanduk. Selalu saja melakukan hal aneh yang bisa membuat perubahan perasaanya ketahuan begitu gamblangnya.
Keluar dri Lift di lantai yang dituju, Eren melesat cepat. Levi sampai heran.
Pintu kamar VIP diketuk pelan dan Eren yang mendengar suara Jean dan Christa mengatakan 'masuk saja' bersamaan, mempersilahkan dirinya masuk.
Christa tampak pucat namun dengan senyum ramahnya di bibir yang tampak kering, selang pernafasan dan suara serak pun tidak dapat mengurangi kecantikannya.
Kanvas bergambar lukisan Eren bersandar pada dinding kamar. Eren mengrimkannya dua hari yang lalu. Tapi baru sekarang ia sempat mengunjungi Christa lagi.
Eren dengan senyum menunjukan buket bunga di tangan. Levi yang masih berada di dekat Eren dengan seenaknya mempersilahkan diri duduk di sofa yang tersedia. Jean mengambil alih buket dari tangan Eren dan meletakannya di atas meja. Ia bersiap ke kamar mandi untuk membuang air dari vas dan mengganti bunga daffodil yang mulai layu dengan bunga dari Eren.
Eren menundukan diri ke dekat pembaringan Christa dan mengusap rambut pirang gadis itu. Dengan berhati-hati agar tidak menyenggol sedikit pun selang pernafasan Christa, Eren mendaratkan kecupan di pelipis gadis itu. Kecupan ringan dan lembut.
Levi merasa biasa saja. Berbeda dengan ketika Jean memeluk ataupun mencium kening Eren. Levi menghela nafas pelan tidak kentara. Dia mau tidak mau mengakui hal yang berat untuk dikatakan ini; sudah ada perasaan lain yang tumbuh di hatinya untuk Eren dan ia mulai tidak menyukai keberadaan Jean di dekat Eren. Buktinya kini dengan Christa ia merasa biasa saja, karena dia tahu betul, Eren tidak menyimpan rasa untuk gadis cantik itu.
"Terima... ka... sih... lukisannya... E...ren..." Christa berkata pelan.
Eren tersenyum. "Sama-sama..."—bisiknya.
Jean kembali dengan vas berisi air baru dan bersiap membuka ikatan pita dan plastik dari buket Eren ketika Christa mengibaskan tangannya meminta Jean mendekat dan memberikan padanya buket pemberian Eren.
Jean dan Eren bertukar tatapan bingung.
"Jean..." Christa memanggil lemah.
"Ya?" Jean menggenggam tangan mungil Christa yang tidak sedang memegang buket dan menggenggamnya.
"...ku... i...ngin... menikah... dengan...mu..."
Jean menggenggam tangan Christa erat-erat dan mencium punggung tangannya. "Tentu! Kita akan segera melanjutkan upacara yang tertunda begitu kau sehat..."
Terhadap kata-kata Jean, Christa menggeleng lemah. Tingkahnya membuat Eren dan Jean bertukar pandangan bingung.
"Jean..."
"Ya?"
"A...ku... i...ngin... men...ja...di pengantinmu... seka...rang..."
.
.
Tidak ada gaun putih dan tuxedo. Tidak ada altar megah berhias pita dan bunga. Tidak ada koor dan hymne pernikahan yang manis. Tidak ada audiens yang memandang pengantin cantik dengan kagum.
Buket bunga yang dibawa Eren berada di tangan Christa yang terbaring lemah di ranjang rawatnya. Di dalam kamar hanya ada Eren, Carla, Levi, kedua orangtua Christa, dan seorang pastur muda yang berpakaian resmi.
Jean yang panik mendengar permintaan Christa yang terburu-buru, lekas menghubungi dua calon mertuanya, dan Carla sebagai walinya—berhubung Jean yatim piatu, dan seorang pastur muda yang ada di gereja lokal. Semua tanpa persiapan dan terburu-buru. Tapi toh tidak ada yang mempertanyakan alasan di bali permintaan tidak masuk akal Christa.
Jean bahkan tidak peduli bahwa di momen seistimewa ini, peristiwa sekali dalam seumur hidupnya, dia akan melakukannya di rumah sakit dengan pakaian berupa jeans belel dan kemeja kasual. Tidak juga mempedulikan fakta bahwa pengantinnya hanya memakai pakaian rawat khas pasien rumah sakit berwarna biru muda.
Sumpah itu diucapkan sekali lagi. Jean yang berlutut di sisi tempat tidur Christa mengatakan 'aku bersedia' dengan mantap. Christa tersenyum lemah dan membalas genggaman tangan Jean ketika berkata 'aku bersedia' dengan suara berbisik dan terputus-putus.
Cincin pernikahan itu disematkan Jean pada Christa. Christa dengan dibantu Jean melakukan hal yang sama. Pastur muda berkata 'kau boleh mencium pengantinmu' dan Jean memberikan kecupan ringan dan lembut di bibir Christa. Jean memisahkan diri dengan cepat, takut membuat Christa sesak apabila Jean menciumnya terlalu lama. Sebagai gantinya Jean mengecup pipi tirus dan pucat gadis itu dan mengusap helaian-helaian pirang di kepala gadis itu.
Carla teresenyum penuh haru dan merangkul bahu Eren di sampingnya.
Bisa ditebak ini adalah momen pernikahan paling mengharukan yang pernah dihadiri Carla. Wanita itu mengusap wajahnya dengan sapu tangan berkali-kali.
Eren diam saja. Dia tersenyum pada Christa. Tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada sedikit rasa perih ketika ia melihat Jean mengecup bibir Christa. Ada perasaan iri dan pertanyaan mengapa bukan dirinya yang wanita sehingga lantas bisa bersanding di sisi Jean secara resmi di mata hukum dan masyarakat tanpa perlu merasa bersalah.
Eren tersenyum lemah ketika Christa menatap ke arahnya dan tersenyum. Wajah itu tampak amat bahagia.
Dan di ruangan itu, yang menyadari perubahan perasaan Eren hanya Levi seorang.
.
.
Katanya mereka yang akan segera meninggalkan dunia ini seringkali diberi firasat tertentu. Beberapa berkata mereka yang baik mendengar suara malaikat dan itulah sebabnya mereka sering mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami pada umumnya; mereka tahu waktu mereka hampir tiba.
Christa hanya sempat menyandang nama Christa Kirschtein untuk tiga hari lamanya. Gadis cantik itu wafat dalam tidurnya. Jean yang berjaga semalaman di sampingnya terbangun karena mesin pemantau detak jantung berbunyi 'piiiiip' panjang lama. Tanda bahwa nyawa dari istrinya sudah berpulang ke pangkuan Yang Kuasa.
Jean tampak seperti mumi. Dari beberapa suster yang berbisik-bisik di lorong rumah sakit, Eren tahu bahwa Jean yang hancur itu sempat memeluk Christa begitu lama dan menghujani wajah istrinya dengan kecupan. Untuk yang terakhir. Walau tubuh Christa kini hanya wadah kosong tanpa isi nyawa. Walau kehangatan telah sepenuhnya sirna dari tubuh cantik dengan paras rupawan itu.
Christa tersenyum dalam tidurnya. Bahkan tangannya masih berada dalam genggaman Jean ketika ia pergi untuk kembali ke pangkuan Yang Kuasa.
Mungkin kematian baginya kini adalah mimpi indah tanpa akhir. Apa lagi yang bisa lebih diinginkan seorang wanita seperti dirinya selain menikah dengan yang dicintai hatinya dan mendapati sosok tersayangnya menemaninya bahkan sampai detik terakhirnya.
Semua yang menceritakannya ulang menitikan air mata haru, namun Eren lebih dari sekedar merasa seperti itu. Ia juga merasakan sakit yang sama seperti halnya Jean. Christa memiliki peran dalam hidup Eren. Dia satu-satunya wanita yang Eren rasa pantas bersanding di sisi Jean. Tapi kini Christa tiada, Eren tidak tahu harus bagaimana.
Rose Garden, nama tempat pemakaman yang dipilih keluarga Christa adalah tempat pemakaman baru yang masih begitu sepi dan lenggang. Christa dikebumikan di tempat yang teduh di bawah pohon cedar tua di kontur yang agak berbukit. Jika Eren memejamkan mata, dia tidak melihat pusara Christa di sana. Yang ada adalah gadis cantik dan lembut yang duduk sambil memandang langit dengan senyum teramat manis.
Tanah pemakaman masih begitu basah. Jean masih bersikeras ingin berada di sana sekalipun mertuanya sudah memintanya ikut pulang. Langit dengan awan kelabu gelap berarak membuat semua orang khawatir. Jangan bilang Jean berkeras tidak mau pulang di cuaca seperti ini.
Eren mengatakan bahwa dia akan membujuk Jean pulang. Sementara itu, biar Carla dan yang lain undur diri lebih dulu dari pemakaman. Levi mengawasi dari jarak aman.
"...Dia meninggalkanku terlalu cepat..." ujar Jean dengan suara parau.
"Aku tahu..." Eren merangkul Jean yang sama-sama berlutut di sisi tempat peristirahatan terakhir Christa.
"...Aku mencintainya, Eren..."
Sakit sekali rasanya mendengar itu tapi Eren mengetatkan rangkulannya pada Jean. "Kita semua mencintai Christa..."
Jean mengusap nisan dari pualam putih berukir nama istrinya. "...Kenapa... mesti dia yang pergi begitu cepat?"
Eren menyandarkan kepalanya di bahu Jean. "...Karena dia orang yang baik, Jean. Mungkin... Tuhan menginginkannya pulang lebih cepat..."
.
.
Taksi yang ditumpangi Eren dan Levi berjalan dengan bunyi mesin halus menembus jalanan aspal kota yang kini menggelap karena basah dari titik-titik hujan. Hujan memaksa Jean dan juga Eren serta Levi untuk pulang.
Beruntung ada dua taksi yang lewat dengan jeda waktu yang tidak jauh berbeda. Arah rumah Jean berlawanan dengan Eren. Oleh karena itu, Jean pulang dengan taksi lain sendiri. Bagi Levi ini menguntungkan. Terlepas dari bahwa Eren dan Jean tengah dirundung duka, kedekatan mereka yang naik beberapa tingkat lebih daripada biasaya membuat Levi muak.
Eren menghempaskan sepatunya di depan pintu sebelum memasuki rumah. Pelayan muda memberinya handuk dan terburu-buru menghampirinya dan Levi yang baru saja mencapai pintu depan.
Wajah panik sang pelayan mengundang tanya bagi Eren. Kenapa sampai sepanik itu?
"Ada apa?" tanya Eren Heran pada sang pelayan yang berwajah kalut.
Pelayan-pelayan lain yang mengekor di belakangnya terdiam. Eren semakin penasaran. Dan bicara soal pelayan, tumben ibunya tidak tampak. Biasanya Carla akan langsung menyambutnya setelah mendengar pelayan mengabarkan bahwa Eren sudah pulang.
"Tuan muda..."
Eren menyadari ada yang aneh di sini.
"Mana ibuku?"—tanya Eren.
Semua terdiam dan saling berpandang-pandangan. Eren mengguncang bahu salah satu pelayan. Levi hanya diam memerhatikan. Memang, dari wajah setiap pelayan, tampak sekali bahwa ada yang aneh di sini.
"Ibuku belum kembali?"
Untuk suatu alasan yang tidak jelas, Eren merasakan kepanikan yang amat sangat menyerang.
"Nyonya besar..."
.
.
Kesialan beruntun tampaknya sedang senang menempel pada Eren. Setelah Christa, kini Eren harus sekali lagi kembali ke rumah sakit untuk menerima kabar bahwa ibunya mengalami luka bakar parah.
Ada seseorang yang memasang bom rakitan di belakang mobil yang ditumpangi ibunya dan kedua orangtua Christa. Keluarga Jeager memang pergi bersama keluarga Renz ke pemakanam hari ini. Mungkin karena itu, mereka mengira Eren akan ada bersama mereka di mobil itu. Pasangan Renz meninggal karena kebetulan mereka duduk di kursi penumpang belakang. Sementara Carla yang duduk di kursi depan terlempar ke rerumputan dan mengalami banyak luka di sekujur tubuh.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Eren mengutuki dirinya sendiri. Ini salahnya. Karena orang mengincar harta yang entah apa bentuknya yang menjadi warisan sang ayah, Eren kini menjadikan satu-satunya orang yang berhubungan darah dengannya secara langsung terluka.
Eren tidak lagi peduli untuk tidak menangis. Ia membuang harga dirinya di depan Levi ketika pria itu mengantarkannya dengan mobil ke rumah sakit untuk menjenguk Carla. Inilah alasan mengapa Levi tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh mesin kendaraan yang akan dinaiki Eren. Pengalaman mengajarinya bahwa para kriminal memiliki berbagai macam cara mencapai tujuan mereka.
Tapi rupanya dia lengah. Rupanya ada motif lebih dibanding sekedar mengincar Eren. Siapapun yang berada di balik usaha pembunuhan ini, jelas dia menginginkan Eren untuk menderita. Levi tahu, Grisha membagikan hartanya juga pada istrinya. Seingat pria itu, tidak ada yang istimewa dari semua yang diwarisi Carla. Hanya rumah, deposito, dan museum besar. Yang menjadi misteri adalah harta untuk Eren yang tersimpai di ruang besi Bank Shiganshina. Tidak ada alasan mengincar Carla jika memang alasannya hanya harta semata.
Tapi apa lagi alasannya?
Levi menyetir secepat ia bisa. Namun ketika ia berhadapan dengan penghalang bernama lampu jalanan, ia tidak bisa menembus kerapatan jalanan begitu saja.
Waktu diam menunggu giliran jalan tersebut dipakai Levi untuk meremas tangan Eren yang terkepal erat di atas pahanya dengan lembut dan kuat. Sebisanya mempersuasi Eren untuk tenang.
Levi tidak bisa berkata apa-apa. Tapi Eren tahu pria itu berusaha menenangkannya dan karenanya Eren berusaha meredam tangisnya. Sayangnya tidak terlalu berhasil.
Levi menarik dagu Eren lembut, memaksa Eren menoleh dan menatap padanya. Dua pasang mata berbeda warna bertemu.
"Kau harus kuat, Eren... Kau laki-laki bukan?" Levi berkata. Dia tidak bisa berkata bahwa 'Eren tidak perlu menangis' atau 'ibumu akan baik-baik saja'. Dia bahkan tidak tahu apa bisa ia berkata hal yang tidak jelas seperti itu.
Dia hanya bisa berkata.
"Tenanglah..."
Diusapnya air mata Eren yang mengalir di pipi dengan kedua ibu jarinya. "Kau tidak sendirian menghadapi ini semua..."
.
.
TBC
.
.
Maafkan saya yang menyalahi janji. Jadi... singkat cerita ada beberapa perubahan di jadwal saya. Perkuliahan yang jamnya diganti dan jadwal kerja yang kini jamnya nambah membuat saya hampir ga ada waktu untuk fangirling sekalipun. Walau demikian, saya akan berusaha untuk ga lelet banget mengupdate ini.
Daiki Hanna: Erwin ga bisa baca suasana ya? Hahaha... Saya juga. Makanya tiap momen RivaEre di sini ada aja gangguan. Erwin lah. Jean lah. Yah. Semua perlu. Supaya romens mereka greget.
Makiisukii: semoga ini cukup seru. Saya mencoba untuk nggak drama banget, tapi dasarnya author dramatis. Jadi aja chapter ini penuh drama. Chapter selanjutnya akan masuk ke bagian yang lebih berat.
Babyberrypie: eh? Tahap lebih lanjut? Memang chapter kemarin saya nulis apa toh? *periksa ulang* haha... yah... tapi emang fic ini akan naik rating sih.
Sapphire girl: semoga chapter ini juga cukup bisa dinikmati walau banyak gangguan dari Jean. Atau saya doang yang mikir perasaan eren ke jean mengganggu? *jahat* hahaha...
Rivaille Yuki Gasai 2: ... maafkan saya. Tapi sejak awal, christa saya plot untuk... wafat... dan masih banyak lagi karakter lain yang endinya tragis di tangan saya. tapi saya bisa kasih jaminan Levi ama Eren aman di fic ini.
FayRin Setsuna : hahaha... soal karakter baru yang akan dinongolin, terlepas dari Mikasa atau bukan, saya mingkem dulu ya. Saya nggak ingin anda kehilangan keseruan membaca.
Mikunisama: salam kenal juga. Senang mendengar ada yang sama-sama suka karakterisasi macam itu untuk Levi dan Eren juga. Saya tipe yang agak gagal menulis sesuatu secara canon dan terlanjur mencap Eren in denial sementara Levi itu mesum. Jadi yah... beginilah...
Nabilaagain: Tbc karena... saya orang kurang ajar yang demen ngecut cerita di bagian gantung mungkin. Hahaha... maaf ya. Ini kebiasaan.
Nareudael: Levi baru sepenuhnya sadar dia suka Eren di mari. Kalau Eren sih... masih in denial. Kita lihat aja tangan saya bakal ngetik dia yang bisa jujur entah di chapter berapa. Haha...
Wizald: maaf, kouta maksudanya apa ya? *kudet* annooo... saya nggak bisa janji update cepet lagi. Karena pertambahan kegiatan yang bikin jadwal gendut. Tapi dicoba untuk konsisten lagi. Kalaupun telat ga mau sampai parah. Semoga bisa... soal Eren dan Jean... nanti di chapter berikut-berikutnya saya menjelaskan kok.
Lily lestari: terima kasih buat ucapan semangatnya. Dan maaf telat menyalahi janji. Semoga ini bisa dinikmati juga...
Dan mungkin antara chapter depan atau satu chapter lagi, fic ini resmi naik rating. Plotnya akan makin berat, maskudnya. Saya nggak menjanjikan lemon atau apa ya.
Salam.
