Yo, Hika kembali lagi.
Berdasarkan hasil riset (?), 3 dari 4 reviewers yang nge-vote memilih pair Rei x Rui, jadi.. ya karena Hika udah nggak sabar ngetik begini jadinya xD semoga readers suka cerita Rei x Rui yang pertama kali Hika buat ini ya. Dan terima kasih sudah memilih~ Oh ya, dan fic ini saya buat untuk memenuhi request rositarinjani dan reviewers lain yang memilih Rei x Rui.
Seperti biasa, balesan review:
Kurotori Rei: huaa, makasih banget ya kalau Rei-san suka ceritanya QwQ oke ini Rei x Rui-nya
Kireina Yume: Yume-saaaan DX Hika benar-benar minta maaf, karena character request-an Yume-san batal muncul berhubung sequel Numbers yang sebenarnya dibatalkan, tapi syukurlah kalau Yume-san suka sequel versi baru ini QwQ
Izumi Kiirei: oke, ini Rei x Rui nya
Kiriko Alicia: maaf ya, Rin x Len nya ditunda dulu ._.
neko-neko kawaii: baguslah kalau neko-san tetap suka, dan terima kasih telah menunggu~
Ryuuna Hideyoshi: baiklah, Rei akan bercerita di chapter ini~
rositarinjani: ini sudah update, makasih telah menunggu~
Enjoy chapter 3~
Fun fact: sebenarnya, chapter 2: Four Days adalah chapter yang tadinya akan digunakan sebagai pembuka fic ini/chapter 1
Aku Rei Kagene, usia 15 tahun. Masih muda, bukan? Tapi jangan salah, di usia-ku yang ke-15 ini aku telah mengalami banyak hal. Tiga diantaranya adalah kejadian yang mengubah hidupku. Yang pertama adalah kejadian di taman bermain Pactheland, dimana aku bertemu teman-teman baruku (yang kurang waras) itu. Kedua, di saat Len berhasil keluar dari taman terkutuk apalah itu, dan sekarang ia tinggal di apartemenku. Hmph, benar-benar merepotkan. Sedangkan yang ketiga adalah...
Numbers: Encore
an original fanfiction by hikari-lenlen
Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media
Number Days (c)Pacthesis
Rei P.O.V
Cryptonteria. Tempat yang selalu kukunjungi setelah pulang sekolah. Apa itu Cryptonteria? Itu adalah sebuah kafe. Mungkin kalian heran, mengapa namanya bisa Cryptonteria. Alah, bukan urusanku. Mungkin plesetan 'Crypton' dan 'cafeteria'? Sudahlah, lupakan saja.
Karena aku baik, aku akan menjelaskan ini. Mengapa aku bisa ada disini? Asal kalian tahu saja, aku bukan anak pemalas seperti Len. Dikira cuma Kiyoteru saja yang bisa kerja sambilan? Ooo, tidak bisa. Mungkin kalian sudah bisa menebak, alasanku datang kesini setiap hari: kerja sambilan, tentu saja.
Kalau sudah begini, pertanyaan yang akan muncul selanjutnya adalah: kenapa aku harus kerja sambilan? Jangan mengira bahwa aku adalah anak orang kaya atau semacamnya. Ya aku memang sekolah di Utopia High—yang katanya sekolah paling top itu. Tapi, aku ini anak yatim piatu, dan tidak ada kerabatku yang tinggal di kota ini. Apalagi dalam kondisi seperti ini, aku harus punya uang untuk membiayai tiga hal:
Satu, biaya apartemenku.
Dua, biaya sekolahku.
Tiga, biaya untuk mengurus seorang bayi besar berumur sekitar... mungkin empat belas tahun? (Len: HUAATCHII! Aduh, kayaknya ada yang ngomongin si pangeran kece ini deh)
Apalagi gaji di tempat ini cukup besar, ditambah dengan popularitasku. Oh ya, aku memang benci popularitasku di sekolah, ugh, membayangkan gadis-gadis ababil itu saja sudah membuatku muak. Tapi, popularitas itu berguna saat bekerja disini, lihat saja, banyak gadis muda (ababil) yang datang kesini hanya untuk menemuiku. Otomatis, gaji-ku pun ditambah.
Sekian untuk perkenalan singkat ini, aku harus mulai bekerja.
Cryptonteria, 01.32 P.M
"Rei-samaaa!"
"Rei-kuun aku mau pesan!"
"Reeei kopi nya satu, dengan ekstra gula ya!"
"Kalau sudah selesai kesini ya, Rei~!"
Satu hari lagi yang merepotkan. Dengan sigap, aku pun menghampiri salah satu meja dan membungkuk sopan. Itu adalah meja untuk 2 orang yang sedang digunakan oleh dua orang remaja perempuan. Yang pertama adalah remaja berambut pirang pendek dan berantakan, sedangkan yang kedua berambut pirang juga, tetapi diikat sidetail. Mungkin mereka berdua kembar.
"Ah, itu dia! Rei Kagene, si ganteng dari Utopia itu lho!"
"Oh iya! Aaa Rei-sama, aku mau pesan... Strawberry Cheesecake!" kata gadis berambut panjang sambil mengedipkan sebelah matanya. Ih, alay banget.
Demi menjaga image, aku hanya bisa tersenyum sambil mencatat pesanannya.
Klining klining
"Ya, selamat datang." Aku yang telah selesai dengan pesanan si kembar-alay-sialan itu pun segera menuju ke pintu masuk untuk menyambut tamu baru kami. Cewek lagi. Namun... kali ini ada yang berbeda.
Perempuan itu masuk dan memilih meja nomor 14, meja yang ada di dekat jendela. Tapi... dia diam saja. Kalem, tenang.. dan... ah pokoknya dia berbeda! Rata-rata—maksudku SEMUA perempuan yang masuk kesini pasti akan melakukan salah satu diantara dua pilihan ini: langsung teriak "Rei-samaaa" atau bisik-bisik alay.
"Um... menunya?"
Argh, tuh 'kan, aku jadi lupa melayani si perempuan aneh ini! Sial! Dengan terburu-buru, aku pun memberikan menu padanya.
Gadis itu pun menerima menunya (masih) dengan kalem, kemudian iris emasnya mulai menelusuri baris demi baris, mungkin ia bingung apa yang akan dipesannya. Aku pun mengamatinya selagi menunggu.
.
Um?
Ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku kembali memusatkan pandangan ke name-tag nya.
Kagamine.
Normal P.O.V
'Kagamine?' pikir Rei bingung.
Bagaimana bisa? Asal kalian tahu, nama Kagamine itu jarang dipakai. Kagamine juga adalah marga dari Len, yang bahkan (tadinya) bukan manusia. Apa mungkin gadis ini...?
"K-Kagamine-san?" ucap Rei.
"Ya? Bagaimana kau bisa tahu namaku?" gadis itu—Kagamine bertanya balik.
"Dari seragammu. Apa namamu benar-benar Rui Kagamine?" kata Rei sambil membaca nama yang terpampang di seragam gadis itu.
"Tentu saja. Huh. Pelayan disini benar-benar tidak sopan." jawab Rui dingin.
JLEB
'Argh, aku salah ngomong! Aku juga lupa kalau nama belakang Len sebetulnya hanya karangan Rin belaka' batin Rei kesal sambil mengacak rambutnya.
"Anu... pelayan?" Rui kembali bersuara.
"Y-ya, maaf, mungkin saya bisa menjelaskan pertanyaan saya barusan." Rei pun memutar otak untuk mengarang alasan—eh maksudnya menjelaskan semuanya dengan singkat, padat, dan jelas. "Ehm.. sebenarnya saya punya teman bernama Kagamine, ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan... sekarang ia tinggal di apartemen saya dan saya sedang mencari wali yang bersedia mengurusnya. Ja—"
"Jadi kau pikir aku adalah kerabatnya dan bersedia mengambil temanmu itu?" potong Rui.
"I-iya..." jawab Rei yang (pertama kalinya) gugup di depan pelanggan. 'Argh, dia malah tambah marah! Kenapa 'sih aku harus melayani cewek ginian?!" umpat Rei dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Hening.
.
.
.
.
"Aha..."
"Um? Ada apa?"
"Ahahahahahaa! Kau lucu sekali!" tawa Rui secara tiba-tiba—yang membuat Rei kaget, tapi demi pekerjaannya, ia tetap memasang wajah cool dan karismatik-nya.
"What the—" gumam Rei dengan suara yang (untungnya) sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh Rui.
Rui melanjutkan kalimatnya, "Tapi sayang sekali, aku tidak pernah mendengar bahwa ada anggota keluargaku yang kecelakaan, jadi mungkin kita sedang membicarakan Kagamine yang salah."
'Tentu saja bodoh! Len Kagamine tidak mungkin punya kerabat!' kata Rei dalam hati, diam-diam mengejek sikap Rui yang tiba-tiba berubah.
"Tapi kalau kau bersedia, aku bisa mengambil temanmu itu, dan menjadi walinya. Bagaimana?"
"Ah tidak usah, nanti merepotkan. Terima kasih atas tawarannya." Rei membungkuk lagi untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
Cryptonteria, 02.10 P.M
"Jasmine tea." ucap Rei sambil meletakkan cangkir berisi teh yang dimaksud ke meja bernomor 14 itu.
"Terima kasih. Apa kau nganggur?" tanya Rui sambil meminum teh-nya.
Rei melihat sekeliling. Meja satu kosong. Begitu pun dengan meja dua, dan seterusnya sampai meja terakhir. Tak heran, biasanya jam segini cafe sepi, mengingat banyak murid yang mau kursus, kerja kelompok, mengerjakan pr, juga orang dewasa yang pastinya sedang mencari nafkah. Yah, setidaknya Rei bersyukur karena orang-orang masih menjalankan tugasnya masing-masing demi kemajuan bangsa ini.
Rui kembali tersenyum. "Duduk."
Rei melakukan seperti yang dikatakan Rui barusan.
"Rasanya tidak adil jika hanya kau yang tahu namaku. Siapa namamu?" lanjut Rui.
Rei menunjuk ke arah name-tag nya. "Rei Kagene, 15 tahun."
"Wah, kau masih kecil tapi sudah bekerja ya! Hebat. Izinkan aku memperkenalkan diri lagi. Rui Kagamine, 16 tahun."
Tak disangka, ternyata Rui lebih tua satu tahun dari Rei.
"Sekolah dimana? Aku di Belzenia High." kata Rui lagi.
"Utopia High."
"Wah, itu 'kan sekolah top yang katanya keramat itu ya?"
Rei sweatdrop. Keramat? Apa-apaan itu?
Bip bip bip
Rui melirik jam tangannya yang merupakan sumber bunyi barusan. "Sudah jam segini! Aku harus pergi. Kapan-kapan kita mengobrol lagi ya, Kagene!" sambil mengelap mulutnya (yang agak belepotan gula), Rui mengambil selembar kertas dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu dengan pena yang selalu ia simpan di dalam saku seragamnya. Ia pun memberikan kertas itu pada Rei dan keluar dari Cryptonteria dengan terburu-buru.
Rei mulai membaca kertas kecil berwarna hijau muda tersebut.
Kagamine Rui
Belzenia High, Class 10-B
Contact me at:
E-mail: kagarui19
Adress: Vocalo st. no. 23 (rumahku pagarnya warna biru :D )
Phone: 08xxxxxxxx25
Setelah membacanya, Rei tersenyum kecil.
"Senang bertemu denganmu... Kagamine."
Omake
"Rei." kata Len. "Aku bosan tinggal disini. Kita pindah rumah yuk."
Sebuah perempatan muncul di kening Rei (?). 'Harusnya kau kuserahkan saja pada cewek Kagamine itu!' batinnya, menyesali keputusannya tadi siang.
.
OWARI
Chapter 4 selesai~ Semoga para readers yang nunggu-nunggu Rui x Rei nya puas ya~
Satu lagi, Hika punya rencana untuk chapter 5:
1. Cerita Rin x Len
2. Cerita Kaito x Miku centric, slight Rin x Len
3. Pilihan readers (silahkan request di review jika readers punya usul lain!)
Terima kasih sebelumnya, tolong dipilih ya~
Akhir kata...
Review, please?
