Hai readers, Hika kembali dengan membawa chapter baru~

Eh tenang saja, fic HMO akan dilanjutkan kok, Hika lagi semangat aja buat one-shot ini karena lagi kebanjiran ide OwO. Setelah dirundingkan, akhirnya Hika memutuskan untuk membuat Rin x Len di chapter kali ini. Tenang saja, Miku x Kaito nya masih ada kok ^^"

Seperti biasa, balesan review:

Kiriko Alicia: maaf membuat Alice-san menunggu, silahkan Rin x Len nya~

Kurotori Rei: Rui udah jadi ramah kok OwO Miku x Kaito nya chapter depan kok

rositarinjani: makasih banget kalau rosita-san suka QwQ ini sudah lanjut~

Dere KuroHaru: wah, Hika juga pengen sih buat Kiyopedo, tapi susah ^^" nanti deh dipikir dulu

Oke itu saja, selamat membaca chapter 4~


"Ring!" gadis berambut pirang madu itu membanting gelas. "Kamu tuh udah kelewatan!"

"Apa kau bilang? Aku? AKU? Bukannya kalimat itu seharusnya ditujukan padamu, KAGAMI?" balas gadis yang dipanggil Ring itu. Bahkan ia sudah tidak memanggil sahabatnya dengan nama depan lagi.

"Jadi aku yang salah? Oke fine, JANGAN TAMPAKKAN WAJAHMU LAGI DI DEPAN MATAKU!" Tanpa basa basi, si pirang madu yang disebut Kagami tadi beranjak pergi dari tempat itu, sementara gadis ketiga yang berambut magenta hanya bisa geleng-geleng kepala.


Numbers: Encore

an original fanfiction by hikari-lenlen

Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media

Number Days (c)Pacthesis


Len P.O.V

Gallerian Apartement, 08.46 A.M

This is best daaay eeevvveeerrrr~

DES ES BEEESS DEYYYY EEVEERRR

Dengan gesit, aku melompat keluar dari tempat tidur, membuka jendela dan menyapa matahari yang bersinar terangeh mataharinya belum terang sih, namanya juga masih pagi. Lalu aku berlari keluar dari apartemen itu, dan jogging pagi dengan berlari memutari apartemen 5 kali. Setelah itu, aku naik ke atap apartemen dan menyapa burung-burung yang lagi pup disana. Oh, maaf jika ada yang sedang membaca fic ini sambil makan. Pokoknya yang aku lakukan pagi hari ini persis dengan adegan di film tentang spons kuning itu.

Setelah puas dengan tarian pagi ini, aku pun turun ke lantai tujuh, dan merogoh saku celana tidur alias piyama-ku untuk men

Tunggu! Dimana kartunya?

.

.

Jangan-jangan... Aku lupa bawa kartu saat keluar tadi?!

.

.

.

"REEEEIII! BANGUN, AKU NGGAK BISA MASUK!"

"BERISIK!"

Maaf, ada kesalahan teknis disini. Mohon tunggu sebentar.

.

.

Kembali ke cerita.

Mungkin kalian bertanya-tanya, seperti apa sih hari ini? Kenapa hari ini bisa disebut hari terbaik yang pernah ada? Apakah hari ini ada banyak makanan enak yang jatuh dari langit? Atau hari ini Rei mau pindah ke apartemen yang lebih bagus? Atau

"LEN! CEPETAN MANDI, KAITO UDAH JALAN KESINI!"

"Hah? Kaito jalan kesini? Apa gak capek?"

"Ya dia naik mobil lah bego! Sana mandi! Air panas nya sudah disiapkan!"

Akhirnya Rei mengizinkanku mandi air panas! Aku pun membuka lemari pakaianku dan mengambil satu-satunya pakaian yang ada disanakaos merah dan celana jeanskarena Rei hanya mengizinkaku membeli satu piyama, satu kaos dan satu celana plus seragam sekolah. Katanya sih untuk menghemat biaya. Saatnya melesat ke bathtub!

.

Oh iya, sebelum aku pergi, aku akan memberitahu kalian. Hari ini adalah hari terbaik karena Rin dan semuanya mau mampir kesini! Aah, pokoknya aku harus dandan seganteng mungkin biar Rin terpesona!


Gallerian Apartment, 09.12 A.M

Normal P.O.V

Melihat Len yang sudah wangi kembang tujuh rupa keluar dari kamar mandi, Kaitoyang baru sampai pun segera menyapanya, demi memenuhi norma kesopanan.

"Selamat pagi Rei, Len." sapa Kaito.

"Mana mobil Kaito?" anak satu ini malah keluar dari topik. Rei cuma bisa facepalm.

"Ada di bawah, tapi aku tidak akan memperlihatkannya. Haha..." Kaito sweatdrop. Padahal sebenarnya dia hanya malas naik turun apartemen tuh, walaupun sudah menggunakan lift. Dasar Kaito...

"Huft, disini panas ya..." lanjut Kaito sambil mengibaskan tangannya, serta menyibakkan syal nya ke belakang.

'Ya berarti kau harus lepas syal-mu itu! Ini suhu AC nya udah paling rendah loh.' batin Rei geregetan.

Ting tong

"Ya, siapa?" Len pun berdiri dan mengintip ke luar melalui lensa yang tersedia di pintu kamar.

...

"Itu..." kata Len lirih. "I-itu..."

"Siapaaa?" tanya Rei tidak sabaran.

"ITU KIYOTERU DAN MIKU! T-TAPI WAJAHNYA JADI SANGAT BESAR! LEBIH BESAR TIGA KALI LIPAT DARI BADANNYA! OOH, APA YANG TERJADI?! APAKAH INI SEMACAM PENYAKIT?!" teriak Len heboh sendiri.

"L-Len... itu..." Kaito mencoba menjelaskan.

"ITU APA?! APAKAH ITU VIRUS KELAPA BALON?!"

Aduh, ni anak sumpah katro banget. Lagian itu 'kelapa balon' maksudnya 'kepala balon' kali?

Kaito menarik nafas. "Itu wajar Len, kepala mereka terlihat lebih besar karena kau melihat mereka melalui lensa cembung." Kaito menghembuskan nafas. Bukan nafas terakhir lho ya.

Len cuma mengangguk disko, walaupun sebenarnya dia sama sekali nggak ngerti.

Ting tong

"Ya!" kali ini Kaito yang buka pintu.

.

.

.

.

Hening.

.

.

.

"Kai..." kata Kiyoteru. "Kau nambah tinggi..."

Kaito cuma bisa nyengir.

Kiyoteruyang baru tersadar pun segera meneriaki pria malang itu. "HOI! BUKA PINTU AJA KOK LAMA BENER SIH?!"

Sedangkan Miku si anak baik yang suka menabung tidak berani berkomentar apa-apa.


Gallerian Apartment, 09.24 A.M

"Kaito oke, Kiyoteru oke, Miku oke, Rei oke, tinggal Rin yang belum datang." kata Len, mengabsen teman-temannya.

Tok tok tok

"Itu pasti Rin!" ucap Len ceria. Baru saja ia berdiri, tapi Rei sudah membukakan pintu duluan. Dia udah kapok, dia nggak akan membiarkan Len membuka pintu lagi.

Pintu terbuka, menampilkan seorang Rin Kagami... yang kelihatannya tidak sedang baik-baik saja.

"Kenapa tadi tidak pencet bel saja?" tanya Rei heran.

"Bukan urusanmu!" kata Rin.

.

.

.

Eh?

.

.

.

Ini benar-benar Rin?

"Halo halo, sersan Len disini, apa ini Rin?"

"Tentu saja bodoh! Kau kira aku ini hantu?!"

JLEB

Len pundung di pojok ruangan.

"Ada masalah apa Rin? Mungkin aku bisa bantu." kata Kaito.

"Tidak ada apa-apa!"

"...Rin?"

"Miku berisik!"

"Rin, aku"

"Kiyoteru diam saja!" bahkan Kiyoteru belum sempat ngomong apa-apa.

"Rin! Jangan egois" oh, Rei menggunakan cara kasar.

"Apa sih Rei! Aku sedang malas berdebat!"

.

"Rin?" Len mencoba lagi. "Kenapa kau tidak memakai pitamu?" tanya Len, sambil menunjuk ke arah pergelangan tangan Rin, dimana seharusnya ada pita berwarna putih.

"Lupa." jawab Rin judes.

.

"Len, sini kau." kata Kiyoteru sambil menarik lengan Len. "Kita nggak bisa membiarkan Rin begini terus, karena ini pertama kalinya kita berkunjung ke rumahmu, tentu saja kau tidak mau hari ini jadi berantakan, bukan?"

"Tentu saja, hari ini 'kan best day ever! Ayo kita buat Rinny tersenyum!" kata Len sambil mengepalkan tangannya.


Len's attempt

"Rinny! Ada acara Dory the Explorer loh! Kita nonton bareng yuk! Nih ada jus jeruk dan popcorn!"

"Ogah." lalu Rin menyiram kepala Len dengan jus jeruknya. Uuh, padahal Len baru mandi kembang tujuh rupa.

Miku's attempt

"Rin... bisa bantu aku mengerjakan tugas IPA tidak?"

"Maaf, aku benci IPA. Tanya saja Kaito." Rin menjawab dengan lebih halus kali ini.

"Tapi aku 'kan anak jurnalist"

"Mau jurnalis kek, dokter kek, tukang sampah kek, pokoknya kau bantu!"

Kaito dan Miku sweatdrop.

Kiyoteru's attempt

"Rin, penyanyi kesukaanmu, Kanon akan mengadakan jumpa fans." katanya memulai.

"Iya, tapi tahun lalu 'kan?"

Usaha Kiyoteru hancur dalam sekejap.

Kaito's attempt

"Rin, aku tidak bisa IPA, sebaiknya kau saja yang bantu Miku."

"Hah? Dengar nggak tadi aku bilang? Pokoknya kau yang bantu! Sana, udah ditunggu Miku tuh!"

Gagal.

Rei's attempt

"Rin! Ayo kita adu panco!"

"Alah, cemen. Cuma bisa pake otot, tapi pake otak nggak bisa."

JLEB


Gallerian Apartment, 10.01 A.M

"Rin..." kata Len, menghampiri Rin yang sedang mengamati pemandangan dari balkon. "Kurasa aku tahu kenapa kau bisa jadi begini."

"Huh! Jangan sok tahu!"

"...Karena Ring, 'kan?" tebak Len.

"Ah!"

"Kemarin Miki bilang..."

Flashback

"Len, aku mau bicara..."

"Ya, Miki-chan?"

"Ring dan Rin berantem tadi pagi." kata Miki.

"Hah? Rin kenapa?" seperti biasa, yang dipikirkan Len hanya Rin.

"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja Ring marah, dan kurasa Rin juga bingung, tapi ia juga sudah terlanjur marah duluan." ucap Miki lirih.

End of flashback

"Jadi Rin? Mau cerita?" tanya Len.

"..."

"Ah Rin, kalau kau tidak ma"

"Aku tidak tahu."

"Eh?"

"Len, aku juga tidak tahu apa yang salah dengan Ring." katanya sambil menunduk. "Makanya tadi aku langsung marah, karena aku merasa tidak melakukan apapun yang bisa membuatnya marah. Apa yang harus kulakukan, Len?"

Len pun hanya bisa terdiam, tak tahu harus menjawab apa.

"Psst, Len, sini bentar!" kata Kaito melalui pintu balkon. "Maaf aku menguping! Tapi mungkin Ring itu..." lanjutnya.

.

"Rin..." Len memulai kembali. "Mungkin Ring kesepian."

Karena terkejut Rin akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Len. "Eh?"

"Akhir-akhir ini kau selalu bermain denganku dan Miku, mungkin itu yang membuat Ring kesal. Kau mendiamkan Ring, dan akhirnya Ring balas mendiamkanmu."

Rin terdiam. "Jadi... aku yang salah?"

"Bukan begitu, ta"

"Iya, aku yang salah... aku ini terlalu egois. Ring pasti sedih..." ucap Rin, matanya berkaca-kaca, menandakan bahwa ia hampir menangis. "Len... bagaimana ini...? Apa yang harus aku lakukan?"

"Rin..." Len menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mereka pun larut dalam keheningan.


Gallerian Apartment, 11.26 A.M

Len P.O.V

"Hei! Sebelum kita pulang, ayo kita foto bareng!" ajak Kiyoteru sambil mengeluarkan kamera SLR-nya yang baru. "Rei, kau punya tripod?" tanpa basa basi, lelaki yang dimaksud pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah tripod.

"Semuanya, pasang gaya!" komando Kiyoteru sambil menyalakan timer kamera-nya.

Aku pun segera menyiapkan pose-ku dengan gaya tangan peace. Tapi... ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Rin masih belum tersenyum...

Melihat apa yang kulakukan, Rei juga mengambil posisi di sebelah kiriku dan Kaito di sebelah kananku alias paling pinggir. Kiyoteru di sebelah Rei, sedangkan Rin dan Miku di depan.

Untuk gayanya, aku menggunakan tanda peace, Rei melipat tangannya, Kaito memasukkan tangan di saku celananya, sementara Kiyoteru, ia tidak pakai gaya. Aduh, kurang greget nih, Kiyo! Sedangkan para cewek, Miku menggandeng tangan Rin sambil tersenyum kecil, tapi Rin-nya malah memasang pokerface.

"Siap ya!"

Lampu di kamera terlihat berkedip-kedip, menandakan timer yang sedang berjalan.

Semuanya mulai diam bagaikan patung, menunggu hasil jadi fotonya.

.

.

.

.

.

Hening.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aduuuh, eke mau pipis, cyiiin~"

"Pffttt wahahahaahahaha!"

KLIK

"Eeeh siapa tadi yang ngomong rada banci itu?!" teriak Rei spontan.

"Bukan aku!"

"Bukan aku juga!"

"Aku!"

"Kau ya Len?!"

Akusi orang yang barusan ngomong bahasa banci cuma bisa nyengir.


Normal P.O.V

Len nyengir. "Iya, itu aku yang ngomong tadi."

"LEN!" teriak Rin sambil menyodok perut Len dengan gagang sapu. "Kau membuat wajahku terlihat buruk disini!" kata Rin sambil menunjukkan layar kamera Kiyoteru.

Termampang foto mereka berenam, Len dengan muka mirip bancinya dan mulut monyong, Rei yang sudah tertawa ngakak sampai kepalanya terlihat terjungkal ke belakang (?), Kiyoteru yang sedang menoleh ke arah Len sambil memasang wajah garang, serta Kaito yang sedang menahan tawa, tetapi itu justru membuat wajahnya semakin lucu.

Sedangkan, Miku juga sedang menahan tawa, tapi bedanya itu gayanya dengan kepala menunduk dan tangan di mulutnya, jadi kelihatan seperti orang mau muntah. Dan Rin, ia sedang tertawa terbahak-bahak, sampai seluruh gigi-giginya terlihat, termasuk rumput laut yang menyelip di giginya.

"Iya, kalo aku nggak begitu Rin nggak bakal tertawa!" kata Len bangga.

"..." Rin terdiam sejenak.

"Ah dasar Len ini! Baiklah, aku sudah siap meminta maaf pada Ring besok!"

Mendengar itu, semuanya tersenyum haru.


Omake

"Len." kata Rei. "Dari mana kau mendengar suara banci itu? Kenapa kau bisa menirukannya?"

"Ah, aku dengar dari orang-orang yang suka nongkrong di taman depan itu loh, mereka suka ngomong begitu."

Mengetahui bahwa banyak banci yang tinggal di daerah sana, Rei menatap Len horor.

Omake #2

"Ternyata Len bisa juga, menasihatiku dengan bijaksana!" puji Rin.

"Hehe..." Len udah senyum-senyum bangga. Padahal dia cuma mengulang apa yang dikatakan Kaito kepadanya tuh.

.

OWARI


Um... rasanya chapter ini agak aneh ya? Meskipun Rin x Len nya gak begitu kelihatan, semoga readers puas deh! Oh iya, request nya gak harus couple kok ^^ chapter depan adalah chapter nya Miku x Kaito, kalau chapter 6 readers maunya apa?

Review, please?