Yak, chapter 5 ini adalah chapter-nya Miku dan Kaito~ Sudah lama Hika ingin buat chapter ini QwQ oh iya, mungkin update chapter 6 nya bakal agak lama karena Hika sudah kehabisan bahan cerita ^^" makanya mungkin Hika akan melanjutkan fic HMO yang sempat tertunda, tapi syukur kalau besok dapat ide OwO

Seperti biasa, balesan review:

Kiriko Alicia:Hum... kalau RingLui agak susah ya soalnya dia minor character ^^ tapi mungkin masih bisa Hika buat... tunggu aja!

rositarinjani: Hika juga suka ReiRui disini, tapi masih bingung mereka mau diapain (?), tapi pasti ada kok xD

Kireina Yume: beneran ada tulisan kayak gitu di bukunya? xDD nggak apa kok Yume cerita di review, siapa tau bisa jadi sumber inspirasi -w-

Kurotori Rei: harusnya Rei yang pindah apartemen biar gak ketemu banci lagi *eh

Arisa Amori: arigatou atas reviewnya ^^

Mikan chanX3: arigatou, tapi disarankan baca cerita Numbers dulu ya *promosi* Oke, RinLen nya Hika pikirkan dulu, tapi nantinya pasti ada OwO

Ryuuna Hideyoshi: tapi Hika gak bisa bikin Gaku jadi banci disini, karena Gaku udah Hika jadiin sensei nya RinLen *dihajar readers*

Dere KuroHaru: Hika juga pengen Kiyopedo, tapi susaaah ;A;

Enjoy chapter 5~


"Heh? Drama?" seorang gadis berambut pirang yang kita kenal sebagai Rin Kagami meletakkan termos berisi jus jeruk-nya, kemudian menatap lelaki di depannya dengan wajah bingung.

"Iya! Aku butuh kalian berdua! Please! Nasib-ku di masa depan ada di tangan kalian!"

Tetapi, Len Kagamine malah memiringkan kepalanya sambil bertanya dengan wajah polosnya yang khas itu.

"Drama itu sejenis pisang goreng, bukan?"


Numbers: Encore

an original fanfiction by hikari-lenlen

Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media

Number Days (c)Pacthesis


Normal P.O.V

Lima belas menit sebelumnya...

April 12 2014

Crypton High, 10.10 A.M

Jam istirahat di Crypton High, seperti biasa, banyak murid yang berhamburan di seluruh wilayah sekolah. Namun, bedanya kali ini tidak ada murid ganteng, murid baru, ataupun petugas promosi yang datang. Oh, lihat mobil biru laut itu! Mobil yang terlihat mencolok itu memasuki gerbang utama Crypton High. Setelah mobil itu terparkir dengan sempurna (dan tidak melanggar aturan pemarkiran), barulah kita bisa melihat si pengemudi mobil tersebut.

Pria, lebih tepatnya remaja yang memakai blazer hitam, kemeja putih bersih dan dasi merah dengan lambang perisai di bawahnya. Merasa familiar? Bukan, itu bukan Rei, karena rambutnya berwarna merah muda.

Sementara pria ini mengepak barang-barangnya, ayo kita lihat dua tokoh utama kita, yang tak lain dan tak bukan adalah Rin Kagami dan Len Kagamine. Oh, ternyata mereka sedang bernyanyitentu saja ditemani oleh Miki dan Rin yang sudah berbaikan dengan Rin. Mari kita dengar nyanyian mereka. Bait pertama dimulai dengan suara cempreng Rin

Set fire to your hair

Poke a stick at a grizzly bear

Eat medicine that's out to date

Use your private parts as piranha bait

Setelah Rin selesai, lagu dilanjutkan dengan bagian inti yang dinyanyikan oleh Miki dan Ring.

Dumb ways to die

So many dumb ways to die

Dumb ways to di-ie-ie~

So many dumb ways to die~

Suara Len yang khas itu siap untuk melanjutkan lagu tersebut dengan verse kedua

Get your toast with a fork

Do your own electri

BRAK

Len langsung pundung di pojokan begitu mendengar suara pintu geser yang dibuka paksa yang menginterupsi vokal-nya yang kece itu. Tetapi, lain halnya dengan tiga gadis lainnya. Seolah tidak peduli dengan Len, mereka sedang mengamati pria berambut merah muda yang tadi. Tanpa basa basi, si pria aneh itu juga langsung berteriak to the point:

"Apakah disini ada Rin Kagami dan Len Kagamine?!"

Len, yang merasa namanya disebut langsung bangkit dari keterpurukannya dan menghampiri si pria aneh itu.

"Ya, saya-lah orang kece yang anda cari. Ada apa ya?"

Rin dan si pria itu sweatdrop, diikuti dengan Rin yang menghampiri kedua lelaki itu.

"Saya butuh kalian! Kalian, tolonglah main drama di sekolahku!"

.

.

.

.

.

.

.

"Heh? Drama?" seorang gadis berambut pirang yang kita kenal sebagai Rin Kagami meletakkan termos berisi jus jeruk-nya, kemudian menatap lelaki di depannya dengan wajah bingung.

"Iya! Aku butuh kalian berdua! Please! Nasib-ku di masa depan ada di tangan kalian!"

Tetapi, Len Kagamine malah memiringkan kepalanya sambil bertanya dengan wajah polosnya yang khas itu.

"Drama itu sejenis pisang goreng, bukan?"

...

"Maafkan teman saya ya." ucap Rin sambil membungkuk dalam. Untungnya mereka sudah berdiskusi di luar kelas, sehingga tidak banyak yang melihat kelakuan Len.

"I-iya... Nama saya Yuuma Kirizuki, maafkan saya atas perbuatan saya tadi." jawab Yuuma sambil ikut membungkuk sopan. "Sekarang..." lanjutnya. "Saya adalah murid kelas 12-D di Utopia High, dan lulus atau tidak-ku bergantung dari sebuah proyek, dan itu adalah drama! Pentas seni di Utopia High ikut berperan besar dalam kelulusan, karena kami kekurangan orang, aku minta bantuan kalian!" jelas Yuuma.

Rin mengangguk, tanda mengerti. Namun, satu hal masih mengganjal pikirannya. "Tapi bagaimana bisa kau menemukan kami berdua disini? Dan kenapa kami yang terpilih untuk drama yang sangat penting itu?"

Teng teng teng

"Ah itu bel masuk sudah berbunyi. Detailnya akan kujelaskan saat kalian pulang sekolah nanti."


Utopia High, 02.01 P.M

"HAH?! MIKU MEREKOMENDASIKAN KAMI?!"

Mulut Len menganga lebar, sambil menatap Yuuma intens selagi berjalan di lorong sekolah elit itu. Semua murid sudah pulang, sehingga hanya anggota kelompok drama Yuumadan beberapa guru, tentu saja yang masih ada di sekolah.

"Iya, aku kebetulan bertemu dia, dan dia bersedia untuk mengisi peran dalam drama kami... Jumlah murid kelas kami sedikit, sehingga semua murid ambil bagian di belakang panggung. Jadi kami kekurangan pemeran... maaf ya..."

"Tidak apa kok! Kalau Miku ikut aku senang!" kata Rin sambil tersenyum. Padahal sebelumnya ia menolak untuk ikut, mengingat maraknya kekerasan seksual di daerah itu. Tetapi untungnya Yuuma bukan seorang pedofil pelaku kekerasan seksual seperti itu.

Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan, tampaknya itu ruangan kelas yang tak terpakai, melihat meja dan kursinya sudah diatur sedemikian rupa sehingga menyisakan bagian tengah ruangan yang kosong. Di dalam, mereka mendapati banyak orang, namun ada satu yang mereka kenal.

"Rin, Len..." kata gadis hijau toska itu pelan.

"Miku?! Kau bolos sekolah hanya untuk membantu orang-orang ini?!" tanya Rin kaget, dan dijawab dengan senyuman Miku.

"Ternyata wajah kalian memang mirip ya." ucap seorang wanita berambut pirang ikal dengan bando hitam. "Miku merekomendasikan kalian karena wajah kalian yang mirip! Kami memang butuh orang seperti itu. Ngomong-ngomong, namaku Kim SeeU, bagian kostum. salam kenal!" kata SeeU.

"Sedangkan aku sendiri sutradara merangkap pembuat naskah loh!" sanggah Yuuma bangga.

"Aku Megumi Kishimura, bagian kostum juga."

"Aku Hibiki Lui, kamera"

Satu persatu teman sekelas Yuuma memperkenalkan diri mereka, dan diakhiri dengan perkenalan Miku, meskipun itu agaknya tidak diperlukan.


Utopia High, 02.16 P.M

"Boleh kami lihat naskah drama-nya?" tanya Rin. Yuuma pun mengambil setumpuk kertas, dan mencoret beberapa bagian diantaranya sebelum memberikannya pada Rin dan Len.

Rin dan Len mulai membaca naskah itu.

"Jadi, ceritanya adalah tentang seorang malaikat alias aku yang jatuh ke bumi, kemudian bertemu dengan seorang gadis cantikmaksudku Miku. Si malaikat pun jatuh cinta pada Miku, tetapi karena keduanya adalah cewek, juga karena faktor cinta terlarang antara malaikat dan manusia, maka aku dan Miku tidak bisa bersama. Lalu, aku mengorbankan salah satu sayapku agar aku bisa menjadi seorang lelaki, dan Len akan memerankan lelaki itu. Miku pun jatuh cinta pada Len, tetapi semua berubah ketika seorang malaikat yang dulunya adalah partnerku menembak mati Miku. Ia kesal karena aku yang seharusnya seorang malaikat melalaikan tugasnya dan malah bercinta dengan Miku. Aku pun mengorbankan sayapku yang lain untuk menyelamatkan Miku dan menghilang selamanya. Apa aku benar?"

Yuuma dan teman-temannya mengangguk disko.

"Terus aku harus melakukan adegan yuri sama Miku? Yang benar saja! No way! Aku batal ikut drama kalian!"

"Tunggu! Kau tidak harus yuri kok! Karena ini semacam drama musikal tanpa dialog, jadi kau tinggal bernyanyi bersama Len, lalu aku akan merekamnya dan memutarnya di panggung nanti. Lalu di panggung kau hanya akan melakukan gerakan dan tarian saja!" cegah Yuuma panik.

"...Baiklah."

"Jadi aku dan Rin adalah orang yang sama dong?" tanya Len dengan wajah berbinar-binar.

"Itulah sebabnya kami butuh dua orang yang wajahnya mirip!" timpal Megumiatau yang biasa dipanggil Gumi.

Mendengar itu, Rin mulai menatap wajah Len. Dari rambut, mata, sampai gigi-giginya. 'Warna rambut dan mata memang sama sih, tapi apa semirip itu ya?' batinnya heran. Len yang geer karena diamati hanya senyum-senyum bangga.

"Ngomong-ngomong, siapa yang memerankan malaikat yang membunuh Miku ini?" tanya Rin lagi.

"Oh itu kakak Miku, tapi ia tidak akan ikut latihan karena ia sibuk, lagipula perannya hanya menembak Miku, itu saja."

"Ooh begitu."


April 22 2014

Utopia High, 08.00 A.M

Dan inilah hari penentuannya! Rin, Len, Miku telah bekerja keras, inilah hari pentas seni, dimana nasib seluruh murid Utopia High ditentukan. Murid-murid kelas 12, tak terkecuali Yuuma dan teman-temannya mengalami ketegangan yang luar biasa.

"Teman-teman!" teriak Leonbagian dekorasi panggung sambil berlari-lari ke arah teman-temannya. "Kita mendapat giliran kedua!"

"Sial! Seburuk apa sih keberuntungan kelas kita ini?!" umpat Yuuma kesal.

Sementara Rin dan Len, mereka sudah bernyanyi sebelumnya, dan suara mereka telah direkam, siap diputar di atas panggung lagi.

Hane otoshita datenshi wa~

"Idih, suaraku cempreng banget, jelek." komentar Rin.

"Jangan begitu dong, kasihan Kirizuki-senpai yang sudah membuatkan lagu ini." kata Len yang tumben-tumbennya bijaksana.

"Len! Rin! Saatnya pakai kostum!" panggil SeeU.

Kedua orang itu langsung sumringah, mengingat bahwa mereka tidak pernah melihat kostumnya. SeeU menuntun Rin menuju ruang ganti, sementara Len harus menunggu. Namun, untungnya Miku sudah selesai berpakaian, ia mengenakan gaun berwarna hitam, dengan sarung tangan sewarna serta jepitan berbentuk mawar hitam. Rambut hijau toska nya itu pun dikepang dan dijalin dengan rapi ke atas. Ia terlihat begitu berbeda, juga dewasa sekarang.

"Miku, kau cocok memakai gaun itu." puji Len, dibalas dengan senyuman Miku (lagi).

Tak lama kemudian, Rin pun keluar dari ruang ganti. "Bagaimana Len? Cocok tidak?"

Rin terlihat memesona, tetapi berbeda dengan Miku. Kalau Miku terlihat cantik dan anggun, maka Rin terlihat imut, sekaligus keren. Jepitan rambutnya sudah tidak ada lagi, poni-nya yang panjang itu dikepang ke samping. Ia mengenakan baju putih tenpa lengan dengan sedikit renda di bagian perutnya, serta celana yang didekorasi dengan ornamen rantai. Namun, yang paling mencolok dari dandanan Rin adalah sayap buatan di punggungnya, yang sedikit bergerak pada setiap langkah yang diambil Rin.

"Rin... kau terlihat"

"Len! Saatnya tes kostum!"

Belum sempat Len berkomentar apa-apa, ia sudah diseret Olivermurid yang juga mengurus bagian kostum ke ruang ganti. Kasihan...

Akhirnya, orang yang ditunggu-tunggu Rin dan Miku muncul. Len keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang... sangat berbeda, namun itu membuatnya terlihat makin kekanak-kanakan. Pakaian yang ia kenakan mirip dengan Rin, namun warnanya hitam. Kemeja panjang dengan renda, dilengkapi dengan celana panjang sewarna. Sedangkan, rambutnya terlihat lebih berantakan, poninya dimiringkan ke kiri, mirip dengan Rin. Sedangkan karet yang biasanya digunakan untuk mengikat rambutnya diganti dengan pita kecil berwarna hitam.

"Len, kau terlihat... mengagumkan." ucap Rin, sedangkan Miku mengangguk setuju.

"Nii-san belum datang." kata Miku.

Rin dan Len tersentak. Mereka baru ingat kalau kakak Mikuyang memerankan malaikat penembak Miku tidak ada disana.

"Tapi tenang saja, dia pasti datang..." katanya lagi.

Rin hanya menghela nafas, ragu sekaligus cemas. Semuanya bisa kacau kalau dia tidak ada!

"Gawat, pertunjukan sulap kelas 12-F sudah selesai! Kita hanya diberi waktu setengah jam untuk mempersiapkan diri! Hafalkan gerakan kalian lagi! Aku harus menelpon dia sekarang!" Yuuma mengingatkan, selagi sibuk dengan hp-nya. Pasti ia menelpon kakak Miku.

Rin membuka tirai panggung sedikit, dan oh! Rasanya Rin mati kutu, banyak sekali murid yang menonton pentas seni ini! Tidak, bukan hanya murid, tetapi banyak juga anak sekolah lain serta orang tua murid yang duduk di kursi penonton!

'Oh, semoga aku tidak pingsan di panggung nanti...' batin Rin cemas. "Hum?"

Di antara penonton yang menggunung itu, ia mendapati seorang yang ia kenal. Orang itu pun juga menatap Rin, lalu ia beranjak pergi dari kursinya secepat kilat.

"Dia 'kan..."

"Awas, aku mau lewat!"

"Tunggu kau tidak boleh ma"

"Ternyata benar."

Rin menoleh ke belakang dan menemukan seorang lelaki berambut hitam yang bernama Rei Kagene di depannya. Ah tentu saja, ia adalah junior di sekolah ini, tidak aneh melihat ia berada di kursi penonton tadi.

"Rei!" sapa Len.

"Len, ternyata kau juga ikut pertunjukan kelas 12-D ya." Rei menghela nafas. "Pantas saja kau selalu pulang telat akhir-akhir ini."

"Hehe..." Len nyengir.

"Selamat pagi, Rei." Miku membungkuk sopan.

"Ah, halo Miku."

"Hei! Kau sudah harus keluar sekarang juga! Mereka akan naik ke panggung sekarang juga!" tegur Yuuma.

"Baiklah, ngomong-ngomong, semoga beruntung." kata Rei, sebelum ia kembali ke kursi penonton.


Utopia High, 08.30

Tirai panggung mulai dibuka kembali, mendapati Rin Kagami yang berdiri tegap di tengah panggung sambil menutup matanya. Rekaman suara Rin pun mulai menggema di seluruh wilayah itu.

Hane otoshita datenshi wa

kegareta chigiri ni mi wo yudane te

aishi atta kako de sae mo

sono te de keshi satte shimatta no

Bersamaan dengan itu, Rin pun mengacungkan pistolnya ke arah penonton, kemudian menarik pelatuknya sehingga menimbulkan suara yang cukup keras, mengagetkan seluruh penontonbahkan Rei, namun tentu saja pistol itu tidak ada pelurunya.

kizu tsuita maigo no tenshi

yūgure no machi samayoi

kirei na hitomi wo motta

hitori no shōjo to deau

Pada bagian ini, Miku telah naik ke atas panggung dan melakukan tariannya bersama Rin, tentu saja menimbulkan kesan bahwa Rin mencintai Miku. Bahkan Rei pun sempat menyangka bahwa mereka itu yuri.


Backstage

Selagi Rin dan Miku beraksi, Len malah demam panggung. Ia sibuk menghafalkan gerakannya sehingga ia tidak memperhatikan kehebohan yang sedang terjadi disana.

"Ah, akhirnya kau datang!" seru Yuuma pada seorang lelaki di depannya.

"Maafkan aku! Tapi aku sudah membaca skenarionya. Siapa saja pemerannya?!"

"Baiklah, akan kujelaskan dari awal! Jadi"

"Tunggu! Kenapa mereka bisa ada disini?!"


Stage

Tak terasa, bagian Rin sudah selesai, maka ia pun kembali kebelakang panggung, digantikan dengan Len. Rekaman lagu yang menggunakan suara Len mulai diputar.

shikkoku ni somaru hanayome

sei naru chikai no basho de

hakanai hitomi de warau

fushigi na shounen to deau

Len berlutut di hadapan Miku, sedangkan si gadis menutup mulutnya dengan wajah kaget, diikuti dengan Len yang mengeluarkan kotak berisi cincin dari sakunya.

'Sebentar lagi seharusnya kakak Miku muncul...' batin Len gelisah. Kalau ia belum datang juga, bisa-bisa Len dan Miku dipermalukan di atas panggung!


Backstage

"Sudah, begini saja riasanmu! Cepat bersiap! Kurang dari semenit lagi kau sudah harus muncul!"

"Baiklah!"

Rin yang baru saja kembali ke belakang panggung duduk beristirahat sambil minum jus jeruk yang ia bawa dari rumah. Baru saja ia membuka tutup termosnya, seorang lelaki yang belum pernah ia temui di belakang panggung itu lewat dengan terburu-buru di depannya, membuat Rin terbelalak kaget.

"Ah, itu 'kan"


Stage

kimi ni obore te ochi te iku dake

'Bagian nyanyianku sudah selesai disini.. tinggal menunggu malaikat yang akan membunuh Miku saja...' pikir Len harap-harap cemas. Suara nyanyian Rin pun kembali terdengar, meski Len masih berada di atas panggung.

ah- kinki no tsumi wa

Tiba-tiba saja, seorang lelaki tinggi menyibak tirai panggung dengan kasar dan naik ke atas sana, wajahnya masih tampak lelah. Lalu, ia menodongkan pistol ke punggung Miku dengan wajah marah. Len kaget, Miku kaget. Tetapi, penonton menganggap hal itu adalah bagian dari akting sehingga mereka tidak menyadari bahwa kedua orang itu benar-benar kaget. Bahkan Rei pun hampir memuntahkan mi instan yang ia beli sebelum menonton pertunjukan ini.

Karena...

Lelaki yang berperan sebagai malaikatyang katanya kakak Miku itu sebenarnya adalah Kaito Shion.

Len hampir saja berteriak, untungnya Kaito memberi isyarat padanya agar tetap diam.

Pertunjukan pun berjalan seperti biasa. Kaito menembak Miku, yang disambut dengan teriakan kaget penonton, diikuti dengan Miku yang terjatuh, mati akibat tembakan tadi. Oh, tentu saja itu hanya akting. Lalu Len melanjutkan itu dengan ekspresi syok melihat jasad Miku dan memeluknya lembut. Walau ia sebenarnya tidak rela sih, mengingat bahwa pelukannya hanya untuk Rin. Kaito sendiri sudah kembali ke belakang panggung.

Nyanyian Rin berhenti. Len hanya memeluk Miku dalam diam, dilanjutkan dengan narasi Bahasa Inggris-nya (yang anehnya bisa diucapkan Len dengan sangat lancar). Para penonton pun ikut merasakan ketegangannya.

My dear, lying cold

I will spend all my life for you as i swore on that day

My sin against God

Pada bagian ini, nyanyian Rin mulai terdengar kembali, namun Len tetap melanjutkan narasinya.

All my acts of treachery should be paid by my death

so I will die for you...

I believe that's my fate

Miku mulai membuka matanya, dan Len melepas ikat rambutnya, sehingga ia terlihat seperti Rin, menimbulkan kesan bahwa ia adalah Rin, sang malaikat.

shoujo wo sukutte

PRANG

Terdengar suara kaca pecah, diikuti dengan bom asap yang meledak di atas panggung, kembali mengagetkan para penonton. Len mengambil kesempatan itu untuk kembali ke belakang panggung secepat kilat, menyisakan sehelai bulu hitam di panggung.

kie satta no

Saat efek bom asap mulai menghilang, yang ada di panggung hanyalah Miku dan sehelai bulu hitam yang ditinggalkan Len tadi. Drama dilanjutkan dengan adegan penyesalan Miku, serta nyanyian Rin, dan diakhiri dengan Miku yang berjalan pelan kembali ke belakang panggung.


Backstage

"SUUKKSEEEESS!" teriak seluruh murid kelas 12 sambil melompat senang.

"Terima kasih semuanya!" kata Yuuma.

Tetapi, ada satu orang yang tidak terlihat senangKaito Shion. Ia menarik tangan Miku ke luar, tanpa membiarkan gadis itu maupun dirinya berganti pakaian. Len dan Rin yang kebingungan pun memutuskan untuk membuntuti mereka.


Backstage, Kaito and Miku's side

Hening.

Kaito melipat tangannya sambil menatap Miku marah, sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepalanya, tidak tahu harus bicara apa. Kaito pun masih memakai kostumnyajas putih, dasi putih, dengan anting berbentuk salib di telinga kirinya, serta selendang dengan gambar salib dan tidak lupa sayap buatan. Rambutnya pun terlihat berbeda, terlihat berantakan dan poninya dinaikkan, sehingga ia terlihat jauh lebih kerenlebih keren daripada Len.

"Jelaskan." kata Kaito.

"M-maaf Kaito..."

"Jelaskan!" hardiknya lagi. Kaito sangat jarang marah seperti ini, ini yang kedua kalinya dia marah pada Miku.

"W-waktu itu... a-aku tidak sengaja melihat SMS dari Kirizuki-senpai y-yang meminta bantuan Kaito... w-walaupun Kaito melarang, t-tapi aku memutuskan untuk membantu mereka, aku hanya ingin meringankan beban mereka s-saja..." jelas Miku ketakutan.

Kaito menghela nafas. "Huft. Untung saja berhasil. Kalau gagal, masa depan Yuuma dan teman-temannya 'kan dipertaruhkan! Kau tahu, kalau kau gagal, bisa-bisa mereka tidak lulus! Apalagi kau melibatkan Len dan Rin..."

"M-maafkan aku..."

Kaito terdiam sejenak. "Kau masih ingat pertemuan pertama kita?"

Tentu saja, Miku tidak akan pernah lupa pertemuan pertamanya dengan Kaito di dunia Len.

"Waktu itu kau selalu menghindariku! Sampai aku tidak bisa tidur karena memikirkan itu, aku pikir kau membenciku! Tapi aku lega setelah mengetahui kebenarannyamaksudku phobia-mu dulu. Namun sekarang malah aku yang bisa memarahimu disini, kau pun tidak sediam dulu, sudah berani membantu sekelompok orang yang bahkan tidak kau kenal." Kaito terkekeh. "Kau luar biasa."

Miku tersenyum. "Kau juga, Kaito."

Lalu mereka tertawa.

Rin dan Len yang menyaksikan hal itu tersenyum lega.


Utopia High, 10.00 A.M

"Miku, kesini sebentar!" panggil Yuuma.

"Ya?"

"Kau tahu? Aku dan Kaito bertetangga sejak dulu, dan itulah sebabnya ia mau membantuku. Aku juga tahu kalau kau sebenarnya bukan adik Kaito." Yuuma tertawa, membuat Miku malu.

"Maafkan aku..."

"Tapi, aku punya hadiah untukmu!" katanya lagi sambil menyerahkan sebuah foto. "Simpan baik-baik ya!"

Miku pun tersenyum. "Ya... terima kasih dan sampai bertemu lagi, Kirizuki-senpai."


Omake

"Miku! Aku pinjam catatan sejarahmu ya!" sahut Rin, lalu mengambil buku yang dimaksud, namun selembar foto jatuh dari halaman buku itu.

"MIKU?! NGAPAIN KAU SIMPAN FOTO KAITO LAGI TIDUR?!"

.

OWARI


Ini chapter paling panjang, memakan 3000+ words OwO. Tapi Kaito x Miku nya kelihatan gak? Kalau nggak Hika minta maaf... dan readers boleh request kok, tapi mungkin update nya agak lama. Sekian dari Hika, akhir kata...

Review, please?