N.B: kesamaan ide hanyalah sebuah kebetulan belaka

Maaf ya atas penundaan fic ini~ Sebenarnya Hika sudah punya ide, tapi pas mau diketik entah kenapa Hika jadi gak tau cara mengubah ide tadi ke dalam sebuah cerita ;w; begitupun dengan fic First Wedding Mission dan HMO, sebenarnya Hika sudah tahu ceritanya seperti apa, tapi... ya begitulah. Apakah ini namanya writer's block?

Tapi sekarang ini sudah update, jadi Hika harap readers puas. Oh iya, target reviews buat chapter ini itu 35, jadi Hika harap bisa tercapai deh!

Seperti biasa, balesan reviews:

rositarinjani: Yuuma itu stalker, jadi dia bisa dapet fotonya *eh*

Kireina Yume: iya, Miku adalah stalker, begitupun dengan Yuuma

Kurotori Rei: um.. KiyoYuki itu susah, jadi mungkin endingnya tidak seperti yang Rei-san harapkan... tapi tetep Hika usahakan...

Guest: iya, foto nya dapet dari Yuuma xD

Ryuuna Hideyoshi: terima kasih telah menunggu OwO Miku itu bohong, jadi Kaito bukan kakaknya xD

New: di chap ini gak ada RinLen, gomenasai

Ichijouin Ai: ini chapternya KiyoYuki, RinLen nya nanti dulu ya~

So... enjoy chapter 6!


Siapa diantara kalian yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai sekarang? Yang merasa begitu pastinya sudah tahu 'kan jika ada satu tokoh yang belum diceritakan disini? Hmm... Rin dan Len jelas sudah pernah, Rei juga, Miku dan Kaito pun sudah pernah. Jadi, siapa tokoh yang aku maksud? Pasti kalian sudah tahu

—ya, Kiyoteru Hiyama.


Numbers: Encore

an original fanfiction by hikari-lenlen

Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media

Number Days (c)Pacthesis


Avadonia Apartment, 07.00 A.M

Kiyoteru P.O.V

Halo semua, namaku Kiyoteru Hiyama. Umurku... hm, berapa ya? Aku lupa. Ups, maaf aku cuma becanda. Umurku itu... ya, sekitar dua puluh tahunan lah. Seperti yang kalian ketahui, aku bekerja di Pactheland, sebuah taman bermain dimana aku pernah terjebak bersama Kaito, Rin, Miku, Rei, dan Len. Huh, pasti kalian sudah tahu 'kan? Baik, kita akan melanjutkan ke cerita yang sesungguhnya.

Hari ini hari Minggu. Seperti biasa, aku bangun pagi dan minum teh yang disediakan apartemen (iya, aku juga tinggal di apartemen, tapi tempatnya agak jauh dari apartemen Rei dan Len). Hari ini aku memang libur sih, tapi aku harus cepat, soalnya jam sepuluh nanti ada tamu penting yang datangsebenarnya nggak penting penting amat sih. Dia adalah keponakan dari Kokone Harukaze, salah satu langganan di Pactheland. Namanya Yuki Kaai.

Ketika Kokone dan Yuki datang pertama kali ke taman bermain, entah kenapa si Yuki langsung nempel ke akumungkin karena aku memberi balon kali ya? Yang jelas, setelah itu Kokone menitipkan Yuki padaku setiap hari Minggu.

Jadi, ya begitulah. Semenjak itu, aku membeli stok mainan dan boneka sehingga mereka semua menumpuk di sudut kamarku. Yah, mau bagaimana lagi. Aku harus membuat seorang anak kecil berumur delapan tahun senang dan puas setiap minggu. Sekarang, aku tinggal duduk manis di sofa ruang tamu dan bersiap-siap.


Avadonia Apartment, 09.59 A.M

Ting tong

Ah, itu pasti Kokone dan Yuki! Aku segera membuka pintu. Seperti biasa, Kokone membungkuk dalam sebelum mengucapkan salam kepadaku.

"Selamat pagi Pak Hiyama, mohon bantuannya ya, hari ini." katanya.

"Horee, Kiyo-chan ada mainan apa hari ini?" ucap Yuki sambil melompat-lompat riang.

Melihat itu, tentu saja aku membalas salamnya sebagai warga negara yang baik dan sopan.

"Terima kasih atas kepercayaan Kaai-san, Yuki akan saya urus hari ini."

Setelah itu, Kokone pergi berlalu, dan Yuki pun segera berlari masuk ke ruang apartemenku, dan seperti biasa, ia menuju kamarku, dimana seluruh mainannya tersimpan.

"Waah, ada boneka baru!" pekiknya sambil menunjuk sebuah boneka kelinci putih yang ada di puncak tumpukan mainanku.

"Hup!" Yuki berusaha mengambil bonekanya dengan cara memanjat 'gunungan mainan' itu. Yah, mainannya memang banyak sekali sih, sampai membentuk gunung. Apalagi ukuran tubuh Yuki memang relatif kecil.

"Yuki, tunggu dulu!" sebagai orang dewasa yang baik hati (dan tidak sombong), aku pun berinisiatif untuk mengambilkan boneka itu untuknya. Aku mengulurkan tanganku...

.

Argh, sepertinya Yuki tidak mendengarkan kata-kataku! Lihat saja, ia masih berusaha memanjat tumpukannya. Ah sudahlah, tinggal sedikit lagi boneka itu akan berpindah ke tanganku!

.

DUK

BRAK

GRASAK

.

Aduh, mainannya jadi jatuh semua nih! Tadi kayaknya Yuki kehilangan keseimbangannya dan jatuh sebelum aku berhasil mengambil boneka itu. Secara refleks, aku menutup mataku dan mengusap lenganku.

"Duh! Yuki nggak apa 'kan?" tanyaku sambil membuka mata.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku baru sadar. Ini posisi jatuh yang mainstream banget. Yuki terlentang di bawah, dan aku berada di atas Yuki dengan posisi merangkak. ...Bisa dibayangkan? Bukan, bukan! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan! Tentu saja aku panik, bisa kurasakan keringat dingin mengalir di pelipisku.

"..." Yuki mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. "K-K-K-"

"Ya?"

"MUKA KIYO-CHAN SEREEEEEEEEEEEMMM!"

Air mata mulai meluncur dari mata berair Yuki. "MUKANYA K-K-KAYAK T-TERORIS!" lalu dia lari keluar apartemen.

...Mampus.


Avadonia Apartment, 10.10 A.M

Hallway

Ini gawat! Kemungkinan paling gawat, Yuki kabur. Apa kata Kokone kalau dia tahu? Pokoknya aku harus menemukannya dan menghiburnya sebelum negara api menyerang! Ah sudahlah bodo amat kalau aku salah ngomong barusan.

Ah itu dia! Yuki berada di depan... meja resepsionis. Aduh, firasat buruk.

"Ada masalah apa dik? Siapa tahu kakak bisa bantu."

"A-ada orang yang serem tadi... DIA MAU MEMPERKOSA AKU! TADI DIA PEGANG ROK KU, TERUS"

"Saya mengerti. Ada di kamar mana dia?"

.

WHAT THE jangan tertipu saudara-saudara, mana mungkin aku melakukan hal itu! Kau pikir aku ini warga negara tidak bermoral, hah? Yang penting sekarang... KABUR AJA! Lagian dari mana sih Yuki yang masih polos itu tahu istilah gituan? Siapa yang ngajarin?

"ITU DIA!"

Heh? Jangan-jan

"Itu cowok yang katanya barusan melakukan kekerasan seksual itu! Tangkap!"

"TIDAAAAK KALIAN SEMUA SALAH PAHAM!"


Central Mall, 10.30 A.M

K-kenapa semuanya jadi begini? Ya ampun, apa salahku? Apa ini karena aku jomblo? Emang jadi jomblo itu salah? Kenapa? Kenapa jomblo itu dosa? Pokoknya aku harus membereskan kesalah pahaman ini!

"Hei, Neru-chan, katanya di Avadonia Apartment ada pedofil ya?"

"Iya tah? Mungkin dia pengikut Emon?"

"Ah, Emon udah gak jaman. Ngomong-ngomong ayahku itu polisi, dia lagi menyebarluaskan pencariannya, mungkin dia bakal sampai kesini dalam lima menit"

"MAKASIH! MAKASIH BANGET UDAH NGINGETIN! AKU CINTA KAMU, MUAH!"

Tanpa basa basi, aku langsung lari ke arah pintu keluar mall. Terima kasih dua cewek random! Berkat kalian, aku bisa mengambil selangkah lebih maju sebelum bapakmu polisi sialan itu dateng! (Neru: idih, kayaknya dia emang pedofil deh. Kejer yuk.)


Pactheland, 11.01 A.M

Hah... hah... akhirnya aku lepas dari kejaran para polisi itu! Sekarang tinggaltunggu! Ini 'kan... Pactheland? Bingo! Kalau aku minta bantuan rekan kerjaku pasti mereka akan mengerti!

"Itu bukannya Kiyoteru?"

"Eh iya! Kiyoteru sini deh!"

Akhirnyaaaa! Terima kasih Dewi Fortuna, akhirnya ada orang yang bersimpati! Di depan ferris wheel, berdirilah lima orang yang dulunya kukenal sebagai orang asing yang bukan siapa-siapa: Rin, Len, Rei, Kaito, dan Miku.

Tapi ada yang janggal...

Kalau mereka sedang jalan-jalan ke Pactheland, kenapa mereka tidak mengajakku? Mereka seharusnya tahu kalau ini hari libur...

"Berhenti! Hati-hati, kalian disana! Pria berkacamata itu buronan kami! Menjauhlah!"

Sial. Kira-kira lima orang berseragam polisi menyudutkanku, dengan pistol tergenggam di tangan mereka. Padahal aku sudah sampai disini...

"Eh kalian! Hati-hati!" suara familiar ini...

"Neru-chan?" gumam Rin, menatap seorang perempuan berambut pirang dan diikat satu ke samping. Ini 'kan cewek di mall tadi!

"Dia pedofil Aku jadi korbannya tadi, kalau memang kasus ini bisa dibawa ke pengadilan... aku bersedia untuk menjadi saksinya!" cetus cewek yang namanya Neru itu.

"EEEEEEHHHHHHHHHHHHHHH?!"

"Kukira kamu orang baik, Kiyoteru..."

"Kami kecewa padamu!"

"Ternyata kau tidak ada bedanya dengan orang-orang jahat di luar sana!"

"Tapi"

"Nanti saja baru dijelaskan, sekarang ikut kami ke kantor polisi!"

"Kiyoteru..."

"Kiyoteru..."

"Kiyoteru...kiyoteru...kiyoteru...kiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoterukiyoteru"

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!"


Avadonia Apartment

"Jangann!"

SRUK

"Hosh... hosh..."

Ini... apa yang terjadi? Jangan bilang kalau... yang tadi itu mimpi?"

.

.

.

.

"SYUKURLAH KAMI-SAMAAAA! HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH"

Ting tong

"Kiyo-chan~ Yuki mau main!"

...

"Jangan, jangan masuk kesini Yuki-chan! Aku capek, pergi kau!"

...

"HUEEEE, KIYO-CHAN SEREEEEMMM!"

.

.

OWARI


Eh... chapter ini... ekstrim ya? Hehe... dan maaf kalau nggak jelas, mimpi emang selalu nggak jelas sih ^^" kalau ada yang bingung bisa tanya Hika di review, ataupun PM. Chapter depan maunya pair apa? Kalau friendship juga boleh kok...

Review, please?