AKHIRNYA INSPIRASI DATANG KEPADA HIKA

Maaf menunggu lama ;w; chapter kali ini adalah... *treng treng* Rei x Rui!

Kayaknya banyak readers yang suka couple ini... kenapa ya? Hika pengen tau ^^. Secara pribadi, pair favorit Hika di fic ini juga ReiRui, soalnya agak beda aja gitu...

Balesan review:

rositarinjani: inilah ReiRui kedua di fanfic ini~

Kurotori Rei: pengen sih, bikin flashback nya Rei dan Kiyo, tapi agak susah ya... oke deh diusahain!

Kiriko Alicia: makasih supportnya ^^

Arrow-chan3: iya, ini chapter ReiRui nya~

bentara malam sunyi: kalo Lenka-suami mungkin jadi omake aja ya, atau semacam special chapter.. btw idenya bagus~

Aikawa Atsushika: ini chapter ReiRui-nya, semoga semuanya suka ya~

N.B: mulai sekarang fic ini akan di tag completed, tapi suatu saat mungkin akan Hika lanjutkan lagi. Yah, mengingat kalau ini adalah kumpulan one-shot...

Enjoy chapter 7~


Gadis itu—Rui Kagamine menatap sehelai kain berwarna merah di depannya.

Kain itu tipis, berwarna merah terang... namun terbuat dari bahan berkualitas terbaik. Satu lagi, lambang yang terpampang di kain tersebut... membuat memori Rui berputar kembali ke hari itu.

Hari festival Utopia High.


Numbers: Encore

an original fanfiction by hikari-lenlen

Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media

Number Days (c)Pacthesis


Festival kebudayaan Utopia High

Normal P.O.V

Jika kau sekarang mengalami semacam deja vu, kau memang tidak salah.

Ya, festival ini adalah tempat dimana Rin dan teman-teman menampilkan drama tempo hari. Namun, kisah kali ini akan menceritakan peristiwa yang sama—tetapi dari sudut pandang yang berbeda.

Selagi Yuuma dan teman sekelasnya sibuk dengan penampilan drama mereka, seorang Rei Kagene hanya berkeliaran di halaman sekolah tanpa tujuan. Tak lupa, seluruh mata gadis-gadis muda itu pun tertuju ke arahnya.

Festival selalu membosankan bagi pemuda ini.

Untuk Rei, datang ke acara seperti ini hanya untuk menunjukkan statusnya sebagai murid Utopia High dan mengisi daftar absensi. Apa boleh buat, jika tanda tangannya tidak sampai ke guru-guru, ia akan dihukum hari Senin nanti.

Oh ya, ada satu alasan lagi.

Rei datang untuk mengisi perannya dalam rumah hantu di kelasnya.

Murid kelas sepuluh dan sebelas memang diwajibkan membuat proyek lain di kelas masing-masing—namun bukan di panggung.

Dan kelas Rei membuat rumah hantu. Atraksi yang begitu tipikal.

Kembali ke cerita. Rei baru saja selesai menonton pertunjukkan Rin. Harus ia akui, itu cukup menarik, meskipun banyak adegan yang (hampir) yuri.

BRUK

"Ugh..." Rei merapikan seragamnya. Saking lamanya melamun, ia sampai tidak sadar kalau ia menabrak orang lain. Murid sekolah lain pula. Cewek pula. Dan begitu banyak "pula" yang lainnya.

"Maafkan aku!" perempuan yang memakai dasi biru dan kemeja cokelat itu membungkuk dalam.

Jika diperhatikan, warna rambut gadis ini cukup unik. Campuran dari biru dan ungu, dan diikat low twintails.

"Kagene-kun...?"

"Heh?" Rei menoleh, mencari sumber suara itu. Lalu, ia menemukannya di belakang gadis yang ditabraknya tadi.

"Kagamine-san?"

Tebakan kalian benar. Disana, berdirilah perempuan lain berseragam serupa, rambutnya hitam pendek dan diikat dengan pita putih di belakangnya—Rui Kagamine.


Rui P.O.V

Sebenarnya bertemu dengan Kagene-kun di tempat ini tidak begitu mengejutkan. Ini 'kan sekolahnya.

Tapi yang mengejutkan adalah fakta bahwa Aoki langsung mengira bahwa aku pacaran dengan Kagene-kun, dan langsung meninggalkanku.

Aku kesal, Kagene-kun juga kesal.

Namun, dia mau menemaniku jalan-jalan di sekolah ini, katanya sih karena nggak ada kerjaan. Dia bilang, dia akan ganti shift dengan temannya di rumah hantu kelas mereka jam sepuluh nanti. Jadi dia bersedia menemaniku sampai jam sepuluh.

Eh, tapi ini saat aku bertemu dia, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Kesimpulannya, dia tidak menemaniku kemanapun. Ia hanya memberitahuku soal rumah hantunya dan langsung pergi meninggalkanku.

Dasar tidak sopan.

Aku memang mau mengunjungi rumah hantunya sih, namun setidaknya dia harus mengantarku sampai ke kelasnya, ya 'kan? Alhasil, aku harus membuntuti Kagene-kun agar aku bisa menikmati atraksi kelasnya.

"Hei, akhirnya kau datang!" seru seorang pemuda brunette, yang ditujukan kepada Kagene-kun.

"Iya iya, aku ganti baju dulu ya Al." tukas Kagene-kun pada lelaki yang dia panggil Al.

"Buruan. Eh, nona mau masuk rumah hantu kami? Kalau begitu mohon maaf ya, nona harus menunggu sebentar, karena sedang ada pergantian shift." ucap Al sopan.

Aku membalasnya dengan senyuman.

"Iya, tidak apa kok."

.

.

.

Tiga puluh menit kemudian, Al kembali membuka tirai pintu masuk rumah hantu. Lama sekali.

"Nona mau masuk sendiri saja?"

Aku mengangguk.

"Hmm... untuk nona gratis saja deh tiketnya." kata Al sambil mengedipkan matanya.

Huh, dasar genit. Tapi mumpung tiketnya gratis, aku pun tidak berkomentar.

"Selamat menikmati~"

Al menutup tirai itu.


Normal P.O.V

Rui yakin bahwa apa yang ada di dalam rumah hantu itu hanya trik murahan.

Sejauh ini, pemikirannya memang terbukti. Tidak ada satu pun "hantu" yang berhasil membuat Rui kagum—apalagi takut.

'Membosankan.' batin Rui.

Seketika itu juga, gadis bermanik emas itu teringat sesuatu.

'Harusnya Kagene-kun jadi hantu juga 'kan? Dimana dia?'

Pandangan Rui tertuju pada sebuah lubang di dinding bawah ruangan itu. Yah, satu lagi trik murahan. Pasti nanti sebuah tangan atau semacamnya akan menjulur keluar, dan memegang kaki Rui.

Rui pun tersenyum puas, lalu berjalan memutar untuk menghindari lubang tersebut.

KLING

"Eh?"

Rui menoleh ke belakang, lalu ia mendapati sebuah koin 500 yen, tergeletak tepat di samping lubang tadi. Ia pun segera merogoh kantung seragamnya.

Dan ia menyadari bahwa uangnya jatuh.

Rui bingung. Kalau ia mengambil koinnya, pasti ia akan jatuh ke dalam jebakan lubang di dinding itu. Tapi jika tidak... itu 500 yen... 500 yen!

Ia pun memutuskan untuk mengambil koin tersebut. Gadis itu membungkuk untuk meraih koin-nya...

.

.

GREP

'Sudah kuduga...' pikir Rui. Dari lubang tadi, muncullah lengan manusia, yang menggenggam erat kaki kiri Rui. Namun, Rui tidak terlalu terkejut, karena ia sudah tahu sebelumnya.

"Wels ah infern..."

Bulu kuduk Rui berdiri. Suara barusan terdengar seperti bisikan, satu hal yang merupakan kelemahan perempuan ini.

"Sach en guerca wij en kuh... kh... kh..."

Dari kejauhan, seorang lelaki berjalan mendekati Rui. Langkah kakinya terdengar seperti... diseret.

SREK SREK

"Juin go his en vier caesnic..."

Terlihatlah Rei Kagene—pria yang dicari Rui sejak tadi. Tubuhnya agak bungkuk, kedua tangannya seperti tidak punya tenaga. Wajahnya terhalang poni-nya yang panjang... Tetapi ia masih mengenakan seragamnya, walaupun sudah sobek.

Yang paling mencolok... Sekujur tubuhnya dihiasi darah.

Rui tahu bahwa itu darah buatan, tapi tetapi saja... terasa... mencekam baginya.

"Kagene?"

"Nesci za zen fils... kh... kh..."

Kata-kata yang diucapkannya seperti sebuah mantra—yang entah kenapa diakhiri dengan erangan kesakitan. Kalimat itu pun terdengar seperti bisikan bagi Rui. Sialnya, Rui takut dengan bisikan. Phobia yang aneh, bukan?

Rui ingin lari secepatnya, namun ia tidak bisa, mengingat tangan itu masih menahan kakinya.

Tubuh mungilnya bergetar.

"Kh..."

Sekarang Rei berada tepat di depan Rui. Lalu ia mengangkat wajahnya... dan hal pertama yang Rui lihat adalah...

...mata Rei yang berwarna merah darah.

"AAAAARRRRGHHHHHHH!"

"KYAAAAAAAAAA!"

Rei jatuh pingsan tepat setelah ia mengerang—diikuti teriakan Rui.


Rui P.O.V

Hah... hah...

Tadi itu... me-me-me-menakutkan...

Tangan itu sudah melepaskanku, mungkin aku boleh pergi sekarang. Tapi... tubuhku tidak bisa bergerak... mungkin karena syok.

Aku menatap ke bawah. Menatap wajah Kagene-kun yang... pingsan?

Aku tidak tahu, tapi entah kenapa... melihat wajahnya yang tertidur itu membuatku tenang...

Tanganku menyentuh rambut Kagene-kun dan membelainya pelan. Lembut, dan juga halus.

Selagi tidak ada yang melihat, boleh 'kan kalau aku menunjukkan 'sisi lain'-ku? Aku pun tertawa kecil. Aku terus mengacak rambut Kagene-kun. Apa boleh buat, aku memang punya sisi lemah untuk bisikan dan benda yang... imut.

.

.

.

"Aah?!"

Tangan Kagene-kun terangkat. Gawat, aku lupa kalau dia hanya berpura-pura pingsan!

Sekarang jari-jarinya mencengkram bahuku. S-sakit...

Kepalanya pun terangkat, lalu ia memperlihatkan kedua bola matanya yang berwarna merah darah itu lagi. Wajahnya juga dihiasi dengan seringaian tajam.

"KYAAAAAAAAAAA!"


Rumah Rui

Aku tertawa mengingat hal itu. Ya, sekarang sudah seminggu sejak festival berlalu. Saat itu, Kagene-kun memberitahuku kalau ia berperan sebagai orang kesurupan. Namun, ia beruntung, ia berhasil menakutiku karena phobia anehku ini.

Satu lagi, tentang kain merah itu...

Itu adalah dasi Kagene-kun yang tertarik saat aku melarikan diri dari pria itu kemarin.

Mungkin dasi ini akan kukembalikan hari Minggu nanti saat aku pergi ke Cryptoteria...

.

.

Owari


Hika tau kalau bagian tadi itu nggak serem QwQ sifat Rui emang berubah drastis disini, tapi nanti bakal balik ke semua lagi kok... oh ya, mungkin nanti ada chapter tentang phobia Rui.

Akhir kata...

Review, please?