Naruto Fanfiction

Disclaimer : Masashi Kishimoto

I just borrow his Chara

Just About Us!

Warning!

I'm a New Author. And this is my first story in Naruto FanFiction. As you know, there will be so much typo, AU, YAOI, OOC,and so much more.

Pairing!

SasuNaru, ItaKyuu

Slight!

NaruSaku, KuramaYugito

Read first, and please give me your Review.. It's my pleasure...

Please Enjoy.. ^.^

Pemeran Utama :

Naruto Uzumaki (17 tahun)

Kurama Uzumaki (27 tahun)

Sasuke Uchiha (17 tahun)

Itachi Uchiha (27 tahun)

Chapter 3 :At Shibuya Theater

Saat ini, para dokter di Rumah Sakit Tokyo sedang beristirahat. Begitu pula dengan Kurama. Saat ini dia sedang berada di kantin Rumah Sakit menyantap pie apel kesukaannya dan jus apel.

"Kurama-kun, aku duduk disini ya," kata sebuah suara halus. Kurama menatap wanita berambut pirang pucat dan dikepang satu itu. Dia mengangguk, dan wanita itu tersenyum manis dan duduk di depan Kurama.

"Apa kau ada waktu Sabtu ini Kurama-kun?" Tanya gadis manis itu memecah keheningan.

"Tidak. Ada apa?" jawab Kurama masih sibuk dengan pie apelnya tak menyadari rona merah menghiasi gadis manis yang duduk di depannya.

"Mm.. Baru-baru ini aku melihat sebuah film bagus di bioskop. Bagaimana jika kita nonton di bioskop, Kurama-kun?" Tanya gadis itu dengan pipi yang bersemu merah.

"Jika itu tentang Romance, aku tidak tertarik," kata Kurama datar. Gadis itu cepat-cepat menggeleng,

"Bukan. Tentu saja bukan tentang Romance. Mm.. Aku lupa judulnya tapi ini diangkat dari Novel. Bagaimana?" Tanya gadis itu. Kurama tampak berpikir sejenak.

"Boleh juga. Kapan kita akan nonton? Sabtu ini?" Tanya Kurama tertarik. Gadis di depannya hanya tersenyum menyembunyikan sorakan hatinya karena berhasil mengajak kencan -lebih tepatnya nonton- dokter muda tersebut.

"Iya. Sabtu ini. Bagaimana jika kita menonton di Shibuya Theater? Kudengar jika hari libur, akan diberi diskon," kata gadis itu lagi.

"Baiklah. Kalau begitu hari Sabtu nanti kita akan menonton. Kapan kau beres praktek hari Sabtu Yugito?" Tanya Kurama. Senyum di wajah Yugito semakin cerah.

"Aku beres jam 4 sore. Kau bisa menemuiku di ruanganku jam 4 sore," kata Yugito semangat.

"Baiklah. Hari Sabtu nanti, aku akan menjemputmu di ruanganmu, Yugito," kata Kurama dan menghabiskan makanannya dan meminum jus apelnya.

"Kupikir waktu istirahat kita sudah habis. Kau mau kuantar ke ruanganmu Yugito?" kata Kurama sambil berdiri dari meja kantin. Yugito juga berdiri dengan wajah yang bersemu.

"Kurasa tak perlu Kurama-kun. Habis ini aku harus mengecek ke kamar Rawat Inap. Hari ini aku piket soalnya," jawab Yugito menolak halus tawaran Kurama. Kurama menganggukan kepalanya mengerti.

"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu. Sampai bertemu Sabtu besok," kata kurama sambil melambaikan tangannya singkat dan dibalas oleh Yugito.

"S-Sampai ketemu Sabtu besok," balas Yugito sedikit gagap dengan rona merah menjalar di pipi mulusnya.

Kurama berjalan ke ruangannya. Di perjalanan dia menyapa dan disapa oleh beberapa pasien yang dia kenal, atau petugas Rumah Sakit. Ketika dia sampai di sebuah pintu bertuliskan Dokter Specialis Penyakit Dalam, dia menghela nafasnya dan masuk ke dalam ruangan itu.

"Anda sudah kembali, Dokter Uzumaki," sapa asistennya ketika melihat Kurama memasuki ruangan prakteknya. Asistennya segera menyiapkan file-file di meja Kurama dan merapikannya.

Kurama melihat file-file itu sejenak kemudian bertanya, "apa jadwalku hari ini selain praktek?" Asistennya membuka agenda jadwalnya dan menjawab,

"Well, Anda harus melakukan pembedahan lidah, lalu membantu operasi katarak, lalu, mengunjung pasien-pasien yang di Rawat Inap. Lalu, Anda harus Anda mempunyai janji dengan B-san, di Ruangan Terapi." Kurama mendengarkannya dengan saksama.

"Kalau hari Sabtu?" tanyanya lagi. Asistennya membalik kertas itu beberapa kali dan berkata,

"pagi hari Anda akan mendampingi direktur Rumah Sakit untuk melihat keadaan Rumah Sakit, lalu Anda praktek sampai jam tiga sore."

"Hm. Baiklah. Terima kasih Haruna-san. Baik, kalau begitu panggil orang ini," kata Kurama dan dia pun memulai kembali prakteknya sehabis makan siang.

.

.

.

Itachi duduk di balik meja Direkturnya dengan bosan. Dia malas sekali bekerja beberapa hari terakhir ini. Saham perusahaan? Tetap. Jumlah produk yang dijual dipasaran? Banyak dan laku. Intinya, perusahaan sedang dalam kondisi baik-baik saja. Kalau sedang dalam kondisi baik-baik saja, apa yang mau diurus coba?

"Yo Itachi! Apa kau sedang sibuk?" Tanya seorang yang tampangnya mirip dengan hiu yang masuk secara tiba-tiba ke ruangannya.

"Ada apa Kisame?" Tanya Itachi bosan. Kisame menyeringai.

"Sepertinya kau sedang bosan ya? Hari ini anak-anak Akatsuki sedang berkumpul di sebuah Café di daerah Shibuya, kau mau datang tidak?" kata Kisame. Itachi menengakkan tubuhnya, tanda dia tertarik.

"Sekarang? Boleh juga. Kebetulan aku sedang senggang," kata Itachi sambil berdiri dari kursinya dan memakai tuxedo-nya. Dia pun mengikuti Kisame pergi keluar dari perusahaan itu dan menuju Shibuya.

.

.

.

"Hai! Itachi-kun! Lama tak bertemu," sapa seorang wanita berambut biru tua pucat yang dijepit oleh jepitan bunga yang kontras dengan warna rambutnya.

"Hai Konan-chan," sapa Itachi balik. Dia melihat teman-temannya yang selama sepuluh tahun lebih tidak bertemu.

"Kau ingin memesan apa Itachi?" Tanya seorang pemuda berambut merah sambil menyodorkan buku menu ke tangan Itachi. Dia melihat menunya sekilas dan berkata, "aku rasa aku akan memesan pie apel dan jus apel saja." Temannya hanya memandangnya bingung tapi tak berkata apa-apa. Dia memanggil pelayan dan mengulangi pesanan Itachi tadi.

"Sejak kapan kau menjadi suka apel Itachi?" Tanya temannya yang rambutnya berwarna pirang.

"Sejak lima tahun yang lalu," sejak aku menyukainya, kata Itachi. Temannya hanya manggut-manggut.

"Kau tidak memesan makanan Kakuzu?" Tanya Itachi. Yang ditanya hanya mendengus, "itu membuang uang. Dan aku tak suka membuang uang. Uang bukan untuk dibuang." Itachi memutuskan untuk tidak mendebatnya.

"Ngomong-ngomong, kapan kau akan menikah Itachi?" Tanya Konan tiba-tiba yang langsung mendapat perhatian dari semua kawan-kawannya.

"Eh? Entahlah. Aku belum memikirkannya. Lagipula buat apa cepat-cepat menikah?" kata Itachi tak acuh.

"Yah, teman kita yang satu ini memang selalu begitu kan? Kapan Itachi pernah serius mempedulikan sesuatu?" kata temannya yang berambut pirang mengejek. Tapi yang diejek tanpak tak peduli karena sudah biasa.

"Oh ya! Baru-baru ini aku melihat film bagus di bioskop. Mumpung besok hari Sabtu, bagaimana jika kita menonton film itu?" kata Konan ceria.

"Apa judul film-nya?" Tanya Hidan penasaran.

"Genre-nya bukan Romance kan?" tambah Deidara.

"Gratis ga?" Tanya Kakuzu.

"Seru ga film-nya?" Tanya Kisame sinting. (Belum nonton tapi dah nanya seru)

"Apakah ada seninya?" Tanya Sasori.

"Tobi anak baik," kata manusia bertopeng yang tiba-tiba nyambung kayak tiang listrik.

Konan hanya mengurut dada mendengar pertanyaan aneh dari kawan-kawannya.

"Judulnya 'Carry'. Bukan Romance kok. Horor dan Thriller. Dan, bayar, tapi kalau hari Sabtu dan Minggu bakalan dapat diskon. Kalo masalah seru atau nggaknya aku ga tahu, kan belum pernah nonton, tapi kata orang-orang seru sih. Seninya mengagumkan. Dan, iya, Tobi kau memang anak baik," jawab Konan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kawan-kawannya.

"Gimana, mau pada nonton ga?" Tanya Konan memastikan. Yang lain berdiskusi dan mengangguk.

"Setuju deh. Kita nonton, tapi dimana?" kata Pain mewakili yang lain.

"Di Shibuya Theater. Soalnya disana deket sama pusat kota. Jadi pada setuju nih?" Tanya Konan memastikan. Mendapati anggota lainnya mengangguk, dia tersenyum dan tepat saat itu pesanan Itachi datang.

Hari Sabtu…

"Naruto-kun, sebenarnya kita mau menonton dimana?" Tanya Sakura di depan gerbang sekolah. Hari sabtu sekolah pulang cepat, dan kelompok yang mau menonton Catching Fire berkumpul di depan gerbang sekolah.

"Kita akan menonton di Shibuya Theater. Film-nya mulai jam setengah lima. Kita bisa makan siang dulu disana dan ngadem sebentar. Lagipula, jika di Shibuya Theater, kita akan dapat diskon," jelas Naruto. Teman-temannya setuju.

"Baiklah, kalau begitu, kita berangkat sekarang?" Tanya Kiba. Lalu, rombongan mereka pun berjalan ke arah halte bis.

.

.

.

"Ngomong-ngomong Konan, sebenarnya Film 'Carry' mulai jam berapa?" Tanya Kisame. Saat ini mereka sedang di dalam mobil Hidan menuju Shibuya Theater.

"Film-nya mulai jam setengah lima. Tapi, kita bisa belanja dulu," jawab Konan. Anggota yang lain tidak ada yang mendebat. Mereka tahu betapa mengerikannya jika cewek kertas ini marah.

.

.

.

"Ah! Kurama-kun. Maaf, apa kau lama menunggu?" Tanya Yugito begitu dia keluar dari ruangan prakteknya. Kurama hanya menggeleng singkat.

"Tidak juga. Aku juga baru sampai. Ternyata kunjungan Orochimaru-sama lebih lama dari yang dijadwalkan. Jadi, jadwalku hari ini sedikit ngaret," jelas Kurama.

"Baiklah. Kalau begitu, kita berangkat sekarang?" kata Yugito. Kurama mengangguk singkat dan berjalan beriringan dengan Yugito yang menahan senyuman.

.

.

.

"Kami beli tiket untuk sebelas orang," kata Ino begitu sampai di bagian pembelian tiket. Pelayan itu mengetik di komputernya dan mengambil 11 lembar tiket.

"Semuanya jadi 2.000 yen. Ada lagi?" kata pelayang itu. Ino menyerahkan uang hasil patungan dan menyerahkannya. Pelayan itu tersenyum.

"Film-nya mulai jam setengah lima di studio dua. Tapi belum di buka. Masih satu setengah jam lagi. Kalian jika mau, boleh pergi dulu lalu nanti jam setengah lima kembali lagi," kata si pelayan itu sambil tersenyum.

Mereka pun berjalan menuju Food Court dan duduk di meja yang kursinya lumayan banyak. Yang datang untuk menonton : Naruto, Sakura, Ino, Kiba, Shikamaru, Choji, Hinata (karena Naruto ikut menonton), Neji (jelas, untuk melindungi Hinata), TenTen (karena Neji ikut menonton), Lee (karena dia merasa semangat masa muda yang membara(?) jika menonton film ini), dan Sasuke (ceritanya panjang).

Mereka pun mulai memesan makanan dan bercerita serta bercanda.

.

.

.

.

"Pesan untuk sepuluh orang," kata Konan.

"Film apa?" Tanya pelayan itu sopan.

"Film 'Carry'," jawab Konan. Pelayan itu segera mengetik di komputernya dan memberikan 10 lembar tiket dan menyerahkannya pada Konan.

"Semuanya jadi 1900 yen," kata pelayannya. Konan memberikan uang patungan mereka semua pada pelayannya. Pelayan itu tersenyum.

"Film-nya kan mulai jam setengah lima, bolehkan kalau kita jalan-jalan sebentar dulu?" Tanya Konan lagi. Pelayan itu hanya mengangguk. Konan segera menyeret kesembilan temannya untuk belanja.

.

.

.

.

"Pesan untuk dua orang," kata Kurama datar.

"Film apa?" Tanya pelayan itu.

"Film 'Carry'," jawab Yugito. Pelayan itu mengetik di komputernya dan menyerahkan dua buah tiket pada mereka berdua.

"Arigatou," kata Yugito. Pelayan itu hanya tersenyum.

Mereka meninggalkan meja pelayan itu dan Kurama berkata, "Film-nya mulainya masih setengah jam lagi. Kau mau menunggu disini atau jalan-jalan?"

"Aku menunggu disini saja. Kau mau jalan?" Tanya Yugito balik.

"Tidak. Aku juga menunggu disini saja," jawab Kurama dan dia duduk disebelah Yugito.

.

.

.

Naruto melirik jam tangannya dan berkata, "Akh! Lima belas menit lagi film-nya mulai. Guys, I think we must hurry. Kalau kita ga mau ketinggalan Film-nya." Teman-temannya pun mulai bangkit dari kursinya dan mereka pun membayar makanan dan kembali ke Shibuya Theater.

.

.

.

"Ano, Konan-san, kurasa kita harus segera kembali ke Shibuya Theater," kata Hidan keberatan memegangi belanjaan Konan yang seabrek-abrek banyaknya.

"Kenapa?" Tanya Konan bingung dan masih belum puas belanja.

"Karena Film-nya mulai sepuluh menit lagi," jawab Itachi datar, tapi mendapat respon yang luar biasa tidak datar.

"APA! Kita harus segera ke Shibuya Theater kalau tak mau ketinggalan Film," kata Konan segera lari dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya yang keberatan membawa barang belanjaan Konan.

.

.

.

"Ah! Studio satu sudah di buka tuh. Mau masuk sekarang?" Tanya Kurama sambil bangkit dari tempat duduknya. Yugito juga bangkit dari tempat duduknya dan mengangguk.

"Ya. Ayo kita masuk sekarang," kata Yugito. Tapi, saat di berjalan menyebrangi ruangan, dia tertabrak oleh seorang yang berlari.

DUAK!

Dua-duanya sama-sama terjatuh.

"Auw," rintih keduanya. Kurama segera menghampiri Yugito dan membantunya berdiri.

"Sumimasen, Aku tidak sengaja," kata orang itu. Yugito hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Aku juga salah. Jalan tidak lihat-lihat," kata Yugito sambil tersenyum. Kurama melihat orang itu berambut biru tua pucat dan memakai jepitan. Rasanya pernah melihat.

"KONAN!" panggil teman-temannya saat sampai di dalam Shibuya Theater.

"Kalian," kata Konan. Teman-temannya menaruh belanjaan Konan.

"Ada apa ini?" Tanya Sasori melihat Konan dan wanita berambut pirang serta lelaki berambut merah darah.

"Tak ada apa-apa. Aku hanya tak sengaja menabraknya saja. Sekali lagi aku minta maaf," kata Konan. Yugito juga tersenyum. Kurama melihat teman-teman Konan. Rasanya familiar.

"Tak apa. Aku baik-baik saja. Ayo Kurama-kun. Kita masuk studio satu," ajak Yugito.

"Eh? Kalian juga di studio satu? Kebetulan kami juga mau nonton di studio satu. Aku Konan. Dan yang di belakangku ini adalah teman-temanku," kata Konan cerah.

"Aku Yugito, dan ini rekan kerjaku, Kurama," kata Yugito dan memperkenalkan Kurama.

"Yang ini Hidan, disebelahnya Kakuzu, lalu disampingnya Deidara. Di belakang Deidara ada Tobi, lalu ada juga Zetsu. Di depannya ada Sasori. Dan, ini Kisame, dan Itachi," jelas Konan memperkenalkan sahabatnya satu-satu.

DEG!

Jantung Kurama seolah berhenti mendengar nama yang terakhir kali disebut. Tapi, rasanya tak ada yang melihat perubahan ekspresi wajahnya yang sedikit menegang.

"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita masuk bersama-sama?" tawar Konan, yang disetujui oleh Yugito maupun Akatsuki yang lain. Yugito langsung akrab dengan Konan, yang lain mengambil belanjaan Konan dan masuk ke studio satu. Kurama berencana masuk terakhir tapi ternyata bukan hanya dia saja yang masuk terakhir. Orang yang paling dia cintai, paling dia rindukan sekaligus paling dia benci juga sengaja masuk terakhir.

"Hi! Long time no see you, my little Kyuubi," kata Itachi pelan di telinga Kurama yang membuat Kurama menatapnya dengan tatapan tajam.

To Be Continued

To All my Reviewers..

I just want to say 'Thanks' but I know that 'Thanks' didn't enough to express my feeling.

Aku tahu, kalau yang chapter ini rada lama. Soalnya udah mulai sibuk sekolah.. Ini juga aku update di sekolah!

Akhirnya.. Aku cuma mau bilang, jangan bosen baca cerita ini.. Yeah, I know, that my fic is not good as the other, but I tried my best to write down my story..

Dan..

Last word.. RnR please?

Balasan Review..

Nauchi Kirika - Chan

Thanks dah baca ini fict... Dan, jangan bosen ya..

Monokurobo

Makasih dah diingetin tentang Typo-nya. Sebisa mungkin di chapter ini typo berkurang.. ;)

FayRin Setsuna D Fluorite

Ini udah lanjut...

Vianycka Hime

Ya begitulah.. Selain suka SasuNaru, aku suka NaruSaku sih.. #gapenting!

Uchikaze no Rei

Moment SasuNaru akan menyusul... Hehehe, aku juga ngebayangin kayak gitu... Yah, masalah ramen, aku pengen buat Naruto ga suka ramen aja.. Hehehehe... ._.v

Ini udah update lagi.. Hehehe.. Dan makasih udah suka sama fict ini...

LNaruSasu

Sip.. Ini dah lanjut..

yunaucii

Yah, karena di sekolah ada pelajarannya otomatis jadi bisa. Tapi ga begitu fasih sih, hanya percakapan sehari-hari doang...

Aizawa Harumi

Arigatou buat review-nya~ Kenal dong.. Kan di kelas duduk bareng... hehehe..

Mel

Makasih review-nya.. Padahal sayaudah buat settingan-nya semirip mungkin di Jepang.. Nanti di usahakan deh..

Luce stellare of Hyuzura

Kenapa? No reason.. #PLAK!

Kenapa ya? Aku juga ga tau.. Pengen aja buat karakter Sasuke kayak begitu..

Dan, diusahain deh, scene ItaKyuu-nya...