Naruto Fanfiction

Disclaimer : Masashi Kishimoto

I just borrow his Chara

Just About Us!

Warning!

I'm a New Author. And this is my first story in Naruto FanFiction. As you know, there will be so much typo, AU, YAOI, OOC,and so much more.

Pairing!

SasuNaru, ItaKyuu

Slight!

NaruSaku, KuramaYugito

Read first, and please give me your Review.. It's my pleasure...

Oke, sebelum masuk ke cerita, aku ingin meluruskan beberapa hal.

Ini adalah SasuNaru.

Adegan SasuNaru akan menyusul. Tidak lama lagi. Well, karena disini ceritanya Naruto itu staight, kan ga mungkin langsung jadi Gay. Harus ada prosesnya. Sama seperti proses melupakan mantan dan mencintai orang lain. Oke. Jadi, harap bersabar untuk moment SasuNaru

Please Enjoy.. ^.^

Pemeran Utama :

Naruto Uzumaki (17 tahun)

Kurama Uzumaki (27 tahun)

Sasuke Uchiha (17 tahun)

Itachi Uchiha (27 tahun)

Chapter 4 : Pertemuan Kembali…

Kurama tak tahu, apakah ini bisa disebut dengan keberuntungan atau kesialan. Entah disengaja atau tidak, kursi Kurama bersebelahan dengan kursi Itachi. Dia bingung, harus menangis, tertawa, teriak, atau melakukan ketiganya secara sekaligus.

Selama dua jam setengah, tak ada satu pun adengan Film 'Carry' yang masuk ke otaknya. Dia sekarang sedang sibuk sendiri dengan perasaannya saat ini.

Dia sekarang sedang bingung dengan perasaannya. Entah kenapa rasanya ada yang menjalar di tulang belakangnya dan siap untuk menikamnya. Di saat yang sama, dia juga merasa gembira.

Entahlah. Dia juga tak bisa mendeskripsikan dengan jelas bagaimana perasaannya sekarang. Mungkin lebih baik dibayangkan saja.

Kau ingin melupakan orang yang kau cintai dan yang sudah menghancurkan hatimu, dan di saat kau hampir berhasil kabur dalam bayang-bayangnya, orang itu justru datang lagi dalam hidupmu dan tersenyum seolah itu semua tak pernah terjadi.

Apa yang akan kau lakukan? Marah? Berteriak? Ingin menghajarnya? Membentaknya? Atau mungkin malah merindukannya?

"Kurama-kun? Kau baik-baik saja?" Tanya Yugito menyentak Kurama dari lamunannya. Kurama melihat Yugito dan berkata,

"Ya. Hanya tidak enak badan saja." Itachi melirik Kurama sejenak.

"Kupikir aku ingin ke toilet dulu," kata Kurama sambil beranjak dari kursinya. Yugito mengangguk singkat dan kembali pada layar bioskop.

Kurama keluar dari studio satu dan menuju toilet. Dia ingin mencuci mukanya saja dan berdiam sejenak. Rencananya sih begitu, tapi..

GREP!

Seseorang memegang tangannya dari belakang. Tanpa melihat saja Kurama tahu siapa yang memegangnya. Dia memejamkan matanya sejenak, mempersiapkan hatinya, lalu berbalik menghadap si pemegang tangan.

"Ada apa Uchiha-san?" Tanya Kurama datar. Itachi tersenyum.

"Kau tak mau memanggilku seperti dulu lagi ya?" Tanya Itachi masih tersenyum. Kurama masih memandangnya dengan datar.

"Lepaskan tanganku. Kau pikir kau siapa memegang tanganku?" kata Kurama sambil menyentak tangan Itachi. Tapi sepertinya Itachi tak berniat melepaskannya.

"Apa gadis itu pacarmu, Kyuu-chan?" Tanya Itachi memanggil Kurama dengan nama kesayangannya.

"Pacar atau bukan, itu bukan urusanmu!" kata Kurama tajam. Itachi mengerutkan keningnya.

"Begitu ya. Bukan urusanku," gumam Itachi sok berpikir. Kurama menyentak lepas tangan Itachi.

"Tapi, aku tak suka melihatmu berjalan bersamanya," kata Itachi sedikit posesif. Kurama memutar matanya dan mendelik tajam.

"Kau bukan siapa-siapa Uchiha-san! Kau tak berhak mengaturku, atau melarangku jalan dengan siapa," kata Kurama ketus.

"Kau pacarku! Mana bisa aku membiarkanmu jalan bersama gadis itu?" kata Itachi. Kurama yang mendengarnya hanya menyunggingkan senyum sinis,

"Pacar? Mungkin maksudmu mantanpacar! Aku tidak ingat pernah pacaran denganmu lagi setelah lima tahun berlalu," kata Kurama tajam. Itachi menghela nafas.

"Kau masih marah?" tanyanya pelan, tapi Kurama bisa mendengarnya jelas. Dia mendengus meremehkan.

"Marah? Menurutmu bagaimana? Apa aku marah? Pikirkan saja dengan otak Uchiha-mu yang jenius itu," kata Kurama kesal sambil berjalan kembali ke studio satu.

.

.

.

"Kau sudah merasa baikan Kurama-kun?" Tanya Yugito saat Kurama kembali. Kurama duduk di kursinya lagi. Dia mengangguk singkat pada Yugito.

"Kalau kau masih merasa tidak enak badan, aku bawa penghangat perut," kata Yugito. Kurama tersenyum.

"Terima Kasih. Nanti jika aku tidak enak badan lagi, aku akan meminjamnya padamu," kata Kurama. Yugito hanya tersenyum.

Itachi kembali ke kursinya di sebelah Kurama sambil melirik ke arah Kurama sekilas yang sedang bercengkrama dengan Yugito.

"Kau habis dari mana Itachi?" Tanya Kisame yang duduk disebelahnya.

"Hanya menemui kawan lama," jawab Itachi singkat dan datar. Kisame mengangkat alisnya sebelah, tapi tak bertanya lebih jauh.

Filmnya selesai jam setengah delapan malam. Tapi, karena ini malam minggu, makin malam makin rame, jadi, suasana Shibuya masih ramai.

"Kau sudah ingin pulang Kurama-kun?" Tanya Yugito. Saat ini mereka sedang berada di luar studio satu. Kurama melirik jamnya, 7.30. Dia mendengus

"Tidak. Kau mau makan malam dulu?" Tanya Kurama. Yugito mengangguk. Mereka berjalan bersama, tak lupa Kurama yang menggandeng tangan Yugito dan membawanya lebih dekat padanya. Membuat wajah Yugito merah dan bibirnya melengkung ke atas, sekaligus membuat seseorang merasa panas akan amarah.

.

.

.

"Kau kenapa Itachi? Tak enak badan?" Tanya Deidara melihat Itachi yang wajahnya memerah.

"Tidak. Aku baik-baik saja. Kurasa aku ingin pulang," kata Itachi.

"EH!? Tapi ini malam minggu. Kau tidak ingin berkumpul dulu Itachi-kun?" Tanya Konan. Tapi Itachi hanya menggeleng dan pergi menjauh dari kelompok Akatsuki itu.

"Ada apa dengan orang itu?" Tanya Pain melihat Itachi yang seperti itu.

"Sikapnya berubah semenjak memasuki studio," kata Kisame.

"Mungkin dia sedang banyak masalah," kata sasori.

"Mungkin sedang tidak punya uang," kata Kakuzu.

"Mungkin dia sedang ingin bertobat pada Dewa Jashin," kata Hidan.

"Mungkin Itachi-senpai ingin menjadi anak baik," kata Tobi.

"Mungkin dia lelah," kata Konan mengakhiri perbincangan aneh ini.

.

.

.

"Film-nya seru sekali," kata Sakura saat keluar dari studio dua diikuti oleh teman-temannya yang lain.

"Ah! Tapi akhirnya masih nge-gantung. Ga seru," kata Kiba yang mendapat jitakan dari Shikamaru.

"Jelas saja masih nge-gantung. Kan dibukunya nge-gantung. Kelanjutannya MockingJay," Shikamaru menjelaskan.

"Kau punya bukunya, Shika?" Tanya Ino. Shikamaru mengangguk malas.

"Ayahku penggemar The Hunger Games. Dia punya lengkap bukunya," jelas Shikamaru.

"PINJAM!" kata Ino, Sakura, dan TenTen sekaligus. Shikamaru mendengus.

"Besok Senin, dibawa," kata Shikamaru yang mendapat pelukan gratis dari tiga cewek tersebut.

"S-Sudah malam. Minna, aku pulang ke rumah dulu ya. Otou-san pasti marah, kalau tidak segera pulang," kata Hinata sambil menunduk.

"Oh, kau sudah mau pulang Hinata? Baiklah, hati-hati di jalan ya," kata Naruto sambil menata Hinata. Yang ditanya hanya semakin menunduk.

"I-Iya N-Naruto-kun," kata Hinata lirih sambil malu. Dia pun segera pulang ke rumahnya diikuti Neji di belakangnya.

"Jadi, sekarang kita mau ngapain?" Tanya TenTen.

"Makan," jawab Choji.

"Tidur," jawab Shikamaru.

"Kita kencan yuk sakura-chan," kata Naruto.

"Tidak mau!" tolak Sakura.

"Mengasah masa muda yang begitu membara," jawab Lee.

"Perawatan tubuh," kata Ino.

"Kasih makan Akamaru," kata Kiba.

"Aku pulang," kata Sasuke datar sambil beranjak meningalkan kerumunan remaja itu.

"Kau sudah mau pulang Sasuke?" Tanya Naruto. Yang ditanya tidak capek-capek menjawab dan melangkah pergi meninggalkan kerumunan remaja.

"Aku tak menyangka kau sanggup menyeretnya kemari Naruto," kata Kiba geleng-geleng tak percaya.

"Tentu saja aku bisa. Apa sih yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Naruto Uzumaki?" kata Naruto dengan nada sombong yang langsung mendapat jitakan dari Sakura.

"Kau sombong sekali Tuan Uzumaki," kata Sakura pura-pura marah. Tapi sebenarnya penasaran.

"Memangnya, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Ino mewakili perasaan penasaran dari teman-temannya.

"Kepo! Itu urusan orang," kata Naruto sambil memeletkan lidahnya.

"PELIT!" teriak mereka kompak yang sukses membuat telinga Naruto berdenging.

"Ya sudah! Bagaimana jika kita cari makan malam dulu? Dua setengah jam duduk di bioskop sukses membuat perutku keroncongan," kata Choji sambil memakan camilan.

'Benarkah perutmu bisa keroncongan?' batin teman-temannya. Akhirnya mereka memutuskan pergi ke Cafe Shibuya mengisi perut.

"Irasshai mase! Untuk berapa orang?" Tanya pelayannya menyambut mereka. Sakura menghitung temannya dan menjawab,

"Untuk delapan."

"Baik, silahkan ikut saya," kata pelayan itu dan mengantar mereka ke sebuah meja yang cukup besar dan menyerahkan 4 buku menu.

"Hm, kalian ingin memesan apa?" Tanya Ino.

"Aku tak lapar, jadi mungkin es krim saja," kata TenTen.

"Aku Orange juice saja. Aku juga tak lapar," kata Naruto.

"Hoam, aku mau Spagetthi saja," kata Shikamaru.

"Aku pesan cheese hamburger," kata Kiba.

"Aku pesan Coca Cola," kata Sakura.

"Aku pesan ocha saja," kata Lee membara.

"Aku pesan Medium fries dan Lemon tea," kata Choji.

"Aku pesan air putih saja," kata Ino.

Pelayan itu menulis semua yang di pesan, dan mengulanginya. Setelah semua yang di pesan di catat, dia segera meninggalkan meja tersebut.

"Kita mau makan dimana Kurama-kun?" Tanya Yugito sambil berjalan di sebelah Kurama.

"Hm, bagaimana jika di Cafe Shibuya?" usul Kurama. Yugito hanya mengangguk.

"Irasshai mase! Untuk berapa orang?" kata pelayan yang berada di depan pintu restoran tersebut.

"Dua orang," jawab Kurama datar. Pelayan itu mengangguk dan mengantar mereka ke kursi khusus dua orang. Lalu, menyerahkan buku menu pada mereka.

"Kau ingin pesan apa Kurama-kun?" Tanya Yugito sambil melihat menunya.

"Aku pesan Fried Chicken saja. Kau pesan apa?" Tanya Kurama balik.

"Aku sama seperti mu saja," jawab Yugito.

Pelayan itu mencatat dan mengulanginya. Lalu meninggalkan meja mereka.

"Aku ke toilet dulu ya. Mau cuci tangan," kata Yugito sambil bangkit dari kursinya. Kurama mengangguk sekilas dan kembali dalam pemikirannya.

"Guys, aku mau ke toilet dulu ya. Mau cuci tangan," kata Ino sambil berdiri dari bangkunya dan menuju toilet.

.

.

.

Yugito mencuci tangannya sambil melihat pantulannya di cermin. Dia tersenyum ketika mengingat hari ini. Kurama menemaninya menonton, bahkan tadi Kurama mengajaknya makan malam bersama sambil menggandeng tangannya. Dia tak mau banyak berharap, tapi sedikit harapan akan bagus kan? Mungkin saja malam ini adalah awal dari hubungan mereka? Anything could happened right?

"Onee-san?" Tanya sebuah suara yang sudah lama tak didengarnya. Yugito berbalik dan melihat seorang gadis dengan rambut yang sewarna dengan milik Yugito dan mata yang sewarna dengan milik Yugito.

"Ino?" Tanya Yugito memastikan. Ino mengangguk dan segera menerjang Yugito.

"Onee-san! Aku! Aku, Hiks," Ino bahkan tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia terlalu bahagia bisa bertemu dengan kakaknya selama 6 tahun berpisah.

"Shh.. Jangan menangis Ino. Kau sudah besar sekarang," kata Yugito menenangkan Ino. Ino masih terisak dibahu Yugito. Tapi pada akhirnya melepaskannya.

"Onee-san! Aku tak percaya akan bertemu denganmu disini! Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ino sambil tersenyum. Yugito juga tersenyum lembut.

"Yah! Aku juga tak menyangka akan bertemu kau disini. Aku habis menonton bersama temanku tadi di Shibuya Theater. Kau sedang apa malam-malam begini?" jelas Yugito.

"Aku juga menonton! Di Shibuya Theater juga! Menonton Catching Fire bersama kawan-kawanku! Sekarang aku sedang makan malam bersama mereka," jelas Ino juga.

Yugito melirik jam tangannya sekilas.

"AH! Sepertinya aku harus kembali pada temanku. Kasihan dia menunggu lama. Ja nee," pamit Yugito. Ino juga melambai. Yugito pun kembali ke mejanya.

"Apa kau menunggu lama?" Tanya Yugito saat dia duduk di hadapan Kurama. Kurama hanya menggeleng singkat.

"Tidak juga. Memangnya tadi kau ngapain di toilet?" Tanya Kurama. Yugito tersenyum.

"Hanya bertemu dengan seseorang sewaktu aku di toilet," jawab Yugito. Kurama hanya mengangguk, dan pesanan mereka berdua datang.

"Sudah datang," kata Kurama. Yugito hanya tersenyum.

"Itadakimasu," kata mereka berdua.

.

.

.

"Itadakimasu," kata Choji dan diijuti ole ketujuh kawan lainnya. Mereka mulai meminum minuman mereka, dan memakan makanan mereka.

"Choji, pelan-pelan makannya!" tegur Ino ketika melihat cara makan Choji yang brutal.

"Ha? Avva? Hammu Hillanh Avva?" Tanya Choji dengan mulut penuh makanan.

"Itu menjijikan! Hentikan berbicara sambil makan! Kamu bisa keselek!" tegur Ino. Tapi Choji hanya cengengesan dengan mulut penuh makanan.

"Sudahlah Ino! Choji memang begitu," kata Shikamaru. Ino mendelik sebentar pada Choji sebelum meminum kembali air putihnya.

"Guys, kurasa aku sudah harus pulang. Ibuku sudah meneleponku," kata Sakura sambil melihat panggilan masuk yang tak terjawab.

"Sakura-chan sudah mau pulang? Aku antar ya," kata Naruto mengajukan diri. Sakura mengangguk.

"Boleh. Minna, kita pulang dulu ya," pamit Sakura dan Naruto. Kemudian mereka pergi dari Cafe Shibuya.

"Ah! Sepertinya aku juga harus pulang. Akamaru belum diberi makan. Aku duluan Minna," pamit Kiba juga. Lalu menyusul TenTen dan Lee. Tinggal Ino, Shikamaru dan Choji yang masih tinggal di Cafe Shibuya. Menemani Choji menghabiskan makanannya.

.

.

.

"Sudah malam. Kau mau pulang sekarang?" Tanya Kurama pada Yugito. Mereka sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing. Yugito mengangguk.

Mereka berdua bangkit dari kursi mereka dan membayar bill-nya. Lalu, mereka berjalan keluar dari Cafe Shibuya dan menuju keluar dari Mall tersebut.

"SUdah malam. Kuantar kau pulang ya," tawar Kurama. Yugito tidak bisa menolak.

"Rumahmu di daerah mana?" Tanya Kurama.

"Rumahku di kota sebelah. Tak jauh dari Shibuya kok," kata Yugito. Akhirnya mereka berdua berjalan ke arah rumah Yugito.

"Ngomong-ngomong, tadi Orochimaru-sama melihat apa saja?" Tanya Yugito memecah keheningan.

"Yah, dia melihat kinekerja para dokter selama dua bulan terakhir. Lalu, aku juga mempresentasikan peningkatan grafik pasien dan kami sedikit berkeliling. Sebenarnya semua bisa berjalan sesuai rencana, jika saja Kabuto tidak selalu mencari-cari kesalahan dalam semua presentasiku. Dia terkadang bisa sangat menyebalkan," cerita Kurama. Yugito mendengarnya sesekali di selingi dengan tawa kecil.

"Ya, Kabuto memang sedikit menyebalkan. Saat kunjungan lima bulan yang lalu, dia mengumpulkan semua dokter wanita, tapi hanya aku yang tidak dipanggil. Alasannya hanya dia tak suka dengan dokter kandungan. Astaga! Memangnya ibunya dulu konsultasi pada siapa sebelum dia lahir?" Yugito juga menimpali. Kurama hanya tersenyum.

Di dekat Yugito dia merasa senang dan merasa asing sekaligus. Bukan, bukan perasaan cinta, tapi lebih ke persahabatan.

"Kurasa kia sudah sampai di rumahmu. Masuklah. AKu tahu kamu pasti capek. Dokter kandungan kita tidak boleh kecapekan kan?" goda Kurama yang sukses membuat wajah Yugito memerah.

"Kalau begitu aku masuk dulu. Terima Kasih Kurama-kun sudah mengantarku sampai sini. Kurama-kun juga hati-hati," balas Yugito. Kurama hanya tersenyum dan segera pulang ke rumahnya.

To Be Continued

To All my Reviewers..

I just want to say 'Thanks' but I know that 'Thanks' didn't enough to express my feeling.

Jujur aja, begitu tahu ada yang Review, aku seneng banget.. Rasanya seperti penambah tenaga untuk menjalani hari yang setiap hari mendung ini..

Akhirnya.. Aku cuma mau bilang, jangan bosen baca cerita ini.. Yeah, I know, that my fic is not good as the other, but I tried my best to write down my story..

Dan..

Last word.. RnR please?

Balasan Review..

Luce stellare of Hyuzura

Ya, begitulah... Hehehe..

Qnantazefanya

Ini dah lanjut. Dan, ini SasuNaru..

fatayahn

SasuNaru akan menyusul. Tidak lama lagi kok..

Vianycka Hime

Masa sih? Mungkin juga. SasuNaru akan menyusul oke?

faremilan

Makasih soal Typo-nya. Padahal aku sebisa mungkin baca ulang cerita agar tak ada Typo, tapi tetep aja ada. Haah.. Namanya juga manusia..

yunaucii

Cerita Itakyuu itu panjang... Nanti ada pembahasannya kok.. Sasuke juga ceritanya panjang..