Naruto Fanfiction
Disclaimer : Masashi Kishimoto
I just borrow his Chara
Just About Us!
Warning!
As you know, there will be so much typo, AU, YAOI, OOC,and so much more.
Read first, and please give me your Review.. It's my pleasure...
Please Enjoy.. ^.^
Pemeran Utama :
Naruto Uzumaki (17 tahun)
Kurama Uzumaki (27 tahun)
Sasuke Uchiha (17 tahun)
Itachi Uchiha (27 tahun)
Chapter 5 : Memories…
Haah!? Harus mulai cerita dari mana ya? Pertama kali ketemu itu, di bawah pohon Mapple di musim gugur di New York. Saat itu dia sedang mencari sesuatu di atas tanah. Lalu, dia melihatku.
"STOP!" katanya tiba-tiba. Aku langsung menghentikan langkahku dan memandangnya bingung.
"What are you searching for?" tanyaku bingung pada pemuda berambut merah darah itu.
"I dropped my soft lens. Now, I can't find them," jawabnya dengan bahasa Inggris yang fasih dan lancar. Aku mengangguk mengerti.
"Let me help you," tawarku. Dia mengangguk sambil tersenyum tipis. Kami berdua bersama mencari lensa kotaknya. Lalu, di bawah pohon Mapple aku melihat sesuatu yang berkilauan.
"I found it," kataku memberitahunya. Dia melihat kearahku dan mengambil lensa kotaknya dari tanganku.
"Thanks for helping me," katanya sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali.
"No problem. By the way, what's your name?" tanyaku.
"Kurama. Kurama Uzumaki. And you?" tanyanya balik.
"Itachi. Itachi Uchiha. Nice to meet you," kataku. Kami berdua tesenyum tipis.
"Pasti kamu orang Jepang kan?" katanya dengan pose berpikir yang lucu. Aku tersenyum tipis melihatnya. Orang ini imut sekali. Aku mengangguk.
"Me either," katanya. Kami berdua duduk di bangku terdekat di bawah pohon Mapple.
.
.
.
"Jadi, kau kuliah dimana Uchiha-san?" tanyanya sambil memasukkan lensa kotaknya ke tempatnya.
"Jangan panggil aku Uchiha-san. Kau seperti memanggil ayahku. Cukup Itachi saja," ralatku. Aku paling tidak suka jika dipanggil dengan margaku.
"Baiklah. Itachi-san, kau kuliah dimana?" tanyanya lagi setelah meralat namaku.
"Aku kuliah di Harvard. Jurusan Ekonomi. Kau, kuliah dimana?" jawab dan tanyaku lagi.
"Sama. Di Harvard. Bedanya aku jurusan Kedokteran," jawabnya. Aku tersenyum tipis.
"Wow. Kau pasti pintar sekali bisa masuk jurusan Kedokteran di Harvard," pujiku. Jarang sekali aku memuji orang. Dia tersipu dan tersenyum bangga. Wajar saja.
Banyak orang berlomba untuk masuk jurusan kedokteran di Harvard, dan di Jepang, hanya lima orang yang lolos masuk. Wajar saja jika dia bangga. Aku mengerti perasaan ini.
Dia melirik jam tangannya sekilas.
"Ah! Sudah jam enam sore. Kurasa aku harus kembali ke apartement-ku. Sampai jumpa," katanya sambil berdiri dari duduknya. Aku juga bangkit.
"Dimana apartement-mu?" tanyaku.
"Di Sebelah Lotus Café. Hanya setengah jam jika berjalan," jelasnya.
"Kebetulan. Apertement-ku juga di dekat sana. Kau mau pulang bareng?" tawarku. Dia mengangguk singkat sambil tersenyum tipis. Kami berjalan bersama sampai tiba di sebuah apartement kecil bertingkat dua.
"Kau tinggal disini?" tanyaku melihat apartement-nya. Kecil sekali. Dia mengangguk singkat dan memandangku.
"Yah, aku kan hanya sementara tinggal di Amerika. Hanya sampai aku menyelesaikan S2-ku saja. Lagipula, buat apa tinggal di apartement mewah, jika kita punya rumah yang lebih 'mewah' dari apartement?" jelasnya.
Berbicara padanya mengingatkanku pada rumahku. Dan ternyata, pemuda di depanku ini tak hanya pintar, melainkan jenius.
"Berapa usiamu, Kurama-san?" tanyaku.
"Dua puluh dua tahun. Kau berapa?" tanyanya balik. Ck,ck,ck! Muda sekali.
"Sama denganmu. Wow! Di usia semuda ini kau sedang kuliah S2? Jenius sekali," pujiku lagi. Ini pertama kalinya aku memuji orang lebih dari satu kali. Dia tersipu lagi dan tersenyum bangga.
"Kau terlalu memuji Itachi-san. Aku tidaksehebat dan sepintar itu," katanya sambil tersipu malu. Ck, ck, ck! Dia rendah diri sekali! Wow, aku tambah kagum padanya.
"Ya sudah! Kapan kita bisa bertemu lagi, Tuan Jenius?" tanyaku sambil menggodanya. Dia mendelik pura-pura marah padaku.
"Jangan panggil aku Tuan Jenius!" katanya pura-pura marah padaku. Aku terkekeh singkat dan mengacak kepalanya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil merapihkan kembali rambut yang sempat kuacak.
"Baiklah, sampai bertemu besok, kurasa. Dah," kataku sambil melambai singkat padanya yang dibalas dengan lambaian singkat juga.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei! Tunggu dulu!" kataku sambil mengejarnya. Dia tampak tak mendengar dan terus berlari di kegelapan malam.
"Apa lagi yang mau kau jelaskan padaku, Sialan?" tanyanya dengan nada ketus dan tajam. Aku menghela nafas.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Kyuu-chan," kataku mencoba menjelaskan. Dia mendelik tajam padaku.
"Lalu, seperti apa kalau begitu Uchiha-san?" tanyanya dengan memanggilku menggunakan nama belakangku, yang artinya dia marah sekali.
Aku diam saja. Memang seperti apa? Seperti kau bercumbu dengan segerombol wanita penggoda di Club malam. Dia mendengus.
"Kenapa diam? Kenapa tak menjawab?" tanyanya dengan nada yang meremehkan. Ya, dia benar.
"Itu, Aku.." aku mencoba menjelaskan, tapi kata-kata sama sekali tak terangkai di kepalaku. Dia memutar matanya dengan pandangan meremehkan.
"Sudahlah! Kembali saja pada jalang tercintamu itu, dan hubungan kita berakhir," katanya yang membuatku mencelos.
'Berakhir'? Aku melihat ke dalam matanya mencari kesedihan, tapi yang kutemukan hanyalah amarah dan kekecewaan.
"Hei, apa kau serius dengan yang kau ucapkan?" tanyaku memastikan. Siapa tahu sebelum memeregokiku dia telah minum Brandy sebanyak sepuluh gelas dan sekarang dia sedang mabuk. Tapi, kupikir itu pemikiran gila untuk seorang yang alergi terhadap alcohol.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, Uchiha-san?" tanyanya dingin.
"Kyuu-chan, dengarkan dulu," pintaku sambil berusaha memegang tangannya. Tapi, dia menyentak tanganku.
"Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor! Dan jangan pernah menemuiku lagi! Aku benci kau, Uchiha-san!" bentaknya marah dan segera pergi meninggalkanku sendirian di tengah kegelapan malam.
.
.
.
.
Itachi tersentak dari tidurnya. Dia terbangun dengan keringat yang bercucuran. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan melirik jam yang berada di meja sebelah tempat tidurnya.
'Jam delapan pagi ya,' batinnya sambil meregangkan tubuhnya. Dia membuka jendela kamarnya dan sinar matahari langsung mengecup wajah tampannya.
Dia menghela nafas mengingat mimpinya semalam. Mimpi yang selalu menhantuinya sejak lima tahun yang lalu. Dia memegang dada sebelah kirinya.
'Apa memang tak ada kesempatan kedua untukku lagi Kyuu?' batinnya miris.
.
.
.
.
.
Kurama hanya menatap bosan layar TV di depannya. Sudah jam satu siang dan tak ada yang dilakukannya selain tiduran di dalam kotatsu atau menonton TV. Adiknya sedang ngumpul bareng dengan teman-temannya. Nonton TV? Seharian menonton TV membuatnya bosan. Sedangkan orangtuanya sedang pergi mengunjungi kakeknya di Osaka dan mungkin baru akan pulang minggu depan.
Dia mengecek HP-nya dan tak ada panggilan masuk dari Rumah Sakit. Intinya saat ini Rumah Sakit sedang dalam keadaan baik-baik saja, dan inti dari inti itu sendiri Kurama sedang bosan. Lagipula hari ini dia tidak ada jadwal praktek dan kemarin dia menyelesaikan jadwal piketnya.
"Akh! Bosan sekali," kata Kurama pada dirinya sendiri. Dia bangkit dari kotatsu dan menuju dapur. Di lemari makanan dia mengambil beberapa buah apel merah dan segelas air putih. Lalu dia membawanya ke depan TV.
Dia memakan apel itu dalam diam. Dan entah kenapa kilas balik tentang lima tahun lalu teringat kembali.
.
.
.
.
.
.
.
Saat itu tanggal 9 Juni. Aku sudah menyiapkan kado special untuknya. Rencananya aku akan ke apartement-nya yang super duper sangat mewah dan menyerahkannya. Tapi, itu hanya rencana..
"I just saw him go with his friends," kata tetangga sebelahnya. Aku mengerutkan keningku. Dia tak bilang padaku jika hari ini akan menemui teman-temannya.
"By the way, do you know where they go?" tanyaku. Aku ingin mencari Itachi dan menyerahkan kadonya. Orang di depanku tampak berpikir sebentar,
"Well, I've heard they mention XXX Club," kata orang itu. Aku terbelalak kaget. BUkankah itu sejenis Club Malam? Tapi, aku mencoba berpikir positif. Toh, hari ini hari ulang tahunnya. Mungkin saja dia mau merayakan ulang tahunnya dengan minum-minum. Dan tidak mengajakku karena tahu aku alergi terhadap alcohol. Ya, pasti begitu.
"Thanks for the information," kataku sambil pamit. Orang itu hanya tersenyum tipis dan kembali masuk ke dalam apartement-nya.
.
.
.
Positive thinking.. Positive thinking.. Setidaknya itu yang barusan kuucapkan. Tapi, nyatanya saat ini aku tak bisa terus menerus berpikiran positif.
Melihat pacarmu bersama segerombolan wanita penghibur tanpa busana dan sedang asyik bercumbu, apa kau masih bisa berpikiran positif tentang itu?
Mungkin saja aku bisa berpikiran seperti ini : 'Oh! Pacarku sedang ulang tahun hari ini! Dan, mungkin itu kado dari teman-temannya! Selamat!' atau mungkin begini, 'Mungkin dia terlalu banyak minum sampai mabuk dan tanpa sadar mencumbui wanita-wanita itu!' atau, 'wah! Pacarku sedang mencumbui banyak wanita! Kuat sekali dia, aku kagum. Aku bahkan belum tentu bisa seperti itu.'
Yang pertama kurasakan adalah perasaan kecewa. Lalu, berubah menjadi marah, lalu berubah lagi menjadi sedih, dan terakhir berubah menjadi benci. Selalu seperti itu.
Aku tak menghampirinya, karena terlalu jijik untuk mendekatinya. Itu saja aku sudah menahan mual melihat pemandangan seperti itu. Terangsang? Tentu saja tidak! Yang ada hanyalah terangsang untuk memuntahkan makan siangku ke wajah para wanita itu dan pacarku!
Aku masih memegang kado yang akan kuberikan. Tanpa pikir panjang, kado itu kubuang ke tong sampah terdekat dan segera pergi menjauh dari tempat itu.
.
.
.
"Hei! Tunggu dulu!" katanya sambil mengejarku. Apakah dia melihat aku datang, atau diberitahu temannya aku tak peduli. Aku hanya mencoba tak mendengar semua alasan yang dia keluarkan.
"Apa lagi yang mau kau jelaskan padaku, Sialan?" tanyaku ketus. Geram akan sikapnya. Dia hanya menghela nafas.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Kyuu-chan," katanya mencoba menjelaskan. Aku hampir saja tidak bisa menahan diri untuk meludah di wajahnya.
"Lalu, seperti apa kalau begitu Uchiha-san?" tanyaku dingin.
Dia diam saja. Aku mendengus.
"Kenapa diam? Kenapa tak menjawab?" tanyaku dengan nada meledek.
"Itu, Aku.." Dia mencoba menjelaskan. Aku mendengus. Sok bersih!
"Sudahlah! Kembali saja pada jalang tercintamu itu, dan hubungan kita berakhir," kataku pada akhirnya.
"Hei, apa kau serius dengan yang kau ucapkan?" tanyanya memastikan.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, Uchiha-san?" tanyaku dingin. Ku kuatkan hatiku untuk menerima kenyataan ini.
"Kyuu-chan, dengarkan dulu," pintanya sambil memegang tanganku. Tapi aku menyentaknya lepas. Tangan itu kotor akan wanita-wanita itu.
"Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor! Dan jangan pernah menemuiku lagi! Aku benci kau, Uchiha-san!" bentakku marah dan segera pergi meninggalkannya sendirian.
.
.
.
.
.
Dia tersenyum miris. Lalu dia mendengus.
'Dia masa lalu! Sekarang kau sudah keluar dari bayang-bayangnya! Sekarang kau tidak ada hubungannya dengan dia lagi,' kata Kurama dalam hati meguatkan hatinya.
TOK! TOK! TOK!
Kurama bangkit dari dalam kotatsu berniat membuka pintu.
"Tunggu sebentar," kata Kurama sambil berjalan menuju pintu depan.
CKLEK!
Detik itu juga Kurama menyesal membuka pintu rumah tanpa bertanya siapa yang datang.
BRAK!
DUG!
Orang itu menahan pintu yang nyaris tertutup dengan kakinya. Kurama sebisa mungkin berusaha menutup pintunya, kalau perlu sampai kaki itu buntung juga tidak masalah.
"Hei! Kyuu-chan. Dengar dulu," kata orang tersebut sambil menahan sakit di kakinya. Tapi Kurama menutup telinga dan matanya tentang orang itu.
"Pergi dari sini Sialan! Atau ku telepon polisi," ancam Kurama masih berusaha menutup pintunya.
"Tunggu dulu," kata orang itu dan dia berhasil membuka pintu yang menjepit kakinya. Kurama tersentak mundur.
"Apa maumu Uchiha-san?" tanya Kurama kesal, jengkel, dan dingin.
"Tidakkah sebaiknya kau membiarkan tamu-mu ini masuk ke dalam rumah terlebih dahulu?" tanya Itachi basa-basi. Kurama memutar bola matanya.
"Tak usah basa-basi! Cepat katakan maumu apa dan segera angkat kaki harammu dari rumah ini!" bentak Kurama. Itachi mempertahankan ekspresi datarnya untuk menutupi luka yang menganga lebar di hatinya.
"Ah! Ada apa denganmu Kyuu-chan? Kenapa kau kasar sekali?" tanya Itachi pura-pura sedih. Kurama memejamkan matanya sebentar sambil menggertakkan gigirnya.
"Kalau kau kesini hanya untuk membuatku marah, sebaiknya kau segera keluar pergi dari rumah ini. Aku sedang tak ingin membuat masalah," kata Kurama menahan amarahnya. Itachi menghela nafasnya menyerah.
"Kau kembali," kata Itachi pelan. Kurama menaikkan alisnya bingung.
"Maaf? Kau bicara apa tadi?" tanya Kurama yang tidak mendengar omongan Itachi tadi.
"Aku ingin kau kembali," kata Itachi lagi, dan kali ini Kurama mendengarnya.
"Kembali? Aku akan kembali padamu kalau Neraka sudah membeku dan Kronos sudah menjadi ayah yang penyayang serta Hera bisa menerima semua anak Zeus! Sekarang, keluar dari rumahku!" kata Kurama sambil mendorong Itachi keluar dari rumahnya dan menutup pintu rumahnya.
BRAK!
Nafas Kurama memburu. Dia mendengar suara mesin mobil dinyalakan dan dijalankan. Semakin lama suaranya semakin tipis. Kurama bersandar pada pintu depan rumahnya. Dia menghela nafas lelah.
To Be Continued
MAAF!
Aku baru bisa update setelah sekian lama aku menelantarkan fict ini...
Tapi...
Bukan tanpa alasan aku menelantarkannya...
Dari kemarin – kemarin aku sibuk belajar buat UTS...
Dan, aku selalu begadang buat belajar sampe kantung mata sudah seperti kantung sampah..
Big Thanks to all my reviewer(s)...
Tanpa kalian, apa jadinya ceritaku ini... TT_TT
Oke deh.. Daripada banyak bacot begini,
Langsung aja ke Balasan Review..
Balasan Review
tsunayoshi yuzuru
Moment SasuNaru akan Menyusul...
Luce stellare of Hyuzura
Yosh.. Itachi akan berjuang..
Aizawa Harumi
Lain kali jangan telat ya... Maksimal jam 7.00 #fingerprintdi skul... Hehehehe
yuichi
Ini udah lanjut...
faremilan
Sip.. Di usahakan Typo berkurang...
Ini udah Update...
fatayahn
Iya atuh.. Kalo Itachinya ga egois, pairingnya bukan ItaKyuu lagi dong.. nanti jagi KuramaYugito deh...
Vianycka Hime
Tanpa ditunggu pun mereka sudah jadi airing abadi #fansgirling
Yosh...
Last word...
RnR Please...
