Naruto Fanfiction

Disclaimer : Masashi Kishimoto

I just borrow his Chara

Warning!

As you know, there will be so much typo, AU, YAOI, OOC,and so much more.

Read first, and please give me your Review.. It's my pleasure...

Please Enjoy.. ^.^

Pemeran Utama :

Naruto Uzumaki (17 tahun)

Kurama Uzumaki (27 tahun)

Sasuke Uchiha (17 tahun)

Itachi Uchiha (27 tahun)

Chapter 6 : Teme and Dobe

Naruto berjalan santai sepanjang perjalanan menuju sekolahnya. Hari ini Sakura tidak masuk, karena dia ada latihan untuk Lomba Debat Nasional bulan depan. Lalu dia berhenti di depan sebuah rumah bertuliskan 'Uchiha'. Naruto berjalan menuju kediaman itu dan membunyikan bel.

"Siapa?" tanya seseorang dari interkom.

"Ano.. Naruto Uzumaki. Teman Sasuke," jawab Naruto sedikit canggung.

"Oh! Naruto-kun! Tunggu sebentar," kata orang itu dan Naruto menunggu di luar beberapa saat.

CKLEK!

Keluarlah dari rumah itu Mikoto, ibu Sasuke denagn celemek masih bertengger di badannya.

"Ohayou Naruto-kun. Ayo masuk," ajak Naruto.

"Ah tidak. Aku hanya ingin mengajak Sasuke ke sekolah," jawab Naruto. Mikoto mengerucutkan bibirnya.

"Sasuke belum bangun. Dia susah sekali bangunnya. Kau yang bangunkan ya?" kata Mikoto sambil tersenyum.

"Eh?" tanya Naruto. Tapi sebelum dia sempat menjawab, dia sudah ditarik masuk oleh Mikoto ke dalam rumah keluarga Uchiha.

Ruang tamunya sederhana tapi elegan. Ada sofa empuk dan lampu gantung yang membuat ruang tamunya tampak indah. Lalu, dari ruang tamu langsung menuju meja makan. Meja makannya berhadapan dengan ruang keluarga dan disana ada sebuah TV LCD besar dan home theater. Di samping ruang keluarga ada dua kamar tidur. Dia belakang ruang makan, ada dapur dan aroma masakan Mikoto tercium. Di samping dapur ada tangga.

"Kamar Sasuke ada di atas. Kau kesana saja ya. Bibi mau menyiapkan sarapan dulu," kata Mikoto sambil tersenyum.

"Etto… Kemana Itachi-san dan Fugaku-san?" tanya Naruto bingung. Mikoto hanya tersenyum

"Fugaku-kun sudah berangkat duluan tadi pagi dengan Itachi-kun," jawab Mikoto. Naruto hanya mengangguk mengerti dan menuju lantai dua.

'Haah. Ini merepotkan... Masa aku disuruh membangunkan orang yang tidak begitu dekat sih?' batin Naruto sambil menaiki tangga menuju lantai dua.

Dilantai dua, ada sebuah ruang keluarga kecil yang berisi sebuah sofa dan sebuah TV LCD. Lalu ada dua buah kamar. Ada satu kamar yang pintunya terbuka lebar dan kosong, jadi Naruto beralih ke kamar yang masih di tutup.

TOK! TOK! TOK!

Tak ada jawaban.

"Aku masuk," kata Naruto pada dirinya dan dia membuka pintu kamar itu.

Gelap.

"Haah…" Naruto menghembuskan napasnya. Lalu dia berjalan menuju jendela dan membuka lebar jendela itu sampai sinar matahari bisa masuk ke dalam kamar gelap itu.

"Ugh…" rintih seseorang yang merasa kesilauan. Dia merapatkan selimutnya dan menyamankan diri lagi.

"Hei, bangun,' kata Naruto sambil mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke.

"Sebentar lagi," kata Sasuke sambil menyamankan posisi tidurnya. Dia berbalik memunggungi Naruto dan merapatkan selimutnya.

"Hei… Sasuke… Ayo bangun…" Naruto mengguncang-guncang tubuh Sasuke lagi.

"Ck… Urusai…" keluh Sasuke. Naruto melihat jam tangannya dan masih tersisa 20 menit sebelum bel pelajaran pertama.

GUBRAK!

Di dorongnya Sasuke sampai jatuh dari tempat tidurnya yang sontak membuat Sasuke terbangun seketika. Dia menatap nyalang Naruto.

"Kau…! Apa yang kau lakukan disini Hah!?" kata Sasuke marah. Bagaimana tidak marah jika tiba-tiba ada yang mendorongmu sampai jatuh dari tempat tidur? Naruto memandangnya datar.

"Cepat ganti bajumu. 20 menit lagi kita masuk," kata Naruto sambil mengambil selimut Sasuke dan menaruhnya di kasur.

"Cih! Lalu memangnya kenapa?" tanya Sasuke nyalang.

"Aku ini Ketua OSIS. Dan aku tak akan membiarkan siapapun yang berada dekat denganku terlambat" kata Naruto. Sasuke mendengus.

"Kalau aku tidak mau?' tanyanya dingin.

"Kau tahu apa yang akan 'terjadi'," kata Naruto yang membuat Sasuke terbelalak.

"Kau…!" geram Sasuke. Tapi Naruto hanya menatapnya datar.

"Tak ada gunanya marah padaku sekarang. Lebih baik kau ganti bajumu," kata Naruto sambil membereskan tempat tidur Sasuke. Sasuke – yang entah kenapa – hanya beranjak menuju kamar mandi untuk berganti baju.

.

.

.

"Bibi, kami berangkat ya," kata Naruto di depan gerbang rumah Sasuke dengan Sasuke berada di belaknagnya.

"Ya. Hati-hati," balas Mikoto. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju ke sekolah

Hening…

Entah kenapa suasana mendadak hening seperti ini. Naruto tak tahu kenapa, tapi dia merasa gugup sekali. Padahal biasanya juga dengan Sakura tidak seperti ini melirik kearah Sasuke yang berjalan di sebelahnya yang tampak tak peduli pada penampilannya.

Rambut acak-acakan, baju seragam tak rapih, dan peralatan sekolah tidak lengkap. Tidak memakai ikat pinggang, sepatu berwarna abu-abu, kaos kaki berwarna hitam dan dasi yang tidak diikat dengan rapi.

"Hei Sasuke. Tak bisakah kau berpakaian rapi?" tanya Naruto memecah keheningan. Tapi Sasuke mengabaikannya. Naruto menahan kesal.

"Hei, aku bicara padamu," kata Naruto sedikit keras. Tapi Sasuke hanya melirik Sasuke sekilas dan mengabaikannya.

"HEI TEME!" kata Naruto pada akhirnya. Sasuke mendengus.

"Kau berisik sekali Dobe," kata Sasuke malas. Naruto terbelalak kaget. 'D-Dobe? Dia memanggilku Dobe?' batin Naruto.

"K-Kau! Berani sekali memangggilku 'Dobe' Teme!" kata Naruto marah. Sasuke menatapnya.

"kau saja memanggilku 'Teme' Dobe," jawabnya dengan nada mengejek.

Kalah telak.

Naruto tak bisa membalas perkataan Sasuke. Jadi Naruto hanya menahan kesal dan berjalan cepat menuju sekolah, meninggalkan Sasuke di belakang.

'Oh… jadi ini sifat asli Ketua OSIS yang teladan ya? Menarik sekali,' batin Sasuke sambil menyeringai. Ah… Sepertinya dia akan tinggal sedikit lebih lama di SMA Konohagakure ini.

.

.

.

"Ada apa dengan wajahmu Naruto?" tanya Kiba ketika Naruto masuk ke kelas mereka.

"Tidak ada," jawab Naruto acuh sambil menaruh tasnya di bangkunya dan memandang keluar kelasnya.

"Haa…. Bosan sekali," kata Naruto sambil menaruh kepalanya di atas meja menunggu bel berbunyi.

.

.

.

"Jadi, kalian akan bekerja dalam kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Bisa dibilang, kalian akan bekerja dengan teman sebangku," jelas Iruka di depan kelas. Naruto mengangkat tangannya.

"Ya, Uzumaki-kun?" Iruka melihat Naruto.

"Ano... Sensei, teman sebangku saya tidak masuk. Jadi bagaimana?" tanya Naruto sopan.

"Kau bisa bekerja dengan Uchiha-kun. Dia juga sendirian," kata Iruka. Naruto mencelos. Dia harus bekerja sama dengan si nyolot Uchiha? Hell NO! Tapi, dia juga tak punya pilihankan? Tidak mungkin dia menolak dan bekerja sendirian. Nanti dia dibilang sombong dan reputasinya akan buruk. Jadi, mau tidak mau dia harus menerimanya. Naruto hanya mengangguk kaku.

"Jika tak ada pertanyaan lagi kalian bisa bekerja sekarang," kata Iruka dan siswa XI IPA 3 mulai bekerja. Naruto melihat Sasuke yang sama sekali tidak berinisiatif pergi ke tempat duduknya. Jadilah Naruto yang menghampiri Sasuke dan duduk di sebelahnya.

Hening…

"Hei, jadi kapan kita akan bekerja?" tanya Naruto memecah keheningan. Tapi Sasuke hanya mengangkat bahu tak acuh. Itu membuat Naruto semakin kesal pda lelaki ini.

"Hei, aku bicara padamu," kata Naruto mulai kesal. Tapi Sasuke hanya membolak-balik halaman bukunya dengan bosan tapi mash tetap mengacuhkan Naruto.

"TEME!" teriak Naruto pada akhirnya – tak lupa ia menggebrak meja.

"Ada apa Uzumaki-kun?" tanya Iruka. Begitu Naruto sadar, satu kelas sedang melihatnya.

"Ah… Sensei.. Etto... Tidak ada," kata Naruto canggung.

"Kau bisa berdiskusi dengan tenang dengan Uchiha-kun kalau begitu," kata Iruka yang membuat Naruto ingin terjun ke neraka. Banyak yang terkikik kecil dan Sasuke sendiri menyeringai kecil.

"I-Iya," jawab Naruto malu dan kembali duduk. Wajahnya panas dingin.

"Fuh... Ketua OSIS kita yang berwibawa ini ternyata bisa marah juga ya," kata Sasuke mengejek. Naruto hanya menahan kesalnya dan mulai mengerjakan sendiri tugas yang diberikan oleh Iruka.

Dia melirik Sasuke yang santai di sampingnya. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa sesantai itu padahal namanya menjadi blacklist di setiap sekolah. Tapi Naruto tak menanyakan hal itu. Dia hanya mengerjakan tugasnya dengan cepat sambil berharap dia tak pernah lagi sekelompok dengan Sasuke Uchiha.

.

.

.

Siangnya Naruto tidak ikut ke kantin. Dia berjalan menuju balkon untuk menenangkan pikirannya. Entah kenapa sejak tadi pagi dia emosian sekali. Dan dia berniat pergi ke balkon untuk menenangkan pikirannya. Karena bagaimanapun dia harus mampu mengontrol emosinya. Dia orang yang berpengaruh di sekolah, tak ada yang tak tahu mengenai Naruto Uzumaki. Si Ketua OSIS yang mengubah sekolah menjadi menyenangkan.

Niatnya hilang ketika dia melihat orang yang ada di balkon.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto menahan emosi bila berhadapan dengan orang ini. Orang itu tak merespon. Dia hanya duduk di tepi balkon sambil memejamkan matanya. Tapi Naruto tahu bahwa orang itu berpura-pura tidur. Naruto berjalan menuju kearahnya.

"Kau ini kenapa selalu mengacuhkan orang yang berbicara padamu sih?" tanya Naruto lagi. Orang itu membuka matanya dan menatap Naruto.

"Kau ini berisik sekali Dobe. Dan kau mengganggu tidur siangku," katanya dingin. Naruto mendengus.

"Berhenti memanggilku 'Dobe' Teme! Dan sejak kapan kau tidur siang?" tanya Naruto lagi. Tapi Sasuke lagi-lagi mengacuhkan Naruto dan sepertinya batas Naruto habis.

GREB!

Naruto mencengkram kerah baju Sasuke dan menatapnya nyalang. Tapi Sasuke hanya menatapnya datar. Dia sudah sering berkelahi, dan kalau hanya ini sih kecil.

"Kau mau mengajakku berkelahi heh?" tanya Sasuke meremehkan. Dia menyeringai tipis saat mengetahui cengkraman di kerah bajunya menguat dan gigi Naruto bergemelutuk menahan marah.

"Kau! Ada masalah apa denganku?" tanya Naruto.

"Tidak ada," jawab Sasuke seadanya.

"Kalau begitu – "

"Kau jangan terlalu ge-er. Aku mengacuhkan semua orang Dobe. Ternyata selain Dobe kau juga narsis ya?" sindir Sasuke. Naruto sontak membulatkan matanya.

"Apa yang kau katakan Hah!?" tanya Naruto keras. Sasuke menyeringai licik.

"Apa jadinya kalau anak-anak SMA Konohagakure tahu sifat asli Sang Ketua OSIS?" tanya Sasuke.

"Sifat asli? Jangan bercanda! Kau tak mengenalku," kata Naruto mengelak. Sasuke menyeringai.

"Sifatmu mudah dibaca. Dari pagi saat kau membangunkanku, aku tahu kau pemarah. Dari caramu membangunkanku, percakapan kita. Semuanya gampang dibaca Dobe," jelas Sasuke. Naruto tercengang. Sasuke menyeringai makin lebar mendapati reaksi Naruto.

Dengan mudah Sasuke menepis tangan Naruto yang mencengkram kerah bajunya dan berjalan masuk ke dalam gedung.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto.

"Mencari tempat yang lebih tenang untuk tidur dimana tidak ada seorang Dobe yang berisik," kata Sasuke meninggalkan Naruto.

'A-Apa? D-Dobe yang berisik? Teme Sialan!' batin Naruto sambil menahan marah.

.

.

.

"Kau kemana saja Naruto?" tanya Kiba ketika dia kembali ke kelas.

"Memangnya kenapa?" tanya Naruto smbil duduk di bangkunya.

"Aku ingin bertanya tentang Redoks," kata Kiba dan duduk di bangku sebelah Naruto.

"Mana yang tidak kau mengerti?" tanya Naruto. Kiba menunjuk beberapa soal dan dijawab dnegan mudah dengan Naruto.

Sasuke baru saja mau masuk ke kelasnya tapi niatnya hilang seketika. Dia melihat pemandangan yang – entah kenapa – membuatnya tidak suka. Naruto sedang mengajari Kiba tentang sesuatu. Sasuke tak tahu kenapa tapi dia tidak suka melihatnya.

"Cih! Dia memang seorang Dobe," kata Sasuke dingin dan pergi membolos.

.

.

.

"Ng?" Naruto melihat kearah bangku Sasuke yang kosong.

"Kau mau kemana Naruto? Kakashi-sensei akan masuk sebentar lagi," kata Kiba saat Naruto bangun mendadak.

"Anu… Sepertinya ada yang ketinggalan. Lagipula Kakashi-sensei tidak masuk hari ini kan?" jelas Naruto dan pergi dari kelasnya. Dia menyusuri koridor sekolahnya yang mulai sepi karena jam pelajaran sudah dimulai. Setiap adik kelas yang melewatinya selalu membungkuk memberi salam.

Sebenarnya itu berlebihan, lagipula Naruto bukan guru ataupun kepala sekolah di SMA itu. Hanya seorang Ketua OSIS. Dia mencari Sasuke di kelas-kelas kosong, ruang klub yang tidak terpakai lagi, tapi tidak ketemu.

'Kemana perginya si Teme itu?' batin Naruto sambil mencari-cari sekelilingnya.

Ck! Dia memang sedang berurusan dengan seorang 'Teme' rupanya!

To Be Continued

GOMENASAIIIIIIII!

HIATUS YANG LAMA SEKALI!

Tapi, pada akhirnya Update juga…

Hikssss….

Syukurlah ini bisa update juga…

Okay kita langsung ke balasan review…

BALASAN REVIEW:

Reikai Eran

Akan menyusul lawan 'kuat' untuk memperebutkan si 'Teme'

Ini udah lanjut… Hiks… meskipun sudah lapukan ini fict

Aku juga suka belajar bahasa asing. Paling suka belajar bahasa Mandarin dan Prancis. Aku sedang belajar bahasa Jepang juga lho.. (kok curhat?)

Naruto dan Sakura emang sengaja dibuat akur…

yuichi

Itu adalah rahasia Illahi…

Ini udah lanjut… :'))

mifta cinya

Ini udah lanjut….

Yuzuru Nao

Ini udah adegan SasuNaru lagi say…

Hibari-Sayaku Shiina

Kita liat nanti bagaimana author gabut dan semi-hiatus ini menulis reaksi Sakura saa hati Naruto sudah berlabuh di Sasuke

Vianycka Hime

Aku ingin menggambarkan bagaimana cinta itu bisa membuat orang sangan OOC

FayRin Setsuna D Fluorite

Ini sudah lanjut

Ahn Ryuuki

Chapter ini sudah SasuNaru lagi

Intinya, Audry minta maaf karena sudah hiatus lama sekali.

Iya, hampir 9 bulan (udah kayak orang hamil aja ye)

Yah…

Harapan Audry hanya satu…

Semoga kalian masih tetap setia baca fict-fict gak jelas Audry dan…

Last word…

RnR Please…