Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali mengumpulkan kesadarannya yang sempat menghilang, pertama kali yang dapat dilihatnya adalah sebuah langit-langit kamar yang bernuansa putih kemudian kepalanya menoleh kekanan dimana terlihat punggung seseorang yang asing baginya. Hinata berusaha bangun dari ranjang yang ia tiduri barusan, namun belum ia sempat mengangkat tubuhnya untuk bersandar pada kepala ranjang. Kepalanya mulai terasa pusing kembali, ia melihat tangan kanannya yang terdapat jarum infuse menusuk pergelangan tangannya.

Seseorang yang memunggungi hinata tersebut terhenyak dari lamunannya ketika ia mendengar suara derit ranjang menandakan pergerakan Hinata yang berada diatas ranjang miliknya. Pemuda itu menolehkan kepalanya pada Hinata, Hinata yang melihat pemuda itu berjalan kearahnya hanya terdiam 'Sasuke' batinnya.

Tidak, itu bukan Sasuke. Tapi kenapa wajahnya hampir mirip dengan kekasihnya? Apa ia sedang bermimpi lagi? Hinata mencoba mengerjapkan matanya sekali lagi. Mencoba memastikan penglihatannya yang mungkin salah lihat karena akhir-akhir ini dia memang selalu terbayang sosok Sasuke dimanapun ia selalu berada.

"sudah sadar?" Tanya pemuda itu padanya

Hinata hanya diam tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu, sekarang ia memang yakin kalau pemuda didepannya ini memang mirip Sasuke, tapi kenapa ini bisa terjadi. Tidak cukupkah Kami-sama menyikasanya dengan mengambil Sasukenya lalu kemudian sekarang ia ditemukan oleh seorang pemuda yang tidak ia kenali—pemida itu—mirip dengan Sasuke. Hanya saja warna rambutnya dan gaya rambutnya yang berbeda, pemuda ini memiliki rambut yang cukup panjang dan dikuncir ekor kuda dibelakang punggungnya.

Tidak mendapat jawaban, Itachi—nama pemuda itu—hanya menghela nafas sejenak dan meraih telfon yang berada disisi ranjang untuk memanggil seorang maid kekamarnya, "aku panggilkan maid untuk memebantumu memebersihkan tubuhmu,"ucapnya datar.

Hinata hanya menundukkan kepalanya tanpa bisa berkata apapun, karena sungguh ia samasekali belum mengenal pemuda ini. Bagaimana ia bisa membalas perkataan pemuda tersebut.

Hinata yakin jika ia membalas perkataan dari pemuda ini, ia malah akan bicara tergagap dan merasa terintidimasi olehnya, karena tatapan pemuda tersebut sangat tajam padanya. Ia takut kalau ia salah bicara sedikit aja orang ini akan memakannya hidup-hidup.

Hinata merinding memikirkan apa yang baru saja ia pikirkan.

Perhatiannya teralih pada pintu kamar yang menandakan masuknya seorang maid yang dipanggil Itachi.

"Itachi-sama, anda memanggila saya?"

Sekarang Hinata tahu kalau pemuda itu bernama Itachi, sepertinya ia pernah mendengar nama tersebut,'tapi dimana?' pikirnya.

Itachi menganggukkan kepalanya sekali kemudian mempersilahkan maid yang bernama Shizune itu untuk mengurus Hinata.

Tanpa sepatah katapun ia berlalau meninggalkan Hinata dan maid itu keluar kamarnya.

"nona Hinata, mari saya bantu anda bangun.." maid itu membantu Hinata bangun

"a-arigatou" Hinata tergagap karena tidak pernah dipanggil nona sebelumnya, "e e-eto…" lanjutnya ingin menyebut maid tersebut tapi diurungkannya karena ia tidak tau harus memanggil maid itu dengan apa.

Shizune yang mengerti maksud dari Hinata hanya tersenyum lembut pada nonanya yang yang satu ini seraya berkata, "panggil saya Shizune nona"

"ehm… Shizune-san" ucapnya lembut.

.

.

. A FANFICTION

BY: SHIROI NO TSUKI

TITTLE: NIGHTMARE

DICLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

GENRE: ROMANCE/DRAMA

WARNING: AU, OOC, TYPO'S, DON'T LIKE? DON'T READ!, DLL

PAIRING: ITAHINA

.

.

.

.

~NIGHMARE~

~CHAPTER 2~

.

.

.

Itachi menyenderkan kepalanya didepan pintu kamarnya yang baru saja ia tutup, sejenak ia memejamkan matanya merasakan perasaan yang sungguh tidak asing lagi dihatinya. Lagi, tiba-tiba perasaan ini muncul setelah begitu lama ia melupakannya, Hinata gadis itulah yang menyebabakan perasaannya yang dulu pernah ia kubur untuk adiknya Sasuke kini telah muncul kepermukaan hanya karena melihat gadis itu kembali berada pada pandangan matanya.

Itachi membuka matanya, ia terus berfikir bagaimana ini bisa terjadi padanya? Belum lagi Sasuke mempercayakan Hinata kepadanya, apa yang harus ia lakukan? Hinata memang tidak pernah mengenalnya sebelum-sebelumnya. Hanya dia yang mengenali Hinata dan terus memeperhatikannya dari jarak yang cukup jauh—tapi itu sudah lama, sebelum ia mengetahui kalau adiknya juga menyukai gadis yana sama denganya—tidak mungkin Hinata akan berpaling padanya setelah kehilangan Sasuke.

Sudah pasti Hinata akan tetap sendiri tanpa orang yang dikasihi disampingnaya, rasanya mustahil Itachi akan mendapatkan hati Hinata dengan mudah setelah kejadian yang dialaminya.

Kenapa? Seharusnaya ia merasa senang bahwa tidak ada lagi yang menghalanginya untuk mendapatkan Hinata, seharusnya Itachi beryukur kematian Sasuke membawanya pada Hinata. Harusnya ia bangga bahwa Sasuke telah meyerahkan tanggungjawabnya padanya.

Tidak, Itachi tadak bisa sejahat itu pada ornag-orang yang disayanginya—Hinata dan Sasuke—ia tidak bisa merasa senang akan kematian Sasuke karena Sasuke adalah adiknya—adik yang paling disayanginya—bagaimana itachi bisa bersyukur akan kematian adiknya tersebut.

Dan ia pun tidak pantas untuk merasa senang karena tidak ada lagi penghalang untuknya, untuk mendapatkan Hinata.

Itachi tidak sejahat itu..

Mengenyahkan pikiran yang ada, iapun melangkahkan kakinya menjauh dari pintu dibelakangnya menuju taman yang berada dibelakang halaman mansion Uchiha.

'melihat pemandangan taman mungkin sedkit bisa meneangkan pikiran' batinnya dalam diam Itachi mulai melangkan kakinya dengan pasti menelusuri mansion tersebut menuju taman.

.

.

.

.

.

.

Hinata dengan ragu mulai megangkat pembicaraan pada Shizune yang kini telah sibuk membereskan pakaian Hinata, "a a-ano.. Shizune-san, i-ini dimana?" tanyanya, jujur Hinata masih bingung dengan keberadaanya sekarang. Ia tidak pernah melihat orang yang bernama Itachi sebelumnya dan ia juga tidak pernah mengenal tempat ini sebelum-sebelumnya.

Sejenak Shizune menghentikan pekerjaannya untuk menjawab pertanyaan Hinata. "ini adalah kediaman Uchiha. Nona, tempat almarhum tuan muda Sasuke dan tuan Itachi tinggal.."

"Sa-Sasuke?" Hinata kaget bukan main dengan ucapan Shizune barusan

Shizune hanya menganggukkan kepalanya.

"Sasuke t-tinggal disini? Bu-bukankah dia tinggal di apartemen?" tanyanya lagi

"apa yang anda maksud apartemen milik Itachi-sama? Sasuke-sama memang sering menginap disana apabila Itachi-sama tidak berada dimansion ini nona…"

"siapa?" tanya Hinata bermaksud menayakan orang yang disebut Shizune itachi.

Shizune tersenyum menangggapi pertanyaan beruntun Hinata, "Itachi-sama adalah kakak tuan muda Sasuke-sama." Jawabnya

Hinata terperangah, bagaimana ia bisa tidak tahu kalau Sasuke sebenarnaya mempunyai kakak, dan iapun tidak menyangka bahwa Sasuke adalah anak dari keluarga terpandang melihat betapa megahnya kamar yang ia tempati saat ini—ini hanya kamar saja, lalu bagaimana dengan ruangan lainnya—Sasuke memang tidak pernah menceritakan tentang keluarganya disaat mereka masih bersama dulu, yang Hinata tahu Sasuke adalah pemuda dingin yang sederhana dan tinggal diapartemen yang sederhana pula.

Jujur, Hinata sedikit kecewa kepada Sasuke karena Sasuke tidak pernah menceritakan apapun padanya. Hinata menjadi merasa menjadi gadis yang tidak berguna mengetahui kebenaran tentang ini setelah Sasuke telah tiada.

Mungkin jika Sasuke masih berada disisinya Hinata akan marah dan kembali memukul hidung Sasuke yang tanpa dosa tersebut, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ia teringat dimana ia memukul wajah Sasuke yang innocent itu untuk terakhir kalinaya, tanpa ia sadari air mata kembali menetes membashi pipinya.

Shizune yang melihat hal tersebut segera mendekati Hinata, "nona, maaf saya mungkin telah mengungkit hal tentang Sasuke-sama"

"iie, t-tidak apa-apa Shizune-san." Hinata tersenyum pada Shizune, senyum palsu yang ia paksakan menghiasi wajahnya yang sendu.

Senyum tulus yang dulu ia punya, mungkin tidak akan ia tunjukkan lagi setelah semua yang terjadi. Hinata mungkin bisa menipu orang lain dengan senyuman palsu itu, tapi tidak untuk dirinya sendiri.

Ia tidak akan pernah bisa memebohongi dirinya sendiri dengan senyuman itu, walaupun wajahnya tersenyum mungkin sekarang hatinya menjerit kesakitan dan meronta untuk bisa menunjukkan betapa sakit yang ia alami sekarang.

Semenderitanya kah ia? Hinatapun tidak tau bagaimana perasaannya saat ini, Hinatapun ditanggung beban rasa bersalah kepada kakak Sasuke. Karena jika bukan karena ia yang menginginkan permen kapas, Sasuke tidak akan pernah mengalami kecelakaan tesebut.

Tiba-tiba hatinya muncul rasa bersalah yang besar, rasa menyalahkan dirinya sendiri.

Karena dirinyalah Sasuke kecelakaan

Karena dirinyalah Sasuke kecelakaan

Karena dirinyalah Sasuke kecelakaan

Rasa pusing kembali menyerang kepalanya, kedua tangnya dengan cepat menjambak rambutnya sendiri untuk menghilangkan rasa sakit itu. Hinata merintih kesakitan, bahkan ia tidak tau apa yang sekarang terjadi pada dirinya. Kenapa kepalanya menjadi sesakit ini?

Shizune yang melihat hal tersebut kembali menenagkan Hinata, ia sangat panik ketika Hinata malah meronta saat tubunya disentuh olehnya.

Shizune pun mengambil inisiatif untuk memanggil tuannya—Itachi-, dengan cepat ia memanggil maid yang berada diluar kamar yang kebetulan melewati kamar Itachi untuk menyuruhnya memenggil Itachi. kemudian ia meraih gagang telpon keluarga Uchiha dan memencet nomor yang sudah sangat ia hapal untuk memanggil dokter pribadi keluarga Uchiha.

.

.

.

.

.

.

Dokter yang tadi di panggil oleh Shizune telah menyelesaiakn pemeriksaannya terhadap Hinata. Kini dokter yang bernametag Kabuto itu menghampiriri Itachi yang duduk menunggu di balkon kamarnya menunggu pemeriksaan selesai.

"Itachi-san," panggil Dokter Kabuto

Itachi menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat orang yang sedang memanggilnya, kemudian dokter itu tersenyum ramah kepada Itachi dan melangkahkan kakinya menghampiri pemuda tersebut.

Tanpa mengatakan sepatah katapun Kabuto sudah menegerti apa yang sekarang dipikirkan Itachi—keadaan gadis itu—

"dia hanya mengalami sedikit trauma dengan kejadian yang telah menimpanya, munkin jika dia diajak berlibur untuk menghilangkan pikiran negative yang terus dialaminya saat ini, itu akan menghilangkan sedikit rasa trauma itu."jelas dokter itu

"anda menghawatirkannya bukan? Mungkin jika Itachi-san bisa menghilangkan perasaan Hinata-san terhadap Sasuke-san, itu adalah obat terbaik untuk Hinata-san saat ini."lanjutnya sembari tersenyum penuh arti kepada Itachi.

Itachi hanya diam tidak menanggapi ucapan dokter tersebut, ia hanya mengadahkan kepalanya menatap langit yang sekarang telah menurunkan butiran salju.

Baginya, saran dokter tersebut sangat sulit untuknya. Ditambah lagi membuat Hinata melupakan Sasuke? Itu terasa sangat mustahil baginya.

Karena ia tahu Hinata tidak akan pernah bisa melupakan Sasuke…

"sulit,"ucapnya singkat

Dokter itu hanya mengerutkan alisnya meminta pejelasan yang lebih jelas pada Itachi

Itachi menoleh pada sang dokter "bagaimana bisa—"suaranya tercekat oleh perkataannya yang hampir dikeluarkannya barusan. 'bagaimana bisa aku membuatnya melupakan Sasuke?'lanjutnya dalam hati

Mungkin...

Mungkin dokter Kabuto mengetahui maksud yang ingin disampaikan Itachi padanya

"cinta…"jawab dokter itu mantap

"dengan perasaan Itachi-san saat ini mungkin saja itu akan membuatnya melupakan traumanya tersebut."

"ah…tidak, bukan melupakan Sasuke-san. Tapi membuat hatinya berpindah pada Itachi-san,"koreksi dokter itu lagi memperbaiki kata-kata yang diucapkannya sebelumnya

Itachi hanya diam tidak menanggapi ucapan sang dokter, ia hanya terus menatap dokter itu dengan diamnya.

Kabuto yang terus ditatap merasa tidak nyaman dengan tatapan yang Itachi berikan padanya. Akhirnya dokter muda itu hanya bisa menghela napas pasrah "haaah baiklah, pemeriksaan saya sudah selesai, saya harus pamit pulang dulu. Selamat siang" salamnya kepada Itachi

"hn" hanya itulah kata yang dikeluarkannya. Tidak, tapi itu adalah hanya sebuah gumaman belaka

Dokter itu menutup pintu kamar Itachi tempat ia memeriksa Hinata, ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri mengingat nasihat yang disampaikannya pada Itachi barusan. Mungkin ia bukan hanya dapat menjadi dokter untuk orang sakit. Tapi ia juga bisa menjadi dokter cinta buat Itachi.

Mengingat hal tersebut memebuatnya sedikit terkikik geli hingga mengakibatkan para maid yang berpapasan dengannya menatap penuh keheranan.

.

.

.

.

.

Angin dingin yang berhembus dari jendela yang tidak tertutup menimbulkan perasaan dingin terhadap penghuni kamar yang kini telah tersadar dari obat penenang yang diberikan oleh dokter yang telah memeriksanya beberapa saat lalu—Hinata—sedikit menggigil akibat perbuatan hembusan angin tersebut.

Perlahan matanya terbuka menampilkan mutiara khas pemilik mata keluarga Hyuuga, menggeliat setelah beberapa menit hanya terdiam dari tempat tidur sekedar untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena tidur berkepanjangan.

Hinata duduk diatas tempat tidurnya, kemudian mulai berdiri dan melangkahkan kakinya yang telanjang menuju jendela yang membuat angin berhembus itu masuk.

Langit menampakkan warna merah berkabut menanadakan bahwa sekarang telah menjelang malam,

Tok tok tok…

Terdengar suara pintu diketuk dari luar kamar yang saat ini ditempati Hinata, segera ia menolehkan kepalanya kearah pintu tersebut.

Seorang maid yang sudah dikenali Hinata yang bernama Shizune itu masuk setelah terdengar suara dari ketukan pintu tadi, "anda sudah bangun, nona?"ucapnya lembut

Hinata hanya menganggukkan kepalanya sekali tanda ia menjawab pertanyaan dari pelayan itu.

"Itachi-sama telah mengunggu anda diruang makan untuk makan malam,"ucapnya sembari menuntun Hinata menuju ruang makan.

Hinata hanya mengikkuti langkah Shizune dengan diam, terlintas dipikrannya kalau ia belum pulang ke apartemen yang disewanya sejak kemarin sore.

Dengan tiba-tiba langkahnya terhenti begitu mengingat hal tersebut, "a a-ano S-Shizune-san."panggilnya

Shizune menolehkan kepalanya pada Hinata "ada apa nona?"ucapnya lembut.

"a-aku harus p-pulang, maaf aku harus m-melihat keadaan a-apartemenku…"

"tapi anda harus menemui Itachi-sama dulu nona"

Diam

Hinata tidak dapat memebantah perkataan Shizune, dengan langkah yang berat Hinata kembali mengikuti Shizune yang memebawanya pada kakak Sasuke menuju ruang makan.

.

.

.

.

.

Diruang makan Itachi sudah mati kebosanan menunggu seorang gadis yang disukainya—Hinata—ia mengetuk-ketukkan jarinyan diatas meja makan yang berbahan dasar kayu jati tersebut tanda ia tidak sabar menunggu gadis itu, Itachi berdecak kesal saat tidak ada tanda-tanda kemunculan Hinata. Tatapan matanya terarah pada dinding yang terdapat sebuah jam dinding 'sepuluh menit'ucapnya dalam hati, Itachi telah menunggu Hinata selama sepuluh menit yang menurutnya itu adalah waktu yang cukcup lama, ia memang orang yang tidak suka menunggu lama. Lagipula salahkan orang tuanya sendiri kenapa membuat mansion yang begitu besar hingga membuat Hinata mesti berjalan lama untuk menuju ruang makan.

Tak berapa lama suara langkah kaki menggema menimbulkan khas suaranya yang berbunyi nyaring, Itachi yang sudah tidak sabar menunggu segera menolehkan kepala kearah sumber suara, wajahnya sedikit senang saat ia mengira suara langkah kaki itu adalah langkah kaki Shizune yang memebawa Hinata.

Tapi perkiraannya salah besar, karena yang datang bukanlah Hinata melainkan pelayan pribadinya, wajahnya sedikit merengut ketika mendapati hal tersebut.

"Itachi-sama, ada telpon untuk anda"ujar pelayan itu sembari menyodorkan telpon genggamnya kepada Itachi

Itachi langsung menyambar telpon tersebut dan mulai berbicara pada lawan bicaranya ditelpon.

Ketika Itachi masih berbicara lewat telpon, Hinata bersama Shizune datang tanpa disadari oleh Uchiha sulung. Shizune mempersilahkan Hinata duduk disebernag meja yang diduduki Itachi saat ini.

Sesaat aktifitas Itachi berhenti ketika melihat Hinata duduk diseberangnya, dengan cepat ia memutuskan obrolannya melalui telpon tersebut. ia menyerahkan telpon genggam itu pada pelayan pribadinya dan menyuruh semua pelayan—Shizune dan pelayan pribadinya—untuk keluar dari ruang makan.

Hinata hanya menundukkan kepalanya ketika Itachi telah selesai dalam perbincangannya melalui telpon dan telah menyuruh para pelayannya untuk keluar dari ruang makan.

"g-gomen, aku harus pulang,"Hinata mulai berdiri dari tempat yang ia duduki

"tunggu!"cegah Itachi dengan suara datarnya

"ya?"sahut Hinata mulai menciut dihadapan Itachi

Itachi yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Hinata hanya mendesah pelan, "sebegitu takutkah kau padaku?"tanyanya. tidak, mungkin itu adalah suatu pernyataan

Hinata makin menundukkan kepalanya "g go-gomen…"

Senyum tipis terpatri dibibir tiptis Itachi, tipis—sangat tipis malah—sehingga siapapun orang itu tidak akan pernah menyadari bahwa ia sedang tersenyum,

"kau tidak akan kuperbolehkan pulang sebelum makan malam Hinata"

Hinata mendongakkan kepalanya menatap langsung kearah mata iitachi, sejurus kemudian ia dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain mencari objek apapun selain orang diahdapannya ini. Ia sangat takut kepada Itachi—takut Itachi akan marah padanya karena ialah yang menyebabkan Sasuke kecelakaan—mata Hinata mulai berkaca-kaca menanadakan bahwa sebentar lagi mungkin ia akan menangis.

"a-aku tida—"

"kau harus makan"mata Itachi mengintimidasi, membuat Hinata tidak bisa lagi menahan air matanya—ia untuk kesekian kalinya harini menangis—lagi—

Melihat hal tersebut Itachi merasa hatinya tercabik-cabik oleh benda tajam tak kasat mata. Karena ia Hinata menangis, karena Itachi Hinata merasa ketakutan. Apa karena ia begitu menakutkan bagi Hinata?

Itachi berinisiatif untuk mengambil sendok yang berada didepan Hinata dan mengambil makanan yang berada diatas piring, dan mulai menyendokkannya kepada Hinata.

Hinata mengalihkan perhatiannaya kepada sendok yang berada dihadapannya—tepat didepan mulutnya—air matanya telah berhenti mengalir sejak Itachi menyodorkan sendok tersebut kepadanya.

Ia—Hinata—menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau dengan ajakan Itachi, sekali lagi Itachi membujuknya , "makanlah! Sesendok saja…"

Kali ini mungkin dengan ucapan Itachi yang mulai melembut Hinata akhirnya sedikit membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Itachi, sejenak ia menghentikannya. "b-biar a-aku saja y-yang—"

"baiklah"putus Itachi memeotong ucapan Hinata, "kau terlalau gagap"komentarnya.

Hinata sedikit mengembungkan pipinya tanda ia kesal atas ucapan Itachi barusan, lantas ia mengambil sendok yang masih bertengger di tangan Itachi kemudian memakan makanan yang terdapat di sendok, sedikit mengunyah makanana itu tanpa perasaan dan meletakkan sendok yang dipegangnya begitu saja diatas meja makan.

"s-sudah, sekarang a-aku boleh pulang kan?" tanyanya, Hinata mulai berdiri beranjak dari tempat duduknya.

"tunggu…"lagi-lagi Itachi menghentikan langkahnya.

Hinata hanya diam atas panggilan dari kakak Sasuke tersebut, Hinata hanya menolehkan kepalanya sebebntar lalu kembali menundukkan kepalanya—lagi—

"biar ku antar" ucapan itachi spontan memebuat Hinata mendongakkan kepalanya—lagi—dan mengernyitkan alis heran.

Tanpa bicara sepatah katapun ia hanya mengikuti langkah Uchiha sulung yang akan memebawanya entah kemana, mungkin kedepan rumah. Ya mungkuin saja, ia hanya mengantar Hinata sampai depan mansion maksudnya—bukan mengantar Hinata sampai apartemennya—mana mungkin orang searogan dia mau berbaik hati pada Hinata hinggan mengantarnya sampai apartemen Hinata.

.

.

.

.

.

Didepan pekarangan mansion Uchiha Hinata hanya duduk diam menunggu—entah menunggu apa—yang jelas ia disuruh menunggu oleh sang tuan rumah duduk yang manis diatas bangku yang telah disediakan diperkarangan tersebut dan menunggu. Iapun jadi bingung terhadap dirinya sendiri, kenapa ia mau menunggu orang itu? Untuk apa coba? Kenapa ia tidak langsung pulang? Padahal gerbang yang tinggi menjulang itu sudah ada di depan mata. Lantas kenapa ia masih tetap duduk manis bertengger dibangku ini?

Iapun tidak tau kenapa, lelah berpikiran yang demikian. Iapun mencoba menghela napas beberapa kali.

Tarik-keluarkan

Tarik-keluarkan

Tarik-keluarkan

TIN TIIIIIIIIN

Suara klakson mobil memebuyarkan konsentrasi kegiatannya yang dilakukannya barusan, sedikit kesal karena kegiatannya untuk menenangkan diri terganggu oleh suara berisik tersebut.

Tapi…

Hinata kembali menciut setelah mengetahui siapa yang membunyikan klakson mobil didepannaya, siapa lagi kalau bukan si tuan rumah? Apa maksudnya memebunyikan klakson mobil di hadapan Hinata? Ingin pamer kalau dia punya mobil mewah yang tidak mungkin dimiliki oleh Hinata?

Hinata hanya berdiri mematung tanpa bergerak sesentipun dari tempatnya sekarang, ia hanya memerhatikan pemuda tersebut yang keluar dari mobilnya dan menghampiri Hinata.

"a a-apa?"ucap Hinata gagap setelah pemuda itu berdiri dihadapannya

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Itachi memebukakan pintu mobil penumpang untuk Hinata,"masuklah!"perintahnya dengan nada yang mengintimidasi—lagi—

Takut menolak, Hinata menurut saja apa kata Itachi. Ia pun memasuki mobil dan duduk dikursi penumpang. Hinata memerhatiakn langkah Itachi yang mengitari mobil untuk menduduki kursi kemudi yang ada disebelahnya.

Dengan ragu ia bertanya "k-kemana?"

"pulang…"

Hinata mengernyitkan alisnya

"p-pulang?"

Itachi mengangguk sembari mulai menjalankan mobilnya

"bukankah sudah kubilang, aku akan mengantarkanmu pulang"ucapnya serius tanpa melihat gadis yang diajaknya bicara—ia hanya fokus pada jalanan—

"a—emh…"hanya itu yang dapat Hinata ucapkan

"kenapa?"

"t-tidak apa-apa"

"kau mengira aku hanya akan mengantarkanmu sampai depan gerbang mansion?"ucap Itachi tepat mengenai sasaran seperti yang dipikirkan oleh hinata beberapa saat yang lalu.

Hinata hanya menganggukan kepalanya tanda ia memang berpikiran seperti itu, "payah…"gumam Itachi yang hanya terdengar seperti bisikan

"a-apa?"Hinata yang tidak mendengar ucapan Itachi mencoba bertanya lagi padanya

"hn"hanya itulah jawaban dari Itachi, Hinata hanya diam tidak mendapatkan respon dari pemuda tersebut. setelahnya hanya keheningan yang tersisia dari mereka berdua. Hanya suara halus dari mobil Itachilah yang menemani kesunyian mereka.

.

.

.

.

.

.

Sampai didepan apartemen Hinata yang sederhana, Hinata keluar dari mobil Itachi tanpa menunggu sang pemilik mobil memebukakan pintu mobil untuknya.

Itachi membuka kaca mobil disampingnya karena Hinata mengetuk-ngetukkan jarinya pada kaca tersebut, ia—Hinata—sedikit menundukan tubuhnya agar sejajar dengan kaca yang telah dibuka oleh Itachi

"a-arigatou U-Uchiha-san"

"hn…"lagi-lagi hanya respon seperti itu yang didapat dari Hinata, merasa sedikit kesal Hinata langsung menegakkan tubuhnya kembali dan membalikkan tubuhnya menuju depan apartement yang disewanya untuk masuk kedalam apartemen tersebut.

Dengan sepersekian detik Itachi langsung menancapkan pedal gas mobil miliknya dengan kecepatan tinggi meninggalkan apartement milik Hinata.

Hinata berjalan sedikit terseok menuju kamarnya, jujur ia sangat kesal pada kakak Sasuke itu. Hinata berpikir kalau kakak dengan adik sifatnya sangat berbeda, jika dibandingkan dengan Itachi, Sasuke mempunyai sifat yang lebih lembut terhadap Hinata walaupun cara bicara dan tingkah mereka sama-sama dingin.

Tapi…

Tunggu…

Sesaat Hinata kembali berpikir lagi, bukankah tadi Hinata tidak memberi tahu itachi alamat apartementnya? Lalau kenapa Itachi bisa mengetahuinya? Lagi-lagi Hinata dibuat bingung dengan sikap Itachi yang tahu tentang Hinata. Bahkan apa yang dipikirkan Hinatapun itachi bisa tahu.

Menghilangkan pikiran tersebut, setelah sampai menuju kamarnya ia langsung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang miliknya yang berukuran queen size.

Sepi

Itulah yang dirasakan Hinata saat ini, seandainya saja ada kakaknya—Neji—pasti Hinata tidak akan merasakan sepi. Tidak, seandainya ada Sasuke yang menemaninya sekarang Hinata tidak akan merasakan kesepian.

Hinata memegang telah tinggal sendirian diapartementnya setelah Neji—kakaknya—tidak lagi tinggal bersamanya disini, Neji diharuskan meneruskan usaha ayah mereka—rumah makan sederhana—yang berada di Konoha—desa tempat kelahirannya dan semua keluarganya tinggal—sekarang jadilah Hinata hanya sendirian tinggal diapartement ini.

Dulu…

Sebelum ia belum mengenal Sasuke.

Tapi setelah kehadiran Sasuke disisinya Hinata tidak pernah merasa kesepian, karena pemuda itulah yang selalu menemaninaya, selalu menjaganya, selalu menghiburnya.

Dan sekarang Hinata kembali merasa kesepian karena Sasuke tidak ada lagi disisinya, kembali—sendiri—

Hinata memebalikkan tubuhnya yang terlentang menjadi menyamping kesisi kanan, bulir air matanya menjatuh mengenai bantal yang menjadi sandaran kepalanya.

Tangannya mengepal erat menggenggam alas kasur dari ranjang tersebut

Sakit

Sakit sekali…

Itulah yang dirasakan Hinata pada ulu hatinya sekarang ini, kenapa? Kenapa semua orang yang ia cintai selalu meninggalkannya? Kenapa disaat Hinata benar-benar membutuhkannya, semuanya telah meninggalkannya.

"S-Sasuke-kun…"lirihnya sembari menutup matanya meninggalkan dunia yang menyakitkan ini kedunia mimpi, ia berharap semoga yang dialaminya sekarang hanyalah mimpi. Mimpi yang buruk, hingga ia dibangunkan oleh seseorang yang dicintainaya—Sasuke—.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Hyaaaaa akhirnya selese juga~~~

Gomen kalo cap ini memebingungkan,*sebenarnaya authornya pun juga bingung ama ceritanya*

Makasih bagi yang udah ngeriview chap 1

Suzu Aizawa

Sasuhina-caem

Mamoka

nona fergie

yap akhirkata silahkan tinggalkan pesan kalian lewat review!

*kaburrr*

Shiroi No Tsuki