Seorang gadis menginjakkan kakinya pada jalanan beraspal menuju sekolah, angin berhembus sedikit kencang sehingga membuat bunga sakura yang awalnya bertengger diranting pohon kini telah berguguran melukiskan indahnya musim semi pagi ini.
Gadis itu—Hinata—melihat sebentar pemandangan dimana kelopak bunga sakura yang melayang diterpa angin musim semi pagi ini, bibir tipisnya mengembangkan senyum yang sedikit terlihat getir. Aroma sakura menguar menusuk indra penciumannya, mungkin hal ini akan sedikit menenangkan pikirannya.
Kembali Hinata melanjutkan perjalanannya kesekolah, dengan langkah ringan ia menapakkan kakinya menuju sekolah yang selama ini sudah dua tahun ia menjenjang pendidikan disana.
Musim semi menandakan kalau sekarang adalah tahun ajaran baru disekolahnaya, sekarang Hinata telah menjadi murid paling senior disekolahnya, beberapa murid yang baru masuk ditahun ini pun juga telah ramai melangkahkan kaki mereka kesekolah baru mereka—Tokyo High School—
Sampai digerbang sekolah, Hinata ternyata telah ditunggu beberapa temannya yang menyambutnya dengan senyuman hangat mereka.
"HINATAAA" Teriak salah satu temannya yang mempunyai cirri khas, yaitu rambut merah muda sewarna denagan warna bunga Sakura yang sekarang telah bermekaran.
Hinata hanya menanggapinya dengan senyuman lembutnya yang biasa, Hinata memang sudah terbiasa dengan tingkah dari kekasih Naruto ini—Sakura—memang selalu terlihat bersemangat jika ada Naruto disampingnya—seperti sekarang ini—
Naruto yang melihat tingkah kekasihnya tersebut hanya menyunggingkan senyuman padanya, sejurus kemudian ia melambaikan tangan kanannya pada Hinata.
Teman Hinata yang lain—Ino—telah menghampiri Hinata dan menggandeng tangannya untuk memebawa Hinata pada papan pengunguman yang telah dipajang sejak beberapa menit lalu—papan pengugnuman pembagian kelas—
"Hinata lihat! Kita semua sekelas lagi," Ucap Ino girang sambil menunjuk papan pengunguman tersebut
"B-benarkah I-Ino-chan?"
Ino menganggukkan kepalanyua riang.
"Ayo kita cepat kekelas Hinata." Ajak Sakura yang baru saja tiba menghampiri mereka
"Ayo!" Ucap Hinata tak kalah riang
Mereka berlima akhirnaya menuju kelas yang sekarang akan mereka tempati untuk menjenjang pendidikan terakhir disekolah tersebut.
Tiga bulan telah berlalu…
Kejadian mimpi buruk yang dialami Hinata akan kehilangan Sasuke. Bukan, itu bukanlah mimpi buruk tapi itu adalah memang sebuah Fakta.
Kenyataan yang selama ini telah membuatnya berusaha keras untuk bangkit kembali dari keterpurukan akan kehilangan Sasuke, sekarang ia telah bisa bangkit dari keterpurukan tersebut walaupun belum sepenuhnya.
Ini akibat teman-temannya yang selalu memberinya semangat dan dukungan pada Hinata. Dan satu orang lagi yang membuat Hinata dapat bangkit dari keterpurukan tersebut—Itachi—dialah orang yang selama tiga bulan ini selalau menemani Hinata dalam kesendiriaanya.
Itachilah yang membuat Hinata untuk pertama kalinya—setelah kehilangan Sasuke—membuatnya tersenyum, dan Itachi jugalah yang selama tiga bulan itu yang selalu ada disaat Hinata membutuhkan seseorang.
Walaupun Hinata selalu mengacuhkan Itachi pada saat ia berkunjung keapartementnya, walaupun Hinata sempat mengusir pemuda dingin itu dari apartementnya. Tapi, Itachi selalu datang lagi dan lagi.
Pemuda itu memenag tidak pernah bosan mengganggu ketentraman Hinata—anggapan Hinata bahwa Itachi selalu mengganggu ketenangannya—
Entah Hinata menyadarinya atau tidak, Itachi memang selalu berada disisinya sejak ia kehilangan sasuke.
.
.
.
.
.
.
. A FANFICTION
BY: SHIROI NO TSUKI
TITTLE: NIGHTMARE
DICLAIMER: MASASHI KISHIMOTO
GENRE: ROMANCE/DRAMA
WARNING: AU, OOC, TYPO'S, DON'T LIKE? DON'T READ!, DLL
PAIRING: ITAHINA
.
.
.
.
~NIGHTMARE~
~CHAPTER 3~
.
.
.
Bel tanda jam pelajaran berakhir telah berbunyi beberapa saat yang lalu, Hinata baru saja keluar dari kelasnya yang sudah sepi. Hinata memang ingin pulang sendiri hari ini walaupun teman-temannya mengajak Hinata pulang bersama. Ia malah beralasan ada sesuatu yang harus ia kerjakan disekolah, jadilah Hinata pulang paling akhir menunggu semua teman sekelasnya pulang.
Sekarang ia berjalan dikoridor yang agak sepi karena memang banyak murid yang sudah melenggang dari sekolah sedari tadi, walaupun masih ada murid yang masih berpapasan dengannya. Dengan pelan langkahnya menelusuri koridor menuju ruang musik—ruang dimana ia dan Sasuke sering menghabiskan waktu disekolah—tatapan matanya menjadi kosong ketika Hinata tepat berada didepan pintu masuk ruang musik.
Disini ia teringat dimana Naruto memberinya kabar bahwa Sasuke mengalami kecelakaan, dan membawanya kerumah sakit untuk menemui Sasuke.
Iapun ingat ketika Sasuke telah membohonginya dirumah sakit dengan berpura-pura sedang mengalami kecelakaan, dan menyematkan cincin dijari manisnya.
Hingga kecelakaan itu terjadi tepat didepan matanya, ia ingat bagaimana tubuh Sasuke terpental jauh membentur aspal. Dan ia juga ingat kata-kata yang Sasuke ucapkan padanya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.
Hinata ingat semuanya…
Sampai akhirnya Sasuke dimakamkan dihari yang sama ketika kecelakaan itu terjadi. Tapi Hinata memang tidak ikut dalam acara pemakaman tersebut, ia tidak bisa melihat Sasukenya begitu saja ditempatkan dalam peraduannya.
Sampai pada saat malam itu—malam dimana ia pingsan ditengah jalanan beraspal yang diselimuti oleh salju—dan ketika ia sudah sadar, ia sudah berada ditempat asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Baru Hinata ketahui bahwa sebenarnya disanalah tempat Sasuke tinggal bersama kakaknya—yang sebenarnya—bukan yang ia ketahui pada waktu Sasuke masih bersamanya. Tenyata apartemen sederhana milik Sasuke yang diketahui Hinata selama ini adalah apartement milik kakaknya yang bernama Itachi itu.
Sungguh, Hinata tidak bisa menerima kenyataan yang telah menimpanya pada waktu itu, walaupun para sahabatnya mengajaknya ke tempat pemakaman Sasuke bahkan membujuknya sekalipun Hinata tetap pada pendiriannya.
Hingga sekarang Hinata memang tidak pernah mengunjungi makam Sasuke, tiga bulan. Selama itulah Hinata samasekali tidak pernah menapaki kakinya pada tanah pemakamahan Uchiha.
Sontak ia membalikkan tubuhnya yang mulai bergetar menahan isak tangisnya yang kembali keluar, kembali ia melangkahkan kakinya menuju loby sekolah dan bersiap menuju tempat yang selama ini tidak pernah ia kunjungi—makam Sasuke—
Hinata telah memutuskan untuk mengunjungi makam sang kekasih, karena ia tidak boleh terus beranggapan bahwa Sasukenya masih hidup dan yang terjadi selama ini hanyalah mimpi buruknya belaka.
Sekarang Hinata sudah mulai bisa menerima bahwa yang dialaminya sekarang adalah suatu kenyataan yang memang harus ia terima.
Ia—sekarang—sudah menjadi Hinata yang lebih kuat dari pada yang dulu, itu semua memang berkat dukungan dari para shabatnya dan kehadiran Itachi disisnya.
Dan mulai sekarang di musim semi ini ia akan menjalani hidupnya tanpa Sasuke disisinya, Hinata akan terus berusaha untuk bangkit dan menjalani hari-harinya tanpa Sasuke. Itu adalah keputusan bulat yang ia ambil, dan karena itu pulalah Hinata sudah siap untuk menunjungi makam Sasuke.
.
.
.
.
.
Matahari telah condong kearah barat menandakan bahwa sekarang hari telah beranjak sore, matahari yang bersinar cerah itu kini mulaI berganti warna menjadi jingga kemerahan menghiasi permukaan sebuah kediaman terakhir orang-orang mengiistirahatkan hidupnya.
Disinilah sekarang Hinata berdiri, dihadapan sebuah gundukan yang baru beberapa bulan lalu telah ditempati oleh seseorang yang selama ini telah mengisi hatinya.
Disana Hinata dapat melihat dengan jelas sebuah nama yang terukir dibatu nisan sebuah makam yang sekarang berada tepat dihadapannya, ia dengan diamnya hanya memandangi batu nisan tesebut. Mengingat setiap kata yang terukir di atasnya.
Kedua tangannya mengepal dengan erat, perlahan ia memejamkan matanya dan menghembuskan napas, sesaat matanya kembali terbuka dan menampakkan sebuah bola mata almethys yang redup. Bibirnya dengan getir menyunggingkan sebuah senyuman yang tampak sedikit dipaksakan, Hinata mulai melepaskan genggaman tangannya, menjongkok dan mulai menyentuh batu nisan yang sekarang berada dihadapannya ini.
"S-Sasuke-kun…" Panggil Hinata lirih
"Gomen, aku baru mengunjungi makammu," Lanjutnya seakan Sasuke bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
"Sekarang aku sudah mulai bisa bangkit dari keterpurukan." Hinata sedikit terkikik mengingat masa dimana ia mengalami masa-masa itu, tangan kanannya meraih batu nisan dihadapannya dan gengan gerakan lembut ibu jarinya mengusap perlahan nama yang tertulis dibatu nisan itu. "Ini semua berkat Naruto, Sakura, dan Ino… juga Itachi-san…" kembali bibiranya menyunggingkan sebuah senyuman tipis, namun senyuman ini adalah senyuman yang tulus tanpa perasaan sakit yang sering ditnjukkannya beberapa saat lalu.
Diam. Hinata hanya diam setelah mengucapkan kata-kata itu, ia mengingat masa lalunya dimana para sahabatnya mendukungnya untuk bangkit kembali dan kakak Sasuke yang selalu mengganggu ketengannya, sekali lagi Hinata tersenyum sedikit terkikik mengingat bagaimana cara ia memperlakukan Uchiha sulung itu dengan kasarnya.
"Sepertinya aku harus minta maaf pada kakakmu Sasuke-kun."
"Kau memang harus minta maaf kepadaku, Hinata." Hinata tersentak kaget mendengar suara yang menginterupsi perkataannya—seseorang dibalik punggungnya—
Dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara dan mata almethsnya membulat dengan sempurna melihat seseorang tersebut, dialah Uchiha Itachi.
"I-Itachi-san? Sejak k-kapan," kalau boleh jujur, sekarang Hinata malah merasa gugup karena kepergok memebicarakan orang dihadapannya ini pada Sasuke. Ia takut kalau Itachi menjadi marah padanya atas perlakuannya dulu.
Itachi mengerti maksud dari ucapan Hinata, ia mendekat kearah Hinata dan meletakkan sebuket bunga lavender segar di atas makam Sasuke, "Sejak kau berada disini."
Hinata terperangah "G Go-Gomen, a-ku tidak me-menyadarinya"
Itachi hanya tersenyum tipis menanggapinya, ia mulai mengangkat tangan kanannya dan meraih pucuk kepala Hinata lalu mengacaknya perlahan.
Hinata yang mendapat perlakuan tersebut mengembungkan pipinya dan menampik tangan Itachi yang berada diatas kepalannya. "A-Aku bukan a-anak kecil lagi I-Itachi-san." Protesnya
"Hn," Hanya itulah tanggapan dari Itachi
Karena sedikit kesal karena perlakuan Uchiha sulung itu terhadapnya, Hinata mulai beranjak berdiri dari jongkoknya. Dan melangkahkan kakinya untuk menuju gerbang komplek pemakaman sebelum sebuah tangan kekar yang menggenggam tangan Hinata menghentikannya untuk melangkah.
Hinata menoleh mendapati seseorang yang menggenggam tangannya ini, dengan mengerutkasn alis ia meminta penjelasan pada Itachi yang mencegahnya untuk beranjak dari sana.
"Kau belum memeberikannya doa bukan?" Tutur pemuda tersebut
Hinata dengan bodohnya menepuk jidatnya yang berponi rata itu, "Gomen, a-aku l-lupa," Sesalnya, Hinata malah merasa heran kepada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa lupa memberikan doa kepada Sasuke?
Hinatapun mulai membalikkan tubuhnya kehadapan makam Sasuke, ia menangkupkan kedua tangnnya seraya memejamkan mata untuk memberikan doa pada Sasuke.
Itachi yang melihat tingkah lucu Hinata hanya menyunggingkan senyum tipisnya, ia lega telah melihat Hinata kembali kesifatnya yang dulu—walaupun belum sepenuhnya—Hinata memang sedikit mempunyai sifat yang ceroboh dan agak pelupa. Karena sifatnya itulah yang membuat Sasuke menyukainya.
kini Itachi memperhatikan wajah manis Hinata yang telah berdoa untuk Sasuke, ia terus menatap wajah Hinata yang masih memejamkan matanya. Hingga tanpa Itachi sadari, wajahnya dengan perlahan mendekat pada permukaan wajah Hinata.
Perlahan namun pasti, pemuda itu memejamkan matanya hingga ia dapat merasakan hembusan napas teratur Hinata.
Hinata sedikit mengerutkan alisnya merasakan hembusan napas hangat yang menerpa wajahnya, ia menjadi bingung. Kok udara disekitar wajahnya menjadi hangat?
Cepat ia membuka matanya dan dengan cepat pula Itachi yang menyadari hal tersebut kembali menegakkan tubuhnya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Jantung Itachi berdetak lebih cepat dari biasanya menyadari apa yang akan dilakukannya pada Hinata, iapun menjadi gugup jika Hinata menyadari apa yang akan dilakukannya barusan.
Bayangkan, ia mencoba mencium Hinata dihadapan makam Sasuke—makam kekasihnya Hinata sekaligus adiknya—bagaimana bisa ia tanpa sadar melakukan hal tersebut dihadapan makam Sasuke, mungkin jika Sasuke sekarang masih hidup ia pasti akan menghajar kakanya ini yang telah lancang mencoba menyentuh Hinata kekasihnya.
"A-Aneh…" Gumam Hinata kepada dirinya sendiri, bukankah tadi ia merasakan udara menghangat disekitar wajahnya? Tapi kenapa sekarang udara hangat itu telah hilang? 'Apa karena perasaanku saja?' batinnya bertanya.
"Sudah selesai?" Interupsi Itachi pada Hinata yang tiba-tiba bengong.
Hinata menganggukkan kepalanya, "Su-Sudah"
"Ayo!" Ucap Itachi bermaksud mengajak Hinata pulang, namun Hinata tidak mengerti akan ajakan Itachi itu.
"Ha-Hah?" Hinata hanya memebeo menatap Itachi bingung
Kalau saja Itachi tidak menjaga image Uchihanya, ia pasti sekarang akan membenturkan jidadnya yang jenius itu pada dinding terdekat dipemakaman tersebut.
"Pulang, apa lagi?" kata Itachi tanpa menoleh kearah Hinata, ia terus saja berjalan dengan pasti menuju gerbang pemakaman untuk keluar dari komplek pemakaman itu.
Hinata hanya diam ditempat mencerna setiap perkataan Itachi, Itachi yang merasa tidak ada pergerakan di balik punggungnya kembali menolehkan kepalanya kearah Hinata, "Cepatlah!"
Hinata hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau untuk diajak pulang oleh Itachi
"Hn? Kau tidak mau pulang?"
"B Bu-Bukan begitu, h-hanya saja a-aku ingin jalan kaki. Itachi-san p-pasti membawa m-mobil kan?"
Sedikit berdecak kesal tangan kekar Itachi menarik pergelangan Hinata, membuat sang empunya terseret begitu saja dari pemakaman tersebut. Hinata hanya diam membeku mendapat perlakuan itu dari Uchiha sulung.
"Jika itu yang kau ingin, kebetulan aku tidak membawa mobil.." Ucap Itachi masih menyeret Hinata keluar pemakaman
"Kita akan pulang jalan kaki." Lanjutnya masih tetap menyeret Hinata.
Tiba-tiba Hinata menghentikan langkahnya, "T-Tunggu, Itachi-san" Yang dipanggil menolehkan kepalanya dan berwajah sedikit kesal pada Hinata.
Hinata yang ditatap dingin oleh pemuda Uchiha itu hanya menundukkan kepalanya, tidak berani melanjutkan kata-katanya
Itachi menunggu perkataan hinata selanjutnya, tapi Hinata tak kunjung melanjutkan ucapannya. Kembali Itachi menarik tangan Hinata namun kali ini lebih lembut dari tadi. Yah mungkin dengan perlakuan sedikit lembut dari Itachi memebuat Hinata sedikit lebih nyaman.
.
.
.
.
.
Hinata hanya menundukan kepalanya tidak berani melihat pemuda disampingnya saat ini, sejak tadi mereka hanya diam. Tidak ada satupun yang memulai topik pembicaraan. Hinata yang mulai merasa sedikit jengah dengan keadaan itu akhirnya hanya menghela napasnya beberapa kali.
Pemuda disampingnya—Itachi—menatap tingkah laku Hinata dengan ekor matanya yang sedari tadi berulang kali menghela napasnya, melihat tingkah Hinata itu, ia hanya diam terus memperhatikan sang gadis.
Tak berapa lama terdengar langkah seseorang yang mendekat kearah mereka berdua, Hinata yang pertama menyadari hal tersebut mendongakkan kepalanya kearah sumber asal suara, melihat Hinata yang menghentikan langkahnya itachipun ikut berhenti. Dan menatap seseorang yang sekarang berada dihadapan mereka berdua.
"Itachi-sama" Panggil seseorang itu seraya membungkukkan tubuhnya tanda hormat.
"Hn, ada apa Kakashi?" Itachi sedikit bingung, kenapa salah satu pelayan pribadinya berada disini? Lagi pula bukankah Kakashi sedang berada di Swiss bersama otou-sannya?
Pria yang dipanggil Kakashi oleh Itachi tersebut kembali meneruskan ucapannya, "Saya disini karena Fugaku-sama memanggil anda, sekarang…" Ucapnya kembali menegakkan tubuhnya dan menatap pemuda dihadapannya, juga… gadis disebelahnya, tunggu, sepertinya kakashi pernah melihat gadis itu tapi dimana?
Menghilangkan pikiran itu, ia kembali fokus kepada tuannya.
"Otou-san berada disini?" Tanya Itachi memastikan bahwa ia tidak salah dengar akan perkataan Kakashi barusan.
"Ya Itachi-sama, beliau baru saja sampai dimansion. Fugaku-sama ingin memperkenalkan calon tunangan anda…" Kakashi berucap lirih, karena ia pasti tau reaksi apa yang akan ditunjukkan Itachi kepadanya.
Sontak mendengar hal itu Itachi sedikit menegang, terlihat dari bahunya yang tiba-tiba sedikit terangkat. Tapi, ia dengan cepat ia kembali melemaskan tubuhnya seperti semula, Hinata yang mendengar pernyataan dari Kakashi hanya diam terpaku, tidak menyangka bahwa Itachi mempunyai calon tunangan. Setahunya Itachi memang tidak pernah mengatakan hal itu padanya.
Tapi kenapa? Ada sedikit perasaan tidak rela yang menghinggapi hati Hinata.
"K-kalau begitu, a-aku akan p-pulang sendiri…" Ucap Hinata kemudian menghilangkan perasaan tidak enaknya dan atmosfer yang tidak nyaman disekelilingnya.
Belum sempat Hinata melangkahkan kakinya, pegelangan tangannya kembali digenggam oleh tangan kekar Itachi.
"Kau ikut denganku, Hinata…"
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N; akhirnaya selesai juga ni fic, makasi buat yang review chap dua buat Mamoka dan Suzu Aizawa, semoga saja kali ini typonya g berhamburan ky' kemaren—.—
Bagi yang berminat buat review, silahkan~
Shiroi No Tsuki
