Hujan yang lebat kini telah berlalu meninggalkan tetesan air yang terlihat seperti embun dipagi hari.
Setelah insiden yang dialami Hinata pagi tadi, akhirnya ia hanya diam mengurung dirinya didalam kamar.
Beberapa kali Hinata menghela napasnya untuk menyakinkan dirinya bahwa pilihannya adalah yang terbaik, yah sekarang Hinata bingung menentukan pilihan. Ia akan meyetujui pertunangan itu atau…
Lagi Hinata menghela napas untuk yang kesekian kalinya, kenapa hal ini menjadi semakin rumit?
Lelah dengan pikirannya akhirnya ia merebahkan dirinya diatas kasur empuk yang berada dibawahnya, tangnnya mencoba meraba-raba kasur yang dilapisi seprei lembut itu.
Seketika tangannya berhenti meraba kasur ketika ia merasakan sesuatu berbentuk persegi panjang—sebuah handphone—
Hinata meraih ponsel tersebut dan memerhatikan siapa pemilik ponsel yang berada dalam genggaman tangannya ini.
Dengan ragu Hinata mulai mencoba menekan layar ponsel, seketika layar ponsel itu menyala 'tidak dikunci?' Batin Hinata makin penasaran.
Hinata mulai menekan ponsel tersebut dan tidak sengaja terlintas dibenaknya seseorang pemilik ponsel ini, "Ini milik Itachi-san…"
Tanpa ia sadari, Hinata telah membuka sebuah pesan yang tersimpan lama dalam ponsel tersebut. alisnya mengernyit ketika ia hendak membacanya.
.
Tolong jaga hinataku!
Aku percayakan dia untukmu..
Ini permintaan terakhirku..
.
Kini mata Almethys itu membelalak melihat pesan singkat yang tertera pada ponsel itu, disana tertera jelas nama pengirim dari pesan singkat tersebut—Sasuke—
Hinata melihat mencoba membacanya lagi untuk memastikan bahwa ini benar-benar pesan dari Sasuke, hingga akhirnya tanpa terasa air matanya merembes keluar tanpa ia sadari.
Sasuke mengirimkan pesan tersebut sesaat setelah mengalami kecelakaan dilihat dari waktu dan tanggal yang tertera pada layar.
"Sa-Sasuke-kun," kini air mata Hinata benar-benar telah tumpah, ia mencoba menutup mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar, namun hal itu sia-sia semakin ia menutupinya semakin keluarlah isak tangis tersebut.
'Apa maksudnya? Apa maksud dari pesanmu ini Sasuke-kun?'.
.
.
.
.
.
NARUTO©MASAHI KISHIMOTO
NIGHTMARE©SHIROI NO TSUKI
GENRE: ROMANCE/DRAMA
WARNING: AU, OOC, TYPO'S, DON'T LIKE? DON'T READ!, DLL
PAIRING: ITAHINA
~CHAPTER 4~
.
.
.
.
.
.
Hinata melonggokkan kapalnya keluar kamar mencari seseorang yang mungkin bisa mengembalikan ponsela milik Itachi, matanya masih terlihat sangat jelas bahwa baru saja sehabis menangis, tapi hal itu dihiraukannya.
Dari arah koridor ia melihat shizune akan melintasi kamarnya, kebetulan sekali. "Shizune-san!" Panggil Hinata dengan suara seraknya.
Sizune yang merasa dipanggil oleh Nonanya segera menghampiri sang Nona, "Hai, Hinata-sama."
"Bo-boleh minta tolong?" Hinata menyodorkan sebuah ponsel yang berada digenggaman tangannya pada Shizune.
Shizune mengerti maksud dari Hinata, ia ingin sekali membantu Nona mudanya ini, tapi ini adalah urusan pribadi mereka—Itachi dan Hinata—jadi mungkin ia untuk kali ini tidak akan membantu Hinata walaupun hanya sekedar menyerahkan ponsel milik Itachi.
"Itachi-sama lebih senang jika anda yang menyerahkannya, Nona." Shizune tersenyum lembut pada Hinata.
Hinata hanya menundukkan kepalanya dan kedua tangannya ia turunkan kesisi tubuhnya. "Aku ti-tidak ingin ber-bertemu dengannya."
"Maaf Nona, tapi anda harus melihat keadaan Tuan… Dia samasekali tidak keluar kamar sejak tadi," shizune berkata sedikit khawatir pada keadaan Itachi.
Dengan terpaksa akhirnya Hinata menuruti perkataan Shizune, "B-Baiklah, A-Aku akan mengantarnya Se-Sendiri," Hinata segera menutup pintu kamarnya dan berjalan melewati Shizune yang membungkuk hormat padanya.
.
.
.
.
.
Tok… Tok…Tok…
Suara ketukan pintu terdengar membuyarkan lamunan sang pemilik kamar—Itachi—beberapa kali suara ketukan itu berbunyi namun telah dihiraukannya. Sekarang ia ingin sendiri, hanya ingin sendiri. Tidak bisakah orang-orang disekitarnya mengerti? Itachi hanya membutuhkan satu orang disisinya sekarang—Hinata—hanya gadis itulah yang dia inginkan.
Tok… Tok…Tok…
Lagi, suara iu berbunyi namun terdengar lebih lemah dari suara sebelumnya. Itachi masih bergeming dalam kamar tidak merespon ketukan pintu tersebut.
"I-Itachi-san!" sontak Itachi menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara lembut itu, milik Hinata.
"Bo-Boleh aku m-masuk?" lagi, suara gadis itu terdengar. Tapi Itachi masih bergeming dalam diamnya.
Hinata yang tidak mendapat respon sama sekali dari tadi, mencoba untuk memanggil sang pemilik kamar. "Itachi-san?"
Menghela napas, Itachi akhirnya beranjak dari tempatnya duduk dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar milikknya, tangannya memutar kenop pintu danmembukanya sedikit kasar.
Hinata terkejut ketika pintu dihadapannya tiba-tiba terbuka secara tiba-tiba dan menampilkan sosok yang sejak tadi ia panggil. Yah Uchiha Itachi sekarang berada dihadapannya dengan wajah yang terlihat… Sedikit kusut. Rambut yang begitu saja ia gerai, pakaian kemeja yang berantakan dan kancing yang tidak dikancing pada tempatnya? Melihat pemandangan itu Hinata sedikit menundukkan kepalanya, rona merah jelas terlihat diwajah Ayunya.
"Ada apa?" ucap Itachi pada Hinata yang sedari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya, tidak sadarkah ia bahwa yang membuat Hinata menjadi seperti itu adalah dirinya.
Tidak mendapat jawaban dari Hinata, Itachi akhirnya menarik tangan Hinata dan membawanya masuk kedalam kamar dan dengan cepat menutup pintu kamar.
Hinata yang dilanda kegugupan luar biasa akhirnya menyerahkan ponsel milik Itachi padanya, "Mi-Milikmu 'kan?" tangan mungilnya menyodorkan ponsel tersebut tepat didepan wajah Itachi.
Itachi hanya mendengus dalam hati, "Apa kau hanya ingin menyerahkan ponsel itu?"
Hinata menggeleng cepat. "Ti-Tidak, A-Aku mendengar I-Itachi-san tidak ma-mau keluar kamar j-jadi—"
"Hn?"
"Kata S-Shizune-san, ka-kalau aku yang me-menyerahkan ponsel ini padamu—"
"Kau tidak menghawatirkanku?" Itachi mengambil ponsel yang disodorkan Hinata dan dengan cepat mengangkat dagu Hinata dengan jarinya untuk melihat wajah manis Hinata yang gugup seperti ini.
"A-Ano… Eto… Gomen A-Aku…" Hinata hanya mampu mencari objek lain untuk dilihat agar mata Almethysnya tidak bertabrakan dengan mata Onyx milik Itachi.
Itachi sedikit menghela napas melihat tingkah gadis yang berada dihadapannya ini, "katakan! Apa yang ingin kau bicarakan!"
"Aku telah lancang membaca pesan yang ada diponselmu," Dengan satu tarikan napas, Hinata mengucapkannya tanpa gagap seperti kebiasaannya.
"Lalu?" Itachi sedikit mengernyitkan alisnya
"Go-Gomen, pesan Sa-Sasuke itu…" Hinata masih belum sanggup untuk menanyakan yang sedari tadi terus mengganjal pikirannya.
"Dia memintaku untuk menggantikan posisinya disisimu, Hinata." Ucap Itachi seraya memandang intens gadis yang berada dihadapannya ini.
Hinata hanya diam mencerna perkataan Itachi barusan, kedua bola mata Almethys miliknya bergerilya menatap objek apaun selain kedua bola mata Onyx milik Itachi, "Be-Begitu? A-apa karena itu ka-kau meminta Ayahku untuk me-melamarku?"
"Iie." Itachi lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh mungil dihadapannya, "Aku melakukan itu karena aku mencintaimu, bukan karena permintaan dari Sasuke." Lanjutnya berkata sedikit lirih.
Sontak mata Hinata menatap kedua bola mata Onyx dihadapannya, ia tidak percaya bahwa Itachi akan benar-benar mengatakan hal tersebut padanya. Hinata sendiri masih bingung dengan perasaannya terhadap Itachi, dan Hinata juga masih meragukan semua apa yang diucapkan Itachi padanya. Tapi untuk apa pemuda ini berbohong padanya, tidak ada keuntungan yang Itachi dapatkan jika ia berbohong 'kan?
Lalu kenapa Sasuke yang sangat menyayanginya 'pun mempercayai Itachi untuk dirinya, padahal Hinata sebelum-sebelumnya tidak pernah mengenal pemuda ini.
"Kau tidak percaya padaku, Hinata?" sontak lamunan Hinata buyar ketika ucapan Itachi telah menginterupsinya
Itachi sediit terkikik geli melihat wajah Hinata yang sedikit terlihat bingung, "Ah, ya. Tentang tadi pagii…" Itachi kembali mengingat perkataan Hinata saat mereka berkumpul diruang makan.
.
"Kenapa? KE-KENAPA AKU Y-YANG MUSTI DITUNANGKAN? KE-KENAPA TIDAK Neji-Nii yang ditunangkan dengan Itachi-San?" Hinata berkata histeris sesaat kemudian berkata lirih walaupun masih terdengar oleh semua penghumi ruangan tersebut.
.
"tentang kata-katamu itu, kau ingin aku menikahi Neji?" lanjutnya setelah teringat perkataan Hinata pagi tadi.
Wajah Hinata memerah mengingat ia tanpa sadar telah mengatakan hal tersebut, "Go-Gomen—" Buru-buru ia membungkukkan tubuhnya.
Itachi hanya tersenyum menanggapinya, ia kemudian melangkahkan kakinya sembari memberi isyarat kepada Hinata untuk mengikutinya menuju balkon kamarnya.
Hinata mengikuti langkah Itachi dengan ragu, ia sangat malu tanpa sadar telah mengatakan hal tersebut. "A-Ano… I-Itachi-san? A-Apa kau ma-marah?" Dengan ragu Hinata mengucapkannya takut kalau Itachi akan marah padanya.
Itachi duduk dibangku yang terdapat dibalkon dan memandang Hinata dengan wajah dingin, Hinata yang dipandangi seperti itu hanya menundukkan wajahnya. Kedua tangannya menggenggam erat ujung pinggiran roknya.
"Menurutmu?" Ucap Itachi masih tetap memandang Hinata dingin.
Mendapat pernyataan Ambigu dari Itachi, Hinata malah semakin menundukkan kepalanya, "Be-Benar kau ma-marah!"
Itachi hanya diam tidak merespon perkataan Hinata. Ia hanya memandangi langit yang masih mendung.
Hening
Setelahnya tidak ada percakapan diantara keduanya, hanya kesunyian yang menemani mereka.
Mungkin hanya ketenangan yang bisa membuat mereka memikirkan jalan apa yang akan ditempuh selanjutnya yang akan mereka jalani nantinya.
.
.
.
.
.
Suasana sekolah Tokyo High sudah sangat sepi karena semua murid sudah meninggalkan sekolah tersebut, namun masih ada beberapa siswa yang sekarang masih menelusuri koridor sekolah yang sepi ini. Seperti halnya Haruno Sakura.
Beberapa kali ia menghubungi kekasihnya—Naruto—tapi pemuda itu tidak pernah mengangkat ponselnya, karena itulah ia sekarang melangkahkan kakinya menuju atap sekolah dimana mereka selalu menghabiskan waktu istirahat bersama.
Memang akhir-akhir ini hubungan Sakura dan Naruto sedikit merenggang, hal tersebut dikarenakan kesalah pahaman yang ditimbulakan oleh Sakura sendiri, ia 'pun tidak tau kenapa. Yang jelas Sakura merasa sedikit cemburu pada salah satu sahabatnya—Hinata—entah perasaannya saja atau tidak, Naruto sepertinya lebih memperhatikan Hinata akhir-akhir ini. Seperti didalam kelas Naruto samasekali tidak memberikan perhatian padanya.
Bahkan bertegur sapa 'pun tidak. Hingga ia memutuskan untuk membicarakan masalah ini pada Naruto untuk menyelesaikan pertengkaran mereka, beberapa kali Sakura menghubungi ponsel Naruto, namun tidak pernah ada jawaban dari sang empunya ponsel. Dan karena itu lah ia sekarang telah berada didepan pintu atap sekolah untuk menemui Naruto, siapa tau kekasihnya itu berada disini.
Tangan mungilnya perlahan membuka pintu didepannya, hingga menimbulkan suara decitan kecil yang tidak begitu terdengar, setelah membukanya perlahan ia melangkahkan kakinya yang jenjang menuju ujung dinding yang bersekat disamping pintu tersebut.
Sontak langkahnya terhenti ketika ia mendapati seseorang yang telah dicarinya telah berada disana, seketika ia akan memanggil sang kekasih ketika Sakura menyadari bahwa Naruto tidak sendiri disana. Sekarang Naruto bersama Hinata dan sedang memeluknya penuh sayang.
Didepan matanya, Hinata dan Naruto sedang berpelukan. Dengan tubuh Hinata yang bergetar menandakan bahwa gadis itu sedang menangis dipelukan Naruto. Apa ini? Kenapa bisa begini? Sakura menemui Naruto ingin memperbaiki hubungannya yang sempat renggang, tapi kenapa yang sekarang dilihatnya adalah suatau kenyataan yang sangat pahit baginya.
Ia memang sadar bahwa Naruto pernah menyukai Hinata ketika Hinata belum menjadi milik Sasuke, saat itu Sakuralah yang selalu berada disisi Naruto dan pada akhirnya Naruto mengakui perasaannya pada Sakura.
Apakah yang Naruto katakan padanya waktu itu semua bohong, dengan suara yang bergetar menahan isak tangis ia berkata lirih. "Naruto-kun…!"
Siempunya nama yang dipanggil sontak menoleh pada sumber suara, tubuhnya sedikit menegang ketika melihat Sakura yang sebentar lagi akan menumpahkan mutiara bening miliknya.
"Sakura! Aku—" Naruto tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika Sakura berlari dari hadapan mereka.
"Ti-Tidak Sakura!" Panggil Hnata yang mungkin akan sia-sia karena Sakura telah menuruni anak tangga.
Secepat kilat Naruto berlari berusaha mengejar Sakura, sebelum ia mendengar suara bedebam yang keras menghantam lantai dibawah sana.
Sontak keduanya—Hinata dan Naruto—dengan cepat menuruni tangga hingga mendapati Sakura yang telah terbaring tidak sadarkan diri dan jika Hinata tidak salah lihat, cairan berwana merah itu merembes keluar dari kepala Sakura.
"Sakura!" Naruto berteriak mencoba membangunkan Sakuranya yang sekarang telah berada dalam pelukannya, tangan kekarnaya menepuk-nepuk perlahan pipi Sakura agar gadis itu bangun namun hasilnya nihil.
Hinata dengan cepat berinisiatif menelpon ambulan untuk membawa Sakura kerumah sakit, air mata Hinata perlahan jatuh tanpa disadarinya. 'kumohon Kami-sama, jangan terjadi lagi' batinnya tidak ingin hal yang dialami Hinata akan terjadi pada Naruto juga. Lagi pula ini samua salahnya hingga menyebabkan Sakura telah salah paham pada Naruto.
Jika saja Hinata tidak bertemu Naruto saat itu dan jika saja ia tidak menangis dalam pelukan Naruto mungkin saja hal ini tidak akan pernah terjadi.
Sungguh Hinata akan menghukum dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang akan mengancam nyawa Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
.
A/N: yo Tsuki kembali lagi setelah beberapa minggu tidak apdet ni fic, masih adakah yang ingat sama fic ini?*puppy eyes*semoga saja tidak ada kesalahan tulis diatas soalnaya tsuki nulis kilat(?). yak masih adakah yang berkenan buat review?
Makasih yang sudah review chap sebelumnya buat Mamoka dan Suzu Aizawa. Hehe makasih udah mau tetep baca dan review!
Untuk terakhir silahkan RnR ya!
Salam…
Shiroi no Tsuki
