"Sekarang Sakura-chan, kita sudah bersahabat lama sekali. Aku mohon jawablah dengan jujur, siapa mereka?"

"Me-mereka-"

The Book

Disclaimer : Naruto © Master Masashi Kishimoto

The Book © Lyana Boci-Moci

Terinspirasi dari film 'Ink Heart'

Rate : T

Pairing : SasuSaku & other paring

Family, Fantasy, Romance, Comedy

WARNING : TERLALU OOC!, GAJE, GA NYAMBUNG, ANEH, TYPO, EYD ANCUR, SINETRON,OOT, BIKIN BOSAN, GARING ABIS!, DLL

GA SUKA 'THE BOOK'? GA USAH BACA!

KLIK BACK AJA, OK?(^_^)

YANG MAU BACA SILAHKAN BACA! (^_^)

.

~Chapter 6 : Please Don't Go! ~

.

"Siapa mereka Sakura-chan?" Tanya Hinata yang mulai penasaran.

"Mereka saudara jauh Sakura, mungkin Sasori-nii lupa dengan Sasuke dan Naruto," ucap Sakura tetap pada ucapannya yang awal.

Hinata menghela nafasnya dan memejamkan kedua matanya, sepertinya Sakura memang keras kepala dan tidak mau memberitahu hal sebenarnya pada Hinata. Hinata tidak mungkin salah dengar apa yang di katakan oleh Sasori, kalau sebenarnya Sasori tidak mengenal Sasuke atau Naruto. Mungkin percuma dia Tanya langsung pada Sakura, dia harus mencari tau sendiri. Menang ini bukan urusannya dia tapi tetap saja sebagai sahabat Sakura dia harus tau siapa yang tinggal dengan sahabatnya, apalagi dengan dua orang laki-laki yang dia masih curigai identitasnya.

Ruang Tamu Rumah Sakura, 18.35 PM

"Sakura-chan, aku pamit pulang dulu ya." Ucap Hinata pada Sakura yang sedang berada di ruang tamu.

"Kamu tidak mau makan malam bersama kamu dulu?" Tawar Sakura.

"Tidak perlu, aku harus pulang. Aku takut orang tuaku khawatir karena tadi aku tidak izin terlebih dulu untuk ke rumahmu." Hinata tersenyum lembut pada Sakura, dia berjalan kearah pintu depan rumah Sakura. "Sakura aku pulang dulu ya." Sekali lagi Hinata tersenyum lalu dia pergi.

Sesaat Hinata sudah tidak ada di rumahnya lagi, Sakura menghela nafasnya sambil menyeka keringat yang berada di dahinya.

"Hampir saja Hinata mengetahui kebenarannya," Batin Sakura.

Sebenarnya tidak apa-apa Hinata tau, tapi apakah bisa di jamin Hinata akan percaya dengan kata-kata Sakura begitu saja? Pasti tidak, Hinata pasti akan menganggapnya sebagai lelucon yang sangat tidak lucu.

Sakura melangkahkan kakinya menuju anak tangga yang menghubungkan lantai dua di rumahnya. Dia memasuki kamarnya dan mengambil sebuah buku yang berada di atas meja belajarnya, buku berjudul Naruto.

"Haah~, apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Sakura entah pada siapa, di kamar itu begitu sepi dan tidak ada siapapun selain dia. Sakura merenungi kejadian yang terjadi pada dirinya, terutama kejadian bagaimana Naruto dan Sasuke bisa datang ke dunianya. Dia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi, bukannya dia tidak suka jika mereka berada di sini, malah sebaliknya dia sangat senang mereka ada di sini. Hanya saja Sakura merasa bersalah karena telah menyeret mereka ke dunianya, pastinya mereka tidak menginginkan berada di sini.

Apa yang bisa dia berbuat? Dia ingin semuanya kembali normal, dia harus mencari tau bagaimana cara mengembalikan Naruto dan Sasuke ke dalam buku ini. Sakura kembali mengingat pertama kali dia membeli buku ini lalu dia-

"Sakura-chan!" tiba-tiba pintu kamar Sakura terbuka dengan keras dan terdengar suara nyaring Naruto memanggil namanya.

"Naruto! Ketuk pintu dulu kalau masuk ke kamarku!" Muncul perempatan di dahi Sakura.

"Habis aku panggil dari tadi kamu tidak menjawab, hei kamu sedang membaca buku itu?" Naruto mendekati Sakura, dia melihat wajah Sakura yang telihat sedih dan putus asa. " Sudahlah Sakura-chan, tidak perlu kamu memikirkan kami." Ucap Nruto sambil mengambil buku Naruto yang berada di tangan Sakura.

"Tapi aku-"

"Aku senang berada di sini dengan Sakura-chan dan Teme, di sini sangat menyenangkan karena banyak hal yang menarik di sini, di Konoha tidak ada yang seperti ini dan juga aku senang karena sekarang aku dan Sasuke bisa kembali dekat seperti dulu lagi." Naruto tersenyum lebar menunjukan deretan giginya. Mendengar pernyataan Naruto, Sakura merasakan matanya panas dan dia juga merasakan pipinya basah akibat air mata yang tanpa dia perintah keluar dengan sendirinya.

"Sakura-chan…" Naruto bingung dengan Sakura yang tiba-tiba menangis.

"Maafkan aku… Naruto," Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulut Sakura.

Sakura yakin, walaupun Naruto berkata seperti itu pasti dia hanya ingin Sakura tidak sedih. Tidak mungkin Naruto tidak merindukan kampung halamannya, tidak mungkin dia merindukan orang-orang yang berada di Konoha, merindukan suasana di Konoha, Naruto terlalu baik mengatakan hal itu padanya. Dan yang membuat Sakura semakin sedih, Sasuke… Sasuke sangat ingin kembali ke Konoha, dia ingat saat pertama kali mereka bertemu, sifat Sasuke yang dingin dan dia sangat ingin kembali ke dalam buku itu.

.

~The Book~

.

KELAS, 10.00 AM

Keadaan kelas X-A dalam keadaan sepi, hanya ada beberapa orang di dalam sana. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, sama halnya yang di lakukan oleh gadis berambut pink yang masih mengutak-atik ponselnya semenjak bel istirahat berbunyi. Dia sama sekali tidak membuka bekalnya, menyentuh kotak bekalnya saja tidak, padahal teman-temannya sedang menikmati bekal mereka. Entah apa yang dilakukan oleh gadis pink yaitu Sakura terhadap handphonenya, sampai-sampai dia melupakan makan siangnya.

Sasuke yang duduk di bangku belakang Sakura sedang melahap makan siang yang telah di buatkan oleh Sakura, tetapi matanya sesekali melihat kearah Sakura. Dia bingung karena semenjak tadi pagi Sakura tiba-tiba menjadi pendiam, biasanya Sakura tidak seperti ini, Sakura yang biasanya selalu ribut dengan Naruto dan selalu cerewet. Sebenarnya ini bukan hal yang perlu di repotkan dan sama sekali bukan untuk di pikirkan, tetapi ini mengusik pikiran Sasuke.

"Sasuke," Suara Sakura yang memanggil namanya membuyarkan lamunannya dan hampir saja membuatnya tersedak makanan yang berada di dalam mulutnya.

"Apa?" Tanya Sasuke dengan sedikit ketus.

"Kamu tau Naruto ada dimana?" Tanya Sakura. Sasuke hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

"Oh," Sakura membalikan badanya dan kembali fokus dengan handphonenya.

Rasanya ingin sekali Sasuke menghajar dirinya sendiri, kenapa tadi dia menanggapi Sakura dengan sifat yang dinginnya. Sama sekali Sasuke tidak bermaksud seperti itu, mungkin ini memang sudah nasibnya sebagai seorang Uchiha yang sejak lahir sudah memiliki sifat dingin seperti es dan tidak bisa di ubah.

"Itu Sasuke-sama!"

"Mana? Oh! Sasuke-sama!" Suara jeritan gadis memanggil-manggil Sasuke yang berasal dari luar kelas X-A.

'Cih, Pengganggu,' Batin Sasuke.

"Sakura-chan!" Sasuke mendengar suara seorang gadis yang memanggil nama Sakura.

"Hinata?!" Ucap Sakura sedikit kaget, Hinata melambaikan tangannya meminta Sakura untuk keluar dari kelas.

Sasuke hanya melihat gerak-gerik Sakura dari jauh, ya walaupun hatinya dingin tapi setidaknya hatinya masih memiliki perasaan mengkhawatirkan seseorang, walaupun itu bukan keinginannnya untuk mengkhawatirkan Sakura. Sakura melangkahkan kakinya dan segera keluar dari kelas dan pergi bersama Hinata.

.

~The Book~

.

"Hah?! Naruto mengajakmu jalan-jalan?" Tanya Sakura dengan wajah yang tidak percaya, dia telah mendengar cerita Hinata tadi. Naruto tiba-tiba saja muncul dihadapan Hinata saat Hinata sedang mengobrol dengan Ino di kelas, dan secara tiba-tiba juga dia mengatakan 'Hinata, ayo kita jalan-jalan' sambil tersenyum lebar menunjukan deretan giginya, tapi setelah Naruto mengatakan itu Hinata bukannya menjawab tetapi dia lari dan tanpa dia sadari dia berada di depan kelas Sakura. Dan sekarang dia akhirnya menceritakan kepada Sakura.

Wajah Hinata kini berubah menjadi merah, dia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sakura.

"Kau tau maksudnya 'Jalan-jalan'?" Tanya Sakura.

"Emm.. tentu saja, jalan-jalan ya jalan-jalan,"

"Bukan begitu, Jalan-jalan yang di maksud Naruto adalah Kencan!" Ucap Sakura sambil tersenyum lebar.

"T-tidak Mu-mungkin, Tadi Na-Naruto hanya mengajakku jalan-jalan," Ucap Hinata gugup.

"Sudah terima saja ajakkan Naruto, oke!" Sakura memukul bahu Hinata, wajah Hinata semakin memerah.

"Ba-baiklah," Hinata menundukkan wajahnya. Hinata melirik kearah Sakura, dia melihat wajah Sakura berubah drastis menjadi murung dan tatapan matanya kosong, entahlah mungkin bisa di bilang juga... sedih?

"Sakura-chan, ada apa?" Sakura tersentak kaget tiba-tiba saja Hinata membuyarkan lamunannya.

"Ti-tidak hahaha... "

"Kalau ada masalah ceritakan saja padaku, Sakura-chan," Hinata menggengam tangan Sakura. Sakura tersenyum lirih dan menganggukkan kepalanya.

.

~The Book~

.

Sakura sudah berada di depan rumahnya. Kali ini dia pulang sendirian karena dia tidak bisa menemukan Sasuke, sedangkan Naruto sedang kencan dengan Hinata. Ya setidaknya dia pulang duluan, dia bisa menggunakan waktu sendirian di rumah untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau.

Sakura memasuki rumahnya, dia menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. Keadaan di rumah begitu tenang, tapi juga membuat perasaannya menjadi sedih.

'Apakah begini jika mereka tidak ada? Rasanya sepi.' Batin Sakura. Sakura tidak ingin sendirian lagi, dia merasa kesepian jika Naruto dan Sasuke kembali ke dalam buku. Sakura merasakan matanya memanas, dia juga merasakan air mata yang meluncur melewati pipi putihnya. Dia tidak ingin sendirian, tidak dn tidak mau. Tapi dia tidak boleh egois mementingkan dirinya sendiri, dia harus mencari tau bagaimana caranya Sasuke dan Naruto untuk pulang kembali ke dunia mereka. Lagi pula jika Naruto dan Sasuke tetap berada di sini bisa bahaya kan? Bagaimana jika Sasori tau dan juga orang tuanya tau, entah apa yang akan terjadi dngan dia dan juga kedua laki-laki itu.

Dan sebenarnya Sakura mulai merasakan hal aneh jika dekat dengan Sasuke, dia merasa ingin selalu dekat dengan Sasuke, dia ingin selalu melihat Sasuke. Apakah Sakura menyukai Sasuke? Dia sendiri tidak mengerti dengan persaannya.

"Kau sudah pulang?" Sakuratersentak kaget, dia sangat terkejut. Dia tidak menyangka Sasuke akan ada di sini sekarang.

"Eh, Sasuke kamu sudah pulang?" bukannya menjawab Sakura malah bertanya.

"Sudah semenjak kamu belum pulang," Ucapnya datar.

"Aku pikir kamu belum pulang, maaf membuatmu kaget," ucap Sakura sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

'Bukankah kamu yang kaget,' Batin Sasuke. Sasuke memutar kedua bola matanya.

Sepi.

Keadaan kembali hening, keduanya kembali berkutat dengan pikiran masing-masing. Sakura melangkahkan kakinya, dia ingin pergi dari keadaan yang kaku ini. Tetapi niatnya tidak bisa dia jalankan karena tangan kekar Sasuke menahan Sakura.

"Mau kemana?" Tanya Sasuke.

"Ano… aku mau beristirahat di kamar," Ucap Sakura sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Sebelum itu aku ingin bertanya padamu," Sasuke menatap mata emerald Sakura. "Apa ada yang menggangumu?" tiba-tiba saja tubuh Sakura kaku, dan entah kenapa dia merasakan maanya memanas. Sakura menundukan kepalanya mengindari tatapan Sasuke.

"Ti-tidak ada Sasuke, bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Sakura.

"Entahlah, tapi sejak tadi pagi kamu terlihat murung. Itu sangat menggangguku." Sakura hanya diam tidak membalas perkataan Sasuke.

"Jawab aku Sakura,"

"Sa-Sasuke…" Rasanya sulit sekali bagi Sakura untuk mengeluarkan kata-kata sekaligus menahan air matanya. "Aku… Aku mohon…" Sakura meremas Seragam yang dikenakan Sasuke. "Aku mohon Sasuke… jangan tinggalkan aku," ucap Sakura lirih, dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Sasuke hanya diam mendengarkan Sakura.

"Jangan… Hiks… jangan kembali ke dalam buku itu lagi… aku… aku kesepian… Sasuke jangan pergi," Sasuke tiba-tiba memeluk tubuh Sakura, dia tidak tahan melihat Sakura menangis seperti ini. Dia mempererat pelukannya, dia bisa merasakan nafas Sakura yang tidak beraturan, tubuhnya yang bergetar, dan suara sesengukkannya.

"Sakura,"

.

.

Keramaian Kota Tokyo meramaikan suasana sore hari, suara bising dimana-mana. Semua orang bergegas berjalan ketujuannya masing masing. Dari kejauhan terlihat Naruto dan Hinata sedang berjalan di antara keramaian itu. Keduanya Saling diam dan sesekali mencuri-curi pandangan dan tanpa sengaja mata mereka bertemu, lalu kembali lagi mngalihkan pandangan.

Naruto tidak mengerti apa yang harus dia lakukan, yang dia tau di desanya, dia sering melihat laki-laki dan perempuan berjalan bergandengan tangan dan mengunjungi taman. Tetapi di sini, Naruto sama sekali belum mengenal tempat ini dan bodohnya dia kenapa mengajak Hinata untuk berkencan?! Sedangkan saja dia sendiri tidak tau harus apa.

"Na-Naruto-kun?"

"Eh! Iya Hinata, ada apa?" Tanya Naruto yang sedikit terkejut.

"Mau ke taman?" Naruto sangat lega akhirnya Hinata mengusulkan tempat, setidaknya mereka tidak terus berjalan tanpa arah. Bisa-bisa mereka sampai ke Indonesia (?).

"Ayo," Naruto dengan semangat melangkah kedepan sambil menggandeng tangan Hinata.

"Ano… Naruto-kun, lewat sini," Ucap Hinata dengan menunjukan arahnya.

"Maaf," Naruto berjalan dengan lesu.

Sesampainya di taman, mereka duduk di bangku taman. Lagi-lagi tidak ada yang bicara, keduanya sama-sama diam. Karena gerah dengan keadaan ini, Hinata akhirnya memberanikan diri untuk bicara.

"Naruto-kun, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan," Ucap Hinata dengan senyuman dan wajahnya tersipu. "Kamu orang pertama yang mengajakku," tambahnya lagi.

"Sungguh?!" Entah kenapa Naruto merasa senang dengan pernyataan Hinata.

"I-iya Naruto-kun," Jawab Hinata dengan menganggukan kepalanya.

"Hehehe… sebenarnya Hinata, aku tidak tau harus bagaimana dan mengajakmu kemana, tapi biasanya kalau di Konoha aku melihat orang-orang pergi-"

"Konoha?" Tanya Hinata bingung.

'Bohohnya otak dan mulutku,' batin Naruto sambil menepuk jidatnya.

"Konoha itu dimana, Naruto-kun?" Tanya Hinata yang semakin penasaran.

"Konoha itu… itu… desa… " Naruto bingung harus berkata apa, dia menggaruk-garuk kepalanya. Berharap ad aide yang muncul secara tiba-tiba tapi nihil, bodohnya lagi Naruto tidak tau dunia ini seperti apa dan ada Negara apa saja!

"Naruto-kun, sebenarnya kamu siapa?" Tanya Hinata mulai curiga, Hinata tentu saja masih penasaran dengan kemarin perihal Sasori yang memintanya untuk menginap di rumah Sakura. Dan menurutnya ini kesempatan bagus untuk mencari tau.

"Te-tentu saja aku Naruto," Ucap Naruto asal.

"Ceritakan padaku Naruto-kun," Ucap Hinata sambil tersenyum kepada Naruto.

"Aku… sebenarnya bingung harus menceritakannya dari mana dan aku tau Sakura-chan pasti tidak akan suka jika aku mengatakannya padamu, tapi aku pikir kamu harus tau dan bisa membantu Sakura-chan," jelas Naruto.

"Membantu?" Tanya Hinata heran.

"Iya, Sakura-chan hari ini sangat berbeda dan dia semakin tidak bersemangat. Aku pikir ini karena aku dan Sasuke, karena kami membebaninya dan membuatnya susah, jadi Hinata," Naruto menggenggam tangan Hinata. "Percayalah padaku dan dengarkan baik-baik." Ucap Naruto yang menatap Hinata dengan serius.

"Baik," Jawab Hinata.

.

.

"Kumohon Sasuke… jangan pergi..hiks.." Sakura masih memohon kepada Sasuke.

"Sakura, seandainya aku bisa, aku ingin tinggal di sini tapi-"

"Kamu bisa Sasuke! Kamu bisa! Hiks… kalau kamu mau kamu pasti bisa," Bentak Sakura sambil memukul-mukul dada bidang Sasuke.

"Kamu tidak mengerti Sakura!" Sasuke melepaskan pelukan mereka dan menggenggam bahu Sakura. "Tatap aku Sakura," Ucap Sasuke. Sakura berusaha untuk mengangkat wajahnya.

"Kamu tidak mengerti Sakura, aku harus kembali ke Konoha, ada yang aku harus selesaikan." Sasuke berusaha menjelaskan. "Aku harus-"

"Harus apa?! Balas dendam seperti yang dikatakan Naruto?" Tanya Sakura, kali ini Sakura menatap langsung mata Onyx milik Sasuke.

"Iya! Lalu kenapa?! Kalian tidak mengerti apa yang aku derita selama ini!" kali ini Sasuke mencengkram bahu Sakura membuat Sakura kesakitan. "Aku ingin kembali Sakura, aku juga ingin berada di sini, aku mulai menyukai keadaan di sini, tapi aku harus kembali. Mengertilah."

"Sasuke… maafkan aku," Sakura kembali memeluk tubuh Sasuke. "Maafkan aku Sasuke." Ucap Sakura lirih.

Hening.

Mereka hanya bisa mendengar deru nafas mereka. Sakura dapat mendengar detak jantung Sasuke yang lebih cepat dari biasanya.

"Apakah dengan kembalinya kamu ke Konoha akan membuatmu… bahagia, Sasuke?" Tanya Sakura.

"Hn, aku akan Sangat bahagia," jawab Sasuke datar.

"Baiklah Sasuke, aku akan mencari cara bagaimana kamu pulang ke Konoha, jika itu membuatmu bahagia." Sakura melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke. "Aku akan memberitaumu jika sudah ku temukan caranya." Lanjutnya lagi.

"Beritahu aku jika kamu sudah tau," Sasuke bangkit lalu meninggalkan Sakura seorang diri. Sakura menatap punggung Sasuke dari belakang, air mata Sakura menetes melihat kepergian Sasuke.

'Berbohong pada diri sendiri itu menyakitkan,' Batinnya. Sakura meremas seragamnya.

'Tetapi aku tidak boleh egois, harus ku temukan caranya, karena aku… menyukai Sasuke,'

.

~The Book~

.

TBC

.

BBA (Basa-Basi Author) TIME~

Akhirnya *Sujud syukur* selesai! Chapter 6 Update nyahaha… ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, baru bisa update lagi sekarang. Ini gara-gara tugas yang numpuk, tiap hari kerjaannya bikin laporan dan tugas dari dosen, terus di tambah acara-acara lain seangkatan dan bla-bla-bla! Argh pusing aku, derita masuk ke jurusan Biologi *curhat dikit ga apa-apa ya?* dan akhirnya ada yang namanya minggu tenang dan aku gunakan untuk ngebut bikin fanfic ini XD *loncat gaje*

Dan chapter ini agak memaksa dan aneh karena memang buntu idenya jadi ya sudahlah, terima kasih yang selama ini sudah membaca fanfic saya.

.

Balasan Review (^_^)

Kakaru niachinaha : Iya update kyaaaa XD *ikut-ikutan jerit* yup saya sudah lulus dan ya bisa di bilang nilainya pas-pasan XD dan sekarang saya udah kuliah hahaha… Sasuke curi-curi kesempatan meluk-meluk Sakura wkwkwkwk XD. iya saya usahakan update kilat :D

Hira-kun : Siippooo saya udah update XD

lee sica : Kasih tau ga ya? :3 wkwkwkwk… baca aja deh khekhekhe XD Udah update :D

bayux666 : Saya sudah update, makasih sudah menunggu :D suka ya? Arigato :3 makasih banyak! Saya senang kalau ada yang suka cerita saya walaupun agak aneh ceritanya hehe…

Reruya : Benarkah? Keren *mata berbinar-binar* Saya selalu lanjut walaupun lama XD udah update :3

Aoi Merodi The Rose Shadow : Keren? Makasih XD karena yaaaa… baca aja deh kenapa XD wakwakwak *plak* makasih udah di fav *peluk cium* *dihajar*

Vania uchiharuno : Kyaaa Vania kembali :D hehehe… ga papa-ga papa saya juga yang agak lama updatenya nih *pundung* tapi makasih udah selalu menunggu dan menunggu update ya XD *peluk cium* YOSH! Semangat! Udah update dan endingnya sekitar dua atau tiga chapter lagi, mudah-mudahan selanjutnya januari atau februari sudah bisa update! Doakan saya ya XD *plak* *maunya aja*

.

Sekali lagi Terima Kasih banyak!

Reviewnya Please! :D