"Apakah dengan kembalinya kamu ke Konoha akan membuatmu… bahagia, Sasuke?" Tanya Sakura.
"Hn, aku akan Sangat bahagia," jawab Sasuke datar.
"Baiklah Sasuke, aku akan mencari cara bagaimana kamu pulang ke Konoha, jika itu membuatmu bahagia." Sakura melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke. "Aku akan memberitaumu jika sudah ku temukan caranya." Lanjutnya lagi.
"Beritahu aku jika kamu sudah tau," Sasuke bangkit lalu meninggalkan Sakura seorang diri. Sakura menatap punggung Sasuke dari belakang, air mata Sakura menetes melihat kepergian Sasuke.
'Berbohong pada diri sendiri itu menyakitkan,' Batinnya. Sakura meremas seragamnya.
'Tetapi aku tidak boleh egois, harus ku temukan caranya, karena aku… menyukai Sasuke,'
The Book
Disclaimer : Naruto © Master Masashi Kishimoto
The Book © Lyana Boci-Moci
Terinspirasi dari film 'Ink Heart'
Rate : T
Pairing : SasuSaku & other paring
Family, Fantasy, Romance, Comedy
WARNING : TERLALU OOC!, GAJE, GA NYAMBUNG, ANEH, TYPO, EYD ANCUR, SINETRON,OOT, BIKIN BOSAN, GARING ABIS!, DLL
GA SUKA 'THE BOOK'? GA USAH BACA!
KLIK BACK AJA, OK?(^_^)
YANG MAU BACA SILAHKAN BACA! (^_^)
.
~Chapter 7 : Kami-sama, Please kill me now ~
.
Matahari hari minggu terbit dari ufuk timur melengkapi langit yang dihiasi oleh awan-awan, Suara cicitan burung mulai terdengar menghiasi suasana pagi, terbang melintasi langit yang begitu indah saat matahari baru terbit. Cahaya matahari menyeruak masuk melalui celah-celah jendela kamar Sakura, tapi sepertinya ada yang berbeda. Sakura tidak berada di tempat tidurnya, dia sedang duduk di sofa kamarnya dengan memegang buku 'Naruto' di tangan kirinya, dia sudah terbangun atau bahkan belum menikmati tidurnya tadi malam? Entahlah, tetapi terlihat dari matanya yang sayu dan bola matanya terlihat merah sepertinya dapat menjawab pertanyaan tadi.
Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha menyadarkan dirinya sendiri, melangkahkan kakinya menuju kasurnya.
"Tidak ada petunjuk," Gumamnya.
Sakura menatap dirinya di depan cermin, Kejadian kemarin yang tidak terduga karena emosinya yang tidak stabil membuat semuanya kacau. Sakura tau dia tidak bisa melarang Sasuke untuk tetap tinggal di sini, tapi rasanya sangat sakit karena Sakura sudah terlanjur membuka hatinya untuk Sasuke.
"Semangat Sakura," gumamnya pada dirinya sendiri, dia tersenyum. Dia meyakinkan dirinya untuk tetap semangat dan tidak memikirkan kejadian kemarin, kembali menjadi Sakura yang dulu.
.
~The Book~
.
"Mana sih Sakura-chan?" Naruto terduduk di ruang makan bersama Sasuke, dia mengerucukan bibirnya. "Hei Teme, bangunkan Sakura-chan atau lakukan sesuatu. Aku lapar," Naruto memegang perutnya yang berbunyi.
Sasuke hanya diam, tidak mendengarkan perkataan Naruto. Naruto menatap wajah Sasuke, sulit untuk dibaca oleh Naruto apa yang ada di kepala Sasuke sekarang dengan wajah datar khas Uchiha itu.
"Baiklah, aku saja yang membangunkannya." Dengan nada malas Naruto berjalan meninggalkan Sasuke.
"Ada apa Naruto?" Tanya Sakura heran. Dia hanya menatap Naruto, dia memang sengaja tidak ingin terjadi kontak mata dengan Sasuke mengingat kejadian kemarin.
"Sakura-chan! Sejak kapan kamu dibelakangku? Kamu membuatku kaget," Naruto tersentak kaget."Sakura-chan aku lapar, buatkanlah ma-"
"Beli saja di luar," Sakura memberikan uang kepada Naruto. Sakura merasa sepasang mata onyx milik Sasuke sudah menatapnya sejak tadi, seperti sedang membuat lubang di kepala Sakura, membuat Sakura tidak bisa bertingkah seperti biasa. "Ajak juga Sasuke, aku mau keluar sebentar. Oh ya kalian bawa kunci cadangan ya," ucap Sakura seraya kembali ke kamarnya.
"Sakura-chan…"
.
~The Book~
.
Sakura berada di café yang terletak di pinggiran Shibuya yang di ramaikan dengan musik Klasik. Sakura mengetuk jari-jarinya mengikuti irama musik, dia meminum kopi yang telah dia pesan dan menatap keluar kaca yang menampilkan pemandangan orang-orang dan kendaraan yang melintas. Hampir setengah jam dia berada di sini membuatnya sedikit bosan, jika saja dia tidak punya janji bertemu di sini dia pasti sudah menuju taman atau tetap di rumah.
"Sakura-chan," Mendengar suara yang memanggil namanya, Sakura mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. "Maaf membuatmu menunggu lama,"
"Tidak apa-apa Hinata," Sakura menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Hinata duduk di depan Sakura. "Apa ada yang ingin kamu bicarakan, Hinata?" Sakura kembali meminum kopinya.
"Aku sudah tau semua tentang Naruto-kun dan Sasuke," Mata Sakura membulat dan Sakura tersedak kopi yang sedang dia minum.
"Ma-maksudmu?" tanya Sakura tidak percaya.
"Kemarin aku sudah mendengarnya semua dari Naruto-kun. Tenang saja Sakura-chan." Hinata tersenyum dan melanjutkan perkataannya. "Aku percaya apa yang Naruto-kun katakan, memang pada awalnya kupikir itu lelucon saja tapi dari perkataan Naruto-kun membuatku percaya,"
"Dasar orang bodoh itu," Sakura memegang kepalanya sendiri.
Sesaat semuanya hening, hanya alunan musik dan suara percakapan orang-orang sekitar mereka yang terdengar.
"Naruto-kun meminta aku untuk membantumu, dia khawatir dengan tingkahmu yang sedikit berbeda akhir-akhir ini. Tanpa disuruh aku juga akan membantu, tapi kamu tidak memberitau sedikit pun padaku," Hinata tersenyum pada Sakura. Sakura menghela nafasnya.
"Hinata… aku tidak tau apa yang akan aku lakukan karena perasaanku sudah masuk ke dalam masalah ini," Sakura menghela nafasnya lagi.
"Perasaan?" Tanya Hinata bingung.
"Sepertinya aku suka dengan Sasuke," Sakura menatap ke cangkir kopi. Sakura menahan tangisnya. Dia tidak ingin menangis, tetapi dadanya seperti diinjak-injak, begitu sakit dan menyesakkan.
"Su-suka Sasuke?" Tanya Hinata tidak percaya. Sakura hanya mengangguk. "Sakura suka Sasuke? Sakura suka Sasuke yang seperti itu? Sakura suka Sa-"
"Sudahlah Hinata, jangan di ulang-ulang terus," Ucap Sakura dengan nada kesal sambil memajukan bibirnya. Hinata terkikik melihat tingkah Sakura dan wajahnya yang memerah.
"Sakura, apa benar mereka keluar dari buku?"
"Benar, tapi aku tidak tau cara untuk mereka kembali ke dalam buku," Ucap Sakura kecewa, Sakura kembali meminum Kopinya. "Kamu tidak memesan minuman?"
"Sudah tadi," Ucap Hinata sambil tersenyum. "Sakura, bagaimana kalau lusa kita jalan-jalan dengan Ino? " Ajak Hinata.
"Boleh," Sakura menyetujui ajakan Hinata dengan tersenyum lembut.
.
~The Book~
.
Sakura melangkahkan kakinya dengan pelan, terlalu banyak yang dia pikirkan sekarang ─Terutama tentang Naruto dan Sasuke─membuat kepalanya terasa berat. Dia menghela nafasnya lagi, entah sudah berapa kali dia lakukan itu setelah bertemu dengan Hinata.
"Apa yang kamu lakukan?" Sakura dikagetkan oleh suara baritone yang dia yakini milik lelaki berambut raven.
"Sasuke? Sedang apa kamu di sini? Dan diamana Naruto?" tanya Sakura dengan wajah bingung. Sasuke hanya memutar matanya. Bukankah tadi dia yang bertanya, sepertinya Sakura harus memeriksa pendengarannya.
"Di rumah ada banyak orang, aku tidak bisa pulang. Naruto masih di kedai ramen." Ucap Sasuke dengan nada datarnya.
"Banyak orang?" Tanya Sakura heran.
"Sakura," Sasuke menarik tangan Sakura, mengurangi jarak mereka. "Maaf untuk yang kemarin," Mata onyx Sasuke menatap mata emerald Sakura. Rasa sesak di dada Sakura kembali muncul, Sakura berusaha melepaskan tangannya dari tangan Sasuke.
"A-apa maksudmu? Ano… Kita harus pulang," Sakura membalikkan badannya dan melangkah menjauh dari Sasuke.
"Sakura!" Sakura terhenti mendengar teriakan Sasuke, Sakura membalikkan badan dan tersenyum pada Sasuke.
"Aku tidak ingin membicarakannya. Sasuke tidak perlu meminta maaf, Kemarin itu aku yang salah karena melarang Sasuke untuk pulang." Sakura tersenyum walaupun dia memaksakan untuk tersenyum. "Dan aku juga ingin menghilangkan rasa sakit ini. Jadi tidak perlu minta maaf, karena aku pasti akan mencari cara untuk Sasuke dan Naruto pulang ke rumah kalian. Aku mohon untuk sekarang anggaplah kejadian kemarin dan sekarang tidak pernah terjadi," Sakura kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan sedih.
.
.
"Oh Sakura?" Mata Sakura membulat seketika, tubuhnya kaku tidak bisa bergerak sedikit pun. Dia terkejut karena melihat Kakak dan teman-teman kakaknya yang berada di ruang tamu. Sudah terlalu pusing memikirkan satu masalah dan sekarang datang masalah lagi.
"Kami-sama, bunuh aku sekarang," gumam Sakura. Sakura berdoa dalam hatinya, semoga saja Sasori tidak mencurigai keberadaan Sasuke dan Naruto.
"Sakura," Panggil Tobi sambil melambaikan tangan.
"Lama tidak berjumpa Sakura," Tiba-tiba saja Pain merangkul pundak Sakura dan mencium pipinya.
"Apa yang ka-" Wajah Sakura memerah dan berusaha melepaskan diri dari Pain.
"Hoi Pain, apa yang kau lakukan pada Tuan Putri?" ucap Deidara yang duduk di sofa.
"Melepas rindu kepada calon istriku?" ucap Pain sekenanya. Deidara dengan cepat mengambil ponsel Pain yang berada di meja dan menghubungi seseorang.
"Oh halo, ini pacarnya Pain?" Pain berlari ke arah dan merebut ponselnya dari Deidara dengan nafas yang memburu. " Aku bercanda," ucap Deidara sambil menjulurkan lidahnya.
"Lama tidak berjumpa ternyata Tuan Putri sudah punya pacar," Kisame menunjuk ke arah Sasuke yang berada di belakang Sakura.
"Eh dia bu-"
"Dia pacarmu Sakura?! Sejak kapan aku mengijinkanmu pacaran?" Sasori bangkit dan mendekat kearah Sakura.
"Dia bukan Pa-"
"Teme jangan meninggalkanku dong," Naruto bengong setelah melihat keadaan sekitarnya dan Naruto menjerit kaget dengan suara cemprengnya. Dia terkejut melihat banyak orang disekitarnya terutama Sasori, dia masih ingat wajah Sasori saat aksi bersembunyinya ketika Sasori mengunjungi Sakura.
"Wah Tuan Putri punya dua pacar?" Kisame tertawa melihat Naruto yang baru datang dengan wajah terkejut Naruto.
"Mereka bukan pacarku dan bisakah kalian berhenti memanggilku Tuan Putri" Bantah Sakura.
"Baik Tuan Putri," Ucap Kisame.
"Lalu mereka siapa?" Sasori menatap Sakura dengan tajam.
"Me-mereka teman Sekolah," Ucap Sakura asal.
"Sudahlah Sasori, jangan mengaktifkan sister complex modemu itu, kalau seperti ini nanti sakura tidak punya pacar," Deidara mengedipkan sebelah matanya ke arah Sakura. 'Aku akan menyelamatkanmu Tuan Putri,' Batin Deidara.
'Ada apa dengan orang itu,' Batin Sakura sambil menatap Deidara.
"Baiklah, Sakura malam ini kami akan menginap," Sasori tersenyum pada Sakura. Tentu saja Sakura senang, akhirnya Sasori pulang ke rumah. Tapi ini pertama kalinya Sakura tidak ingin Sasori pulang – Karena Naruto dan Sasuke ada di sini – dan Sakura yakin teman-temannya akan menginap juga.
"Hei pacar-pacar Sakura kalian menginap juga ya? Semakin banyak orang semakin rame," Ucap Kisame.
"Sudahku bilang mereka bukan pacarku," Bantah Sakura dengan nada malas.
"Tobi anak baik jadi Tobi percaya dengan Sakura" Ucap Tobi sambil mengangguk.
"Apa hubungannya," Pain menatap malas ke arah Tobi.
"Perkumpulan orang-orang aneh" gumam Naruto.
"Baiklah ayo main game!" Deidara berlari ke tangga disusul dengan yang lain.
"Sakura-chan?" Naruto menghampiri Sakura, Naruto khawatir pada Sakura. Naruto tidak ingin merepotkan Sakura jika Kakaknya mengetahui siapa dia dan Sasuke.
"Tidak perlu khawatir Naruto, bertingkah seperti biasa saja. Mereka hanya semalam di sini," Sakura tersenyum kepada Naruto.
"Hn," Gumam Sasuke tidak jelas.
"Sakura siapkan makan malam ya!" Sasori teriak dari atas.
"Baiklah," menghela nafas.
.
Ruang Makan 19.00 PM
"Kenapa Nii-san jarang pulang?" Sakura metatap
"Kau tau Sakura kalau aku sibuk," Ucap Sasori sambil memakan ayam Teriyaki buatan Sakura.
"Sibuk dengan Akatsuki? Setidaknya pikirkan kuliahmu juga, sebentar lagi nii-san lulus kan?"
"Tenang saja Sakura, jangan khawatirkan Sasori kami selalu ke kuliah bersama-sama," Ucap Pain yang duduk di sebelah Sakura.
"Dengarkan?" Sasori tersenyum bangga.
"Aku tidak percaya," Sakura menatap ke arah Pain dengan tatapan menyeldiki.
"Haruskah aku merekam saat Kakakmu di dalam kelas dalam keadaan belajar?" Kisame terkikik sambil membayangkan idenya sendiri.
"Itu konyol Kisame," Ucap Pain.
"Tidak sebenarnya itu ide yang bagus," Ucap Deidara sambil mengangguk setuju.
"Percaya padaku Sakura, Tobi anak baik tidak akan bohong dan bolos kuliah," Ucap Tobi.
"Sudah jangan membuat adik manisku ini menjadi bingung," Sasori bangkit dan membawa piring kotornya. "Kalian bantu aku cuci piring,"
"Nii-san akan kusiapkan futon untuk teman-temanmu di kamarmu," Sakura beranjak dari tempat duduknya.
"Sasuke dan Naruto maaf ya kamarnya tidak cukup besar, kalian tidur di ruang keluarga saja ya?" Sasori menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kisame, lain kali jangan sembarangan mengajak orang. Kasihan mereka," Deidara memajukan bibirnya.
"Tidak apa-apa, lagi pula kita sudah biasa tidur di sanaaakkkkkkk!" Naruto tiba-tiba teriak.
"Sanak?" Tanya Sasori heran.
"Tidak," Naruto tertawa hambar.
"Teme kenapa menginjak kakiku?" bisik Naruto.
"Hn, bodoh." Jawab Sasuke datar.
"Sasuke, Naruto. Kalian teman Sakura kan?" Sasori menatap Sasuke dan Naruto bergantian lalu tersenyum. "Aku titip adikku ya, karena dia tinggal sendirian di sini jadi aku minta tolong kalau kalian ada waktu mampir ke sini dan memeriksa keadaan Sakura,"
"Wah, ada apa Sasori? Kamu sakit?" Sindir Pain.
"Tidak Sopan," Ucap Sasori.
"Tenang Saja, Kami pasti akan mampir ke sini," Naruto menunjukkan cengiran yang lebar di wajahnya.
"….." Sasuke hanya terdiam.
"Sasori-nii semuanya sudah siap," Terdengar suara Sakura yang memanggil dari lantai dua rumahnya.
"Baiklah, meluncur ke kamar Sasori," Ucap Kisame sambil berjalan.
"Bodoh," Sasuke menatap tajam ke arah Naruto.
"Heh?" Tanya Naruto heran.
"Bodoh," Ucap Sasuke lagi sambil duduk di salah satu kursi meja makan.
"Apa salahku?" Naruto tidak sadar kalau dia hampir saja membongkar rahasia kalau mereka berdua tinggal di sini.
"Lelahnya~" Sakura menghampiri Naruto dan Sasuke, rasanya hari ini merupakan hari sangat lelah. Lelah Fisik dan Batin – lebih tepatnya mental – Sakura.
"Sakura, apakah tidak apa-apa ada mereka di sini?" tanya Sasuke.
"Tidak apa-apa, selagi mereka tidak mencurigai kalian. Lagi pula mereka mengajak kalian menginap di sini," Jelas Sakura sambil mengambil air dingin di Lemari Pendingin.
"Mereka akan menginap berapa lama Sakura-chan?" tanya Naruto.
"Sepertinya hanya untuk malam ini, mereka bilang besok harus pergi untuk persiapan konser mereka," Sakura duduk di salah satu kursi.
"Konser?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Konser itu… umm… seperti pertunjukkan, mereka memainkan lagu dengan beberapa alat musik," Jelas Sakura, Naruto mengangguk mengerti.
"Kalian tidurlah," Sakura beranjak pergi menuju kamarnya.
"Sakura-chan akhir-akhir ini aneh," Naruto menatap Sakura dari kejauhan.
"…"
.
.
Keadaan sunyi menyelimuti rumah Sakura, tentu saja karena sekarang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tetapi gadis berambut pink masih bangun, dia menatap buku 'Naruto' yang berada di sebelahnya. Dia menjambak rambutnya frustasi. Sakura membuka asal halaman buku itu. Sakura mulai membaca kalimat yang ada di buku itu.
"Dia adalah…"
.
.
Ruang Keluarga
Sasuke dan Naruto tidur di ruang keluarga dengan futon yang biasanya mereka gunakan. Naruto sudah tertidur dengan lelap, sedangkan Sasuke masih terbangun dan masih memikirkan perkataan Sakura tadi. Dia merasa sudah keterlaluan dengan Sakura, meminta Sakura untuk memulangkannya ke dalam buku. Yang mengganggu pikirannya tadi yaitu Sakura berkata kalau dia akan menghilangkan rasa sakitnya, rasa sakit apa? Sasuke tidak mengerti.
"BRUK!" Sasuke dengan cekatan terbangun mendengar suara keras dari atas, sepertinya dari kamar Sakura.
"Dobe, bangun bodoh!" Sasuke menendang kaki Naruto.
"Ck, apa sih teme?" Naruto menggaruk-garuk kepalanya.
"Ada suara dari kamar Sakura," Sasuke berdiri dan menarik tangan Naruto.
"Mungkin itu Sakura-chan," Naruto menarik selimutnya, enggan untuk meninggalkan tidurnya.
"Cepat bodoh," Sasuke menarik dengan sekuat tenaga.
.
.
"Sakura ada apa?" Sasuke membuka pintu kamar Sakura dan terkaget karena tiba-tiba Sakura memeluknya.
"Sasuke ada orang aneh lagi dari buku," Ucap Sakura dan masih tetap memeluk Sasuke.
"Orang aneh?" Tanya Sasuke heran.
"Heh! Dia kan-"
.
~The Book~
.
TBC
.
Balasan Review (^_^)
Sasusaku Kira : Selamat datang di , gomen ne lama update nya :3 *digampar* iya kasian Sakura harus memilih keinginannya atau keinginan Sasuke T^T *Tisu abis* ya semoga mereka bisa bersatu :3
Nadialovely : Huaaa maaf maaf kelamaan . Habis bener-bener ga ada ide dan di sibukkan sama kuliah.. saya pasti berjuang menyelesaikan ini *semangat* thanks reviewnya :D
Kakaru Niachinaha : Aa tidak biasa saja sya tidak hebat hehehehe :3 *tersipu* Iya semua karakter yang ada di dunia sekarang (yang ada sakura da hinata) ga ada di buku.. sudah updaate nih Ru :3
Hanazono Yuri : Ini sudah update sekilat kilatnya *digampar* :3 sepertinya tidak ada . *di keroyok fans gaara dan itachi* thanks udah baca and review :D
Sasusakuforever : Sudah update :3 thanks udah baca and review :D
Piacicitcuit : Poor Sakura T^T Sudah update :D thanks udah baca and review :D
Youna Ranba : Gomen Youna telat bgt ini updatenya T^T terima kasih sudah menunggu XD
Mako-chan : Sudah Update :3
Reruya : Saya sudah update walaupun ga cepet jadi ga greget T^T jaa ne~ :3
Azakayana yume : gomen telat :D thanks udah baca and review :D
Nabilla : Ga semua family tp salah satunya XD ya ini dia di chapter ini :3
Lhylia Kiryu : Salam Kenal juga :D iya saya merasa chapternya pendek soalnya ga ada ide T^T Fave! Fave! :3
Sakumori Haruna : jangan mewek *kasih tisu* khukhukhu kok tau? Jangan silent lagi ya hohoho...sudah update :3
Ana : Ada..ada.. maaf telat :3
Aoi Merodi : Ayo review lag review :3 ya semoga happy ending :3
Ichiro Kenichi : Ga ada Itachi sayangnya :D Endingnya gimana ya :3 ra-ha-si-a... Sudah update XD salam kenal juga dari Saya XD
.
.
Basa Basi Author (BBA)
Akhirnya kelar juga *taburin bunga sakura* udah lama banget ga update fanfic, maaf bagi yang sudah menunggu lama. Dan sekarang saya persembahkan Chapter 7 hohoho... mumpung lag libur makannya saya ngetik fanficnya. Saya pasti lanjut walaupun lelet banget hehe...
Maaf kalau lama-lama aneh da banyak typo.. maklum udah lama ga nulis fanfic *sad*
Sekali lagi Terima Kasih banyak bag yang sudah Reveiw, membaca dan penunggu setia!
Review dan fave nya Please! :D
