Chapter 3: Predator and It's Prey


Sora kembali dari long-hiatus! Ditambah internet yang bermasalah, entah kenapa Sora gak bisa buka FFN \(TAT)/ Jadi makin lama deh hiatusnya..

Hohoho, ya sudahlah…! Menuju chap terakhir (spoiler?), mari bersenang-senang~!

Hari ketiga.

Latihan basket—lagi. Akashi mendapat undangan pertandingan dari sekolah lain, SMP Midasaki.

[Sora: Nama SMPnya ngasal, jangan dicari beneran]

Tantangan pertandingan? Kenapa tidak? Lagipula di liburan musim panas ini mereka punya banyak waktu luang. Lebih tepatnya, seharusnya punya banyak. Sekarang sih sudah tidak punya, Akashi mengatur jadwal latihan mereka selama liburan dengan baik.

Terlalu baik, bahkan.

"Akashi-kun, kita akan bertanding dimana?" Tanya Kuroko yang sedang menyedot vanilla shakenya di sebelah Akashi.

"Di Midasaki,"

"Kenapa kita kesini, Akashicchi?" Tanya Kise yang mungkin sudah mencari lokasi Midasaki.

"Menjemput makhluk hitam yang satu itu sebelum berangkat ke Midasaki," jawab Akashi.

"Oh iya, ini kearah rumah Aominecchi,"

"Jadi Kise-kun sudah pernah kesana?"

"Ya, beberapa kali,"

"Dalam rangka apa Kise-kun kesana?"

"Kurokocchi, pertanyaanmu terdengar agak jahat,"

"Kau menemui calon mertua ya, Ryouta?"

"Mou..! Akashicchi..!"

Saat mereka sampai di rumah Aomine, ibunyalah yang menyambut mereka.

"Ah.. Akashi-kun, Kise-kun, Kuroko-kun,"

"Ohayou, Aomine-san, apa Daiki ada?"

"Ah, Dai-chan baru saja pergi,"

Jadi panggilan Dai-chan itu originalnya dari ibunya Aomine-kun/Aominecchi/Daiki?

Wow, pikiran kalian bertiga sama.

"Pergi kemana ya?" Akashi kembali angkat suara.

"Katanya mau ke toko buku, ada majalah yang ingin dia beli," jawab ibu Aomine sambil tersenyum.

DASAR MESUM! TERNYATA PERGI BELI MAJALAH B**** YA!

Wow, pikiran kalian sama lagi.

"Aomine-kun.." mulai terdengar gumaman-gumaman dari si pemain bayangan.

"Daiki.." mulai terasa aura membunuh dari sang kapten.

"Aominecchi…" wow, suaramu terdengar kecewa, Kise.

"Jadi,ada urusan apa dengan Dai-chan?" Tanya ibu Aomine lagi.

Semua hening sejenak, lalu Akashi membuka suara.

"Tidak jadi, maaf mengganggu," Ah Akashi, suaramu penuh aura membunuh.

Dan setelah ibu Aomine menutup pintu.

Hening sejenak bagi para Kisedai.

"… Etto… Akashicchi..?" Tanya Kise yang akhirnya memecah keheningan penuh aura gelap tersebut.

Akashi terdiam sebentar, lalu menjawab tegas, "Kita duluan saja kesana, Shintaro, beritahu Daiki,"

Wakil kapten mereka mengeluarkan ponsel tanpa protes. Saat ini Kisedai sedang bekerja sama menghadapi ulah Aomine. Biar berbeda warna tapi tetap satu!

To: Aomine Daiki

Subject: Aho

Kami duluan, kau menyusul saja nanti.

Dan, ini perintah Akashi.

Bersamaan dengan ditutupnya ponsel flip Midorima, rombongan beraura gelap itu berjalan menuju sekolah tujuan mereka.


Akashi sedang pemanasan saat Midorima menghampirinya membawa ponsel.

"Akashi, coba baca ini," ujar Midorima sambil menunjukkan ponselnya.

From: Aomine Daiki

Subject: [No Subject]

Aku malas, bilang Akashi aku tidak datang

Yang membacanya hening. Pemuda berambut merah ini hening. Hening sih hening, tapi aura gelapnya tidak bisa diam saja. Mungkin kalian bisa melihat semacam tentakel hitam yang melayang-layang dari punggung Akashi. Disertai backsound horror yang entah muncul dari mana.

Midorima menatapnya dengan agak ngeri, beberapa saat sampai akhirnya Akashi menghela napas, dan scene horrornya berhenti.

"Shintarou," Panggil Akashi pada wakil berambut hijaunya.

"I-Iya? Apa-nodayo?"

"Apa bisa pertandingan ini dibatalkan?" Tanya Akashi tiba-tiba.

"Pertanyaan konyol. Tentu saja tidak bisa-nodayo!"

"Ya sudahlah, kalau begitu biarkan saja si Daiki," ujar Akashi sambil menghela napas berat. Midorima hanya mengangguk setuju.

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Kise. Kenapa mereka tahu itu ponsel Kise? Nada deringnya eksotis, mungkin.

"Akashicchi?" Tanya Kise sambil menoleh kearah Akashi, minta izin mengangkat telponnya.

"Jangan lama-lama, Ryouta," jawab Akashi, Kise mengangguk lalu mengangkat telepon itu dan berlari keluar gym.

Biarlah Aomine pergi. Lagipula, tanpa Aomine pun mereka bisa menang. Tak akan ada masalah, Akashi bisa menegur bawahannya itu nanti.

Tak akan ada masalah… kan?


"Loh? Hei, kapten Teikou!" Seorang pemuda dari tim lawan memanggil Akashi.

"Ya?" Jawab sang Kapten sambil berjalan menghampiri si pemanggil.

"Kemana Acemu?"

Akashi menghela napas, baru menjawab, "Tidak datang."

"Heeh? Kenapa?" Tanya kapten lawan sambil berkacak pinggang, menatap pemuda berambut merah yang lebih pendek darinya.

"Sudahlah, bukan urusan kalian," jawab Akashi sambil menghela napas—lagi.

"Oh, tentu saja itu urusan kami, apa yang akan dilakukan predator kalau mangsanya hilang?" jawab kapten lawan sambil mengangkat bahu.

Agak kesal mendengar timnya dihina, Akashi menjawab dengan tantangan, "Kau bisa bicara begitu setelah kau sadar siapa predator dan siapa yang jadi mangsa,"

Lalu kapten berambut merah itu berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan kapten lawan yang mengeluh-ngeluh.

Ah.. Aku kelepasan bicara, batin Akashi sambil menghela napas.

Mungkin nanti aku harus minta maaf.. Kenapa aku jadi cari masalah dengan kapten lawan sih?

"Akashicchi..! Gawat!"

Belum sempat Akashi menyelesaikan renungannya, ada suara dari belakangnya yang menginterupsi.

"Ada apa lagi, Ryouta?" Tanya Akashi sambil menoleh pada pemuda pirang yang berlari kearahnya.

"Gawat! Aominecchi..!" Napas Kise terengah-engah dan tidak teratur.

"Hei, tenang dulu, Ryouta," ujar Akashi.

"Aominecchi..! Aominecchi masuk Rumah Sakit!"

Seluruh anggota Kisedai hening sejenak, lalu..

.

.

"HAAH?!"

"Hei, maksudmu apa, Kise?" Midorima jadi orang pertama yang menanyakannya.

"Kise-kun, kalau kau bohong aku akan sangat marah,"

"Mou! Jahat! Aku tidak bohong..!"

Akashi, melihat keributan yang diperbuat Kisedai minus dirinya dan Murasakibara, menengahi.

"Shintarou, Tetsuya, tenang dulu. Nah, Ryouta, duduklah dulu dan jelaskan semuanya, ya?"

Kise mengangguk dan duduk di sebelah Akashi.

"Jadi," ujar Akashi memulai pembicaraan, "Apa yang terjadi?"

Kise menggeleng, "Aku tidak tahu, tadi Ibu Aominecchi menelpon dan memberitahuku, dia juga belum tahu kenapa karena Aominecchi pingsan dan belum sadar,"

Akashi manggut-manggut mendengar penjelasan Kise, "Dia ada di Rumah Sakit apa, Ryouta?"

"RS Nanatsujima," jawab Kise singkat.

Akashi menghela napas, lalu menangguk lagi dan tersenyum, "Bereskan barang kalian, kita kesana sekarang," ujarnya.

Kise jelas terlihat senang, dia nyengir lebar dan mengangguk, "Baik, Akashicchi!"

"Akashi, kau yakin?" Tanya Midorima sambil melirik kearah tim lawan yang ada di sisi lain lapangan.

Akashi mengangguk tegas, "Biar aku yang bicara dengan lawan kita," ujarnya sambil berdiri.

Tapi tampaknya Akashi tidak perlu menghampiri mereka untuk bicara.

"Hei, ngapain kalian beres-beres?"

Serentak para Kisedai menoleh ke sumber suara, kapten lawan.

"Mohon maaf, tapi kami ada urusan mendadak!" ujar Kise sambil sedikit membungkuk pada kapten lawan.

"Kami minta maaf, tapi ini sangat mendesak," Kuroko ikut membungkuk.

Akashi mengangkat bahu, lalu angkat bicara, "Kau dengar kata mereka, kami harus segera pergi. Maaf sudah merepotkan,"

Kapten lawan itu menghela napas panjang.

"Orang kuat itu memang begini yah? Seenak jidat saja tingkahnya," hinanya sambil menatap Kuroko dan Kise yang masih membungkuk, "Dasar egois,"

Akashi mengernyit sedikit mendengar perkataannya. Bahkan Kise terlihat mengepalkan tangan karena marah.

"Egois? Kalian kan tidak tahu apa-apa! Jangan seenaknya menyebut Akashicchi egois!"

'Hentikan..,' satu kata itu melintasi benak Akashi.

Kapten lawan itu mendecakkan lidah, "Kau tidak takut membuat masalah ya? Merasa aman karena punya jaminan pekerjaan?" ujarnya sambil melipat tangan di dada.

'Hentikan, cukup..!'

"Kami tahu kau marah, tapi bisa berhenti menghina kami?" ujar Akashi sambil mengisyaratkan agar Kise dan Kuroko berdiri lagi. Tentu saja mereka menurut, siapa yang mau membungkuk lama-lama pada orang seperti ini!

"Aka-chin, dia menyebalkan, boleh kuhancurkan?" Komentar Murasakibara yang sepertinya malah memperburuk amarah lawan.

Akashi merentangkan sebelah tangan agar Murasakibara tidak mendekati lawan mereka dan mulai mengintimidasinya dengan tubuh seukuran 2 meter.

"He? Memangnya kalian punya alasan untuk menolak dihina? Dasar kumpulan orang aneh!"

'Hentikan.., kumohon… Jangan lagi..'

Akashi menggeram pelan, "Kami tidak keberatan kau hina, tapi jangan menghina Teikou!" ujar Akashi setengah membentak.

Akashi mengernyit saat lawan bicaranya menarik bajunya, marah.

'Orang ini kenapa sih? Ngapain dia marah begini?', batin Akashi agak bingung.

"He-Hei! Lepaskan Akashicchi..!" Kise berusaha menenangkan kapten lawan itu.

"Jangan berisik, banci, aku hanya ingin memberi si kecil ini pelajaran," ujarnya sambil terus menatap mata Akashi.

Kise terdiam, sementara anggota tim lawan mulai berdatangan karena penasaran.

Kapten lawan kembali bicara, "Aku mulai muak dengan kalian semua, bagaimana kalau kuajari kau siapa yang predator disini?" begitu ancamnya sementara matanya terus menatap mata Akashi dengan pandangan ganas.

Rasa sakit yang menusuk menyerang kepala Akashi.

Siapa predatornya? Siapa mangsanya? Siapa, ya? Hmm.. Berhentilah sok kuat dan coba kau pikir dengan kepala jernih, Seijuurou..

"Ukh.." Akashi mengerang pelan, kepalanya sakit sekali. Pasti karena suara tadi.

"Kenapa diam saja? Lidahmu hilang ya?" ejek kapten lawan tadi, cengkramannya di kaus Akashi makin kencang.

'Cukup…!'

Kise membuka mulut, hendak mengucapkan sesuatu—apapun—untuk membela Akashi yang berada dalam cengkraman kapten lawan. Tapi niatnya menghilang saat Akashi meliriknya, cepat dan samar. Melihat isyarat mata Akashi, Kise langsung tutup mulut.

Kise harus percaya pada kaptennya. Akashi pasti punya cara untuk lolos dari situasi ini tanpa konflik tambahan.

Benar saja, setelah Kise tutup mulut, Akashi melancarkan 'serangan balasan' pada kapten lawan.

"Lepaskan aku," perintah Akashi sambil balik mencengkram tangan kapten lawan.

Kapten tim lawan tersenyum menantang, tidak menyadari bahaya yang mendekat, "Kalau tidak kulakukan bagaimana? Kau mau apa?" ujarnya.

"Kubilang lepaskan aku, manusia rendahan!" bentak Akashi sambil menyentakkan tangan kapten lawan yang daritadi memegangi kausnya.

Akashi melompat mundur dua langkah dan balas menatap kapten lawan yang berdiri termangu di hadapannya.

Matanya yang berwarna merah perlahan berubah menjadi warna emas yang berkilauan. Dan kali ini, Akashi bisa merasakannya.

Selama ini yang dia dengar hanyalah orang-orang meneriakkan sesuatu tentang matanya. Sekarang, Akashi bisa merasakan matanya berubah. Entah bagaimana cara menggambarkannya, rasanya seperti ada 'hal lain' yang menyelimuti mata kirinya, mengubahnya menjadi sesuatu yang merupakan miliknya, dan juga bukan miliknya. Rasanya aneh, dan sedikit mengerikan.

Ini gawat, batin Akashi.

Situasi jadi aneh sekali! Akashi ingin sekali pergi sebelum ada yang menyadari, tapi itu tidak mungkin karena kini seluruh anggota tim lawan menatapnya ngeri. Jelas sekali mereka memperhatikan mata Akashi.

Para Kisedai, yang daritadi berdiri di belakang Akashi, mengerumuni Akashi, menanyakan apa dia baik-baik saja.

Akashi langsung menunduk, menyembunyikan matanya di balik rambut merah yang menutupi dahinya.

"Akashicchi! Kau tidak apa-apa kan..?"

"Akashi-kun!"

"Aka-chin?"

Akashi tidak menjawab satupun dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Dia takut.

Dia takut dengan kondisi jiwanya yang tidak stabil, yang disebabkan 'Orang itu', dia malah akan mendorong kebaikan sahabat-sahabatnya menjauh.

"Hei, Akashi! Kau ini, kalau ditanya, jawab—!" Midorima ikut menimpali, sambil menarik bahu Akashi agar dia berbalik menghadap para Kisedai. Tapi sebelum sempat membuat Akashi berbalik, kalimatnya dipotong.

"JANGAN SENTUH AKU!" Begitu seru Akashi, lalu mengangkat kedua telapak tangannya menutupi muka. Akashi duduk meringkuk disana, tidak memedulikan tatapan bertanya dari seluruh orang sekitarnya.

Suara Akashi yang tadinya membentak, memerintah, terdengar mendominasi dan menolak pertentangan, berubah jadi lemah dan lirih, menyisakan hanya bisikan.

"Jangan sentuh aku, jangan lihat aku..!" gumam Akashi sambil tetap menutupi wajahnya.

Selama beberapa saat, tak ada suara apapun selain gumaman lirih Akashi.

"Akashi-kun..?" Kuroko memecah keheningan.

Bibir Akashi bergerak merangkai kata-kata, yang ,dengan usaha karena suaranya hanya berupa bisikan, ditangkap oleh Midorima dan Kuroko.

"… Maaf, kalian pergilah duluan," bisik Akashi sambil berdiri perlahan.

"Akashicchi?" Tanya Kise melihat tingkah aneh kaptennya tersebut.

Belum sempat Kise bertanya, kapten berambut merah tersebut sudah berlari sekuat tenaga keluar dari gym.

"Akashi!" seru Midorima, berusaha mengejar Akashi.

"Jangan ikuti aku!" bentak Akashi tanpa berhenti berlari. Refleks, Midorima mengerem kakinya yang mengejar Akashi.


Meninggalkan semua orang di gym yang terdiam, Akashi terus berlari, berlari entah kemana. Langkah kakinya membawanya ke sebuah taman kecil di belakang bangunan sekolah, tempat sepi dan terlantar tanpa ada yang mengurus.

Tempat yang cocok sekali dengan Akashi Seijuurou. Sepi. Tidak terurus. Berantakan. Kacau. Tak ada seorangpun yang mau memasukinya.

Akashi berjongkok dan melongok ke kolam. Airnya yang keruh memungkinkan Akashi melihat pantulan wajahnya disana. Akashi terus menatap pantulan wajahnya di kolam tanpa bicara. Diperhatikannya tiap garis di wajahnya sendiri. Mulai dari rambut merahnya, kulitnya yang, walaupun tidak separah Kuroko, sedikit pucat. Pipinya. Hidungnya. Bibirnya. Segalanya dalam kondisi yang seharusnya.

Kecuali satu.

Mata kirinya yang memantulkan cahaya keemasan di kolam. Cahaya keemasan yang indah sekaligus mengerikan. Keunikan dari mata emas itu terlihat mencengangkan, membuat merinding bagi yang menatapnya.

Akashi mencelupkan jarinya ke air kolam yang kotor danmengayunkannya, mencipratkan air ke sekitarnya, mengacaukan bayangan yang merupakan pantulan wajahnya.

Baguslah, kalau kacau begini justru lebih mirip denganku, batin Akashi sambil terus mengaduk-aduk air kolam yang kotor, membuatnya terlihat semakin keruh.

Keruh sekeruh ekspresi dan senyum sedih di wajah Akashi.

Seijuurou..

Jari Akashi berhenti mendadak, dan setelah beberapa saat kolam tersebut kembali tenang, yang masih mengacaukan bayangan di permukaannya hanyalah riak-riak kecil yang disebabkan oleh air mata yang lolos dari kedua mata Akashi yang berbeda warna.

"Diam.." bisik Akashi pada dirinya sendiri. Pada 'Orang itu'

Seijuurou..? Aku mau bicara..

"Diam! Diam..!" Jerit Akashi histeris, air mata mengaliri pipinya. Kedua tangannya menutup telinganya dalam usaha sia-sia untuk menghalangi suara yang bersumber dari dirinya sendiri.

Seijuurou.. Kumohon, jawab aku..

Suara 'Orang itu' makin lama terdengar makin lirih dan dipenuhi nada memohon. Akashi tidak tahan mendengarnya. Akashi tidak tahan mendengar 'Orang itu' memohon-mohon.

Akashi muak mendengarnya.

Suara orang yang biasanya mendominasi keberadaannya, mendominasi pikirannya, mendominasi jiwa dan kesadarannya. Mendominasi seluruh keberadaan Akashi Seijuurou tanpa izin, tanpa persetujuan ataupun kerelaan dari Akashi.

"Kenapa aku tidak bisa bebas darimu..? Kenapa kau terus menghantui keberadaanku?" bisik Akashi, mengeluh dengan suara terisak, menyalahkan nasibnya yang terlahir dengan keberadaan 'Orang itu' di dalam dirinya.

Tapi kalau bukan nasib, siapa lagi yang bisa dia salahkan?

Dia tak bisa menyalahkan 'Orang Itu' seperti dia tidak bisa menyalahkan Ibu yang melahirkannya dengan 'Orang Itu' di dalam kesadarannya.

Seijuurou, kumohon..! Dengarkan aku!

"Tidak! Diam! Diam! DIAM!" bentak Akashi pada bayangan di air. Ditatapnya mata emas yang berkilau mencengangkan. Tatapan yang menghipnotis dan menarik orang yang melihatnya ke dalam cahaya keemasan yang asing dan indah.

"Pergi..!" suara Akashi makin terdengar lirih, "Cukup! Pergilah..!" bentaknya pada 'Orang itu'.

Kalau kau menolak mendengarkanku, siapa yang akan mendengarkanku?

Akashi terdiam. Suara 'Orang itu' masih terdengar memohon.

"Cukup.., hentikan..,"

Seijuurou..?

'Orang Itu' memanggil lagi. Tapi kali ini ada 'sesuatu' yang menarik Akashi untuk mendengarkan permohonannya. Menarik kesadaran Akashi mendekat menuju sepasang mata emas yang menghipnotis. Sebuah permohonan yang tulus setulus-tulusnya.

Akashi tidak menjawab. Tidak bicara sama sekali, hanya diam. Diam, memberi kesempatan untuk 'Orang itu' bicara.

Terima kasih, Seijuurou..

"Baru 3 hari dan kau sudah menggangguku?"

'Orang itu' terdiam sejenak, lalu bicara pelan.

… Seijuurou, kalau aku menghilang, kau akan baik-baik saja kan?

"Haah? Maksudmu apa?" Tanya Akashi.

Kalau aku tidak bersamamu lagi, apa kau akan baik-baik saja?

Akashi menghela napas, "Tentu saja bodoh! Kau itu menggangguku!"

Akashi tidak mendengar jawaban, tapi di dalam kesadarannya sendiri. Akashi bisa merasakan kebahagiaan mengalir dari 'Orang itu'.

Terima kasih, Seijuurou.

Akashi menghela napas, dan tanpa sadar tersenyum tipis. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa bahagia.

"Kau mau menjelaskan kenapa matamu ini muncul, kan?" Tanya Akashi, "Kurasa kau tidak serendah itu sampai melanggar kesepakatan kita?"

Ter.. ma.. asih..

Suara 'Orang itu' makin terdengar samar, seperti robot yang kehabisan baterai.

"Hei! Apa maksudnya?!"

Tidak ada jawaban.

"Hei!"

Masih tidak ada jawaban.

"Jawab aku!"

Tidak juga ada jawaban.

Tidak biasanya 'Orang itu' mengabaikan dia justru kelewat senang saat Akashi memanggilnya. Seperti anak kecil saat menyambut orang tuanya sepulang kerja.

Akashi yang kebingungan menggali sendiri kesadarannya, mencari 'Ruang Kosong' yang menjadi tempat 'Orang itu' tinggal dalam dirinya.

Yang dia temukan adalah sebuah pintu besar dengan rantai raksasa mengikatnya, mencegah siapapun yang berusaha mendobrak masuk.

Akashi, tentu saja, kebingungan. Tak ada tempat seperti ini dalam kesadarannya. Tak ada bagian dari kesadarannya yang tidak bisa ia masuki.

Lagipula, pintu ini sama seperti 'Orang Itu'. Terasa asing sekaligus familier. Sesuatu yang merupakan bagian dari Akashi Seijuurou, tapi bukan bagian dari dirinya.

Akashi juga tidak menemukan cara untuk membuka pintu itu. Tak ada apapun yang terlihat seperti lubang kunci atau semacamnya.

Menyerah mencari cara, Akashi membentak, "Argh..! Persetan! Ini kesadaranku sendiri tahu! Semua disini! Milikku! Pengganggu sepertimu, minggir! Minggir!" seru Akashi di depan pintu besar itu, dan pintu tersebut perlahan-lahan menjadi serpihan dan jatuh layaknya pasir.

Akashi menatap lurus ke depan, hal yang berdiri disana mengejutkan Akashi.

'Orang itu' berdiri disana, membelakangi Akashi. Tapi dia tampak berbeda.

Apa yang membedakan?

Mungkin yang membuatnya berbeda adalah kulit di tubuhnya yang sebenarnya tidak nyata itu mengelupas, menampakkan daging merah, di beberapa bagian kau bahkan bisa melihat tulang keputihan yang hancur. Darah merah segar membasahi lantai tak terlihat di 'Ruang Kosong' tersebut.

Hanya satu kata yang bisa menggambarkan orang itu.

Hancur.

Tubuhnya hancur. Walaupun 'Orang itu' tidak punya tubuh nyata, tapi melihat pemandangan mengerikan, yang mungkin hanya diciptakan kesadaran Akashi sendiri, membuat Akashi menahan napas ngeri.

"Hei!" seru Akashi sambil berjalan menghampiri 'Orang itu'.

Sei.. juurou..

Akashi terdiam. Suara 'Orang itu' terdengar berbeda, terdengar seolah suaranya terbenam dalam aliran pasir yang membawa serta tubuh 'Orang itu' menjauh dari Akashi. Suaranya terdengar menjauh.

Dan saat 'Orang itu' menoleh kearah Akashi, Akashi berteriak ngeri.

"UWAAAA!" seru Akashi kaget, dan ngeri.

Separuh wajah 'Orang itu' sudah hancur lebur. Hanya tersisa sebuah bola mata keemasan. Yang tersisa dari wajah yang hancur itu adalah rambut merah yang berantakan dan mata keemasan yang bersinar redup.

"Ke-Kenapa? Tubuhmu? Kemana mata kirimu?" Tanya Akashi sedikit terbata-bata.

Walaupun wajahnya hancur, Akashi melihat 'Orang itu' tersenyum, lalu dengan mulut yang setengah hancur, dia merangkai kalimat.

Lihat.. Di bahumu.. ujarnya dengan suara yang lirih.

Akashi langsung menoleh kebahunya sendiri. Yang ada disana membuat Akashi kembali berteriak.

"WUAAAHH!"

Disana ada sebuah bola mata berwarna keemasan. Melayang-layang di sekitar bahu Akashi sementara syarafnya menempel ke kepala Akashi.

Rasa dingin luar biasa menjalari tubuh Akashi. Rasa ngeri.

"Apa ini!?" seru Akashi, berusaha mencabutnya.

Tapi bukannya tercabut, malah rasa sakit luar biasa yang Akashi dapat.

"Argh!"

Hentikan, Seijuurou..! Dia bagian dari dirimu. Kalau kau lepas, sama saja seperti mencabut keluar jantungmu sendiri, jelas 'Orang itu'.

Akashi terdiam. Orang itu memperdengarkan suara yang sepertinya merupakan tawa.

Kemarilah Seijuurou. Tubuhku sudah hancur, tapi aku bisa menjelaskan segalanya padamu.. Ujar 'Orang itu' sambil melambaikan telunjuknya, mengisyaratkan Akashi untuk mendekat.

Akashi menurut, lalu melangkah mendekat, setelah beberapa langkah, 'Orang itu' mengangkat tangan dan menyuruh Akashi berhenti.

Jangan terlalu dekat, 'Kehancuran'nya bisa ikut menelanmu.

"Hah?"

Sudahlah, pokoknya dengarkan saja aku. Nah, Seijuurou, untuk pertanyaanmu tadi. Akan kuberitahu sebuah fakta dasar dan penting kalau aku tidak mengganggumu. Lebih tepatnya kaulah yang menggangguku.

"Maksudmu apa? Selama ini kau selalu menggangguku!"

'Orang itu' menempelkan jarinya yang tinggal tulang ke bibir, menyuruh Akashi tenang.

Aku memang ada disini sejak kau lahir. Tapi aku ada di setiap manusia saat mereka lahir. Aku adalah semacam belahan jiwa manusia.

Akashi mengernyit, tapi tidak berkomentar.

Aku adalah kesadaran yang ada untuk menemani manusia sampai mereka menemukan manusia lain untuk bersama mereka. Tapi, Seijuurou, 'Orang Itu' mengeluarkan desahan kecewa, Kau terus mengalirkan rasa kesepianmu ke ruangan ini. Yang menyebabkan kegelapan menyelimuti ruangan ini. Dengan melakukan itu, kau membuatku tak punya pilihan selain mengambil rasa sepimu dan berkembang.

"Berkembang?"

'Orang itu' mengangguk.

Kau membuatku berkembang menjadi entitas yang sepenuhnya berbeda dari belahan jiwa. Kau memberiku wujud, kau memberiku watak, kau memberiku akal. Kau memberiku kekuatan. Kau menciptakanku, semua karena kau menjauhi orang lain.

"Lalu? Ini?" Tanya Akashi sambil menunjuk bola mata emas yang ada di bahunya.

Mata itu adalah kekuatan yang kau berikan padaku secara tidak sadar, kekuatan untuk melindungimu. Kekuatan seorang Penguasa. Mata milik sang Raja.

Akashi teringat setiap saat 'Orang itu' mengambil alih tubuhnya.

Dia hanya ingin melindungi Akashi..

Dalam sekejap, rasanya segala yang Akashi lakukan pada 'Orang itu' sangatlah salah. Akashi yang membencinya, mengutuknya, selalu mengusirnya.

Karena itu, tanpa sadar pula, kau menggapai kekuatanku untuk melindungimu dan orang di sekitarmu. Kekuatan ini pada dasarnya milikmu, aku tidak berhak mempertahankannya. Begitu pula wujud ini. Wujud ini milikmu. Segala emosi yang kurasakan, semuanya milikmu. Mereka semua mengalir padamu.

Itu menjelaskan kenapa terkadang Akashi mengalami yang disebut moodswing.

'Orang itu' tersenyum lagi.

Apa kau sadar ruangan yang tadinya sangat luas tanpa batas ini kini makin mengecil? Kau tahu kenapa?

Akashi menggeleng untuk menjawab kedua pertanyaan tadi sekaligus.

Itu berarti 'hati'mu sudah tidak kosong lagi, Seijuurou. Aku harus berterima kasih pada teman-temanmu. Aku sudah tidak punya tempat disini. Jadi, sekarang mereka semua—kekuatan ini, kesadaran ini—kembali jadi milikmu, Seijuurou. Ambillah.

"Maksudmu? Untuk apa memiliki kekuatan yang tidak bisa kugunakan?" Tanya Akashi.

Kau akan tahu nanti. Tapi—atas dasar keegoisan—aku ingin kau mengingat nama kekuatan ini, ingatlah namaku.

Akashi mengangguk, matanya maupun mata emas yang ada di bahunya menatap lekat-lekat pada 'Orang itu'.

Namaku, Emperor Eyes.

Akashi tertegun sejenak, lalu tersenyum, "Namamu terlalu bagus," ujarnya sedikit sinis.

'Orang itu' tertawa kecil.

Spereti sudah kubilang, saat ini, segalanya akan kembali padamu, dan aku akan menghilang.

Akashi hendak memprotes, tapi 'Orang Itu' mengangkat jari, dan kembali bicara.

Tenang. Kekuatan ini akan jadi pedang dan perisaimu, seperti yang kau katakan tadi. Kau akan baik-baik saja. Janganlah mengurung diri di ruangan ini lagi.. ya? Agar aku bisa pergi dengan tenang!

Begitu ujar 'Orang itu' sambil tersenyum.

"Jadi sekarang kau akan pergi?" Tanya Akashi. Walaupun jelas Akashi merasa senang, tapi ada setitik rasa bersalah di hatinya.

Mengetahui adanya perasaan itu malah membuat Akashi makin merasa bersalah. Sahabat yang selalu melindunginya dari apapun, sekarang akan menghilang. Dan dia malah bersyukur.

Ya. Sejak kau menolak keberadaanku, aku tak punya pilihan selain pergi. Tantangan yang kuberikan padamu hanya untuk mengetahui apa kau bisa melindungi dirimu dengan kekuatan ini tanpa bantuanku?

Oh! Dan, kuberitahu kau. Akan ada 'Sesuatu' yang mendekatimu dalam waktu dekat. Bencana, Hal Buruk. Kuharap kekuatan mata itu bisa melindungimu saat waktunya tiba. Berhati-hatilah Seijuurou.. Dan jangan lupa, aku bisa saja kembali jika kau terus menjauhi orang lain!

'Orang itu' terus tersenyum. Lalu melambaikan tangan, dan perlahan tubuhnya yang sudah hancur rontok menjadi abu, dan hancur menjadi debu.

Akashi menatap tempat 'Orang itu' tadinya berdiri, rasanya senang bisa terlepas dari beban.

Tapi tetap saja.. Rasanya kosong. 'Orang itu' adalah bagian dari Akashi. Teman yang, Akashi tahu, tak akan pernah meninggalkannya, bahkan jika Akashi mengusirnya mati-matian.

Kehilangan dia seperti kehilangan diri Akashi sendiri.

Keberadaan 'Orang itu' adalah hal yang dengan egoisnya Akashi rahasiakan. Akashi tahu sahabat-sahabatnya akan dengan senang hati menerimanya walaupun dengan keberadaan 'Orang itu' yang sebenarnya agak absurd untuk dijelaskan. Tapi Akashi dengan egoisnya merahasiakan hal ini. Dia menyimpan sebuah rahasia tanpa alasan apapun. Dia memendam keberadaan 'Orang itu' dalam-dalam di hatinya.

Dia membuat 'Orang itu' menjadi miliknya seorang.

Tanpa sadar, Akashi menangis.


"..shi-kun? Akashi-kun? Akashi-kun, bangun..!"

Akashi langsung membuka mata mendengar suara itu, ditengoknya tangan pucat yang menepuk pundaknya.

"..Oh, kau, Tetsuya.. Jangan mengejutkanku," ujar Akashi sambil menghela napas. Sepertinya dia tertidur.

"Akashi-kun tidak kembali ke rumah maupun datang ke Rumah Sakit, jadi kami mencari Akashi-kun," jelas Kuroko.

Akashi menghela napas lega. Lalu melirik ke kolam, melihat pantulan dirinya. Mata kirinya berubah, atau mungkin tidak berubah? Mata kirinya kini berwarna emas. Dan Akashi tahu ini akan jadi permanen. Jadi dia harus membiasakan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tentang matanya.

Kuroko pun terdiam begitu dia melihat mata Akashi.

".. Mataku aneh ya, Tetsuya?" Tanya Akashi sambil tersenyum hangat.

"… Tidak juga.. Aku hanya kaget… Menurutku mata Akashi-kun terlihat.. Indah, cantik sekali," ujar Kuroko sambil mengelus pipi kiri Akashi, mata biru mudanya terpaku pada mata Akashi tanpa kehilangan fokus barang sedetikpun.

Seperti yang Akashi tahu, mata ini sangat menghipnotis yang melihat.

"Jangan melihatnya terlalu lama, Tetsuya," tegur Akashi sambil mengangkat tangan menutup mata kirinya, menyadarkan Kuroko dari lamunannya.

"Kenapa?"

"… Terlalu berbahaya. Besok aku akan beli lensa kontak, atau mungkin kacamata," ujar Akashi sambil berdiri.

Kuroko tersenyum, dia bahkan tidak terlihat mempertanyakan maksudnya 'berbahaya'. Akashi senang dengan pengertian yang Kuroko tunjukkan padanya.

Kalimat 'Orang itu' mengiang di kepala Akashi, "Aku bisa saja kembali jika kau terus menjauhi orang lain!"

Anehnya, peringatan itu membuat Akashi senang. Akashi senang, karena merasa bahwa akhirnya, dia punya suatu pegangan dalam hidup.

Dia punya suatu tujuan, suatu hal yang harus dihindari. Itu memberi Akashi ketenangan. Seperti adanya pagar di jalan sempit yang dikelilingi jurang, kalimat itu memberinya pegangan agar tidak jatuh dalam jurang kesepian lagi.

"Ayo, Akashi-kun, yang lain masih mencari Akashi-kun," ajak Kuroko memecahkan lamunan Akashi.

Akashi hanya tersenyum dan mengangguk sambil mengikuti di belakang Kuroko.

"Oh ya, Daiki bagaimana? Kalian tanya kenapa dia masuk rumah sakit?" Tanya Akashi, baru teringat. Segala kejadian dengan 'Orang Itu', atau sekarang mungkin Akashi harus memanggilnya Emperor Eyes, membuatnya lupa dengan insiden 'Daiki-masuk-rumah-sakit-dan-karena-itu-aku-bertengkar-dengan-kapten-Midasaki.'

Dan Akashi teringat dia harus minta maaf pada kapten Midasaki. Sikapnya tadi memang sedikit keterlaluan.

Tapi bagaimanapun juga, merekalah yang memulai pertikaian, jadi lupakan itu sejenak, kondisi Aomine lebih penting.

Kuroko terdiam sejenak, lalu bicara pelan, "Soal itu…" ujarnya sambil memalingkan muka dari Akashi.

"Tetsuya? Daiki kenapa?"

Kuroko terdiam, lalu menjawab, "Maaf, tapi aku tidak bisa memberitahu Akashi-kun,"

Akashi menghela napas, dan kembali menarik Kuroko berjalan pulang.

Apa yang terjadi pada Daiki sampai Tetsuya tidak mau memberitahuku?

TBC

Hampir 4,000 kata! Chapter terpanjang dalam sejarah FFN Sora!

Sora senang sekali bisa kembali ke FFN *lap keringet**nangis terharu* Tapi masa percakapan Akashi dan Emperor Eyes mirip Scrap… Sora kebanyakan main DMMD nih -,-

Bagi yang gak tau DMMD, Sora sarankan JANGAN dicari.

Dan, Sora tahu chap ini akhirnya agak tidak menggiurkan untuk lanjut baca, Sora tahu kok, Please bear with me!