Chap 4: Final Test of The Emperor Eyes-Beginning
Hmm di chap ini SORA KASIH BONUS AKAKURO. Berhubung Sora juga lagi haus akan AkaKuro /heh
Bonus AkaKuro lagi… kencan?
Nikmati deh
Dan, disini Akashi adalah makhluk lembut dan baik hati yang peduli sesama. OOC dikit dulu, karena Sora mau menonjolkan kebaikan Akashi di chap ini.
Plus, ini chap peralihan, intinya di chap ini isinya MASA DAMAI. Yang males masa damai, tunggu aja lanjutannya, bakal lama sih XD
####
Dua hari berlalu setelah kejadian di Midasaki. Dua hari sejak Akashi mendapat mata keemasan ini. Dua hari sejak dia mendapat berita Aomine dibawa ke rumah sakit.
Tapi dalam dua hari ini, Akashi sama sekali tidak mendapat informasi baru. Baik tentang penyebab Aomine dirawat, ataupun tentang mata tersebut.
Setidaknya urusan mereka dengan Midasaki selesai.
Bahkan kapten mereka bilang mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan saat itu. Aneh, memang, Akashi merasa apa ini 'Bencana' yang diberitahukan Emperor Eyes?
Dan dalam dua hari ini ada benda baru yang bertengger di wajah Akashi.
Kacamata.
Dengan terpaksa, tentunya.
Daripada mata kirinya mempengaruhi orang di sekitarnya, lebih baik dia pakai kacamata.
Lebih baik lagi kalau dia punya lensa kontak.
Sayangnya, dibayar berapapun juga, lensa kontak berwarna merah tidak bisa selesai dalam sehari.
Hari ini Akashi berencana pergi mengambilnya, pas sekali Aomine sudah boleh dijenguk.
"Tetsuya," panggil Akashi ketika dia bertemu Kuroko yang sedang berjalan di lorong sekolah.
Kuroko menengok ke belakang, "Iya, Akashi-kun?"
"Kau ada waktu sepulang sekolah?"
Kuroko mengangguk, "Kenapa?"
"Temani aku ke optik,"
Kuroko tersenyum tipis dan mengangguk, "Tentu,"
"... Dan aku mau menjenguk Daiki," ucap Akashi pelan.
Kuroko terdiam, bimbang.
Tidak ada jawaban.
"Tetsuya?" panggil Akashi—lagi.
"… Kutemani ke optik, lalu kita pulang, bagaimana?" Tanya Kuroko, berusaha membuat persetujuan.
Akashi mengernyit, tidak senang dengan jawaban Kuroko.
"… Kenapa?" Tanya Akashi akhirnya.
Kuroko menelan ludah.
"Pokoknya jangan," jawabnya takut-takut.
Akashi menghela napas.
"Hei, Tetsuya,"
"Iya?"
".. Sebenarnya Daiki kenapa..?" Tanya Akashi entah untuk keberapa kalinya.
"Maaf, aku tidak bisa bilang," Jawab Kuroko, untuk kesekian kalinya.
Dalam dua hari ini sudah ratusan kali Akashi bertanya, dan ratusan kali Kuroko menjawab begitu. Ditambah beberapa kali saat Kuroko pura-pura tidak dengar.
Tapi Akashi kan tidak akan menyerah.
Enak saja dia menyerah.
Akashi akan terus bertanya dan mencari tahu sampai dia mendapatkan jawabannya.
[A/N Selipan curhat Author: Sora pengen liat Seijuurou pake kacamata~! XD]
##Pulang Sekolah##
Akashi berdiri di gerbang sekolah mencari-cari sosok berambut biru muda yang memang sulit dicari itu.
Mana Tetsuya?
"Akashi-kun,"
Refleks, Akashi menengok cepat kearah suara.
Nah, itu dia pemuda yang dia cari. Kenapa dia cepat sekali hilangnya sih.
"Ah, Tetsuya!" seru Akashi, agak kaget.
"Jadi pergi?" Tanya Kuroko.
Akashi mengangguk."Ayo,"
Dan mereka berdua berjalan keluar gerbang sekolah.
##Optik##
Kuroko duduk di bangku panjang, menunggu Akashi yang masih bicara dengan petugas di optik.
Kuroko melirik jam di dinding, lalu menghela napas dan berdiri untuk menghampiri Akashi.
"Akashi-kun, ada apa?" Tanya Kuroko sambil menepuk pundak Akashi.
Akashi menengok, "Bukan apa-apa hanya masalah kecil," ujarnya lalu kembali menghadap petugas itu, yang masih berbicara.
"—Karena itu Tuan, kalau Anda tidak mau melepas kacamata itu kami tidak bisa memakaikan lensa ini," ujarnya gugup.
"Kubilang tidak apa-apa! Berikan saja, aku bisa pakai sendiri," desak Akashi.
"Tapi Tuan—," ucapannya terputus Kuroko.
"Lepas saja, Akashi-kun," ujarnya.
Petugas itu terdiam dengan mulut ternganga dan ekspresi, 'Siapa-dia-memang-tadi-ada-rasanya-tadi-tidak-ada-orang'
"Tapi, kan, Tetsuya..," balas Akashi, ragu-ragu.
Dan takut mungkin.
"Hanya sebentar kan?" Tanya Kuroko, memastikan.
Akashi mengangguk, "Ya, tapi dia akan menatapku sepanjang prosesnya," ujarnya bimbang.
Akashi tidak mau menggunakan Emperor Eyes-nya untuk hal sepele begini. Mengendalikan orang dengan paksa bukanlah hal yang pantas. Dia bertekad hanya akan menggunakananya disaat darurat.
Kuroko terlihat berpikir.
"… Resiko," ujar Kuroko akhirnya, menyerah mencari solusi karena kedua pihak sama-sama punya kepala sekeras berlian.
Kali ini Akashi berpikir keras.
Setelah beberapa detik yang menegangkan, dia menghela napas.
"Baiklah," ujarnya sambil melepas kacamata yang menjadi sumber perdebatan, "Cepatlah," sambungnya.
Akashi berusaha menghindari kontak mata, tapi petugas itu terus menatapnya lekat-lekat dengan tatapan menerawang.
Akashi menelan ludah, gugup. Wanita petugas ini adalah orang pertama yang menatap matanya, setelah Kuroko. Akashi tidak begitu keberatan kalau anggota Kisedai yang melihatnya, tapi wanita ini hanya orang asing.
Akhirnya, setelah hampir satu menit wanita itu menatapnya tanpa bergerak, Akashi menyerah menunggunya lepas dari pengaruh Emperor Eyes.
Akashi mengambil kotak lensa di meja lalu memakai kembali kacamatanya.
Wanita itu tersentak sadar.
Dan saat dia sadar kotak lensanya menghilang, Akashi dan Kuroko sudah membuka pintu keluar.
.
Di perjalanan, Akashi terus-terusan menghela napas dengan ekspresi orang depresi. Sebelumnya mereka akhirnya mampir ke toilet di sebuah restoran agar Akashi bisa memakai lensa kontaknya.
Saat itu Akashi sangat, sangat lega.
Akhirnya dia bisa melihat kembali warna merah di kedua matanya.
.
"Ternyata memang mustahil ya, Tetsuya," ujarnya sedih sambil lalu menghela napas—lagi.
Kuroko mengangguk, "Tentu saja, aku juga tidak bisa melawan mata Akashi-kun," jawabnya.
"Kalau begitu kenapa kau menyuruhku melepas kacamata?" Tanya Akashi, merasa dikhianati bawahannya.
Kuroko tampak berpikir, lalu menjetikkan jari dengan aura yang berbunga-bunga, walau tetap datar.
"Segala kemungkinan harus dicoba kan, Akashi-kun?" ujarnya.
Akashi hening.
Entah dia setuju atau menentang pernyataan Kuroko barusan.
Entah perkataan Kuroko barusan benar atau salah, Akashi hanya bisa menghela napas sambil mengusap dahi.
Saat mereka berdua berjalan dalam diam, ada bunyi mencurigakan yang berasal dari perut Kuroko.
Akashi hening—lagi—plus sweatdrop.
"…. Tetsuya," panggilnya.
Kuroko, bukannya menjawab malah merengut dan membuang muka.
Akashi hening—lagi lagi.
"…. Lapar?" Tanya Akashi.
Kuroko menggeleng, dan terus berjalan.
Bunyi itu muncul lagi. Kali ini wajah Kuroko yang tetap senantiasa datar itu sepintas berwarna merah di pipi.
"… Makan yuk," akhirnya Akashi yang mengajak lantaran Kuroko tidak juga mengaku.
Kuroko malah menoleh ke Akashi dan balik bertanya, "Akashi-kun lapar?" dengan wajah tak berdosa.
… Sialan, aku dijebak ya, batin Akashi.
.
.
"Ehm… mau makan kemana?" Tanya Akashi.
Lagi-lagi, Kuroko menoleh dan bertanya balik, "Aku ingin makan roti isi daging dan selada, plus saus dan mayones. Juga aku mau minum susu putih dingin dengan es krim, dimana ya?"
Dahi Akashi berkedut.
"Bilang saja kau mau makan Maji Burger!" serunya jengkel.
Kuroko memiringkan kepala dengan ekspresi tidak bersalah, "Maji Burger? Boleh juga," ujarnya, membuat Akashi makin gregetan dengan tingkah bawahannya yang sepertinya tertular tsundere dari Midorima.
Akashi menghela napas, mengiyakan saja perkataan Kuroko.
Main gengsi ya? Terserah deh, batin Akashi, lelah batin.
.
##Maji Burger; 15.00 sore##
Kali ini—lagi lagi membuat masalah—Kuroko berdiri diam di depan konter. Bukannya memesan malah memperpanjang antrian.
"Kenapa, Tetsuya?" Tanya Akashi—kesekian kalinya.
"Hm.. Uangku kurang nih, coba tiba-tiba mereka diskon, pasti asik," gumamnya sambil melirik Akashi.
Catat, melirik.
Akashi pasang muka 'wtf' tapi menghela napas dan mengeluarkan dompet, "Iya, iya, kutraktir," ujarnya , lalu memesankan makanan yang Kuroko—pasti—inginkan.
"Akashi-kun, burger special mereka sepertinya enak ya," ujar Kuroko sambil melirik Akashi.
Catat lagi, melirik untuk kesekian kalinya.
Ternyata di Teikou lagi tren kode-kodean.
"Kali ini saja, Tetsuya," ujar Akashi lalu menghela napas dan memesan.
Kuroko tersenyum senang, "Terima kasih, Akashi-kun,"
Setelah menyelesaikan pesanannya, dan tentu membayar, Kuroko membawa nampan berisi pesanan mereka dan meletakkannya di meja yang kosong di pinggir restoran.
.
Akashi menyeruput minumannya sambil menatap keluar jendela restoran yang besar. Samar-samar bayangannya terpantul. Kedua matanya terlihat jelas di kaca. Pantulan tersebut membuatnya berpikir. Hm.., merenung?
Kenapa aku punya kekuatan ini?, Tanya Akashi pada dirinya sendiri.
Kenapa aku? Diluar sana kan banyak orang yang lebih menderita dariku. Kenapa aku? Kenapa tidak Tetsuya? Kenapa tidak Ryouta, Daiki, Shintarou? Kenapa bukan Atsushi atau Satsuki?
Kenapa aku?
Kenapa harus Emperor Eyes? Kenapa 'mengendalikan'? Kenapa harus kekuatan ini?
Kekuatan ini kuterima untuk apa? Mengendalikan orang?
"..shi-kun.."
Rasanya ada yang memanggil, tapi Akashi terlalu sibuk sendiri.
"Akashi-kun..," Suara Kuroko.
Ah, diam kenapa sih, Tetsuya? Tidak lihat aku sedang berpikir?
"Akashi-kun," panggil Kuroko lagi, sambil menepuk pundak Akashi yang bengong.
Akashi—yang sedang bertopang dagu—menengok pelan dan malas.
"Ponselmu bunyi daritadi," ujar Kuroko sambil menunjuk ponsel di kantung Akashi.
Akashi—baru sadar—langsung mengambil ponselnya.
"Midorima Shintarou"
Dengan tulisan "2 Missed Call" di bawahnya.
Akashi mengangkat telpon tersebut, di seberang sana langsung terdengar suara lega Midorima yang memanggil Kise dan yang lainnya.
"Shintarou? Kenapa? Ada apa disana? Ribut sekali?" Tanya Akashi agak keras karena keributan di seberang telpon.
"Sst, pelankan suaramu-nodayo," jawab Midorima agak berbisik.
"Ada apa disana?" Akashi mengulang pertanyaannya dengan suara lebih pelan.
"Dengarlah dan jangan panik," ujar Midorima, memperingatkan, suaranya kacau karena napas terengah-engah dan tidak teratur..
"Kaulah yang panik, Shintarou," perintah Akashi.
"Sudah dengarkan saja"
"Cepatlah," perintah Akashi.
"Akashi, penyebab Aomine masuk rumah sakit—"
Penjelasan yang Akashi tunggu-tunggu trepotong oleh seruan cempreng Kise.
"Midorimacchi! Minggir!" dan, diikuti beberapa suara lainnya, yang kurang jelas dari telepon, panggilan terputus.
"Hei, Shintarou!? Ada apa?" seru Akashi panik, membuat mata seisi restoran tertuju pada mereka berdua. Tidak mendapat jawaban, Akashi mendecak sambil menengok pada Kuroko, yang daritadi terdiam.
"Sudah saatnya kau menjelaskan bukan, Tetsuya?" Tanya Akashi.
Kuroko berdiri dari kursi tanpa suara. Rasanya seolah raut wajahnya... menggelap. Panik dan cemas, serta rasa bersalah.
"Akan kujelaskan di jalan, saat ini kita harus kembali ke sekolah," ujarnya lalu membuka pintu restoran dan melangkah keluar.
"Jelaskan apa? Hei, Tetsuya!" panggil Akashi dan dia berlari mengikuti Kuroko keluar.
"Jelaskan apa? Tentu saja tentang Aomine-kun," sahut Kuroko tanpa menoleh dan terus berjalan.
TBC
Hohoho~ Abis chap ini (pemalas)
Ya Tuhan ini gaje banget.
Maaf, gak jelas, maaf, gak memuaskan, maaf gak merangsang (?) rasa ingin tahu
Tapi bentar lagi ceritanya abis, jadi ampuni dulu kelemotan updatenya ya~ ;)
