Arigatou buat review n saran mina-san *bow*
Mari kita lanjut ke chapter dua... ^_^
.
.
.
Gun and Reason
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Image Disclaimer © September Rain
Genre : Romance and Action
Warning! : BL, Shounen ai, Lime, Supernatural, AU, OOC, death chara, typo nyelip, dll.
.
.
.
Original Story by
Ivy Bluebell & Mint Mojo
.
.
.
Second Stream
.
Ruangan klasik berdesain semi victorian itu sangat bersih dan rapi. Terkesan menenangkan karena perabotan yang bertempat di dalamnya terbuat dari kayu alam. Pot bunga hidroponik dan udara yang berhembus harum, mampu menimbulkan suasana nyaman. Namun, tidak dengan apa yang terjadi pada kedelapan orang yang menghuni di situ. Atmosfer di sekitar mereka nampak menegangkan.
"...Sasuke, kaulah pembawa sebagian kekuatan Aevym itu..."
Ucapan Kakashi, sang Hokage Konoha dan Negeri Hi ini, memicu keterkejutan yang sanggup mengguncang hati pemuda raven tersebut. Begitu pula keenam lainnya yang duduk di sofa dekatnya. Fugaku, Minato, Mikoto, Itachi, Shikamaru, dan Naruto kaget mendengarkan penuturan lelaki berambut perak itu.
"Tidak—mungkin—" cekat Sasuke bersuara getar. Matanya terbeliak getir tak percaya.
"Bagaimana bisa—?" Fugaku terperanggah, berbalik melihat putra bungsunya bersama Itachi.
"...Aku tak tahu, tapi aku yakin Sasuke memiliki sebagian kekuatan itu," jelas Kakashi.
"Tunggu dulu Hokage-sama, darimana kau bisa menyimpulkannya begitu?!" ujar Naruto tersadar dari keterkejutannya.
"Seorang manusia biasa tak mungkin memiliki kekuatan seperti itu. Kecuali dia adalah penerus dari keluarga penyihir yang mewarisi kekuatan turun-temurun sejak lahir. Tapi keberadaan keluarga penyihir hanyalah dongeng belaka, tidak nyata di dunia ini," terang Kakashi kalem.
"Lagipula Uchiha bukanlah Klan penyihir, tidak seorangpun dari kami memiliki kekuatan semacam itu," timbrung sang kepala keluarga Uchiha.
"Dengan kata lain memang Sasuke yang memegang sebagian Aevym," tukas Shikamaru.
"Bagaimana mungkin? Bukankah Sasuke tak pernah diajak keluar masuk ke ruang kolam itu berada?" tanya Minato memandang Fugaku dan Kakashi bergantian. Dia memang mengerti seluk beluk kolam air dewa, makanya mudah membahasnya dengan mereka berdua. Sebab dirinya adalah mantan orang penting Konoha seperti Fugaku dulu, sebelum keluar dikarenakan istrinya meninggal dunia.
Fugaku menggelang pelan tak tahu.
Itachi mengalihkan mata hitamnya. Menatap trenyuh ke adik semata wayangnya. Meski dia tak begitu menunjukannya secara gamblang, dia sangat menyayangi Sasuke dan selalu memperhatikan keadaannya. Mengetahui hal besar yang menimpa Sasuke sekarang, sungguh membuatnya pedih. Itachi merasa gagal sebagai kakak, harusnya dia menjaga adiknya apapun yang terjadi.
"...Ini semua salahku..."
Suara serak tersebut menjadikan para lelaki yang hadir di sana menoleh ke satu arah. Dimana seorang wanita satu-satunya, duduk sambil menundukkan kepala gemetar.
Mikoto menutup kelopak matanya rapat, mengusap jemarinya yang berkeringat dingin.
"Apa maksud ibu?" tanya Itachi tak paham.
Sang nyonya besar Uchiha diam sejenak. Kemudian mengangkat wajahnya yang telah basah oleh air mata. Manik Onyx-nya mereduh pedih sarat luka. Membuat Fugaku, Itachi, dan Sasuke tersentak.
"Maaf... aku tak menceritakan hal ini pada kalian semua..." lirih Mikoto.
"...17 tahun yang lalu ketika aku masih mengandung Sasuke, Hellwick menyerang Konoha. Waktu itu terjadi sesuatu hingga membuatku harus merahasiakannya... termasuk padamu Fugaku," dia membuang muka, tak berani menatap kekasih tercintanya yang juga ada dalam peristiwa tersebut. Fugaku tak menyela, menunggu istrinya melanjutkan.
"Sewaktu kau menyuruhku pergi berlindung dari serangan mereka, aku memergoki salah satu anggota Hellwick yang ternyata berhasil menyusup dan membawa sebagian Aevym. Aku mencoba menghentikannya, tapi dia menubrukku dari samping dan..." embun di pelupuk Mikoto kembali menetes, jatuh ke punggung tangan kirinya. "Aevym yang ia bawa tumpah menyiram perutku... masuk ke dalam tubuhku..."
Raut penuh keterkejutan, tergambar jelas di tiap paras tujuh orang yang mendengar keterangannya.
"Cairan itu terhisap ke dalam perutku yang mengandung janin Sasuke... Kupikir aku dan Sasuke akan mati, karena rasanya sangat perih sekali..." Mikoto menarik napas, berusaha menghapus rasa sesak di dada akibat mengingat kejadian mengerikan yang dialaminya dan Sasuke dulu. "Kemudian pria Hellwick itu menjadi ketakutan saat melihatku menjerit kesakitan. Tiba-tiba dia menembak kepalanya sendiri, bunuh diri tepat dihadapanku..."
"Mikoto..." lirih Fugaku mengulurkan tangannya. Memeluk leher wanita yang disayanginya dari belakang.
"Aku panik—tanpa sadar langsung pergi meninggalkannya begitu saja di tempat itu—berlari pulang ke rumah..." Mikoto tersedu, makin bercucuran air mata. "Maafkan aku Sasuke, Fugaku, Itachi—Aku telah menyembunyikan ini semua dari kalian..." akhirnya yang langsung menutup wajah menangis.
Fugaku mengeratkan rengkuhannya sembari mencium sisi kepala Mikoto berulang-ulang. Berharap bisa menenangkannya. Sungguh, dia merasa bersalah tak dapat berada di sisi istrinya kala itu terjadi. Harusnya dia tak membiarkannya sendiri dan terus melindunginya tiap saat.
"Ibu..." panggil Sasuke masih tercengang tak percaya.
Kakashi, Minato, dan Shikamaru tidak tahu harus berkata apa. Hanya bisa terbisu memandang keluarga itu prihatin.
"Tunggu—! Bukankah Hokage-sama bilang Aevym adalah kekuatan yang membawa kemakmuran negeri ini?!" sergah remaja blonde. "Itu berarti sihirnya adalah untuk kebaikan. Tapi kekuatan Sasuke menghancurkan mereka, bukannya itu berarti kejahatan?!" sambung Naruto. Menghiraukan rasa tak enak di hati karena harus mengatakan hal kasar yang menyakiti Sasuke.
Kakashi mendesah panjang. Dia merasa sedih sudah memberitahukan kenyataan yang memilukan kepada bungsu Uchiha yang dinilai masih polos. Manik dwi warnanya menilik Naruto juga Sasuke lekat. "Memang Aevym sihir yang membawa kebaikan. Tapi jika disalah-gunakan akan menyebabkan kehancuran," jelasnya. "Kekuatan Sasuke memang jahat karena telah membunuh tujuh orang. Namun, di sisi lain juga baik karena dapat melindungi kau dan dirinya sendiri dari bahaya."
Naruto memalingkan muka ke Sasuke yang menatapnya sendu. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan sobatnya yang terkepal lantaran mencengkram kain celananya kuat. Mengusapnya lembut seolah menyampaikan kata maaf. Naruto merasa bersalah tak bisa melakukan apapun waktu itu.
"Apakah tidak ada cara untuk menghilangkan Aevym dari Sasuke?" tanya kepala keluarga Namikaze bernada pelan.
Hokage bungkam, menerawang kosong ke permukaan kayu meja. Nampak berpikir cukup lama sebelum membuka mulut dengan raut kaget. "Ada..."
Kontan, Naruto dan Sasuke mendongak terfokus padanya. Disusul Fugaku, Mikoto, Itachi, Minato, dan Shikamaru.
"Aku ingat, ada sebuah buku kuno yang menjabarkan rahasia Aevym..." ucap Kakashi.
"Benarkah?" Mikoto terperanjat. Matanya yang berkaca-kaca menyiratkan harapan.
Ungkapan itu mampu membuat Fugaku, Itachi dan Naruto bernapas lega. Senang mengetahui adanya jalan untuk Sasuke kembali normal. Naruto tersenyum, menoleh pada Sasuke yang kini menunjukan mimik bungah.
"Lalu—dimana buku itu?" tanya sang pirang mulai semangat.
"Buku itu terletak di dekat kolam Aevym. Dilindungi dengan segel, tetapi..." Kakashi melirih. "Sebagian halamannya telah hilang. Mungkin dulu Hellwick berhasil mencurinya hingga akhirnya digagalkan oleh Hokage terdahulu..."
Naruto bangkit dari kursi dan melangkah cepat menuju hadapan Kakashi. "Bisakah kau membawa kami ke tempat buku itu?"
"Aku bisa saja membawamu ke sana. Tapi, akan jadi sia-sia kalau kita tak tahu keseluruhan isinya..."
"Kita tidak akan tahu kalau tak melihatnya langsung. Mungkin masih ada petunjuk yang tersisa," ujar Naruto yakin. "Aku akan merebut sisa buku itu dari tangan mereka," ia mengepalkan tangan kuat. Bibirnya mengumbar senyum semangat, menyerukan sebuah keputusan. "Aku akan melakukan apapun untuk membuat Sasuke kembali seperti semula!"
Ketujuh orang lainnya memandang Naruto kaget. Mereka dapat menangkap kesungguhan dari ungkapan yang disuarakan putra tunggal Minato itu. Bahkan Sasuke tertegun mendengarkan ikrar sahabat dekatnya.
Kakashi mengusap jemarinya ragu. Namun saat matanya melihat keseriusan terpancar di kedua iris biru Naruto, akhirnya dia mengangguk menyetujui permintaannya. "Baiklah, aku akan membawamu ke tempatnya..." sanggupnya sebelum menggerling ke arah Shikamaru, "Shikamaru, aku membutuhkan anak buahmu untuk mengamankan perjalanan kami hingga mencapai kolam Aevym..."
Sang kepala polisi Konoha bergelar Kapten itu mengangguk tegas. "Tentu..." sahutnya.
Naruto tersenyum puas. Melengok pada Sasuke yang menghembuskan nafas lega. Pemuda raven yang bertubuh lebih kecil dari Naruto itu mengucapkan terima kasih lewat pandangan mata mereka yang saling bertautan dalam.
Mendadak bunyi ketukan dari luar pintu ruangan, memecah perbincangan mereka. Itachi segera bangun dari kursinya untuk membuka pintu dan menemukan sesosok butler tersenyum sopan ke arahnya.
Sai menunduk hormat sekilas. "Maafkan saya telah menganggu, tetapi Obito-sama sudah tiba..." katanya menyampaikan maksud kedatangannya.
Putra pertama Uchiha melirik ke belakang tubuh Sai. Mendapati seorang pria jangkung yang tak asing lagi di ingatannya berdiri di sana. Lelaki berbadan kekar dengan balutan baju hitam dan dasi merah marun itu, menghadapnya seraya tersenyum lembut. Menjadikan paras putih tegas dan maskulinnya makin tampan. Sebelah tangannya terangkat menggesturkan salam. "Hai..."
Sai menggeserkan badannya ke samping agar Itachi bisa melihat tamunya lebih leluasa. Dia berlalu pergi. Memberi privasi bagi kedua pria yang telah menjalin hubungan selama 3 tahun ini.
Muka datar Itachi melunak. Tersenyum tipis membalas sapa orang yang merupakan kekasih hatinya. "Hai... ada apa kau kesini?" tanyanya melangkah keluar serta menutup pintu ruang kerja ayahnya. Dia tak mau orang-orang yang berada di dalam terganggu pembicaraannya akibat kedatangan partner-nya.
"Ouch... apakah aku tak boleh menemui pacarku sendiri?" sosok bernama Obito memasang mimik pura-pura terluka.
Itachi terkekeh kecil. "Baka..."
Pria berambut hitam berantakan itu menatap Itachi teduh. "Kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu..." tanyanya sembari membelai pipi sulung Uchiha.
Itachi menepis tangan Obito pelan. "Aku baik-baik saja," jawabnya sambil melipat kedua lengan di depan dada. "Memangnya apa yang terjadi padaku sampai kau harus mencemaskanku?"
Mata kelam Obito meredup. Membuat Itachi mengerjap heran kala melihat wajahnya berubah sendu. "Mengapa kau menatapku seperti itu?" ujarnya merasa tidak nyaman.
Dengan lembut, Obito mengarahkan jemarinya untuk menekan kedua garis kerutan yang ada di samping hidung Itachi. "Kau terlihat memiliki banyak masalah. Apa yang sedang kau pikirkan?"
Itachi menghela napas. Berputar badan dan membuka pintu lagi. "Aku akan menceritakannya nanti. Kau mau bergabung bersama kami?"
Obito menilik ke dalam. Mendapati ketujuh sosok yang dikenalnya, menatapnya berbarengan. Karena penasaran mengapa mereka berkumpul ditambah adanya sang Hokage di situ, dia mengangguk setuju. Mengikuti Itachi berjalan memasuki ruangan tersebut.
"Permisi..."
Sebisa mungkin Obito melemparkan senyuman terbaiknya kepada Kakashi, Fugaku, dan Minato. Ketiga orang penting di pemerintahan Konoha. Lalu beralih ke Shikamaru dan Naruto yang memandangnya bisu. Sewaktu berpindah ke dua orang yang tersisa, senyumnya tiba-tiba memudar. Lantaran melihat air mata yang mengalir sunyi di paras sedih Mikoto dan wajah keruh Sasuke.
"Apa aku datang di saat yang tidak tepat?" gugupnya.
"Tidak," sangkal Kakashi tersenyum tipis. "Duduklah Obito," persilahnya.
"Tapi... Mikoto-san kenapa?"
Itachi menepuk bahu Obito, mengembalikan perhatian rekan satu profesinya padanya. Kepalanya menggeleng, memberi kode untuk tidak bertanya apapun sekarang. Obito mengenyitkan kening bingung, sebelum mengangguk mengerti dan mengambil duduk di sofa dimana Minato berada.
Naruto melangkah kembali ke tempat Sasuke. Diam-diam, ia meniti tampilan pria penyandang marga Kurou tersebut. Salah seorang Perwira Menengah berpangkat Letnan Kolonel seperti Itachi. Selama 3 tahun berteman dengan Sasuke, ia tahu posisi Obito dalam keluarga ini. Yaitu kekasih Itachi. Walau orientasi seksual putranya menyimpang, Fugaku dan Mikoto tidak pernah mempermasahlahkannya. Bagi mereka asal kedua anaknya bahagia, itu sudah cukup. Malahan mereka menyambut baik keberadaan Obito dan membebaskannya keluar masuk mansion Uchiha.
Namun jujur, meski kenal lama Naruto tak begitu tahu karakter Obito. Setiap kali bertemu dengannya, entah mengapa ada sepercik rasa yang membuat Naruto berfirasat tak enak. Ia beranggapan lelaki itu menyimpan misteri tersendiri.
Shikamaru menyingkir ke jendela besar yang tertutup rapat di belakang kursi Kakashi. Dia menelpon bawahannya, menyampaikan pesan yang diperintahkan Hokage. Beberapa lama kemudian, dia memutus hubungannya dan mendekati si pemimpin negeri Hi.
"Hokage-sama, anggota satuanku telah selesai menyisirikan area yang akan kita kunjungi. Tak ada masalah apapun. Kita bisa pergi kapan saja..." ujar Shikamaru sembari mengantongi ponsel hitam canggih yang diciptakan khusus untuk membantu kerja kepolisian.
Pria berambut perak itu mengangguk. Beralih mengeluarkan handphone-nya dan menulis pesan untuk seseorang. Setelah selesai, dia bangkit dari atas kursi. "Naruto, Sasuke, sebaiknya kita segera berangkat..." intruksi Kakashi pada dua pemuda berumur 17 tahunan itu.
Remaja pirang mengangguk patuh. Ia melirik ke Minato sekilas. Meminta ijin dalam diam yang disambut senyuman hangat ayahnya. Kemudian berdiri dengan Sasuke serta menggandeng tangan sahabatnya untuk mengikuti Kakashi, yang kini melangkah menuju pintu bersama Shikamaru. Meninggalkan Fugaku, Mikoto, Itachi, Minato, dan Obito di ruangan tersebut.
"Tunggu..."
Keempat lelaki tadi berhenti, menoleh ke sumber suara yang menahan gerakan mereka.
"Ada apa Obito-san?" tanya Shikamaru datar.
"Kalian mau kemana?" Obito mengangkat segaris alis heran.
"Kami ada urusan," jawab Kakashi singkat.
"Urusan apa sampai membawa dua remaja itu bersama kalian?" Obito menggerling ke arah Naruto dan Sasuke. Setahunya, Kakashi tak akan melibatkan orang yang jarang berurusan dengan pemerintahan.
"Keperluan penting yang sangat mendadak," tukas Hokage ambigu. Menutupi kebenarannya dari Obito. Sebab yang dipercaya untuk mengetahui seluk beluk dan keberadaan kolam Aevym, hanya Hokage, Klan Uchiha, Klan Namikaze, dan bawahan langsung Itachi yaitu Shikamaru serta anggota timnya.
Membuat Obito makin penasaran. Dia melirik Fugaku, Mikoto, dan Minato dari sudut mata. Lalu ke Itachi yang berdiri di samping kursi Ibunya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian teroris yang menyerang sekolah mereka tadi pagi?" Obito kembali menatap Kakashi tajam.
"... Ya, mereka berdua adalah saksi penting yang berhasil lolos dari belenggu Hellwick," timbrung Shikamaru.
"Huumm... ternyata teroris itu memang mereka ya," Obito bergumam. "Sebenarnya aku datang kemari untuk berdiskusi dengan Itachi. Mengenai susunan strategi untuk menyergap teroris yang masih menguasai Konoha High School dan menyandra para murid serta guru itu. Kemudian aku akan melaporkan hasilnya pada Hokage-sama dan meminta persetujuan," terangnya.
Kakashi mengernyitkan kening samar. "...Baiklah. Aku akan mendengarnya. Buatlah sesingkat mungkin, karena kami sangat diburu waktu," titahnya bersidekap dada.
"Siap," sahut Obito tegas. Tangannya merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah buku kecil. "Aku akan melaporkan situasi di sana saat ini."
"Keadaan awal waktu aku menjemput Naruto dan Sasuke, sudah kulaporkan," sela Shikamaru cepat. Sebagai Perwira Pertama yang kompeten, dia selalu memantau aktivitas kriminal di lapangan lewat anak buah kepercayaannya. Termasuk bersiaga, mengawasi Hellwick yang mengacaukan ketentraman Konoha hari ini.
"Aku menyampaikan berita dua jam setelahnya, Nara," Obito meliriknya dingin. Tak suka bila ada yang menyanggah ucapannya.
Shikamaru berdecih dalam hati. Inilah yang paling dia benci kalau bertemu Obito, seniornya sejak sama-sama belajar di akademi militer dulu. Pria itu selalu mencampuri pekerjaannya saja.
"Baiklah..." Obito memulai. Mata hitamnya bergulir membaca isi buku yang dia buka dalam genggamnya. "Seperti yang kalian ketahui bahwa kepolisian masih berjaga di sana dan mencari cara untuk menerobos masuk keKHS. Tetapi, kemudian terjadi perlawanan. Yang mana sebagian komplotan teroris Hellwick tiba-tiba maju menyerang pasukan kepolisian. Akibatnya adu tembak antara keduanya tak bisa terhindarkan," terangnya sopan.
"Mereka menyerang?!" Kakashi terperanggah.
Shikamaru melebarkan mata kaget. Sama sekali belum menerima kabar tersebut dari anak buahnya sejak tiba di kediaman Uchiha.
"Lalu, bagaimana statusnya sekarang?" tanya Fugaku. Mikoto, Itachi, dan Minato turut menyimak.
"Saat ini keadaan telah kembali stabil. Aku mengirimkan satu tim Alpha dari militer pusat, untuk membantu kepolisian dan berhasil mengalahkan musuh. Namun, banyak korban berjatuhan di pihak kita sehingga terpaksa mundur sementara," lanjut Obito sambil membalik lembar kertas buku itu. "Dari situ, tak ada perkembangan lagi. Intinya, Hellwick masih kukuh menyandra warga sekolah. Dan belum ada tanda-tanda mereka akan mengaktifkan bom-bom yang terpasang di berbagai distrik kota Konoha dalam waktu dekat."
"Aku sudah mengerahkan beberapa tim Omega untuk mendampingi tim polisi anti teror dalam pencarian bom. Rencananya jika mereka menemukannya, akan langsung dijinakkan atau diledakkan di suatu lahan kosong," sambung Obito menutup laporannya.
Naruto menggeram lirih. Kegagalan polisi dalam misi penyelamatan para murid dan guru sekolahnya, membuatnya kesal. Mau sampai kapan mereka harus menjadi mangsa empuk bagi kelompok teroris laknat itu?
Sasuke mengeratkan pegangannya pada tangan sobatnya. Merasa tak berguna lantaran tak bisa melakukan apapun.
"Jadi, sekarang hanya ada sedikit polisi yang bersiaga di KHS ya?" simpul Itachi. Obito mengangguk mengiyakan.
"Kelihatannya kita harus bergegas mengambil tindakan jika tak mau timbul korban lagi. Bagaimana menurutmu, Kakashi?" timpal Minato bernada serius.
Kakashi berpikir sejenak. "...Aku setuju, keselamatan warga sekolah dan Konoha adalah yang paling utama. Strategi apa yang sudah kalian susun, Itachi, Obito?"
"Kami punya ide untuk mengadakan negosiasi," ungkap Obito. Itachi mengangguk.
"Negosiasi?" tanya Fugaku.
"Jangan-jangan..." Shikamaru mengerjap kejut.
"Benar, yaitu melakukan pertukaran palsu," Itachi menjelaskan. "Kita akan memancing Hellwick keluar dari sarangnya dengan menuruti permintaan mereka yang menginginkan Harta negeri Hi. Saat negosiasi berlangsung, aku akan memerintahkan seluruh tim Alpha untuk menyerbu sekolah dan membebaskan para sandra."
"Itu berbahaya," sanggah Mikoto resah. "Bagaimana kalau ketahuan? Mereka bisa ditembak mati dan bom-bom akan diaktifkan."
"Tidak jika kita berhati-hati," potong Itachi memberikan keyakinan.
"Kurasa ide itu patut direalisasikan. Seperti kata Naruto, kita tak akan tahu kalau tak mencoba," dukung Minato tersenyum kecil. Menilik putranya bangga. "Aku akan ikut membantu," ia mengajukan diri.
"Aku juga," Fugaku menimpali. Melirik pada Mikoto yang menatapnya cemas. "Biarkan aku membuka jalan untuk menolong anakku dan kawan-kawannya."
"Tou-san..." gumam Sasuke lirih.
Fugaku mengulas senyum lembut memandang putra bungsunya. Walau ekspresi datar masih tertera di wajahnya. "Maafkan Tou-san, Sasuke. Kali ini aku pasti akan menyelamatkan..." janjinya.
Iris Onyx Sasuke perlahan berembun. Kalimat dari orang tua yang dihormatinya itu mampu menggerakkan hatinya. Meski ia sering sakit hati karena kesepian akibat selalu ditinggal sendiri, Sasuke tetap menyayangi ayah-ibunya. "Arigato..."
"Baiklah, selama kami pergi, aku serahkan kepemimpinan pasukan dan jalannya strategi ini pada kalian. Lakukan apapun demi keselamatan masyarakat kita," titah Kakashi memaku tatapan tajam pada Fugaku, Minato, Itachi, dan Obito.
"Tunggu," sela Obito mengangkat satu tangan. "Aku tak tahu kalian mau kemana. Tetapi sebaiknya Itachi ikut bersama kalian, aku akan menemani Fugaku-san, Mikoto-san, dan Minato-san disini sambil mendiskusikannya lebih lanjut."
Itachi menoleh kearah pria disampingnya. "Mengapa?"
"Tak perlu ada dua Letnan Kolonel pasukan militer hadir di suatu medan pertempuran. Biarkan aku dan yang lain mengurusnya. Lagipula, kau mengkhawatirkan keadaan adikmu bukan?" jelas Obito tersenyum lebar sembari menepuk bahu pacarnya.
Itachi menghela nafas mengalah. Lelaki ini selalu tahu apa isi hati dan benaknya. "...Baiklah."
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang," Kakashi menilik pria nanas di sampingnya. "Shikamaru, kau akan memimpin perjalanan ini."
Shikamaru terdiam sejenak sebelum menjawab. "...Baik."
"Hati-hatilah kalian," ujar Mikoto mengantar kepergian mereka. "Itachi, Naruto, tolong jaga Sasuke," dia mendekati ketiganya dengan mata berkilat memohon.
"Ya, Kaa-san," Itachi mengangguk.
"Kami pasti akan menolong Sasuke," ikrar Naruto memberikan keyakinan.
Mikoto tersenyum tipis beralih ke anak bungsunya. "Sasuke, maafkan ibu sayang," lirihnya. "Ingatlah, apapun yang terjadi aku selalu mendoakan kebahagiaanmu," tangannya terangkat membelai wajahnya lembut.
"Hn, Kaa-san," sahut Sasuke tersenyum hangat.
"Naruto."
Naruto menoleh ke ayahnya yang refleks menangkap sesuatu yang dilempar Minato padanya. Manik Shappire-nya membulat begitu melihat apa yang ada di tangannya. Sebuah kalung berliontin batu prisma tosca. Ia tahu betul siapa pemiliknya. Ialah mediang ibunya Namikaze Kushina.
"Kupercayakan benda itu padamu," ujar Minato tersenyum lembut.
Naruto menyengir, mengenggamnya erat. "Thanks, Dad."
"Kami pergi dulu," Kakashi pamit. Mulai berjalan diikuti Shikamaru, Itachi, Naruto, dan Sasuke.
"Itterasai," jawab Fugaku. Dengan Mikoto, Minato, dan Obito membungkuk rendah.
Sesampainya di pintu utama mansion Uchiha, kelimanya disambut oleh Sai yang membukakan pintu untuk mereka.
"Sai, perintahkan para pengawal Uchiha untuk memperketatan penjagaan mansion ini," perintah Itachi.
"Baik," balas Sai.
Di halaman depan telah terparkir tiga mobil jip besar. Berwarna hitam dengan gambar clover empat daun dan lingkaran putih di badan besinya. Delapan pria berbaju coklat tua dan sepatu boot itu, berdiri di sisi kendaraan milik kepolisian Konoha pusat tersebut. Mereka adalah satuan tim polisi kepercayaan Shikamaru.
"Lapor Kapten, kami siap menjalankan tugas," salah satu dari mereka yang berpangkat Letnan Satu, yaitu lelaki berambut hitam ber-name-tag Aburame Shino, memberi hormat pada Shikamaru selaku kepala regunya.
Sang Nara membalas. "Arigato, tak ada masalah 'kan?"
"Tidak."
"Bagus, kita berangkat sekarang," titah Shikamaru pada semuanya.
"Siap laksanakan!" teriak delapan polisi menyanggupi.
Kakashi dan Shikamaru dibimbing Shino menaiki mobil terdepan, dengan satu polisi sebagai pengemudi. Sementara Itachi, Naruto, dan Sasuke masuk ke mobil kedua bersama dua polisi lain. Mobil terakhir dinaiki empat polisi tersisa sebagai pengawal di belakang.
Di tengah perjalanan menuju kolam Aevym berada, Shikamaru menepuk bahu rekan kerjanya. "Shino, apa kau menerima kabar dari tim yang bersiaga di depan KHS?"
Pria berkacamata bundar hitam itu mengangguk. "Ya, mereka diserang Hellwick secara mendadak. Jadi terpaksa mundur untuk persiapan lanjutan."
"Kenapa kau tak memberitahuku?" Shikamaru menegur.
Shino mengangkat alis. "Bukannya Kolonel Obito-san sudah memberitahumu?"
"Dia baru saja mengatakannya pada kami sebelum keluar dari mansion,"timpal Kakashi. "Memangnya kenapa, Shika?"
Pria berambut hitam nanas itu mendesah kesal. "Kapan waktu kejadiannya?" tanyanya pada Shino lagi.
"Uum, sekitar sejam setelah kau pergi ke kediaman Uchiha," Shino mengira-ira.
"Baka, kau mau aku kena semprot atasan, hah?! Mayor pasti bakal membunuh kita!" hardik Shikamaru.
"Tidak Shika. Aku adalah atasanmu yang paling berpengaruh, jadi tenang saja," datar Kakashi.
"Gezz..."
"Memang ada apa, hm?" tuntut Hokage meminta jawaban.
"...Aku hanya berpikir, mengapa aku sampai tak tahu informasi tentang apa yang terjadi pada anak buahku," jelas Shikamaru. "Harusnya mereka memberitahuku lebih dulu, lalu aku akan mengabari Mayor baru orang-orang di militer pusat."
"Keadaan sangat mendesak. Makanya kami tak bisa melapor padamu dan Mayor waktu itu, jadi kami bertindak sendiri," kata Shino.
"Aku menoleransi keputusan kalian kali ini, tapi mengapa Obito bisa tahu?"
"Kebetulan dia berada di tempat kejadian, sehingga bisa mengerti situasi dan mengirimkan bantuan," lanjut Shino.
"Ooh..." Shikamaru mengangguk paham.
"Kelihatannya kau harus lebih waspada, Shika. Tak apa jauh dari anak buahmu, tapi sebisa mungkin tetaplah pantau kegiatan mereka," nasehat Kakashi.
"Ya, aku mengerti," ujar Shikamaru. 'Namun, rasanya ada sesuatu yang ganjal...' tambahnya dalam batin.
Di mobil kedua yang ditumpangi Itachi, Naruto, dan Sasuke, nampak pemuda blonde sedang menelpon seseorang.
"Ooh, syukurlah kalian baik-baik saja," kata Naruto tersenyum lega. Senang berbincang dengan Lee yang ada di seberang jaringan. "Sakura-chan bagaimana?"
"Sakura-chan sedikit syok, tapi nggak apa kok, baru saja aku mengantarnya pulang setelah dimintai keterangan oleh polisi," ucap Lee.
"Wajar saja. Siapapun pasti bingung dihadapkan situasi yang tak biasa begitu."
"Hmm, kau dan Sasuke nggak apa, 'kan? Nggak terluka?" tanya Lee.
"Kami baik-baik saja."
"Hei, Naruto. Ceritakan padaku. Bagaimana kalian bisa lolos dari para teroris itu? Waktu aku dan Sakura berhasil keluar gedung aula, sebagian dari mereka langsung masuk menahan para murid dan guru 'kan? Apalagi sekarang katanya masih disandra dan belum diselamatkan. Jadi bagaimana kalian bisa kabur?" berondong Lee.
Naruto bungkam. Dia tak bisa bilang kalau ia menggunakan skill-nya untuk menghadapi teroris. Sebab, selama ini dia menyembunyikannya mati-matian dari teman-temannya, termasuk Sasuke. "Aah, akan kuceritakan lain kali. Aku tak bisa sekarang, 'coz ada yang harus kukerjakan," katanya menggaruk belakang kepala grogi. "Oke Lee, sampai jumpa."
"Haah, ya sudahlah. Bye," desau Lee sebelum memutus hubungannya.
Naruto mendengus pelan seraya mengantongi smartphone-nya.
"Kenapa?"
Keturunan Namikaze menoleh pada Sasuke yang duduk di antara dia dan Itachi. "Lee menelpon, dia dan Sakura-chan baik-baik saja," jawabnya.
"Lalu?" Sasuke mengangkat satu alis samar.
"Dia ingin tahu bagaimana kita bisa lolos dari belenggu Hellwick itu."
"Ooh, aku juga penasaran," timbrung Itachi. Membuat Naruto kembali melayangkan dengusan sebel. "Mau bercerita?"
"Malas deh, Itachi-san..." desau Naruto menyamankan punggungnya di sandaran kursi mobil. Memejamkan mata berniat istirahat sebentar.
"Hn?"
"Nanti nii-san akan tahu sendiri. Soalnya, Dobe pasti bakal menunjukannya," sambung remaja raven.
"Diamlah Teme. Biarkan aku tidur," greget Naruto menyenggol bahu Sasuke.
Sasuke mendelik. "Hn, tapi lepaskan tanganku dulu," perintahnya melirik tangan kanannya yang masih digenggam Naruto semenjak keluar dari rumah.
"Ogah."
"Dobe!"
"Urusai yoo...Teme," Naruto sengaja menumpukan sisi kepalanya ke bahu rivalnya.
"Berat, idiot," Sasukemenggoyangkan bahunya jengah. Namun Naruto tetap bertahan, tak mau menyingkir. Alhasil Sasuke mengalah membiarkannya.
Itachi hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah keduanya. 'Seperti kekasih saja...' inner-nya tersenyum maklum sebelum memilih memandang keluar jendela mobil.
Sulung Uchiha menikmati keheningan yang mengiringi perjalanan mereka. Dalam penglihatannya, Itachi menemukan barisan pohon Sakura yang menggugurkan jutaan kelopak pink-nya. Berdiri di depan deretan bangunan megah, rumah, dan toko yang ada di tepi jalan besar. Orang-orang berjalan kaki menapaki trotoar. Beberapa kendaraan turut melintasi jalur yang dilaluinya. Namun...
DUAAARRRR!
Mendadak terdengar bunyi ledakan keras. Menggema hingga membuat sang sopir harus membanting setir ke samping. Menimbulkan guncangan yang cukup kuat.
Itachi, Naruto, dan Sasuke terlonjak kaget.
"Apa yang terjadi?!" Itachi langsung menanyai dua polisi yang duduk di depan mereka begitu mobil berhenti.
"Kami tak tahu," jawab salah satunya, lelaki berambut hitam jabrik dengan name-tag Daisuke. Dia menatap kawannya, pria bersurai coklat lurus alias Shiranui Genma yang membetulkan letak perseneling.
Naruto menggeram kecil. Meruntuki waktu istirahatnya yang harus dibatalkan detik itu juga. Ia beralih memutar pandangan keluar jendela. Mendapati orang-orang berlarian tak tentu arah sambil berteriak histeris.
"KKYYAAAAHHH!"
"UUWAAAHHH!"
"ADA YANG MELEDAAAK!"
Kalimat itu memicu keterkejutan Itachi, Naruto, dan Sasuke. Seketika, remaja pirang membuka lebar pintu mobil dan keluar melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa ini?" Naruto membelalakkan mata birunya tak percaya.
Di hadapannya, terpampang asap hitam besar yang membumbung tinggi menodai angkasa. Berasal dari sebuah gedung berlantai tiga yang hancur terbakar akibat dilalap si jago merah ganas. Orang-orang, baik pria, wanita, anak-anak, tergeletak tak berdaya di atas tanah sekitarnya. Tubuh mereka dihiasi darah dan luka. Sementara yang masih bergerak, berusaha menolong para korban menjauh dari lokasi ledakan.
Itachi yang berdiri di belakang Naruto bersama Sasuke, membulatkan mata tercengang.
"B—bom?" gagap Sasuke getir.
"Tidak mungkin..." Itachi mengepalkan satu tangannya marah.
"Itachi! Naruto! Sasuke!"
Ketiganya memalingkan muka ke arah pemanggilnya.
"Kalian baik-baik saja?" Shikamaru menghampiri mereka dari depan. Disusul Kakashi yang sudah menanggalkan jubah Hokage dan memakai topi sport abu-abu. Menutupi penampilannya sebisa mungkin agar masyarakat tak tahu dirinya Hokage.
"Ya, kami tak apa," Itachi mengangguk.
"Panggil tim bantuan dan ambulans kemari. Kita harus mengevakuasi warga di sini secepatnya," titah Shikamaru pada delapan anak buahnya.
"Siap."
Shino langsung mengambil radio untuk menghubungi kantor kepolisian Kohona. Selagi Daisuke dan Genma memandu kawannya yang lain untuk mulai mengungsikan korban ke tempat aman.
Jeritan pilu dari orang-orang yang terluka membuat Sasuke trenyuh. Seakan turut merasakan derita yang dialami mereka. Naruto merangkul si raven merapat padanya. Mengusap bahunya menenangkan.
"Kenapa begini? Bukannya Obito-san bilang bom tak akan diaktifkan teroris dalam waktu dekat?" lirih Sasuke.
"Mungkin kesabaran Hellwick sudah menipis. Makanya, mereka meledakkan bom untuk memberi kita peringatan," duga Naruto menatap sekelilingnya waspada.
"Peringatan agar kita segera mengabulkan keinginan mereka," tambah Kakashi bersuara berat.
"Aku akan memberitahu hal ini pada Obito," Itachi meraih smartphone miliknya dari saku jasnya.
"Katakan juga padanya untuk mempercepat pembentukan tim penyergapan," timpal Kakashi yang dibalas anggukan Itachi.
Namun, belum sempat niatnya terlaksana, kelimanya dikejutkan oleh suara keras yang mendengung kencang. Merebut perhatian semua orang yang semula memandang gedung berkobaran api. Mereka tertuju ke satu titik, dimana suatu televisi raksasa yang menempel di dinding bangunan besar, menayangkan gambar sesosok pria berbaju hijau tua loreng dengan kain gelap menutupi setengah wajahnya. Rambutnya hitam panjang, anting berbentuk infinity bertengger di kedua telinganya. Sepasang mata beriris emas khas ularnya, mengkilat nyalang.
"Bagaimana rasanya hadiah kedua dari kami, Hokage-sama?" ucap orang itu sambil terkekeh rendah. Membuktikan dirinya adalah bagian dari teroris Hellwick.
"Dia..." Kakashi meradang.
"Mereka membajak sinyal tv," ujar Shikamaru.
"Kurang ajar..." desis Naruto.
Itachi menautkan alis dengan sorotan mata sengit. Sasuke membisu mengamati.
Tayangan itu menyulut kericuhan. Menimbulkan kepanikan orang-orang yang barusan mendengar pernyataan pria di layar televisi itu.
"Satu bom telah diaktifkan. Apa kau sudah melihat berapa banyak kelinci yang mati sia-sia akibat keteledoranmu?" lelaki berwajah pucat layaknya mayat itu menyeringai di balik maskernya. "Sebaiknya kau segera mengambil keputusan, Hokage-sama. Ingat, kami bukan orang yang sabar."
"Bantuan akan datang 10 menit lagi bersama tim Omega dari kemiliteran pusat," lapor Shino pada Shikamaru.
"Bagus," Kapten mengangguk. "Lakukan evakuasi sebisanya sekarang."
"Siap Kapten!"
"Kami hanya menginginkan harta negeri Hi. Apa susahnya menyerahkannya pada kami? Kenapa kau harus mempertaruhkan nyawa warga Konoha demi melindungi harta itu? Apa harta itu lebih berharga dibandingkan nyawa mereka?" sosok itu menelengkan kepala. Bersikap seakan tak berbuat salah sedikitpun.
Membuat Kakashi makin naik pitam.
"Baiklah, terserah apa maumu. Kami hanya ingin permintaan kami dikabulkan," pria itu mengedikkan bahu malas. "Aah ya Hokage-sama, kau tahu jika kami masih menyandra para murid dan guru di Konoha High School, 'kan?" dia menggeserkan tubuhnya, memperlihatkan para sandra yang berlutut kaku seraya menundukkan kepala. "Mari kita buat permainan. Mulai sekarang tiap 2 jam terlewati tanpa kau memberikan kepastian, kami akan menembak mati salah satu dari mereka atau meledakkan bom lagi," ungkapnya tertawa arogan.
Menciptakan ketegangan dan ketakutan para korban. Tangisan pedih meluncur dari bibir mereka seketika. Mengharapkan pertolongan agar dapat terbebas dari belenggu kematian.
"Tidaak..." Sasuke menggeleng tak percaya.
"Brengsek!" Naruto menggertakkan giginya berang. Tangannya terkepal kuat hingga pembuluh nadinya tercetak di kulit tannya.
Iris dwi warna Kakashi menyorot penuh kebencian. Sungguh, dia sangat ingin membunuh pria Hellwick itu.
"Aku tunggu jawabanmu, Hokage-sama. Suka tidak suka dengan cara kami ini, kau harus tetap mengikutinya. Kalau kau ingin warga tercintamu selamat, turutilah kemauan kami," kata laki-laki ular itu. "Ingat, waktumu tak banyak lagi... Nah, selamat menikmati..."
Tayang tersebut menghilang, berubah menjadi kumpulan mozaic yang tak beraturan.
Atmosfer berat mengitari Kakashi, Shikamaru, Itachi, Naruto, dan Sasuke yang berdiri kaku. Mematung sunyi tenggelam dalam pikiran masing-masing. Berusaha mencari akal untuk mengakhiri insiden yang terus berlanjut ini.
"...Kita tak akan maju kalau tetap diam di sini..."
Keempat pemuda itu mendongak. Menyatukan mata ke Kakashi yang balas menatap mereka tajam.
"Saat ini kita fokus dulu pada Sasuke. Kita harus pergi ke tempat kolam Aevym berada, menemukan bukunya, dan menghilangkan kekuatan itu dari tubuh Sasuke. Kita serahkan masalah ini pada wakilku. Aku yakin dia sudah melihat tayangan tadi dan mulai mengatur siasat bersama Jenderal serta Kolonel," terang Hokage panjang lebar. "Makanya, ayo kita selesaikan misi kita."
"Baik," setuju Shikamaru, Itachi, Naruto, dan Sasuke lantang.
Mereka bergegas memasuki mobil. Bermaksud pergi ke tempat yang menjadi tujuannya semula. Shikamaru terpaksa meninggalkan lima anak buahnya yang sibuk melakukan evakuasi sampai bantuan tiba. Ditemani Shino, Daisuke, dan Genma, mereka melanjutkan perjalanan.
"Jalur ini macet, kita harus memutar arah," usul Shikamaru memperhatikan jalan yang dipadati kendaaran.
"Usahakan lewat jalan pintas," ujar Kakashi.
Shino mengemudikan mobilnya menyingkir dari distrik kacau tersebut. Memandu mobil di belakang—yang ditumpangi Daisuke, Genma, Itachi, Naruto, dan Sasuke— melalui daerah lenggang.
Dua kendaraan kepolisian itu melaju kencang. Menjauh dari pemukiman Konoha. Melintasi jalan beraspal sepi yang hanya dikelilingi pepohonan tinggi lebat. Ketika melintasi gerbang jaring besi yang dijaga beberapa tentara militer, Naruto dan Sasuke kebingungan. Sebab, mereka tak pernah melihat landscape yang nampak asing begini.
"Ini dimana?" tanya Naruto.
"Kita menuju pinggiran Kota Konoha," sahut Genma yang mengendalikan setir mobil. "Jalan ini disembunyikan keberadaanya dari masyarakat. Hanya orang-orang penting saja yang mengetahuinya."
"Nii-san tahu jalan ini?" Sasuke menoleh ke Itachi.
"Hn, aku sering kesini bersama Tou-san dan Kaa-san," jawab Uchiha sulung.
"Hmm..." Sasuke mengernyitkan kening, merasa sedikit jealous. Iri pada kakaknya yang begitu diperhatikan ayah-ibunya.
"Ototou..." Itachi mengusap helaian raven adiknya. "Kami tak mengajakmu karena tidak ingin melibatkanmu dalam dunia kekerasan yang kami jalani. Tou-san, Kaa-san, dan aku ingin kau hidup bahagia tanpa diliputi kegelapan," jelasnya.
"Hn..." gumam Sasuke mencoba mengerti.
Naruto tersenyum kecil mengamati keakraban dua saudara itu.
30 menit berlalu. Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah danau besar yang terlokasi di tengah hutan Konoha. Airnya jernih. Tepian danaunya ditumbuhi semak-semak belukar dan bunga camellia merah darah. Membuat kesan mistis mengudara.
Awalnya Naruto dan Sasuke saling tatap linglung, ini pertama kalinya mereka mengunjungi tempat yang sangat dirahasiakan. Keduanya turun dari mobil dengan Itachi. Mengekori Kakashi dan Shikamaru yang ternyata sudah lebih dulu berjalan ke ujung jembatan kayu yang sengaja dibangun menuju tengah danau.
Kakashi mengeluarkan remote control mini. Mengacungkan antena kecil yang terpasang di benda itu ke arah danau. Lalu menekan tombol yang tersedia. Tak lama kemudian, Naruto dan Sasuke dikejutkan oleh riakan air danau yang semula tenang. Gelombang air yang tak beraturan tersebut hampir membanjiri tanah pinggir danau. Tiba-tiba muncullah badan atas sebuah kapal selam dari dalamnya. Kendaraan bawah laut baja berwarna hitam legam itu naik ke pemukaan.
Pintu besi berbentuk lingkaran yang terletak di atas badan kapal selam, segera terbuka. Memberikan jalan masuk bagi penumpang yang akan menaikinya.
Pemandangan yang terpampang di hadapan mereka itu membuat Naruto dan Sasuke terpana. Takjub lantaran tak pernah menduga adanya kapal selam asli di danau pinggiran Konoha begini.
Itachi tersenyum maklum mendapati reaksi dari dua pemuda tersebut. Tangannya menepuk masing-masing bahu Naruto dan Sasuke secara bersamaan. "Kita harus bergegas. Ayo masuk," ajaknya mengingat waktu terus mengejar.
Kakashi bergerak menaiki tangga besi menuju pintu masuk mendahului mereka.
"Itachi benar, kalian bertiga harus bergegas. Aku akan menjaga disini dengan anak buahku..." kata Shikamaru.
"Baik..." sahut Naruto singkat, menarik Sasuke pergi menyusul Kakashi.
Ketiganya masuk ke dalam kapal selam yang akan membawa mereka mengarungi dunia bawah air. Dengan Kakashi sebagai pemegang kendali kendaraan canggih otomatis tersebut.
Berbagai peralatan elektronik khas angkatan laut, menyambut kedatangan Kakashi, Itachi, Naruto, dan Sasuke. Dua remaja yang baru duduk di bangku kelas dua KHS ini, tak tahu satu pun cara kerja kumpulan alat itu. Yang pasti mereka paham. Bahwa benda raksasa ini memuat beberapa misil torpedo yang mampu menghancurkan sebuah kapal selam lainnya.
"Sugooi, kapal sebesar ini tak ada orang-orang yang mengoperasikannya?" heran Naruto memutar Shappire-nya menjelajahi isi kapal selam.
"Kapal ini dikontrol oleh mekanis canggih buatan luar negeri. Jadi tidak membutuhkan awak kapal," balas Itachi.
Begitu pintu ditutup, cahaya ruangan berubah meremang. Persediaan oksigen yang terbatas serta udara yang cukup dingin, membuat Naruto tidak ingin melepas genggaman tangannya dari jemari Sasuke. Mereka duduk di kursi belakang Kakashi yang bersemayam di bangku kapten. Itachi memasang headphone dan duduk di depan keyboard. Memantau layar sound radar di hadapannya. Monitor komputer utama, menampilkan keadaan bawah air yang gelap kebiruan.
"Tak ada halangan untuk berlayar 'kan, Itachi?" tanya Kakashi.
"Tidak."
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Tujuan ke kolam Aevym. Aktifkan tenaga mesin 20 persen. Mulai menyelam secara perlahan."
"Mengatur perjalanan menuju kolam Aevym. Menjalankan mesin bertenaga 20 persen. Daya apung diturunkan. Mulai menyelam perlahan." Suara mesin yang mengontrol pergerakan kapal selam, menjawab perintah Kakashi. Meluncur ke pedalaman bawah air.
Shikamaru dan ketiga anak buahnya yang berada di atas danau, melihat kapal itu mulai menghilang dari permukaan. Dalam hati, dia mendoakan keselamatan mereka.
"Tingkatkan tenaga mesin 20 persen," intruksi Kakashi.
"Meningkatkan tenaga mesin menjadi 40 persen. Bergerak maju mengikuti arus."
Layar utama memperlihatkan suasana bawah air.
"Laporkan berapa lama waktu yang ditempuh untuk sampai tujuan."
"20 menit..." sahut Itachi.
Kakashi mengangguk. "Baiklah... lanjutkan seperti ini."
Naruto yang tanpa sadar menahan nafas, akhirnya mendesah kasar. Lega karena tampaknya kondisi kapal baik-baik saja. Siapa yang tak ngeri menaiki kapal selam untuk pertama kalinya? Apalagi sampai harus menyelam ke dasar air? Hell, siapapun pasti bakalan nervous.Bagaimana kalau sampai gagal mesin dan mereka tenggelam?
'No,no no, be positive thingking, Naruto,' batin Namikaze. Dia menoleh ke arah Sasuke. "Kau baik-baik saja, Teme?"
"Hn..." Sasuke bergumam pelan. Iris hitamnya memandang ke depan tanpa minat.
Naruto membisu sesaat sebelum beralih menyentuh kedua tangan Sasuke yang agak dingin. Dia mengusapnya lembut dan membawanya ke depan bibirnya. Mengalirkan kehangatan melalui hembusan napas yang keluar dari mulutnya. Tindakan itu spontan membuat Sasuke kaget.
"Apa yang kau lakukan?!" protes Sasuke.
"Menghangatkanmu..." jawab Naruto enteng.
"Aku tidak kedinginan!" Sasuke menarik tangannya cepat. Rona merah menjalar di kedua pipi putihnya.
"Tapi tanganmu dingin," Naruto meneleng sedikit.
"Ini keringat, Dobe!"
"Ooh..."
Tanpa mereka ketahui, Itachi yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka berusaha meredam tawanya.
Setelah 20 menit berlalu, terdengar bunyi—bip— berulang kali dari sound radar. Layar di depan Itachi, mentransfer data secara otomatis ke monitor utama. Memuatkan gambar daerah yang dilewati kapal selam. Kini mereka berada di suatu tempat yang dikelilingi dinding batu. Layaknya gua air raksasa.
Secara perlahan, kegelapan yang menyelimuti ruangan mereka menipis. Tergantikan oleh seberkas cahaya yang masuk melalui celah atas kapal.
"Kita sudah sampai..." Kakashi berdiri dari duduknya. "Mesin stand by."
"Mode stand by diaktifkan. Mesin mulai menyimpan tenaga."
"Sampai?" Naruto mengerjab bingung.
"Ya, kita sudah tiba. Ayo keluar," Itachi melepas headphone-nya dan bangkit mengekori Kakashi ke pintu kapal.
Hokage memutar tuas yang berada diatas kepalanya. Membuka lebar pintu besi itu sebelum melangkah keluar.
Sinar terang yang memenuhi sebagian ruang kapal, menyebabkan Naruto dan Sasuke harus menyipitkan mata mereka. Berada cukup lama dalam kegelapan membuat indra penglihatannya jadi sensitif akan cahaya.
"Kini aku tahu betapa indahnya cahaya itu..." kagum Naruto seraya melompat ke atas tangga yang akan membawanya keluar dari dalam kapal.
"Bakayaro..." ejek Sasuke dari belakangnya.
Swoooooshhhhhh
Angin yang bertiup lumayan kencang, menyambut Sasuke tatkala menapakan kakinya diatas batuan alam. Ia mengedarkan pandangannya. Rupanya, ia bersama Kakashi, Itachi, dan Naruto berdiri di mulut goa yang berada jauh di dasar danau. Dinding lorongnya dihiasi tumbuhan lumut yang berkilauan. Kerikil berbagai warna tersebar di tanah. Mereka berempat mulai berjalan memasuki goa yang lembab.
"Aku tidak menyangka Konoha memiliki tempat seperti ini. Bagaimana bisa ada ruang berudara dalam laut?" Naruto terpukau.
"Tempat ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Danau yang kalian lihat tadi adalah danau buatan yang sengaja diciptakan 17 tahun yang lalu untuk menyembunyikan wilayah ini. Kami memindahkan Aevym yang semula berada di ruang bawah tanah kantor Hokage kemari, guna menjauhkannya dari jangkauan Hellwick, setelah sebagian kekuatannya menghilang..." tutur Kakashi.
Naruto mengangguk paham. Ketika asyik mengamati sekitar, tak sengaja kedua maniknya menilik Sasuke. Wajah sang bungsu Uchiha nampak lebih pucat dari biasanya. Bahkan bulir-bulir keringat kini menghiasi pelipisnya.
"Sasuke kau baik-baik saja?" tanya Naruto cemas.
"Hn—Aku baik-baik saja..." gumam sobatnya singkat.
Naruto tahu pemuda raven itu berbohong. Raut mukanya yang terlipat samar, menunjukan dirinya sedang menahan rasa sakit.
"Naruto ambil ini," mendadak Itachi menyerahkan sebuah lentera. "Tempat ini cukup gelap, berhati-hatilah," peringatnya.
Lelaki blonde mengangguk. Dia melangkah maju sambil sesekali mengecek kondisi Sasuke. Lorong goa sempit nan gelap yang mereka lalui, mengundang rasa kekhawatiran Naruto menjadi berlipat ganda. Sejak tadi, bayangan-bayangan aneh terus mampir ke otaknya. Memberikan firasat buruk kalau-kalau ada yang muncul mengagetkan mereka dari balik kegelapan. Maklum, dia agak merinding dengan tempat yang berbau mistis.
Bruugh!
Tak memperhatikan, Naruto berakhir menabrak punggung Itachi yang mendadak berhenti di depannya. Dia meneleng heran. Sebelum melihat ada dinding batu yang menutupi jalan lorong di hadapan mereka berempat.
"Jalan buntu?" tanya Naruto.
"Tidak, ini pintu masuk," sanggah itachi. "Ada suatu pengaman kuat yang dipasang disini. Fungsinya untuk melindungi apa yang berada di dalamnya."
"Di baliknya... apakah kolam Aevym?" Sasuke menimpali.
"Hn."
Kakashi menekan sepetak batu yang terletak di samping dinding. Petak itu terbuka, menampilkan panel berupa layar sentuh yang berisikan tombol-tombol huruf rumit. Dia menekannya cepat secara acak. Mengetikan kode rahasia untuk membuka pengaman pintu tersebut.
KRAAACKKKK!
Suara retakan keras bergemuruh memecah keheningan gua. Diikuti guncangan kecil akibat tergesernya dinding batu besar yang menghalangi jalan mereka. Mata Naruto dan Sasuke tidak berkedip memandang kearah dalam gua yang menyajikan sebuah jalan lain.
BAAMMM!
Begitu keempatnya masuk, pintu batu langsung tertutup rapat. Menimbulkan debam yang cukup keras hingga mengagetkan dua remaja tersebut.
Kini mereka berjalan menyusuri lorong yang disinari lampu-lampu bercahaya kuning. Tertempel di kanan-kiri dinding goa. Atmosfer misterius tiba-tiba hadir mengiringi langkah mereka yang semakin menuju ke dalam. Tidak jahat, malah menghantarkan rasa nyaman yang menenangkan hati.
Tak lama kemudian, Kakashi, Itachi, Naruto, dan Sasuke sampai di sebuah bidang ruang goa yang luas. Di tengahnya terdapat sebuah kolam berukuran sedang. Air di dalamnya sangat jernih, sampai kita bisa melihat dasarnya. Berbagai batu alam berbentuk serpihan kecil berwarna-warni, terlihat mengelilingi tepiannya. Dihiasi tanaman hijau menjalar berbunga biru mekar indah. Akar-akarnya merambat naik ke dinding ruang tersebut. Aura yang memenuhi udara di sana, membagikan ketentraman batin pada siapapun yang datang berkunjung.
Naruto terbengong. Matanya berbinar sarat kekaguman. "Cantik sekali..."
Tetapi sepertinya bungsu uchiha di sebelah Naruto tidak berpendapat demikian. Sasuke langsung tumbang keatas tanah. Berlutut sambil memeluk badannya yang gemetar.
"Aah—Aaarrggghhh!" kedua Onyx Sasuke terpejam kuat. Tubuhnya serasa memanas bagai terbakar. Energi dari kolam suci itu membuatnya sesak. Seakan menarik sesuatu dari dalam dirinya. Menciptakan aura biru kehitaman keluar mengelilingi badannya.
Kakashi, Itachi, dan Naruto tersentak menemukan Sasuke meraung kesakitan.
"Sasuke?!" teriak Naruto bergegas lari menghampirinya.
"Bawa Sasuke menjauh dari kolam!" suruh Kakashi seraya bergerak ke meja yang tersedia di sisi kolam. "Aevym dalam tubuhnya memaksa memisahkan diri, ingin keluar karena ditarik oleh energi Aevym dalam kolam. Kalau Sasuke tidak bisa menahannya, nyawanya akan ikut terseret masuk ke Aevym kolam dan ia akan mati!" terangnya sebelum beralih pada Itachi. "Itachi, ambilkan aku gulungan itu!" perintahnya.
"Baik!" Itachi terburu menuju brankas di sudut ruangan. Mengambil benda yang dibutuhkan Hokage.
Naruto sigap menarik lengan Sasuke. Hendak menyeretnya menjauh dari kolam. Namun Sasuke menolak, menepis tangan kawannya kasar dan bangkit dari jatuhnya perlahan.
"Aku—akan menahannya..." tekad Sasuke dengan nafas tersenggal akibat menahan rasa sesak di dada. Wajah pucatnya kini dibasahi cucuran keringat.
"Apa?! Sasuke, kau bisa tewas kalau gagal!" sergah Naruto.
"Aku bisa melakukannya, Dobe!" bentak Sasuke kasar sembari melangkah menuju kolam. Menghiraukan Naruto yang kukuh memanggil namanya dari belakang.
Aura biru kehitaman terus mengalir keluar dari badannya ketika Sasuke semakin mendekati kolam. Ia berdiri di tepiannya. Menatap air yang beriak tak beraturan. Ia menarik napas panjang berusaha memfokuskan pikirannya.
Suka tidak suka, Sasuke tahu kekuatan Aevym dalam dirinya sudah bersatu dengan jiwanya. Pemuda raven itu tidak ingin lagi kehilangan control seperti waktu itu. Ia tak mau berakhir membunuh orang-orang yang berada di dekatnya. Apalagi harus melukai sahabat terpenting baginya. Karenanya Sasuke memutuskan untuk melatih Aevym yang mendiami tubuhnya, sehingga bila saatnya tiba ia tahu bagaimana cara melepaskan Aevym dan menggunakan kekuatannya secara tepat.
Bulir-bulir keringat menetes deras dari pelipis Sasuke. Helaan napasnya memendek seiring merasakan gumpalan energi di dalam tubuhnya memberontak. Menimbulkan rasa sakit yang lebih kuat dibandingkan awal tadi. Tetapi ia tidak menyerah, kembali berkonsentrasi untuk meredam gejolak energi tersebut.
Air suci dalam kolam merespon liar. Gelombang yang semula kencang hingga akan naik membanjiri pinggir kolam, mulai mereda. Kembali tenang seiring Sasuke mulai bisa menguasai Aevym dalam tubuhnya.
Kakashi, Itachi, dan Naruto menatap Sasuke tercengang. Aura Aevym yang mengelilinginya, perlahan menipis seakan kembali terserap masuk ke badan bungsu Uchiha.
Sasuke berhasil memenangkan pertarungan sengit itu.
"Sasuke..." gumam Naruto melangkah menghampiri teman baiknya.
Tangannya terulur menyentuh bahu Sasuke yang memunggunginya. Kini aura Aevym telah menghilang sempurna dari tubuhnya. Tetapi, mendadak Sasuke limbung. Hampir terjatuh jika Naruto tak menangkap dirinya.
Naruto berlutut membawa Sasuke ke pelukannya, mendekapnya hangat. "Kau hebat, maafkan aku meragukanmu..." lirihnya bersuara rendah.
Sasuke mengatur nafas sejenak. Sebelum mengembangkan senyum dan membalas rengkuhan sang Namikaze.
Kakashi dan Itachi yang menyaksikan pemandangan tersebut, mengulas senyum lega. Senang mengetahui Sasuke baik-baik saja.
Atmosfer udara di ruang kolam Aevym mulai mengalir sepoi. Memberi kesejukan sehabis badai berlalu.
Pria berambut perak menunduk, melihat ke sebuah buku kuno bersampul coklat tua usang berada di atas meja hadapannya. Bagian tengah buku itu dilingkari akar tanaman kayu yang berfungsi sebagai pengikat atau segel. Tujuannya agar tak bisa dibuka dan dibaca sembarang orang. Kecuali sang pemegang kunci. Namun sekarang sudah rusak. Segelnya jadi tak berguna lagi.
Jemari Kakashi mulai membuka cover buku tebal itu. Kertasnya sudah rapuh dan menguning. Tiap lembarnya menuliskan kata-kata rumit berbahasa kuno. Membuktikan benda itu telah berumur ribuan tahun. Dibuat ketika para leluhur dan dewa masih ada. Saat sampai di akhir, dia menghembuskan nafas lelah. Bagian itu hilang, menyisakan sobekan kertas kecil-kecil di pinggirannya. Menjadikan artikel Aevym yang termuat di buku itu tidak nyambung.
Itachi menyerahkan gulungan yang diminta Kakashi tadi kepadanya. Hokage meletakkannya di sisi buku tersebut.
"Naruto, Sasuke..."
Sang pemimpin Konoha memanggil dua remaja yang masih berdiam di tempatnya. Keduanya melepaskan pelukan dan menoleh memandangnya tanya.
"Ini adalah buku yang aku ceritakan tadi," kata Kakashi menunjukkan buku kuno yang dipegangnya. "Beberapa lembar dari halaman belakang buku ini telah di curi oleh Hellwick. Hokage terdahulu pernah mengatakan jika Hellwick menyembunyikan bagian buku yang dicuri di ketiga markas mereka yang berlokasi di Timur, Barat, dan Utara..."
Itachi, Naruto dan Sasuke mendengarkan penjelasan dengan seksama.
"Tetapi aku tak tahu pasti dimana letak keberadaan markas mereka," lanjut Hokage lirih.
"Yang penting, kita masih bisa membaca sebagian ulasan yang tersisa di buku itu," ujar Naruto. "Kita akan tahu apakah disana terdapat cara untuk menghilangkan kekuatan Aevym dari Sasuke atau tidak. Dan jika kita tidak menemukannya..." manik langitnya memandang Sasuke lurus. "Berarti Hellwick memiliki kuncinya."
Sang raven balik menatapnya dalam.
"Aku akan merebut kembali sisa buku itu dari mereka," ikrar Naruto mengepalkan tangan kuat. Kedua irinya menyiratkan kesungguhan. "Demi meyelamatkan Sasuke dan menemukan pembunuh ibuku."
.
.
.
.
.
∞»∞»∞»To Be Continued«∞«∞«∞
.
.
.
Ivy : "Sampai di sini kita bersamabung mina-san, apakah udah bisa bikin mereka penasaran ya, mint?" *mikir*
Mint : "kayaknya penasaran secara kita update lama banget ^^; maaf ya..."
Ivy : "Eh Mint, ada yang tanya lo... kira-kira tokoh perempuan kayak Sakura, Hinata, Ino , ma Tenten itu ikut andil di cerita gak?"
Ivy : "terus nih, mengapa chapter ini lebih sedikit dari chapter sebelumnya?"
Mint : "liat nanti aja :b"
Mint : "kemarin ivy sempet sakit dan dokumennya sempet kehapus ^^; dan lagipula kemarin itu awal-awal jadi bener bener panjang."
Ivy : "Iya, agar reader gak bingung n mudeng, Karena salahku juga membiarkan keponakanku main lappy pas ngetik... jadinya ilang deh"
Mint : *peluk ivy*
Ivy : *balas peluk* "lalu, apakah chapter selanjutnya akan mengungkapkan segalanya?"
Mint : "Mayyyyybe yes maybe no ^^ di tunggu aja #dibunuhReader"
Ivy : "Tidak, jangan bunuh Mint, aku gak rela kehilangan partner sebaik kamu! T_T"
Mint : "ivy, selamat tinggal, aku akan selalu mencin-" tubuhnya terjatuh keatas tanah. darah segar mengalir dari pelipis kirinya. Kelopak matanya menutup perlahan. Tubuhnya membeku. Detak jantung kecilnya tidak lagi terdengar. Ia telah berjuang keras si pertempuran namun di takdirkan untuk gagal. Dan saat ivy menemukannya semuanya sudah terlambat. /dramanya kumat/
Ivy : "Tidak, onegai~ jangan tinggalkan aku, mint-saaann, aku suk- #bletak *emang ini ajang drama picisan eeh?!*"
Mint : "Mari kita sudahi vy, aku sudah tidak tahan lagi melihat kamu bertingkah + mempermalukan diri seperti ini dihadapan para reader"
Ivy : "Idiih kita ini emang author lebay, n #TAK *cukup*... oke deh, sampai sini ya mina-san gomen kami tak bisa menjawab pertanyaan kalian, sebab kami ingin mengundang kalian penasaran terus, hehe,"
Mint : "setuju deh sama kamu Mint sampai ketemu di chap 3!"
Ivy : "Mata ne" *lambai tangan*
Mint : *goyang-goyang*
.
Special Thanks :
DINDA red-devil24, anclyne, , alta0sapphire, .12, Tomoyo to Kudo, Akasaka Kirachiha, , Naruhina Sri Alwas, Aicinta, pingki954, CA Moccachino, Fro Nekota, zazuo, Naminamifrid, yukimi, suira seans, alchemist, 306yuzu, ai no dobe, shin, Cosmo, Ndah D. Amay, EthanXel, Kim Tria, Imyourfans, NaluCacu CukaCuka, Kuro Rozu LA, angelkyute56, Vivi, Xilu, narusasu wookie, himekaruLI, Beautiful Garnet, Shawokey, .11, , Ichikawa Arata, Sasofi No Danna, Guest, n Silent Readers too
