Embrio
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Rate : (nyerempet) M
Genre : Humor/Romance
Warning! Yaoi, OOC, typo, M-Preg, biologis, drabble, garing banget, dll.
.
.
.
7. Bulan Keenam
Seluruh eksistensi yang berada di sepanjang lorong rumah sakit menatap pemuda beriris abnormal yang membalas tatapan mereka dengan tajam. Di belakangnya terdapat seorang pemuda yang lebih kecil yang masih sibuk dengan vanilla milkshake di tangannya. Pemuda yang lebih besar—yang biasa dipanggil Kagami—mendengus sebal. Kenapa harus ia yang terus menerus dipandangi? Yang hamil 'kan Kuroko.
"Hei, lihat itu. Itu 'kan pemuda yang tadi mendaftar ke dokter kandungan."
"Eh, benarkah? Padahal masih muda tapi sudah menghamili anak orang."
"Mana gadis yang dihamilinya?"
"Oh, iya. Sedari tadi aku tidak melihatnya bersama seorang perempuan."
"Eh, lihat itu. Seperti ada yang mengikutinya."
"Hah? Sejak kapan pemuda itu ada di sana?"
"Perhatikan perutnya. Ia hamil?"
Kagami ingin membenturkan kepalanya ke tembok terdekat saat mendengar kalimat-kalimat 'ajaib' yang dilontarkan oleh ibu-ibu yang arisan mendadak di kursi tunggu. Kuroko menepuk-nepuk punggung Kagami—berniat untuk menenangkan sang calon ayah—namun alih-alih tangannya yang biasa dipakai memukul bola basket malah membuat punggung Kagami sakit.
Kuroko menghentikan langkahnya tepat di depan pintu bertuliskan 'dokter kandungan'. Tangannya yang bebas menarik ujung baju Kagami—yang dengan bodohnya melewati ruangan yang mereka tuju—menyiratkan perintah untuk berhenti.
Entah bagaimanan caranya, akhirnya mereka sampai di dalam ruangan—yang menurut Kagami—terkutuk dan sekarang sedang berhadapan dengan seorang pria yang masih terlihat muda.
Pria tersebut memiliki surai sewarna daun dan kacamata yang bertengger di batang hidungnya. Sekilas ia mirip dengan seseorang dari Shuutoku yang selalu membawa lucky item ke mana pun ia pergi. Namanya tak akan disebut sekarang untuk mencegah bertambahnya korban. Bisa berbahaya bila orang tersebut bersin dan kekuatan bersinnya yang luar biasa membuat lucky item-nya rusak seketika.
Setelah melihat Kuroko duduk dengan santai di kursi yang disediakan, Kagami pun duduk di sampingnya. Sang dokter memandang Kagami sejenak sebelum mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kagami. "Jadi, kau hamil?"
Kagami tersedak ludahnya sendiri. Kenapa pula dokter di depannya menuduhnya hamil? Jauh lebih baik kalau ia dituduh menghamili anak di bawah umur. Harga diri Kagami sebagai lelaki seme yang berbakti kepada uke-nya tercabik-cabik.
"Maaf, dok."
Sang dokter mengerjap. "Ah, maaf aku tidak melihatmu," dokter itu membetulkan letak kacamatanya sebelum berdiri dan mempersilakan Kuroko untuk berbaring di ranjang yang disediakan. "Kalian mengingatkanku pada sepupuku."
"Sepupu?" Kagami berpikir sejenak. Kedua alisnya yang abnormal bergerak ke tengah, membuat keningnya berkerut. Sekelebat bayangan seseorang yang ciri-cirinya telah disebut di atas muncul di otaknya. "EH?"
"Kalian kenal Shintarou, 'kan?" dokter itu mulai memeriksa perut Kuroko. Ia mulai menyiapkan peralatan USG agar ia dapat melihat isi perut Kuroko.
"Kami dulu satu tim," jawab Kuroko singkat.
Kagami masih mencerna semua kenyataan yang ada, sampai ia melihat sebuah lempengan besi berukirkan nama sang dokter di atas meja. "Namamu bukan Midorima?"
"Ibuku yang Midorima," ucap sang dokter sembari mengusapkan gel ke perut Kuroko yang membuncit. Dengan perlahan ia menggerakkan alat yang digenggamnya di atas perut Kuroko, mencoba mendeteksi isi perut Kuroko.
"Oh…," Kagami mengangguk mengerti. Setelah termenung beberapa detik, Kagami bangkit untuk melihat gambar di layar yang terletak di samping ranjang tempat Kuroko berbaring.
Di layar terlihat gambar yang bergerak perlahan. Tidak begitu jelas, memang. Namun gambar tersebut menggambarkan sosok dari anak Kagami dan Kuroko.
"Anak kalian—" sang dokter memberikan jeda yang cukup panjang, membuat Kagami penasaran. Kuroko, sih, masih terlihat biasa saja. "—sepertinya banyak."
"B—ba—BANYAK?"
.
Setelah cukup lama berada di dalam ruangan dokter kandungan, pasangan Kagami dan Kuroko akhirnya keluar juga. Tanpa disangka-sangka, mereka berdua melihat sosok yang dua kali sudah terlintas di benak mereka, Midorima Shintarou.
"Doumo, Midorima-kun," Kuroko menyapa Midorima seperti biasa. Setelah dibalas singkat oleh Midorima, Kuroko melirik ke arah deretan kursi di samping Midorima yang kosong. "Ingin bertemu dengan sepupu Midorima-kun atau periksa kandungan?"
Wajah Midorima seketika memerah. Ia memalingkan wajahnya sebelum menjawab, "K—keduanya, nanodayo."
Mendengar jawaban Midorima, Kagami sontak membelalakkan kedua matanya. "HAH? KAU HAMIL JUGA?"
Kacamata Midorima retak. Lucky item-nya terjatuh dari tangannya. Mulutnya terbuka lebar. Tak lama kemudian ia langsung membenarkan posisi kacamatanya dan mengambil lucky item-nya. "Tentu saja aku tidak hamil, nanodayo. Yang hamil itu—"
"Lama tidak bertemu, Tetsuya," seorang pemuda bersurai merah tiba-tiba muncul dari persimpangan lorong. Untung saja ini bukan cerita horor. Kalau iya, mungkin saja sosok yang berpenampakan mirip Akashi ini tak memiliki kaki.
"Doumo, Akashi-kun," Kuroko menyapa sosok mantan kaptennya yang baru saja datang.
Pandangan Kagami langsung terfokus kepada sesuatu yang abnormal di tubuh Akashi. Ia lalu berpaling untuk menatap Kuroko, lalu kembali lagi menatap Akashi. "K-kau hamil?"
Akashi hanya membalasnya dengan seringai ambigu. "Lebih baik kita masuk, Shintarou."
Kagami hanya bisa bergeming menatap Akashi dan Midorima yang melangkah masuk ke ruangan yang baru saja Kagami dan Kuroko masuki.
Jadi ini maksud dari dokter itu….
"Kagami-kun, ayo pulang."
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
A/N: Saya tau ini udah lebih dari enam bulan (kayaknya). Karena lama, jadi saya bikin agak panjang. Semoga para pembaca belum pada kabur. Saya gak yakin kapan mau update lagi, jadi mohon bersabar. Sesungguhnya tugas sekolah itu bagai membunuh perlahan.
Terus kenapa saya masukin AkaMido? Karena saya suka pair itu dan ada yang ngusulin buat masukin mereka.
.
.
.
Balasan review:
Seicchin: Udah lanjut nih. Kuroko dengan perut besar memang unyu =3 apalagi kalo pake baju ibu hamil. /gak/ Makasih review-nya.
AoHaru: Udah lanjut. Makasih review-nya.
