Embrio
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Rate : (nyerempet) M
Genre : Humor/Romance
Warning! Yaoi, OOC, typo, M-Preg, garing banget, dll.
.
.
.
8. Bulan Ketujuh
Hari ini hari yang cukup cerah di tengah-tengah musim hujan. Meski udara cukup dingin dan matahari masih malu-malu mengintip dari celah-celah awan, cuacanya cukup bagus untuk keluar dan berjalan-jalan sejenak.
Kuroko mengerjapkan matanya beberapa kali saat indera penciumannya menangkap rangsangan bau dari luar kamar. Ia menggerakkan otot-otot tubuhnya yang kaku perlahan untuk mengangkat tubuhnya agar dapat beranjak dari tempat tidur. Kedua kakinya mencoba menopang berat tubuhnya yang kian lama kian memberat. Dengan langkah agak diseret, ia mencoba untuk menggapai pintu agar dapat keluar.
Saat Kuroko membuka pintu, ia disambut oleh Kagami yang sedang memasak di dapur. "Kau sudah bangun, Kuroko?"
Kuroko mengangguk pelan sambil menggumam kecil. Ia terus melangkah sampai dirinya mencapai ruang makan. Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan yang berada paling dekat dengan dapur.
Dengan segera Kagami menyelesaikan masakannya lalu membawanya ke meja makan. Ia meletakkan dua piring berisi hamburger steak di meja sebelum tangannya ia pakai untuk mengacak surai biru muda milik Kuroko yang berantakan dengan gemas.
Kuroko mulai menyantap sarapannya yang porsinya jelas-jelas berbeda jauh dengan milik Kagami. Ia menghabiskan sepotong hamburger steak di piringnya perlahan. Kagami memakan makanannya dengan rakus seperti biasa.
Di tengah sarapan yang biasa mereka lakukan bersama, Kagami berhenti menyuap salah satu makanan favoritnya itu. Kedua bola matanya mengalihkan pandangannya dari makanan ke arah Kuroko yang masih menyantap sarapannya perlahan. "Kuroko, hari ini kau senggang?"
Kuroko tidak mengalihkan pandangannya dari makanannya. Kepalanya hanya mengangguk kecil untuk membalas pertanyaan Kagami. Tangannya bergerak untuk menusukkan ujung garpunya ke potongan daging di piringnya sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. Setelah seluruh potongan daging yang masuk ke mulutnya tercerna dengan baik, ia menelannya. "Memangnya ada apa, Kagami-kun?"
"Tatsuya tadi meneleponku. Ia menyuruh kita untuk datang ke rumahnya nanti siang," Kagami kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
Sekali lagi jawaban yang Kagami dapatkan hanya berupa anggukan singkat. Setelah itu mereka bardua melanjutkan sarapan mereka dalam diam.
Siang harinya, setelah mereka selesai melakukan beberapa pekerjaan rumah dan bersiap, mereka melangkah keluar menuju rumah sang pemuda manis berponi alay, Himuro Tatsuya. Entah bagaimana caranya, akhirnya mereka sampai di sana dengan selamat.
Sebelum Kagami sempat memencet bel rumah Himuro, seseorang yang tak pernah ia sangka akan ia temui hari ini membukakan pintu. Sesosok makluk dengan sesuatu yang berwarna kuning mengambang di atas kepalanya membuat Kagami mundur beberapa langkah.
Bukan. Sesuatu berwarna kuning yang mengambang itu bukan sesuatu yang jorok. Percayalah.
"Doumo, Kise-kun."
Sekarang Kagami yakin yang ia lihat sebelumnya bukanlah sesuatu yang sering disebut kuning dan mengambang.
"Kurokocchi~"
Sesuatu yang memiliki warna kuning yang biasa dipanggil Kise itu langsung memeluk Kuroko dengan erat. Yang dipeluk tak memberikan reaksi apapun, tidak menolak namun tidak pula menerima.
"Aku jadi ingin punya anak. Sayangnya Aominecchi selalu menolak-ssu," Kise mulai curhat kepada Kuroko yang semakin ia peluk erat.
Kagami lebih memilih untuk masuk ke rumah teman bermain basketnya sejak kecil daripada harus memperhatikan orang-orang tak jelas yang berpelukan di ambang pintu. Bukannya Kagami cemburu, ya.
Yang diterima oleh kedua mata Kagami saat melangkah masuk adalah sosok Aomine yang duduk di sofa ruang tamu dengan posisi selayaknya di rumah sendiri—sebelah kakinya naik ke atas dan ia benar-benar berantakan—sambil memegang sekaleng minuman bersoda. Rupanya benar-benar seperti pria paruh baya yang baru pulang dari mabuk-mabukan pasca kerja seharian. Tanpa dasi yang terikat di kepalanya tentu saja.
"Taiga, kau sudah datang?" seorang pemuda bersurai hitam muncul dari balik konter dapur dan menyapa tamunya yang baru saja datang. Noda-noda putih terlihat mengotori celemek yang ia kenakan. Di belakangnya, sosok yang menjulang begitu tinggi terlihat mengikutinya sambil membawa mangkuk besar berisi sisa adonan kue yang sesekali ia jilat.
Kagami mengangguk singkat sambil menatap heran orang-orang yang sekarang berada di bawah atap yang sama dengannya. Oke, apa yang terjadi di sini?
.
.
.
"Kau tidak tahu baby shower?"
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Himuro setelah makan siang, Kagami akhirnya menyadari sesuatu. Dia seorang suami yang gagal karena melupakan usia kehamilan calon istrinya—atau suami?—sendiri.
"Ayo cepat buka kadonya-ssu!" ucap Kise dengan menggebu-gebu. Tangannya menyodorkan sebuah kotak yang cukup besar ke arah Kuroko yang duduk di sebrangnya.
Kuroko menerima kotak yang disodorkan oleh Kise dan mulai memperhatikan tiap sudutnya. Kotak yang dibungkus rapi dengan kertas kado bermotif beruang dan pita emas itu lebih ringan dari kelihatannya. Sepertinya ia masih menebak-nebak apa isinya sebelum membuka pembungkusnya.
Kagami yang juga ikut penasaran apa isi dari kotak yang diberikan Kise, menatap Kuroko dengan tatapan yang seakan berkata "cepat buka". Namun tatapannya tak berlangsung lama karena Himuro menyodorkan kotak yang lebih kecil tepat ke hadapan wajah Kagami.
Dengan penuh rasa penasaran dan ketidaksabaran, Kagami merobek kertas kado yang membungkus kardus berisikan selusin botol bayi. Eh? Botol—untuk apa?
"Kalau sudah lahir bawa ke sini, ya?" Himuro tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Kagami yang duduk di sampingnya, layaknya seorang ayah yang menantikan cucu pertamanya.
Kuroko yang duduk di samping Kagami ternyata sudah membuka kotak yang ia letakkan di atas meja dan sekarang ia sedang menatap isinya dengan pandangan datar. Ada banyak baju-baju bayi dan popok yang disusun rapi di dalam kardus yang dicurigai bekas air mineral atau mie instan.
Kagami melepaskan pandangannya dari hadiah yang diberikan Himuro dan Kise setelah puas memandanginya. Sekarang bola matanya tertuju ke Murasakibara dan Aomine yang duduk di sisi berlawanan. Dari wajahnya—Aomine yang seperti biasanya dengan tangannya yang menggali emas di hidungnya dan Murasakibara yang setia dengan momoginya—mereka sama sekali tak berniat memberikan apapun. Karena itu Kagami memutuskan untuk pamit pulang.
Sebelum ia sempat memutar gagang pintu, suara bel rumah terlebih dahulu berbunyi. Kagami membuka pintu tersebut dan mendapati dua orang yang ia kenal berdiri di sana dengan beberapa boks besar di belakang mereka. Pemuda yang lebih kecil berdiri di depan dengan sebuah senyuman yang tak terdefinisi dan pemuda yang lebih besar berdiri di belakang dengan kacamata dengan sinar aneh yang membuat bola matanya tak terlihat.
"Akashi dan Midorima?" sontak Kagami menatap mereka dengan horor. Terutama kepada kotak-kotak besar dengan pita warna-warni di belakang mereka.
"Hadiah dari kami," ucap Midorima sambil menunjuk kea rah kotak di belakangnya. "Karena kudengar anak kalian banyak, kami memutuskan untuk memberikan beberapa tempat tidur bayi dan kereta dorong."
Kagami menepuk dahinya. "Kami tak mungkin pulang membawanya naik kereta."
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
A/N: Baby shower itu semacem acara tujuh bulanan di Amerika.
Maaf lama banget. Doakan saja chapter selanjutnya bisa update kilat karena saya udah punya idenya. Tinggal kemauan menulis yang terkadang surut begitu saja. Fanfic ini akan tamat di dua chapter lagi (atau tiga kalau saya kerajinan). Jadi dimohon bersabar ya. Dan saya merasa ceritanya jadi semakin garing.
Yang login reviewnya dibales lewat pm dan yang gak login silakan cek di bawah.
.
.
.
Balasan review:
Seicchin: Sebenarnya saya awalnya pengen bikin Midorima yang hamil. Tapi ngebayanginnya rada horor jadinya gak jadi.
saiki kuro: Akashi hamil atas kemauannya sendiri jadinya gak gimana-gimana. Maaf karena selalu membuat para pembaca menunggu.
Wookie: Kalo gak sanggup jangan dibayangin. Bisa menyebabkan hal-hal berbahaya.
ilma: Permohonanmu dikabulkan.
K: Makasih, ya. Udah lanjut nih.
Mayes Yogin: Udah lanjut.
