Embrio

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Rate : (nyerempet) M

Genre : Humor/Romance

Warning! Yaoi, OOC, typo, M-Preg, udah bukan humor kayaknya, dll.

.

.

.

10. Bulan Kesembilan

Kagami berlari hingga napasnya tak lagi teratur. Bulir-bulir keringat menuruni wajahnya yang terbakar matahari. Sial, sekolah benar-benar menahannya untuk melihat proses kelahiran anak pertamanya. Siapa yang tidak penasaran dengan proses seorang laki-laki yang melahirkan? Mungkin saja ini hanya terjadi sekali seumur hidupnya. Ah, bukan itu bagian pentingnya.

Yang jelas ia harus cepat. Meskipun ia tahu operasinya telah berakhir, namun ia tetap saja penasaran dengan sosok anaknya yang digosipkan banyak. Ia harus menjadi orang pertama yang melihat anak-anaknya, selain dokter dan juga suster yang merawat.

Kagami dengan tak sabar menunggu pintu lift terbuka setelah ia menekan salah satu angka di deretan angka-angka yang menunjukkan lantai mana yang ingin dituju. Satu-satunya angka yang menyala adalah angka 8 yang merupakan lantai di mana ruangan Kuroko dirawat berada. Lantai delapan terasa begitu jauh. Kalau saja bisa, ia ingin memindahkan Kuroko ke lantai yang lebih rendah, namun biaya kamar-kamar di lantai bawah jauh lebih mahal dibandingkan di atas yang ditempati beberapa orang sekaligus dalam satu kamar. Lebih baik uang tersebut digunakan untuk keperluan yang lebih penting. Makan misalnya.

Kagami telah siap berlari saat pintu sudah mulai terbuka. Dengan cepat ia melangkah menuju ke kamar pertama yang berada paling dekat dengan lift. Ia bersyukur masih mendapat tempat di kamar nomor 01 tersebut. Dengan perlahan ia memutar kenop pintu dengan plat besi bertuliskan 801 dan mengedarkan pandangannya mencari sosok pemuda bersurai biru muda kesayangannya.

Mata Kagami berbinar saat melihat bayi yang sedang tertidur di boks bayi yang tak jauh dari tempat Kuroko berbaring sambil membaca novel yang sengaja dibawanya untuk mengusir bosan.

"1, 2, 3, 4..." Kagami berhitung perlahan, tak mau melewatkan satu angka pun. Setidaknya ia tak terlalu bodoh hingga tak hafal susunan angka-angka dari satu hingga seratus. Ia pun tak mau terlihat bodoh di depan anak-anaknya yang baru saja lahir. "...9,10."

Kuroko melepaskan pandangannya dari kumpulan huruf-huruf hitam yang tercetak di lembaran-lembaran putih novel di tangannya, menatap Kagami sejenak sebelum menghela napas. "Kagami-kun—"

"Lihat, Kuroko! Jarinya ada sepuluh! Anak kita normal!" sahut Kagami tanpa peduli dengan panggilan Kuroko maupun tatapan dari pasien-pasien lain yang juga menghuni kamar nomor 801 tersebut.

"Kagami-kun, itu anak ibu-ibu sebelah. Anak kita di sini," Kuroko mencoba mengingatkan sambil menatap tak enak pada seorang ibu muda yang terbaring di belakang Kagami. Ia kemudian meminta maaf pada sang ibu.

Kagami dengan cepat berpindah posisi dari sebelah kiri ranjang Kuroko ke sebelah kanannya. Di sana terdapat beberapa boks bayi terjejer rapi. Dua bayi laki-laki dan tiga bayi perempuan tertidur dengan tenang di sana. Kagami tak dapat berhenti memuji betapa lucunya anak-anaknya dengan Kuroko itu. Rasanya ingin cepat-cepat membawa mereka pulang ke rumah dan melakukan banyak hal bersama. Tidur bersama, makan bersama, bermain bersama, juga mandi bersama.

Oke, itu butuh waktu.

"Kuroko, ayo kita pulang sekarang," Kagami berbalik dan menatap Kuroko. Yang ditatap hanya dapat membalas dengan tatapan bingung. Kagami seharusnya tahu kalau Kuroko harus dirawat di rumah sakit untuk setidaknya tiga hari ke depan. "Aku ingin cepat-cepat menikah denganmu dan menjadi ayah yang sah bagi anak-anak kita."

Namun yang Kagami terima sebagai jawaban adalah novel yang melayang ke wajahnya, dan ia hampir lupa, wajah Kuroko yang memerah yang berusaha ia sembunyikan di balik selimutnya.

.

.

.

Owari

.

.

.

A/N: Maaf ini pendek. Saya lagi sangat malas untuk bikin chapter terakhirnya dan terlalu bersemangat membuat chapter tambahan. Jadi meskipun ini pendek, masih ada chapter selanjutnya. Tapi sabar ya. Entah berapa lama lagi itu selesai.

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya bagi semua reader yang setia menungu update fanfic ini yang lama sekali dan juga yang baru baca. Gak kerasa udah dua tahun saya nulis ini (tadinya pengen publish pas tahun baru biar pas dua tahun, tapi kelamaan). Tanpa dukungan kalian saya gak bakalan menyelesaikan ini. Saya tidak menyangka fanfic yang iseng dibuat karena mabok belajar reproduksi bisa laku. Sayangnya bab reproduksi baru saya temui lagi nanti, jadi gak ada istilah-istilah biologis lagi.

.

.

.

Balasan Review:

Aoki: Sudah. ^^

Network Error: Sebenernya aku gak mau nyantumin namamu di sini, tapi oleh-olehku bisa dipertaruhkan. Ini udah lebih cepet lagi. Setiap kita kumpul kamunya gak ikut mulu. Ntar berenang harus ikut dan jangan lupa oleh-olehnya.