Embrio
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Rate : (nyerempet) M
Genre : Romance/Humor
Warning! Yaoi, OOC, typo, M-Preg, udah bukan humor (dan kayaknya dari awal memang bukan), dll.
.
.
.
11. Ekstra
5 tahun kemudian.
Pukul sudah menunjukkan jam 4 sore. Seharusnya kelas di TK tempat Kuroko bekerja sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Tapi masih ada beberapa anak yang belum juga dijemput oleh orang tuanya—sebenarnya hanya tinggal dua orang bila kelima anaknya tidak dihitung—padahal ia juga harus pulang dan membuat makan malam untuk anak-anaknya dan juga suaminya.
Ia memutuskan untuk mengajak ketujuh muridnya untuk bermain di luar agar ia bisa melihat bila ada yang datang, juga dengan harapan agar anak-anak ini cepat pulang atau ia akan membawa mereka pulang ke rumahnya. Sepertinya tak masalah. Toh, ia sangat mengenal orang tua dari kedua anak tersebut.
Kedua matanya memperhatikan ketujuh anak tersebut dari jauh. Di kotak pasir ada tiga anaknya, Akari, Akira, dan Hikari. Kedua anak perempuannya—Akari dan Hikari—memiliki rambut berwarna biru muda dan iris merah, sedangkan ketiga anak lelakinya—Akira, Hikaru, dan Raito—memiliki rambut berwarna merah dan iris biru muda.
Di bawah pohon terdapat Hikaru bersama seorang anak perempuan berambut kuning dengan iris biru, Aomine Ryoko. Ryoko adalah anak dari Aomine dan Kise. Usianya setahun lebih muda dari si kembar lima dan juga anak dari Akashi dan Midorima. Sepertinya mereka sedang bermain rumah-rumahan.
Ngomong-ngomong soal anak Akashi dan Midorima, ia sedang berada di ayunan bersama Raito. Ah, lebih tepatnya ia duduk di ayunan dan menyuruh Raito untuk mendorongnya. Namanya Akashi Sakuya, rambutnya merah dan irisnya heterokromia, sebelah kanan hijau dan yang kiri merah. Sepertinya gen Akashi mendominasi Sakuya. Dari luar pun sudah terlihat, ditambah dengan sifatnya yang suka memerintah. Mungkin satu-satunya gen Midorima yang menurun padanya hanya mata kanannya, dan jangan lupa sifat tsundere-nya.
"Ada penculik!" teriak Hikari yang duduk menghadap gerbang saat seorang pria dengan kacamata hitam, mantel berkerah tinggi, dan topi masuk ke area sekolahnya. Suara cemprengnya terdengar di seluruh penjuru halaman TK. Ia langsung berlari ke arah Kuroko yang duduk di teras, ketakutan. Rambut panjangnya yang diikat di samping bergoyang seiring dengan langkahnya. "Papa Tetsuya!"
Kotak pasir memang terletak paling dekat dengan gerbang, sehingga sebagai anak yang pemberani dan juga yang paling tua, Akari dan Akira mencoba untuk menghalangi jalan masuk sang penculik. Sakuya terlihat tak peduli namun ia meliirik. Raito langsung berlari ke gerbang karena penasaran. Hikaru diam karena takut. Hikari menarik-narik lengan Kuroko agar segera menuju ke gerbang. Dan Ryoko berlari sambil membawa boneka bayinya dengan wajah cerah.
"Mama!"
Kuroko berhenti beberapa langkah dari kumpulan anak-anak yang mengerubungi sang pria yang dituduh penculik, lalu menggendong Hikari yang terus menerus menarik tangannya agar lebih mendekat. "Ki—Ryouta-kun?"
Kise menggendong Ryoko yang memeluk bonekanya lalu membuka kacamata hitamnya dan menurunkan kerah mantelnya. "Hai, Kurokocchi."
"Rasanya agak aneh melihat Ryouta-kun menjemput Ryoko-chan. Terlebih lagi dengan dandanan seperti itu. Aku hampir saja menelepon polisi," Kuroko menurunkan Hikari lalu berjalan mendekat agar bisa mengobrol dengan lebih nyaman. "Lagipula aku bukan lagi Kuroko."
Kise tertawa sejenak, entah apa yang ia tertawakan. "Tadi aku sudah menelepon polisi sebelum ke sini-ssu. Katanya akan datang setelah patroli."
"Mama, ayo pulang," rengek Ryoko sambil menarik mantel yang dikenakan Kise.
"Jangan panggil mama. Ayo panggil papa."
"Tapi nanti Ryoko tidak punya mama," ujar Ryoko dengan mata berkaca-kaca dan Kise hanya bisa pasrah.
Tak lama kemudian sebuah mobil sedan hitam parkir di depan gerbang. Dari sana turun seorang pria dengan kemeja putih dan jas hitam datang. Sakuya yang masih duduk di ayunan langsung bergegas berlari ke dalam dan mengambil tasnya. Setelah itu ia pun langsung berlari menghampiri pria dengan rambut merah yang sama dengannya sambil menggendong tasnya dan menggenggam gulungan kertas.
"Ini untuk Otou-sama," tangan kecil Sakuya menyodorkan gulungan kertas di tangannya pada ayahnya, Akashi Seijuurou.
Akashi berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan anak laki-laki satu-satunya itu lalu menerima gulungan kertas yang disodorkan kepadanya. Betapa terkejutnya ia saat membuka gulungan tersebut dan mendapati tulisan 'selamat ulang tahun' yang ditulis besar-besar dengan krayon warna-warni, lengkap dengan gambar dirinya, Sakuya, dan juga Midorima. Ia terlalu banyak bekerja hingga melupakan ulang tahunnya sendiri.
Anak-anak lain yang penasaran langsung merubungi Akashi dan Sakuya.
"Wah, selamat ulang tahun, Paman."
"Eh, Paman Seijuurou ulang tahun?"
"Kuenya mana?"
"Selamat ulang tahun, Akashi-kun."
"Akashicchi, selamat ulang tahun-ssu."
Akashi tersenyum tanpa sadar. Semua orang di sini mengingat ulang tahunnya. Tidak seperti seorang dokter yang lembur hampir setiap malam. Mengingatnya saja sudah kesal.
"Hei, tidak boleh murung di hari ulang tahunmu, Sei," Midorima tiba-tiba saja datang dengan kue besar dan lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya. "Cepat tiup lilinnya sebelum meleleh."
"Yey, kue!"
Baru saja si mata empat itu meneleponnya dan berkata akan pulang larut, tapi sekarang sang penelepon ada di sini. Ingin rasanya Akashi menendang kaki Midorima sekarang juga. Namun sayang rasanya kalau kuenya jatuh. Maka ia pun memutuskan untuk meniup lilin dan membiarkan kuenya dihabiskan oleh anak-anak.
"Sepertinya aku ketinggalan sesuatu," Aomine memasuki area TK diikuti oleh Kagami. Seragam kerja mereka masih terpasang di tubuh. Aomine dengan seragam polisinya dan Kagami dengan seragam pemadam kebakarannya.
"Daikicchi telat-ssu. Kuenya sudah habis," ucap Kise sambil tersenyum lebar. Terlihat bangga karena menghabiskan kue jatah Aomine.
"Papa Taiga, sini!" lengan Kagami ditarik oleh Akira. Raito memberikan piring berisi sepotong kue pada Kuroko. "Papa Tetsuya suapi Papa Taiga."
Kelima anak Kuroko dan Kagami menatap mereka dengan intens, ditambah dengan tatapan yang berbeda-beda makna dari teman-temannya. Rasanya canggung, namun Kuroko tetap menyuapi Kagami karena tidak mau mengecewakan anak-anaknya, dan adegan itu disambut tepuk tangan yang meriah dari semua penonton.
Tak terasa hari sudah semakin sore dan matahari sudah hampir tenggelam. Semuanya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing sebelum langit benar-benar gelap. Lelah, ya, mengasuh banyak anak.
.
.
.
Selesai
.
.
.
A/N: Selamat ulang tahun buat Akashi tercinta. Semoga langgeng sama Midorima. Sebenernya saya hampir lupa sama ultahnya jadi ini agak maksa. Saya juga udah ngantuk jadinya mulai ngaco. Kagami gak dapet dialog pula. Ditambah kegalauan saya akan internet yang sangat amat lelet sekali. Makasih yang udah mau baca ekstra gak jelas ini.
