I Can't Leaving You
[Capter 2]
Disclaimer : This story is mine. Dan para tokoh didalam sini hanya milik TUHAN!
Title : I Can't Leaving You!
Cast : Kim Kibum | Choi Siwon | Lee Donghae| Other Cast, See and Wait ^^
PG : +15
Genre : GS, Chapter, Romance (?), Angst (?) And whatever you think
P.S : jiahaa.. saya comeback dengan membawa FF yang super gaje gk jelas ini. setelah kemarn banyak kesalahan dan typo yang aduuhaaii banyak, di part 2 ini mudah-mudahan jauh lebih baik ya... masih dengan tujuan yang sama yaitu "MENGIBARKAN BENDERA SIBUM KEMBALI". langsung aja deh ya.. NO LIKE DON'T READ, NO PLAGIATORS, AND DON'T BASH ANYTHING! ^^
= I Can't Leaving You Chapter 2 =
Seoul Nation Hospital, Seoul, South Korea
Siwon's POV
Kakiku bergetar saat kakiku melangkah memasuki lorong ruma sakit yang lampunya meremang ini. pikiranku sangat kacau dan aku rasa nyawaku telah menghilang karena aku merasakan kakiku seperti tidak menapak.
Aku menghentikan kakiku saat tepat berada di depan pintu ruang IGD. Tatapanku kosong menatap pintu yang tertutup rapat itu. sayup-sayu aku mendengar ada suara gaduh dari tangisan orang tuku dan orang tua Kibum. Tapi aku tidak menghiraukannya, karena jujur semua panca indra dalam tubuhku seakan menghilang secara tiba-tiba.
Aku merasakan sesuatu menepuk bahuku kemudian memijatnya berusaha memberiku ketenangan. Gila? Dalam situasi seperti ini kalian ingin aku tenang? Disaat para dokter tengah melakukan sesuatu yang tidak aku mengerti didalam sana pada Kibum kalian ingin aku tenang?
"Dokter sedang menanganinya didalam sana. Kau harus tegar. Aku juga sangat menyesali keadaan ini. melihat Kibum tergolek lemah dengan..."
"cukup.. kau tak perlu menceritakannya. Hentikan sampai disitu." Potongku cepat saat Donghae mulai menginterupsi dengan cerita-ceritanya. Sungguh aku tidak mau dengar tentang kejadian yang sebenarnya. Itu akan membuatku merasa seperti pecundang. Dia bilang Kibum tergolek lemah, dan pada saat itu aku tidak ada disana, tidak ada disampingnya. Bukankah aku terlihat seperti seseorang yang tidak bertanggung jawab?
Aku mendengar helaan nafas Donghae, entahlah mengapa sifatnya bisa berubah seperti ini padahal kemarin dia terlihat seperti orang yang membunuhku. Berfikir kalau dia yang merencanakan ini semua? Bodoh! Itu adalah pikiran bodoh. Walaupun aku tidak terlalu mengenalnya, tapi aku sangat yakin sekali dia tidak akan melakukan tindakan sebrengsek itu. entahlah, naluri seorang pria mungkin.
Aku masih terpaku di depan pintu yang sangat rapat tidak ada celah ini. matku sangat panas, tapi air mata benar-benar sulit untuk keluar. Mencoba untuk menangis dan berteriak histeris? Aku bahkan sudah melakukannya saat diperjalanan tadi. sepertinya air mataku habis.
Rahangku mengeras dan reflek mengeratkan gumpalan tanganku saat aku mendengar suara teriakan histeris itu lagi. Kim Heechul – ibu Kibum, calon mertuaku dia terus menangis dan berteriak memanggil nama Kibum tanpa henti. Benar-benar kondisi yang sangat aku benci.
= I Can't Leaving You Chapter 2 =
2 jam sudah berlalu tapi mengapa orang-orang didalam itu tidak keluar juga? Apa yang mereka lakukan pada Kibum-ku?
Alih-alih aku merengsek maju untuk mendobrak pintu sialan itu, aku mencoba untuk sedikit bersabar lagi. Menunggu manusia-manusia yang dijuluki dokter itu keluar dari ruangan itu.
Keadaan disini –ruang tunggu- sangat kacau. Hening memang, itu karena para ibu-ibu sudah sangat lelah menangis. Aku memeluk ibuku –Choi Jung Soo- yang masih sesegukan. Bagaimanapun aku sangat tahu kalau beliau sangat menyayangi Kibum. Dia bahkan mengatakan kalau Kibum adalah gadis favourite-nya. Menantu yang dia inginkan. Jadi wajar jika sikapnya seperti ini ketika mendapat kabar Kibum mendapat kecelakaan.
Sementara Eomma Kibum masih berusaha ditenangi oelh suaminya yang tidak lain adalah ayah Kibum –Kim Hangeng- raut wajah mereka juga tidak kalah kacaunya. Mereka berpelukan saling menenangkan diri satu sama lain.
TREK..
Seketika kami semua berdiri saat pintu ruangan itu terbuka lebar dan menampakkan berbagai jenis manusia. Mengapa banyak sekali yang menanganinya? Apakah Kondisi Kibum sangat parah?
"Bagaimana Kondisi Kibum?"
"Bagaimana dengan anakku?"
"menantuku?"
Prtanyaan itu mengalir secara bersamaan. Dokter itu terlihat sangat terkejut dengan interupsi yang kami berikan. Dokter tidak berambut itu berdeham sebelum ia mengatakan sesuatu yang sangat membingungkan.
"sebaiknya kalian keruanganku untuk membicarakan masalah ini." sebaris kalimat itu sukses membuat jantungku seakan emnggelinding kelantai. Tidak usah berpura-pura bodoh untuk mengetahui maksud perkataan dokter itu. pastilah ada seseuatu yang sangat serius yang Kibum alami.
Mencoba untuk berfikir positif? Aku rasa itu tidak mungkin bisa. Jika seperti ini keadaannya, siapa yang akan berfikir bahwa gadis itu baik-baik saja? Sial!
= I Can't Leaving You Chapter 2 =
Author's POV
Ruangan yang cukup luas itu benar-benar sangat mengerikan, di tambah dengan seorang gadis yang tertidur lemah diatas ranjang khusu dengan kabel-kabel aneh yang masuh kedalam hidung dan mulutnya.
Dentingan suara mesin kehidupan itu seolah tengah berlomba dengan suara tangisan tertahan yang keluar dari mulut Kim Heechul dan Choi Jung Soo. Mereka tersendu di tepian ranjang rumah sakit yang tengah ditiduri Kibum.
"Kibum-ah, kau tahu perasaanku saat ini? kau tahu bagaimana rasanya melihatmu terlelap dengan perban dan bibir pucatmu? Menyakitkan. apapun yang terjadi, selama kau masih bisa bernafas aku akan menjagamu. Aku akan melindungimu sebagaimana aku melindungi saat kau masih bisa membuka matamu. Melindungimu saat kau terus berteriak padaku kalau aku adalah sahabat yang paling kau sayangi."
Ucapan itu terdengar sangat lirih dan sangat menyakitkan. pria bernama Lee Donghae itu diam terpaku di balik pintu. Entah kenapa dia hanya diam saja diluar dan malah mengintip dari jendela kaca di pintu itu.
Terlalu sakit mungkin jika harus menatap wajah lemah Kibum dalam jarak dekat. Bagaimanapun dia tidak terbiasa dengan raut wajah Kibum yang seperti itu. Dan dia sangat terbiasa melihat wajah Kibum yang selalu manampakkan senyum dibibir mawarnya. Terbiasa melihat gembungan pipi Kibum yang akan muncul jika gadis mungil itu tengah kesal. Terbiasa dengan tingkah ceria dan sembrono Kibum. Dan itu semua berbanding terbalik sekarang.
Donghae menghirup nafasnya panjang sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Melihat Kim Heechul dan Choi Jung Soo yang sangat terpukul didalam sana karena tidak henti-hentinya menangis. Sepertinya memebeli minuman untuk mereka bukanlah ide buruk. Walaupun tidak akan merubah keadaan.
= I Can't Leaving You Chapter 2 =
Siwon's POV
Untuk yang kesekian kalinya kakiku bergetar. Sungguh saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mendengar penjelasan dokter yang mengatakan kalau otak Kibum mati. Bahkan dokter itu sendiri tidak tahu kapan Kibum akan sadar dari tidurnya. Itu berarti Kibum benar-benar tidak bisa hidup sebagaimana mestinya kan? Tidak bisa hidup bebas seperti yang aku dan orang-orang rasakan.
Seakan tidak berani untuk masuk kedalam ruangan yang ditempati Kibum layaknya ayahku dan calon mertuaku yang dengan tegarnya menepuk pundakku untuk memberiku semangat walaupun hanya secuil dan kemudian masuk kedalam ruangan itu mengampiri para istrinya dan... calon istriku.
Bahkan sampai sekarang aku masih harus memanggilnya dengan sebutan calon istriku. Jika kecelakan itu tidak terjadi, pastilah aku sudah memanggilnya dengan sebutan 'striku' , 'honey', 'my sweetheart', 'lovely' atau panggilan mesra lainnya yang ingin aku ucapkan.
Aku sangat ingat sekali, saat Kibum mengamuk karena memanggilnya dengan sebutan-sebutan itu. dia bilang itu terlalu berlebihan karena status kami yang masih berpacara. Secara tidak langsung bukankah Kibum berharap ingin menjadi istriku? Dia ingin kupanggil dengan sebutan-sebutan itu saat kami resmi menikah. Aku tahu itu walauoun dia tidak mengatakannya secara langsung.
Mengingat masa-masa itu sungguh membuat dadaku sesak. Sangat berbanding terbalik dengan kondisi sekarang. Kibum yang biasanya selalu menunjukkan keceriannya, kecerobohannya, serta keimutannya dengan menunjukkan berbagai ekspresi wajah yang lucu dan sangat menggemaskan. Tapi melihatnya terbaring lemah diatas tempat tidur itu... dan walaupun aku tidak melihatnya dalam jarak yang cukup dekat aku sangat yakin sekali wajahnya sangat pucat pasti.
Aku terlalu takut untuk menatapnya. Terlalu pedih untuk menyaksikan penderitaan yang sedang ia alami. Terlalu sakit melihat tubuhnya banyak ditusuki benda-benda asing kedokteran.
Bukankah aku ini sangat payah? Aku rasa aku sangat pantas untuk dikatakan sebagai seorang pecundang. Bagaimana bisa kekasihnya sedang terbaring disana tapi akau hanya bisa mematung, menontonnya dari balik kaca pintu. Aku brengsek kan?
"Kibum-ah, mianhae."
Satu kalimat itu lolos dari mulutku, entahlah aku sangat bingung dengan apa yang aku katakan. melihatnya seperti itu benar-benar membuat saraf-sarafku terputus. Bahkan untuk berbicara saja sangat sulit, sekalinya bicara aku malah meneteskan air mataku yang aku kira telah habis.
"Kim Kibum.. aku benar-benar minta maaf. Maaf aku tidak bisa mendampingimu saat ini. maaf karena aku terlalu pengecut walaupun hanya sekedar untuk menatap wajahmu. Maaf Kibum-ah... "
Tangisku pecah ketika aku tidak tahu lagi apa yang harus aku ucapkan. Semuanya terasa sangat sulit dan berat. Aku mengapl kuat tanganku dan menariknya untuk menghalau suara tangisanku di bibir. Aku tidak mau jika tangisanku ini samapai terdengar oleh keluargaku dan keluarga Kibum. Aku tidak mau mereka tambah mengkhawatirkanku, meskipun aku tidak yakin jika para bodyguard ayahku tidak melihat kejadian yang bisa dibilang memalukan ini.
= I Can't Leaving You Chapter 2 =
08.00 PM (KST)
Soul Nation Hospital Garden
Angin malam terasa begitu menusuk tubuhku. Bahkan aku bisa mendengar angin yang berteriak kencang. Mereka terdengar seperti meneriaki kebodohanku. Taman ini cukup sepi kurasa, hanya ada beberapa gelintir orang yang sengaja datang kesini, mungkin untuk menjernihkan pikirannya. Sama sepertiku.
Aku duduk bersandar dikursi taman yang panjang ini dengan tatapan kosong lurus. Aku juga tidak tahu apa yang kulihat sedari tadi, pandangan mataku kabur. Entah bagaimana tampangku sekarang. image cool dan berwibawa yang setiap hari kutunjukkan pada setiap orang seolah luntur begitu saja. Tidakkah ini sangat mengkhawatirkan?
PUK!
Seseorang menepuk bahuku dari arah belakang. Namun tetap saja tepukan itu tidak berpengaruh padaku. Aku tetap menatap lurus kosong sampai akhirnya aku merasakan orang itu menghempaskan tubuhnya di tempat yang sama sepertiku, kemudian menyodorkan secangkir minuman hangat yang sangat jelas bisa kulihat karena itu masih mengebulkan asap. Itu sangat mengganggu pemandanganku.
"Eiys.. kau tidak mau mengambilnya?" Suara itu terdengar sangat kesal. Dan jika aku tidak menanggapinya kurasa pria ini akan mengomel padaku.
Aku meraih cangkir kopi itu, dan menenggaknya kasar. ini bahkan tidak terasa panas didalam mulutku. Dan juga ini sangat hambar. Separah itukah aku sehingga aku tidak bisa merasakan kopi yang pada dasarnya pahit ini.
"kau gila? Itu baru saja keluar dari mesin kopi." Aku bisa melihat dari sudut mataku ekspresi ngeri dari wajahnya. Namun sesaat kemudian dia menghembuskan nafas beratnya. Untuk beberapa menit suasana hening, sebelum pria itu mengeluarkan pertanyaan yang menurutku sangat bodoh.
"bagaimana perasaanmu, Choi Siwon-ssi?" aku tersenyum smirk saat mendengar petanyaan itu. Dia bertanya tentang perasaanku saat ini? Cish!
"memangnya apa yang biasanya dirasakan oleh pria saat melihat kekasihnya tergolek tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan mesin kehidupan di sisinya yang selalu memantau perkembangan jantungnya. Jika kau jadi aku, apa kau akan merasa bahagia, Lee Donghae-ssi?"
"baiklah, sepertinya aku salah mencuri start." Ucapnya datar. Pria itu lantas menegakkan tubuhnya bersiap untuk membicarakan sesutu yang lebih serius lagi kupikir.
"apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"maksudmu?" sontak aku menatapnya saat pertanyaan yang sangat aku tidak mengerti itu keluar dari bibirnya.
"Hemh.. apa yang akan kau lakukan setelah kau mengetahui Kibum koma? Apa kau akan tetap menunggunya sampai dia terbangun dengan sendirinya? Atau mungkin kau akan meninggalkannya dan mencari wanita lain."
Sumpah demi apapun ucapannya itu benar-benar membuat dadaku naik turun. Bagaimana bisa dia dengan santainya bertanya hal seperti itu padaku.
"apa maksudmu mengatakan hal itu? aku tentu akan menunggunya sampai kapanpun. Kau tidak perlu meragukan hal itu, Lee Donghae-ssi." Ucapku penuh penekanan lalu kemudian melempar pandanganku pada lampu-lampu taman di depanku.
"tidak. Aku rasa itu tidak akan terjadi." Kembali aku menatapnya tajam. Aku tahu kami berdua ini seorang pria yang jika sudah habis kesbaran maka sebuah tinjuanlah yang akan melerainya. Aku terus menatapnya geram, mencoba untuk menahan kepalan tanganku untuk tidak mendarat di pipinya.
"mengingat kau adalah pewaris tunggal Choi Corp aku rasa kau tidak akan bisa melakukannya. Sifat ayahmu yang cenderung mengutamakan perusahaan, dia pasti akan bertindak agar perusahaannya tetap berjalan. Aku yakin setelah kejadian ini ayahmu sudah merencanakan hal lain demi menyelamatkan perusahaannya, melihat tingkahmu yang kacau saat ini sangat berpengaruh pada perusahaan dia pasti akan melakukansesuatu agar kau tetap melanjutkan perusahaannya."
"apa yang kau katakan? aku memang akan terus melanjutkan perusahaan ayahku dan..."
"jangan bodoh Choi Siwon-ssi, dengan keadaanmu yang seperti ini ayahmu mana mungkin mempercayaimu untuk memegang kendali Choi Corp. Meskipun perusahaan ayah Kibum masih bisa berhubungan baik dengan perusahaan ayahmu, pastilah kedudukannya akan terdepak dan digantikan oleh perusahaan lain yang lebih dari perusahaan ayah Kibum. mengingat kondisi kondisi Kibum yang tidak tahu sampai kapan dia bangun, aku sempat berfikir bahwa ayahmu mungkin akan menjodohkanmu dengan salah satu putri dari pemilik perusahaan yang berkerja sama dengan ayahmu. Bukankah ini terlihat sangat keren, Choi Siwon meninggalkan Kim Kibum yang sedang koma dan menikah dengan wanita lain demi perusahaannya."
Aku meremas kuat-kuat cangkir kopi yang sudah sangat dingin itu di gengamanku kemudian menatapnya tajam. Ucapannya benar Sial! Apa yang dikatakannya barusan benar-benar membuat tubuhku menegang. Donghae benar, ayahku akan melakukan apapun demi perusahaannya meskipun harus mengorbankan persaan anaknya sendiri. Dan lebih sialnya lagi mengapa aku tidak berfikir kearah situ.
Ayahku memang sangat mencitai perusahaannya, karena itu adalah perusahaan yang telah dibangun secra turun-temurun, pastilah ia akan mati-matian membuat perusahaannya tidak jatuh. Memikirkan hal itu.. jika itu benar-benar terjadi, aku sendiripun tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Saat ini saja aku tidak bisa membalas atas ucapan-ucapan pria yang sudah dianggap kakak oleh Kibum ini.
"bagaimana Choi Siwon-ssi? Jika ayahmu benar akan melakukan hal itu, apakah kau akan menerimanya lalu meninggalkan Kim Kibum yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang didalam sana?"
To Be Continue...
KYAAAHAAAA~~ saya kembali nieee,, si author baru
maaf baru nongol lagi, kemaren-kemaren banyak kerjaan sihh...
Gima nih yang part 2? Makin gak nyambung yah?
yaiyalah, saya yang bikin aja bingung kenapa ceritanya bisa ancur gini, typo berserakan gak ada yang mungutin *astaga* eh! Tapi aku seneng lho, FF disini, yng riview banyakk,, hihi.. ada aja yang mau baca FF begajul saya ini... dan maaf kalo masih ada kesalahan menulis, karena lagi-lagi saya mengerjakan ini dalam waktu semalam (12-10-11) dan gak saya cek ulang... #males
BUMMAAAAA~~~ aku masih mencari keberadaanmu, bumma gk baca FF aku yaa? TT_TT
Buat temennya bumma Snowismiles : makasih banget udah ngajarin aku cara-cara bergabung di sisni. Dan makasih juga atas komenannya, itu sangat membantu saya. Terlalu panjang? #kkk saya masih belum bisa menghilangkan kebiasaan saya dalam membuat FF yang minimalis. Tapi akan saya coba. Ini karena saya masih amatir dunia FPI. Jangan sungkan-sungkan untuk mengkritik saya ne? Saya juga musti belajar lebih banyak dari ahlinya kaannn #plak XDD
Buat para readers, gomawo TERUTAMA BUAT YANG UDAH NG-IHKLAS-IN WAKTUKNYA BUAT NGE-REVIEW FF GAJE SAYA~~ :*
I LOVE YOU READERS
I LOVE YOU SIBUM
AND
I LOVE YOU KIM JONG WOON
*kabur*
