Bleach © Tite Kubo

.

.

.

Warning: Bahasa berantakan, OOC, mungkin ada beberapa typo─karena author ga check ulang, bahasa inggris yang mungkin berat(?)

.

.

.

RnR

.

.

.

"Bisa kau jelaskan siapa laki-laki ini?" tanya Ichigo ketus.

Rukia menghela napas panjang dan menatap Ichigo kesal. "Dia Kokuto, sahabat sejak kecilku. Ada masalah?"

"Baiklah, aku mengerti," angguk Ichigo. "Namamu Kokuto, 'kan?"

Kokuto hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis. "Namaku Kitamura Kokuto, yoroshikunaa,"

"Namaku Kurosaki Ichigo, kelas 2-1―" Ichigo memeluk Rukia dari belakang yang tengah duduk di depan Ichigo dan berhadapan dengan Kokuto. Lalu melanjutkan, "―dan aku kekasih dari sahabatmu ini," seringai Ichigo.

"I-Ichigo! Lepaskan aku!" Rukia berusaha berontak tetapi pelukan Ichigo semakin menguat. "Tidak akan," bisik Ichigo di telinga Rukia.

Sontak, wajah Rukia langsung memerah dan berusaha menarik rambut Ichigo. Sebelum Rukia berhasil menarik rambut orangeitu, Kokuto berdiri dari bangkunya dan membuat perhatian Rukia teralihkan.

"Ada apa, Kokuto-san?" tanya Inoue.

"AnooAku kembali ke kelas dulu, Inoue, Rukia, Kurosaki. Sampai jumpa,"

Kokuto pergi begitu saja dan membuat Rukia dan Inoue bingung. Sedangkan Ichigo tengah menyeringai kemenangan.

"Apa dia sakit, Inoue?"

"Entahlah. Mungkin saja. Sesaat ku lihat wajahnya tampak pucat," Inoue mengangkat kedua bahunya dan menatap Rukia bingung.

Ichigo semakin menyeringai dan memeluk Rukia semakin kuat.

"1-0,"

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Ingat, Rukia, aku tidak mau melihat kalian berdua bermesraan seperti di kantin tadi, mengerti?" tegas Ichigo. Rukia hanya mengangguk lemah. Tapi tunggu―

"Jadi aku tidak boleh akrab dengan sahabatku sendiri?" tanya Rukia tidak percaya. "Oh,don'tbesopossessive,"

"Aku ini pacarmu, Rukia. Wajar saja, 'kan, kalau aku bersikap possessiveterhadap kekasihku sendiri," Ichigo mengangkat alisnya.

"Okay, okay. I won't."

"That'smygirl," kekeh Ichigo seraya mengacak rambut Rukia. "Hei! Lepaskan tanganmu!" gerutu Rukia sebal.

"Pulang sekolah ku tunggu kau di depan gerbang sekolah, ya! Jangan kabur!" pesan Ichigo seraya melambaikan tangannya dan berlalu dari sana.

"Idiot…"

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Oi! Jawab aku, Kuchiki! Kenapa kau tidak membawa buku science?" bentak Kurotsuchi-sensei. Rukia hanya bisa menunduk diam di tempatnya. Sungguh, ia malu sekali. Sekarang ia tengah menjadi perhatian sekelas―yang menatap iba Rukia.

"Gomenasai, sensei,"

"KENAPA! Katakan padaku, Kuchiki!" bentak Kurotsuchi-senseisemakin keras―yang membuat sekelas terkejut―membuat Rukia hampir menangis.

'Tidak, aku tidak selemah itu. Aku tidak akan menangis hanya karena di marahi guru,' Rukia berusaha menyemangati dirinya sendiri. Walaupun sepertinya ia masih takut―terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.

Kokuto tak tega menatap Rukia yang tengah di marahi itu. Ia tersenyum pasrah dan berdiri dari bangkunya. Membuat Kurotsuchi Mayuri―nama guru scienceitu―terkejut.

"Ada apa, Kitamura?"

"Gomenasai,sensei… Aku meminjam buku Rukia karena aku lupa membawa buku scienceku. Jadi, ini semua bukan salah Rukia," dusta Kokuto. Mata Rukia membelalak.

'Kokuto…'

"Hoo… Ternyata Kuchiki membela Kitamura… Baiklah, kembali ke tempat dudukmu, Kuchiki. Kitamura, maju ke depan!"

Rukia mulai melangkah pelan menuju bangkunya. Saat matanya bertemu mata Kokuto, ia menatapnya dengan rasa bersalah. Sedangkan Kokuto hanya tersenyum lemah.

Saat Rukia sudah di tempat duduknya, ia menatap Kokuto yang tengah di marahi oleh Kurotsuchi-sensei.

Mata Rukia penuh rasa bersalah. Ia menatap Kokuto dengan tatapan 'Maaf.'

Kokuto menatapnya balik. Seolah menjawab 'Tidak masalah.'

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Maafkan aku," ucap Rukia pelan. Kokuto menepuk kepalanya. "Sudahlah… Aku 'kan menawarkan diriku sendiri. Bukan atas permintaanmu,"

"Tapi karena aku, kau jadi di marahi dan di suruh membersihkan gudang,"

"Itu tidak masalah. Sudah sewajarnya 'kan, aku membantumu?" Kokuto terkekeh pelan.

"Aku tahu! Aku akan membantumu membersihkan gudang sampai bersih," seru Rukia. Saat Kokuto ingin mengucapkan kalimat protes, Rukia sudah menyela, "Ayolah. Ini sebagai balas budiku,"

Kokuto akhirnya menyerah dan mengangguk pelan. "Tapi jangan paksakan dirimu, ya?"

"Ou!"

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Argh! Rukia lama sekali!" protes Ichigo kesal seraya melihat jam tangan yang tengah melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Sudah satu jam, midget,"

"Sebenarnya kemana kau, cebol?" geram Ichigo.

"A-Anoo… Konbawa,"

Sebuah suara tengah menyapanya membuat Ichigo menolehkan kepalanya ke belakang.

"Na-Namaku Nozomi Kujo dari kelas 1-1,"

"Oh," balas Ichigo singkat.

"A-Aku masuk ke sekolah ini karena aku mengagumi Kurosaki-senpai, lalu… aku baru mempunyai kesempatan berbicara padamu saat ini,"

"Lalu?" Ichigo sungguh malas mendengarkan penjelasan gadis berambut hijau pendek itu.

"Ma-Maukah Kurosaki-senpaimenjadikanku sebagai… simpananmu?"

Apa?

Apa gadis ini sudah gila?

'Simpanan', berarti ia sudah tahu kalau Ichigo berpacaran dengan Rukia. Tapi kenapa…?

"Maaf, aku tidak bisa," tolak Ichigo halus. Nozomi malah mendekat pada Ichigo dan memeluknya.

"Kumohon, senpai! Aku mencintaimu! Aku tahu ini semua salah, tapi aku masih ingin menjadi kekasihmu,"

Ichigo tidak ingin melukai hati gadis ini. Jadi, dia harus bagaimana?

"Nozomi, aku…" Ichigo belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Nozomi sudah mencium bibirnya duluan.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Terima kasih atas bantuanmu, Rukia,"

"Aku pikir kita impas sekarang,"

"Hmm… Bagaimana ya?" Kokuto tersenyum jahil.

"Kokuto!"

Kokuto terkekeh ringan. "Iya, iya. Kita impas sekarang,"

"Kau tidak berubah, kau tahu?" ucap Rukia.

"Maksudmu?"

"Sifat baikmu, suka menolong, suka menepuk kepalaku… dan wajahmu,"

"Wajahku?"

"Aku sungguh merindukanmu, Kokuto. Sudah lama sekali kita tidak bertemu,"

"Aku juga,"

Mereka berdua tertawa pelan. Sesaat mereka sampai di depan gerbang, mereka melihat hal yang sungguh mengejutkan mereka.

Ichigo, berciuman dengan gadis lain…

Mereka berdua terlihat begitu menikmatinya. Membuat Rukia sedikit kesal.

Kesal?

Kenapa harus?

Bukankah ia tidak menyukai Ichigo?

Kokuto melirik Rukia cemas. Tapi ia menyiritkan keningnya setelah melihat Rukia terlihat baik-baik saja.

"Ayo kita pulang, Kokuto,"

Suara Rukia menyadarkan Ichigo yang tengah membalas ciuman Nozomi.

Dengan segera, Ichigo melepaskan ciuman Nozomi dan menatap Rukia yang tengah menatapnya juga.

Rukia tersenyum.

"Sampai jumpa besok, Kurosaki-san," ucap Rukia pelan. Kalimat itu membuat Ichigo terpaku.

"Bukan―"

Saat Ichigo ingin mengelak, Rukia menggandeng tangan Kokuto dan meninggalkan tempat itu.

.

.

.

XxXxXxXxX

.

.

.

"Kau baik-baik saja?"

"Tentu saja, kau mau aku bereaksi seperti apa?" tanya Rukia seraya mengembungkan pipinya.

"Tapi… dia itu―"

"Bukan lagi, Kokuto. Bukan lagi,"

"Apa?"

"Sekarang aku sudah terbebas,"

"―Maksudmu?"

Mereka berdua diam dalam sunyi. Kini mereka duduk di bawah pohon yang menghadap ke sungai di tengah perjalanan pulang mereka. Merasa canggung, Rukia mulai berbicara.

"Kau tahu… aku pernah di khianati. Mantan pacarku―yang tentu saja bukan Ichigo―pernah menghamili seorang wanita saat kami masih berpacaran. Sekarang, ia menginginkan aku kembali padanya. Aku pikir aku bisa menggunakan Ichigo yang tengah ingin mempermainkanku. Ternyata… aku tidak bisa,"

"Mempermainkanmu?"

"Ichigo isaplayboy,Kokuto…" jawab Rukia sendu.

"Aku butuh seseorang yang bisa membantuku menjadi kekasihku saat itu. Dan Ichigo mengatakan kalau aku kekasihnya," jelas Rukia.

"Hubungan kalian―"

"Sudah berakhir,"

"Kalau begitu… bolehkah aku menawarkan diri?"

"Eh?"

"Aku memintamu menjadi kekasihku, Kuchiki Rukia," Kokuto menggenggam kedua tangan Rukia.

"Kokuto…"

"Bagaimana?"

Rukia mengangguk pelan. Kokuto tersenyum bahagia. "Arigatou,"

"Kenapa kau yang berterima kasih, Kokuto?"

"Ah, aku memintamu untuk menjadi kekasihku yang sebenarnya lho. Bukan sekedar pelarian dari mantanmu itu,"

"Aku tahu. Aku tak bisa mempermainkanmu, Kokuto. Aku… menyukaimu dari dulu,"

"Bagus, karena berarti perasaan kita sama,"

Kokuto mencium bibir Rukia pelan. Rukia membalasnya dan memeluk Kokuto.

Beban di pundaknya terasa terangkat.

Semuanya terasa benar.

Tapi… mereka tidak menyadari kalau… Ichigo tengah memperhatikan mereka dari belakang pohon…

~TBC~

Holla~ Gimana menurut minna-san? Makin gaje? Makin aneh?

Ini ide dadakan lho-_-

Sebenernya awalnya belom mau bkin KokuRuki jadian, tapi karena ga ada ide, pake ini deh-_-

Ichigo juga tuh, lemah banget ama cewek! #ditendangIchigo

Btw, saya berencana mau bkin song fic. Kira-kira readers mau atau ga? xD

Judul lagunya 'NegaigaKanauNara' by Matsushita Yuya ^^ Kalian boleh liat videonya di youtube. Masih setengah jadi sih, tapi saya ga yakin bisa memuaskan readers. Jadi tolong bantaunnya ya~ xD

Balesan review (yg ga log-in)

Zanpaku-Nee:

Hohoho~ Udah saya kasih lihat 'kan, disini? Kita bakal flashback ttg KokuRuki di chap dpan! Thanks for review~

Mitsuki Ota no login:

Hehe~ gomen ya, soalnya kalo ga ada Kokuto saingannya kurang banyak! #digorok

Chap dpan bkal di flashback soal KokuRuki, jdinya bakal ktauan knapa Rukia nerima Kokuto~

Thanks for review!

Kurosaki OrangeBerry:

Wah~ Wah~ Rukianya disini ga jujur sama perasaan sendiri! Wkwk… Thanks for review! xD

Ryuzaki Kuchiki:

Ini udah saya update! Thanks for review!

Thanks to:

curio cherry

Haza Shiraifu

Twingwing RuRake

Riruzawa Hiru15

ariadneLacie

Zanpaku-Nee

Mitsuki Ota

Kurosaki OrangeBerry

nenk rukiakate

Ryuzaki Kuchiki

Hava99

Reiji Mitsurugi

Then, last words,

Arigatou and please review~