- Your Reflection in My Eyes-

Chapter 2

Rating : Masih Teen (T) =w=b

Warning : OOCness! GaJe! Abal! Lebay! Menyebabkan Mual-mual, Muntah, Kebutaan sekejap Mata! *dipecut* Dan humor yang gak humoris =w=b *kick*

~~DON'T READ IF U DON'T LIKE!~~

-ChikaFtNeiyhaPresent-

"Aku ingin melindungimu…"

"Mendekapmu dalam pelukanku…"

"Aku ingin dibutuhkan olehmu…"

"Selamanya disampingmu setiap saat.."

"Aku ingin berguna dalam hidupmu…"

"Tak peduli bila itu menyakitikan.."

"Karena kau…"

"….."

-ChikaFtNeiyhaPresent-

"KRIIING!" Suara jam beker berbunyi sangat nyaring, membangunkan sang putri tidur berambut merah muda. Dengan malas sang putri berlahan bangun dengan wajahnya yang masih sayu. Sang putri, Luka Megurine, melirik-lirik sekelilingnya, seakan mencari sesuatu (mahluk).

"Pasti kemarin itu cuma mimpi ya… nyam…nyam… lebih baik aku kembali tidur…" gumamnya, Luka kembali menarik selimutnya dan kembali berbaring di kasurnya yang nyaman.

"PRAAANG!" Luka sontak terbangun mendengar suara itu, kali ini dia benar-benar mengurungkan niatnya untuk tidur, Luka langsung berlari ke dapur, tempat di mana suara itu berasal. Setelah dia sampai di TKP, di lihatnya lelaki berambut kuning sedang membereskan serpihan piring yang pecahan, penyebab hilangnya mood Luka untuk tidur kembali.

"Ah! Sini biar aku yang bereskan, kau lebih baik duduk manis saja di sana!" Ujar Luka dengan panik, segera iya membereskan serpihan itu.

"Luka-chan… maaf… aku tidak sengaja…. Aku hanya ingin menyiapkan sarapan untuk kita…" Ucap Len dengan nada rendah merasa bersalah.

"Kau tidak usah repot-repot, kau kan tidak bisa melihat, biar aku saja yang masak…" Ucap Luka tegas masih membereskan serpihan itu.

"Tapi, tapi aku udah masak buat sarapan…" dengan nada yang masih juga merendah.

"HAH? SERIUS? Bagaimana bisa, kamukan…." Ucap Luka kaget hingga dia menghentikan aktivitasnya.

"Tenang saja, gini-gini aku jago masak loh~" ucap lelaki itu dengan bangganya.

"Tapi kan kau…" Luka masih heran.

" Sudah aku bilang aku ini kan sudah hapal seluk beluk apartement ini, tenang saja" Len berusaha menyakinkan.

"Hem… baiklah… tapi aku selesaikan pekerjaan ku ini ya…" Luka yang masih heran kembali melakukan aktivitasnya.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

Penampilan menarik, wangi masakan yang harum, mengunggah nafsu makan. Meskipun begitu, Luka masih ragu dengan hidangan yang ada di depannya, "masalahnya ini masakan bocah kuning itu, memangnya bisa di makan? Memang sih ini nasi goreng yang terlihat normal tapi…." Itu lah yang pertama kali terlintas di benak Luka ketika melihat masakan Len.

"hmm? hangan-hangan Luka-Chan felum makhan masakhanku ya?" Ucap Len sambil melahap sarapan buatannya sendiri.

"Eh… Jangan makan sambil bicara dong… aku baru saja mau makan… hehe…" Luka menjawab dengan nada yang terpaksa.

"Iya, iya, ayo dong di makan!" perintah Len. Agar tidak menyakiti hati Len, dengan terpaksa Luka memakan nasi goreng hidangan Lelaki manis itu. "Ammmp…"

Hening….

"Nggak enak ya? Ka….kalau gitu gak usah di makan deh.." Ucap Len kecewa.

"….Kamu becanda ya… INI ENAK BANGET! Kok kamu bisa sih bikin yang kayak gini?" Ujar Luka memuji-muji masakan Len, dengan lahapnya dia menikmati tiap butir nasi goreng itu.

"eh… serius ni… hehe… jadi malu nih…" ucap Len malu-malu, "Nanti siang aku mau masak lagi!" Pujian Luka membuat Len semangat untuk memasak.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

Jam dinding apartement telah menunjukan jam 9 pagi. Gadis berambut merah muda yang hendak pergi ke café tempat dia bekerja senang merapikan kamar apartementnya yang kecil dan hangat itu. Tiba-tiba Len menghampiri Luka.

"Luka, kamu wangi parfum… mau pergi kemana?" Tanya Len.

"Tentu saja mau kerja" Jawab Luka tegas. "Kau tidak pergi sekolah?"

"Sekolah? Hah? Memang aku terlihat seperti itu… Umur ku 20 tahun" Ucap Len dengan wajah ngambek, seakan tidak terima ucapan Luka.

"WHAT? BOHONG! Berarti seumuran dong, aku kira kamu anak kelas 1 SMA?" Luka yang shock, seakan tidak percaya, laki-laki di depan dia yang manis nan imut, dan tingkahnya yang bikin gemes ternyata seumuran dengannya.

"Luka-Chan masa tidak bisa melihat betapa tampan dan dewasanya aku ini" Ujar Len sambil menjulurkan lidahnya.

"…. Jadi kamu kuliah? Atau kerja?" Tanya Luka yang masih heran dengan segala misteri yang tersimpan di dalam jati Lelaki manis ini.

"Aku NGANGGUR!" Dengan bangganya dia menggangkat kedua jarinya yang dapat diartikan dengan peace. Luka shock, Namun setelah itu dia langsung tersadar kembali dan muncullah lampu terang menderang di atas kepala Luka.

"Hah, sudah lah… Berarti kamu gak ada kerjaan kan, gimana kalau kerja jadi koki di café tempat aku bekerja, kita kekurang koki nih, gimana? Dari pada nganggur gak ada kerjaan di sini.." Ajak Luka sembari memegang kedua pundak lelaki buta itu.

"Hmmm… Gimana ya… Baiklah!" Semangat Len semakin membara untuk memasak.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

Tangan hangat yang besar menggenggam erat tangan Luka, memakai kacamata hitam yang menutupi wajahnya yang memerah oleh sentuhan tangan gadis itu. Menuju pintu kecil di belakang sebuah maid café tempat Luka bekerja. Di sana lah Len Kagamine, cowo manis nan imut, dengan rambut kuning berkilau seperti warna emas yang mengaku buta berusaha untuk melamar pekerjaan barunya.

"Selamat Siang semuanya, aku membawa calon koki kita yang baru nih" Luka yang memperkenalkan Len di hadapan semua rekan kerjanya dan manager café.

"wah, wah, siapa namamu nak?" Tanya sang manager sekaligus pemilik café tersebut, Meiko.

"Sa…salam kenal semuanya namaku Len Kagamine, umurku 20 tahun. Mohon kerjasamanya!" Len membungkuk dalam-dalam.

"Umurmu 20 tahun ya? Aku kira masih anak SMA loh" Balas seorang maid berambut tosca. Ketika semuanya sedang memperkenalkan diri masing-masing kepada Len. Namun entah mengapa seketika itu Meiko membuat suasana menegang.

"Kagamine, apa benar kau bisa masak?" Tanya Meiko dengan tiba-tiba.

"Ten…tentu saja bisa!" balas Len tegas.

"Kalau begitu, bisa buktikan kepada kami?" Ujar Meiko dengan tenang. Tentu saja Len langsung membuktikan, dengan bantuan Luka dia langsung menuju dapur dan segera membuat strawberry shortcake.

"Meiko-sama, bukankah kata Luka dia bisa memasak? Luka kan selalu benar, kenapa anda masih terlihat ragu dengan kemampuannya?" Bisik satu-satunya koki di café itu, Gakupo.

"Gaku-Chan, apakah kau masih tidak menyadarinya… Len… dia tidak bisa melihat…" Jawab Meiko tenang. Wanita yang selalu menambah akhiran 'chan' pada semua pekerja café itu sepertinya sudah menyadarinya.

"Ah.. benarkah.. Aku.. baru menyadari.." Gakupo yang terlihat sedikit terkejut hanya bisa memandang Len yang sedang memasak.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

Wangi manis yang tersaji di atas meja sang manager membuat semua kru café tersebut ngiler. Dengan teliti sang manager menatap strawberry shortcake tersebut, mencari-cari kesalahan dalam hidangan itu. Lalu dengan manisnya, dia melahap kue itu.

"Kau di terima" ujar Meiko sambil mengacungkan jempolnya.

"Ah? Serius? Terima kasih Meiko-chan" Senyumnya yang manis membuat semua kru café ingin memeluknya.

"Selamat ya, Len-chan" ucap semua kru café minus Luka yang hanya tersenyum saja melihat semua kru memberinya selamat.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

Aroma kue-kue manis di sebuah dapur maid café yang kecil. Membuat pelanggan di café itu bertambah banyak. Len Kagamine, di hari pertamanya yang begitu giat bekerja dibantu oleh Gakupo salah satu koki café itu yang tau akan kekurangan Len.

"Wah, Len memang hebat, meskipun tak bisa melihat, kau masih bisa menyajikan kue-kue yang lezat" Puji Gakupo yang terpesona dengan skill Len dalam meyajikan makanan.

"Terima kasih, Gakupo" Sambil tersenyum bangga Len meneruskan pekerjaannya.

"Kau tadi membuat Strawberry Shortcake, jadi mengingatkan aku pada Luka" Ujar Gakupo yang masih ingin mengobrol dengan Len.

"Eh?"

"Hehe, Luka itu manis dan kadang juga ada asam-asam strawberrynya gitu, dia juga cantik. Aku suka Luka…" Ujar Gakupo dengan wajahnya yang tersipu-sipu. Len yang saat itu hanya bisa terdiam, tiba-tiba mengucapkan sesuatu.

"Aku tau Luka manis dan cantik, dari dulu dia memang manis, tapi sekarang dia terlihat lebih, lebih indah lagi, Aku juga suka dia, kau tak akan bisa mengambil Luka dariku!" Ujarnya dengan serius, seakan dia mengajak perang pada lelaki berambut ungu itu.

"… Terlihat? Kau… Jangan-jangan, kau tidak buta kan…." Tanya Gakupo ragu. Sesaat Len yang mulutnya terpeleset itu pun langsung menyadari bahwa dia menggali liang kuburnya sendiri. Namun dengan tenangnya dia membuka kacamata hitamnya.

"Haha, Sepertinya aku sudah ketauan ya…." Di tatapnya Gakupo dengan mata birunya yang indah seperti batu permata. "Jangan katakana hal ini pada Luka, Mengerti?" Tatapan Len yang tajam yang seakan mengacam Gakupo hanya membuat Gakupo tersenyum kecil.

"Aku mengerti, tenang saja, aku bukan laki-laki picik, tapi satu hal yang sekarang aku ketahui… Sekarang kita rival…" Ujar Gakupo dengan senyum sinisnya itu.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

Di sebuah kamar apartemet kecil, ada seorang lelaki yang mengaku buta sedang duduk merenung di sebuah sofa. Menatap jam dinding yang sudah menunjukan angka 11 malam. Menunggukan seseorang yang ia cintai. dalam hati dia berkata hanya aku yang bisa melindungimu, hanya aku yang bisa memilikimu, tak ada satupun yang bisa merebutmu dariku, aku mencintai Luka… Dari dulu aku sudah mencintaimu.

01.40 A.M….

"Aku Pulang… " Tak ada yang menjawab.

"Len…?" di carinya lelaki itu sampai Luka menumukan Len yang terbaring di sofa.

"Selamat tidur, Len…" Sambil menutupi Len dengan selimut dia tersenyum dan berlalu menuju kamarnya.

-ChikaFtNeiyhaPresent-

"You're my light, my destination of my life.."

"Let me to protect you…"

"Let me to always loving you… Luka-Chan"

-ChikaFtNeiyhaPresent-

N/A: Nah, Inilah chapter 2nya, ntah mengapa jadi bertambah abal rasanya =A=
Karena cerita ini bertambah abal, silahkan Komeng, Kritik, saran, hujatan dan caciannya, seperti biasa
please, not flame~ wb
Dan terima kasih lagi telah membaca chapter 2 ini, semoga gak sakit mata ya, amiin *punch*
Oh iya, iya~ jangan lupa riviewnya, ok~ XD *maksa #dihajarsatukampung#
Semoga bisa ketemu lagi di chapter 3 ~~