Obsession
Part 2: You Are…
WARNING: YAOI... dan Sasuke ga bener-bener waras
DISCLAIMER: Naruto milik Masashi Kishimoto
16/07/2012: Ada perubahan sedikit karena beberapa di antara kalian protes, emosi Naruto kurang mengena. Untuk chapter selanjutnya, mohon bersabar ya.. Cerita ini sebenarnya aku sudah tahu akan bagaimana kelanjutannya sampai 'the end', tapi akhir-akhir aku lagi sibuk jadi belum ada waktu menulis... chapter selanjutnya sudah setengah selesai namun aku putuskan buat kurombak karena aku tidak suka dengan beberapa hal :)
Naruto berlari.
Ia berlari sejauh kakinya bisa membawanya, sejauh-jauhnya dari Uchiha Sasuke. Hanya satu yang ada di pikirannya saat dia terjatuh merebahkan diri di bawah pohon yang tumbuh tak jauh dari rumahnya,
'Habislah aku… Aku mencium Sasuke... UCHIHA SASUKE!... Murid paling populer sekaligus paling ditakuti di Konoha Gakuen...'
Naruto menutupi mukanya dengan kedua tangannya dan duduk dengan lemas di bawah pohon.
'Aku mau minta maaf, tapi aku masih sayang nyawaku... Lebih baik aku pura-pura tidak ada yang terjadi. Ya, benar! Itulah yang akan kulakukan...' pikir Naruto dengan sedikit berharap. 'Lagipula, mungkin dia tidak sempat melihat wajahku karena aku langsung kabur tadi.'
Ya, mudah-mudahan begitu...
Keesokan harinya Naruto memasuki ruangan kelas dengan gelisah. Begitu dia menempati kursinya yang biasa di samping jendela, Naruto langsung merasakan tatapan tajam yang diarahkan kepadanya. Naruto merasa merinding dan gemetar di bawah tatapan mata itu. Perlahan-lahan dia menghembuskan napas yang tak sadar selama ini telah dia tahan, bernapas dalam-dalam beberapa kali, kemudian memberanikan dirinya dan berbalik.
Matanya bertemu tatapan mata Uchiha Sasuke yang kelam.
Naruto merasa tenggorokannya tercekat… perasaan panik menyelimuti dirinya. Ia mencoba melepaskan kontak mata dengan Sasuke namun seolah ada tangan tak terlihat yang membuatnya tak dapat bergerak. Semenit seolah-olah setahun lamanya, sampai akhirnya ketegangan suasana terpecahkan oleh suara Oda-sensei yang menyapa murid-murid kelas 2-A. Naruto dengan cepat melepaskan pandangan matanya dan melihat lurus ke depan, tak lagi berani untuk berbalik ke belakang.
'Oh Tuhan... Dia mengenaliku! Kenapa… kenapa harus Uchiha Sasuke?' pikir Naruto
Sepanjang pelajaran, pandangan mata Sasuke terus terarah pada punggung Naruto namun tak sekalipun Naruto melihat ke belakang lagi. Sasuke menjalinkan jari-jari tangannya dan menumpukan tangannya di atas meja. Perlahan-lahan, sebuah seringai muncul di bibirnya.
'Menarik…'
Saat waktu makan siang tiba, Naruto sudah merasa lelah karena gelisah memikirkan tentang kejadian kemarin dan hari ini saat Sasuke terus menatap tajam ke arahnya. Karena terlalu gelisah dan khawatir, Naruto tidak mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung di meja tempat ia duduk sampai Kiba memanggil namanya berkali-kali, "Naruto… Hey, Naruto kamu sedang memikirkan apa? Dari tadi diam saja."
Naruto tersentak dan kemudian tersenyum lebar. "Bukan apa-apa kok! Aku hanya bingung mau makan ramen rasa apa yah hari ini?"
Kiba menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidahnya, "Naruto… Apakah ada isi lain di kepalamu selain ramen?" Seisi meja serentak tertawa sementara Naruto yang merasa malu hanya tertawa garing.
"Dia masih melihat ke arah sini."
"Siapa?"
"Uchiha Sasuke."
Naruto dengan cepat menengok ke arah Shikamaru dan Chouji setelah mendengar nama 'Uchiha Sasuke' disebut dalam pembicaraan mereka. "Kenapa dengan Sasuke?" sahutnya dengan agak panik.
"Sepanjang jam makan siang dia terus-menerus melihat ke sini." Kata Chouji sambil mengangkat bahunya.
Naruto secara sembunyi-sembunyi menatap ke arah Sasuke dari sudut matanya dan benar saja, Sasuke sedang melihat ke arah meja tempat dia duduk, dengan tidak berkedip. Naruto pelan-pelan melihat ke depan lagi dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah menyembunyikan dirinya di bawah meja dan tidak mendengarkan pembicaraan di sekelilingnya yang berkisar tentang Sasuke.
"Aku dengar rumor bahwa dia pernah mematahkan lengan seorang murid kelas 3 hanya karena orang itu berani menyentuhnya."
"Oh ya… Aku ingat rumor itu! Kelihatannya Sasuke tidak pernah dihukum karena perbuatannya itu… entah karena rumor itu tidak benar atau karena para guru takut olehnya."
"Hmm, mungkin karena Sasuke adalah murid terpintar dan paling berpengaruh di sekolah ini sehingga para guru takut menyinggung perasaannya atau mungkin juga…"
"… Karena dia sangat menakutkan. Semua orang kenal dan takut padanya."
Naruto merasakan hatinya mencelos. Mendengarkan pembicaraan tentang betapa menyeramkannya Uchiha Sasuke sama sekali tidak menyelesaikan masalah yang dihadapinya saat ini, malah membuatnya merasa ingin kabur sejauh-jauhnya dan tidak pernah kembali lagi. Lagipula, kalau orang yang berani menyentuhnya mengalami patah tulang, apa yang akan terjadi pada Naruto yang telah mencium Sasuke? Memikirkan hal itu membuat Naruto bergidik ngeri. 'Tuhan… tolong selamatkan aku!'
Mobil Mercedes-Benz warna silver metalik itu berjalan mulus melewati sepasang gerbang raksasa yang membuka ke sebuah rumah mewah yang berhalaman luas. Uchiha Sasuke melangkah keluar dari pintu mobil yang dibukakan oleh seorang pelayan. Sasuke berjalan dengan percaya diri memasuki ruangan lobi utama sambil mengacuhkan para pelayan yang membungkuk ke arahnya. Ia dengan cepat menaikin tangga megah yang menuju ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
Suasana kamar itu gelap sebelum Sasuke membuka pintu dan menyalakan lampu kamar. Dalam terang lampu, nampak baris demi baris buku yang tersusun rapi sesuai abjad di rak buku yang terletak di sudut kamar yang menghadap ke pintu masuk. Kakinya kemudian membawanya memasuki walk-in-closet di samping kanan rak buku, dimana semua pakaian mulai dari setelan jas sampai t-shirt, tersusun berdasarkan jenis dan warnanya. Sasuke mengambil satu stel piyama dari salah satu laci. Dengan apik dia meletakkan piyama tersebut di meja samping tempat tidur, sembari menyesuaikan posisinya agar lurus dan sejajar. Perbuatan itu sudah secara otomatis dilakukannya sehingga ia tidak mengindahkannya lagi.
Beberapa saat kemudian, sembari berdiri di bawah siraman air dari shower, kilasan-kilasan itu kembali datang dalam benak Sasuke. Rambut pirang yang bersinar keemasan… mata biru bagaikan langit musim panas… dan bibir yang lembut. Setiap detail ciuman kemarin terus menghantui benaknya. Menyiksanya dengan dorongan untuk mengklaim kembali bibir itu… Untuk membuat mata biru itu hanya melihat kepadanya. Sasuke menyadari apa arti dari semua ini. Ini adalah… sebuah obsesi…
'Aku terobsesi pada Naruto'
Sasuke memukul dinding bilik shower dengan tinjunya sampai kepalan tangannya berdarah.
'Aku butuh… dia…'
'Aku butuh… Naruto.'
TBC
Author's Note: Hmm, sepertinya chapternya pendek-pendek ya.. tapi aku rasa ini posisi yang bagus buat mengakhiri chapter ini :) Terima kasih untuk yang sudah kasih feedback/review. Aku akan mencoba menjawab semua pertanyaan mengenai cerita ini yang ditujukan di review, kalau kamu login aku bisa langsung private message! Buat yang tidak login juga, aku sudah baca semua review kalian! Aku senang banget dengan respons positif pada chapter 1... ga nyangka bakal dapet respons-respons yang menurut aku bagus karena aku sudah vakum lamaaa...
Mengenai kondisi psikologi Sasuke, dia mengidap (salah satunya) Obsessive-Compulsive Disorder, yang biasa disingkat OCD. Pengidap OCD akan mengalami obsesi yaitu pikiran-pikiran yang terus berulang meskipun sudah coba untuk tidak diperdulikan, sehingga pengidap OCD mengalami compulsion (dorongan) untuk melakukan sesuatu yang dapat memuaskan rasa obsesi tersebut. Ciri-ciri yang ditujukan Sasuke di chapter ini yaitu dia terus mengamati objek obsesinya (Naruto), kilasan-kilasan mengenai Naruto yang melintas di benaknya, mengingat ciuman secara detail (ini juga ciri2 OCD), dan kerapian yang obsesif. Kalau kamu pernah nonton anime Soul Eater, perilaku Death the Kid yang sangat perduli terhadap simetri itu adalah OCD. Dalam cerita ini, obsesi Sasuke terhadap Naruto bersifat seksual.
Jadi... karena obsesi Sasuke terhadap Naruto bersifat seksual, di chapter-chapter berikutnya setelah ini kemungkinan akan banyak adegan-adegan yang bersifat sugestif (tapi tidak sampai intercourse)... Aku mau tanya pendapat kalian sebagai pembaca, haruskah rating T cerita ini dinaikkan jadi M? :)
Special Note: pada tahap cerita ini, Sasuke menyadari bahwa dia terobsesi dengan Naruto, bukan berarti dia mencintai Naruto. Dia membutuhkan Naruto untuk memuaskan obsesinya. Sasuke tahu kalau obsesi dia terhadap Naruto itu salah (sehingga dia meninju dinding) tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, karena obsesi itu di luar kendali pengidap OCD. Jadi kalau ceritanya kelihatan terlalu cepat, sebenernya tidak juga. Ini bukan cerita cinta biasa karena Sasuke tidak sepenuhnya normal :)
