Obsession

By BadDayToday

WARNING: YAOI

DISCLAIMER: Naruto milik Masashi Kishimoto

Author Note ada di bawah :)


Naruto tidak ingin pergi ke sekolah.

Dia benar-benar tidak ingin pergi ke sekolah.

Sungguh, dia masih sayang nyawanya, karena dalam pikirannya kalau dia pergi ke sekolah maka maut akan menjemputnya begitu dia hanya berdua saja dengan Uchiha Sasuke tanpa adanya saksi mata.

Naruto menatap lagi jam weker yang berkedip menunjukkan pukul lima pagi dengan perasaan campur aduk. 'Seandainya waktu bisa berhenti… atau bahkan bisa diputar kembali. Maka aku akan memutar waktu ke waktu sebelum segala kerumitan ini terjadi… dan aku akan menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Sasuke.'

'Tapi… aku tidak bisa selama-lamanya melarikan diri kan? Meskipun aku tidak masuk hari ini tapi bagaimana dengan besok? Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalahku…'

Naruto mengerang dan menyembunyikan wajahnya dalam bantal di tempat tidurnya.

Beberapa saat kemudian, saat dia berbaring dan menatap kamar apartemennya yang sempit dengan mata nanar, satu pikiran muncul di benak Naruto.

'Aku butuh sebuah rencana.'


Ini bukan rencana tebaiknya dan Naruto sangat menyadari hal itu saat ia bergegas menyusuri koridor sekolah pada pukul setengah enam pagi. Inti dari rencananya adalah semakin pagi dia pergi sekolah, semakin cepat dia sampai ke dalam kelas tanpa bertemu siapapun, maka semakin kecil kemungkinan dia bertemu Sasuke berdua saja. Tapi sekarang ide tersebut terasa sangat bodoh karena Naruto menjadi sangat paranoid dan merasa diikuti seseorang saat dia berjalan secepatnya melewati koridor sepi demi koridor sepi.

Naruto merasa sangat lega saat dia akhirnya sampai juga ke ruangan kelasnya. Dia kemudian jatuh merebahkan diri di kursinya yang biasa ditempatinya, di pinggir jendela. Suasana kelas yang temaram oleh cahaya kemerahan matahari terbit yang masuk melalui jendela menenangkan hati Naruto yang bergejolak. Naruto menghela napas dan larut dalam lamunan.

Suara latar burung-burung yang berkicau menyambut datangnya pagi tiba-tiba dipecah oleh suara pintu kelas yang membuka. Naruto tersentak dari lamunannya, menoleh ke arah pintu dan melihat Uchiha Sasuke berdiri disana.

Terlihat jelas saat Naruto membuat rencananya, dia tidak memperhitungkan bahwa Uchiha Sasuke akan menjadi orang yang pertama kali datang ke kelas setelah dia.

Mata Naruto melebar karena panik, 'Oh Tuhan… akankah hidupku selesai sampai di sini? Aku tidak mau matiiiii…'


Segera setelah Sasuke bertatapan dengan Naruto, kilasan-kilasan tak diinginkan itu muncul lagi, lebih hidup dari sebelumnya. Untuk kesekian kalinya dia diingatkan kembali oleh mata biru yang bersinar itu, oleh bibir yang lembut itu… dan kini, ia takkan bisa melupakan bagaimana sinar matahari pagi membuat wajah dan rambut Naruto terlihat berkilau bagai berasal dari dunia impian.

Sasuke menutup matanya, namun bayang –bayang itu tak juga pergi. 'Aku menolak… aku menolak untuk menyerah… Aku menolak untuk dikontrol oleh obsesi ini… ' Dengan itu Sasuke mengeraskan rahangnya dan mengatur kembali ekspresi wajahnya menjadi tanpa ekspresi seperti biasanya.

Karena Sasuke punya sebuah rencana. Hmm, mungkin bukan suatu rencana terbaiknya, namun hanya ini yang dia punya. Dia akan menentang, menyangkal, melawan… obsesi ini. Dia akan berjuang sampai akhir yang pahit sekalipun. Dengan pemikiran itu, Sasuke melangkah memasuki ruangan kelas dan duduk di kursinya, menyerong ke belakang dari bangku Naruto.

Dari posisinya di belakang Naruto, dia bisa melihat bahwa Naruto merasa resah dan tidak tenang. Dia duduk dengan kaku dan tegak di bangkunya. Sambil melihat punggung Naruto, pandangan Sasuke terfokus pada leher Naruto. Dengan segera pikirannya membuatnya bertanya-tanya, bagaimana rasanya kulit Naruto di bawah sentuhan bibirnya? Dalam benaknya muncul bayangan Naruto, dengan leher yang dipenuhi bekas cupangan yang kemerahan, memandang dengan tatapan penuh keinginan hanya padanya.

Sasuke memaksakan matanya untuk menutup dan menarik napas dalam-dalam. 'Keadaan ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut,' pikir Sasuke.

'Apapun yang terjadi, aku harus menghindari Naruto mulai dari sekarang.'

TBC

Author's Note: Lagi-lagi chapter super pendek... maafin aku ya temen-temen, sepertinya aku belum sepenuhnya dapet feel buat menulis lagi jadi gaya penulisanku tidak selancar dulu, terutama masa-masa saat aku lagi menulis DE, yang satu chapter bisa selesai satu hari dengan rata-rata 4rb kata! Sekarang, waduh... satu chapter dengan kata-kata di bawah seribu kata aja lama banget bikinnya T.T di chapter ini, nothing happens hehehe, cuman buat transisi ke chapter berikutnya dan menunjukkan resolusi Sasuke. Apakah rencana dia akan sukses? Tentu tidak... fufufu... Rencana Sasuke akan gagal total seperti rencana Naruto pada chapter ini :) Mohon kalian jangan marah ya, kalau chapternya pendek-pendek begini... harap maklum dan doakan aq semoga bisa lancar menulis lagi ya...

Buat yang review, ada bbrp yang pertanyaannya tidak bisa aq jawab karena akan spoiler :D thanks banget yang udah review ya :) aq udah seneng bgt kalau ada yang baca fic ini T.T

Buat yang baca Skip Beat aq punya rekomendasi. Fic ini sangat bagus tapi sangat underrated. Judulnya, "Longing" dan pengarangnya Nikholas F. Toledo Zhu. Fic ini bener-bener bikin air mata mengalir... aq sampe g bisa tidur semalaman baca fic ini karena ceritanya tuh indah dan sangat sediiihh T.T aq nangis sampe mata jadi bengkak... Bagaimana perasaan kamu kalau saat kamu menyadari orang yang pernah kamu sakiti ternyata orang yang kamu cintai? Dan sekarang orang itu, sudah tidak punya rasa lagi... pokoknya rekomen :) Kalau berminat, silahkan cek ficnya di favorite story profileku.