Detik demi detik berlalu, Konoha Park menjadi saksi bisu akan keheningan yang terjadi diantara kedua insan tersebut. Hujan sudah reda, namun kedua insan tersebut sepertinya tak peduli, buktinya, mereka masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai—
"Sakura?" Akhirnya salah satu dari mereka membuka pembicaraan.
"Ya, Sasuke-kun?" tanya gadis bernama Sakura tersebut.
"Ayo kita pulang." Pemuda bermata onyx itu pun berdiri dari bangku panjang di sisi Konoha Park tersebut.
Langit yang tadinya mendung sekarang menjadi cerah kembali, saatnya mereka—Sasuke dan Sakura—pulang. Hari ini Sasuke tidak membawa mobilnya, melainkan motor. Ini kali ketiga ia mengantar Sakura pulang—setelah upacara Pra-MOS dan acara makan malam bersama di Japanese Food tentunya.
Sasuke menyalakan motornya dan detik berikutnya mereka sudah menjauh dari Konoha Park. Tebak, untuk apa mereka berada di Konoha Park? Berkencan? Ah ... Sayang sekali tidak, karena mereka hanya berteduh saat hujan turun tadi.
Sejak mengantar Sakura pulang malam itu—makan malam bersama di Japanese Food—Sasuke sudah menyadari perasaannya sendiri, bahwa ia menyukai gadis bernama Haruno Sakura, oh, atau—ia mencintai gadis itu?
.
"Arigatou, Sasuke-kun," ucap Sakura setelah ia sampai di depan rumahnya.
"Hn, aku pulang." Sasuke menyalakan motornya, dan meninggalkan kediaman Haruno.
"Hati-hati!" Sakura berseru saat Sasuke mulai menjauhi kediamannya.
.
.
Kediaman Haruno.
Sakura membuka pintu rumahnya. "Tadaima." Baru saja ia menutup pintu rumahnya, ia sudah dikejutkan oleh—
"—haa! Kalian ketahuan!" Naruto berseru.
"A-apa maksudmu? Dan ... kenapa kalian ada di rumahku?" tanya Sakura saat melihat Naruto dan Ino yang sudah berada di rumahnya.
"Kami mengikuti 'kalian', Sakura," ucap Ino dan menekankan kata 'kalian' pada Sakura.
"Tapi kami kehilangan kalian saat hujan turun tadi, kalian berteduh dimana, Sakura-chan?" tanya Naruto.
"Emm ... Kami berteduh di Konoha Park." Sakura menjawab pertanyaan Naruto, semburat merah terlihat jelas di pipi putihnya.
.
Hari sudah mulai sore, Ino dan Naruto pamit untuk pulang. Ah, sendirian lagi dirumah ... gumam Sakura.
"Jujurlah pada perasaanmu sendiri, Sakura. Jangan memaksakan diri. Karena itu akan membuatmu sakit," ucap Ino khawatir.
"Tenang saja. Kalian tak perlu khawatir," Ah ... Beruntung sekali Sakura memiliki sahabat seperti mereka.
"Kami pulang dulu, Sakura, ingat, jangan memaksakan diri," ujar Ino.
"Hati-hati! Iya, aku tak akan memaksakan diri, pig!" seru Sakura saat mobil Naruto menjauh dari rumahnya. "Arigatou, teman-teman." ucapnya sambil tersenyum.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Tosca © Kyoko Kamiyama
Warning: OOC, AU, misstypo, don't like don't read.
Pair: SasuSaku
.
Chapter 2: Untuk Sakura.
.
Kediaman Haruno terlihat sepi sekali, tentu saja, karena sekarang hanya ada Sakura di rumah. Orang tuanya sedang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Hh ... Seandainya aku memiliki seorang kakak atau adik. Ya! Karin! Dia pasti mau menginap disini. Lagipula dia juga sedang libur kerja, 'kan.
Sakura mengambil ponselnya dan menelepon Karin, beberapa detik kemudian terdengar suara seorang gadis dari seberang sana. "Hallo, Saku? Hm, baiklah, tunggu aku."
.
Sebuah Honda Jazz berwarna merah memasuki halaman kediaman Haruno, seorang gadis berambut merah marun berkacamata keluar dari mobil itu.
"Kariiiinnnn!" Sakura berlari ke arah gadis bernama Karin itu dan memeluknya. "Sudah lama kau tak menginap disini!" ucapnya.
"Gomen, Saku ... Kau tahu, 'kan, aku harus menemani ibuku di Paris, dan hanya bisa pulang ke Konoha saat libur kerja." Karin membalas pelukan Sakura.
"Baiklah, kalau begitu, selamat datang! Ayo masuk!"
.
.
Kediaman Uchiha.
Seorang pemuda berambut raven baru saja memasuki kamarnya, dan meletakkan tas ransel yang ia kenakan di sisi tempat tidurnya. Merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia melirik jam dinding yang berada di sebelah kiri meja belajarnya. Pukul empat sore. Hm ... Sakura sedang apa ya, sekarang? Sasuke memejamkan matanya, mencoba untuk tidur barang sebentar saja, namun ingatan tentang kejadian yang beberapa hari ini dilaluinya bersama Sakura muncul dipikirannya. Perasaan apa ini? Dadaku terasa sesak saat mengingat Sakura, aku ... Aku ingin memilikinya. Kami-sama, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menyatakannya pada Sakura? Batinnya.
.
.
Restoran Ichiraku.
Sepasang kekasih sedang makan malam bersama di sudut restoran yang cukup terkenal di Konoha. Gadis cantik berambut pirang panjang bermata biru langit terlihat sedang memikirkan sesuatu, membuat sang kekasih yang merasa diabaikan mengamatinya. Kau bodoh, Sasuke. Mengapa saat Sakura ingin melupakanmu, kau datang dan mendekatinya? Apa belum cukup air mata yang selama ini Sakura tumpahkan untuk mencintaimu? Batin Ino, senyum hambar terpampang jelas diwajah manisnya. Tidak ... Ingat, Ino, Sasuke bukanlah tersangka utama dalam masalah ini, tapi cinta. Karena yang membuat Sakura sakit dan tersiksa bukan hanya pemuda itu, melainkan juga perasaannya pada pemuda bermata onyx itu.
"Kau memikirkan Sakura, benar?" Sai, kekasihnya yang sedari tadi mengamatinya pun akhirnya angkat bicara. "Percayalah, Sakura itu gadis yang kuat." Lanjut Sai lagi sambil menggenggam tangan Ino, mencoba menenangkannya.
Ino mengangguk. "Ya, aku tahu itu, Sai-kun. Tapi ... Tetap saja aku khawatir. Hatinya pasti sakit. Disaat ia ingin melupakan orang yang dicintainya, orang itu datang dan mendekatinya, memberikan sebuah harapan lagi padanya." ucap Ino. Tanpa ia sadari, air matanya sudah membuat aliran sungai kecil dipipinya. Kami-sama, kuatkan Sakura. Lirihnya.
.
.
Karin membuka pintu kamar Sakura, ia melihat sang pemilik kamar tengah duduk sambil memeluk lututnya sendiri di lantai tepi balkon di depan kamarnya dan memandang langit malam dengan tatapan kosong. Entah sejak kapan Karin merasa Sakura menjadi agak pendiam sekarang. "Saku? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Karin, seraya mengambil tempat duduk disamping Sakura. Wajah Sakura pucat, membuat Karin semakin khawatir padanya. "Kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja, Karin." Sakura tersenyum pada Karin, sebuah senyum terpaksa yang digunakannya untuk menutupi keadaannya sekarang—yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kau takkan bisa membohongiku, bodoh. Aku ini sepupu perempuanmu satu-satunya di keluarga Haruno, ingat itu." ucap Karin, ia tak habis pikir Sakura masih mencoba terlihat kuat meski dihadapan sepupunya sendiri, "Ceritakan padaku, Saku."
Sakura menarik napas panjang lalu menghelanya. "Mencintai seseorang tanpa mendapat balasan cinta dari orang yang kita cintai itu ... menyakitkan." Miris sekali, dimata Karin, Sakura tampak begitu rapuh sekarang, meskipun ia mencoba tersenyum tegar untuk menyembunyikan semuanya.
.
Malam berganti pagi, orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Seperti di kediaman Haruno, seorang gadis bernama Karin sedang memasak di dapur saat seorang gadis lain bernama Sakura turun dari lantai atas.
"Ohayou, Saku. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau sudah memutuskannya?" tanya Karin tanpa basa-basi sedikit pun. Ia segera menghampiri meja makan dan meletakkan sepiring nasi goreng, lalu menghadap ke arah Sakura yang sudah duduk dan menunggunya. "Jadi?" Ia menatap emerald sepupunya itu.
"Biarkan semuanya mengalir seperti air, Karin," jawab Sakura, "Biarkan seperti ini. Biarkan waktu yang akan menjawabnya." ucapnya lagi, gadis bermata emerald itu menghela napas panjang.
"Terserah apa katamu, Saku. Aku hanya ingin kau ceria seperti dulu lagi." ucap Karin, ia tak ingin membuat Sakura semakin tersiksa dengan menyuruhnya melupakan Sasuke, atau mungkin mengajak Sakura ikut dengannya dan tinggal di Paris, hati Karin mencelos saat melihat Sakura sebisa mungkin menahan air matanya agar tak jatuh dihadapan gadis berkacamata itu, "Apa pun yang terjadi, Saku, tetaplah tersenyum."
.
.
Sakura's POV
"Biarkan semuanya mengalir seperti air, Karin," ucapku pada sepupu perempuanku satu-satunya itu. "Biarkan seperti ini. Biarkan waktu yang akan menjawabnya." tambahku lagi, sebisa mungkin aku menahan air mataku untuk tak jatuh. Sudah cukup aku membuat sahabat-sahabatku khawatir, aku tak ingin Karin juga mengkhawatirkanku.
"Terserah apa katamu, Saku. Aku hanya ingin kau ceria seperti dulu lagi." ucapnya. "Apa pun yang terjadi, Saku, tetaplah tersenyum." Arigatou, kami-sama, kau telah memberiku sepupu seperti Karin.
End Sakura's POV
.
.
Konoha Senior High School tampak ramai seperti biasa, seorang gadis bermata emerald berjalan di koridor sekolah dengan tatapan kosong dan wajah yang pucat. Beberapa teman-temannya menyapa gadis itu, namun dihiraukannya. Ya ... Sepertinya jiwanya terbang entah kemana, sehingga ia menjadi seperti sekarang ini, sampai seorang pemuda bermata jade menyentuh pundaknya dan membuatnya membalikkan badan.
"Sakura?" tanya pemuda bermata jade itu, "kau baik-baik saja?" tambahnya.
Diam beberapa saat. "Gaara ..." Akhirnya gadis bernama Sakura itu mengeluarkan suaranya. "Ikuti aku." Sakura menggenggam erat tangan pemuda bernama Gaara itu tanpa mempedulikan tatapan dan bisikan dari teman-temannya, juga tatapan dari seorang pemuda bermata onyx yang berjalan dibelakang mereka berdua. Gaara mengikuti langkah Sakura yang membawanya ke taman belakang sekolah. Setelah sampai di taman belakang sekolah, mereka duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon.
"Jadi, kau kenapa?" tanya Gaara, "Sasuke? Hm?" Sakura menganggukan kepala. "Apa keputusanmu?" tambahnya.
"Entahlah ... Biarkan waktu yang akan menjawabnya, Gaara." ucap Sakura. Gaara mengelus pelan kepala Sakura.
"Semangat!" Serunya sambil mengepalkan tangannya di udara. Sakura terkekeh melihat tingkah Gaara. Arigatou, Gaara ... Gumamnya dalam hati. "Ayo ke kelas, nanti kita terlambat." Sakura mengangguk, mereka berjalan berdampingan menuju kelas XI-1.
.
.
"Baiklah, sampai disini pelajaran hari ini, ingat! Tugas puisi itu harus diserahkan padaku lusa." ucap seorang guru berambut perak yang mengenakan masker yang menutupi mulut dan hidungnya, "dan aku akan menyuruh dua orang dengan puisi terbaik mereka untuk dibacakan di depan kelas nanti, mengerti?" tambahnya.
"Ya, Kakashi-sensei!" Seru murid-murid kelas XI-1 minus seorang pemuda berambut raven.
"Sampai bertemu lusa, jaa." Dan seisi kelas pun kembali ribut, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing setelah sang guru meninggalkan kelas tersebut, aktivitas yang mereka lalukan beragam—mulai dari bercanda sampai tertidur pulas. Namun, Sakura hanya duduk dan memandang ke arah langit, beruntung tempat duduknya tepat berada di samping jendela. Hh ... Aku ingin pulang, kepalaku terasa sangat berat sekarang. Oh ... Tidak! Mengapa penglihatanku menjadi gelap?
BRUK!
Seisi kelas langsung menoleh ke arah suara, dan detik berikutnya—
"SAKURA!" Sasuke langsung menghampiri Sakura dan menggendongnya. "Minggir!" Bentaknya pada Naruto yang menghalangi jalannya.
"Teme! Shizune-san sedang pergi dan kunci UKS ada padanya! Sebaiknya kau antar Sakura-chan pulang saja!" Seru Naruto. "Tenang saja, aku yang akan meminta izin untukmu."
"Hn." Sasuke langsung menuju mobilnya dan merebahkan Sakura dengan hati-hati di sebelah kursi pengemudi.
.
.
Tok ... Tok ...
"Ya, sebentar." Karin membuka pintu dan melihat Sasuke sudah berada di depan pintu sedang menggendong Sakura. "Ya ampun! Sakura!" teriaknya panik.
"Dimana kamar Sakura?" tanya Sasuke, ia mencoba bersikap tenang, tapi ternyata tak bisa karena kepanikannya.
"Di atas! Naik saja, kenapa Sakura sampai pingsan?" tanya Karin, perasaannya campur aduk sekarang—ia merasa bersalah karena membiarkan Sakura sekolah hari ini dengan kondisi yang kurang sehat.
"Entahlah, dia hanya duduk diam dan langsung pingsan." jelas Sasuke.
"Rebahkan pelan-pelan, sepertinya dia demam." ujar Karin sambil memegang kening Sakura, lalu ia menatap Sasuke. "Terima kasih, err?"
"Sasuke, Uchiha Sasuke." jawab Sasuke.
Mata Karin membulat. Jadi ... Dia Uchiha Sasuke, pemuda yang dicintai Sakura.
.
"Arigatou, Sasuke," ucap Karin saat mengantar Sasuke sampai ke depan kediaman Haruno.
"Hn, aku pulang," ucapnya dan berlalu menuju Honda City hitam miliknya. Detik berikutnya, mobil Sasuke sudah menjauh dari kediaman Haruno. Karin berbalik menuju kamar Sakura. Saku … Cepat sembuh dan tersenyumlah seperti dulu. Gumamnya dalam hati.
"Engh ... Dimana aku?" Sakura membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa sakit.
"Kau sudah sadar, Saku?" Karin langsung menghampiri Sakura, "tadi, Sasuke yang mengantarmu pulang." tambahnya.
"Eh?" Emerald Sakura membulat saat mendengar ucapan Karin. Sasuke-kun ... Arigatou … Sakura tersenyum menatap langit senja melalui jendela kamarnya.
.
.
Sasuke berdiri di depan jendela kamarnya, onyx pemuda itu memandang kosong pada awan. Pikirannya melayang, teringat seorang gadis yang beberapa jam lalu berhasil membuatnya panik. Haruno Sakura.
Sakura ... Cepat sembuh, jangan membuatku khawatir. Batin Sasuke dalam hati.
.
.
Bersambung.
A/N:
Arigatou buat semua yang udah mampir dan memberi review :*
Konflik akan ada di chap 3, ya ;)
Special thank's for:
Yakyung, Taira Shinju, Kogayama Hanasaki, Anonymous, Kitty Sevalinka Kuromi unlogin, Pitophoy, Anonymous Lagi, Reivany UchiHaruno, Rievectha Herbst, Takata Hazuki-chan, dan Guest.
Mind to review again? ^^a #plak
