Sinar mentari pagi menyeruak masuk dari celah gorden sebuah kamar bernuansa pink dan putih. Membuat sang pemilik kamar yang sedang terlelap akhirnya terbangun. "Engh ..." Gadis berambut soft pink itu membalikkan badan untuk melanjutkan tidurnya sehingga membelakangi gorden kamarnya yang kini telah dibuka oleh seorang gadis berkacamata berambut merah marun.

"Bangun, tukang tidur! Apa kau tak sekolah hari ini? Atau—" belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, sang pemilik kamar yang tadi sedang asyik terlelap pun terbangun, detik berikutnya gadis itu mulai panik, dan—

"AKU TERLAMBAT!" Gadis berambut soft pink itu langsung melompat dari tempat tidurnya, menyambar handuk di dalam lemari dan berlari ke kamar mandi.

"Haruno Sakura, kau belum terlambat, tak usah panik seperti itu, hahaha ..." Gadis berkacamata itu tertawa melihat tingkah sang gadis bernama Sakura yang baru saja panik karena ia mengira sudah terlambat.

"Awuas kau Kuarin!" seru Sakura tak jelas karena sedang menggosok giginya. Gadis bernama Karin yang baru saja disebut Sakura hanya terkekeh. Dasar, Sakura ...

.

Setelah selesai bersiap-siap, Sakura turun menuju lantai satu di mana Karin sudah menyiapkan roti dan segelas susu untuknya, "Syukurlah aku belum terlambat, arigatou, Karin," ucapnya.

Karin menghampiri meja makan dan duduk berhadapan dengan Sakura, "Lalu, apa judul puisimu? Patah hati? Cinta bertepuk sebelah tangan? Atau, judulnya kosong? Hm? Tak lucu, 'kan, jika kau rela tidur larut malam untuk mendapat inspirasi tapi tak membuat puisi sama sekali," kata Karin.

"Kau pasti tahu," jawab Sakura sekenanya sambil meminum segelas susu yang dibuat oleh Karin.

Karin mencoba menerka-nerka, "Hm ... apa temanya tentang Cinta?" Aha ... sepertinya jawabannya kali ini tepat sasaran.

"Hm." Sakura hanya menanggapi jawaban Karin karena sekarang mulutnya sudah dipenuhi dengan roti, membiarkan Karin sibuk dengan pikirannya sendiri. "Selesai, aku berangkat," ucap Sakura langsung mengambil tas ransel yang ada di sampingnya.

"Kau tak membawa mobil, Saku?" tanya Karin keheranan karena Sakura tak mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja ruang tengah.

"Tidak, aku ingin jalan kaki, lagipula jarak dari rumah dan sekolah tidak terlalu jauh," ucap Sakura, "Jaa~" dan ia pun berlalu.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Tosca © Kyoko Kamiyama

Warning: OOC, AU, don't like don't read.

Pair: SasuSaku

.

Chapter 3: Puisi, Cinta, dan Pilihan

.

Sakura's POV

.

Aku memilih untuk pergi ke sekolah dengan berjalan kaki karena sedang malas untuk menyetir, lagipula jarak antara rumah dan sekolah tak terlalu jauh. Aku membutuhkan ketenangan sekarang, dan kurasa berjalan sendirian mampu membuatku tenang. Arigatou untuk pagi yang cerah ini, Kami-sama. Arigatou telah memberiku satu hari lagi kehidupan.

Kakiku melangkah pelan menyusuri jalanan komplek perumahan, udara di pagi hari yang sejuk membuat semangatku kembali, dan kini, entah disebabkan oleh apa, aku tersenyum sambil menengadahkan kepalaku menatap langit pagi. Membuatku kembali bersyukur karena masih bisa menginjakkan kakiku di sini, aku kembali melangkahkan kakiku.

"Ohayou, Ken," sapaku pada seorang anak yang kira-kira berumur 8 tahun itu, ia membalas sapaanku dengan senyum lebarnya, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Lima belas menit aku berjalan kaki dari rumah ke sekolah, akhirnya, di sini lah aku, di depan pintu gerbang Konoha Senior High School. Aku melangkahkan kakiku menuju koridor sekolah yang masih sepi.

"Ohayou, Sakura!" seru Lee yang sedang berada di depan kelasnya.

"Ohayou, Lee," sapaku balik, dan aku pun berlalu menuju kelasku.

KRIET.

Aku membuka pintu kelasku dan mendapati seseorang berambut raven sedang berdiri di samping jendela membelakangiku, mataku membulat. Dia, Uchiha Sasuke, pemuda yang sudah kusukai selama tiga tahun terakhir—ralat—pemuda yang kucintai, ya, benar, aku bertepuk sebelah tangan, miris.

"Ohayou Sasuke-kun," Ia berbalik dan sekarang tak lagi membelakangiku.

"Hn, bagaimana keadaanmu?" Ia bertanya padaku. Ah, kurasakan pipiku memanas sekarang, aku menundukkan kepalaku, tak mampu untuk menatapnya langsung di matanya.

"Sudah membaik, arigatou, Sasuke-kun." ucapku dan berlalu menuju tempat dudukku. Entah mataku yang bermasalah, atau memang benar, aku melihat Sasuke-kun tersenyum, meskipun sangat tipis, tapi aku yakin dia tersenyum.

.

END Sakura's POV

.

Suasana kelas XI-1 sama seperti biasanya, namun sekarang, suasana di dalam kelas itu menjadi tegang. Seorang guru berambut perak sedang membaca satu per satu tugas—puisi—yang baru saja diletakkan di atas mejanya.

"Hm, puisi yang menarik, sayangnya hanya ada dua orang dengan puisi terbaiknya yang akan kupilih dan mereka berdua harus membaca puisinya di depan kelas. Baiklah, ini dia ..." dan seisi kelas pun hening, "puisi dari Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura."

Eh? Puisiku? Sakura bertanya dalam hati.

Sasuke dan Sakura berdiri di depan kelas.

"Silakan, Sakura, kau duluan." ucap Kakashi. Sakura mengambil napas dan menghembuskannya, lalu mulai membaca puisinya.

.

Di sini.

.

Aku berdiri di sini menantimu

Menanti sesuatu yang berharga

Akan sebuah perasaan yang tak terbaca

Akan cinta suci yang kugenggam erat

Dan harapan yang kuat akan rasa ini

.

Entah sampai kapan kubisa bertahan

Menjaga cinta ini untukmu

Namun, aku akan terus menjaganya

Aku masih di sini menunggumu

Menunggu sampai kau datang

.

Harapanku bahagia bersamamu

Semua bukan hanya ego semata

Hatiku tak bisa mengelaknya

Aku ingin memilikimu

Aku mencintaimu ...

.

Detik berikutnya seisi kelas bersorak dan bertepuk tangan setelah Sakura selesai membaca puisinya.

"Keren! Sakura-chan!" teriak Naruto.

"Hebat, Sakura!" seru Ino seraya bertepuk tangan.

"Puisi yang bagus, Sasuke, giliranmu, silakan," lanjut guru berambut keperakan itu.

Sasuke maju selangkah dan mulai membaca puisinya.

.

Angan

.

Bayangmu selalu menemaniku

Di saat kesunyianku

Kau bagaikansimfoni

Yang tercipta hanya untukku

Mengisi keheningan hidupku

.

Anganku ingin memelukmu

Dan takkan pernah melepasmu

Tak bisakah kau dengar suaraku?

Mengapa cinta ini begitu sulit?

Perasaan ini tak bisa dijabarkan

.

Begitu menyakitkan, sangat menyesakkan

Dadaku serasa dihujam oleh pisau yang tajam

Bisakah kau merasakannya?

Merasakan rasa cintaku untukmu

Aku mencintaimu ...

.

Lagi, seisi kelas kembali bersorak dan bertepuk tangan, hari ini kelas XI-1 seperti sedang menonton pementasan teater saja, eh? Benarkah? Entahlah. Sasuke dan Sakura terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Puisi Sasuke-kun seperti sedang jatuh cinta tapi ia tak bisa mengungkapkannya, untuk siapa puisi itu? tanya Sakura dalam hati.

"Silakan kembali ke tempat duduk kalian, Sasuke, Sakura." Kakashi menyadarkan Sasuke dan Sakura bahwa mereka kini masih berada di depan kelas.

"Teme! Puisimu bagus! Siapa seseorang yang kau maksud dalam puisimu itu?" tanya Naruto saat Sasuke duduk di sebelahnya.

"Hn, rahasia," jawab Sasuke sekenanya.

"Pelit!" rajuk Naruto, "Hei, Teme? Teme!" Naruto menyadarkan Sasuke yang sedang melamun. "Kau kenapa, Teme?" tanyanya heran, tak biasanya ia melihat Uchiha bungsu itu melamun.

"Tidak." Sasuke seperti orang ling-lung sekarang, entah apa yang sedang ia pikirkan. Ada apa ini? Perasaanku menjadi kacau sekarang, apa ada sesuatu yang akan terjadi?

.

"Sakura?" tanya Ino saat mereka—Ino, Sakura, Sasuke, Naruto, dan Hinata sedang berada di kantin sekolah.

"Ya?" jawab Sakura.

"Ponselmu berdering," sahut Hinata. Sakura mengambil ponsel dari saku dan mendapati nama ibunya terpampang di layar ponsel.

From: Kaa-san

"Ah, sebentar ya, dari kaa-san." Sakura beranjak dari duduknya, "hallo, kaa-san?"

Terdengar suara ibunya di seberang sana, "Gomen, Sakura. Kaa-san dan tou-san akan tinggal di Belanda selama 3 tahun karena bisnis keluarga kita, maka dari itu kau akan kami beri dua pilihan."

"Dua pilihan? Apa?" tanya Sakura serius.

"Pertama, kau harus pindah ke Belanda dan tinggal bersama kami, itu artinya kau harus meninggalkan Konoha dan teman-temanmu." Ibunya diam beberapa detik.

"Lalu ... yang kedua?" Sakura menatap langit, "apa pilihan yang kedua, kaa-san?" Sakura merasakan sesuatu yang akan dikatakan ibunya kali ini akan sangat penuh dengan pertimbangan.

"Kau ... harus bertunangan dengan Sasori jika ingin tetap tinggal di Konoha, karena tou-san hanya percaya pada Sasori, tentu saja, kalian berdua sudah berteman sejak kecil, bukan? Pikirkanlah Sakura." Mereka berdua terdiam, Sakura menjawab ucapan ibunya.

"Beri aku waktu satu minggu, kaa-san. Hm, Arigatou." Pilihan yang sulit, Kami-sama, aku tak mau pindah ke Belanda dan berpisah dengan teman-temanku, terutama Sasuke-kun. Tapi, jika aku ingin tetap berada di sini, aku harus bertunangan dengan Sasori, seseorang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, apa yang harus kulakukan? Mimpi buruk menimpa gadis berambut soft pink itu sekarang. Rasanya sekarang Sakura ingin sekali pergi ke tempat yang jauh tak berpenghuni dan berteriak sekeras yang ia bisa hingga suara dan tenaganya habis.

"Saku?" Deg ... Suara ini ... Sasori. Sakura berbalik, dan mendapati seorang pemuda berwajah tampan dengan tatapan mata yang sendu berdiri di hadapannya.

"Kau sudah tahu?" Sasori bertanya pertanyaan yang absurd pada Sakura. Gadis berambut soft pink itu hanya mengangguk. "Pulang sekolah, kau bisa pulang bersamaku, 'kan?"

"Sasori, aku—"

"—tentang pertunangan itu? Aku takkan memaksamu, Saku. Kau tahu, 'kan, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Jadi, apa kau bisa pulang bersamaku?" tanyanya lagi.

"Ya, pulang sekolah, tunggu aku," jawab Sakura.

"Baiklah, sampai bertemu nanti." Dan Sasori pun berlalu. Ino, Naruto, dan Hinata menatap mereka berdua dengan tatapan bingung, terkecuali Sasuke, sorot matanya yang tajam terarah pada Sasori yang kini sudah berjalan menjauhi kantin.

"Ayo masuk ke kelas, bel sudah berbunyi!" seru Naruto, "Sakura-chan! Ayo!" Sakura mengikuti Naruto dan teman-temannya yang lain menuju ke kelasnya.

.

"Ingat, kerjakan PR kalian, mata ashita Minna-san." Seorang guru berambut hitam panjang dan sedikit bergelombang bermata seperti batu rubi baru saja meninggalkan kelas XI-1.

"Baik, Kurenai-sensei, mata ashita!" seru Naruto di depan pintu kelasnya.

Hinata menghampiri Sakura yang sedang merapihkan bukunya. "Sakura-chan, maukah kau menemaniku untuk pergi ke ruang guru sebentar? Aku harus menyerahkan daftar absen siswa pada Anko-sensei," ucap Hinata.

"Ah, gomen, Hinata. Tapi Sasori sudah menungguku," jawab Sakura, "bagaimana kalau Ino? Aku duluan ya, jaa."

Eh? Sasori anak kelas XI-2 itu, 'kan? Apa mereka pacaran? Lalu bagaimana dengan Teme? Naruto bertanya dalam hati, ia melirik Sasuke yang memandang kepergian Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Hh ... cinta memang membingungkan, benar, 'kan?

.

Sakura berjalan menyusuri koridor sekolah, dan ketika ia sampai di depan lokernya, seseorang sedang berdiri disana. "Sasori, kau sudah lama menungguku?" Sakura menatap pemuda bermata coklat itu, merasa bersalah karena membuat Sasori menunggunya.

"Tidak, ayo pulang, ada yang ingin kubicarakan," ucap Sasori, berjalan mendahului Sakura yang masih terpaku di tempatnya. "Hei, Saku?" ucapnya lagi ketika menyadari Sakura masih belum beranjak dari tempatnya.

Sakura tersadar, "Eh? Iya." Sakura mengimbangi langkah Sasori sehingga kini mereka berjalan berdampingan. Kenapa belakangan ini aku sering melamun? Ah, baka! Sakura merutuki dirinya sendiri. Tanpa mereka sadari, pemuda berambut raven berjalan agak lambat di belakang mereka berdua.

Sepertinya aku terlambat, benar, 'kan, Sakura? Sasuke memandang Sasori dan Sakura berjalan berdampingan menuju mobil pemuda bermata coklat itu, sesak, ada rasa yang tak ingin ia rasakan, rasa yang membuat hatinya gelisah.

.

Sasori memarkirkan mobilnya di sekitar area Konoha Park, mereka memang tidak berniat langsung pulang ke rumah, tentu saja, mereka berada di sini karena ingin membahas tentang pilihan Sakura—pindah ke Belanda atau tetap tinggal di Konoha dan bertunangan dengan Sasori. Masih dengan tetap berada di dalam mobil, mereka atau lebih tepatnya Sakura memulai pembicaraan.

"Aku ... kau tahu, 'kan?" Pertanyaan yang sangat absurd yang pernah Sakura tanyakan pada lawan bicaranya. "Ini pilihan yang sulit, aku ingin tetap tinggal, tapi untuk bertunangan ... sepertinya aku tak bisa," ucapnya seraya mengalihkan pandangan ke arah berlawanan dengan Sasori.

Sasori tersenyum, "aku tahu, aku takkan memaksamu, Saku. Tapi, pikirkanlah, apa kau bisa tinggal di Belanda dan meninggalkan'nya', teman-temanmu, dan Konoha? Hm?" Sakura tahu apa yang dimaksud Sasori dengan'nya', pemuda bermata coklat itu menatap Sakura dan tersenyum padanya.

"Entahlah, tapi ... jika aku tinggal di sini, kita harus bertunangan, dan sama saja artinya aku tak bisa bersama'nya', dan aku juga sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri!" seru Sakura. Ia tak bisa mengendalikan lagi emosinya sekarang, rasanya ingin sekali menangis sekuat yang ia bisa.

"Tenanglah, Saku. Baiklah, terserah kau saja, tapi pikirkanlah. Beri aku jawabannya jika kau sudah memilih, sekarang mau ke mana? Pulang?" Sakura hanya membalas pertanyaan Sasori dengan anggukan kepala, dan mobil Sasori perlahan menjauhi area Konoha Park.

.

Lagi, pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu saat ia menerima telepon dari ibunya, dan itu artinya ia harus siap mengingat dua pilihan yang diberikan orang tuanya itu. Sakura berbaring di atas tempat tidur, matanya memandang lurus pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Apa dengan memandang langit-langit kamar kau bisa berpikir dengan jernih, Sakura? Sepertinya hari ini bukan hari keberuntunganku ... Kami-sama, apa yang harus kupilih? Pindah dan tinggal di Belanda selama 3 tahun? Itu artinya aku akan meninggalkan Sasuke-kun, Konoha, dan teman-temanku. Tapi, jika aku ingin tetap tinggal di Konoha, aku harus bertunangan dengan Sasori, dan itu sama saja artinya aku tak bisa bersama Sasuke-kun. Inti dari kedua pilihan ini sama, aku ... takkan pernah bisa bersamanya. Mengapa? Apa aku memang tak layak untuknya, Kami-sama? Setitik air mata jatuh dan membasahi pipi putihnya. Ia menangis dalam diam, membiarkan air mata terus mengalir di pipinya. Ia terisak dalam diam. Terkadang, saat kita merasa sebuah masalah sangat sulit untuk diselesaikan, tak ada salahnya untuk menangis, benar, 'kan?

Ponselnya berdering.

From: Naruto

"Hallo, Naruto? Tidak, baiklah aku turun sekarang," Sakura langsung turun ke lantai satu dan berlari menuju pintu di mana Naruto sedang menunggunya.

"Sakura-chan, kau baik-baik saja 'kan?" raut wajah Naruto menyiratkan kekhawatiran.

Sakura tersenyum, "Tidak, ayo masuk,"

Naruto mengikuti Sakura dan duduk di ruang tengah"Sakura-chan, jawab pertanyaanku dengan jujur!"

"Kau kenapa?" Sakura mengernyitkan keningnya bingung.

"Kau ... dan Sasori berpacaran?" tanya Naruto, wajahnya memperlihatkan keseriusan atas pertanyaan itu.

"Hh, baiklah, akan kuceritakan," dan Sakura mulai menceritakan mengapa saat istirahat di kantin sekolah Sasori menemuinya.

"Begitu kah? Jadi apa pilihanmu, Sakura-chan?"

Sakura menyandarkan punggungnya pada sofa dan memijat pelipisnya, "Entahlah, menurutmu? Pilihan pertama atau kedua? Hm?"

"Itu pilihan yang sulit, Sakura-chan," ucap Naruto. Ia menatap Sakura yang sekarang terlihat sangat lelah. "Baiklah, aku pulang dulu, Sakura-chan, ingat, jaga kesehatanmu,"

"Ya, arigatou, hati-hati," ucap Sakura saat mengantar Naruto sampai ke depan kediaman Haruno.

Sakura mengambil ponselnya dan menelepon seseorang, beberapa detik kemudian terdengar suara dari seberang sana, "Karin, cepat pulang, kau sudah tahu? Ya, baiklah."

.

Tok ... Tok ...

"Masuk," ucap Sakura yang sedang berdiri di atas balkon di depan kamarnya.

Karin membuka pintu kamar, "Maaf membuatmu menunggu, Saku. Suigetsu-kun baru pulang dari Suna dan ia memintaku menjemputnya," ucap Karin saat memasuki kamar Sakura, "aku sudah tahu tentang pilihan yang diberikan bibi Hikari untukmu, jadi ... pikirkanlah baik-baik, Saku."

"Ya, aku sudah meminta waktu pada kaa-san, jika dalam seminggu Sasori bisa mengubah pilihanku, aku akan tetap tinggal," ucapnya.

Karin menghampiri Sakura, "Jadi ... kau memilih pilihan pertama?"

"Mungkin," ucapnya seraya menatap Karin, " kita lihat saja satu minggu ke depan," tambahnya.

.

Tuhan pasti akan memberikanku jawaban atas pilihan ini, aku yakin dan percaya, disetiap tangisan akan ada kebahagiaan.

.

.

Bersambung

A/N:

Maaf banget baru di-update sekarang T_T

Writer's block tak mau beranjak pergi (?) dan inspirasi hilang. /abaikan

Apa ini?! (Banting meja) aneh yak? Kira-kira pilihan Sakura nanti yang mana ya? Pilihan pertama atau kedua? Kritik, saran, dan review seperti apa pun diterima. ;)

Seharusnya di chapter ini udah ada konfliknya, tapi ternyata belum ._.v *diinjek*

Errr...mind to RnR? ._.