Tittle : I'm Only Your Puppet

Pairing : CasLab

Rating : T

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Drama

Warning : AU, typo, BL , Sho-ai , Yaoi #lengkap#

"DON'T LIKE , DON'T READ"

Summary :

Aku... Hanya sebuah boneka yang sempat terlupakan. Bertahun-tahun, tak pernah tersentuh oleh apapun terkecuali debu-debu yang menempel pada tubuh pelastik ini. Andai saja,.. Tubuh kosong ini terisikan oleh nyawa... Aku pasti sudah menangis sekarang. Menangisi tubuhku yang tidak bertuan.

I'm Only Your Puppet

Labrador POV

'Labrador ? Itu nama yang aneh untukku... Tapi, apa boleh buat... Itu nama pemberian dari tuanku... Tapi,... Aku tidak pernah menatap wajah tuanku dengan jelas... Seperti apa wajahnya ya ? Dari suaranya sih, dia masih muda...'

Perlahan kulirik wajahnya. Dia tersenyum.

'Gawat ! Apa dia tau aku melihatnya ?'

Kuarahkan kepandanganku lagi. Mencoba seperti semula. Dan benar saja, dia mencurigaiku.

"Aneh,... Apa dia tadi melirikku ya ? Sungguh beruntung diriku kalau begitu ! Inilah kekuatan cinta ! (?)"

Lalu, ia memelukku dan memasuki kamarnya dengan segera. Dari tempatku berada terdengar suara rintikkan hujan mulai membasahi bumi.

Zzzrrraaasshhhh !

Suara rintikkan air menjadi semakin deras. Sangat deras.

Membuatku sedikit bergidik karena merasakan ada udara dingin yang menusuk kulitku. 'Apa ? Kapan aku bisa merasakan sesuatu dengan kulitku ? Tapi... Ini bukan kulit... Ini Cuma semacam bahan sintetis...'

Sungguh sedih mengingat nasibku yang hanya sebagai boneka.

Aku sudah ditakdirkan untuk menjadi 'sebuah benda' yang selalu diam dan dipandangi. Setelah mereka bosan dengan model wajah , tubuh ,dan yang lainnya dari suatu boneka karena perkembangan zaman, mereka para manusia akan membuang kami. Kami yang tadinya adalah 'sebuah boneka', saat tak terpakai kami akan menjadi 'rongsokkan'. Sungguh tragis.

Aku tidak mau menjadi seperti itu. Para boneka tidak semestinya menjadi rongsokkan ! Tapi, kami tidak bisa berbuat apa-apa... Ini takdir kami. Para boneka.

Aku mendengar suara gemuruh. Aku yakin diluar pasti badai. Entah kenapa... Aku... Aku... Aku takut.

Ddhhuuaarr !

Suara petir menyambar dilangit. Membuatku sedikit bergetar. Aku mulai menggerakkan tubuhku. 'Apa ? Tanpa benang-benang itupun,.. Aku bisa bergerak ?'

Kugerakkan tangan dan kakiku, mengedipkan mataku, membuka dan menutup mulutku, dan aku... Bernafas seperti manusia normal lainnya.

Tetapi... Kenapa tubuhku masih susunan bagian tubuh yang membentuk sebuah boneka ? Kulitku pun tak berubah. Masih bahan sintetis yang dibuat khusus untuk boneka.

"Aaaaa..."

Aku mencoba bersuara. Bisa.

Kusentuh bibirku menggunakan tangan kananku. Seakan-akan tak percaya apa yang telah terjadi. 'Aku... Bisa bicara ?'

Sungguh keajaiban ! Mungkin ini takdirku sebagai boneka telah sedikit diubah oleh sang pencipta dunia ini.

Aku... Sangat beruntung bisa hidup seperti ini... Bersama-sama dengan tuanku tersayang. Pria yang tidak ku tau namanya, wajahnya tampan, dia tinggi, berkacamata, berambut coklat, tatapannya begitu lembut.

Aaaahhh ! Tuaaannn ! Kau tampan sekaliii !

Saat aku menjerti-jerit kegirangan dalam hati dan memasang wajah sumringah sambil mengepalkan tangaku didada, suara petir menyambar semakin besar diiringi cahaya yang menyertainya memasuki seluruh ruangan dirumah ini. Membuatku sedikit melompat dari tempat dudukku.

DDHHUUAAARR !

Aku sangat ketakutan. Aku bangkit dari tempatku duduk tadi, dan segera mencari ruangan tuanku berada.

Membuka ruangan per-ruangan yang kutemukan. Tapi, aku curiga dengan ruangan disebelah ruangan pembuatan boneka, dan kubuka pelan tanpa suara.

Benar saja. Tuanku terbaring dikasur king size nya bersama tas yang ia bawa saat kuliah. Bahkan kacamatanya pun tak ia lepas. Aku yakin dia ketiduran.

Makin lama, petir dan badai diluar makin mengganas. Aku benar-benar merasa takut. Tanpa berfikir panjang, kupeluk tubuh tuanku dan memejamkan mata.

Aku takut.

Tubuhku bergetar hebat setelah telingaku mendengar hantaman petir berikutnya. Aku terus membenamkan wajahku didada tuanku. Perlahan tangan besar yang tak asing untukku lagi membelai lembut rambutku seakan-akan menenangkanku. 'Apa dia tau kalau ini aku ? Boneka yang ia buat ?'

Kulihat wajahnya sesaat. Ia tersenyum dengan tenang. Senyuman yang mampu melumpuhkan segalanya. Entah kenapa... Aku tak bisa melepas pandanganku darinya. Sampai hantaman petir berikutnya menyadarkanku.

Aku kembali membenamkan wajahku didadanya sampai aku ikut tertidur bersamanya.

#

#

#

Castor POV

'Apa ini ? Rambut ?'

Aku terbangun dipagi hari dengan keadaan kacamataku yang sudah miring dan hampir jatuh. Saat ingin membetulkan posisi kacamataku, aku merasa ada rambut didadaku. Tebal dan halus.

Aku heran. Mimpi apa aku semalam ? Gara-gara tidur dari pulang kampus sampai pagi, dadaku ditumbuhi bulu ?

Aku memasang tampang shock. Tidak ! Memiliki kaki berbulu pun aku tidak mau ! Apa lagi memiliki dada berbulu seperti pria jantan yang kekar dan berotot-otot tidak jelas itu ! Menjijikkan.

Lagipula, kalaupun akan tumbuh rambut didadaku, jangan terlalu tebal dan halus ! Lagipula ini berwarna Lavender !

Eh ? Tunggu...

.

.

.

.

.

EEEHHHH ?

LAVENDEERRR ?

Aku langsung terbangun dan melihat siapa yang berada dalam pelukanku. Dia... Matanya terejam, jemarinya mencengkram bajuku dengan kuat dan dia menghembuskan nafas hangat.

Dia... Labrador... Benarkah dia hidup ?

Sungguh.. Do'a ku terkabul... Kucoba untuk menyentuh pipinya dan membelainya. Aku berharap dia terbangun untuk memastikan apa benar dia hidup.

"Nghh..."

Suara yang keluar dari mulutnya benar-benar suara laki-laki. Tapi bukan laki-laki biasa ! (?) Dia... Suaranya... Ukeeee !

Dengan mulut menganga aku memperhatikannya yang baru saja terbangun dari alam mimpinya.

Menggeliat pelan, mengucek matanya perlahan, sesekali ia menguap.

"Hoaaaammm ! Eh ? Tuan sudah bangun ?"

Dia memanggilku 'tuan' ? Apa aku tak salah dengar ?

"Tuan ?"

"Iya ! Kau kan yang membuatku, jadinya,.. kau adalah tuanku..."

Dia tersenyum dengan polosnya dan memasang wajah sumringah.

'Tidak... Aku tidak ingin menjadikannya boneka lagi... Dia sudah hidup... Dia bagian dari hidupku sekarang.'

"Jangan panggil aku tuan... Aku tidak suka."

"E...Eh ? Ma..Maaf... tapi kau kan-"

Sebelum ia menyambung kata-katanya, aku membawanya kedalam pelukanku. Sekarang berbeda rasanya,.. Ia tak lagi kaku dan dingin... Ia hangat dan nyaman... walaupun ia masih tercipta dari bahan sintetis, aku bisa merasakan kehangatan yang melekat ditubuhku. Sungguh aneh... Tapi... Ini bukan mimpi...

Kulepaskan sejenak pelukanku dan mengangkat dagunya agar wajahnya itu menatapku. Aku tersenyum lembut.

Kulihat ada semburat kemerahan yang terlukis dipipinya. Satu kata untuknya. Sempurna.

"Mulai sekarang, kau akan hidup bersamaku... Dan jangan pernah menganggap dirimu ini boneka lagi... Jangan pernah sekali-kali kau menganggap dirimu akan dibuang jika aku sudah bosan... Dan tidak ada kata-kata 'bosan' , 'tidak suka' , dan lain-lain yang negative untuk semua ciptaan tanganku... Apa lagi yang seindah kau, Labrador..."

"..."

Tak ada jawaban dari yang bersangkutan. Ia hanya terpaku melihat kearah mataku sambil meremas baju lengan panjangku.

"Dan... Satu lagi..."

"A...Apa itu ?"

Aku tidak percaya. Dia menjawabnya ! Aku yakin, ekspresiku sudah seperti ini - ' XD ' karena kegirangan. Tidak, aku harus stay cool dihadapannya.

Aku kembali serius dengan perkataanku.

"Kau mau berjanji padaku ?"

"Eh ? Janji apa itu, tuan ?"

"Jangan panggil tuan... Namaku Castor..."

"B..Baik... Castor-san..."

Aku kembali tersenyum sambil menatap matanya dalam-dalam.

"Jangan pernah tinggalkan aku..."

"..."

"..."

Hening.

Dia hanya dengan polos menatapku dan memasang ekspresi 'apa-maksudmu ?'.

"A..Akh... Maaf... Yah, begitulah... Kau mengerti, kan ?"

Aku mulai gugup dihadapannya.

Akibat dari itu, aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tak gatal sambil mengacak rambutku pelan.

"Jadi... Kau melamarku ?"

Jawaban polos disertai wajah lugunya itu membuatku ingin... Tertawa. Sekuat tenaga kutahan tawa yang ingin keluar dari mulutku. Berusaha membuatnya tidak sakit hati dengan reaksiku dari jawaban yang ia berikan.

"Ugh...Pffftttt !"

Ternyata sebisa mungkin aku tahan, rasa ini tidak bisa ditahan.

Tubuhku sedikit bergetar dan tangan kananku menutup mulutku yang sudah tidak kuat menahan suara yang akan keluar.

"GYAHAHAHAHAHAAAA !"

"!"

"..."

Suara itu keluar begitu saja. Dan benar saja wajahnya terlihat... Agak kecewa. Mungkin dari reaksiku barusan, ia mungkin berfikir kalau aku akan menganggapnya aneh karena melamarnya. Dia kan laki-laki.

Hening.

Semuanya terdiam. Hanya suara jam dinding yang terdengar.

Kulihat dia menunduk dan melepaskan cengkramannya dari baju lengan panjangku lalu meremas celana jeansnya.

"Maaf... Aku tidak bermaksud begitu..."

"A..Akh.. Jangan dipikirkan... Yah, bisa jadi... Kasarnya begitulah... Aku tertawa bukan menanggapinya dengan negative... Aku hanya tidak tahan melihat wajah polosmu itu, Lab... Hahahaha..."

"Jadi benar kau melamarku, Castor-san ?"

"Ng... Gimana, ya ? Yah, dari ungkapanku barusan sih... Terdengar seperti itu..."

"Aku terima lamaranmu."

'Hooeeeee ? Serius ?'

Dalam pikiranku, sudah ada para cupid yang menebarkan kelopak bunga diatas kepalaku sambil terbang dengan riangnya kesana-kemari sambil berkata 'Congratulation ~ !' dengan suara khas mereka yang author tidak tau. =="'

"Ummm.. Ah.. tadi itu... sangat memalukan untukku... Lupakan saja, dan segera sarapan, ayo..."

"Memalukan ? Kenapa ?"

"Ng... karena kau tau perasaanku,Lab ! Ayo cepat kita sarapan.."

"Aku sudah tau, kok ! Sebelum aku hidup kau bilang, kalau aku hidup Castor-san akan jatuh cinta padaku..."

"Kau mendengarnya ?"

"Um... Tentu saja... Kau bicara dengan santainya tanpa rasa malu."

Dia begitu polos. Walaupun aku sangat suka dengan tingkahnya yang polos dan lucu. Tapi kata-kata barusan itu sedikit menyayat hatiku. 'Tanpa rasa malu'. Hiks... Mulutmu tajam juga ya, Lab...Hiks...

TBC