Tittle : I'm Only Your Puppet
Pairing : CasLab
Rating : T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Drama
Warning : AU, typo, BL , Sho-ai , Yaoi #lengkap#
"DON'T LIKE , DON'T READ"
Summary :
Aku... Hanya sebuah boneka yang sempat terlupakan. Bertahun-tahun, tak pernah tersentuh oleh apapun terkecuali debu-debu yang menempel pada tubuh pelastik ini. Andai saja,.. Tubuh kosong ini terisikan oleh nyawa... Aku pasti sudah menangis sekarang. Menangisi tubuhku yang tidak bertuan.
I'm Only Your Puppet
Sudah beberapa bulan semenjak kejadian itu... Dan semenjak aku tinggal bersamanya...
Aku pun mulai memahami perasaannya sedikit demi sedikit... Aku juga telah mengetahui apa yang ia butuhkan... Sama sepertiku... Ia juga butuh pendidikan... Entah kenapa, semua yang aku ajarkan kepadanya,.. Semuanya sudah ia kuasai... Aku tak tau ia belajar darimana... Untuk kecerdasan dia hampir sama sepertiku dalam waktu seminggu. Entah dia boneka yang jenius, atau aku yang berotak seperti boneka. Aku menghela nafas dengan berat. Berat menerima kenyataan pahit ini. 'Dia-lebih-pintar-dariku'.
Kubenamkan kepalaku kebantal yang sedang kupeluk ini. Sambil terbaring disofa dan sesekali melihat kearahnya.
Diluar, dan diterpa sinar mentari pagi yang cerah sambil menyirami tanaman kesayangannya dihalaman belakang.
Ting, tong ~ (?)
Suara bel rumahku berbunyi.
'Siapa sih yang dtang kerumahku dihari libur begini ?'
Dengan kesal, aku bangkit dari posisiku dan segera membukakan pintu.
Saat membukakan pintu, ternyata orang yang identik dengan warna madu ini tersenyum manis sambil menggandeng tangan adik laki-laki kesayangannya.
Sepupuku,... Konatsu dan adiknya Kuroyuri.
"Cas-kun... Aku mau menitipkan Kuroyuri sebentar disini, tidak apa-apa, kan ?"
Konatsu bertanya kepadaku seperti itu. Dari gerak geirknya sih aku tau, dia sedang terburu-buru.
"A..Anu... Boleh saja kok..."
Yah, aku menyetujuinya saja... Lagipula Kuroyuri adalah anak yang manis dan tidak rewel dan mungkin Lab bisa ikut membantu untuk menjaganya. Dia suka anak-anak.
Kuroyuri tersenyum kearahku sambil menenteng tas ransel yang tak ia kenakan itu.
"Cas-kun... Tak usah khawatir... Aku sudah membawakannya bekal makan siang... Aku usahakan akan menjemputnya sebelum makan malam ! Tolong jaga dia, ya !"
Dia meninggalkan kami dengan berlari tergesa-gesa.
Lalu kami bertatapan sebentar. Kuroyuri memperlihatkan senyum manisnya kembali.
"... Ayo masuk..."
Ajakku yang memecahkan suasana hening yang tidak jelas barusan. Ditatap anak kecil sambil tersenyum manis adalah scene horror untukku. (?)
Lalu, bocah manis berambut merah jambu itu pun mengikutiku memasuki rumahku yang cukup besar.
Lalu kami mendengar suara pintu yang tertutup.
Pintu menuju halaman belakang.
"Castor-san ? Darimana kau ? Ada tamu, kah ?"
Tanya Labrador dengan bertubi-tubi.
"Ng... Yeah... Begitulah... Ayo, Kuroyuri,.. Perkenalkan dirimu..."
Lalu anak kecil yang membuntutiku dari pintu depan rumahku ini membungkukan badannya dan tersenyum kembali kearah Lab.
"Aku Kuroyuri... Salam kenal... Nona"
.
.
.
.
.
Hening.
'Apa ? N...Nona ?'
Wajah Lab berubah seketika... Wajahnya... Menjadi horror... (?)
Wajah horrornya itu seperti wajah orang setengah terkejut dan terdapat banyak bayangan disekitar wajahnya... Author tidak tau bagaimana mengungkapkannya, karena jarang nonton film horror... =_="
"A...Anu Lab... Maaf... Dia masih anak kecil... Mungkin dia menilai itu dari wajahmu..."
Aku berusaha menenangkannya.
"..."
"..."
"..."
"L...Lucunyaaaaaa ~ !"
Lab berteriak kegirangan. Baru kali ini dia melihat anak-anak sungguhan. Lalu ia berlari kearah Kuroyuri sambil melambai-lambaikan tangannya dengan gemulainya (?) lalu memeluknya.
"Nona... Lepaskan aku..."
Suara imut Kuroyuri terdengar sangat menggemaskan.
"Tidak akaaann... Kamu lucu bangeeeett ~ !"
Ucap Lab yang kayak emak-emak belom punya anak, dan meluk anak orang. (?)
"Nona... Hentikan dong..."
Raut wajah Kuroyuri berubah menjadi dingin. Saat berubah, wajahku juga ikut berubah menjadi horror (?)
Lalu Lab hanya menggelengkan kepalanya menandakan ia masih mau memeluknya.
"Aku benci ini. Ini membuatku ENEGH." (?) *alay*
Perkataan alay (?) Kuroyuri pun berhasil membuat hati Labrador kretek-kretek (?). Ehem... Membuat Labrador patah hati maksudnya.
"..."
Labrador masih diam 1000 bahasa.
"Jadi, lepasin ya..."
Kuroyuri tersenyum manis kembali, dan pergi meninggalkannya.
"..."
"..."
Hening.
Tak ada yang memulai pembicaraan.
'Castor ~ ! Ayo semangati diaaa ~ !'
Ucap para cupid yang sempat hinggap dikepala Castor beberapa bulan yang lalu saat pertemuan pertamanya dengan Labrador yang sudah bernyawa.
"Ng... Anu..."
Aku mulai membuka pembicaraan... Aku tidak tau apa yang akan aku katakan padanya, tapi semoga saja dia bisa melupakan sifat bocah bermuka dua itu.
"Dia..."
Lab berbicara dengan suara pelan. Bahkan hampir tak terdengar olehku.
"Dia membenciku, ya ?"
Labrador menoleh kearahku dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya ia sedih sekali. Tapi wajahnya terlihat makin KAWAII ~ ! Lagi-lagi wajahku berubah menjadi seperti ini 'XD' lagi.
Tidak ! Aku harus stay cool dihadapannya.
Ku ubah ekspresiku menjadi seperti semula. Dan berusaha ber-aura seperti orang bijaksana (?).
"Lab... Dia tidak membencimu... Cara menyampaikan kasih sayang padamu,... Mungkin berbeda..."
Ucapku se-bijak dan se-keren mungkin sambil menggenggam tangannya erat. Aku yakin wajah tampanku ini sudah sangat perfect ! Pasti dipandangannya sudah ada bunga-bungan dan cahaya-cahaya aneh yang mengintari kami seperti dikomik Shoujo.
'Shoot ! Shoot ! Shoot !'
Seru para cupid yang masih numpang lewat dikepalaku sambil mengarahkan busur dan anak panah cintanya tepat kearah kami.
Kulihat wajahnya memerah sedikit-demi sedikit. Membuat tatapannya sedikit sendu akan rasa malu karena terus dipandang dan tangannya berada dalam genggamanku dan terus mencari celah dari mataku untuk menghindari kontak mata denganku.
Hanya satu yang aku pikirkan sekarang...
'Dia memang benar-benar uke...'
Gara-gara para cupid yang berlalu-lalang dikepalaku, aku jadi gugup pada saat momen indah dan unik seperti ini. (?)
'Diamlah kalian para tuyul terbang !'
Umpatku dalam hati karena tak kuasa menahan emosi.
"U-umm.. Castor-san ?"
Lab memecahkan keadaan hening barusan. Ya,... Aku dan dia hanya berdiam-diaman beberapa saat, karena aku yang harus berkomunikasi dengan makhluk yang sedang terbang kesana-kemari didalam pikiranku.
"Y..Ya ?"
Sungguh... Para tuyul terbang itu benar-benar membuatku gugup saat ini.
"Ada apa denganmu ? Kau terlihat gugup ?"
Ucapan Lab benar-benar mengenai sasaran. 'Ya, kau benar Lab... Aku gugup'.
Aku sangat ingin mengucapkannya. Tapi, apa ada seme yang berkata seperti itu didepan uke-nya ?! Dimanga-manga yaoi pun aku tidak pernah menemukannya ! Mungkin ada, tapi sangat jarang. Dan... Kebanyakan seme itu yang memiliki sifat bringas terhadap uke-nya... untung aku tidak seperti itu... 'Thanks God !'
Oke. Aku sudah mensyukuri segala yang aku dapat dalam diriku. Terutama sebagai seme. (?)
"Tuh kan, Cator-san melamun lagi..."
Lagi-lagi Lab menyadarkanku dari semua lamunanku.
"A... Anu... Maaf..."
Lagi-lagi aku menunjukkan ekspresi yang menunjukkan kalau aku gugup.
Saat ini, Lab hanya terdiam bingung dan memasang ekspresi yang sulit digambarkan,... Mungkin dia bermaksud untuk mengatakan hal ini kepadaku, 'Sumpah, Castor-san... Lu gak so-sweet banget !'.
Sangat terbayang ekspresinya saat mengatakan hal itu kepadaku. Sungguh miris kalau itu benar-benar terjadi...
"Oh, iya... Kuroyuri mana ?"
Tanya Lab yang sepertinya masih mau mendekati anak laki-laki bermuka dua itu.
"Apa kau tidak sakit hati diperlakukan seperti barusan ?"
Tanyaku dengan sangat hati-hati... Aku takut menyakiti perasaannya.
"Tidak. Sama sekali tidak, kok... Tadi aku cuma agak kaget, ternyata anak-anak begitu lucu, ya..."
Lab mengatakan hal itu dengan entengnya. Impossible. Kalau boleh jujur sih, aku tidak akan kuat tinggal se-atap sama bocah itu.
Bagaimana dengan keadaan Konatsu, ya ? Apa dia menderita setiap hari karena bocah ini ? Mungkin tidak... Tapi, kalau ia tidak menderita, itu tidak normal ! Apa ia memiliki tips-tips agar tidak sakit hati ?
Oke. Aku tau... Ini ngelantur.
Lalu kami melihat bocah berambut merah jambu itu, sedang duduk manis disofa sambil menonton acara TV kesukaannya. Avatar The Legend of A*ng.
"Aku ikutan nonton, ya ?"
Ucap Lab kepada bocah yang sedang terduduk sambil menonton kartun kesukaannya.
"Hm ? Nona ? Silakan aja... Ini kan, rumah nona..."
Ia berkata-kata seperti itu dengan wajah tak berdosa. Dan Labrador hanya bisa tersenyum.
Aku yang memandangi mereka dari jauh hanya bisa cemburu dengan kedekatan mereka. Sesekali aku menghela napas berat. Aku tau Lab sangat menyukai anak-anak... Yah, untungnya aku tidak memiliki adik...
Daripada memikirkan itu, aku lebih baik membuatkan sarapan untuk mereka dan diriku.
End of Castor POV
Labrador POV
Kami hanya terdiam sambil menonton kartun itu dengan seksama. (?)
Lalu sesekali memperhatikan para tokoh didalamnya yang sedang menggunakan elemen-elemen tertentu.
Terpancar diwajahku ekspresi kagum. Mengagumi orang yang membuat kartun ini. Mengapa mereka memiliki imajinasi begitu tinggi sehingga ada air yang melayang diudara.
Aku tak habis pikir dengan itu.
Lalu dari ekspresi Kuroyuri, dia hanya bisa konsentrasi dengan kartun kesukaannya itu. Nampaknya ia sangat menyukai kartun ini. Sesekali ia menahan teriakannya saat salah satu tokoh didalam kartun itu terkena serangan musuh.
Andaikan saja Kuroyuri itu adikku. Aku sangat senang, walaupun dia memiliki sifat buruk yang tidak terduga...
Saat aku melamunkan sesuatu yang tidka mungkin terjadi, Castor-san menepuk pundakku pelan sambil menyodorkan dua hot plate berisikan Tenderloin Steak.
"Arigatou,..."
Ucapku sambil tersenyum semanis mungkin. Aku sangat senang. Ini pertama kalinya aku dibuatkan sarapan oleh orang yang sangat berarti untukku.
Ia hanya bisa mengangguk dan kembali ke dapur untuk mengambil jatah sarapan untuknya.
"Nah, Kuro-chan... Apa kau sudah sarapan ?"
"Namaku Kuroyuri... Bukan Cyborg Kuro-chan..."
Anak ini benar-benar korban film kartun rupanya. Pikirku.
"A-ah... Maaf kalau begitu... Apa kau sudah sarapan ?"
"Belum."
"Ayo, sarapan dulu..."
Kuroyuri mengangguk setuju dan meninggalkan kartun kesayangannya yang sudah selesai dan digantikan acara lain dan ia segera menuju meja makan dengan aku yang membawa ke-dua hot plate.
Castor-san sedang merapikan meja makan yang akan kami gunakan untuk sarapan.
Kuroyuri langsung menempati tempat duduk disebelahku dan Castor-san berhadap-hadapan denganku.
"Itadaikimasu ~"
Ucap kami serentak dan langsung menyantap hidangan yang sudah disiapkan.
"Castor-san..."
"Hm ?"
"Ini..."
"Ng... Tidak enak, ya ?"
"Tidak kok... Ini... Enak banget... Makasih udah bikinin sarapan buat kami..."
"Hahaha... Tapi ini tidak se-enak masakanmu, Lab.."
"Hahaha... Tidak juga kok..."
Lalu aku melihat kearah Kuroyuri yang sedang kesulitan memotong daging.
"Mau kubantu ?"
Lalu aku memotong-motong daging yang ada dihot plate Kuroyuri agar memudahkannya untuk makan.
"Terimakasih, nona... Tapi, apa aku boleh bertanya ?"
"Hm ? Mau tanya apa ?"
Jawabku sambil tersenyum.
"Apa kau benar-benar perempuan ? Tapi dadamu rata seperti tripleks."
.
.
.
.
.
Aku dan Castor-san sama-sama terdiam.
Terutama aku, yang masih tidak percaya dengan apa yang ia katakan padaku.
"Ku...Kuroyuri, wajahnya memang cantik, tapi dia laki-laki..."
Castor-san memberinya penjelasan tentang genderku yang dari luar terlihat tidak jelas. (?)
TBC
