.
.
.
Previous Chapter :
"Kau yakin mengajakku kemari?" Tanya Baekhyun sembari menatap kawasan Lotte World yang sangat luas dengan berbagai macam wahana permainan itu. Sekilas Baekhyun melirik dan mendapati Chanyeol yang mengangguk pelan ke arahnya. "Ya, tentu saja aku yakin. Ayo bermain!"
.
.
.
有一个地方; There Is a Place
Chapter 2!
.
.
Chanyeol tanpa ragu langsung menarik tangan Baekhyun menuju roller coaster yang sebenarnya selalu menjadi tujuan pertama Chanyeol ketika mendatangi Lotte World. Mereka mengantri beberapa saat hingga akhirnya mereka mendapat giliran untuk naik. Sebelum ada yang menaiki dua kursi paling depan—Chanyeol sempat menyadari beberapa orang yang sepertinya menyukai andrenalin itu menatap dua kursi paling depan dengan tatapan mengincar—dengan segera Chanyeol menarik Baekhyun untuk duduk di kursi paling depan, tak sempat menangkap wajah Baekhyun yang menatap ragu ke arah kursi paling depan itu. Sebenarnya Baekhyun bisa saja menolak—bukan karena takut tapi ia tidak yakin karena ini pertama kalinya ia duduk di depan selama menaiki roller coaster, tetapi melihat wajah Chanyeol yang kelewat sumringah itu membuat Baekhyun mengurungkan niatnya untuk menolak tadi.
Tapi setelah bel dibunyikan dan roler coaster mulai maju, ternyata rasanya jauh lebih menantang dan mengasyikkan, membuat Baekhyun yang kini merasa senang setengah mati itu menyesal karena tidak pernah mencoba duduk di kursi depan saat bermain roller coaster. Yah, setidaknya untuk saat ini ia sudah mencoba, ditemani sang tetangga yang menjadi composer dan gitaris juga merangkap menjadi tutor gitar. Ya, ya.
Begitu roller coaster berhenti dan pagar dibuka, Baekhyun menuruni roller coaster terlebih dahulu dan diikuti Chanyeol. Chanyeol melangkah menuju tempat penitipan untuk mengambil snapback-nya—daritadi Chanyeol menggunakan snapback ngomong-ngomong—sedangkan Baekhyun berjalan keluar dahulu. Sembari menunggu Chanyeol, Baekhyun sempat membeli gula kapas yang dijual tepat di dekatnya—sebenarnya Baekhyun tahu ini kekanakan tapi Baekhyun pikir tak ada salahnya untuk jadi kekanakan sekali ini—dan kemudian memakannya dengan serius. Hanya dengan pikiran yang fokus pada gula kapasnya, Baekhyun tidak sadar jika Chanyeol sudah berada di depannya dan menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tak ada yang tahu jika inner Chanyeol berkata heboh atas betapa imutnya Baekhyun saat ini. Mulut belepotan gula kapas, rambut yang acak-acakkan dan mata bulatnya, astagaaa. Dalam hati Chanyeol diam-diam ingin memakan Baekhyun, kkk.
Membuang pikirannya jauh-jauh, tangan Chanyeol terulur untuk membenarkan tataan rambut Baekhyun, membuat Baekhyun yang tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan pada rambutnya itu mendongak. Wajah Baekhyun yang tertutupi gula kapas besar itu memunculkan semburat merah yang sangat tipis pada pipinya, dan dalam jarak yang kelewat dekat seperti ini, Baekhyun mencoba menikmati untuk menatap Chanyeol dari balik gula kapasnya.
Tubuh Chanyeol sedikit menjauh ketika dirinya merasa rambut Baekhyun sudah cukup rapi. Jiwa keisengannya yang sempat muncul itu membuatnya mencomot gula kapas milik Baekhyun banyak-banyak, kemudian memakannya sambil melangkah menjauh. Membuat Baekhyun yang baru tersadar itu meneriaki Chanyeol dari belakang. "Yah! Dasar manusia tidak modal!"
Kaki-kaki Baekhyun mulai berlari untuk mengejar Chanyeol, dan Chanyeol yang sedang berjalan santai itu tiba-tiba berhenti melangkah. Membuat tubuh Baekhyun sukses menabrak punggung Chanyeol, karena tidak bisa menghentikan larinya. Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun sambil memutar bola matanya malas. "Sebenarnya, Baek, kau jauh lebih tidak modal daripada aku."
Baekhyun yang merasa terpojok itu hanya mendengus pelan, memilih memakan gula kapasnya yang masih tersisa. Chanyeol berbaik hati menunggunya hingga selesai, dan kemudian Baekhyun membuang tangkai gula kapasnya pada tempat sampah yang tersedia. Merasa Baekhyun sduah selesai, Chanyeol tanpa banyak bicara merangkul bahu Baekhyun dan menyeretnya jalan.
Alih-alih merasa senang dengan perut yang tergelitik sesuatu dan rasa membuncah pada hatinya, Baekhyun menggumam pelan dengan wajah speechless-nya. "Hey, Chan, kalau kau merangkulku, aku jadi nampak SANGAT pendek."
Chanyeol tertawa, tapi nyatanya tetap tidak berniat untuk melepaskan rangkulannya, dan Baekhyun bersyukur akan hal itu.
Diam-diam Baekhyun merasa, betapa rangkulan hangat Chanyeol pada bahunya terasa sangat pas.
Mereka menghabiskan waktu dua setengah jam untuk memainkan banyak wahana, dan kini mereka berakhir di depan bianglala raksasa. Seharusnya mereka sudah langsung mengantri, tapi entah mengapa yang ini justru tidak. Dan penyebabnya hanyalah—
"—ini seperti anak kecil, Yeolll." Rengek Baekhyun dengan mencebikkan bibirnya kesal dan menggeleng arogan. Sedangkan Chanyeol yang berada di hadapannya mendengus kesal. "Ck, kau berlebihan bocah. Memang ada peraturan jika yang menaiki bianglala itu harus anak kecil, begitu?"
Kepala Baekhyun masing menggeleng dengan kuat dan yakin. Membuat Chanyeol menghembuskan nafasnya keras-keras, berusaha menyabarkan dirinya sendiri. "Ayolah, Baek, ini akan mengasyikkan. Lagipula bianglala itu cocok menjadi penutup setelah bermain semua permainan yang ada di sini. Dan ini adalah spot favoritku jika akan pulang dari Lotte Worlddd!"
"Setidaknya membawa pasangan, begitu." Gumam Baekhyun kemudian sambil mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, menatap bianglala yang berukuran raksasa itu. Chanyeol hanya bisa sweatdrop, tapi kemudian Chanyeol menarik paksa tangan Baekhyun, membuat Baekhyun berontak. Hanya saja kata-kata Chanyeol selanjutnya membuat Baekhyun sukses bungkam dengan bibir yang maju, alih-alih merasa jantungnya berdegup kencang. "Kalau begitu, hari ini kita sepasang kekasih yang akan naik bianglala."
Mereka berdua mengantri sedikit lama diakibatkan oleh beberapa faktor; ini adalah akhir pekan, banyak pengunjung, Baekhyun yang terlalu lama. Sampai akhirnya mereka mendapat giliran, dan Baekhyun menggumamkan kata sialan berkali-kali sembari memasuki salah satu tempat yang tersedia. Chanyeol yang mengikuti Baekhyun dari belakang hanya terkekeh diam-diam, kemudian duduk tepat di samping Baekhyun. Hingga akhirnya bianglala itu bergerak lambat-lambat, semakin lama semakin ke atas.
Mata Baekhyun menatap kagum ke arah pemandangan Seoul di waktu petang seperti ini. Lampu kerlap-kerlip kota berada di mana-mana, bahkan Baekhyun dapat melihat Namsan Tower dengan jarak yang cukup jauh. Baekhyun tersentak begitu saja dan kekagumannya pada kota Seoul langsung hancur, digantikan oleh jantungnya yang berdegup kencang ketika merasakan sebuah tangan melingkar manis di bagian pinggangnya. Saat Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol, saat itu pula gerakan bianglala berhenti dengan posisi mereka yang tepat di atas. Ini tidak direncanakan, kan?
Ya, mungkin tidak, karena Baekhyun sempat mendapati raut wajah Chanyeol yang nampak bingung. Hanya saja raut kebingungan Chanyeol itu hanya berlangsung sejenak, digantikan dengan senyum tipis milik Chanyeol. "Bianglala-nya berhenti, tapi lumayan juga melihat pemandangan kota Seoul dari sini lama-lama."
Sebuah gumaman pelan menjadi jawaban Baekhyun untuk perkataan Chanyeol, dan Baekhyun mengalihkan pandangannya lagi menuju pemandangan di sekitarnya. Diam-diam berusaha mati-matian untuk menetralkan detak jantungnya.
Jika Baekhyun tidak ingin menaiki bianglala dengan alasan bertele-tele sebelumnya, jawaban yang sebenarnya adalah karena ini. Hanya berdua dengan Chanyeol, dan itu membuat detak jantungnya berdegup cepat. Baekhyun tidak tahan dengan detak jantungnya yang menggila, tapi bukan berarti Baekhyun membenci degup jantungnya yang kelewat cepat itu. Hanya saja, Baekhyun tidak tahu bagaimana caranya untuk menikmati detak jantungnya.
"Tak kusangka kita akan berpisah keesokan harinya. Padahal kita sudah cukup akrab meski ini baru dua bulan." Gumam Chanyeol, dalam diam menghela nafas tanpa diketahui Baekhyun. Baekhyun mengangguk membenarkan, tetap mempertahankan pandangannya dengan pemandangan Seoul. "Kau pikir kita yang seperti anjing-kucing itu akrab, hah?"
"Itu kau yang memulai, bodoh." Ujar Chanyeol sebal, dan Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan kesalnya. "Hey, kalu saja kau tidak menyebalkan, aku tidak akan seperti itu." Geram Baekhyun.
Bola mata Chanyeol berputar malas, tapi kemudian matanya menjadi sendu. "Baekhyun, menurutmu... Apa saat aku kembali nanti kita akan bertemu lagi?"
Tubuh Baekhyun terasa melemas secara perlahan ketika memikirkan hari-harinya yang akan berlalu tanpa Chanyeol. Diam-diam Baekhyun merasa lupa sendiri bagaimana kehidupannya jika tanpa Chanyeol seperti dua bulan yang lalu. Mungkin jika dulu biasa saja, sekarang tidak lagi.
"Entahlah," Gumam Baekhyun, mencoba melirik ke manapun asal jangan ke mata Chanyeol. "Aku tidak tahu dan tidak terfikirkan sama sekali."
Mereka berdua terdiam sejenak. Rasa-rasanya, mereka tidak pernah secanggung ini sebelumnya. Tapi hanya dengan fakta bahwa Chanyeol akan pergi keesokan harinya, semua itu merubah segalanya. Hingga akhirnya suara Chanyeol terdengar lagi. "Kau harus menjadi sukses setelah lulu kuliah agar aku dapat mengenali keberadaanmu dan mendatangimu."
"Kalau memang tidak begitu penting, sebenarnya tidak apa-apa untuk tidak menemuiku." Ujar Baekhyun, menelan rasa sakitnya bulat-bulat saat mengucapkan kalimat yang baru saja ia lontarkan beberapa detik lalu. Tapi jawaban Chanyeol membuat Baekhyun sempat tertegun di tengah-tengah rasa sakitnya. "Bagiku... Kau penting untukku."
Belum sempat Baekhyun memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk menjawab Chanyeol, Chanyeol lagi-lagi sudah berucap dulu. "Hey, Baekhyun-ah."
Mulut Baekhyun diam-diam bergetar ketika mencoba membuka dan mengeluarkan suaranya. "Apa?"
Chanyeol diam beberapa detik, hingga bianglala mulai berjalan lagi dengan sangat lambat, suara Chanyeol terdengar. "Aku—jangan melupakan saat ini dan aku." (...bukan ini yang seharusnya kukatakan, dasar Park Chanyeol bodoh!—shit, aku mencintaimu.)
Sebuah senyuman tersungging di bibir Baekhyun. Alih-alih senyuman bodoh, senyuman itu justru terlihat menyakitkan untuk Baekhyun. Bersamaan dengan Baekhyun yang menjawab iya dan memalingkan wajahnya, kemudian Baekhyun menyadari bahwa setetes air mata jatuh ke pipinya. Tetes air mata yang tidak bisa menjelaskan situasi mereka.
Dan Baekhyun tidak menyadari sama sekali jika sosok di sebelahnya itu juga sama keadaannya dengan Baekhyun; tetesan air matanya.
.
"I can see both of your eyes, gazing in the sky
Empty street, silent hug... A quiet love is burning—"
吴亦凡,有一个地方
.
Keheningan itu tercipta sampai mereka berada di bawah dan pintu bianglala terbuka.
Bahkan petugas yang bertugas membuka pintu bianglala itu mulai berpikir Baekhyun yang manis menyatakan perasaannya pada namja tampan di sebelahnya, lalu ditolak. Padahal sebenarnya petugas itu tidak menyadari jika pipi Chanyeol sama basahnya dengan Baekhyun.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan perasaan yang berangsur-angsur menenang, hingga mata Chanyeol menangkap sebuah kursi panjang yang masih berada di dalam kawasan Lotte World ini. Memikirkan sesuatu, tangan Chanyeol merambat ke tangan Baekhyun dan menariknya ke arah kursi tersebut. Sedangkan Baekhyun yang ditarik begitu saja tersentak kaget, hampir berteriak. "Yah! Astaga Chanyeol, mau apa lagi?"
"Diam dan ikut sajaaa." Ujar Chanyeol, antara geram dan merengek. Baekhyun yang mendengar itu memutar bola matanya sebal dengan menggerutu. "Dasar, perintah sana-sini."
Gerutuan Baekhyun yang sialnya—disengaja sebenarnya—kelewat keras itu membuat Chanyeol melirik sinis ke arah Baekhyun, dan berakhir dengan menarik telinga Baekhyun sambil menyeretnya lagi. Kemudian dengan teganya, kemudian Chanyeol menghempaskan tubuh Baekhyun ke kursi kayu itu, membuat suara menyelekit ketika punggung Baekhyun menubruk kursi. "Park Chanyeol sialan, ini sakit!"
"Tunggu di sini, bocah." Paksa Chanyeol, kemudian pergi meninggalkan Baekhyun begitu saja. Baekhyun yang diperlakukan seperti itu hanya mengeluarkan sumpah-serapahnya sembari membenarkan posisi duduknya. "Dasar raksasa itu, sudah membuat anak orang menangis, bukannya memperbaiki mood malah membuatku tambah kesal saja."
"Dia pikir dia siapa, huh?"
"Hanya karena aku jatuh ke dalam pesona bodoh nan idiotnya itu lalu dia semena-mena padaku—eh, dia belum tahu, ya."
"Argghh, pokoknya dia itu sialan."
"Kurang ajar, sekarang punggungku terasa semakin sakit, ck."
"Aish, telinga dan tanganku juga memerah, ini sakit, pfft. Park Chanyeol bodoh."
"Hey, kenapa telinga besar itu lama sekali? Dasar idiot—"
"—siapa yang idiot, Byun Baekhyun?" Sebuah suara menghentikan semua sumpah-serapah (menjurus ke monolog) dari Baekhyun, dan begitu Baekhyun menoleh, Baekhyun mendapati Chanyeol dengan es krim berasa strawberry di genggaman tangan kanan, juga es krim rasa vanilla di genggaman tangan kirinya. Baekhyun tersenyum miring. "Jangan pura-pura tidak tahu, kau memang idiot. Dan sejak kapan kau berdiri di sana?"
Kali ini ganti Chanyeol yang tersenyum miring. "Sejak, —hanya karena aku jatuh ke dalam pesona bodoh nan idiot—"
Mulut Baekhyun terbuka, kemudian tertutup lagi. Tergagap dengan wajah yang memanas (jangan memerah, please—doa seorang Byun Baekhyun). Tapi kemudian terdengar tawa dengan suara baritone yang khas. "Pesonaku memang menguar jelas sekali, ya kan? Sedari tadi banyak yeoja cantik melirikku, hohoho. Mungkin aku bisa mengencani salah satu dari mereka—"
"—bodoh." Komentar Baekhyun sambil mencebikkan bibirnya, tapi Chanyeol tidak peduli.
"Wajahku memang tampan, haha Park Chanyeol memang sempurna dengan segala kharismanya—"
"—idiot—"
"—semua orang memang sudah seharusnya jatuh di dalam pesona seorang Park Chanyeol—"
"—dasar gila—"
"—tapi kau jatuh dalam pesonaku—"
"—PARK CHANYEOL, BISAKAH AKU MENGAMBIL ES KRIM STRAWBERRY-NYA? SUDAH MULAI MELELEH DI TANGANMU. YA YA, ITU PASTI BUATKU KAN? TERIMA KASIH."
Chanyeol terekeh mendengar teriakan Baekhyun yang terdengar seperti mengalihkan pembicaraan (—ya memang). Tangan kanannya terulur, menyodorkan es krim strawberry yang hampir meleleh dan langsung disambar kasar oleh Baekhyun. Baru saja Baekhyun hendak menjilat es krimnya, tetapi Chanyeol menahan tangannya. Membuat Baekhyun mendengus tanpa sadar ketika tak bisa menjangkau makanan favoritnya lagi. "Aish, apa maumu Park? Kau mengganggu acara makankuuu."
"Beri aku waktu satu menit untuk mengambil foto denganmu, oke? Jangan protes, ini kenang-kenangan." Paksa Chanyeol sembari mengeluarkan polaroid yang entah sejak kapan ia bawa. Baekhyun mendengus, tetapi tetap menurut untuk berpose.
Satu foto, menjadi belasan, kemudian puluhan.
Mereka terlalu menikmati untuk berpose dengan es krim sampai akhirnya Baekhyun berteriak panik saat merasa tangannya dibasahi es krim yang hampir mencair. Karena tidak ingin Baekhyun terlihat menyedihkan jika nanti kehilangan es krimnya (—sebenarnya Chanyeol hanya merasa sayang pada uangnya jika terbuang begitu saja) Chanyeol menghentikan kegiatan foto-fotonya, dan mengijinkan Baekhyun memakan es krimnya.
Langsung saja tanpa basa-basi Baekhyun langsung meraup es krimnya dengan ganas dan beringas. Seperti anak kecil. Chanyeol yang melihatnya hanya tersenyum kecil tanpa sadar dan mulai menikmati es krim miliknya sendiri.
Hanya butuh beberapa menit saja hingga es krim mereka habis tak bersisa. Nampak bibir Baekhyun yang belepotan es krim, diam-diam terlihat menggoda bagi Chanyeol. Chanyeol berpikir untuk mengulurkan tangannya atau malah mungkin mencium bibir Baekhyun untuk menghapus sisa-sisa es krim di bibir Baekhyun, tapi kemudian ia memikirkan hal lain.
"Dasar bocah."
"Apa?" Tanya Baekhyun, yang sepertinya memang tidak sadar jika wajahnya belepotan es krim.
"Mulutmu belepotan es krim."
"Lalu?" Tanya Baekhyun lagi, dan Chanyeol merasa ingin menggampar Baekhyun alih-alih menggampar dirinya secara mental. Diam-diam Chanyeol berpikir apakah Baekhyun selalu kehilngan otaknya setelah makan es krim. Ck, bagaimana bisa dia 22?
"Ya bersihkan, bodoh! Menjijikkan, tahu." (—cepatlah sebelum aku akan berakhir dengan menyerang bibirmu.)
Yang dibentak hanya ber-oh ria, kemudian mengangkat tangannya untuk mengelap bibirnya hingga bersih. Bibir Baekhyun memang jadi bersih, tapi muncul kendala lain. "Hey dobi, kau punya tissue?"
Chanyeol menggeleng sebagai jawaban, dan Baekhyun mengerutkan dahinya. "Masa aku harus menjilat ini?" Tanya Baekhyun, menyodorkan tangan kanannya yang tadi ia gunakan untuk mengelap bibirnya. Tangan yang kini belepotan es krim, ewh.
"Ya jilat saja, sana." Gumam Chanyeol tidak peduli sambil melirik Baekhyun malas. Pasalnya Chanyeol bukanlah orang rajin yang selalu sedia sapu tangan untuk jaga-jaga saat pacarnya membutuhkan (—toh dia tidak punya pacar) atau sekedar membawa tissue. Apalagi untuk berjalan mencarikan toko yang menjual tissue untuk Baekhyun, Chanyeol kelewat malas.
Sebuah seringai muncul di bibir Baekhyun. "Tapi nanti kau tergoda jika aku menjilatnya. Aku pasti terlihat sangat seksi."
Belum sempat Chanyeol membuka mulut untuk berbicara, Baekhyun sudah menjilati tangannya dengan gerakan super sensual dan membuat Chanyeol mengernyit. Antara tergoda, jijik, geli, pfft rasanya seperti komplikasi batin. Dan dengan begitu, tangan Chanyeol cepat-cepat terangkat untuk menggeplak kepala Baekhyun, membuat Baekhyun menghentikan perbuatannya lalu meringis sembari mengelus kepalanya. "Apa yang kau lakukan, bodoh? Ini sakiiit."
"Sebenarnya, Baek. Kau lebih idiot dariku." (—atau malah mungkin aku yang terlalu-sangat-kelewat idiot karena sudah tergoda olehmu.)
"Bilang saja kau tergoda..." Ujar Baekhyun, menaik-turunkan kedua alis matanya, kemudian tertawa nista sambil berjalan meninggalkan Chanyeol. Wajah Chanyeol diam-diam memerah sampai telinga ketika Baekhyun sudah berjalan meninggalkannya, dan Chanyeol menggerakkan kakinya untuk berlari menyusul Baekhyun. "Yah, dasar gila! Hey, tunggu aku pendek!"
.
"I think of the fabulous days,
because you are by my side—"
吴亦凡,有一个地方
.
Mata Chanyeol menatap menerawang ke arah jendela bus yang berada tepat di sampingnya. Menikmati pemandangan malam hari yang sebenarnya terlihat monoton sembari mendengarkan lagu Don't Look At Me Like That yang dinyanyikan oleh Juniel lewat earphone yang tersumpal rapi di telinganya. Kemudian tubuh Chanyeol sempat tersentak ketika merasakan sesuatu menindih bahunya.
Begitu menoleh, yang Chanyeol dapati adalah wajah damai nan manis Baekhyun yang sedang mengarungi alam mimpi itu dengan kepalanya yang tersender di bahu Chanyeol. Mungkin karena efek kelelahan bermain di Lotte World. Chanyeol sendiri diam-diam merasa heran bagaimana manusia semanis ini bisa menjadi semenyebalkan itu ketika dalam keadaan sadar.
Tatapan Chanyeol bergulir dari rambut, dahi, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir Baekhyun. Mungkin mengambil sebuah ciuman sebagai hadiah penutupan hari terakhirnya berada di Seoul tidak masalah, ya kan?
Maka dari itu, wajah Chanyeol bergerak senti demi senti mendekati wajah Baekhyun. Chanyeol bisa merasakan hembusan nafas tenang dari bibir Baekhyun yang terbuka sangat kecil itu. Lalu dengkuran halus yang menenangkan itu... dan di tengah-tengah Chanyeol yang terlena, Chanyeol baru menyadari jika bibirnya sukses menyentuh bibir Baekhyun. Melumatnya sangat lembut, mengusahakan tidak membuat Baekhyun terusik.
Tubuh Baekhyun sempat bergerak pelan, membuat Chanyeol menghentikan lumatan lembutnya dan hendak menjauhkan tubuhnya karena mungkin saja Baekhyun akan terbangun. Tapi ketika mata Baekhyun tak kunjung terbuka dan nafasnya tetap teratur, menandakan bahwa Baekhyun masih terlelap, membuat Chanyeol kembali menggerakkan bibirnya yang masih menempel di bibir Baekhyun itu.
Hingga beberapa detik demi detik terlalui dan tautan bibir itu terlepas. Chanyeol tersenyum; ciuman pertamanya milik Baekhyun.
Dan ia tahu, sangat tahu jika itu juga ciuman pertama bagi Baekhyun.
Menghela nafas, Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali ke jendela bus. Tidak tahu bagaimana wajah Baekhyun yang dulu diam-diam terasa seperti candu, kini justru merasa menyakitkan untuk dilihat. Dan tak lama kemudian, bus berhenti di sebuah halte dengan kondektur yang meneriakkan halte tujuan. Chanyeol mengguncang bahu Baekhyun sedikit keras hingga Baekhyun melenguh terbangun. Tak memberikan waktu untuk Baekhyun sadar sepenuhnya, Chanyeol dengan segera manarik tubuh Baekhyun untuk bangun dan menyeretnya jalan, keluar bus. Mengabaikan Baekhyun yang hampir terjungkal karena ditarik paksa.
Begitu mereka berdua sudah berada di luar bus, pintu bus itu pun menutup dan bus mulai melaju meninggalkan halte. Baekhyun menarik tangannya yang masih dipegang Chanyeol, menggunakan tangannya itu untuk mengusap matanya yang masih merasa mengantuk. Merasa sudah sadar sepenuhnya, dan Baekhyun tiba-tiba merasa aneh. "Hey, Chan."
Chanyeol menoleh dan Baekhyun mengerutkan alisnya. "Kau tidak baru saja menciumku, kan?"
Dan Chanyeol tersedak air liurnya sendiri.
.
.
.
TBC
.
.
.
Come back againnnnn~~
HEYHOO, GA BANYAK BACOT DI CHAP INIH
WANNA GIVE ME REVIEW?:)
Nb. Terima kasih yang sudah review, maaf nggak bisa nyebut satu-satu. Tapi review-reviewkalian selalu saya baca kok'-'
