.
.
Previous Chapter :
Chanyeol menoleh dan Baekhyun mengerutkan alisnya. "Kau tidak baru saja menciumku, kan?"
Dan Chanyeol tersedak air liurnya sendiri.
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
"Ap-apa? Untuk apa aku menciummu, hih." Elak Chanyeol dengan tergagap dan Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. "Oh, baiklah... Habisnya bibirku terasa lembab seperti telah dicium seseorang."
"Seperti kau tahu rasanya berciuman saja, hhh..." Gumaman yang antara bercanda dan gugup itu menjadi jawaban Chanyeol. Kemudian tangan Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun lagi dan menggandengnya masuk ke gedung apartemen. Yah, halte ini memang tepat di samping gedung apartemen yang ditempati Chanyeol dan noona Baekhyun, Byun Baekhee. Sampai suara gumaman yang tidak sampai di telinga Chanyeol itu keluar dari bibir Baekhyun. "Sudah berapa kali aku bergandengan dengan Chanyeol hari ini, ckck."
Tapi toh Baekhyun juga menikmatinya. Ketika sesuatu seperti sengatan itu menguar dari telapak tangan Chanyeol dan menyengat masuk ke dalam pori-pori telapak tangannya yang bersentuhan dengan telapak tangan Chanyeol, masuk hingga ke tulang sumsumnya sampai membuatnya gemetar.
Sengatan yang memabukkan.
Baru acara bergandengan tangan saja sudah se-hiperbolis itu, bagaimana jika mereka bercinta—eh? Ya Tuhan. Baekhyun dan segala kemesumannya...
Well, kata Baekhyun salahkan pada hormon masa remajanya yang menyalak-nyalak ganas. (—atau memang pada dasarnya dia yang mesum.)
Ah sudahlah. Dalam diam Baekhyun menampar dirinya secara mental. Pacaran saja belum, sudah memikirkan yang begitu-begitu. Dan ngomong-ngomong, heh, ini kenapa dia sudah berada di dalam apartemen Chanyeol?
"Hey, kenapa aku di sini?" Tanya Baekhyun linglung. Chanyeol tersenyum tipis dan melepaskan genggamannya pada Baekhyun setelah mereka sampai di ruang tengah. "Tunggu aku, oke?"
Sebelum Baekhyun membuka mulut untuk membalas perkataan Chanyeol, Chanyeol sudah melesat pergi begitu saja. Baekhyun mendengus kesal, mengingat bagaimana ia diperlakukan seenaknya oleh Chanyeol hari ini—mentang-mentang dia akan pergi ke London—dan sayangnya, Baekhyun justru tidak bisa marah karena hal itu.
Menunggu dengan rasa bosan dan lelah yang bercampur jadi satu, kemudian Baekhyun mendapati Chanyeol keluar dari pintu kamar dengan membawa sebuah tas gitar di tangannya. Kening Baekhyun berkerut bingung ketika Chanyeol menyodorkan tas gitar itu kepadanya. Kepala Baekhyun mendongak untuk menatap Chanyeol heran. "Apa ini?"
"Itu gitar." Jawab Chanyeol. Ya ya, singkat, padat dan jelas, sukses membuat Baekhyun hendak membenturkan kepalanya sendiri di dinding sebrang sana. "Aku tahu, bodoh. Tapi untuk apa?"
Beberapa detik Chanyeol terdiam dan tatapannya melembut, sedikit. "Bukalah."
Dengan wajah yang semakin mengkerut bingung, Baekhyun menerima sodoran tas gitar dari Chanyeol itu. Ia memangku tas gitar tersebut, dan membuka resleting tas gitar itu dengan perlahan. Dan kemdian tas gitar itu terbuka, dan Baekhyun hampir menjerit. Tentu saja ia tahu gitar ini.
"I-INI, GITAR FENDER?! APA INI PUNYAMU? HAH? HAH? JAWAB AKUUU." Teriak Baekhyun histeris. Ya ya, Baekhyun tahu Chanyeol kelewat sukses dan kaya, tapi ia tidak tahu bahwa kekayaan Chanyeol mampu menjangkau harga sebuah gitar fender yang harganya kelewat fantastis (dan sukses membuat Baekhyun hampir menangis karena pernah menginginkannya). Chanyeol mengangguk mantap. "Ya, milikku. Dan sekarang akan menjadi milikmu."
"HAH?!" Mata Baekhyun yang tadi sudah membulat kini semakin membulat, mulutnya menganga lebar. Hampir membuat Chanyeol merasa ilfeel seketika. "Iya, untukmu. Ayolah, Baek, jangan memasang wajah seperti itu. Kau terlihat lebih idiot daripada anjing peliharaanku, tahu."
Tak ada satu kata protes yang keluar dari bibir Baekhyun, dengan menurut Baekhyun berusaha mati-matian menahan ekspresinya untuk tidak terlihat kelewat bodoh. "Tapi, kenapa kau memberikan itu padaku? Dan, astaga, kau serius?"
Chanyeol mengangguk mantap. "Ya, tentu saja. Meskipun aku membeli itu dengan uangku hanya seperempat harga—sisanya lagi dari orang tuaku dan noona-ku yang aku sendiri juga bingung bisa sebaik itu—entah kenapa aku berpikiran untuk memberikan gitar itu padamu."
Bahkan Baekhyun tidak sadar air matanya sudah mengalir karena kelewat senang. Baekhyun tahu dirinya itu hiperbolis, tapi ia tidak peduli. Ia menyingkirkan tas gitar yang masih dipangkuannya dengan sedikit cepat, lalu menubruk Chanyeol dengan sebuah pelukan. Hampir mmebuat Chanyeol terjungkal, tapi untung saja Chanyeol masih dapat mempertahankan keseimbangannya. "Hey, Park Chanyeol."
"Ya?"
"Terima kasih." Gumam Baekhyun, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Chanyeol yang syukurnya masih dapat dijangkau—hampir saja Baekhyun hiperbolis lagi dengan kenyataan tubuhnya yang 'sepertinya' sudah bertambah tinggi, yay—membuat Chanyeol terkekeh pelan. "Iya, iya, sama-sama bocah. Tidak perlu sampai menangis begitu."
"Ish," Dengus Baekhyun, mencubit pinggang Chanyeol di tengah pelukannya, membuat Chanyeol memekik dramatis dan meringis kesakitan yang sayangnya tidak dipedulikan Baekhyun. "Itu harganya mahal sekali, kau tahu."
Sebuah gumaman menjadi jawaban Chanyeol untuk Baekhyun, membuat Baekhyun mendengus ketika reaksi Chanyeol itu kelewat santai. Beberapa saat kemudian, Baekhyun melepaskan pelukannya dengan senyuman lebar di wajahnya. "Terima kasih untuk sekali lagi, Yeol!"
"Hey, Baekhyun-ah." Panggil Chanyeol, tetap mengindahkan ucapan terima kasih Baekhyun dengan senyuman tipis. Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Hm?"
"Belajar gitar yang rajin selama tidak ada aku dan jadilah sukses, Baek. Kau juga bisa menyanyi, aku tahu suaramu sangat bagus. Jadilah terkenal dan aku akan berlari menemuimu." Chanyeol tersenyum lebar. "Aku memberikan gitar itu padamu karena aku ingin kau terkenal dengan menggunakan gitar itu."
Baekhyun mengangguk. "Baiklah, akan kuusahakan," Senyuman Baekhyun semakin lebar. "Demi dan untukmu. Agar suatu waktu nanti kau bisa berlari menemuiku, kkk."
Tangan Chanyeol terulur untuk merangkul bahu Baekhyun. "Pulanglah, Baek. Ini sudah malam."
"Arra," Ujar Baekhyun, mengangguk menyetujui. Ia menerima tas gitar yang barusan di ambil Chanyeol, kemudian melangkah ke pintu apartemen dengan tangan Chanyeol yang setia merangkulnya. Ketika sampai di depan apartemen Chanyeol, Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. "Jadi... sampai di sini saja?"
"Hmm..." Gumam Baekhyun, menoleh ke arah Chanyeol. Mereka sama-sama mempertahankan senyuman lebar mereka, tapi mereka juga sama-sama tidak bisa menyembunyikan pandangan sendu satu dengan yang lainnya. "Kurasa ini sudah waktunya kita untuk berpisah."
"Baek," Bisik Chanyeol. Baekhyun merasa air matanya seperti ingin mengalir lagi. Kemudian Chanyeol membuka mulutnya kembali. "Aku... aku—senang bisa mengenalmu, Baek. Aku menyukaimu sebagai dongsaeng dan temanku—"
Sebuah kecupan singkat di pipi Baekhyun menjadi sentuhan terakhir Chanyeol sebelum akhirnya Chanyeol melepas rangkulannya pada Baekhyun, dan berbalik untuk memasuki apartemennya sendiri.
"—meskipun kita bertengkar setiap hari."
Baekhyun pulang ke apartemen Baekhee noona dengan perasaan campur aduk malam itu.
Sedangkan Chanyeol, di balik pintu apartemennya mengusap wajahnya sebal. Berteriak keras-keras yang sayangnya tidak bisa didengar orang lain, tentu saja karena apartemen di gedung ini kedap suara.
"Park Chanyeol bodoh," Olok Chanyeol pada dirinya sendiri. Dengan sudut matanya yang terasa basah. "Apa susahnya mengatakan aku mencintaimu?!"
.
...the friend label is a label that I got to hate, a heartbreaking story...
The unsaid words that still remain, the story ended without even starting—
Amber, Luna, Krystal of f(x) ft. D.O of EXO-K, Goodbye Summer
.
"Noonaaaaaaaaaa." Panggil Baekhyun dengan bibir yang dikerucutkan. Ia meletakkan gitar fender yang masih dibungkus tas itu ke sembarang arah, lalu menghampiri noona-nya, Baekhee, yang sedang menonton televisi dengan tenang di sofa ruang tengah. Tak peduli waktu yang sudah larut. Baekhee yang merasa dipanggil oleh suara cempreng Baekhyun itu-pun menoleh, dan ia memelototkan matanya ketika melihat dongsaengnya dalam keadaan wajah berantakan, mengerikan. "Kau dongsaeng-ku, bukan sih?"
Bahkan Baekhee hampir tidak percaya kalau namja mungil di hadapannya itu Byun Baekhyun, dongsaengnya sendiri. Baekhyun mengerang frustasi sambil mendudukkan dirinya di samping Baekhee. Ia beranjak berganti posisi dengan tidur di sofa, menjadikan paha Baekhee sebagai bantal dan menenggelamkan wajahnya pada perut langsing Baekhee. Baekhee memutar bola matanya malas. "Byun Baekhyun dengan segala kemanjaannya... Pfft."
Tapi tangan Baekhee tetap terulur untuk mengusap puncak kepala Baekhyun. Karena biasanya hal itu bisa menenangkan dongsaengnya ketika sedang dilanda suatu masalah. "Ada apa lagi kali ini, Byun Baekhyun?"
"Baekhee noona," Rengek Baekhyun sambil menghela nafasnya lelah. "Apa kau pernah mencintai seseorang yang biasanya selalu bertengkar denganmu, tapi ketika orang yang kau cintai berubah sedikit lembut padamu, ternyata ada sebuah fakta jika orang yang kau cintai akan pergi?"
Alis Baekhee terangkat, heran. Tunggu dulu, Baekhyun jatuh cinta? Oh, dongsaeng-nya bisa jatuh cinta, toh. Kemudian ia berpikir sejenak, menanyakan dirinya sendiri dalam hati apakah ia pernah mengalami hal seperti yang diceritakan oleh Baekhyun. "Hmm, sepertinya pernah. Ketika sosok itu sudah sedikit lembut padaku, orang itu malah pindah sekolah. Yah, ini terjadi kalau tidak salah saat aku SMA dulu."
"Rasanya sakit sekali, aish noona aku harus bagaimana?" Geram Baekhyun, sebelah tangannya menepuk dadanya sendiri yang terasa sangat sesak, dan ia semakin menenggelamkan wajahnya pada perut Baekhee. Baekhee mengernyit saat merasakan basah pada bajunya dan merembes masuk membasahi perutnya. Baekhyun... tidak lagi menangis, kan?
Baekhee mendesah, ketika ia memang sadar sepenuhnya jika Baekhyun sedang menangis saat ini. Hah, rasanya sudah lama sekali dongsaengnya tidak menangis, hingga saat ini. Faktor utamanya adalah Baekhyun adalah seseorang yang kelewat ceria dan selalu kebal dengan segala ejekan maupun perkataan kasar. Lalu, siapa yang bisa membuat Baekhyun menangis seperti ini?"
"Memang siapa sih yang kau suka itu?" Tanya Baekhee santai, dan Baekhyun mendongak, menatap wajah Baekhee yang tersirat rasa penasaran di sana.
Baekhyun memajukan bibir bawahnya sambil bergumam pelan. "Park Chanyeol."
Mulut Baekhee sukses menganga lebar. "APA?"
Tutor gitar yang Baekhee rekomondasikan pada Baekhyun, sosok namja berumur dua puluh empat tahun, sukses, juga yang merangkap jadi tetangganya itu, sosok yang paling idiot dan gila—sejauh yang Baekhee kenal, dan dari beribu namja di dunia ini, Park Chanyeol yang disukai Baekhyun?
Cinta pertama Baekhyun, dong—karena Baekhyun memang tidak pernah memikirkan hal cinta meskipun itu bukan berarti jika dia buta akan cinta.
Dan sebenarnya, Chanyeol bisa dibilang beruntung tidak sih?
.
.
.
Suasana bandara hari ini sangat padat, padahal jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Chanyeol berjalan menuju kursi tunggu dengan tangan kanan yang memegang paspor dan tangan kiri yang setia menggeret koper besarnya. Penerbangan pesawat yang ia naiki pada pukul tujuh lebih lima belas menit. Masih terlalu lama, memang.
Sekilas, Chanyeol mendapati sebuah mesin kopi yang terdapat tepat di samping kursi tunggu yang tersedia. Chanyeol meletakkan koper di dekat kursi, kemudian beranjak mendekati mesin kopi tersebut. Well, meskipun musim panas, tidak masalah untuk minum kopi panas, bukan? Lagipula meskipun musim panas-pun, pagi hari selalu terasa sejuk.
Begitu mendapatkan kopi-nya, Chanyeol duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya tanpa tujuan. Bosan, hanya itulah yang ada di pikiran Chanyeol saat ini. Tapi kemudian rasa bosan Chanyeol sirna begitu saja saat mendengar suara Baekhyun yang memanggil namanya. Dan saat ia menoleh, ia mendapati Baekhyun yang sudah berdiri di dekatnya.
"Hai, Yeol."
"Oh, kau datang rupanya. Aku kan tidak pernah menyuruhmu untuk datang, tidak perlu repot-repot." Ujar Chanyeol sambil menghendikkan bahunya, lalu menyeruput kopi miliknya itu. Baekhyun memajukan bibir bawahnya sambil mendudukkan dirinya di samping Chanyeol. "Hanya ingin saja. Kupikir juga aku tidak menemukanmu di sini, tapi ternyata aku menemukanmu. Untung saja kau bilang kalau pesawatmu lepas landas pukul tujuh lebih, kalau tidak mungkin aku akan kesiangan dan menunggumu seperti orang bodoh."
Sebuah anggukan menjadi jawaban Chanyeol untuk Baekhyun. "Lalu, kau tidak kuliah? Ckck, kau itu sudah semester terakhir, Baek. Seharusnya kau makin rajin, bukannya membolos seperti ini."
Baekhyun mencebikkan bibirnya sambil memutar bola matanya. "Aish, aku tahu, aku tahu. Tapi kebetulan dosen hari ini tidak masuk, jadi ya untuk apa aku kuliah? Lalu aku hanya bermalas-malasan di sana, begitu? Masih jauh lebih baik di sini meskipun menguras kesabaranku daripada harus mati kebosanan di gedung universitas."
"Bagaimana bisa bersama denganku menguras kesabaranmu?" Gumam Chanyeol malas, dan Baekhyun berdecih. "Cih, kau pikir? Kita tidak pernah bisa akur barang sedetik-pun, tahu."
"Ya ya, terserah." Gumam Chanyeol lagi sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak mengingat bahwa waktu terus berjalan, dan waktu untuk mereka bersama bahkan bisa dihitung mundur saat ini. Baekhyun mengepalkan tangannya dalam diam tanpa diketahui Chanyeol, mencoba mencari kekuatan untuk dirinya sendiri. "Jadi... Kita benar-benar akan berpisah, bukan?"
Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol langsung menoleh ke arah Baekhyun yang kini sedang mengulum bibirnya sendiri. "Hey, Baek. Meskipun begitu kita masih bisa telepon internasional, video call, atau berkirim e-mail. Kau pasti berat melepaskanku untuk pergi ya, kkk."
"Dasar narsis," Gumam Baekhyun, berlagak ingin muntah. "Untuk apa berat melepaskanmu? Aku justru mungkin bersyukur kalau kau pergi lebih cepat."
Mata Chanyeol menatap langsung ke arah mata Baekhyun. "Matamu tidak bisa membohongiku, Baekhyun. Katakan saja kalau kau berat untuk melepaskanku."
Tubuh Baekhyun sedikit bergetar mendengar ucapan Chanyeol. Kepalan tangannya menguat tanpa sadar. Tapi untung saja Baekhyun bisa mengendalikan dirinya lagi dengan cepat. "Kau ingin sekali agar aku berat melepaskanmu ya? Atau kau ingin aku sekarang merengek-rengek kepadamu agar kau tidak pergi? Ck, yang benar saja."
"Kalau iya, kau mau apa?" Baekhyun menegang tiba-tiba atas ucapan Chanyeol, apalagi ketika Baekhyun tidak mendapati wajah Chanyeol yang santai seperti biasanya. Mungkin wajah Chanyeol sekarang masih tergolong santai, tapi tatapan matanya yang kelewat serius itu, bahkan membuat Baekhyun tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. "Hmm, kalau begitu—"
"Perhatian, untuk penumpang pesawat tujuan ke London dengan nomor penerbangan XX-xxx diharap segera memasuki pesawat sekarang juga."
"—ehm, well, Chanyeol. Sepertinya itu pesawatmu. Bukankah sudah waktumu untuk pergi. Kha, sebelum kau tertinggal pesawat." Ketika Baekhyun hendak saja mengeluarkan permohonannya agar Chanyeol tetap tinggal—sebenarnya Baekhyun juga tidak begitu yakin—kata-katanya berganti setelah terpotong oleh sebuah suara dari pengeras yang mengumumkan bahwa pesawat Chanyeol akan segera lepas landas. Tapi Chanyeol tak bergeming di tempatnya, dengan pikiran yang melayang-layang. Apa waktu memang berjalan secepat itu?
.
.
.
TBC
.
.
.
Hey, I'm comeback~
Plis jangan protes karena ini chap-nya agak pendekan huahua.
Sengaja sih, soalnya biar chapternya tu bisa sampe, yah, minimal lima chap gitu hohoho.
Soalnya juga utang-utang fanfic yang saya pending itu, saya kan pernah bilang kalau bakal ngelanjutin fanfic yang di pending setelah nyelesaiin fanfic ini, itu aja belum pada dikerjain sama sekali.
Dan, yah, ini bentar lagi liburan kan ya, jadi saya usahain bisa nyelesaiin fanfic yang di pending secepatnya~
Ugh, dan buat chap ini, makin absurd ya ga sih-_-
JADII, WANNA GIVE ME REVIEW?
