"Berhentilah bicara dan kita latihan," perintah Sasuke dengan nada dingin khasnya. Sakura hanya mengangguk pasrah. Denting gitar kembali berbunyi. Kali ini tidak dengan gaya akustik. Mereka memutuskan untuk menyanyikan lagu Maps dengan duet. Entah takdir atau memang kebetulan, suara mereka terdengar sangat menyatu. Seperti sudah disetel untuk saling melengkapi.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata memandang sinis kearah mereka.

"Awas kau gadis gulali, jika kau mendekati Sasuke, sama saja kau menyatakan perang denganku,"

.

.

.

.

.

Trouble Class, Trouble Love

.

.

.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story from Akemi Miharu

Rate : T+

Pairing : SasuSaku

Warning : AU, OCC, TYPO, GeJe, dls

.

.

.

.

Happy Reading ^_^

.

.

2

.

.

"Sakuraa…." Ino tiba-tiba masuk kedalam kelas yang sudah kosong karena bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Namun Ino meminta Sakura menemaninya piket kelas hari ini. Sehingga disana hanya ada Sakura yang sedang focus membaca sebuah novel. Ino sedikit berlari menghampiri gadis itu.

"Jangan beteriak Ino," Ino cuek saja mendengar omelan Sakura. Dengan semangat ia menyerahkan sebuah selembaran pada Sakura.

"Apa ini?" tanya Sakura heran sambil mengambil selembaran tersebut.

"Formulir untuk mengisi malam puncak bulan bahasa. Kau dan Sasuke bisa berduet, bukannkah kalian sudah sering latihan?" kata Ino tanpa dosa.

"Kau kira Sasuke akan mau? Dan jangan seenaknya memerintah"

"Kau kan bisa membujuknya. Dan aku tidak memerintah, hanya mengusulkan," ujar Ino santai sambil mengambil duduk dikursi Shino. Sakura hanya menatap sahabat pirangnya dengan dingin.

Brraakkk….

Sakura dan Ino menoleh kearah pintu, melihat Tenten tengah berdiri didepan pintu kelas mereka. Nafasnya terlihat memburu, sepertinya dia habis berlari jauh.

"Ada apa Tenten?" Sakura beranjak menghampiri Tenten yang terlihat kelelahan.

"Hinata… Naruto… Sasuke… dan yang lain… dibelakang sekolah…" ucap Tenten terbata, nafasnya masih belum mau bekerja sama untuk menjelaskan keadaan. Sakura terlihat bingung dengan kata-kata Tenten. Namun tidak dengan Ino. Matanya sedikit terbelalak mendengar informasi tersebut. Ia mempunyai firasat yang buruk, sangat buruk.

"Tch, jangan bilang mereka membuat ulah. Sakura, Tenten kita ke belakang sekolah," ujar Ino sambil berlari meninggalkan Sakura dan Tenten. Tak berapa lama Tenten menyusul Ino. Sakura yang tidak paham apa-apa hanya menurut dan segera berlari menyusul Tenten dan Ino yang telah berlari terlebih dahulu.

.

.

.

.

.

"Kau jangan coba-coba berani mengganggu Hinata lagi, atau aku akan menghabisimu," ujar Naruto dengan penuh emosi dan penekanan. Dipukulnya wajah seorang pemuda yang ada dihadapannya dengan membabi buta. Setelah merasa puas, Naruto meninggalkan pemuda yang kini tidak sadarkan diri itu begitu saja. Menghampiri Sasuke, Shikamaru dan Neji yang telah berhasil menumbangkan beberapa pemuda lain.

Iris biru langitnya menatap sosok gadis yang terduduk diam dibelakang Neji. Pemuda itu dapat mendengar isakan tangis disana. Menghampirinya dan membawa gadis itu dalam pelukannnya.

"Sudahlah Hinata-chan, semua baik-baik saja. Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Sudahlah, berhentilah menangis. Aku ada disini," tangan kekar Naruto membelai lembut rambut lavender Hinata. Perlahan-lahan isakan tangis Hinata mereda.

"Astagaa.. Apa yang kalian lakukan hah?" teriak Ino mendapati beberapa murid sekolah sebelah tergeletak ditanah, beberapa diantaranya terlihat tak sadarkan diri. Dipandanginya Sasuke, Shikamaru dan Neji secara bergantian. Sorot kesal terlihat diiris aquamarine-nya. Pandangannya tak sengaja melihat sosok Naruto yang sedang terduduk sambil memeluk seseorang.

"Hinata.." dengan bergegas Ino berlari menghampiri Naruto dan Hinata. Hinata yang semula memeluk erat Naruto, kini beralih memeluk sahabatnya itu.

Disisi lain Sakura nampak terkejut melihat pemandangan mengerikan didepannya. Dengan sedikit ragu dihampirinya Sasuke dan yang lain, melewati beberapa pamuda yang terdengar merintih kesakitan. Sementara Tenten sudah berada disamping Ino yang sedang menenangkan Hinata.

"Ada apa ini? Kenapa mereka bisa seperti itu," tanya Sakura entah pada siapa. Keempat pemuda itu hanya terdiam mendengar pertanyaan Sakura. "Dan kenapa Hinata menangis?" lanjutnya.

"Ceritanya panjang Sakura," Sasuke yang akhirnya angkat bicara. Sakura sedikit terkejut ketika menatap bungsu Uchiha itu. Pipi kiri Sasuke terlihat lebam, serta ada sedikit darah diujung bibirnya. Dengan sedikit bergetar, tangan Sakura menghapus darah segar yang masih tersisa diujung bibir itu.

"Sasuke.. Kau tidak apa-apa?" entah mengapa dada Sakura terasa sesak melihat keadaan pemuda itu. Matanya mulai berkaca-kaca, seperti ia merasakan rasa sakit yang dirasakan Sasuke. Ia tidak rela pemuda itu terluka.

Sasuke meletakkan sebelah tangannya dipucuk kepala Sakura, mengacak pelan rambut merah muda gadis itu. "Aku tidak apa-apa, tenanglah," ujar Sasuke dengan senyum yang sedikit dipaksakan, yang malah membuat ia sedikit meringis kesakitan.

"Kita kerumahku, kebetulan orang tuaku sedang berada diluar negeri. Luka kalian harus segera diobati. Jangan sampai pihak sekolah tahu, atau kita akan dapat masalah," ujar Ino sambil membantu Hinata berdiri. Sekilas Sakura bisa melihat baju Hinata sedikit terkoyak. Darah segar mengalir di lengan sebelah kirinya. Semua yang ada disana hanya mengangguk kemudian meninggalkan tempat itu. Sasuke menggandeng tangan Sakura erat, sedikit menyeret gadis itu untuk segera bergegas.

.

.

.

.

.

Di Rumah Ino

"Ittai~ pelan-pelan Ino," protes Shikamaru saat Ino membersihkan luka dilengan pemuda nanas itu.

"Tch, jika tahu ini sakit kenapa kalian berkelahi, baka. Kau sebagai ketua kelas seharusnya mencegah mereka, bukan malah ikut berkelahi. Bisa gawat jika pihak sekolah tahu," omel Ino sambil terus mengobati lengan Shikamaru, mengabaikan omelan pemuda itu yang sedari tadi meringis kesakitan.

"Jangan salahkan mereka Ino-chan, ini semua salahku. Andai saja aku mendengarkan Naruto-kun agar menunggu dia setelah latihan basket, pasti tidak akan terjadi seperti ini. Andai saja aku tidak memaksa pulang sendiri, andai saja…" ujar Hinata sambil menundukkan kepalanya, tak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Dengan lembut Naruto mengusap air mata yang kembali mengalir dipipi gadis itu, kemudian kembali memeluk Hinata. Berusaha menjadikan dirinya tumpuan bagi gadis lavender itu.

Ino hanya bisa menghela nafas berat. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Hinata terus menyalahkan dirinya sendiri. Yah memang benar Hinata ceroboh kali ini. Tapi bukan salahnya juga, seharusnya Naruto menunda latihan dan mengantar Hinata terlebih dahulu. 'Ash, aku tidak mengerti jalan pikiran laki-laki' batin Ino.

Sakura sedari tadi hanya terdiam. Kehidupan SMA-nya saat di Suna begitu damai. Memang ada pertengkaran antar murid disana, tapi tidak sampai terjadi perkelahian. Sehingga ia sedikit shock melihat teman-temannya berkelahi. Namun Sakura sadar, perkelahian kali ini bukan tanpa sebab. Dari cerita Hinata, Sakura tahu bahwa Naruto dan yang lain berkelahi karena berusaha melindungi dirinya yang hendak diperkosa oleh murid

sebelah. Setiap laki-laki pasti akan berusaha mati-matian untuk melindungi wanita yang dicintainya kan?

"Neji, sebaiknya bawa Hinata pulang. Biarkan dia beristirahat," ujar Ino sambil membereskan peralatan P3K-nya. Neji hanya mengangguk paham, kemudian membantu Hinata untuk berdiri.

"Aku ikut," ujar Naruto dengan nada khawatir. Ia ingin memastikan gadisnya sampai dengan selamat. Lagi-lagi Neji hanya mengangguk.

"Baiklah, aku juga harus pulang. Ino, jangan bilang pada kaa-san, bisa merepotkan kalau beliau tahu," Ino hanya mengangguk, mengerti permintaan Shikamaru. Tak lama Tenten menyusul pulang setelah pamit kepada Ino. Sekarang di rumah Ino masih tersisa Sakura dan Sasuke. Keduanya hanya duduk dalam diam.

"Kalau begitu aku juga akan pulang Ino," ujar Sakura seraya berdiri dari tempat duduknya. Ketika hendak beranjak, sebelah tangannya seperti tertahan. Sakura menoleh, mendapati Sasuke tengah memegang tangannya.

"Aku akan mengantarmu,"

"Tidak perlu Sasuke, rumahku dekat dari sini,"

"Dan rumahku berada persis didepan rumahmu. Jadi diamlah, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu,"

"Loh, memang rumah berwarna biru tua itu rumah Sasuke?" tanya Sakura dengan polosnya.

Sasuke memandang gadis dihadapannya dengan tatapan dingin. Sudah dua bulan gadis itu mengenal Sasuke, tapi nyatanya Sakura tidak tahu bahwa rumahnya tepat dihadapan rumah gadis itu. 'Dasar bodoh,' batin Sasuke kemudian berjalan terlebih dahulu meniggalkan Sakura yang masih terdiam.

"Ahh.. Tunggu Sasuke.." Sakura berlari mengejar Sasuke yang kini telah menghilang dibalik gerbang rumah Yamanaka.

Ino menepuk dahinya pelan melihat tingkah kedua makhluk berbeda jenis itu. "Sepertinya akan ada pasangan baru," guman Ino sambil menutup pintu rumahnya.

.

.

.

.

.

"Sasuke tunggu.." nafas Sakura sedikit tersengal ketika mengejar Sasuke. Sedengkan Sasuke terus saja berjalan tanpa menghiraukan teriakan Sakura.

"Cih, tunggu Sasu- aawwhh,"

Brrruuk..

Sasuke menoleh kebelakang mendengar suara tadi. Raut wajahnya berubah khawatit ketika mendapati Sakura terjatuh. Dengan bergegas, Sasuke menghampiri Sakura yang terduduk sambil memegang lututnya.

"Ck, kenapa kau ceroboh sakali? Biar aku lihat" omel Sasuke sambil memeriksa kaki Sakura.

"Jika bukan karena kau meninggalkanku, aku tidak akan berlari mengejarmu. Jika aku tidak berlari, aku tidak akan tersandung," gerutu Sakura. Sasuke hanya memandang Sakura yang kini tengah memasang raut kesal.

"Sudahlah, jangan memasang raut seperti itu. Naiklah," ujar Sauke sambil menghadapkan punggungnya pada Sakura.

"Ehh… Etto~ aku bisa berjalan sendiri, tak perlu bantuanmu. Toh rumahku sudah dekat,"

"Naik, atau ku tinggal kau disini," ancam Sasuke. Sakura menghela nafas pasrah. Dengan ragu naik kepunggung Sasuke, mengaitkan kedua lengannya di leher jenjang pemuda itu. Dapat ia rasakan wajahnya kini memanas, jantungnya berdetak melebihi batas normal. Sakura mampu menghirup aroma mint yang menguar dari tubuh pemuda itu. Mereka hanya berjalan dalam diam hingga tiba dirumah Sakura.

.

.

.

.

.

Hari itu kelas terasa sangat mencekam. Kakashi berdiri dengan tenang dihadapan semua muridnya, menyandarkan punggungnya pada meja guru.

"Kalian tahu kesalahan kalian? Terutama kalian, Naruto, Sasuke, Shikamaru, Neji," yang disebutkan namanya hanya diam, menatap senseinya dengan tatapan bosan dan dingin. Mereka yakin akan mendapat ceramah panjang dari sensei abu-abunya ini. Tapi lebih baik daripada mendapat omelan dari kepala sekolah mereka yang terkenal sadis. Mereka sama-sama bergidik ngeri membayangkan hal itu.

"Aku sudah tahu kelakukan kalian kemarin. Dan aku juga sudah tahu tentang apa yang terjadi dengan Hyuga-san," Naruto terlihat menahan kesal mengingat apa yang terjadi pada kekasihnya kemarin. Untung saja dia mendengar jeritan minta tolong dari Hinata, jika tidak mungkin hal yang lebih buruk akan menimpa gadis itu. Tanpa sadar Naruto mengepalkan tangan kanannya.

"Tapi berkelahi bukan hal yang tepat untuk meyelesaikan masalah. Kau juga Shikamaru, seharusnya kau melerai dan menenangkan. Bukan malah ikut-ikutan" lanjut Kakashi. Shikamaru hanya mendecit kesal mendengar ceramah yang sama dengan ceramah Ino kemarin malam.

"Yaa~ tapi kalian berempat tangguh juga bisa mengalahkan delapan orang hanya dengan tangan kosong. Baiklah, kalian akan ku maafkan kali ini, aku juga sudah memberi penjelasan pada Tsunade-sama. Jadi kalian bisa sedikit bernafas sekarang. Oh ya, hari ini pelajaran bebas, gunakan waktu kalian sebaik mungkin," Kakashi kemudian meninggalkan murid-muridnya yang masih terdiam.

Setelah Kakashi menghilang, kelas mulai terlihat lebih santai. Shikamaru menguap, siap untuk tidur. Naruto terlihat mengecek ponselnya, berusaha menghubungi Hinata yang hari ini tidak masuk sekolah. Sedangkan Sasuke mulai memasang headphonenya, kemudian berjalan menghampiri Naruto yang masih terlihat khawatir. Murid yang lain tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, seperti tidak ada masalah yang terjadi.

"Untung saja Tsunade-sama tidak turun tangan," kata Ino sambil duduk di 'base camp' mereka, diikuti teman-temannya yang lain. Base camp? Dimana? Tentu saja bagian belakang kelas mereka. Sejak perayaan kecil-kecilan yang diadakan Naruto dengan sandwichnya, Ino dan yang lain sering berkumpul disana.

"Hah, nyaris saja. Naruto bukankah dulu saat tingkat satu kau juga pernah berurusan dengan anak sebelah?" tanya Tenten yang kini duduk disebelah Ino. Manatap pemuda yang sedari tadi hanya melamun.

"Benarkah? Ahh aku sudah lupa. Lagi pula kenapa Hinata-chan hari ini tidak masuk? Aku rindu padanya," ujar Naruto sambil memasang raut sedih plus khawatir. Sasuke, Neji dan Shikamaru memandang Naruto dengan tatapan geli serta prihatin.

"Sudahlah Naruto, Hinata sedang beristirahat sekarang. Mungkin besok atau lusa sudah masuk lagi," Sakura menepuk pelan pundak pemuda pirang itu. Naruto hanya tersenyum tipis mendengar nasihat itu. "Ohh ya, daripada kau bersedih, bagaimana jika aku dan Sasuke menyanyikan sebuah lagu untukmu. Sasuke, kau bawa gitarkan?"

"Hn," tanpa disuruh Sasuke melangkah menuju tempat duduknya, mengambil gitar miliknya. Kemudian kembali dan mengambil posisi disebelah Sakura.

Petikan gitar mulai terdengar, pelan namun pasti. Setelah memainkan intro, Sasuke menghentikan sebentar petikan gitarnya, membiarkan Sakura menyanyikan bagian awal tanpa iringan gitar. Sasuke kembali memetik gitarnya setelah lirik kedua. Pada bagian reff Sasuke mulai bergabung menanyikan lagu itu. Semua yang ada disana terpukau mendengar kolaborasi mereka, bertepuk tangan ketika alunan music berakhir.

"Bukankah aku sudah bilang, seharusnya kalian ikut menjadi pengisi acara di malam puncak bulan bahasa," kata Ino tiba-tiba setelah Sasuke dan Sakura selesai menyanyikan lagu yang berjudul Only Hope itu.

"Ino sudahlah," jawab Sakura malas.

"Shikamaru, kau kan ketua kelas. Masa tidak ada edaran tentang pengisi malam puncak bulan bahasa?" desak Ino, masih berusaha menjadikan Sakura dan Sasuke pengisi acara dimalam bulan bahasa. Shikamaru hanya menatap malas teman sejak kecilnya itu. Sedikit mengerti kenapa gadis Yamanaka itu ingin sekali Sakura dan Sasuke menjadi pengisi acara.

"Sepertinya ada, kalau tidak salah setiap kelas memang harus mengirim satu perwakilan untuk mengisi acara. Baiklah sudah diputuskan, kelas kita mengirim Sakura dan Sasuke untuk jadi pengisi acara," ujar Shikamaru dengan nada malas. Sedangkan Ino tersenyum puas mendengar keputusan teman nanasnya itu.

"Eeh… Kau tidak bisa memutuskan seenaknya Shikamaru. Kita harus melakukan voting terlebih dahulu, siapa tahu ada teman-teman yang ingin mengisi acara" protes Sakura.

Pemuda itu menatap Sakura dengan tatapan dingin. Kemudian Shikamaru berdiri setelah mendengar protes Sakura tadi. "Minna~ siapa yang setuju Sakura dan Sasuke menjadi perwakilan kelas kita dalam malam puncak bulan bahasa?" teriak Shikamaru.

Tanpa dikomando seluruh anggota kelas mengangkat tangan, sedangkan Sasuke hanya diam saja. Skak mat, 9 lawan 1. Sakura tidak dapat menolak perintah sang ketua. Mau tak mau ia harus mengisi acara pada malam bulan bahasa. Walaupun masih satu bulan lagi, tapi perlu waktu untuk menyiapkan semuanya. Belum lagi harus latihan bersama Sasuke. 'Tunggu, berarti aku akan lebih sering latihan bersama Sasuke?' batin Sakura. Perlahan semburat merah muda mulai menjalar dipipi Sakura.

"Aku mau kekamar mandi," ujar Sakura sambil beranjak meninggalkan teman-temannya yang kini memandangnya dengan tatapan heran. Ino hanya terkikik geli melihat tingkah Sakura.

.

.

.

.

.

"Cih, seenaknya saja menyuruhku dan Sasuke mengisi malam puncak bulan bahasa. Walau aku dan Sasuke sering berlatih, bukan berarti siap kapan saja kan. Aarrhh… Awass kau Shikamaru, dasar kepala nanas menyebalkan," Sakura mengacak asal rambutnya. Berusaha menghilangkan rasa frustasi yang tiba-tiba melanda dirinya.

Tanpa Sakura sadari, seseorang tengah memandangnya dengan tatapan sinis dari balik bilik toilet. Gadis itu terlihat mengepalkan sebelah tangannya, kemudian mengambil handphone yang berada disakunya. Dengan cepat jarinya mengetik e-mail entah untuk siapa.

"Wah.. Wah.. ternyata ada anak Sains Two disini," kata si gadis keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis itu memiliki rambut berwarna merah, memakai kaca mata berfreme kecil.

Sakura yang kaget karena mendapati dirinya tidak sendiri disana. 'Berarti dia mendengar semua kata-kataku,' batin Sakura.

Dengan tatapan sinis gadis itu menghampiri Sakura. Tak berapa lama seorang gadis lain masuk kedalam toilet. Gadis berambut merah tadi tersenyum melihat siapa yang datang.

"Kau lama sekali Konan," kata gadis berambut merah itu pada gadis yang baru saja datang.

Gadis yang dipanggil Konan hanya tersenyum. "Gomen, kau tahu sendiri sangat sulit meminta izin keluar dikelas Gay-sensei. Jadi ini gadis yang kau ceritakan Karin,"

Sakura yang merasa manjadi bahan pembicaraan hanya bisa terdiam. Menatap kedua gadis didepannya dengan tatapan heran. Sesaat Sakura ingat kedua gadis itu, mereka adalah murid Sains One. Kelas yang terkenal sangat elite karena berisi anak-anak pejabat dan pengusaha besar. Ia juga ingat bahwa Ino pernah mengatakan bahwa murid-murid Sains One adalah serigala berbulu domba. Dari luar mereka memang terlihat baik, tapi bagian dalam mereka sangat licik.

"Ya Konan, dan aku baru tahu bahwa dia dan Sasuke akan berduet mengisi malam puncak bulan acara satu bulan lagi. Cih berani sekali dia mendekati Sasuke, sampai-sampai merayu Sasuke agar mau berduet dengannya," Karin berusaha memanas-manasi Konan. Sakura terbelalak mendengar ucapan gadis itu yang nyatanya sangat jauh dari kenyataan.

"Hei, jaga mulutmu ya. Jangan berbicara seakan kau tahu semuanya," nada suara Sakura sudah naik satu oktaf, amarahnya mulai tersulut. Karin hanya tersenyum acuh.

"Ya memang aku tahu semuanya, termasuk ketika kau memaksa Sasuke untuk latihan ditaman," ujar Karin dengan nada mengejek.

Sakura menautkan kedua alisnya, iris emeraldnya melebar. 'Bagaimana dia bisa tahu aku sering berkatih ditaman bersama Sasuke,' batin Sakura.

Konan masih terdiam sambil menatap dingin gadis merah muda itu. Tak berapa lama, senyum lembut terpatri diwajah Konan. Sejenak Sakura merasa tenang karena tanggapan gadis itu tidak berlebihan, sehingga memungkinnya dia untuk memberi penjelasan. Dengan santai Konan menghampiri Sakura, mendekatkan wajahnya pada telinga Sakura.

"Harap diingat gulali, Sasuke-kun adalah milikku. Kau tidak pantas mendekatinya. Kali ini kau ku lepaskan. Jangan coba-coba menggoda Sasuke lagi, atau kau akan kubuat menyesal telah dilahirkan kedunia ini," bisik Konan dengan nada mengancam. Konan memundurkan wajahnya, memenadang wajah Sakura dengan senyum memikat. Ditepuknya pelan pipi Sakura dengan sebelah tangannya. Matanya menatap Karin, mengisyarakkan untuk segera kembali ke kelas. Kemudian mereka berdua beranjak meninggalkan Sakura yang masih kaget dan heran sendiri. Sekarang Sakura mengerti apa maksud serigala berbulu domba yang dikatakan Ino.

"Aarrgghh... Kami-sama, apa salahku?" lagi-lagi Sakura mengacak rambutnya frustasi. Satu masalah belum selesai, sekarang tambah masalah lagi.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N :

Ohayou lagi minna~

Lega akhirnya chap 2 selesai hohoho… buat yang review, follow, favs, serta silent readers tercinta, ARIGATOU MINNA~ (*pelukcium :* #larisebelumditimpuksandal)

Yosh~ sekarang saatnya bales review untuk yang gak sempet login ^-^b

Guest : ini sudah lanjutt.. semoga kamu suka :D

Guest : sadar atau tidak, nasib anda sama dengan saya hehehe :p

Miss. M : wah petirnya lagi dipakai Sasuke buat latihan chidori #plak. Ini sudah Akemi usahakan update cepat, tapi yg chap 3 gak bisa janji hehe ^-^V

Axwdgs : souka? Arigatou nee~ ini sudah lanjut kok, semoga gak terlalu lumutan hahaha ^-^V

Untuk yang login silahkan buka PM masing-masing ya… sekedar info, mungkin chap 3 akan telat updatenya. Akemi mau liburan dulu, merefres otak setelah UAS yang begitu panjang dan melelahkan. Sekalian mencari ide Akemi yang telah menguap gara-gara UAS. Hash~ merepotkan.. *Shikamarustyle

Oh yaa~ kalau tidak salah Azriel-san tanya mengapa mereka ada dikelas khusus? Kalau boleh jujur Akemi juga gak tau #plak #ditimpuksandal. Waahh ketauan kalau authornya: ABABIL. GAK PROFESIONAL. TERLALU JUJUR. Tapi mending jujurkan daripada buat readers penasaran. Peace ^-^V tapi (lagi) kemungkinan pertanyaan Azriel-san akan terjawab di chap 3 atau 4. Jadi ditunggu saja :D (nah lo beneran ababil kan #bunuhsajasaya)

Yosh~ silahkan direview chap kali ini, kritik, saran, pertanyaan Akemi terima dgn lapang dada hoho..

Sampai jumpa di chap selanjutnya… Jaa nee~ Adios~ Bye bye~ Sayonara~