"Harap diingat gulali, Sasuke-kun adalah milikku. Kau tidak pantas mendekatinya. Kali ini kau ku lepaskan. Jangan coba-coba menggoda Sasuke lagi, atau kau akan kubuat menyesal telah pindah kesini," bisik Konan dengan nada mengancam. Konan memundurkan wajahnya, memenadang wajah Sakura dengan senyum memikat. Ditepuknya pelan pipi Sakura dengan sebelah tangannya. Matanya menatap Karin, mengisyarakkan untuk segera kembali ke kelas. Kemudian mereka berdua beranjak meninggalkan Sakura yang masih kaget dan heran sendiri. Sekarang Sakura mengerti apa maksud serigala berbulu domba yang dikatakan Ino.
"Aarrgghh... Kami-sama, apa salahku?" lagi-lagi Sakura mengacak rambutnya frustrasi. Satu masalah belum selesai, sekarang tambah masalah lagi.
.
.
.
.
.
Trouble Class, Trouble Love
.
.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story from Akemi Miharu
Rate : T+
Pairing : SasuSaku
Warning : AU, OCC, TYPO, GeJe, dls
.
.
.
.
Happy Reading ^_^
.
.
3
.
.
"Kau kenapa Sakura?" tanya Ino khawatir. Wajah Sakura terlihat sedikit pucat setelah kembali dari kamar mandi.
"Arrghh.. Kenapa hidupku seperti ini Ino. Memang apa yang aku lakukan dimasa lalu sehingga Kami-sama mengutukku seperti ini," jerit Sakura frustasi membuat semua anak dikelas menoleh heran kearahnya, tak terkecuali Sasuke.
"Kau tidak sakit kan?" sebelah tangan Ino ditempelkannya pada dahi Sakura, berusaha mengecek suhu tubuh gadis itu. "Tidak panas. Astaga, jangan-jangan setan penunggu toilet merasukimu. Ayo keluarlah dari tubuh sahabatku, jangan ganggu dia," ujar Ino sambil mengguncang keras tubuh Sakura.
"Ino hentikan, tidak ada hantu yang merasukiku," seru Sakura dengan nada sebal. Ino segera menghentikan guncangan pada tubuh Sakura, kemudian menatap gadis itu heran.
"Lalu kenapa kau pucat? dan kenapa kau menjerit seperti itu?" selidik Ino.
"Sebenarnya tadi di toilet aku ber-" belum lagi Sakura selesai menyelesaikan kata-katanya, iris matanya menatap lurus kearah pintu kelas mereka. Disana berdiri seorang gadis berambut ungu muda dengan hiasan bunga mawar di sisi sebelah kiri. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan senyum manis terukir disana.
Ino yang merasa ada perubahan pada sikap Sakura, ikut menatap kearah pintu kelas. Dalam hitungan detik, Ino sudah bisa menebak hantu mana yang sedang hinggap dikepala Sakura.
"Araa~ jangan bilang kau bertemu dengan anak-anak Sains One?" Sakura hanya mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Ino.
"Gomenasai, aku mencari Sasuke," kata gadis itu dengan senyum lembut yang masih terpatri diwajahnya. Sasuke hanya menatap gadis itu malas, namun tetap saja menghampirinya. Gadis itu terlihat berbicara sebentar dengan Sasuke, kemudian mereka berdua meninggalkan kelas.
Sakura memandang kepergian Sasuke dengan sendu. Sakit, curiga, marah semua bergabung menjadi satu di hatinya. Dadanya terasa sangat sesak sekarang. Nafasnya juga terasa sangat berat.
"Jadi apa yang ratu mawar itu lakukan padamu Sakura?" tanya Ino to-the-point. Sakura hanya menggeleng pelan. Ia tidak ingin membahas itu sekarang. Ia ingin menenangkan hatinya yang entah kenapa terasa sakit.
.
.
.
.
.
Sejak pertemuan Sakura dengan Konan dan Karin, sifatnya sedikit berubah pada Sasuke. Gadis itu lebih banyak diam jika bersama Sasuke. Setelah latihanpun Sakura segera pamit pulang dengan alasan bermacam-macam. Padahal biasanya mereka menyempatkan untuk membeli ice cream atau ramen di kedai ichiraku. Sebisa mungkin menghabisakan waktu bersama.
Sasuke merasa aneh sendiri dengan perubahan Sakura. Sakura yang biasanya cerewet jika dihadapanya sekarang berubah pendiam. Sempat ia berfikir bahwa ia pernah berbuahalah pada Sakura. Dan sekarang ia berniat meminta penjelasan pada gadis musim semi itu.
"Ino, mana Sakura?" Ino yang sedang membaca buku sedikit kaget melihat Sasuke tengah berdiri disampingnya. Ditatapnya pemuda itu dengan sorot ingin tahu.
"Memang ada apa kau mencarinya?" tanya Ino dengan nada menyelidik.
Sasuke menghela nafas berat, kesal dengan sikap Ino yang seperti detektif. "Jawab saja," ujar Sasuke dingin.
Ino tersenyum geli melihat sikap Sasuke yang berubah tidak sabaran. Apalagi jika itu menyangkut Sakura. "Tadi sih pamit ke UKS, tapi belum kembali sampai sekarang,"
Sasuke tiba-tiba saja berlari meninggalkan kelas setelah mendengar jawaban Ino. Seisi kelas menatap bungsu Uchiha itu dengan heran. Naruto yang sedari tadi bercanda dengan Hinata menoleh kearah Ino. Menaikkan sebelah alisnya untuk meminta penjelasan pada gadis Yamanaka itu. Sedangkan Ino hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
.
.
.
.
.
"Kau sudah diperingatkan untuk tidak mengganggu Sasuke kan? Kenapa kau masih saja menggodanya? Kau cari mati," ujar Karin dengan nada mengancam dan mengintimidasi. Sedangkan Konan berdiri tak jauh dari sana.
Sakura terlihat sedikit jengah diperlakukan seperti itu. Dia hendak kembali ke kelas setelah dari UKS, saat Karin menarik tangannya. Menyeret gadis itu kebelakang gedung olahraga. Dan ternyata disana Karin menghakiminya, memarahinya habis-habisan karena masih sering berlatih dengan Sasuke.
'Ah, aku benci hidup ini,' batin Sakura sambil menatap malas Karin yang masih saja memarahinya.
'Tunggu, kenapa Karin yang memarahiku? Bukankah Konan yang suka pada Sasuke?' batin Sakura. Dialaihkan iris emeraldnya pada gadis mawar yang berada di belakang Karin. Konan hanya diam saja seperti patung. Wajahnya datar-datar saja. Tapi dari sorot matanya, Sakura tahu bahwa Konan merasa bosan, tidak suka, dan...
Jengah.
Jengah pada apa? Sakura tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Konan. Sorot mata Konan kini terlihat lelah. Sakura merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Sakura merasa bahwa Konan tidak pernah marah atau dendam padanya. Setiap bertemu dengannya pun, Konan tidak pernah melayangkan tatapan benci padanya.
Lain halnya dengan Karin. Gadis itu selalu sinis jika bertemu dengan Sakura. Selalu menatap Sakura dengan pandangan yang tidak mengenakkan. 'Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua?' lagi-lagi muncul pertanyaan di hati Sakura.
"Karin, sudahlah. Aku sudah bosan. Kita kembali ke kelas," ucap Konan. Karin menoleh dan menatap heran. Tapi tetap mengikuti perintah Konan untuk kembali ke kelas.
Karin berjalan mendahului Konan, meninggalkan Sakura yang kini terduduk lemas. Sejenak Konan memandang Sakura, kemudian menyusul Karin yang telah berjalan mendahuluinya.
Sakura terpaku dengan apa yang dilakukan Konan. Sakura dapat melihat jelas iris mata Konan. Iris mata yang mengisyaratkan permintaan maaf. Sakura tertegun sejenak, berusaha mengartikan pandangan tadi.
.
.
.
.
.
"Kau ada dimana Sakura?" gumam Sasuke sambil terus berlari. Iris onyxnya tak henti-henti mencari sosok merah muda yang begitu familier baginya.
Ketika Sasuke mecari ke ruang UKS, Sasuke tidak menemukan gadis itu disana. Kini Sasuke telah mencari ke sudut sekolah, namun ia tidak menemukan gadis itu dimana-mana.
"Sial," umpat Sasuke pelan. Merasa menemukan jalan buntu, Sasuke melangkahkan kakinya menuju lapangan sepakbola dekat gedung olahraga. Mendudukkan dirinya pada sebuah bangku disana. Pandangannya terlihat kosong.
"Tch, semua tempat sudah ku periksa. Perpus, kantin, aula, gedung olahra-" seketika iris Sasuke melabar. Menyadari bahwa dia belum memeriksa gedung olahraga. Dengan tergesa Sasuke bangkit dan berlari secepat yang ia bisa.
"Semoga dia ada disana,"
.
.
.
.
.
Sementara itu Sakura masih terduduk lemas. Sekarang kepalanya terasa sangat berat. Pandangannya kabur.
"Sakura.." teriak Sasuke ketika melihat Sakura terduduk bersandar pada dinding gedung olahraga. Wajah gadis itu nampak pucat.
Sakura menoleh, tersenyum tipis melihat siapa yang datang menghampirinya. "Sasuke," desis Sakura lirih.
"Bodoh, sedang apa kau disini?" omel Sasuke.
"Tidak sedang apa-apa. Kita kembali ke kelas, Kakashi-sensei pasti sudah berada dikelas," ujar Sakura sambil berusha berdiri. Namun apa daya, kepalanya benar-benar terasa berat sekarang. Kakinya terasa lemas, membuat tubuh kecilnya sedikit oleng. Kedua matanya memejam menyadari dirinya akan menghantam tanah.
Sakura mengeryitkan dahinya heran. Sejak kapan tanah berubah lembut dan hangat. Perlahan Sakura membuka kelopak matanya. Terkejut karena Sasuke menangkapnya. Kemudian dengan cepat Sasuke mengangkat tubuh Sakura, menggendongnya dengan bridal style.
"Aah.. Sasuke, apa yang kau lakukan?" ujar Sakura. Dapat ia rasakan pipinya berubah panas dan merah. Jantungnya kembali berdegup diluar batas normal. 'Oh Kami-sama,' batin Sakura.
"Jangan protes atau aku jatuhkan," ancam Sasuke. Sakura memajukan bibirnya serta sedikit menggembungkan kedua pipinya. Wajahnya terlihat kesal. Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah Sakura yang kekanak-kanakan. Ingin rasanya ia melumat bibir tipis Sakura, memeluknya kemudian membawanya keatas ranj- 'Ah, apa yang ku pikirkan,' batin Sasuke seraya menggelengkan kepalanya pelan, menjauhkan pikiran itu dari otaknya.
"Sasuke, kenapa kau bisa tahu aku disini?" tanya Sakura pelan.
"Karena kau gadis bodoh sehingga gampang saja menebak dimana dirimu," ujar Sasuke berbohong. Mana mungkin ia berkata bahwa ia telah berlari mengelilingi sekolah hanya untuk mencari gadis itu. Gadis yang entah sejak kapan terasa bagitu spesial di hati Sasuke. Lagi-lagi Sakura hanya bisa memajukan bibirnya kesal.
Kini matanya terasa sangat berat. Kepalanya terasa seperti dihantam oleh batu yang sangat besar, pusing. Tubuhnya tak kuat lagi menahan rasa sakit itu. Perlahan Sakura memejamkan matanya, berharap rasa sakit itu akan segera hilang.
.
.
.
.
.
"Sakura.." kata Ino dengan nada agak tinggi saat masuk ke ruang UKS. Ia khawatir karena mendapat informasi bahwa Sakura pingsan.
"Berisik," ujar Sasuke tajam.
Ino beralih menatap Sasuke heran. "Kenapa kau ada disini?"
"Bukan urusanmu," jawab Sasuke dingin. Tangan Ino mengepal keras. Jika saja ini bukan di sekolah pasti ia akan memukul Sasuke karena sifatnya itu. Sedangkan Sasuke hanya memasang majah inoncent-nya.
"Teme, ada apa dengan Sakura?" tanya Naruto berusaha mengalihkan pembicaraan. Bisa-bisa ruang UKS ini porak poranda jika gadis Yamanaka ini mengamuk.
"Sepertinya demam," jawab Sasuke sambil memandang Sakura. Wajahnya memang terlihat datar-datar saja, namun sorot kekhawatiran terpancar jelas diiris kelamnya.
Naruto dan Ino saling berpandangan, sama-sama tersenyum geli melihat tingkah Sasuke. Bungsu Uchiha ini memang tak pernah sadar dengan perasaannya sendiri. Ino menghela nafas pelan, emosinya sudah mulai turun.
"Baiklah, aku akan meminta ijin pada Kakashi-sensei agar kau bisa menemani Sakura disini." ujar Ino enteng sambil melangkahkan kaki meninggalkan ruang itu.
"Jaga dia, Teme. Seperti halnya aku menjaga Hinata-chan," Naruto memasang cengiran khasnya sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu, kemudian menyusul Ino menuju kelas mereka.
"Tanpa kau pintapun pasti aku akan menjaganya Dobe," ujar Sasuke lirih. Sasuke masih saja memandang Sakura. Mengamati setiap lekuk wajah gadis itu. Entah sejak kapan jantung Sasuke selalu berdegup kencang ketika memandang Sakura. Ada rasa yang berbeda setiap ia memandang gadis itu. Sasuke mengalihkan pandangannya keluar jendela, menerawang setiap kenangannya bersama Sakura.
"Sasuke.." igau Sakura pelan. Sasuke yang merasa namanya dipanggil menoleh. Sakura masih tertidur, namun bibirnya melafal nama pemuda itu. Pelan. Wajah Sasuke sedikit bersemu merah menyadari bahwa gadis merah muda itu menyebut namanya walau gadis itu tidak sadarkan diri. Senyum puas tersunging dibibir Sasuke. Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya. Dapat ia hirup aroma chery yang menguar dari gadis itu. Dengan lembut Sasuke melekatkan bibirnya pada bibir Sakura. Mencium gadis itu dengan penuh rasa sayang.
Tanpa ia sadari, seorang tengah memandang tajam kearahnya dari luar ruang UKS. Dengan wajah kesal orang itu meninggalkan ruang UKS dengan langkah cepat.
.
.
.
.
.
Dua hari kemudian...
"Ohayou minna~,"
"Sakura-chan, apa sudah sembuh? Kenapa masuk sekarang?" Hinata memandang khawatir gadis didepannya. Sedangakan Sakura hanya tersenyum seperti biasa.
"Aku sudah sembuh Hinata. Arigatou sudah perhatian padaku," ujar Sakura.
"Oi Teme, kau membawa gitar?" Sakura menoleh sebentar mendengar ucapan Naruto. Didepan kelas terlihat Sasuke tengah meletakkan gitarnya disebelah kursinya.
"Hn," jawab Sasuke singkat. Matanya beralih menatap Sakura, tersenyum tipis mengetahui gadis itu telah masuk kembali. Dengan langkah santai Sasuke menghampiri Sakura yang tengah duduk di bangku Chouji. Sebelah tangannya terulur menggapai pucuk kepala Sakura, mengacaknya sebentar. "Sepulang sekolah aku kerumahmu, kita latihan untuk malam puncak," ucap Sasuke kemudian pergi keluar kelas.
Sakura hanya mengangguk pelan. Sejak kejadian kemarin sikap Sasuke sedikit lebih hangat padanya. Sedangkan Ino menatap punggu Uchiha dengan tatapan tak percaya. Kemudian menatap Sakura dengan penuh tanya.
"Memang apa yang kalian lakukan saat berada di UKS? Jangan katakan bahwa salah satu dari kalian menyatakan cinta dan sekarang kalian sudah pacaran," kata Ino.
"Jangan membuat gosip Ino, tidak terjadi apa-apa denganku dan Sasuke," ucap Sakura
"Lalu kenapa dia bisa berubah hangat kepadamu? Sepertinya dia juga mulai tidak malu-malu menunjukkan perasaannya padamu,"
Sakura memutar bola matanya malas, "Kau tahu Ino, kadang aku merasa ada yang salah dengan matamu,"
Ino tersenyum geli, "Ya mungkin. Tapi kau tahu istingku tidak pernah salah. Seperti dulu ketika aku bilang pada Hinata bahwa Naruto menyukainya, dan ternyata itu benar kan,"
"Kenapa bawa-bawa aku Ino-chan," Hinata tertunduk malu mengingat kejadian itu.
"Hah, terserahlah. Tapi aku sendiri juga tidak tahu. Kemarin ketika aku sadar aku sudah berada di rumah. Ketika aku tanya pada kaa-san siapa yang mengantarku, beliau hanya tersenyum." ujar Sakura, menghela nafasnya berat.
Ino dan Hinata hanya manggut manggut saja mendengar cerita Sakura.
.
.
.
.
.
Hari itu berjalan seperti biasa bagi Sakura. Kelas Kurenai-sensei yang penuh dengan penjelasan, kelas Guy-sensei yang penuh dengan kata-kata mutiara, kelas Iruka-sensei yang menyenangkan serta kelas Kakashi-sensei yang lagi-lagi kosong, namun dengan tugas yang menumpuk siap mengajaknya begadang nanti malam.
Hati Sakura juga berbunga karena sifat Sasuke yang sekarang mulai menghangat padanya. Tidak lagi sedingin dulu. Tapi tentu saja hal itu hanya berlaku untuk Sakura. Jika dengan wanita lain sifat dinginnya benar-benar tak berubah.
Namun dilain pihak hatinya sedikit gelisah. Bagaimana jika Konan dan Karin (tarutama Karin) mengetahui perubahan sikap Sasuke padanya? Sakura tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
.
.
.
.
.
"Kau mau kemana Sakura?" tanya Ino ketika melihat Sakura beranjak dari tempat duduknya. Bel tanda istirahat kedua baru saja berdentang.
"Ke perpus, mencari bahan untuk tugas Kakashi-sensei,"
"Perlu ditemani Sakura-chan," tawar Hinata. Sakura menggeleng pelan, kemudian beranjak keluar kelas.
Ketika hendak berbelok menuju perpustakaan, tangan Sakura tiba-tiba saja ditarik oleh seseorang. Karin. Dengan kasar Karin menyeret Sakura, menuju belakang gedung olahraga.
Setelah tiba disana, dengan kasar Karin mendorong tubuh Sakura. Membuat punggung Sakura menghantam dinding dengan keras. Sakura meringis menahan sakit yang ia rasakan.
Plaakk...
Belum lagi hilang rasa kaget dan sakit yang ada dipunggung Sakura, kini ia merasa pipi kanannya panas. Karin menamparnya dengan keras. Menimbulkan bekas merah dipipi Sakura.
"Kau sudah ku peringatkan gulali, tapi nyatanya kau masih saja mendekati Sasuke. Sasuke milikku dan sekarang kau akan merasakan akibatnya karena tidak menuruti kata-kataku" teriak Karin.
"Sejak kapan Sasuke milikmu? Aku tidak pernah tahu bahwa Sasuke mau mempunyai kekasih yang kasar sepertimu. Dan bukankah Konan yang suka dengan Sasuke, tapi kenapa kau yang selalu marah padaku." ujar Sakura tak mampu lagi membendung amarahnya. Tangannya terkepal keras, dia sudah muak dengan tindakan Karin yang sudah terlampau kasar padanya.
Sementara itu Karin tersenyum sinis pada Sakura. "Konan? Hah, lupakan gadis itu. Dan ya, dia memang dulu menyukai Sasuke. Tapi tanpa ia tahu aku juga menyukai Sasuke. Siapa yang bisa menolak pesona pemuda itu, hah? Aku beri tahu sebuah rahasia kecil padamu, aku hanya memanfaatkannya saja. Membantunya dekat dengan Sasuke, agar dia bisa jadian dengan Sasuke. Dengan begitu aku bisa dengan mudah mendekati Sasuke dan merebutnya dari gadis bodoh itu,"
Sakura menatap tak percaya pada Karin. Teman macam apa itu? Tega sekali memanfaatkan teman sendiri untuk mendapat apa yang ia inginkan.
"Tapi semua rencanaku hancur ketika kau datang. Sasuke mulai menjauhi Konan. Dan nampaknya sekarang Konan juga mulai jatuh hati pada orang lain. Semua rencanaku gagal, dan kau harus bertenggung jawab atas semua ini," Karin berusaha menampar Sakura lagi, namun kali ini tangannya tertahan. Dengan kesal Karin menoleh kebelakang, bersiap memarahi orang yang berani menahannya. Namun niatnya luntur seketika setelah mengetahui siapa yang ada di belakangnya.
"Ko- Konan, sejak kapan kau ada disini?" tanya Karin. Konan hanya diam saja, namun cengkraman tangannya semakin erat.
Plaakk...
Sakura tertegun melihat Konan menampar Karin dengam kuat, bahkan lebih kuat daripada tamparan yang dilakukan Karin padanya. Karin meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang terasa perih.
"Apa yang kau lakukan Konan? Kenapa kau menamparku? Seharusnya kau menampar gadis gulali itu karena sudah merebut Sasuke darimu,"
Konan menatap Karin dengan pandangan muak. Gadis mawar itu sudah mengetahui kebenarannya, bahkan langsung dari mulut Karin sendiri. Tadi Konan melihat Karin menyeret Sakura dengan paksa. Karena penasaran, dia memutuskan untuk mengikuti mereka. Dan ternyata Kami-sama menunjukkan kebenaran pada dirinya.
"Jangan berlagak baik lagi Karin. Aku sudah mendengar kenyataan, bahkan langsung dari mulutmu sendiri. Kau hanya memanfaatkanku, heh? Berpura-pura baik dihadapanku, membantuku mendekati Sasuke. Kau memang musuh dalam selimut Karin. Apa artinya persahabatan kita selama ini?" amuk Konan. Sakura dapat melihat mata Konan mulai berkaca-kaca. Sedetik kemudian air mata meluncur mulus dipipi gadis mawar itu.
Sementara itu Karin tersenyum sinis. Tak ada gunanya lagi menutup-nutupi kebenaran. Toh Konan sudah terlanjur mengetahui semuanya. "Persahabatan? Selama ini aku hanya memanfaatkanmu. Kau memang benar-benar bodoh sehingga kau tidak pernah sadar."
Plaakk...
Tanpa sadar tangan Sakura menampar Karin. Gadis musim semi itu sudah benar-benar muak sekarang. Amarahnya sudah tidak dapat dibendung lagi. Bukan hanya sikap Karin yang begitu kasar padanya, tapi juga karena tindakan yang ia lakukan pada Konan.
"Kau sudah keterlaluan. Aku memang tidak mengenal kalian dengan baik, tapi bukan seperti itu cara memperlakukan teman. Apalagi sahabat yang selama ini sudah mempercayaimu. Terlebih lagi kau tega memanfaatkannya demi kepentinganmu sendiri." cerca Sakura, nada bicaranya sudah naik dua oktaf.
Dengan langkah pasti Sakura menghampiri Konan yang tertunduk diam. Meraih tangan gadis itu, berusaha menariknya pergi dari sana. Konan yang kaget menatap Sakura dengan tatapan heran. Sakura tersenyum tipis memandang Konan.
"Hentikan tangisanmu, tidak ada gunanya kau menangisi teman seperti dia. Bahkan aku ragu dia pantas disebut teman," ujar Sakura kembali menarik tangan Konan sebelum amarahnya terpancing lagi. Konan hanya mengangguk pasrah, mengikuti perintah Sakura. Meninggalkan Karin yang masih membatu.
.
.
.
.
.
Kini kedua gadis itu tengah duduk di salah satu bangku di taman sekolah mereka. Untuk beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam.
"Arigatou," ucap Konan pelan. Sakura tersenyum tulus mendengar kata-kata Konan.
"Dou itashimashite,"
"Gomenasai, selama ini aku berbuat kasar padamu Haruno-san," ucap Konan dengan penuh penyesalan.
"Panggil saja Sakura. Dan kau juga tidak perlu meminta maaf karena kau tidak salah Konan," Konan memandang Sakura dengan tatapan terima kasih.
"Ternyata tidak salah jika Sasuke menyukaimu, kau gadis yang baik Sakura" kata Konan sambil tersenyum.
"EEEHHH..." kata Sakura sedikit berteriak. 'Sasuke? Menyukaiku? Mana mungkin?' batin Sakura.
"Kenapa? Apa Sasuke belum menyatakan perasaannya padamu?" tanya Konan dengan polosnya. Sementara itu wajah Sakura mulai memerah.
"Etto~ dari mana kau tahu jika Sasuke menyukaiku?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Oh, sebenarnya beberapa waktu lalu aku menyatakan cintaku pada Sasuke. Yah tapi cintaku ditolak, dia berkata bahwa dia menyukai orang lain. Waktu itu kau tak sengaja lewat, Sasuke memandangmu dengan tatapan penuh damba. Aku bisa merasakan aura cinta darinya ketika dia menatapmu. Maka dari itu aku tahu bahwa orang yang disukainya adalah dirimu." jelas Konan.
"Souka? Tapi bagaimana denganmu Konan. Kau masih menyukai Sasuke?" Konan menggeleng pelan mendengar pertanyaan Sakura.
"Tenang saja. Sebenarnya aku sadar bahwa rasa sukaku pada Sasuke hanya sebatas rasa kagum. Aku menyatakan perasaanku hanya untuk memastikan saja, apakah Sasuke mempunyai rasa padaku. Tapi ternyata tidak. Lagi pula, beberapa bulan terakhir aku dekat dengan seseorang. Dan aku baru menyadari rasa cinta yang sebenarnya." Konan tersenyum memandang Sakura.
"Benarkah?"
"Ya, dan aku beri tahu satu rahasia. Aku baru saja jadian dengannya," ucap Konan sambil tersenyum ceria. Sakura merasa lega, sangat lega. Entah karena Konan tidak lagi sedih atau karena hal lain.
"Selamat Konan," ucap Sakura tulus. Konan mengangguk pelan. Sebelah tangannya memegang tangan Sakura.
"Kau harus berjuang mendapatkan cintamu Sakura, karena aku tahu kau juga menyukai Sasuke," ucap Konan.
"Mana mungkin aku menyukai pria dingin sepertinya," kata Sakura berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini mulai memerah. Konan tersenyum geli memandang sikap Sakura yang malu-malu.
Dilain tempat...
"Hacthiii..."
"Kau sakit Teme?" tanya Naruto.
"Tidak," jawab Sasuke singkat membuat Naruto menggeleng pasrah.
"Bagaimana? Apa kau sudah menyatakan cintamu pada Sakura?" tanya Naruto tiba-tiba, membuat Sasuke menyemburkan minuman yang sedang diminumnya. Yang sialnya mengenai Naruto yang duduk persis di depannya.
"BAKA TEMEEE... APA YANG KAU LAKUKAN?" amuk Naruto sambil membersihkan seragamnya yang basah.
"Gomen.. Gomen.. Salahmu sendiri bertanya seperti itu Dobe," ucap Sasuke dengan nada datar. Naruto menghela nafas pasrah, dia sedang dalam keadaan tidak mood untuk bertengkar.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaanmu Teme? Sakura gadis yang manis dan baik. Banyak laki-laki diluar sana yang pasti menyukai Sakura. Bagaimana jika ada yang mendahuluimu dan menyatakan cinta padanya?" kata Naruto. Sasuke menatap Naruto dingin. Tak berapa lama aura mematikan menguar dari tubuh Sasuke. Membuat Naruto menelan ludahnya.
"Akan kubunuh orang yang berani merebut Sakura dariku. Akan kubuat dia menyesal telah berurusan dengan Uchiha," kata Sasuke tajam.
Sementara itu Naruto bergidik ngeri mendengar kata-kata sahabat dark blue-nya itu. Naruto tidak bisa membayangkan jika benar ada pemuda lain yang mendekati Sakura. Naruto yakin nasib pemuda itu akan tamat. 'Semoga saja, tidak ada pemuda lain yang mendekati Sakura,' batin Naruto.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
A/N :
Ohayou minna~ pada kangen Akemi gak? *enggak
Hash, ya sudahlah kalo tidak ada yang kangen. Akemi menghilang saja dari bumi ini T-T.. Tapi sebelum menghilang akemi mau bales review dulu XD
Azizaanr-san : sesuai request, di chap ini ada kissingnya XD (gomem kalo tdk sesuai byangan T-T)
Azriel-san : Hehe.. Maap ya azriel-san *bow*
Hanazono Yuri-san : ini dah lanjuttt XD
Kazamatruri-san : Siaap ^-^\... Etto~ Akemi usahain ya hehe XD #plakk
Re-chan : jgn iri re, nanti akemi mnta Sasu buat colab ama re *senggolsasuke. arigatou re XD
Kazuran-san : ini dah lanjut ;))
Caesarpuspita-san : gak jahat kok hehehe ;)) buktinya ada di chap ini. yaa... mungkin chap ini sedikit hurt/comfort. Gomenasai T-T
Hayo hayo.. bagaimana kawan-kawan chap kali ini... maaf kalo di bagian awal fellnya gak terasa. Authornya habis dapet UAS dadakan #curcol
Ohh ya, Akemi minta tolong do'a ya. Soalnya kaa-san sedang sakit sekrang T-T semoga beliau lekas diberi kesembuhan... Amminn...
yosh~ silahkan di kritik, saran dan pertanyaannya...
Sampai jumpa di chap selanjutnya… Jaa nee~ Adios~ Bye bye~ Sayonara~
*boofftt #lemparbomasap
