"Sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaanmu Teme? Sakura gadis yang manis dan baik. Banyak laki-laki diluar sana yang pasti menyukai Sakura. Bagaimana jika ada yang mendahuluimu dan menyatakan cinta padanya?" kata Naruto. Sasuke menatap Naruto dingin. Tak berapa lama aura mematikan menguar dari tubuh Sasuke. Membuat Naruto menelan ludahnya.

"Akan kubunuh orang yang berani merebut Sakura dariku. Akan kubuat dia menyesal telah berurusan dengan Uchiha," kata Sasuke tajam.

Sementara itu Naruto bergidik ngeri mendengar kata-kata sahabat dark blue-nya itu. Naruto tidak bisa membayangkan jika benar ada pemuda lain yang mendekati Sakura. Naruto yakin nasib pemuda itu akan tamat. 'Semoga saja, tidak ada pemuda lain yang mendekati Sakura,' batin Naruto.

.

.

.

.

.

Trouble Class, Trouble Love

.

.

.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story from Akemi Miharu

Rate : T+

Pairing : SasuSaku

Warning : AU, OCC, TYPO, GeJe, dls

.

.

.

.

Happy Reading ^_^

.

.

4

.

.

"Kenapa suaramu jadi hancur begitu, hah?" omel Sasuke saat mereka latihan ditaman seperti biasa. Sakura hanya diam mendengar omelan pemuda itu. Malam puncak tinggal 2 minggu lagi, tapi persiapan belum juga matang. Bahkan mereka belum menentukan lagu mana yang akan di bawakan nanti.

'Hash, aku tidak mengerti jalan pikiran laki-laki. Sebentar hangat, sebentar dingin. Sebentar baik, sebentar jahat. Kami-sama kenapa aku bisa suka pada pemuda seperti ini. Ups- tunggu? Apa tadi aku bilang suka?' batin Sakura, tanpa sadar menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Sasuke menautkan alisnya, menatap Sakura bingung. Sejak pulang dengan Konan tadi siang, tingkah Sakura berubah aneh.

"Ehem.. Jadi lagu apa yang akan kita bawakan dalam acara malam puncak?" tanya Sakura, berusaha bersikap senormal mungkin. Mengabaikan pipinya yang sedikit merona.

"Terserah," jawab Sasuke singkat. Sakura memutar bola matanya malas. 'Hah, kumat lagi dinginnya,' batin Sakura.

"Only Hope," usul Sakura.

"Basi," jawab Sasuke datar.

"Maps?"

"Biasa,"

"All Off Me?"

"Bosan,"

"Aargh... Lalu apa maumu Uchiha?" seru Sakura frustasi. Semua judul lagu ditolak mentah-mentah oleh pemuda itu. Sasuke terkekeh geli melihat tingkah Sakura. Sementara Sakura mendelik tajam kearah Sasuke. "Jangan tertawa, baka," ucap Sakura sinis.

Sasuke mengulurkan tangannya mengacak rambut merah muda Sakura dengan gemas. Si pemilik hanya diam saja, namun pipinya menggembung tanda sebal.

Tak lama kemudian Sasuke mulai memetik gitarnya. Memainkan sebuah intro lagu yang belum terlalu familier ditelinga Sakura, membuat gadis itu mendengarkan dengan seksama. Mau tak mau akhirnya ia menatap Sasuke lagi, mengamati permainan pemuda itu.

Lagu tersebut terasa ringan dan santai, walau lagunya bertemakan romance. Sangat enak didengar karena lagu tersebut tidak mendayu-dayu seperti lagu cinta pada umumnya. Ditambah suara Sasuke yang memang enak didengar. Membuat Sakura menatap kagum pemuda disampingnya.

"Jangan memandangku seperti itu," ujar Sasuke diakhir lagunya.

"Cih, siapa juga yang memandangmu," Sakura membuang pandangannya kearah lain, berusaha menutupi pipinya yang mulai terasa panas.

Sasuke tersenyum tipis, mendapati semburat merah mulai muncul di pipi gadis itu. Ingin rasanya ia mencubit serta mencium pipi itu dengan gemas. 'Tahan Sasuke. Tahan. Jaga harga dirimu, Sasuke' batin pemuda itu berulang-ulang.

"Kita pakai lagu itu," putus Sasuke tiba-tiba. Sakura menoleh, memandang Sasuke tak percaya.

"Lama-lama kau mirip dengan Shikamaru, suka memutuskan sesuatu dengan seenaknya. Tak bisakah kau bicarakan dulu denganku sebelum kau memutuskan," gerutu Sakura. Sasuke mendelik tajam mendengar ucapan Sakura.

Tiba-tiba Sasuke mendorong Sakura, menghimpit tubuh gadis itu diantara pohon dan tubuh tegapnya. Sebelah tangannya ia ulurkan disamping kepala Sakura, membuat gadis itu terkurung.

Sasuke menatap Sakura dengan tatapan tajam, sementara itu Sakura menunduk serta menelan ludahnya berat, tak berani membalas tatapan Sasuke. Melihat gadis itu tak menatapnya, sebelah tangan Sasuke meraih ujung dagu Sakura, sedikit mengangkatnya membuat gadis itu kini menatap kearahnya. "Dengarkan aku baik-baik Sakura, aku tidak pernah mau dibandingkan dengan siapapun. Apalagi dengan pemuda Nara itu. Jadi jangan pernah membandingkan aku dengan pria manapun. Paham?"

Sakura mengangguk pelan, membuat catatan dalam hatinya agar tidak menyinggung pemuda itu lagi. Wajah Sasuke benar-benar menyeramkan jika dia sedang marah seperti ini. Perlahan-lahan Sasuke mendekatkan wajahnya, membuat jantung Sakura kini berdebar hebat. Jarak antara bibir mereka tinggal beberapa senti lagi.

"Wahh... Otouto, ternyata kau ada disini," Sasuke mendecit kesal kemudian menjauhkan tubuhnya dari Sakura. Membuat gadis itu sedikit lega, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bibirnya, bibir Sasuke. Aahh... Tapi tunggu, otouto?

"Sedang apa kau disini aniki?" tanya Sasuke tajam pada seseorang disana. 'Aniki? berarti laki-laki?' batin Sakura.

"Sedang berjalan-jalan, tak kusangka kau berada disini. Eeto~ siapa gadis cantik dibelakangmu itu Sasuke? Apa kau tidak berniat mengenalkan aniki-mu ini padanya?" Sasuke menghela nafas kesal, ditariknya tangan Sakura agar berdiri bersebelahan dengannya.

Kini Sakura dapat melihat sosok pemuda yang dipanggil 'aniki' oleh Sasuke. Rambut pemuda itu hitam kelam, berbeda dengan Sasuke yang biru kelam. Rambutnya pun model panjang dengan diikat dibagiaan ujungnya. Satu hal yang sama dari keduanya, sama-sama memiliki iris onyx yang memukau serta kulit putih pucat.

"Ini Haruno Sakura, dia adalah-"

"Wah otouto, ternyata kau pintar sekali memilih pacar. Ohayou Sakura-chan, aku Uchiha Itachi." kata Itachi tanpa menunggu Sasuke menyelesaikan kata-katanya. Ditariknya Sakura kearahnya, kemudian merangkul gadis itu dengan erat.

Sakura sedikit terkejut, namun hanya bisa tersenyum. Ternyata sang kakak sangat berbeda dari si adik. Sakura tidak menyangka bahwa sulung Uchiha ini lebih ramah dan hangat dari pada si adik. Dan pacar? 'Oh, aku belum menjadi pacar Sasuke, oniisan,' batin Sakura.

"Wah wajahmu merona imouto, kawaaii~," sebelah tangan Itachi mencubit gemas pipi Sakura. Sakura sedikit meringis karena cubitan yang dilakukan Itachi cukup keras.

"Oh ya, kapan-kapan mainlah ke rumah. Eh tunggu, sepertinya aku sering melihatmu. Rumahmu dimana Sakura-chan?"

"Etto~ sebenarnya rumahku berhadapan dengan rumah Itachi-nii," ucap Sakura malu-malu.

Itachi mengangguk pelan. Sesaat kemudian menyadari sesuatu. Itachi menoleh, menatap jail pada Sasuke yang sedari tadi hanya diam. "Araa~ pantas saja kau sering mengamati tetangga depan kita otouto. Ternyata ada bidadari cantik disana. Kenapa kau tidak pernah bilang pada aniki? Ah.. jangan-jangan kau takut bidadari ini akan jatuh ke pelukanku, dan bukannya kepelukanmu" ucap Itachi jail sambil mempererat rangkulannya pada Sakura.

Sasuke yang sedari tadi diam, kini menatap garang pemuda dihadapannya. 'Berani-beraninya dia mencubit pipi dan merangkul Sakura seenaknya. Bahkan aku belum pernah seperti itu pada Sakura. Dan apa? Kau memakai suffix -chan pada gadisku? Yang bahkan aku belum pernah menggunakan suffix itu. Kau mau mati sekarang, heh Itachi?' batin Sasuke.

Itachi yang mengerti betul sifat otoutonya hanya tersenyum melihat aura membunuh yang mulai keluar dari bungsu Uchiha itu. 'Jarang-jarang Sasuke mengeluarkan aura itu, berarti gadis ini memang berarti bagi Sasuke,' batin Itachi sambil manggut-manggut sendiri. Niat jahil untuk menggoda adik semata wayangnya ini semakin kuat.

"Itachi, lepaskan tanganmu dari Sakura. Dan perlu dicatat bahwa dia belum menjadi pacarku, jadi berhentilah bersikap seolah olah dia adik iparmu," ucap Sasuke tajam. Sakura kembali menatap ngeri Sasuke, berusaha melapaskan dirinya dari rangkulan Itachi. Namun apa daya, tangan Itachi memahannnya dengan kuat.

Itachi tersenyum geli. 'Araa~ sudah mulai memanggil nama. Berarti dia sudah benar-benar kesal, hahaha' batin Itachi.

"Araa~ jadi Sakura-chan bukan pacarmu. Berarti aku masih mempunyai kesempatan untuk mendekatinya. Sakura-chan, bagaimana kalau nanti kita makan malam? Aku dengar ada cafe baru disekitar sini."

"Itachi, ku bilang lepaskan Sakura," ucap Sasuke dalam. Pemuda itu benar-benar kesal sekarang.

"Kenapa kau begitu marah otouto? Kan kau sendiri yang bilang bahwa dia bukan pacarmu," ucap Itachi masih berusaha menggoda Sasuke. Sakura hanya terdiam, tubuhnya tiba-tiba meremang merasakan aura yang keluar dari tubuh Sasuke.

"BE-LUM, BUKANNYA 'BUKAN'. LEPASKAN DIA, ATAU AKU LAPOR PADA SHION JIKA KAU MENGGODA GADIS LAIN," ancam Sasuke dengan penuh penekanan.

Itachi mengernyit heran mendengar nama Shion disebut. "Hah, kenapa kau jadi cerewet sekali otouto? Baiklah.. Kau yang menang," ucap Itachi sambil melepaskan rangkulannya pada Sakura. Dengan sedikit keras, didorongnya tubuh gadis itu kearah Sasuke. Sakura sedikit oleng, namun dengan sigap Sasuke menangkap tubuh Sakura. Sehingga gadis itu tidak jatuh terjerembab ke tanah.

"Lanjutkan ciuman kalian yang tertunda tadi otouto. Sepulang nanti, ceritakan padaku bagaimana rasanya. Dan, senang bertemu denganmu adik ipar. Mainlah ke rumah jika kau sempat. Kaa-san pasti akn senang mempunyai menantu yang cantik sepertimu. Jaa nee~" ucap Itachi sambil berlalu meninggalkan mereka berdua. Sakura sweatdrop mendengar ucapan Itachi barusan. Sedangkan Sasuke menatap pemuda -yang tidak lain adalah kakaknya sendiri- dengan tatapan kesal.

"Sasuke, kau yakin jika Itachi-nii adalah saudara kandungmu?" Sasuke memanatap dingin gadis merah muda yang masih dalam pelukannya itu.

"Hn,"

Sakura memutar bola matanya malas mendengar kata-kata mutiara Sasuke. "Etto~ siapa Shion itu? Kanapa Itachi-nii nampak takut ketika mendengar nama itu?"

"Tunangannya, mereka akan menikah setelah tahun baru nanti," Sakura hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Sasuke.

"Etto~ bisakah kau melepaskanku Sasuke?" pinta Sakura.

"Hn," jawab Sasuke singkat. Dengan enggan Sasuke melapaskan pelukannya pada Sakura. 'Cih, padahal aku masih ingin memeluknya,' batin Sasuke.

Sakura terdiam sesaat. Tiba-tiba gadis itu merasa handphonenya bergetar. Dengan terburu diambilnya handphone yang berada di kantung jaketnya. Senyum manis mengembang diwajah Sakura ketika mengetahui nama yang tertera dilayar handphonenya.

"Moshi moshi," jawab Sakura sambil berjalan menjauh dari Sasuke.

Sementara itu Sasuke memandang curiga ke arah Sakura. 'Kenapa harus menjauh? Dan kenapa wajahnya senang sekali. Mencurigakan,' batin Sasuke.

"Benarkah Sasori? Kenapa kau tidak bilang jika hari ini kau datang? Baiklah aku akan segera pulang. Sampai jumpa dirumah. Jaa nee~"

"Siapa Sasori?" ujar Sasuke saat Sakura membalikkan badan. Sakura sedikit melonjak kaget, tak menyadari pemuda itu mendengar percakapannya. Sasuke berdiri persis dibelakangnya.

"Dia orang yang sangat spesial untukku," jawab Sakura dengan wajah berseri. "Bisakah kita sudahi latihan hari ini Sasuke? Aku ingin segera pulang,"

"Hn," kata Sasuke dengan wajah dingin. Sakura menaikkan sebelah matanya heran. 'Ada apa dengan Sasuke?' batin Sakura.

.

.

.

.

.

"Sasori..." teriak Sakura saat ia tiba dirumah. Dengan sedikit berlari, dihampirinya seorang pemuda dengan rambut merah darah yang sedang duduk di tangga depan teras rumahnya.

"Wah, baru beberapa bulan tidak bertemu kau semakin cantik saja Sakura," ujar Sasori. Dengan lembut diciumnya pucuk kepala Sakura.

Sasuke yang melihat kejadian itu hanya mendesis marah. Tiba-tiba perkataan Naruto kemarin terngiang di telinganya.

"Siapa dia Sakura?" tanya Sasori mendapati seorang pemuda tengah berdiri mematung tak jauh dari mereka.

Sakura beralih menatap Sasuke yang sedang menatapnya dingin. "Dia Uchiha Sasuke, tetangga depan rumah kita. Sasuke, kenalkan ini Sasori. Dia adalah-"

"Adalah tunangannya Sakura," potong Sasori sebelum Sakura sempat menyelesaikan kata-katanya, membuat gadis itu menatapnya heran.

"Hn. Aku pulang dulu," ujar Sasuke sambil meninggalkan Sakura dan Sasori. Sebelah tangannya terkepal keras, berusaha menyalurkan amarahnya yang tiba-tiba muncul.

Sakura menatap kepergian Sasuke dengan heran, sejenak kemudian pandangannya beralih menatap pemuda merah itu dengan sorot tak percaya. "Kenapa kau mengngaku seperti itu, baka,"

.

.

.

.

.

"Otouto, aku pinjam laptopmu,"

"Hn," jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

"Kau sedang lihat apa otouto?" Itachi yang merasa penasaran ikut-ikutan mengintip ke luar jendela.

Di halaman rumah Sakura, nampak gadis itu tengah bercanda dengan seorang pemuda berambut merah darah. Wajah Sakura terlihat sangat bahagia.

"Siapa pemuda itu Sasuke? Sepertinya aku baru melihatnya." tanya Itachi, tak menyadari bahwa amarah sedang melingkupi pemuda itu.

"Tunangan," jawab Sasuke malas.

"Tunangan?"

"Hn,"

"Sepertinya kau terlambat, Sasuke." Itachi menepuk pelan pundak Sasuke, kemudian meninggalkan Sasuke yang masih memandang ke arah rumah Sakura dengan pandangan kesal.

"Tunangan, heh?"

.

.

.

.

.

Braakk...

Sasuke membuka pintu kelasnya dengan kasar, membuat teman-teman sekelasnya dan beberapa murid yang tak sengaja lewat membeku sejenak. Mereka bergidik ngeri merasakan aura dingin yang menguar tajam dari tubuh pemuda itu.

"Teme," sapa Naruto ragu, saat Sasuke berjalan melewati dirinya.

"Diam, Dobe," ujar Sasuke dingin, bahkan lebih dingin dari biasanya. Sasuke menarik kursinya dengan kasar, menghempaskan tubuhnya kemudian memasang headphone yang sebelumnya terkalung dilehernya.

"OHAYOU MINNA~," teriak Sakura ceria, tak menyadari hawa dingin yang sedang menyelimuti kelas dan teman-temannya.

"Eh, kenapa semua diam?" tanya Sakura heran saat tidak ada yang menjawab sapaannya.

"Sst.. cepat duduklah," kata Ino sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar gadis itu segera duduk ditempatnya.

Sakura menatap Ino heran, tapi tetap saja menuruti perintah gadis pirang itu. Saat melewati tempat duduk Sasuke, Sakura dapat merasakan tatapan dingin nan tajam yang dilayangkan pemuda itu padanya. Sakura bergidik, berusaha mempercepat langkahnya dan duduk diam ditempatnya.

'Ada apa sebenarnya?' batin Sakura.

.

.

.

.

.

"Hah, akhirnya istirahat juga. Bbrrr... Suasana hari ini terasa seperti di kutub utara, sangat dingin dan menyeramkan," ujar Ino sambil bergaya layaknya seorang yang sedang kedinginan. Tenten dan Hinata mengangguk setuju mendengar kata-kata Ino.

"Memang ada apa?" tanya Sakura heran, tak mengerti apa yang dibahas ketiga sahabatnya itu.

"Kau merasakan aura dikelas kita berbeda hari ini Sakura-chan?" Sakura mengangguk sebagai jawaban.

"Menyeramkan, dingin, bahkan lebih dingin dari kutub utara,"

"Ya, ya aku merasakannya. Dan sekarang kalian berlebihan. Sebenarnya apa yang terjadi?" ujar Sakura mulai tidak sabaran dengan sikap berlebihan ketiga sahabatnya itu.

"Sepertinya Sasuke sedang ada masalah," jawaban Ino membuat Sakura menautkan kedua alisnya heran.

"Apa hubungannya antara aura kelas kita yang dingin dengan Sasuke yang sedang punya masalah?"

Ino menghela nafas pelan, lupa jika Sakura adalah murid pindahan di kelasnya. "Ada Sakura, karena hanya Sasuke saja yang bisa membuat aura kelas kita seperti itu."

Sakura mengangguk paham. "Lalu kenapa Sasuke bisa seperti itu?"

"Entahlah, saat aku bertanya pada Naruto-kun, dia juga tidak tahu. Sasuke sedang tidak ingin diganggu sekarang." ujar Hinata.

"Oh ya Sakura, bukankah sikap Sasuke sudah mulai hangat padamu? Bagaimana jika kau saja yang cari tahu," saran Tenten.

"Baiklah, nanti akan ku coba,"

.

.

.

.

.

"Sasuke.." Sasuke terus saja berjalan, tak menghiraukan Sakura yang sedari tadi memanggil namanya. Padahal gadis itu telah memanggil namanya sejak mereka keluar kelas hingga kini mereka dalam perjalanan pulang.

Sakura merasa kesal sendiri karena tidak dihiraukan oleh pemuda itu. "Sasuke berhentilah, atau aku akan memanggilmu dengan sebutan pantat ayam,"

Sakura buru-buru membekam sendiri mulutnya, merutuki kata-kata yang baru saja keluar dengan lancar dari bibirnya. 'Astaga, ohh Kami-sama, lindungi aku. Dasar Sakura no Baka, lain kali jaga mulutmu,' gerutu Sakura dalam hati.

Sasuke menghentikan langkahnya, berbalik dan berjalan ke arah Sakura dengan senyum tersuunggih di bibir tipisnya. Tampan, tapi mematikan.

"Pantat ayam, heh Sakura?" senyum Sasuke semakin melebar, tapi kilatan marah tergambar jelas di kedua iris onyxnya.

Tanpa sadar Sakura melangkahkan kakinya mundur, berusaha menghindari Sasuke yang semakin dekat dengannya. 'Oh, Kami-sama, tolong aku,' batin Sakura.

Sasuke terus saja mendekat ke arah Sakura, sementara Sakura terus saja melangkahkan kakinya mundur. Gadis itu tak menyadari jika kakinya yang terus mundur mengarah ke sebuah dinding rumah. Dan...

Dduukk...

Punggung Sakura menabrak dinding dengan cukup keras. Dengan cepat Sasuke mengurung tubuh Sakura menggunakan kedua tangannya, senyum manis masih setia tersungging diwajah tampan pemuda itu.

"Coba saja Sakura, panggil aku dengan sebutan tadi," tantang Sasuke.

"Eehh.. Eeto~," Sakura menundukkan kepalanya, tidak berani menatap pemuda itu. Lidahnya terasa kelu, jatungnya berdegup dengan cepat.

"Sakura, bukankah tidak sopan jika kau berbicara tanpa memandang mata lawan bicaramu," kata Sasuke.

"Gomenasai Sasuke," desis Sakura lirih, masih tak berani menatap wajah pemuda dihadapannya.

"Sakura tatap aku," perintah Sasuke. Namun Sakura tetap bergeming.

Sasuke mendengus kesal karena Sakura tak menuruti perintahnya. Akhirnya sebelah tangan Sasuke mengangkat dagu Sakura, membuat gadis itu menghadap ke arahnya. Namun tetap saja, iris emerald Sakura tidak fokus menatap iris onyx Sasuke.

"Ayo Sakura panggil aku dengan sebutan 'pantat ayam' seperti yang kau inginkan tadi," ujar Sasuke dingin, sedikit menggunakan penekanan pada kata-katanya.

"Gomenasai Sasuke, aku tidak sengaja mengucapkan itu," kata Sakura dengan suara bergetar.

Sebelah bibir Sasuke sedikit tertarik, menyunggingkan senyum sinisnya. "Tapi aku ingin kau mengucapkannya Sakura,"

"Eeto~"

"Ayolah Sakura," pinta Sasuke.

"Tapi kau berjanji tidak akan marah?" tanya Sakura ragu. Sasuke hanya mengangguk.

"Dasar pantat ay- eehh... eeemm.. Sasu...kee" tiba-tiba saja bibir Sasuke melumat bibir Sakura dengan ganas, membuat gadis itu sedikit melonjak kaget. Ciuman itu liar dan dalam, membuat Sakura kesulitan untuk mengambil nafas.

Namun nampaknya Sasuke tidak mau ambil pusing. Terus saja pemuda itu memperdalam ciumannya. Bahkan kini sebelah tangannya terulur memegang tengkuk Sakura, berusaha menahan kepala Sakura yang sedari tadi berusaha melepaskan diri.

Sasuke nampak sudah tidak perduli jika ada orang lain yang melihat mereka. Ia benar-benar ingin menjadikan gadis itu miliknya. Ia juga ingin melampiaskan rasa kesalnya pada gadis itu.

Namun tampaknya paru-paru Sasuke tidak mau diajak berkerjasama, paru-parunya mulai meronta meminta asupan oksigen yang mulai menipis. Dengan enggan Sasuke melepaskan ciumannya, setelah sebelumnya pemuda itu menggigit bibir Sakura.

Kini Sasuke dapat melihat wajah Sakura yang berubah merah sepenuhnya. Mata gadis itu terpejam. Bibir Sakura sedikit bengkak akibat ciuman liarnya tadi.

"Itu hukumanmu Sakura," ujar Sasuke dingin.

"Hukuman a-apa Sasuke? Apa aku pernah berbuat salah padamu?" tanya Sakura dengan nafas tersengal.

"Ya, kau telah berbuat salah karena telah membuatku cemburu. Aku tidak perduli jika kau sudah bertunangan. Aku akan merebutmu dari pemuda merah darah itu," ucap Sasuke tajam.

Iris Sakura membelalak, menyadari kesalahpahaman yang telah terjadi antara dirinya dengan Sasuke. "Sasuke dengar, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Sasori itu sebenarnya-"

"Wah, ternyata kau ada disini Sakura. Aku menunggumu dirumah, tapi ternyata kau ada disini," ujar Sasori tiba-tiba muncul dan memotong kata-kata Sakura. Dengan langkah santai, pemuda itu menghampiri Sakura dan Sasuke. Sebelah tangannya terulur menarik Sakura kearahnya, kemudian memeluk gadis itu erat.

"Oh Sakura, kenapa bibirmu bengkak begitu?" tanya Sasori sambil mengelus lembut bibir Sakura.

"Eeto~ tidak apa-apa Sasori-n~" tiba-tiba tangan Sasori membekam mulut Sakura, menghentikan kata-kata yang baru saja akan keluar dari bibir gadis itu. Sakura menatap Sasori tajam, irisnya seakan meminta penjelasan tentang tindakan Sasori.

Sedangkan Sasuke hanya mendengus kesal melihat adegan memuakkan -menurut Sasuke- yang tersaji dihadapannya. Iris onyxnya menatap tajam kearah Sasori.

"Arigatou Uchiha-san telah menemani Sakura pulang. Setelah ini biar aku saja yang menemani Sakura. Dan terima kasih juga selama ini telah menjaga Sakura untukku. Mulai sekarang aku yang akan menjaga Sakura," ujar Sasori dengan senyum mengembang di wajah baby facenya.

Lagi-lagi Sasuke mendengus keras, kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sakura dan Sasori. Sakura memandang kepergian Sasuke dengan wajah sendu, sedang Sasori terkikik geli melihat tingkah bungsu Uchiha itu.

"Kau keterlaluan," gerutu Sakura saat Sasori melepaskan bekapan di mulutnya. Mata gadis itu mulai berkaca, membuat Sasori sedikit merasa bersalah.

'Maafkan aku Sakura, tapi untuk kebaikanmu. Aku juga ingin tahu seberapa kuat pemuda itu bisa memperjuangkanmu,' batin Sasori.

.

.

.

.

.

"Kau baru pulang otouto?" tanya Itachi saat melihat adik semata wayangnya itu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga.

"Hn,"

"Adakah jawaban yang lebih panjang Sasuke? Kau tahu, aku bosan mendengar jawabanmu yang sangat singkat itu" ujar Itachi sambil duduk di sofa yang bersebelahan dengan Sasuke.

"Hhnnn," ujar Sasuke malas.

Itachi memutar matanya malas. "Terserah kau sajalah," ujar Itachi sambil menyesap jus yang ada di tangannya.

"Aniki,"

"Hn,"

"Aku ingin bertanya padamu,"

"Apa?"

"Bagaimana cara merebut tunangan orang lain?"

"HAH, APA MAKSUDMU SASUKE? KAU MAU MERUSAK NAMA BAIK KELUARGA UCHIHA, HAH? KAU MINTA DIPENGGAL OLEH KAA-CHAN? JANGAN MACAM-MACAM KAU SASUKE. LAGIPULA TUNANGAN SIAPA YANG AKAK KAU REBUT,HAH?" teriak Itachi, membuat Sasuke menutup kedua telinganya.

"Berhentilah berteriak Aniki, kau bisa membuatku tuli seketika," ujar Sasuke dingin.

"Kau sendiri ingin berbuat hal yang aneh. Kau tampan Sasuke, banyak gadis yang mengantri untuk menjadi pasanganmu. Lalu kenapa kau ingin merebut tunangan orang lain?"

"Karena hanya dia yang aku inginkan, Aniki. Tidak ada satu gadispun yang bisa menggantikan dirinya."

"Hah, aku jadi penasaran gadis mana yang bisa membuatmu senekat ini. Memang siapa dia Sasuke?" kata Itachi dengan nada ingin tahu.

Sasuke menghela nafasnya berat, tatapannya tak beralih dari langit-langit ruang keluargnya.

"Sakura," ujar Sasuke setelah terdiam beberapa lama.

Namun Itachi nampak tidak kaget dengan jawaban adiknya itu. Malah kini sebuah senyum tipis terukir diwajahnya.

'Kau harus semangat Sasuke. Jika kau memang mencintai Sakura, kau harus memperjuangkannya. Buktikan bahwa kau pantas untuknya,' batin Itachi.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N :

OHAYOU MINNA~

Akhirnya chap 4 selesai. Rasanya di chap ini isinya SasuSaku semua. ah biarlah. Gomenasai jika chap ini banyak typo, gak terlalu terasa feelnya, membosankan dll. Akemi dlm keadaan gak mood saat nulis ini.

Gomen juga Akemi gak balas review minna disini ataupun di pm. Tapi percayalah Akemi sangat senang dengan review minna. Arigatou nee~ ^-^

Arigatou juga buat minna yg udah nunggu kelanjutan ff geje ini #plak, semoga chap kali ini gak terlalu mengecewakan.

Yosh~ silahkan direview, kritik, saran, pertanyaan maupun tanggapan ttg ff ini. Akemi tunggu *pelukcium

Sampai jumpa di chap selanjutnya… Jaa nee~ Adios~ Bye bye~ Sayonara~