"Hah, aku jadi penasaran gadis mana yang bisa membuatmu senekat ini. Memang siapa dia Sasuke?" kata Itachi dengan nada ingin tahu.
Sasuke menghela nafasnya berat, tatapannya tak beralih dari langit-langit ruang keluargnya.
"Sakura," ujar Sasuke setelah terdiam beberapa lama.
Namun Itachi nampak tidak kaget dengan jawaban adiknya itu. Malah kini sebuah senyum tipis terukir diwajahnya.
'Kau harus semangat Sasuke. Jika kau memang mencintai Sakura, kau harus memperjuangkannya. Buktikan bahwa kau pantas untuknya,' batin Itachi.
.
.
.
.
.
Trouble Class, Trouble Love
.
.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story from Akemi Miharu
Rate : T+
Pairing : SasuSaku
Warning : AU, OCC, TYPO, GeJe, dls
.
.
.
.
Happy Reading ^_^
.
.
5
.
.
"Aku berangkat," ujar Sakura malas kepada Sasori yang tengah sarapan di ruang makan. Kebetulan kedua orang tuanya tengah berada di Ame, mengurusi perusahan yang ada disana.
"Kau tidak sarapan Sakura?"
"Malas,"
Blaammm...
Sasori sedikit terlonjak kaget ketika Sakura menutup pintu rumah dengan keras. "Hah, sepertinya dia masih marah padaku."
Sasori segera meraih handphone yang berada dikantung jaketnya, tangannya mulai mengetik sebuah e-mail dengan tempo cepat.
.
.
.
.
.
"Sasuke-kun, sarapan dulu," ujar Mikoto -ibu Sasuke- ketika pemuda dark blue itu melangkah melewati ruang makan. Disana terlihat sang ibu dan kakaknya yang sedang menyantap sarapan.
"Hn," ujar Sasuke malas sambil melangkah menuju meja makan, kemudian mengambil sepotong roti, mengoleskan selai coklat dengan asal.
"Aku berangkat," Sasuke meninggalkan Mikoto dan Itachi yang memandang pemuda itu dengan tatapan heran.
"Itachi, ada apa dengan otoutomu?"
Itachi hanya mengangkat bahu. Ia hendak menyuapkan sesendok sup ketika tiba-tiba ia merasa handphone-nya bergetar. Alisnya sedikit tertaut saat mengetahui isi dari pesan yang baru saja masuk di handphone-nya.
"Hah, ada-ada saja," guman Itachi pelan, kemudian melanjutkan sarapannya yang tertunda.
.
.
.
.
.
"ASTAGA SAKURAA... KENAPA DENGAN WAJAHMU?" teriak Ino saat Sakura memasuki kelas.
'Kemarin suara, sekarang wajah, nanti apa?' batin Sakura malas.
"Memang kenapa dengan wajahku? Apa hidung atau salah satu mataku hilang?" ujar Sakur asal.
"Hah, kau ini. Hidung atau mata tidak ada yang hilang, tapi kantung matamu malah muncul dan terlihat jelas. Kau habis menangis?" Ino berjalan mendekati Sakura yang kini telah duduk di tempatnya.
"Tidak, aku hanya kurang tidur,"
'Kurang tidur karena terlalu lama menangis' batin Sakura kemudian.
"Ya sudahlah. Eeto~ bagaimana dengan kemarin? Sasuke mau bercerita padamu?"
"Sudahlah Ino, aku tidak mau membahas soal itu." ujar Sakura dengan nada malas. Mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap langit yang mulai mendung.
"Baiklah, terserah padamu Sakura. Tapi jika ada apa-apa, ceritalah padaku. Aku siap mendengarkan, paham," ujar Ino menepuk pundak gadis itu pelan, kemudian melangkahkan kakinya menjauh.
Sakura kini terlihat sangat acak-acakan, semangat yang selalu ada padanya tiba-tiba menguap, hilang seketika. Bayangan indah karena Sasuke telah mulai hangat padanya kini sirna sudah. Hatinya yang semula berbunga-bunga, sekarang bunga itu layu bahkan hampir mati. Sakura tidak habis pikir kenapa Sasori berbuat seperti itu padanya.
"Apa sebenarnya maumu, niichan?" gumam Sakura. Matanya menatap kosong. Tubuh Sakura memang duduk manis disana, tapi pikirannya melayang jauh entah kemana.
"Oi, Teme. Tumben sekali kau datang siang?" Teriakan Naruto membuat gadis itu menoleh, tak sengaja iris emeraldnya berpapasan dengan iris onyx Sasuke. Seketika itu juga waktu bagai terhenti bagi Sakura. Bayangan kejadian kemarin kembali terngiang dibenaknya.
'Aku tidak perduli jika kau sudah bertunangan. Aku akan merebutmu dari pemuda merah darah itu,' kata-kata Sasuke terus saja terdengar di telinga Sakura.
'Sasuke, bagaimana caraku untuk menjelaskannya padamu?' batin Sakura. Tanpa sadar matanya mulai berkaca.
"Bukan urusanmu, Dobe," desisan kesal Naruto terdengar lirih setelahnya. Namun ia memilih untuk diam, tahu bahwa suasana hati bungsu Uchiha ini sedang dalam keadaan yang buruk. Sangat Buruk.
"Sasuke, bagaimana persiapanmu dan Sakura untuk malam puncak bulan bahasa? Bukankah waktu kalian tinggal sedikit. Minggu depan kalian sudah naik panggung kan?"
Sasuke hanya melirik sekilas Shikamaru yang duduk dibangku sebelahnya. "Hanya aku yang akan tampil," ujar Sasuke datar.
"NANIII? Memang kenapa Sasuke? Bukankah kau sudah berlatih dengan Sakura? Kalian ada masalah?" ujar Naruto memberikan pertanyaan bertubi pada pemuda dark blue itu. Sasuke hanya menatap Naruto malas. Lagi-lagi Naruto hanya bisa mendesis kesal melihat tingkah sahabatnya itu.
Sedangkan Sakura nampak kaget mendengar perkataan Sasuke. Air matanya meluncur dengan sempurna tanpa bisa ia bendung. Sebegitu marahkah pemuda itu padanya? Hanya karena kesalahpahaman kecil? Hanya karena kecemburuan Sasuke -bahkan Sakura belum menjadi kekasihnya-. Hanya karena permainan gila Sasori yang ia sendiri tak tahu tujuannya.
'Oh, kami-sama.. Kenapa hatiku bisa sesakit ini,' batin Sakura. Air mata menetes semakin banyak. Sakura pun menundukkan kepalanya, menutupi air mata yang semakin membanjir dipelupuk matanya
.
.
.
.
.
Dilain tempat, diwaktu yang sama...
"Kenapa kau meminta bertemu sekarang Sasori?"
"Hah, tentu kita bahas rencana selanjutnya. Sepertinya aku sudah berhasil membuat Sasuke cemburu padaku. Tapi adikmu benar-benar diluar dugaanku. Berani-beraninya dia menciu- ahh bukan, lebih tepatnya melumat bibir Sakura. Cih, kalau aku tidak ingat rencana kita pasti aku sudah menghajarnya." ujar Sasori sambil menyesap secangkir kopi yanga ada dihapannya.
"Rencanamu, jangan bawa-bawa aku," ralat Itachi.
"Hei, kau juga ikut-ikutan. Berarti ini juga rencanamu, Itachi," sergah Sasori.
Itachi hanya bisa menghela nafas berat mendengar ucapan pemuda merah itu. Ya, memang Sasori otak dari semua ini. Tapi ia juga ikut andil dalam rencananya. Berarti sama saja dia mendukung Sasori untuk mengerjai dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu. Dasar aniki-aniki tak tahu diuntung, tega sekali.
"Hah, terserah. Tapi kau benar-benar yakin dengan rencana yang kau katakan di e-mail tadi?"
"Yakin," ujar Sasori mantab. Itachi hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban sulung Haruno itu.
"Makanya aku minta kau untuk menyusun skenarionya Itachi," ujar Sasori sambil menaik-naikkan sebelah alisnya.
"Kau tahu resikonya Sasori. Apa tidak terlalu berbahaya? Tega sekali kau ini."
"Tenang, semua pemain adalah teman-temanku. Jadi resiko bisa dibilang kecil. Lagi pula aku akan ada disana untuk mengawasi."
"Hah, baiklah" Itachi hanya bisa menghela nafas berat melihat keteguhan hati Sasori. 'Dasar keras kepala,'
"Kau memang bisa diandalkan Itachi, semoga adikmu lebih bisa diandalkan," Itachi hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata Sasori.
.
.
.
.
.
Malam puncak bulan bahasa tinggal dua hari lagi. Namun Sasuke malah semakin menjauhinya. Jangankan latihan, menyapa saja tidak. Nampaknya Sasuke benar-benar akan tampil sendiri dalam malam puncak nanti, membuat teman-teman sekelasnya bingung sendiri dengan tingkah pemuda itu. Bahkan Naruto sampai bosan menanyakan alasan si bungsu Uchiha mengubah formasinya menjadi penyanyi solo.
Sementara itu Sakura hanya bisa diam saja, membiarkan Sasuke bertindak semaunya sendiri. Walaupun rasa sakit yang ia rasakan semakin dalam setiap harinya, ia selalu berusaha untuk menutupi rasa sakit itu. Walaupun sahabat-sahabatnya tetap saja bisa melihat kesedihan yang akhir-akhir ini menyelimuti dirinya.
"Sakura-chan, kenapa matamu merah? Kau menangis?" bisik Hinata.
"Tidak Hinata, mataku hanya kemasukan debu."
"Benarkah, tapi kau kelihatan tidak sehat. Apa perlu aku antar ke UKS?" ujar Hinata masih berbisik. Sakura hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Tapi Sakura.."
"Ehem, ada apa Hyuga-san? Apa ada yang ingin kau diskusikan dengan nona Haruno sehingga kalian berdua terus berbisik saat pelajaran," potong Kurenai-sensei sambil memandang tajam kearah dua gadis itu.
"Eeto~ Gomenasai sensei. Sepertinya Sakura sedang sakit, jadi aku membujuknya untuk pergi ke UKS," ujar Hinata sambil menundukkan kepalanya.
"Benarkah itu, Haruno-san?" tanya Kurenai sambil memperhatikan Sakura yang tertunduk lesu. Sebenarnya tanpa ditanyapun, Kurenai sudah tahu ada yang salah dengan salah satu muridnya itu. "Hah, baiklah. Hyuga-san tolong antar Haruno ke UKS,"
Hinata mengangguk pelan mendengar perintah sang sensei, kemudian membantu Sakura untuk berdiri dari tempat duduknya. Ketika melewati tempat duduk Sasuke, tanpa sadar tangan Sakura mencengkram erat tangan Hinata, membuat gadis lavender itu sedikit mengeryit menahan sakit. Namun Hinata hanya diam, merasa belum saatnya dia untuk bertanya.
.
.
.
.
.
Sesampainya di UKS, Hinata membaringkan sahabatnya itu. Kemudian menyelimuti Skura hingga batas perutnya.
"Arigatou Hinata," ucap Sakura dengan mata sendu.
"Douitas, Sakura-chan. Eeto~ apa kau ada masalah dengan Sasuke-san? Akhir-akhir ini kalian tidak saling menyapa. Sakura-chan jika memang kau ada masalah, ceritakan padaku, Ino atau Tenten. Kami akan selalu berusahan untuk membantumu. Sesulit apapun masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika kau tidak bisa menemukan sendiri jalan keluar itu, mintalah bantuan orang yang kau percaya. Tapi jika kau memendam masalah itu sendiri bagaimana kami bisa membantumu?"
Sakura hanya terdiam mendengar kata-kata Hinata, namun matanya nampak mulai berkaca-kaca. Sakura mulai menceritakan asal mula kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan Sasuke. Hinata mendengar cerita Sakura dengan seksama, sesekali mengelus lembut punggung tangan Sakura seolah memberinya semangat. Sakura menghela nafas pelan setelah selesai bercerita, beban yang ada di pundaknya setengahnya serasa terangkat. Hatinya sedikit lebih tenang sekarang.
"Ternyata hanya salah paham. Coba cari waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya Sakura-chan, jika seperti ini terus kebenaran tidak akan pernah terungkap," ucap Hinata.
"Arigatou Hinata, arigatou," ujar Sakura sambil memeluk Hinata. Senyum Hinata mengembang disana, berdo'a agar masalah sahabatnya itu cepat terselesaikan.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya Sakura datang dengan wajah yang sedikit berubah. Kini wajahnya nampak lebih berseri daripada beberapa hari terakhir. Seulas senyum terpatri tipis saat gadis merah muda itu melangkahkan kakinya di Sains Two. Hari ini ia bertekad untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Sasuke, mengakhiri kesalahpahaman yang beberapa hari ini membuat jurang yang jauh dan dalam diantara mereka.
"Hinata, kemarin Sakura kau kasih obat apa? Sepertinya itu manjur," bisik Ino saar melihat perubahan yang terjadi pada Sakura. Hinata hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Ino.
"Ohayou Ino, Hinata," Sakura tersenyum sambil menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Hah, syukurlah jika kau sudah sembuh. Kau tahu kelas ini semakin dingin ketika kau sakit kemarin," kata Ino.
Sakura mengernyitkan dahinya, "Kemarin aku tidak sakit Ino,"
"Ya sudahlah, terserah apa katamu. Dasar keras kepala," dengus Ino kesal, diikuti tawa geli dari Sakura dan Hinata.
"Haha, jangan seperti itu Ino. Bagaimana jika istirahat nanti aku traktir makan siang? Rasanya aku sudah lama tidak makan siang dengan kalian, tega sekali meninggalkanku sendiri"
"Meninggalkanmu sendiri? Coba kau ulangi sekali lagi Sakura? Aku, Hinata dan Tenten berusaha keras mengejakmu untuk makan bersama, tapi kau selalu saja berkata 'tidak'. Mulutku serasa sampai berbusa ketika membujukmu," omel Ino, membuat Sakura hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
.
.
.
.
.
Bel jam istirahat baru saja berbunyi, namun Ino segera menyeret Sakura menuju kantin yang berada di belakang sekolah, dekat gerbang belakang dan lapangan basket.
"Ino, jangan menyeretku," ucap Sakura kesal. Namun Ino tetaap saja cuek tanpa menghiraukan sahabat merah mudanya itu. Sedangkan Hinata dan Tenten hanya bisa tersenyum sambil mengekor tak jauh dibelakang mereka.
Sesampainya dikantin Ino langsung duduk dibangku yang sering mereka tempati. "Baiklah, aku akan pesan makanan yang enak dan mahal untuk hari ini. Mumpung nona Haruno ini sedang baik hati, hehehe," ucap Ino diiringi tawa ketiga temannnya yang lain.
"Ya ya, pesanlah sesukamu Ino. Eeto~ aku titip dompetku ya, aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Sakura sambil berdiri.
"Perlu aku temani Sakura?" tawar Tenten.
Sakura menggeleng pelan, "Tidak usah, kau pesan saja Tenten. Aku tinggal dulu,"
Letak toilet di kantin tersebut agak sedikit dibelakang, sehingga sedikit murid yang berlalu lalang disana. Entah mengapa Sakura merasa ada yang mengawasi dirinya sebelum masuk ke kamar mandi. Namun ia segera mengenyahkan prasangka itu dan segera masuk ke kamar mandi wanita. Tanpa diduga sesosok gadis berdiri di dalam, seakan menyambut kedatangan Sakura. Senyum sinis terpatri dibibir gadis itu,
"Kau.." Sakura bahkan belum menyelesaikan kata-katanya ketika ia merasa sebuah tangan membekap mulutnya. Perlahan ia merasakan kesadarannya mulai hilang. Yang ia lihat hanya tawa gadis itu yang telah berubah menjadi tawa kemenangan sebelum akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
Disaat yang sama, Sasuke sedang duduk di pinggir lapangan basket. Menonton teman-temannya yang lain bertanding dengan murid kelas 3.
"TEMEE..." Sasuke memandang Naruto dengan tatapan dingin. Nafas pemuda pirang itu sedikit memburu akibat berlari.
"Kenapa Dobe?"
"Sakura..." ucap Naruto dengan nafas masih tersengal. "Tadi waktu di kamar mandi aku lihat Sakura dibawa oleh beberapa pemuda, sepertinya mereka bukan anak sekolah ini"
Raut wajah Sasuke yang semula datar berubah tegang, tangannya terkepal kuat. Kakinya hendak melangkah ketika tiba-tiba ia ingat sesuatu. Sedetik kemudian ia mengurungkan niatnya, dan kembali duduk.
"Biarkan, Sakura akan baik-baik saja." ucap Sasuke. Naruto hanya bisa memandang sahabatnya itu tak percaya.
"Kau gila Teme, kau boleh saja ada masalah dengan Sakura. Tapi sekarang dia dalam bahaya, bagaimanapun dia teman kita Sakuke," oceh Naruto, namun Sasuke tetap tak menghiraukan kata-kata pemuda pirang itu. Pikirannya menerawang kejadian beberapa hari lalu.
.
.
.
.
.
Flashback On (beberapa hari sebelumnya)
Waktu itu Sasuke sedang berada di kamar Itachi, mencoba mencari buku untuk bahan reverensi tugasnya. "Aniki, kau punya buku tentang psikologi?" ucap Sasuke sambil mencari di rak buku yang berada dikamar kakaknya.
"Sepertinya ada di mejaku. Kau cari saja sendiri," seru Itachi dari kamar mandi. Sasuke kemudian mencari buku yang ia butuhkan di meja sang kakak.
"Ini dia," dengan cepat Sasuke menarik buku tersebut. Tanpa sengaja kertas yang terselip diantara buku yang ada dimeja itu terjatuh. Dengan malas Sasuke memungut kertas itu, namun tanpa sengaja ia membaca kata-kata yang tertera paling atas.
"Rencana? Aniki ada rencana apa?" karena penasaran Sasuke memutusakan untuk membaca keseluruhan isi kertas tersebut. Alisnya bertaut ketika mendapati ada nama Sasori tertera disana.
'Apa aniki kenal dengan Sasori?' batin Sasuke kemudian melanjutkan membaca.
Sasuke mengeram kesal setelah membaca keseluruhan isi kertas tersebut. "Awas kau Aniki, aku tidak akan terjebak rencanamu," ujar Sasuke kesal.
Flashback Off
.
.
.
.
.
"Kenapa Sakura lama sekali? Sebentar lagi masuk tapi dia belum kembali," ucap Ino khawatir .
"Mungkin dia sudah kembali ke kelas, atau mungkin ke UKS," ucap Tenten berusaha berfikir positif.
"Semoga saja, kalau begitu kita kembali ke kelas saja," kata Ino, Hinata dan Tenten hanya mengangguk setuju.
Namun hingga bel masuk berbunyi Sakura tidak juga kembali ke kelas. Ino berkali-kali mencoba mneghubungi Sakura, namun handphonenya mati. Sampai akhirnya bel pulang berdentang Sakura tetap tidak kembali ke kelas.
"Kemana sih anak itu, kenapa pula ponselnya mati," ucap Ino sambil berjalan mondar-mandir didepan kelas. Raut khawatir tergambar jelas diwajah cantiknya, begitu pula dengan Hinata dan Tenten.
"Bukannya tadi Sakura dengan kalian?" tanya Shikamaru.
"Semula iya, tapi dia pamit ke kemar mandi. Setelah itu dia tidak kembali. Kami pikir Sakura sudah kembali ke kelas, tapi nyatanya sampai sekarang dia tidak muncul," jawab Ino.
"Saat ini kita tidak bisa apa-apa, lapor polisi pun percuma karena batas orang dinyatakan hilang adalah 24 jam. Lebih baik kita pulang," ujar Shikamaru, diikuti anggukan oleh teman-temannya yang lain.
"Teme.. Jangan-jangan Sakura diculik?" bisik Naruto saat mereka keluar kelas.
"Memang," jawab Sasuke enteng, sambil berlalu meninggalkan Naruto yang melongo tak percaya mendengar jawaban Sasuke.
.
.
.
.
.
"Kau sudah pulang otouto?" kata Itachi melihat si adik memasuki halaman rumah mereka.
"Hn,"
"Eeto~ Sasuke, kau tidak lihat Sakura-chan sepulang tadi?" tanya Itachi ragu-ragu. Sasuke menatap dingin pemuda berambut panjang yang ada dihadapannya.
"Tidak," ujar Sasuke tajam. "Bukankah dia sedang diculik oleh TUNANGANNYA sendiri, saat istirahat tadi" ujar Sasuke sambil menekankan kata 'Tunangan'.
"Hah, dari mana kau tahu?"
"Dari catatan yang kau selipkan diantara buku di mejamu," ujar Sasuke datar. "Kau bersekongkol dengan tunangan Sakura, heh Aniki? Atau mungkin aku memanggilnya kakak ipar saja?"
"Hah, kau membaca semuanya ya? Pantas saja letak catatan itu berubah," ujar Itachi tanpa rasa bersalahnya. "Eh darimana kau tahu jika Sasori itu kakak Sakura?"
"Aku meminta Shikamaru mencari data tentang pemuda itu. Seperti yang kuduga, dia bukan tunangan Sakura. Tapi tak ku sangka, kau dan dia sudah satu sekolah sejak SMP,"
Itachi tertawa kecil mendengar hal itu. Sedikit bangga pada adiknya ini, benar-benar mengambarkan tekad seorang Uchiha. Tiba-tiba Itachi merasakan handphonenya bergetar. Alisnya sedikit terangkat ketik megetahui nama yang tertera di layar handphonenya.
"Moshi moshi. Hn, ada apa?"
"Sasuke sudah sampai rumah?"
"Iya, dia sedang bersamaku sekarang. Ada apa?"
"Sakura tidak ada disekolah, aku sudah mencarinya kemana-mana,"
"Hah, Sakura tidak ada? Tunggu, Sasuke tadi kau bilang kapan Sakura diculik?"
Sasuke mengernyitkan alisnya heran, "Saat jam istirahat, memang ada apa?"
Iris mata Itachi melebar mendengar jawaban Sasuke, "Rencana yang aku susun dengan Sasori dilaksanakan saat jam pulang sekolah, bukan pada jam istirahat,"
Jantung Sasuke serasa berhenti berdetak mendengar kata-kata Itachi. 'Jika bukan Sasori, lalu siapa yang membawa Sakura,' batin Sasuke.
"Sasori kau dimana? Cepat ke rumahku, sepertinya ada orang lain yang mengeksekusi rencana kita," ucap Itachi cepat. Terdengar pekikan kaget dan umpatan marah diujung telfon, kemudian tak berapa lama telfonpun ditutup. Itachi beralih menatap Sakuke yang membatu.
"Jika bukan Sasori, lalu siapa?" gumam Sasuke pelan.
"Aku tidak tahu, apa kau ingat bagaimana sosok yang membawa Sakura?"
"Tidak, aku tidak melihatnya langsung. Tapi Naruto..." ucap Sasuke. "Naruto, dia pasti tahu. Aku akan ke tempat Naruto, jika Sasori datang pergilah ke tampat Naruto. Aku akan menunggu disana," ucap Sasuke sambil berlari meninggalkan Itachi yang masih terdiam.
.
.
.
.
.
"HAH, Sakura beneran diculik?" seru Naruto ketika Sasuke menceritakan semuanya. Naruto hendak pergi ketika Sasuke datang ke rumahnya dengan berlari sambil memanggil namanya.
"Kemungkinan besar iya," ucap Sasuke berusaha setenang mungkin agar bisa berfikir jernih. "Sebentar lagi aniki dan Sasori akan kesini, aku juga sudah menghubungi Shikamaru dan Kiba,"
Tak berapa lama Shikamaru datang, disusul Kiba yang membawa Akamaru. Reaksi mereka berdua sama seperti reaksi Naruto ketika Sasuke menceritakan kejadian yang dialami Sakura.
"Tapi kenapa Sakura? Dia anak baru di sini, kemungkinan mempunyai musuh hanya 45 persen. Kecuali jika berhadapan dengan para fansmu Sasuke," ujar Kiba diikuti gong-gongan setuju dari Akamaru.
"Kau punya musuh?" potong Shikamaru. Sasuke nampak berfikir sejenak, kemudian mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
"Apa mungkin anak sekolah sebelah, mereka balas dendam karena kita menghajar mereka tempo hari,"
"Kemungkinan itu ada Naruto, tapi kecil sekali. Lagi pula 'pelajaran' yang kita beri kemarin kurasa cukup untuk membuat mereka tidak berurusan dengan kita lagi, kecuali jika mereka memang nekad mencari gara-gara dengan kita" ucap Shikamaru.
Keempat pemuda itu nampak terdiam, berusaha mencari kemungkinan siapa yang menculik Sakura. Tak beberapa lama, Itachi datang dengan diikuti Sasori. Wajah Sasori yang baby face nampak dilingkupi awan kekhawatiran. Tak ia sangka permainan yang ia susun akan berakhir seperti ini.
"Kalian sudah mengetahui siapa yang membawa Sakura?" tanya Sasori dengan nada panik. Keempat pemuda itu hanya menggeleng pelan.
"Sial," umpat Sasori mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa bisa seperti ini? Apa perlu kita lapor polisi? Toh sudah ada saksi kan?"
"Kita tidak bisa gegabah Sasori," ujar Itachi berusaha menenangkan pemuda itu.
"Tapi kenapa harus Sakura? Jika mereka minta uang pasti akan menghubungi, tapi sampai sekarang tidak ada kabar," Itachi hanya bisa menghela nafas pelan.
Drrt... Ddrrtt.. Ddrrtt...
Sasuke segera merogoh kantong jaketnya, mengambil handphone yang ia rasa bergetar. Alisnya berkerut melihat subjek yang ada di e-mail yang baru saja masuk.
To : Sasuke
From : XXX
Subjek : Ready for game?
Dengan terburu, pemuda itu membuka e-mail tersebut. Desisan marah terdengar ketika ia membaca isi e-mail tersebut.
Gadismu ada padaku. Jika kau ingin ia kembali dengan selamat, datanglah ke gedung bekas pabrik yang ada di pinggir rel kereta api. Jam 7 malam ini. Jangan bawa siapa-siapa. Kita selesaikan pertandingan kita tempo hari.
Sasuke mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah. "Sial, kenapa aku tidak sadar,"
Sasuke bangkit dari duduknya, dan berlari meninggalkan kediaman Naruto. Semua yang ada disana nampak bingung dengan tingkah Sasuke. Sasori hendak mengikuti Sasuke, namun dihalang oleh Itachi.
"Sepertinya ini masalah yang harus ia bereskan sendiri," ucap Itachi sambil memandang punggung adiknya yang kini telah menghilang dibalik pagar kediaman Namikaze.
.
.
.
.
.
Fin
.
.
.
.
.
A/N :
Ohayou minna~ gomenasai chap ini telat pake banget, soalnya baru sempet akhir-akhir ini. Hah, ceritanya semakin gak jelas dan gak ketulungan anehnya. Akemi bener-bener kehilangan arah (bahkan lupa konsep awalnya #plak #timpuksandal). Kalo boleh jujur ini amat sangat melenceng jauh dari konsep awal Akemi.
Niat awalnya (sebenernya) cuman bikin konflik antar kelas, tapi ternyata melebar dan meluber kemana-mana. Malah akemi sendiri gak tahu ini nanti endingnya gimana -,-". Yah biarkan waktu yang akan menjawab. BTW~ Arigatou buat readers yang sudah review, follow dan fav #pelukcium :* Buat silent readers juga terima kasih sudah mau baca dan nunggu kelanjutannya. Untuk info chap depan adalah chap terakhir. Akemi gak mau lagi PHP, nanti dimarahin readers #hiks T-T
Yosh~ segitu saja dari Akemi. Semoga chap kali ini gak terlalu mengecewakan, gak terlalu geje, gak terlalu gantung, gak terlalu jelas, serta gak terlalu gak terlalu yang lainnya... Jangn lupa Review ya hehehe *deep bow*
Sampai jumpa di chap selanjutnya… Jaa nee~ Adios~ Bye bye~ Sayonara~
