Gadismu ada padaku. Jika kau ingin ia kembali dengan selamat, datanglah ke bekas pabrik yang ada di pinggir rel kereta api. Jam 7 malam ini. Jangan bawa siapa-siapa. Kita selesaikan pertandingan kita tempo hari.
Sasuke mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah. "Sial, kenapa aku tidak sadar,"
Sasuke bangkit dari duduknya, dan berlari meninggalkan kediaman Naruto. Semua yang ada disana nampak bingung dengan tingkah Sasuke. Sasori hendak mengikuti Sasuke, namun dihalang oleh Itachi.
"Sepertinya ini masalah yang harus ia bereskan sendiri," ucap Itachi sambil memandang punggung adiknya yang kini telah menghilang dibalik pagar kediaman Namikaze.
.
.
.
.
.
Trouble Class, Trouble Love
.
.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story from Akemi Miharu
Rate : T+
Pairing : SasuSaku
Warning : AU, OCC, TYPO, GeJe, dls
.
.
.
.
Happy Reading ^_^
.
.
6
.
.
Sasuke terus saja berlari tanpa menghiraukan pandangan heran dari orang-orang yang di laluinya. Saat ini hanya Sakura yang ada dipikirannya. Jarak antar rumah Naruto dengan tempat yang dimaksud cukup jauh. Sasuke mulai merasakan kakinya mati rasa.
Sasuke mulai bisa melihat gedung tua yang tidak terpakai di seberang rel yang di maksud dalam e-mail yang ia terima. Sasuke menghentikan langkahnya di tak jauh dari sana. Diliriknya jam yang melingkar ditangan kanannya.
"Masih kurang setengah jam, lebih baik aku mengumpulkan tenaga dan menyusun rencana," gumam Sasuke sambil menyandarkan punggungnya pada pohon yang ada dibelakangnya.
"Sakura..." kepala Sasuke menegadah, menatap bintang-bintang yang ada dilangit di atasnya. Pikirannya menerawang, mengingat hal-hal yang pernah ia lakukan dengan Sakura. Rasa bersalah membuncah di dada Sasuke. Andai saja pemuda itu tidak mendiamkan Sakura, andai saja dia berani untuk segera mengungkapkan isi hatinya, andai saja dia terus bersama Sakura.
.
.
.
.
.
"Diamlah, gadis manis. Sebentar lagi pangeranmu akan datang, dan juga akan pergi dengan cepat," ujar seorang pemuda dengan rambut silver sebahu dengan deretan gigi runcing mirip ikan.
Sakura nampak terikat ditengah gedung yang nampak tek terawat itu. Rambut merah mudanya nampak acak-acakan, mulutnya tersumpal oleh sehelai kain. Tubuhnya terlihat lemas, namun matanya nampak memandang beberapa pemuda yang ada disana penuh rasa marah.
"Sudahlah jangan ganggu dia. Tugas kalian hanya membuat Sasuke babak belur dan merasakan rasa sakit yang aku rasakan. Biarkan gadis itu melihat pangerannya sekarat," iris Sakura menajam mendengar kata-kata tersebut. Ia hafal betul suara siapa itu.
"Kau ini memang sadis Karin," ucap pemuda berambut silver tadi.
"Diam kau Suigetsu,"
"Terserah apa katamu, Karin. Tapi yang penting dia harus bertanggung jawab karena membuat Konan koma," kata seorang pemuda berambut oranye. Raut wajahnya menampakkan kemarahan dan kesedihan
"Ya, kita memang harus memberinya pelajaran Yahiko," ujar Karin, yang tanpa pemuda sadari terdapat senyum tipis disana.
'Konan koma?' batin Sakura. Wajah manis Konan terbayang jelas di benak Sakura. Waluapun mereka hanya berkenalan sebentar, Sakura sudah menganggap gadis itu sebagai saudaranya sendiri. 'Tapi tunggu, bukannya Konan sedang ke Kirigakure mengunjungi neneknya? Bagaimana dia bisa koma?' kata Sakura dalam hati.
"Waktunya sudah tiba, kita harus bersiap-siap. Kita selesaikan malam ini juga," ujar Yahiko.
.
.
.
.
.
Dilain tempat, Sasori nampak terduduk lesu. Tangannya mengepal kuat, kekhawatiran, cemas, marah terkumpul menjadi satu. Berkali-kali dengusan marah terdengar dari sulung Haruno tersebut. Naruto, Shikamaru dan Kiba hanya bisa terdiam.
"Tenanglah Sasori, serahkan pada Sasuke. Dia pasti bisa membawa Sakura pulang dengan selamat," ujar Itachi.
"Kenapa kau bisa seyakin itu, hah? Dan bagaimana aku bisa tenang jka nyawa adikku di petaruhkan?" ujar Sasori, nada bicaranya sudah naik dua oktaf.
"Karena Sasuke adalah seorang Uchiha, dan seorang Uchiha pasti akan mendapatkan apa yang dia mau," ujar Itachi tenang. "Dia juga pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi orang yang berharga baginya,"
Sasori hanya bisa terdiam. Ia ingin sekali mempercayai kata-kata sahabatnya itu. Tapi insting sebagai kakak terlalu kuat, apalagi Sakura adalah adik satu-satunya yang dia punya.
"Baiklah, aku akan mencoba percaya. Tapi jika sampai jam 12 dia tidak kembali, kita cari dia. Hei anak bertato terbalik, anjingmu harus bisa melacak keberadaan pemuda itu," Kiba hanya mengangguk paham, diikuti gong-gongan semangat dari Akamaru.
"Baiklah, tapi untuk sekarang kita serahkan pada Sasuke,"
.
.
.
.
.
Tepat jam 9 malam Sasuke melangkahkan kakinya menuju gedung yang ada diseberangnya. Langkah kakinya mantap, tekadnya bulat.
"Tunggu aku Sakura," ujar Sasuke lirih.
Setibanya di depan gedung, Sasuke melihat dua orang berdiri di dekat pintu. Satu orang berpawakan kurus, satunya lagi berbadan tinggi besar.
"Dia sudah menunggumu," ujar pemuda yang berpawakan kurus. Kemudian memberi isyarat pada Sasuke untuk mengikutinya.
Sasuke mengikuti pemuda berpawakan kurus tersebut, sedangkan pemuda yang satunya berjalan dibelakangnya. Sasuke dibawa menuju sebuah ruangan yang nampak tidak terawat karena nampak berdebu dan banyak pecahan kaca yang bertebaran. Sasuke menggertakkan giginya menahan marah ketika melihat Sakura tengah terikat di tengan ruangan.
"Selamat datang Sasuke, aku pikir kau tidak akan datang," ujar Yahiko saat melihat Sasuke.
"Apa maumu Yahiko?" kata Sasuke to-the-point. Pemuda itu ingin segera menyelesaikan urusannya dan membawa Sakura pergi dari tempat ini secepat mungkin.
"Wah... wah... ternyata kau tidak sabaran Sasuke-kun?" Secara otomatis Sasuke menoleh ke arah suara, terkejut mendapati Karin berdiri disana. Gadis itu memasang senyum termanisnya, yang malah membuat Sasuke muak dan mengalihkan pandangannya kembali ke Yahiko.
"Jangan hiraukan wanita itu," ujar Yahiko. "Baiklah kita selesaikan masalah kita yang waktu itu belum selesai,"
"Ya kita selesaikan," ujar Sasuke.
Tanpa di komando pemuda kurus yang tadi mengantar Sasuke berusaha menerjang pemuda itu. Tapi dengan mudah Sasuke mampu menghindar. Dengan cepat Sasuke meraih tangan pemuda itu dan membantingnya, membuat pemuda tersebut mengerang kesakitan.
Melihat temannya jatuh terkapar, pemuda yang bertubuh besar bersiap memukul Sasuke dengan tongkat yang ada ditangannya. Sasuke menunduk untuk menghindar, kemudian menendang tengkuk pemuda itu.
Namun tanpa diduga Sasuke, beberapa pemuda lain telah siap untuk menghajarnya. Diserang secara tiba-tiba tak membuat pemuda dark blue itu kewalahan, malah sebaliknya. Pemuda yang menyerang Sasuke nampak kewalahan dengan perlawanan yang diberikan pemuda itu. Hasilnya semua pemuda yang tadi menyerang Sasuke terkapar tak berdaya.
Karin memandang kagum namun juga ngeri. Sedangkan Yahiko mendengus kesal melihat Sasuke tetap berdiri tegak.
"Dasar tak berguna," Yahiko melangkahkan kaki menghampiri Sasuke. Sasuke memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi pemuda itu. Karena terlalu fokus pada Yahiko, Sasuke tidak menyadari kehadiran Suigetsu yang mengendap-endap di belakangnya.
Brrukk...
Suigetsu menghantam tengkuk Sasuke, membuat pemuda Uchiha itu jatuh tak sadarkan diri. Sakura yang terikat hanya bisa berusaha meronta, air matanya mengalir melihat Sasuke terkapar.
"Dua tahun lalu kau menghajarku, sekarang aku yang akan menghajarmu," ujar Yahiko meraih kerah Sasuke. Beberapa pemuda yang tadi dihajar Sasuke mulai bangkit dan menyeret tubuh Sasuke, mendudukkannya disebuah kursi dan mengikatnya.
Setelah selesai, Yahiko menghampiri Sasuke yang masih tak sadarkan dir. Dengan keras Yahiko memukul kepala Sasuke, membuat pemuda itu tersadar.
"Bukan saatnya tidur Sasuke, masalah kita belum selesai,"
"Dengar Yahiko, aku sudah menjauhi Konan sesuai dengan kesepakatan kita. Aku sudah tidak menanggapi dirinya. Hanya saja dia dan iblis betina yang ada disana yang sering menggangguku, lagi pula aku sudah punya orang lain yang aku sukai" ucap Sasuke.
Yahiko mendengus kesal mendengar ucapan Sakuke, "Tapi kau tahu, Konan masih menaruh hati padamu sampai sekarang. Padahal aku dan dia sudah berpacaran, tapi nyatanya dia masih saja mengharapkanmu. Ketika dia tahu kau menyukai gadis lain, dia memutusakan untuk loncat dari apartemennya. Dan sekarang dia koma,"
Sasuke terbelalak mendengar perkataan Yahiko. Tak sengaja iris onyxnya berpapasan dengan iris emerald Sakura. Dilihatnya gadis itu menggeleng padanya, seakan memberi isyarat bahwa semua itu tidak benar.
"Dari mana kau tahu bahwa Konan sedang koma?" ucap Sasuke kemudian.
"Karin yang memberi tahuku,"
"Dan kau percaya begitu saja dengan gadis iblis itu?" ucap Sasuke dengan nada menghina. "Kau masih saja polos seperti dulu Yahiko,"
"Apa maksudmu?" tanya Yahiko.
"Kau yakin Konan memang koma? Kalau ia, apa kau tahu dia sedang dirumah sakit mana? Dan kalau kau memang pacarnya, kenapa kau mendapat info itu dari Karin? Bukannya dari orang tua atau rumah sakitnya langsung,"
Yahiko tertunduk mendengar pertanyaan Sasuke. Nampanya pemuda itu mulai memikirkan pertanyaan Sasuke. Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura. Dari sorot mata Sakura, Sasuke dapat melihat bahwa gadis itu nampak lega serta nampak sorot rindu diiris Sakura. Sasuke tersenyum tipis melihat hal itu.
"Semoga aku tidak terlambat," suara seseorang memecah keheningan. Semua yang ada disana menoleh, mendapati Sasori, Itachi, Shikamaru, Kiba dan Naruto berdiri disana. "Seharusnya kau memulih penjaga pintu yang lebih tangguh," ujar Itachi.
"Cih, dasar tak berguna. Serang mereka," perintah Yahiko.
Pertarungan berjalan tak seimbang karena anak buah Yahiko lebih banyak. Namun melawan Sasori, Itachi, Shikamaru, Kiba dan Naruto bukan hal yang mudah. Buktinya semua anak buah Yahiko terkapar tak berdaya.
Yahiko mendengus kesal. Pemuda itu hendak menyerang Sasori saat sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Yahiko.." suara merdu tersebut berhasil membuat Yahiko menghentikan langkahnya dan mencari asal suara tersebut.
"Konan.. Kenapa kau disini? Bukannya kau koma?" tanya Yahiko dengan terbata.
"Koma? Aku sehat-sehat saja." ujar Konan menghampiri Yahiko yang berdiri membatu. Sementara itu Sasori dan Itachi berlari menghampiri Sakura dan Sasuke kemudian melepaskan ikatan mereka.
"Tapi kata Karin kau sedang terbaring koma, sehingga kau tidak bisa menghubungiku,"
"Yahiko, aku sedang ke Kirigakure menjenguk nenek disana, bukankah minggu kemarin aku sudah pemit padamu?" ujar Konan sambil membelai lembut wajah Yahiko.
"Benarkah? Tapi kata Karin, kau koma karena lompat dari apartemenmu karena kau tahu Sasuke mencintai orang lain,"
Konan tertawa geli, "Semua itu bohong Yahiko, lagi pula kenapa aku harus berbuat bodoh seperti itu. Aku kan sudah punya dirimu. Hanya kau yang ada dihatiku Yahiko,"
Wajah Yahiko berubah merah mendengar kata-kata Konan. Kemudian memeluk gadis itu erat. "Sekarang kau harus minta maaf pada Sasuke dan Sakura," ujar Konan. Akhirnya semua merasa lega. Hanya karena salah paham semua masalah menjadi panjang. Sakura menghela nafas lega, semua telah berakhir. Namun ia sadar kesalahpahamannya dengan Sasuke belum terselesaikan.
.
.
.
.
.
"Demikian penampilan dari perwakilan Sosial Three, beri tepuk tangan yang meriah. Oke selanjutnya adalah penampilan spesial dari Sains Two, kita sambut Sasuke Uchiha," riuh penonton menggema di aula utama Konoha High School.
Sasuke berjalan menaiki panggung, kemudian meraih gitar akustik yang telah tersedia disana. Riuh penontonton semakin heboh. Para gadis mulai menyerukan nama Sasuke.
"Selamat malam semuanya," kata Sasuke. "Seharusnya aku berada disini bersama seorang gadis bernama Haruno Sakura, namun aku memutuskan untuk tampil sendiri,"
Sakura yang berada di bangku penonton hanya bisa tertunduk lemas. Ino dan Hinata mengelus pelan punggung Sakura berusaha memberi gadis itu semangat.
"Hei, Haruno Sakura," ujar Sasuke. Sakura mengangkat wajahnya, memandang pemuda itu bingung. "Dengarkan lagu ini baik-baik,"
Petikan gitar mulai terdengar. Semua penonton menatap Sasuke kagum. Sasuke menyanyikan lagu Bruno Mars Just The Way You Are dengan penuh penghayatan. Sakura memandang kagum Sasuke. Tiba-tiba Naruto menarik tangan Sakura, mengajaknya kearah panggung.
"Apa-apaan sih Naruto," ucap Sakura sambil berusaha melepaskan genggaman Naruto. Namun sia-sia, tenaga Naruto lebih kuat darinya. Alhasil Naruto berhasil mendorong Sakura kedekat Sasuke tepat saat pemuda itu menyanyikan lirik terakhir.
"Lagu ini untukmu," ucap Sasuke sambil memegang tangan Sakura. "Alasan kenapa aku tidak mau berduet denganmu karena aku ingin mempersembahkan lagu ini untukmu. Aku ingin kau tetap berada disampingku, aku ingin kau menjadi kekasihku. Dan aku tidak menerima kata tidak."
Sakura hanya bisa terdiam. Kata-kata "terima" menggema diseluruh penjuru aula, membuat wajah Sakura berubah merah. Dengan malu-malu Sakura mengangguk pelan, membuat senyum mengembang sempurna diwajah Sasuke. Dengan tiba-tiba Sasuke menarik tubuh Sakura mendekat kemudian memeluknya erat. Suara siulan dan tepukan penonton membahana melihat aksi penembakan itu.
Sasuke dan Sakura saling bertatapan, tangan mereka saling bertaut erat. Senyum bahagia terpatri di wajah mereka berdua. Dan kisah mereka di Sains Two akan terus berlanjut.
.
.
.
.
.
Fin
.
.
.
.
.
A/N :
Ohayou Minna~ akhirnya TAMAT. Lega BGT. Akemi mau minta maaf kalau selama FF ini (dari chap 1 sampai 6), Akemi banyak melakukan kesalahan, misalnya TYPO (suer gak sengaja ^-^V) Maaf juga kalau FF ini endingnya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian semua #lemparsaya
Makasih buat para readers telah mengikuti FF ini, buat yang selama ini reviews, follow, dan favs. Semoga kalian puas dengan karya Akemi kali ini, kalau tidak puas silahkan marahi saya #plak.
Yosh~ sekian dulu Akemi gak tahu lagi mau nulis apa. Silahkan direview :D
Oke deh, sampai jumpa di FF Akemi berikutnya... Jaa nee~ Adios~ Bye bye~ Sayonara~
