Assalammualaikum Minna. Saya kembali.
Saya datang dengan membawa chapter baru.
Yah, ini adalah chapter selanjutnya untuk Saint Haven Academy.
Sebelumnya saya ingin minta maaf karena untuk updatenya lumayan lama. Kenapa? Karena aku sayang kamu. #jduakk.
Ndak. Ndak. Sebenernya alasan kenapa saya lama update karena sebentar lagi saya bakalan UN. Dan itu tinggal seminggu lagi!
Jadi mungkin saya akan aktif lagi setelah UN.
Oke. Ndak usah lama-lama lagi, saya persembahkan Saint Haven Academy Chapter 2.
Selamat membaca.
Hermalte Port. Sebuah pelabuhan indah yang dikelilingi oleh lautan biru. Pelabuhan terbesar yang terdapat di gerbang luar kota Saint Haven. Meskipun banyak kapal yang berhenti di pelabuhan tersebut, Hermalte Port pada pagi hari tetaplah terasa sepi. Hanya terlihat beberapa orang sedang berlalu-lalang, dan ada juga sekelompok orang yang bersiap untuk berlabuh.
Seperti halnya sekelompok Adventurer yang sedang baru saja berlabuh dari pelabuhan tersebut dengan sebuah kapal yang cukup besar. Di atas kapal tersebut terlihat seorang Lunar Knight berambut coklat gelap dengan pakaian serba hitamnya, berlaku seperti layaknya seorang pimpinan kapal dengan beberapa orang teman yang menemaninya. Dan orang-orang tersebut hanyalah Lunar Knight Rainessia bersama teman-temannya.
"Ahahahahahaha!" tawa Rainessia dengan keras saat mereka baru saja menuju ke laut lepas.
"Rain. Kau yakin mau melakukan ini?" tanya Qous. Dia masih tidak yakin bahwa Rain akan melakukan hal seperti ini.
"Tenang saja," jawab Rainessia. Dia pun mengacungkan jempolnya ke arah teman-temannnya, menandakan semua akan baik-baik saja.
"Ano... Tapi..." ucap Natsu. Sambil melihat ke depan kapal yang mereka naiki. Di ujung depan kapal tersebut, terlihat ada sebuah tali yang menggantung ke bawah, dan mengikat sebuah karung. Dari luar karung tersebut, terlihat kepala seorang anak yang dimana badannya berada dalam karung sedangkan yang terlihat hanyalah kepalanya saja. Dan orang itu adalah Hime.
"HEY! KALIAN! LEPASKAN AKU! APA KALIAN GILA MENJADIKANKU UMPAN UNTUK SERPENTRA?!" teriak Hime marah kepada semua yang ada di kapal.
"Hime. Tenang saja. Jika kita beruntung, kita akan membunuh Serpentra. Jika gagal, mungkin kau akan pergi ke surga," ucap Rainessia. Dia tersenyum aneh sambil mengacungkan jempolnya kepada Hime.
"BODOH! KAU GILA! LEPASKAN AKU! AKU BELUM MENIKAH!" teriak Hime lagi. Sungguh dia tidak suka diperlakukan bodoh seperti ini. Apa lagi yang akan dilawan oleh mereka adalah Serpentra.
Tidak lama kemudian, dari arah dalam laut di kejauhan, terdengar sebuah jeritan keras yang membuat Rainessia dan sahabat-sahabatnya yang berada di kapal itu sampai menutup telinga. Dan beberapa dari mereka ada yang mulai siaga dengan senjatanya, dan ada beberapa yang bersebunyi.
"LEPASKAN AKU CEPAT! ITU SERPENTRA!" teriak Hime. Panik mendengar jeritan dari naga penguasa lautan tersebut, membuatnya menjadi tidak bisa diam sehingga bergerak-gerak kesana kemari di atas tali tersebut.
"WAHAHAHAHAHA! WAHAHAHAHAHA!" tawa Rainessia. Entah apa yang merasukinya sekarang ini, tapi itu membuat kepribadiannya menjadi sangat aneh dan beda dari dia yang biasanya.
"GRROOAARRRR!" jeritan Serpentra pun terdengar semakin keras dan menjadi begitu dekat. Sepertinya dia tidak suka kedatangan tamu.
"Sial! Harusnya aku tetap di sekolah saja," ucap Plough. Sedikit takut karena harus melawan Serpentra dengan cara tiba-tiba seperti ini.
"Ryuu-kun! Ryuu-kun bodoh!" ucap Yukishirota. Kesal dengan kebodohan dari pria yang paling dia cintai itu.
"Tenang saja Yuki. Aku akan melindungimu," ucap Rainessia. Sambil wajahnya mengukir senyuman tipis yang membuat Yukishirota menjadi memerah.
"GRROOOAAARRR!" jeritan Serpentra terdengar sekali lagi. Dan terlihat di samping kapal Rainessia dan sahabat-sahabatnya, kepala Serpentra yang panjang itu muncul dari dalam laut, dengan tangan dan kedua sayapnya yang membentang.
"Bagaimana ini?! Bagaiamana ini?!" terlihat Calixt dan Sierra yang panik sambil berlari berputar-putar di atas kapal tersebut sambil mengucapkan kalimat-kalimat yang itu-itu saja.
"Moonlight Splitter," Qous mulai mengayunkan pedangnya terlebih dahulu ke arah Serpentra, dan muncul beberapa buah energi pedang berwarna biru yang melesat cepat ke arah Serpentra.
"GRRROOOOOOAARRRRR!" jeritan Serpentra. Tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Qous baru saja.
"Guided Shoot," Velyne yang mulai menarik busurnya dan kemudian menembakan beberapa anak panah yang mengejar ke arah Serpentra.
Dan Serpentra yang terus menerus diserang pun semakin marah dan mulai mengamuk. Kemudian Serpentra mengepakkan kedua sayapnya ke arah kapal itu dan membuat angin ribut yang besar.
Semua yang ada di kapal tersebut berpengangan sesuatu untuk bertahan dari serangan Serpentra. Kecuali Rainessia, yang hanya diam saja dan terlihat sangat tenang.
Rainessia yang sejak kedatangan Serpentra tadi hanya diam kini mulai beraksi. Di tangan kanannya, telah tergenggam sebuah batu yang cukup besar. Dan dengan sebagian kecil kekuatan yang dia miliki, dia melempar batu tersebut dengan pelan dan dengan beruntungnya mampu mengenai Serpentra.
"GRRRRRROOOOOOOAAARRRRR!" jerit Serpentra. Terdengar sangat keras dan hampir memekakkan telinga semua yang ada di kepal tersebut. Dan dari jeritan itu, terlihat Serpentra sangat kesakitan. Serpentra terus menjerit dengan sangat keras dan setelah itu dia diam tak bergerak dan kemudian tengglam ke dasar laut.
Dan semua sahabat Rainessia yang melihat Serpentra baru saja, hanya bisa menganga dan tercengang dengan tidak elitnya.
"Itu... Serpentra..." ucap Ontruish. Kata-katanya menggantung karena begitu shock.
"Dikalahkan..." ucap Plough. Terlihat dia juga sangat shock.
"Hanya dengan batu?!" teriak Yukishirota. Dia mengguncang-guncang tubuh Rainessia dengan kencang karena begitu shock.
Dan Rainessia yang tadinya menjadi aneh dan sedikit gila, kini sudah kembali menjadi cool dan sengat tenang.
"Ayo kita pulang sekarang," ucap Rainessia. Dia melepaskan tangan Yukishirota dari tubuhnya dan kemudian mengambil alih kapal. Untuk segera bisa kembali ke Saint Haven.
.
.
.
.
.
Dragon Nest ©Shanda Games, Kreon, Etc.
Saint Haven Academy ©Rainessia Toumitsu.
Rate T.
GaJe, OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.
Don't Like?, Don't Read!
.
.
.
.
.
Seminggu setelah kejadian Hime menjadi umpan Serpentra, kini Rainessia dan semua sahabatnya kembali menjalani hidup yang normal. Memulai sekolah kembali sepeti biasa.
"Rain!" teriak Hime. Kesal melihat Rainessia yang sedari tadi hanya tidur di mejanya, sedangkan mulutnya sedari tadi menjelaskan pelajaran.
"Hime-chan, biarkanlah saja Ryuu-kun," ucap Yukishirota. Berusaha untuk menenangkan kekesalan Hime.
"Tapi ini penghinaan!" kekesalan Hime pun memuncak. Dia kemudian mengambil sebuah penghapus dan dengan segenap kekuatan yang dia miliki, dia melempar penghapus itu ke arah Rainesia.
Namun apa yang terjadi selanjutnya adalah, Rainessia yang dengan cool dan tenangnya langsung menangkap penghapus yang dilempar oleh Hime dengan posisi kepala di atas meja dan mata tertutup. Membuat semua yang ada di ruang kelas itu terdiam dan terkejut. Dan juga membuat beberapa wanita yang ada di sana berbinar-binar dan kagum melihatnya. Penampilan yang luar biasa.
"Rainessia!" tariak Hime dengan sangat keras. Kekesalannya sudah mencapai batas. Dia langsung mengambil sebuah Canon yang ada di punggungnya dan mengarahkannya ke Rainessia.
"Hime-chan! Tenanglah!" ucap Qous panik. Firasat buruk muncul ketika melihat Hime memegang Canonnya. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
"Tahan Hime!" teriak Ontruish. Dengan cepat, dia langsung melompat dan berlari ke arah Hime. Dan kemudian langsung memegan kedua tangan Hime dengan kuat.
"Lepaskan aku!" tariak Hime memberontak.
"Bantu Ontruish!" ucap Natsu. Dia juga langsung berlari dan membantu Ontruish memegangi Hime.
"Canonnya! Canonnya!" Calixt dan Sierra juga langsung bergerak dan mencoba merebut Canon milik Hime.
"Lepaskan aku! Biarkan aku membunuh Rain!" teriak Hime semakin memberontak.
"Astaga... Apa yang sebenarnya terjadi disini," ucap Rainessia. Dia bangkit dari posisi tidurnya di meja dan menggelengkan kepalanya.
"Kau itu bodoh? Hime seperti itu karena dirimu," ucap Plough. Dengan tiba-tiba langsung memukul kepala Rainessia dari belakang.
"Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Rainessia. Bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"AKHH!" teriak Hime. Sepertinya tenaganya sangat kuat. Diapun terlepas dari pegangan sahabat-sahabatnya dan langsung melompat ke arah Rainessia.
"Hei!" Rainessia terkejut dengan Hime yang melompat ke arahnya.
Hime yang sedang menempel di punggung Rainessia pun langsung mengigit pundak Rainessia dengan ganas(?).
"Hime!" kaget Rainessia. Dia mencoba melepaskan gigitan Hime dengan mendorong kepalanya.
Sedangkan Hime malah semakin kuat mengigit Rainessia. Sama sekali tidak ingin melepaskan gigitannya. Mungkin dia masih kesal.
"Tangkap Hime!"
"Dia harus dijinakkan!"
"Kali ini jangan biarkan dia lepas!"
Dan itulah yang terjadi. Hingga kelas berakhir, yang mereka lakukan hanyalah mencoba menenangkan Hime..
.
.
.
.
.
"Huft... Gigitan Hime sakit juga," ucap Rainessia sambil mengusap pundaknya.
Kini Rainessia sedang berjalan di koridor Saint Haven Academy yang sepi. Karena semuanya sudah pulang sedari tadi. Sedangkan dirinya baru pulang sekarang karena mendapat hukuman dari Hime.
"Sial. Berbekas," ucap Rainessia. Sambil memeriksa pundaknya yang memerah karena gigitan Hime tadi. Dia terus berjalan sambil melihat pundaknya, dan tanpa dia sadar dia menabrak seseorang dan kemudian terjatuh.
"Ahh... Maafkan aku," ucap Rainessia merasa bersalah.
"Tidak. Ini salahku. Maaf," ucap orang yang ditabrak oleh Rainessia. Kemudian orang itu membereskan buku-buku yang terjatuh karena bertabrakan dengan Rainessia.
Rainessia pun ikut membantu orang tersebut, dan kemudian mencoba melihat orang yang baru saja dia tabrak. Dan dia sedikit terkejut.
"Eh? Irine?" tanya Rainessia kepada orang itu.
"Rainessia... ternyata kau," jawab orang yang ternyata adalah Irine. Saat tahu yang menabraknya adalah Rainessia, dia langsung memasang senyuman manisnya. Sambil tetap mebereskan buku yang dia bawa.
"Apa yang kau lakukan? Kau belum pulang?" tanya Rainessia lagi. Sambil tetap membantu Irine membereskan bukunya.
"Ahh... Aku disuruh untuk menyerahkan semua buku ini," jawab Irine. Setelah semua beres, dia langsung bangkit dan mengangkat semua buku-buku itu.
"Mau aku bantu?" tanya Rainessia. Merasa kasihan dengan Irine yang seorang gadis membawa barang sebanyak dan seberat itu.
"Eh? Terima kasih," jawab Irine dengan wajah sedikit memerah.
Rainessia pun segera mengambil sebagian buku yang di bawa oleh Irine. Namun, belum sempat dia menyentuh buku-buku itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah yang tidak diketahui.
"SPIRAL KICK!" teriak seseorang yang langsung mendang Rainessia dari arah yang tidak diketahui. Dan langsung membuat Rainessia jatuh pingsan.
Irine terkejut melihat Rainessia yang jatuh pingsan dan menjatuhkan semua buku-buku yang dia bawa. Dia kemudian melihat orang yang berani menendang Rainessia.
"Yukishirota?" tanya Irine. Sedikit kecewa karena yang datang adalah Yukishirota.
"Ara ara~ Maaf aku tergelincir sesuatu. Dan sepertinya aku mengenai seseorang," tanya Yukishirota. Dia langsung menarik kerah baju Rainessia.
"Yukishirota... Apa yang kau lakukan disini?" tanya Irine. Senyuman manis kemudian terpampang di wajah imutnya itu.
"Ahhh... Maaf aku membuat barang-barangmu terjatuh. Sebagai tanda maaf aku akan membawanya," ucap Yukishirota. Dengan cepat dia mengangkat semua buku yang berantakan di lantai.
"Tidak.. Bukan it–"
"Maaf yah Irine. Aku harus pergi," ucap Yukishirota. Segera meninggalkan tempat itu dengan membawa semua buku-buku itu dan menyeret Rainessia menjauh dari tempat itu. Meninggalkan Irine yang hanya terdiam heran.
.
.
.
.
.
Malam hari di Saint Haven tiba. Gemerlap lampu malam hari menerangi seisi kota. Biarpun malam Hari, namun tidak membuat kota terbesar di benua Verathea itu menjadi sepi. Masih terlihat banyak penduduk dan Adventurer yang berlalu lalang. Termasuk juga Rainessia dan Yukishirota yang sedang berjalan beriringan.
"Ryuu-kun. Ryuu-kun ingin makan apa malam ini?" tanya Yukishirota. Sambil menatap Rainessia di sampingnya dengan penuh perhatian.
"Hmm... Terserah padamu sajalah," jawab Rainessia.
"Bagaimana dengan ikan?" tanya Yukishirota lagi.
"Boleh. Tidak masalah," jawab Rainessia. Kemudian dengan lembut dia mengusap kepala elf gadis yang sangat dia cintai tersebut.
"Baiklah. Yuki akan masak yang enak untuk Ryuu-kun!" ucap Yuki girang. Senang karena baru saja diperlakukan dengan lembt oleh Rainessia.
Rainessia hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah Yukishirota. Lucu dan manis, itulah yang ada dipikirannya sekarang.
"Hime! Tidak!"
"Hime! Kenapa bisa perti ini?!"
Terdengar teriakan dua orang yang sangat familiar di telinga Rainessia dan Yukishirota. Mereka berdua melihat sekeliling dan mencari sumber suara. Dan tepat di bawah salah satu sinaran lampu kota, terlihat dua orang anak kecil yang sedang duduk berlutut di samping seorang anak yang sedang tertidur seperti tak sadarkan.
Yukishirota yang melihat mereka bertiga yang ternyata adalah Calixt dan Sierra yang sedang duduk dan Hime yang tertidur, langsung berlari menghampirinya. Sedang Rainessia memasang tampang malas.
"Dramatis sekali," ucap Rainessia malas. Merasa yakin pasti ada yang aneh dengan tiga sekawan itu.
"Hime! Bertahanlah!" ucap Sierra sambil mengguncang-guncang tubuh Hime.
"Hime!" ucap Calixt. Kemudian dia mengeluarkan obat mata dari sakunya, dan meneteskannya ke matanya. Lalu dia berpura-pura menangis di depan Hime.
"Mereka itu bodoh yah?" tanya Rainessia entah kepada siapa. Dia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Hime! Apa yang terjadi?" tanya Yukishirota. Segera dia berjongkok dan melihat Hime.
"Yu–Yuki..." ucap Hime terbata-bata. Seperti layaknya seseorang yang sedang sekarat.
"Yuki! Tolong Hime!" pinta Calixt. Sambil menarik-narik lengan baju yang dikenakan oleh Yukishirota.
"Apa yang terjadi?" tanya Yukishirota.
"Hime... Hime..." ucap Sierra dengan nada yang dia buat lirih. Dia mengambil obat mata di sakunya dan kemudian meneteskan obat itu ke matanya sama seperti yang dilakukan Calixt.
"Hime kenapa?" tanya Yuki panik. Dia memukul-mukul pelan pipi wajah Hime. Berharap Hime segera sadar.
"Yu–Yuki... A–aku..." jawab Hime masih dengan nadanya yang dia buat lirih. Seolah-olah sangat dramatis.
"Kenapa? Katakan Hime!" ucap Yukishirota semakin panik.
"A–aku lapar..." ucap Hime.
"He?" Yukishirota seketika bingung.
"Sudah kuduga ini bodoh," ucap Rainessia. Dengan cepat dia menyeret Yukishirota pergi dari tempat itu.
"Rain! Yuki! Tunggu!" teriak Sierra. Kemudian dia berdiri, dan kakinya mulai melangkah mengejar Rainessia dan Yukishirota. Calixt pun juga mengikutinya dari belakang.
"Eh! Jangan tinggalkan aku! Aku lapar!" teriak Hime. Tubuhnya langsung berdiri, dan dengan cepat mengejar Rainessia dan Yukishirota..
.
.
.
.
.
~To Be Continued~
Yosh! Selesai.
Gimana chap ini? Kurang 'kah?
Maaf kalo chapter ini mengecewakan. Soalnya nulisnya dalam keadaan ngantuk.
Saya juga sadar kalo chapter ini banyak kekurangannya yah.
Tapi yah semoga aja bisa menghibur para pembaca sekalian.
Mungkin Cuma ini yang bisa saya sampaikan. Akhir kata saya ucapkan terima kasih sudah mau membaca fic ini. Dan maaf untuk kesalahan dan kekurangannya.
Terima kasih.
Jaa.
