Chapter 2

"Iya! Tunggu sebentar. Aku sedang mencarinya!" Sakura jadi semakin panik. Ia mengambil peralatan P3K lalu berlari ke arah kasur Sasuke. "Ayo, sekarang buka bajumu!"

"APA?"sekarang Sasuke benar-benar OOC.

.

.

Miss Pesimis?

Naruto Masashi Kishimoto

Miss Pesimis © Karikazuka

Happy reading!

.

.

.

"APA?" Sasuke marasakan wajahnya memerah, pikirannya sudah kemana-mana. Sakura yang menangkap gelagat itu ikut merona, "Ja-jangan berfikir macam-macam! Lukanya kan di punggung! Bagaimana cara mengobatinya kalau bajumu tidak dibuka!"

Sasuke, untuk pertama kalinya merasa malu karena tertangkap basah telah berfikir aneh-aneh di depan Sakura. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan langsung membuka kemeja seragamnya. Sakura yang melihat adegan itu langsung berbalik memunggungi Sasuke sambil memegangi hidungnya. –takut mimisan kali-

"Su-sudah?"

"Hn," kata Sasuke masih setengah malu. Jujur baru pertama kali ia malu seperti ini di depan orang lain, selain keluarganya.

Sakura menarik napas dan menenangkan dirinya sejenak, kemudian berbalik menghadap Sasuke. Ia langsung cengo dan tak mampu berkata-kata. Wajahnya sangat merah, tapi ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir semua bayang-bayang yang ada di otaknya. Ia sedapat mungkin berusaha biasa saja, "Berbaliklah. Aku akan membersihkan lukanya dahulu."

Sasuke menurut saja. Ia merasakan lukanya itu terasa dingin dan sedikit perih, "Ugh-"

"Tenang sebentar Sasuke-kun. aku sedang membersihkannya," kata Sakura yang terlihat sibuk mengelap luka Sasuke dengan alkohol

Sasuke mendengus pelan, "Dasar ceroboh."

"Apa maksudmu, hah?" Sakura mulai memperlihatkan siku-siku di kepalanya.

"Kau ceroboh, tidak melihat kalau kaca lemari itu sudah hampir ambruk. Kau terluka juga kan?"

Sakura bingung kemudian memeriksa tubuhnya, barangkali yang dikatakan Sasuke benar. Ternyata lengannya sedikit terluka. Bagaimana Sasuke tahu? Ia saja tidak sadar kalau ia terluka. "Bagaimana kau tahu?"

Sasuke berbalik menghadap Sakura, "Sini." Ia juga membersihkan langan Sakura dengan kapas yang berisikan alkohol. "Untung tidak parah," katanya berbisik.

Sakura tersenyum dan berkata pada Sasuke lembut, "Terima kasih."

"Hn. Anggap saja impas."

"Bukan hanya yang ini, tapi yang tadi," Sakura kembali merona.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Hn?"

Sakura tersenyum malu dan memainkan jari telunjuknya sendiri, "Iya, dan juga pelukannya." katanya malu-malu.

Sasuke hanya diam dan membuang muka ke samping. "Hn," katanya pelan tapi tetap terdengar oleh Sakura.

"Aku selalu merasa, kalau aku ini selalu membuat orang repot. Begitu juga denganmu. Sampai kamu terluka parah begini gara-gara aku. Maafkan aku, sekarang kegiatan belajar kita jadi tertunda," Sakura menampakkan wajah menyesal.

Sasuke memandang wajah Sakura, entah kenapa ia tak suka Sakura berwajah menyesal begitu. "Bukan salahmu. Itu kecelakaan, tak usah dipikirkan."

"Sasuke-kun,"

"Hn?"

"Besok kan hari minggu, bagaimana jika diganti besok saja?" kata Sakura hati-hati.

Sasuke berfikir, besok ia tidak ada acara. Biasanya dia juga menganggur di hari minggu, ketimbang bosan mungkin lebih baik usul Sakura disetujui. Dengan begitu, ia juga dapat mengenal Sakura lebih jauh lagi. Eh? Tunggu dulu! Mengenal lebih jauh? Sasuke mulai melantur lagi. "Akan kupertimbangkan. Kau berikan saja nomor handphone atau alamat rumahmu."

"Eh, baiklah. Akan kutunggu kedatanganmu Sasuke-kun," Sakura tersenyum manis sambil memberikan alamat dan nomor handphonenya.

DEG! Manis. Satu kata yang difikirkan Sasuke saat ini saat melihat senyum Sakura. Senyum yang begitu mendamaikan hatinya. Wew, Sasuke sudah benar-benar terpikat rupanya.

"Sas, Sasuke?" Sakura melambaikan tangan mungilnya di depan wajah Sasuke. "Kau kenapa?"

Sasuke kembali fokus, "Tidak ada. Kau sudah selesai?"

"Ya. Aku sudah selesai. Sasuke-kun mau pulang? Kalau begitu, ayo aku antar sampai depan," katanya sambil berdiri dan menggapai tangan Sasuke. "Anggap saja ini ucapan terima kasih ku karena Sasuke-kun sudah menolongku tadi." Ia tertawa kecil sambil mengeluarkan semburat merah tipis.

Sasuke tidak menolak, karena ia memang tidak ingin menolak tawaran gadis pink itu. Apalagi ditambah dengan keadaannya yang terluka. Ia ikuti saja kemauan Sakura.

Saat mereka berjalan beriringan ke luar sekolah, tiba-tiba handphone Sasuke bergetar menandakan telepon masuk. Sakura berusaha menyembunyikan tawa nya ketika mendengar ringtone Sasuke, tapi tidak berhasil. Jelas saja ia tertawa, ternyata ringtone handphone Sasuke adalah suara yang berteriak, "OTOUUTOOOOOOO! ADA TELEPOOONNNN!" mana pakai suara yang dibuat seimut mungkin. Sementara Sasuke menatap horor ke arah handphone-nya ketika mendengar suara aniki nya yang dijadikan ringtone.

Hampir saja handphone itu diremukkan oleh Sasuke, jika ia tidak ingat bahwa itu handphone kesayangannya. Sementara Sakura masih berusaha menahan-nahan tawanya yang sudah terlanjur keluar tersebut. "Sas- hahahhaaa... Sasuke-kun darimana kau dapat ringtone seperti itu? Wahahahaha...," tawa Sakura geli.

Sasuke yang melihat Sakura tertawa seperti itu, ia jadi makin kesal, "Berisik pink!"

Sakura langsung menghentikan tawanya dan menatap horor Sasuke, "Apa katamu? Dasar Ayam!"

"Grr..."

Sakura dan Sasuke saling melemparkan deathglare andalannya masing-masing, dan melupakan suara ringtone Sasuke yang aneh bin ajaib itu *?*. Tapi si suara ringtone tidak mau kalah dan terus berteriak-teriak, membuat Sakura terkalahkan dalam adu deathglare tersebut. Ia langsung memalingkan wajahnya dan Sasuke menyeringai menang.

Sasuke mengangkat teleponnya, ketimbang terus mendengar suara gaje yang dibuat anikinya sehingga jadi ringtone. Saat ia baru akan bersuara, ternyata suara di seberang telepon langsung menerobos tanpa henti.

"OTOUTOOO! LAMA SEKALI MENGANGKATNYA? KAU SEDANG KENCAN DENGAN SIAPA? WAH, OTOUTOKU SUDAH BESAR YA! ANIKI-MU YANG TAMPAN INI JADI KAU ABAIKAN! TEGANYYAAAA!" suara Itachi, kakak Sasuke saking kerasnya membuat Sasuke menjauhkan telinganya dan membuat Sakura cengo.

"Berisik! Hentikan suara lebaymu itu! Menjijikkan!" Sasuke berkata sarkatik.

"Terlalu kau Sasu, sekarang tolong jemput aku-" kata-kata Itachi tidak terdengar karena suara Sakura tiba-tiba muncul, "Siapa itu ayam? Dia yang ada di ringtone itu 'kan? Ahhahahaha..."

"Pinky, diamlah sebentar!" Sasuke memfokuskan telinganya lagi ke arah telepon dan berbicara, "Hn, aku mengerti." lalu memutuskan sambungan.

"Sekarang kau Pinky, aku tidak bisa lama-lama."

"Bisakah kau tidak membuat masalah ayam? Aku bukan pinky!"

"Aku juga bukan ayam!"

"Kau yang mulai dulu! Kalau kau tidak menyebutku pinky, aku tidak akan menyebutmu ayam!"

Mereka berdua saling melempar deathglare kembali. Dan lagi-lagi Sakura harus kalah karena ada angin yang berhembus membuat rok nya terbang. "Kyaa!" ia berusaha menutup roknya takut terlihat Sasuke. Wajahnya mengeluarkan semburat tipis, 'Sial, aku kalah lagi. Tadi gara-gara ringtone sekarang gara-gara angin! Mana rok milikku ini pake terbang lagi! Semoga dia tidak melihatnya! Meski aku menyukainya, tapi kan aku belum siap kalau begini!'

Sakura memandang dan memastikan apakah Sasuke melihat kejadian tadi atau tidak, ia memandang wajah Sasuke hanya datar-datar saja seolah tidak terjadi apa-apa. Sakura menghembuskan nafas lega, bersyukur Sasuke tidak melihat kejadian tadi.

Tapi dugaannya ternyata salah, ketika Sasuke melangkah maju untuk melewati Sakura, Sasuke memberhentikan langkahnya dan wajahnya di samping pipi gadis itu sehingga pipi mereka hampir menempel. Sakura merasakan nafasnya berhenti dan wajahnya berubah sangat merah ketika Sasuke membisikkan sesuatu padanya. "Sampai jumpa besok, Cherry pinky," ucap Sasuke sambil menyeringai tipis, lalu meninggalkan Sakura yang mulai memanas oleh amarah dan malu.

"KURANG AJAAAAR KAU SASUKE!"

*-DinDongDinDong-*

Sasuke yang sudah menaiki mobil mewahnya pergi melesat ke kampus, menjemput Itachi yang tadi meneleponnya. Sebenarnya ia tidak mau melakukannya, tapi ia ada urusan dengan aniki nya itu. 'Akan kubunuh Aniki yang sudah membuatku malu,' ternyata Sasuke masih tidak terima dengan suara ringtone yang Itachi buat dan terdengar oleh Sakura.

Ngomong-ngomong Sakura, Sasuke jadi teringat kejadian tadi. Saat ia memanggil 'Cherry Pinky' ternyata itu untuk menyindir Sakura. 'Sudah dewasa seperti itu masih pakai milik anak-anak,' pikir Sasuke dalam hati. Ia sempat merona melihat Sakura tadi, tapi segera ditutupinya dengan wajah stoic andalannya. 'Menarik juga,' ia menyeringai dan menancap gas.

.

.

.

Sakura merasakan kepalanya sedikit nyut-nyutan. Ia tidak membayangkan hari ini dia akan mengalami banyak hal. Dan ia masih tidak percaya dengan sikap Sasuke yang melenceng jauh dari perkiraannya. Sasuke yang diam dan dingin ternyata bisa jadi mesum dan menyebalkan, walau kadang ia juga baik dan perhatian. Buktinya Sasuke mau menolong Sakura dan mengobati lengannya yang terluka. Tapi yang membuatnya malu dan tidak terima adalah Sasuke memanggilnya 'Pinky'. Apalagi 'Cherry pinky' itu berarti Sasuke melihat kejadian tadi! "Huah! Lupakan! Lupakan Sakura!" ia berteriak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sejenak ia kembali murung. Sasuke pasti menganggapnya pemarah, dan cerewet. Ia merasa orang yang seperti Sasuke pasti menyukai anak yang tenang dan lembut seperti Hinata. Hinata kan putri sekolah, ia disukai banyak orang karena kecantikan dan kesempurnaan yang dimilikinya. Sakura kembali menghela nafas, "Aku, ingin jadi seperti Hinata. Apakah aku harus merubah diriku?"

.

.

.

Sekarang Sasuke harus membatalkan diri untuk membunuh Itachi, karena Itachi terus saja menggoda Sasuke habis-habisan soal Sasuke yang tertangkap basah sedang berkencan. Ia sudah lelah dan berniat melempar aniki nya itu di jalan, untung saja ia masih mengingat Itachi itu adalah kakak kandungnya.

"Sudah kubilang, aku tidak sedang berkencan!" sergah Sasuke kesal.

Itachi duduk di samping Sasuke menyeringai dan menggoda adik kesayangnnya itu, "Sudahlah, mengaku saja. Tidak usah malu-malu. Siapa nama gadis tadi?"

"Diam atau kulempar kau ke jurang," Sasuke mengeluarkan deathglare sejenak dan fokus menyetir.

"Ah, baik-baik. Pelit sekali kau otouto," Itachi mengerucutkan bibirnya. 'Akan kucari tahu sendiri, fufufu...'

*-DinDongDinDong-*

Hari minggu, Sasuke memutuskan untuk pergi kerumah Sakura. Hari ini dia memakai kaus biru tua, jeans panjang hitam, jaket warna hitam dengan lambang kipas di dada kanannya, dan sepatu putih. Simpel, tapi keren. Ia melesat ke rumah Sakura dengan mobil sport hitam kesayangnnya.

Sampai di rumah Sakura, Sasuke memencet bel rumah berwarna cream tersebut. Lalu muncullah Sakura dengan penampilan yang cukup 'Wow' bagi Sasuke. Tanktop pink dengan celana jeans biru diatas lutut, apalagi melihat Sakura yang sepertinya baru selesai mandi. Maklum, Sasuke datangnya cukup pagi dan Sakura baru saja akan menyiapkan sarapan.

Melihat Sasuke yang terdiam memandangi dirinya, ia baru sadar apa yang ia pakai saat ini. Langsung saja dia menutup pintu dan berlari mengambil kemeja putih yang digunakan untuk menutupi tubuh atas nya. Ia kembali keluar dan membuka pintu rumahnya dan taraa, Sasuke menatap dirinya dengan wajah masam. Ia sadar, ia pasti menutup pintu rumahnya dengan keras.

"Ma-maaf Sasuke-kun! aku lupa mempersilahkanmu masuk tadi. Aku tidak tahu kau akan datang pagi dan a-aku-"

"Hn."

Sakura memandang wajah Sasuke sejenak, kemudian ia cepat-cepat mempersilahkan Sasuke masuk dan membuat teh. "Bagaiman luka mu?" Sasuke bertanya sambil mengambil teh di depannya.

"Sudah baikkan, kau sendiri?"

"Sama." Jawabnya datar

"Apa kau sudah sarapan, Sasuke-kun?" Sakura mencoba mencairkan suasana.

"..." Sasuke menggeleng.

Sakura mendadak cerah, ia kemudian tersenyum ceria, "Kalau begitu ayo sarapan sama-sama. Aku juga belum sarapan."

"Tidak usah," Sasuke menolak dengan cepat.

"Eh, kenapa?"

"Orangtua mu mana?" Sasuke mengalihkan pembicaraan.

"Aku tinggal sendiri, orangtuaku berpisah dan aku memutuskan untuk tinggal sendirian di Konoha. Lagipula sebentar lagi juga kelulusan 'kan," jawab Sakura.

Sasuke tersentak dalam hati dengan jawaban Sakura, ia mengerti maksud gadis itu. Ia menjadi sedikit salah tingkah, "Hn."

Sakura tersenyum riang, "Sudah ayo makan bersamaku,"

"..." Sasuke mengikuti langkah Sakura ke meja makan.

"Kau mau makan apa Sasuke-kun?" kata Sakura sambil membuka kulkas dan memilih-milih bahan makanan yang akan dimasak.

"..." Sasuke diam saja dan duduk di meja makan.

Sakura yang melihat bahwa bahan makanan miliknya tinggal sedikit berfikir sejenak, "Bagaimana kalau nasi goreng? Bahan makanan milikku tinggal ini saja sih." Ia melirik beberapa bahan makanan yang disiapkan.

"Bisa masak?" Sasuke berkata dengan nada sedikit aneh, ia tidak yakin Sakura bisa memasak.

Sakura mengerucutkan bibir dan melempar Sasuke dengan tomat, "Tentu saja. Aku juga bisa kalau begini saja."

Sasuke menangkap tomat yang dilempar Sakura dan memakannya, "Kukira kau bisanya berisik."

"Apa kau bilang?" Sakura mulai naik darah.

"Lupakan. Akan kubantu memasak," Sasuke mengalihkan pembicaraan dan berjalan ke dapur.

"Kau mengalihkan pembicaraan!" Sakura tidak terima dan mengejar Sasuke ke dapur.

Mereka akhirnya mulai memasak kemudian Sasuke bicara, "Aku ingin yang banyak tomat nya."

Sakura hanya tersenyum dan kembali dengan memotong daging, "Baiklah! Kita pakai tomat yang banyak, kau iris tomatnya ya!"

"Hn," Sasuke mengambil pisau dan memutar-mutarnya. Dia tidak tahu cara mengiris dengan pisau, secara tidak pernah ke dapur. Perlahan dia letakkan sebuah tomat di telenan (aku gak tau nama lainnya) dan memululkan pisau pada tomat dengan cepat, seolah sedang mencincang.

Sakura merasakana ada hala yang ganjal dan menoleh, "Bukan begitu caranya!" ia mengambil alih pisau dan mengirisnya, "Seperti ini. harus diiris tanggung-tanggung dan rapi..."

Sasuke mengambil alih pisau dari tangan Sakura denagn cepat, "Aku mengerti."

Sakura tersenyum sebal dan kembali pada bumbunya.

Beberapa menit setelah itu, "Nah! Selesai! Ayo kita makan." Sakura meletakkan seporsi nasi goreng dan segelas jus tomat untuk Sasuke.

"Mana minuman milikmu?" Sasuke keheranan melihat Sakura hanya membawa seporsi nasi goreng.

Sakura duduk di kursi dan sedkit tersenyum, "Aku minum air mineral."

Setelah itu acara sarapan menjadi tenang dan sunyi. Selesai makan, dan mencuci piring mereka memutuskan untuk memulai belajar.

*-DinDongDinDong-*

(langsung selesai belajar aja ya. /plaak)

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sakura mulai jenuh karena terus dalam situasi yang hening. Sudah cukup lama mereka belajar dan hening. Yang terdengar hanya suara kertas dibalik, dan beberapa suara kecil lainnya.

Sakura mengintip Sasuke dari balik bukunya, "Uhm, hey... apa kau tidak bosan?"

Sasuke tetap memandang bukunya sambil sesekali menuliskan sesuatu di catatannya, "Tidak."

Sakura berdiri dan meregangkan punggungnya, "Hei, aku memiliki dua tiket nonton bioskop dari langganan majalahku. Kau mau ikut? Acaranya malam ini, tapi aku bingung mau pergi dengan siapa."

"Jadi, kau mengajak aku untuk... Kencan?" Sasuke menaruh bukunya dan memberikan pandangan menggoda andalannya.

Pipi Sakura langsung merona mendengar perkataan Sasuke, "Hah? Tentu saja tidak! Siapa juga yang mau kencan denganmu!"

"Mengaku saja, kau mau."

"Ti, tidak! Sudahlah, kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa! Aku akan pergi sendiri!" Sakura membuang muka ke samping sambil melipat kedua tangannya.

Sasuke mendadak berdiri dan menjauh dan menuju pintu keluar. Tapi ia menoleh sejenak, "Kujemput nanti sore. Dan pakailah gaun."

Sakura menatap Sasuke yang membuka pintu rumahnya, "H-hei! Kenapa harus pakai gaun? Kita 'kan hanya ke bioskop!" tapi Sasuke hanya melambaikan tangannya dan menutup pintu. "Haah... Dasar aneh,"

.

.

.

Gaun cek.

Tas cek.

Make up cek.

"Sepertinya sudah semua," Sakura menatap dirinya di cermin sambil tersenyum. Mau tidak mau ia memakai gaun juga, takutnya nanti Sasuke akan memakai baju resmi juga, jika ia tidak memakai gaun. 'kan tidak matching kalau Sakura memakai kaus, Sasuke malah memakai baju resmi. Setelah ia merapikan sedikit rambutnya, handphone miliknya berdering.

From Sasuke petok-petok:

5 ment lagi aku sampai. Jangan lupa pakai gaun.

Sakura mengerucutkan bibir sebal,

To Sasuke petok-petok:

Ya. Aku tahu! =,="

Tepat 5 menit, Sasuke datang dengan ferrari hitam miliknya. Ia mengetuk pintu rumah Sakura dan saat pintu itu terbuka, ia tidak dapt menyembunyikan rona merah di pipi putihnya.

Sasuke melihat Sakura yang begitu manis malam ini. Ia memakai gaun berwarna hitam 3 senti di atas lutut. Gaun itu berbentuk pendek bagian depan, tapi memanjang ke belakang sehingga memperlihatkan sedikit paha Sakura yang putih. Sepatu hak 5 senti dengan tali yang mengikat betisnya yang putih dan membuatnya terlihat manis, tapi dewasa. Ia juga memberikan polesan make up natural dengan lip gloss pink tipis di bibir mungilnya. Rambutnya yang sepinggang ia buat sedikit ikal di bagian bawah dengan poni manis se-alis (bayangkan poni milik Hinata).

Sungguh, Sasuke tidak dapat membohongi dirinya sendiri, bahwa Sakura terlihat sangat cantik dan manis sekarang.

"Hei, Sasuke-kun?"

Sasuke berbalik cepat, "Ayo berangkat."

Sakura hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Sasuke. Ia pun merasa bahwa malam ini Sasuke menjadi sangat keren dengan kemeja biru tua dan jas hitamnya. Rambutnya tetap saja, tapi sepertinya ia menambahkan gel rambut agar terlihat lebih rapi.

Wajah Sakura memanas ketika Sasuke membukakan pintu mobil untuknya, membuat jantungnya sedikit berdebar saat wajah mereka bertemu. Ia langsung masuk dan memegang dadanya gugup.

Sasuke yang melihat kelakuan Sakura tersenyum kecil sambil merona tipis dan ia masuk ke tempat kemudi. Ia memandang Sakura dan memegang setir, "Kita ke rumahku dulu."

"Hah? Untuk apa?" Sakura memandang Sasuke heran. Masa mau ke bioskop saja harus minta ijin orang tua Sasuke?

"Kau akan tahu nanti." Sasuke mencuri pandang sejenak dan fokus menyetir.

Sakura memutuskan untuk diam saja dan mengikuti keinginan Sasuke. 10 menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah besar dan mewah dengan lambang kipas di pagarnya.

Saat mobil mereka sampai, pagar itu terbuka otomatis dan mobil Sasuke masuk ke halaman rumah besar itu. Sasuke memberhentikan mobilnya dan membukakan pintu untuk Sakura. Saat akan masuk ke dalam rumah besar itu, Sasuke berbisik, "Kau nanti harus membantuku."

"Eh?" sebelum Sakura mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Sasuke sudah memeluk pinggangnya dan membawanya masuk ke dalam, "Hei, apa maksudnya ini?"

Sakura yang sedikit kelabakan tidak menyadari dirinya sudah ada di ruangan lain dengan dua orang di sana. Mereka menatap Sasuke dan Sakura tidak percaya dan ada yang berdiri.

"Ayah, ibu kenalkan. Ini Sakura, kekasihku." Sasuke berkata sambil mengeratkan pelukannya pada Sakura.

"Benarkah?" semua orang di sana kecuali Sasuke dan Sakura berteriak kaget, sementara Sakura malah berkata berbarengan dengan suara itu, "Apa?"

"Ya. Dialah yang kupilih." Sasuke berkata dengan lancar.

'Apa maksudnya ini?' inner Sakura berteriak dalam hati.

-TBC-

Yeah, Ichapter dua juga aku edit. Semoga tidak ada typo lagi ya! #ngelap keringet

Harap dibaca lagi, karena beberapa kata dan adegan yang kuubah. Itu dikarenakan Sasuke yang terlalu OOC sebelum di-edit! Aku baca lagi fic ini jadi malu sendiri... / Makanya kata-kata Sasuke sedikit berubah dan IC (aku gak yakin apa beneran IC) :P

Wah, senang sekali aku baca review-review kalian! Lucu-lucu! Hehehehehe... :D tiap baca review kalian, selalu buat aku ketawa dan nahan untuk tidak malu... kalian baik sekali! XD

Thanks udah mampir, baca, apalagi review di fic ini ya!

Karikazuka.

Edit: Minggu, 15 Januari 2012, 21:46 pm.