"Ayah, ibu kenalkan. Ini Sakura, kekasihku." Sasuke berkata sambil mengeratkan pelukannya pada Sakura.
"Benarkah?" semua orang di sana kecuali Sasuke dan Sakura berteriak kaget, sementara Sakura malah berkata berbarengan dengan suara itu, "Apa?"
"Ya. Dialah yang kupilih." Sasuke berkata dengan lancar.
'Apa maksudnya ini?' inner Sakura berteriak dalam hati.
.
.
Miss Pesimis?
Naruto Masashi Kishimoto
Miss Pesimis © Karikazuka
Happy reading!
.
.
.
Sakura tidak membayangkan hal ini akan terjadi pada dirinya. Bayangkan saja, dia baru mengenal akrab Sasuke selama 2 hari! Dan sekarang Sasuke mengaku-ngaku bahwa mereka berpacaran.
Ya, Sakura sih sebenarnya tidak keberatan kalau Sasuke mau, tapi kenapa tidak ada romantis-romantisnya sih? Biasanya 'kan cowok harus ngasih bunga atau apalah untuk menyatakan cinta. Boro-boro menyatakan cinta, bilang sesuatu saja tidak! Lihat Sakura sekarang, dia merasa seluruh mata menatapnya dengan pandangan tidak percaya –kecuali Sasuke-.
Melarikan diri, sepertinya cocok. Ia langsung menggaet lengan Sasuke dan menariknya pergi, tak lupa memberikan senyum lebar pada keluarga Sasuke, "Semuanya, kami permisi dulu sebentar ya."
Sasuke hanya diam dan mengikuti langkah Sakura yang lebar, 'Nih anak hebat juga. Pakai high heels segitu masih bisa melangkah lebar. Sepertinya aku tidak salah pilih."
"Apa maksudmu sebenarnya?" kata Sakura membuyarkan lamunan Sasuke.
"Akan kujelaskan. Jadi aku butuh bantuanmu untuk menjadi pacarku." Sasuke menghela napas pelan.
"Hah? Maksudnya? Kenapa kau memilihku?" Sakura memandang Sasuke bingung.
"Sebenarnya aku akan dijodohkan dengan Karin jika aku tidak segera mempunyai pacar. Maka dari itu aku memilihmu, karena kurasa kamu dapat diandalkan," Sasuke melipat tangan ke dadanya.
"Karin? Kenapa kau tidak mau? Dia 'kan cantik, dan kenapa kamu menganggap aku adalah alatmu? Aku tidak mau!" Sakura membuang muka sambil melipat tangan.
"Bu, bukan begitu maksudku. Kau tahu 'kan aku banyak penggemar, dan kurasa kau orang yang tidak terlalu nge-fans terhadapku, jadi ya..." Sasuke berkata agak gugup dan membujuk Sakura.
"Memang kau yahu dari mana kalau aku tidak mengidolakanmu?" Sakura membalikkan badan dan menatap Sasuke bingung.
Sasuke mendadak menyeringai setelah mendengar perkataan Sakura, "Jadi, kau mengidolakanku?" ia mendekati Sakura dan merapatkannya ke pinggir meja hias.
Sakura merona gugup, "Ti, tidak. Ke-kenapa aku harus mengidolakanmu?" posisinya benar-benar terdempet sekarang.
Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura, "Lalu? Kau akan membantuku 'kan sayang?" bisiknya di telinga Sakura. "Apa kau takut, jika... Kau jatuh cinta padaku, hum?"
Sakura menyerah sekarang. Ia tidak punya pertahanan lagi, apalagi posisinya seperti ini. Tubuhnya sudah terbaring di meja, dengan Sasuke yang makin mendekat ke arahnya. Ia jadi tidak dapat mencari akal lagi, kalau bersama Sasuke. "Ba-baiklah. A-aku mau."
Sasuke menyeringai, "Bagus."
Belum sempat mereka membenahi posisi mereka, ternyata keluarga Sasuke melihat posisi mereka yang tidak wajar itu. Sontak wajah mereka merona melihatnya, "Apa yang kalian lakukan?"
Sakura dan Sasuke menoleh kaget dan Sakura langsung mendorong Sasuke agar mundur. Ia merapikan pakaian dan tersenyum gugup, "Ahaha... Ti-tidak ada apa-apa!"
Sementara itu Sasuke hanya diam. Sakura yang kesal menginjak kaki Sasuke dan memberi tatapan jawab-iya-sekarang! Membuat Sasuke merasa sangat kesakitan, apalagi Sakura memakai high heel. Ia hanya berkata datar, "Hn." Padahal dalam hati ia mengumpat kesal.
Orangtua Sasuke tak lantas percaya, mana ada yang percaya jika disuguhi pemandangan semacam itu. Anak kecil pun tahu jika Sasuke akan berbuat sesuatu. Fugaku, ayah Sasuke sedikit berdehem sejenak dan menatap Sasuke, "Kalau mau bermesraan jangan di sini. Dasar anak muda, cepat sekali,"
Sementara Mikoto menatap Sasuke dengan pandangan berbinar-binar, "Wah, anakku sudah besar ternyata! Ibu terharu..." ia memandang Fugaku dan memukul bahunya kecil, "Kau tidak boleh begitu! Apa kau tidak senang melihat pasangan manis ini? Kau juga begitu dulu!"
Fugaku sedikit merona dan salah tingkah, "Tapi 'kan itu berbeda."
"Sudahlah, biarkan mereka berdua. Lagi pula aku yakin Sasuke tidak akan melakukan hal yang buruk pada..." ia menatap Sakura seolah bertanya namanya.
"Sakura Haruno. Panggil saja Sakura bibi," Sakura mengerti arti tatapan Mikoto dan tersenyum.
"Iya, lagi pula Sakura-chan sangat manis dan cantik. Sasuke pintar cari pacar ya..." Mikoto tersenyum sambil menggandeng tangan Sakura. sementara Sakura hanya tersenyum malu-malu.
'Iya sih, tapi 'kan aku hanya pacar bohongan saja...' pikir Sakura pundung dalam hati.
"Jadi, pertunangannya batal 'kan? Aku sudah punya pacar," Sasuke bertanya pada ayahnya.
Fugaku menatap Mikoto yang sedang menggoda Sakura dan berpaling menghadap Sasuke, "Tidak juga. Kau yang harus membicarakannya pada Karin soal pertunangan ini. Jika tidak, pertunangan harus tetap dilaksanakan."
Sasuke mengerutkan kening dan mentap Fugaku, "Tapi, aku tidak mencintai Karin! Mana mungkin aku harus bertunangan dengannya."
Fugaku memegang pundak Sasuke dan berkata, "Kau yang harus minta Karin yang memutusan pertunangan ini."
Sasuke hanya diam, kemudian ia menarik tangan Sakura yang sedang berbincang dengan ibunya, "Kita pergi. Ibu, aku harus pergi sekarang."
Sakura hanya sempat membungkuk sejenak dan memberi salam pada orangtua Sasuke dengan singkat kemudian menghilang ditarik oleh Sasuke. "Apa tidak apa?" kata Mikoto khawatir.
"Kau tenang saja, Sasuke pasti bisa mengatasinya." Fugaku memeluk Mikoto dan meyakinkannya.
" Iya, semoga Karin mau mengerti..."
*-DinDongDinDong-*
Dua pasangan ini sekarang berada di dalam mobil Sasuke. Suasana seperti ini membuat Sakura kurang nyaman ia mencoba mencairkan suasana, "Jadi? Kita jadi ke bioskop?"
Sasuke yang terdiam sejak tadi menoleh, "Hn."
Sakura tersenyum senang dan menatap sepatunya, "La-lalu tugasku sudah selesai 'kan?"
"Belum. Kita harus meyakinkan Karin dahulu, agar ia membatalkan pertunangan ini," Sasuke berkata sambil menyetir mobilnya.
Sakura menegang dan menatap wajah Sasuke cemas, "Aku tidak mau! Kau 'kan tahu gimana garangnya Karin! Bisa-bisa aku dicincangnya!"
Sasuke mendengus dan memberhentikan mobilnya di parkiran bioskop, "Tenanglah, ada aku."
Sakura merona mendengar perkataan Sasuke, "A-aku tidak tahu apa perkataanmu dapat dipercaya."
"Jadi kau mau bukti?"
"Tentu saja! Ini berhubungan dengan hidupku, tahu! Lagipula, aku tidak bisa bebas mencari pacar 'kan!"
"Aku akan menjagamu. Jika tidak, kau bisa minta apapun dariku! Dan soal pacar, kalau kau sudah punya orang yang kau suka, aku tidak akan melarangmu. Kau bebas berpacaran dengan siapapun," Sasuke berkata panjang dan meyakinkan Sakura.
"Janji?" Sakura kelihatan mulai percaya.
"Hn."
Sakura mengerucutkan bibir dan menatap Sasuke kesal, "Bicaramu pendek sekali! Padahal tadi panjang!"
Sasuke hanya diam, kemudian ia keluar untuk membukakan pintu Sakura. Sementara Sakura masih memasang tampang sebal. Ia tersenyum samar dan menggandeng Sakura agar mau keluar. "Kutraktir nanti, sebagai imbalan karena mau membantuku."
Seketika itu wajah Sakura berubah cerah dan tersenyum lebar, "Asyiiik! Begitu dong!" kemudian ia menggandeng lengan Sasuke erat dan berceloteh macam-macam.
Sebenarnya Sasuke bingung juga harus menghadapi Karin. Karin selalu saja menempel pada Sasuke dan mengatakan bahwa ia calon tunangan Sasuke ke semua orang. Dan karin tidak akan segan jika ada gadis yang berani mendekati Sasuke selain dirinya.
'Tapi ini demi kebaikanku juga...' Sasuke berkata egois.
*-DinDongDinDong-*
.
.
.
Setelah malam itu, Sakura berusaha untuk menyiapkan dirinya dari berbagai macam kemungkinan yang akan dilakukan fansgirl Sasuke, apalagi Karin. Ia takut jika nanti semua akan itu, ia berjalan menuju sekolah dengan perasaan gugup. Apa ia bisa?
"Woy forehead! Diem aja kayak tikus!" suara Ino ketika bertemu di persimpangan.
Sakura berjengit kaget dan menjitak ino pelan, "Kau mengagetkanku saja pig! Aku lagi pusing nih!"
"Pusing kenapa?"
"Begini..." Sakura bercerita selengkapnya. Ia tidak mau menyembunyikan hal ini dari sahabatnya, lagipula ia percaya Ino tidak akan menceritakan pada siapapun.
"What? Ya ampun Saku, impianmu untuk bisa dekat dengannya jadi terwujud 'kan? Soal Karin dan lainnya kurasa Sasuke bisa mengatasinya! Dia sudah berjanji padamu!" Ino berkata dengan kaget sekaligus senang.
"Tapi aku ragu pig, aku bukan orang yang istimewa. Mereka tidak akan membiarkan aku yang biasa saja ini dekat dengan Sasuke se-inci pun!" Sakura berkata sambil berjalan cepat.
Ino menghela napas kesal, "Kau selalu merendahkan diri! Padahal kau itu cukup terkenal lho! Kau pintar, baik dan cantik! Kau saja yang tidak menyadarinya!"
"Itu katamu, sementara aku berkata kalau Hinatalah yang memiliki semua itu, aku hanya murid biasa."
"Suatu saat kau pasti sadar, kalau kau juga punya kelebihan yang tidak dimiliki Hinata."
"..."
.
.
.
Ketika Ino dan Sakura masuk ke dalam kelas, seperti biasa Karin berada di samping Sasuke dan menempel seperti perangko. Ketika Sakura melewati meja mereka, ia mendengar suara Karin yang manja.
"Sasuke-kun, bagaimana petunangan kita? Kita akan segera bertunangan 'kan sebentar lagi."
"Aku membatalkannya." Sasuke berkata sambil menjauh dari Karin.
"Hah? Jangan bercanda Sasuke-kun. Kau milikku, ayahmu bilang kalau kau dan aku akan segera bertunangan!"
"Aku tidak mencintaimu. Jadi aku membatalkannya." Sasuke sadar bahwa ia sedang jadi bahan tontonan semua orang di kelas.
"Kau bohong! Bagaimanapun, kita pasti akan bertunangan! Kau pacarku!" Karin berkata dengan angkuh.
"Kata siapa? Aku punya orang yang kucintai sendiri." Sasuke melangkah mendekati Sakura dan memeluknya. Sementara Sakura hanya dapat berdoa semoga ia tidak dimakan Fansgirl Sasuke dan Karin.
'Tuhan, tolong aku!' pinta Sakura dalam hati.
"Sakura? Yang benar saja! Aku tidak percaya!" Karin berteriak keras, tidak peduli kalau ia sedang dilihat semua orang.
"Benar 'kan Sakura, kau pacarku?" Sasuke memeluk Sakura makin erat.
"S-seperti itulah." Sakura menjawab gugup.
"Kau dengar 'kan Karin? Aku memiliki pacar sekarang, jadi aku membatalkan pertunangan kita." Sasuke menatap Karin datar.
"Aku masih tidak percaya Sasuke-kun! dan aku tidak akan membatalkannya! Pertunangan kita akan tetap terlaksana!" Karin menahan amarah dan berjalan mendekati Sakura dan menatapnya tajam. "Kau... Dasar tidak tahu diri!"
Sakura merasa marah karena Karin berani menghinanya, "Jaga ucapanmu!"
"Memang benar 'kan? Kamu seharusnya bercermin! Kau tidak pantas untuk Sasuke!" Karin memandang remeh Sakura.
Sakura memandang sekelilingnya, yang dilihatnya adalah para fans Sasuke yang memandangnya dengan pandangan menghina. Mereka berbisik kecil, "Iya, Sakura tidak tahu malu."
"Ia bahkan berani merebut tunangan orang."
"Iya benar kata Karin! Lebih cocok juga Karin atau Hinata yang memiliki Sasuke!"
"CUKUP!" Sasuke berteriak marah pada semua disitu. Ia kemudian memandang marah Karin, "Kalian tidak pantas berbicara macam-macam pada Sakura! Karin, pergilah!"
Karin menatap Sasuke tidak percaya, kemudian mendorong Sakura yang wajahnya menunduk lalu pergi diikuti teman-temannya.
Saat itulah, Sakura tidak dapat menahan airmatanya. Ia berlari keluar kelas dan menerobos siswa-siswi yang berada di sana. Ino yang melihat itu, langsung berlari mengejar Sakura diikuti Sasuke.
"Sakura! tunggu sebentar!" Ino berteriak pada Sakura yang berlari menuju toilet, bersembunyi.
"Sakura!" Sasuke ikut mengejar Sakura dan bermaksud ingin masuk toilet tersebut, tapi ditahan Ino.
"Kau kenapa ikut?" Ino berteriak kesal.
"Aku 'kan pacarnya!"
"Tapi ini toilet perempuan! Kau gila apa? Tunggu diluar!" Ino memasuki toilet sementara Sasuke speechless karena mendengar 'Toilet perempuan'.
"Tch! Sial!" Sasuke menendang dinding di sampingnya.
*-DinDongDinDong-*
"Saku, stt... Tenanglah." Ino mencoba menenangkan Sakura yang menangis di toilet. Untung toilet sedang kosong saat ini.
"Hiks... Hiks... Tapi Ino, mereka semua membenciku. Su, sudah kubilang 'kan, hiks... seharusnya aku tidak mengikuti keinginannya, hiks..." Sakura menangis sambil menutupi wajahnya.
"Kau jadi bukan seperti Sakura yang kukenal deh! Sakura yang kukenal adalah anak yang berani dan tangguh! Masa begitu saja udah mewek!" Ino mulai mengeluarkan jurus andalannya.
"Apa kau bilang?" Sakura mulai menghentikan tangisnya dan menatap Ino kesal.
"Iya! Kau jadi lemah gara-gara masalah sepele! Bukannya kalau kau begini, akan membuktikan kalau kau juga bisa memiliki Sasuke? Kau harusnya bangga! Bukannya malah nangis!" Ino menyemangati Sakura dan menepuk punggung Sakura.
"Huh, dasar pig!" Sakura tersenyum kesal dan mencubit lengan Ino.
"Aduh! Sakit forehead!" Ino mengelus lengannya.
"Biar! Kau sih, mengejekku!" Sakura mebelakangi Ino.
"Tapi, itu membuatmu jadi tidak menangis lagi 'kan? Haha... Begitu dong!"
Sakura tersenyum dan memeluk Ino, "Terimakasih ya..."
Ino membalas pelukan Sakura dan tersenyum, "Sama-sama."
Sakura dan Ino berjalan keluar toilet setelah Sakura mencuci wajahnya dan sementara itu Ino menceritakan tentang Sasuke yang memaksa masuk toilet.
"Benarkah?" kata Sakura sambil membasuh wajahnya.
"Iya! Wah, sepertinya dia jadi perhatian sekali ya sejak kalian berpura-pura pacaran?" Ino mengedip jahil.
Sakura sedikit merona dan tersenyum canggung, "Entahlah. Mungkin dia hanya merasa kasihan padaku."
Bel pelajaran berbunyi menujukkan bahwa pelajaran pertama telah selesai, mereka tidak meyangka kalau sudah di toilet cukup lama.
"Wuaaah! Pelajarannya sudah selesai!" Ino menjerit pelan sambil melihat jam tangannya.
"Ahhh, maaf pig! Gara-gara aku kau jadi membolos,"
"Wah, kalau gitu kita bolos aja sekalian! Toh hari ini cuma sampai jam 9 pagi!" Ino menatap sakura meminta persetujuan.
Berpikir. Sakura tidak mau melihat Sasuke, Karin dan fansgirl Sasuke hari ini. Ia sudah cukup lelah berurusan dengan mereka. Apalagi Sasuke, bisa-bisa Sakura makin suka dengan Sasuke. Dengan segala perhatiannya yang berbeda hari ini, ia belum siap. Mending ia pergi part time dan shopping bareng Ino. "Baiklah! Kita pergi part time dan shopping sekarang!"
Mereka keluar dari toilet tanpa menyadari kalau ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
"Jadi begitu..."
*-DinDongDinDong-*
Sakura dan Ino membolos hari ini. Mereka tidak mengambil tas mereka di kelas dan langsung menyelinap keluar lewat pintu belakang sekolah. Mereka kebetulan ikut kerja sambilan bersama di sebuah kafe. Dan untuk itu, mereka akan bekerja lebih awal, supaya dapat pergi shopping sorenya. Rencananya, sore hari mereka akan menyelinap ke sekolah dan mengambil tas mereka. Ckckckck...
.
.
.
Sementara itu, Sasuke terus memandangi bangku Sakura di samping mejanya. Ia heran, sampai sekarang, Sakura belum muncul. Ia sampai nekat masuk ke toilet perempuan yang hanya mendapat teriakan dari para perempuan disana. 'Kemana dia?'
"Whoi, kau kenapa?" naruto menepuk punggung Sasuke keras sambil memasang cengiran tanpa dosa.
"..."
"Kau dari tadi melihati bangku milik Sakura-chan. Kangen ya sama pacar barunya? Ciee... Tak kusangka Teme akan seperhatian itu pada Sakura-chan!" naruto nyengir jahil.
"Diam," Sasuke angkat bicara sambil memegangi punggungnya yang dipukul Naruto, 'Ck, gara-gara dia, lukaku terbuka lagi.' Ia kemudian berjalan pergi menuju UKS.
"Lho? Mau kemana, Teme?" Naruto mengejar Sasuke yang menjauh.
"UKS, lukaku terbuka," Sasuke memasuki ruangan putih itu diikuti Naruto.
"Kok bisa luka? Dokter! Tolongin teman saya!" Naruto berlari sambil menggandeng Sasuke mencari dokter.
"Kenapa?" sang dokter bertanya pada Naruto.
"Eh? Emangnya kenapa ya Teme?" Naruto memberhentikan langkahnya dan menatap Sasuke.
Sambil luka Sasuke dibalut, ia bercerita singkat pada sahabatnya itu. Sasuke tahu, meskipun Naruto menyebalkan, tapi ia adalah sahabat yang baik. Jadi ia bercerita tentang kejadian di perpustakaan sampai ke arah hubungannya pada Sakura. sementara sang dokter yang mendengar menggeleng-gelengakan kepala, 'Dasar anak jaman sekarang. Aneh-aneh saja.' batinnya.
.
.
.
Sakura dan Ino yang puas berbelanja hari ini kembail ke sekolah untuk mengambil tas mereka. Mereka yakin, kalau sekolah pasti sudah sepi dan mereka dapat leluasa mengambil tas.
Tapi, saat akan masuk kelas, Ino mendadak sakit perut dan ke toilet. Jadinya Sakura masuk sambil memegang belanjaan mereka berdua. Saat masuk, ia melihat sesosok pria berambut raven tertidur di bangkunya sambil memegang tas Sakura.
'Sasuke masih ada? Gawaat...' batin Sakura bingung.
Ia berjalan mengendap-endap setelah mengambil tas Ino dan menaruh semua barang dan belanjaan di depan kelas, misinya adalah mengambil tasnya sendiri.
'Ambil gak ya?'
Ia memegang tas, kemudian ia lepaskan. Tapi akhirnya ia memegang tasnya dan memegang tangan Sasuke yang memegang tasnya. Saat ia menyingkirkan tangan itu, dan mengambi tasnya, ia merasa ada yang memegang tangannya erat.
"Sakura," Sasuke berbicara pelan.
'Aduuuh... Gimana nih?' ia menjerit dalam hati, kemudian menoleh perlahan, "Sa-Sasuke,"
Dan mata mereka saling memandang lekat satu sama lain, seolah ada magnet di kedua bola mata tersebut. Ketika Sasuke membuka mulutnya untuk berbicara, Sakura langsung menghentakkan tangannya dan berlari secepat mungkin keluar kelas.
Seolah lupa dengan Ino, Sakura berlari sangat cepat karena Sasuke turut mengejarnya di belakang. "Hei, tunggu dulu!" Sasuke berteriak sambil mencoba menyusul Sakura. tapi terlambat, karena Sakura yang keluar dari area sekolah menemukan bus, kemudian ia langsung naik dan melesat pergi.
"Tck, sial." Sasuke menumpukan kedua tangan di lututnya sambil mengatur napas.
*-DinDongDinDong-*
You have 10 new messages.
Ketika sampai dirumah dengan selamat (?), Sakura mengeluarkan handphone dari saku rok miliknya dan melihat ada 10 pesan baru. "Hah? Banyak juga..." Sakura menekan tombol yes dan melihat pesan-pesan tersebut.
From: Ino-pig
Oy, kmana kmu? Dari tdi aku mencarimu! Dan tas ku dan blanjaan kta ada d luar klas. Emgnya trjdi ssuatu?
To: Ino-pig
Sorry Pig, aku plang dluan. Tdi aku ad sdikt mslah. Blanjaannya aku titip dlu di kmu ya... :D
From: Hinata-chan
Sakura-chan, kmu tdi knpa kok tdak da di klas? Baik-baik sja kn?
To: Hinata-chan
Iy hinata-chan, aku baik kok... hehe... :D
From: Naruto-kun
SAKUUUUU-CHAN! Kau dicari si Teme tuh! Dia smpe ke UKS bt nambal punggungnya yg luka! (aku tau lho semuanyaaa) haha... wlo klian sndwra, aku mndukung kmu spenuhnya kok pcran sma si Teme! XD
To: Naruto-kun
Hah, nmbal punggung? =="a
Kau psti dbrtau dy 'kn?
From: Sasuke petok-petok
Kmu dmana? Knpa kabur?
'Wah, 7 pesan dari Sasuke semua. Bagaimana ini ya? Apa dibalas saja?' belum Sakura memberi keputusan, handphonenya bergetar tanda panggilan masuk.
Sasuke petok-petok calling...
Karena tidak mungkin mengelak selamanya, Sakura menjawab telepon itu, "Halo?"
Disana terdengar helaan napas lega dari Sasuke, "Kau kenapa tadi kabur?"
"A-aku tidak kabur kok!" Sakura mengelak.
"Terus kenapa kau lari?"
"Aku tadi buru-buru! Makanya aku berlari!" Sakura meringis sambil berfikir, 'Buru-buru kabur maksudnya.'
"Aku di depan rumahmu. Bukakan pintunya." Sasuke berkata dan terdengar suara pintu mobil ditutup.
"Eh?" Sakura mengintip keluar dan muncullah Sasuke yang masih memakai seragam dan memegang handphone di telinganya.
Mau tidak mau, Sakura keluar dan membukakan pintu. Karena Sasuke sudah datang di depan rumah, mana mungkin diusir 'kan? "Ada apa?" kata Sakura setelah mempersilahkan Sasuke masuk.
"Ini soal Karin," Sasuke berbicara saat Sakura duduk di sampingnya.
"..." Sakura diam saja dan menundukkan kepala.
"Aku tahu, kau pasti merasa terhina oleh semua kata-kata nya. Dan aku tadi tidak membantu cukup banyak, jadi uhm..." Sasuke kelihatan enggan mengatakan lanjutannya.
"Apa? Dia sudah mengolokku, dan semua fansgirl mu pasti membenciku. Lalu aku harus apa lagi?" Sakura masih menunduk dan matanya mulai berkaca.
Hening sejenak. Sasuke membiarkan Sakura tenang sejenak, tapi sepertinya tidak bisa. Karena Sakura sudah menangis kembali dan mengisak pelan. Melihat hal itu, Sasuke memegang sebelah tangan Sakura dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya, "Kau, gadis yang kuat. Sekarang semua sudah terjadi, dan kita tidak dapat mengakhirinya. Bisakah kau bertahan sebentar lagi?"
Sakura kaget dan menatap Sasuke dengan mata yang masih berkaca, ia tidak dapat menolak dan menyanggah ucapan Uchiha ini, karena memang benar. Semua sudah terlanjur terjadi, dan tidak mungkin harus diakhiri begitu saja. "Baiklah. Sebentar saja," Sakura sedikit tersenyum ragu saat mengatakannya.
Sasuke tersenyum lembut dan mengusap pipi Sakura yang basah, "Thanks."
.
.
*-DinDongDinDong-*
"Jadi? Kau akan meneruskannya?" Ino bertanya sambil menatap Sakura heran.
"Iya. Aku kasihan juga kalau dia harus dipakasa tunangan sama Karin," Sakura meringis dan menatap buku di hadapannya.
"Kasihan atau tidak rela?" Ino memasang cengiran jahil.
Mendengar itu, Sakura langsung merona dan menutup bukunya keras, "Udah ah! Kau ini!" sekarang ia tersenyum malu.
Ketika itu, datanglah Hinata dengan membawa sebuah kotak, "Selamat pagi Ino-chan, Sakura-chan."
Ino dan Sakura langsung memasang wajah ceria dan serempak berkata, "Pagi, Hinata!"
Sakura membuka pembicaraan,"Hinata-chan, kau manis sekali hari ini!"
Hinata hanya mampu tersenyum malu sambil merona tipis, "Te-terimakasih..." hari ini Hinata terlihat manis dengan bando violet muda dengan sedikit polesan di wajahnya yang imut.
Itu karena ada suatu hal yang membuatnya berdandan semanis itu...
"Kotak apa itu Hinata?" Ino bertanya sambil menunjuk kotak seukuran kotak sepatu.
"A, ah i-ini adalah..."
Belum sempat Hinata menjawab, muncullah Naruto bersama Sasuke yang baru datang. Naruto tersenyum lebar dan berteriak pada 3 gadis tersebut, "Pagi semuanyaaa!"
Dan hanya Hinata yang menjawab sapaan tersebut dengan rona merah yang tidak bisa dihindarkan lagi, "Pa-pagi, Naruto-kun."
"Wah, kalian berdua jahat! Kenapa tidak menjawab sapaanku? Seperti Hinata dong, baik ramah, manis lagi!" Naruto langsung duduk di samping Hinata.
"Habisnya kamu berisik sekali pagi-pagi begini!" Ino mendengus dan melanjutkan pertanyaannya pada Hinata, "Itu apa sih Hinata?"
Naruto turut melihat kotak tersebut dan menyeloteh, "Wah, apa itu?"
Hinata mengambil kotak tersebut dan membukanya perlahan, "I-ini kue. Ka-kalian mau?"
Terlihatlah berbagai macam muffin beraneka bentuk, dan warna. Membuat mata Naruto berbinar-binar kemudian berteriak, "Aku mau!"
"Aku juga! Kalau kamu?" Ino memandang muffin tersebut sambil menyenggol Sakura.
Sakura menatap muffin itu dengan kagum kemudian menjawab, "Mauu! Huwaa, sepertinya enak sekali!"
Hinata memandang Sasuke yang duduk tidak jauh dari mereka kemudian menyodorkan kotak, "Sa, Sasuke-kun ma-mau?"
Sasuke menatap muffin itu sejenak kemudian berkata, "Aku kurang suka makanan manis."
"I-ini tidak terlalu manis kok. Co-cobalah." Kata Hinata sambil menyerahkan muffin warna krem.
Entah karena apa, Sasuke menerimanya dan memakannya. Sakura yang mendapat muffin yang berwarna krem dengan choco chip diatasnya hanya menatap Sasuke dan melupakan muffin di tangannya.
"Ba-bagaimana?" Hinata bertanya ragu-ragu.
"WUAAH! INI ENAK SEKALI HINATA-CHAN!" Naruto makan sambil mengacungkan jempol.
"Iya! Enak sekali! Kau hebat membuat kue ya!" Ino turut makan muffin warna kuning dengan gula di atasnya.
"Hn." Sasuke berkomentar pendek.
"Aku mau lagi Hinata-chan! Masih ada 'kan?" Naruto mendekat Hinata yang menghadap ke arah lain. Saat Hinata menoleh, ia kaget karena wajah Naruto di depannya.
"A-ada!" wajahnya sangat merah dan terburu-buru mengambil kotak muffin dan menyodorkannya pada Naruto.
"Sepertinya kau demam Hinata," Naruto menempelkan tangannya di dahi Hinata, membuat Hinata hampir pingsan.
"Kalau kau begitu, malah membuatnya makin merah." Sasuke mendengus dan duduk di samping Sakura, "Kenapa tidak dimakan?"
Sakura kaget dan turut memerah seperti Hinata, "A-ah iya, aku lupa!" ia langsung melahap sepotong besar muffin. Membuatnya tersedak dan sulit bernapas. Ia memukul-mukul dadanya berusaha bernapas.
Sasuke mendadak kaget dan menepuk-nepuk pundak Sakura, sementara yang lain speechless. Dan kebetulan fans Sasuke di sana menatap Sakura dengan pandangan iri, karena Sasuke perhatian. "Oi, Tidak apa?"
Setelah Sasuke mengeluarkan air mineral dari tasnya dan meminumannya pada Sakura, Sakura berhasil berhenti tersedak. Ia mengatur napasnya yang ngos-ngosan dibantu Sasuke yang mengelus-elus punggungnya. "Terimakasih, aku tertolong." Sakura memandang Sasuke penuh rasa terimakasih bercampur malu.
"Makanya, kalau makan pelan-pelan," Sasuke berhenti mengelus punggung Sakura, kemudian mengusap pinggir bibir Sakura yang ada bekas muffin.
"Cieee..." Ino berteriak jahil disambut cengiran Naruto dan senyum malu Hinata.
Sakura dan Sasuke merasakan wajah mereka mengeluarkan semburat merah. Kalau Sakura udah merah banget, kalau Sasuke hanya tipis. Sakura memalingkan wajah malu. 'Berkah emang gak kemana ya...'
.
.
.
Kejadian itu, adalah kejadian yang sangat bersejarah bagi Sakura. Ia melangkahkan kakinya dengan riang, wajahnya pun turut cerah tak terkira. Hal itu membuat Karin menjadi panas. Ia memberi kode tangan pada teman-temannya dan melangkah menghadang Sakura.
"Wow, enak ya jadi orang ketiga?" Karin tersenyum sinis.
Gadis berambut soft pink itu memberhentikan langkahnya dan menatap Karin, "Maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh, kau jadi orang ketiga yang merusak hubunganku dengan Sasuke-kun! kau pikir bisa semudah itu merusak hubungan kami?" Karin tetap berusaha stay cool.
"Aku bukan orang ketiga! Kau dan Sasuke tidak memiliki hubungan apapun, jadi kau tidak punya hak mengancamku. Aku tidak takut." Sakura tersenyum tak kalah sinis dan berusaha melewati Karin, sementara anak buah Karin berdiri di belakang mereka berdua.
"Semua orang juga tahu, aku calon tunangannya. Aku tahu, orang murahan sepertimu pasti akan melakukan segala cara agar kami berdua batal bertunangan! Dasar licik," Ia memajukan wajahnya di depan Sakura dengan pandangan sinis.
Sakura kehabisan kesabaran, ia menatap Karin marah, "Asal kau tahu, kau yang sebenarnya murahan! Sudah jelas Sasuke menolakmu, tapi kau masih saja mengejar-ngejar dia, tidak tahu malu."
Karin menggertakkan gigi nya marah. Ia segera menjentikkan jarinya dan anak buahnya segera memegangi Sakura. hal itu membuat Sakura tidak bisa berkutik dan hanya berteriak, "Hei, apa maumu?"
Gadis merah itu hanya tersenyum licik dan mengeluarkan sesuatu di balik sakunya, "Aku mau kau menjauhi Sasuke-kun. Kau kira aku tidak tahu, kalau kau hanya pacar bohongannya?"
Terbelalak. Karena tidak menyangka, Karin tahu rahasianya. Tapi ia hanya diam dan menundukkan kepalanya menahan tangis yang akan keluar. Bukan hanya takut, ia juga terluka mendengar kata 'Pacar bohongan'. Benar, Sasuke hanya menganggapnya pacar bohongan saja. Tidak lebih.
Ternyata yang ada di balik saku Karin adalah gunting. Ia menyeringai licik sambil mendekatkan wajahnya pada Sakura, "Jauhi Sasuke, atau ucapkan selamat tinggal pada rambut pink-mu."
Sakura mengangkat kepalanya dengan mata berkaca menahan tangis, "Tidak."
"Owwh, Baiklah. Kalau begitu..." Karin menggerakkan guntingnya dan mendekatkannya pada rambut Sakura.
Sakura menjerit dan memberontak, tapi ia tidak dapat lepas dari pegangan teman-teman Karin. Ia hanya bisa menangis menatapi ujung rambutnya yang terpotong. Ia merasa sedih, karena rambut yang ia panjangkan sejak 1 tahun yang lalu harus seperti ini.
Sebenarnya Sakura memanjangkan rambutnya, karena ia mendengar kalau Sasuke suka pada perempuan berambut panjang. Ia pun merasa juga, kalau rambut panjang lebih cocok untuknya karena menampilkan kesan manis. Tapi, sepertinya rambut yang ia banggakan itu, harus musnah sekarang.
Rambut sepinggang itu sudah terpotong seperenamnya. Sakura menangis sambil berusaha lepas. di saat seperti itu, ia hanya berharap ada yang menolongnya. Seperti Sasuke misalnya.
Harapannya terkabul, saat itu kebetulan Sasuke dan Naruto lewat. Naruto yang awalanya penasaran dengan suara ribut di ujung lorong. Apalagi di jam pulang sekolah seperti ini. Seharusnya 'kan sekolah sudah sepi. Maka itu ia menyeret Sasuke agar ikut.
Mata mereka terbelalak melihat itu, langsung saja mereka berdua berlari. Sasuke langsung mendorong Karin dan teman-temannya –yang memegangi Sakura- dan memeluk Sakura yang menangis. ia menatap Karin dengan pandangan penuh amarah, "Kau..."
Karin merasa sedikit takut menatap Sasuke yang marah, ia melihat kalau teman-temannya sudah kabur. Naruto di situ juga marah melihat Karin, ia menampar Karin dan menatapnya tajam, "Kau apakan saja Sakura-chan?"
Karin beralih menatap Naruto dan tersenyum meremehkan, "Apa urusanmu?"
Mendengar itu Naruto semakin marah dan siap menyeret Karin ke kantor kepala sekolah, tapi Sasuke segera memegang lengan Karin keras dan berteriak marah, "Aku tidak akan memaafkanmu, karena telah menyakiti Sakura dua kali!"
Tangan Sasuke sudah siap menampar Karin, tapi Naruto menghalanginya. "Sudah Teme! Yang penting sekarang Sakura-chan!" ia memeluk Sakura yang masih menangis dan menenangkannya.
Dengan melihat itu, Sasuke batal menampar Karin. Ia hanya menatap Karin tajam sambil memperingatkan, "Sekali lagi kau sakiti Sakura, kau akan terima akibatnya."
Kemudian ia menjauhi Karin dan menarik Sakura dari pelukan Naruto, "Kau pulang saja duluan Dobe."
"Tapi Sakura-chan,..." Naruto mencoba membantah.
"Biar aku yang urus." Sasuke menatap Naruto dengan pandangan pergi-sekarang-juga.
Naruto meneguk ludah dan tersenyum aneh ke Sakura, "Baiklah. Sakura-chan, aku duluan ya. Maaf tidak bisa menghiburmu lama-lama. Tapi besok aku pasti akan menghiburmu!"
Sakura yang masih sesenggukan tersenyum tipis, "Iya Naruto-kun. Terimakasih ya."
Naruto nyengir lebar dan pergi, "Ehehehe... Sama-sama Sakura-chan!" kemudian ia berlalu.
Sasuke mendengus melihat tingkah Naruto, kemudian membimbing Sakura ke parkiran. Ia terus menggandeng Sakura erat dan sesekali memandangi wajah gadis di sampingnya. "Kau baik-baik saja?"
Sakura tidak memandang Sasuke tapi airmatanya sudah berlinang lagi, "Hiks... A, aku... Hiks-hiks..."
Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, Sasuke segera memeluknya dan mengelus rambutnya pelan. Saat itulah ia tahu, kalau rambut Sakura sudah terpotong tidak karuan.
Ia menyesal sekarang, sangat menyesal. Karena sudah melibatkan Sakura dalam masalah pribadinya. Padahal awalnya tugasnya hanyalah mengajari Sakura, bukannya memanfaatkan Sakura seperti ini.
Tapi tidak dapat dipungkiri, Sasuke merasa Sakura bukan lagi sebagai pacar bohongannya lagi. Walau baru sebentar mengenal Sakura, ia merasakan Sakura adalah sosok yang istimewa. Caranya tersenyum, marah, sebal, dan sedih seperti membuat Sasuke merasakan hal yang sama. Ia merasa lebih hidup ketika bersama Sakura.
Apakah? Ah, tidak-tidak. Bukankah ia Uchiha? Masa mendadak melankolis seperti ini? Tapi ia tidak bohong soal itu. Ia mendadak berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan Sakura. hal yang bertentangan dengan sifatnya. Ia tidak tahu pasti apa perasaannya saat ini.
Tapi yang pasti, ia akan selalu menolong dan tidak akan melepaskan gadis emerald ini.
"Aku melanggar janjiku untuk melindungimu," kata Sasuke agak menyesal.
Sakura hanya diam sambil melepaskan pelukan Sasuke perlahan, tetapi tidak berhasil. "Ti-tidak juga. Setidaknya kau sudah mau menolong dan menghiburku," suara Sakura sudah lebih baik sekarang walau masih agak serak.
"Maaf," Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
Wajah Sakura memerah sempurna ketika mendengar Sasuke minta maaf, apalagi makin memeluknya seperti ini. ia hanya mengangguk pelan di pelukan Sasuke.
Kemudian Sasuke melepskan pelukannya dan memegang rambut Sakura, "Kita ke salon ya?"
Sakura kembali mengangguk pelan dan membiarkan dirinya dituntun Sasuke ke dalam mobil.
*-DinDongDinDong-*
Setelah Sakura di make over rambutnya, ia tampil makin cantik dari sebelumnya. Sasuke tersenyum samar ketika melihat tampilan wajah Sakura yang terlihat manis. Rambutnya tetap panjang, tapi hanya sebahu. Rambutnya dipotong sedemikian rupa sehingga membuat Sakura tidak percaya itu adalah dirinya.
'Wah, rambutku dipotong sedikit saja bisa merubah wajahku. Jadi lebih cantik ya...' inner Sakura kagum pada wajah yang terpampang di cermin. "Bagaimana rambutku Sasuke-kun?" Sakura mendekati Ssasuke dan mengibas rambut pink miliknya dengan tangan.
Yang di tanya justru diam dan memandangi Sakura. 'Makin cantik,' batinnya sambil salah tingkah. Ia medekati Sakura dan mengelus rambut pink Sakura, "Bagus juga."
Ia berkata berbeda seperti itu, karena malu harus mengakui pikirannya saat ini. Gengsi dong Uchiha bilang cantik pada seorang gadis, apalagi pada Sakura.
.
.
.
"Jadi, apa kau masih mau jadi pacar ku?" Sasuke bertanya setelah duduk di dalam mobil kesayangannya.
Wajah Sakura memerah dan hatinya sedikit berbunga karena Sasuke mengatakan status mereka tanpa embel-embel 'Palsu atau bohongan'. Ia memperbaiki duduknya dan memainkan jari telunjuknya, "Uhm... kalau kau mau, kita bisa melanjutkannya."
Sasuke sedikit kaget dengan ucapan Sakura, dipikirnya Sakura akan menolak dan memarahinya. Ia jadi lega sekaligus senang dengan ucapan Sakura, "Kau masih mau, setelah... diancam Karin?"
Sakura tersenyum pelan dan beralih menatap Sasuke, "Ya. Aku akan membantumu, kau juga sudah banyak membantuku. Lagi pula, aku punya dendam kecil dengan Karin!" ia mengedipkan mata sambil menjentikkan jari.
Sasuke tersenyum tipis kemudian menyalakan mesin mobilnya, "Hn, baiklah. Sekarang kita bisa bekerja sama untuk mengerjai Karin."
Sakura tergelak dan meninju pelan lengan Sasuke, "hehe... Kau bisa juga bercanda! Aku suka kamu yang begini Sasuke-kun."
Sasuke makin melebarkan senyumnya dan memegang tangan Sakura dengan tangannya yang kosong –gak dipake buat nyetir- membuat Sakura sedikit salah tingkah, "Kau, benar-benar jadi suka padaku ya?"
"Ihh... DASAR SASUKE-KUN NYEBELIINN!"
-TBC-
Hi semuaaa! Gimana kabarnya? Baik 'kan? Gak bosen sama fic ku 'kan? –puppy eyes *ditendang reader*
Sorry banget kalo fic ini tidak membuat kalian puas. TwT setiap aku bikin cerita, selalu ada yang ganggu. Dan kedua adikku ini lhhooooo! MAU TAU AJA URUSAN ORANG! Tiap aku bikin cerita, slalu aja ngintip-ngintip baca! *Disepak koko meme* XP padahal 'kan ini fic orang dewasa! Belum saatnya! *triak-triak gaje* so, itulah yang buat aku harus menulis ini fic tiap adikku dan semuanya tidur. –Huffttt... repot, repot, repot-
Tapi, aku tetap berusaha berjuang bikin fic yang aku idam-idamkan selama inii... seneng banget ketika bisa ngepost fic dan dapet review dari reader sekalian. Membuatku selalu bersemangat! XD
Jadi, jangan ragu-ragu Review ya, aku sangat mengharapkan kalian mau menilai cerita milikku ini!
Oh ya, fic ini hadiah untuk: Sindi 'Kucing Pink happy birthday ya... XD maaf ga bisa kasih apa-apa... n semoga berkenan... :D
Balesan Review:
Fiyui-chan : kyahahhahahaaa... mungkin juga sih... XD #plakk ikuti saja ceritanya ya... XD Review lagi? :D
Kamikaze Ayy : thank you, thank you... XD udah kilat belum nih updatenya? ;D Review lagi?
Uchiha Hime Is Poetry Celemoet : nyahahhaaa.. gtw tuh Sasu. Terjepit diantara 2 kondisi .. #plakk review lagi ya? :D
Chiwe-SasuSakuNaru : udah nih... :) review lagi? :D
Eunike Yuen : hahahhaa... iya nih sasu...XD Review lagi? :D
MemelSasusakuLove : Amin... :D wah, disini ada NaruHina sedikit... semoga berkenan ya...:) review lagi? :D
Sindi 'Kucing Pink : hahahaha...Aku juga blushing..XD Review lagi? :D
CherryN : makasih banyaaakk... X3 #peluk CherryN . Review lagi? :D
Chie Akane Etsuko ga login : Nyaaa... jangan panggil saya senpai... XD saya masih pemula...XD gpp kok... iya nih, padahal di lappie udah lengkap...XP makasih ya...:) Review lagi? :D
Dijah-hime : baca review kamu bikin aku malu...XD makasih ya.. iya... bakal semangat nih... :) review lagi? :D
sasusakulovers : thank you... X3 review lagi? :D
chess sy : hehehehe.. aku jadi bingung juga mau ngomong apa.. #plakk oke... review lagi? :D
Ratih hoshina : makasih banyak Ratih-chan.. iya nih, aku usahain update kilat,guntur, chaya... XD review lagi ya? :D
#ngelap keringet
makasih yang udah review dan sempetin baca fic ini ya... :D aku sennag sekali baca review kalian... X3 n maaf kalau ada balesan yang ketinggalan ya... author ngenet di warnet soalnya...XD dikejar waktuu... XD sekali lagii...Arigatou!
Review!
Karikazuka.
