Sakura tersenyum pelan dan beralih menatap Sasuke, "Ya. Aku akan membantumu, kau juga sudah banyak membantuku. Lagi pula, aku punya dendam kecil dengan Karin!" ia mengedipkan mata sambil menjentikkan jari.

Sasuke tersenyum tipis kemudian menyalakan mesin mobilnya, "Hn, baiklah. Sekarang kita bisa bekerja sama untuk mengerjai Karin."

Sakura tergelak dan meninju pelan lengan Sasuke, "hehe... Kau bisa juga bercanda! Aku suka kamu yang begini Sasuke-kun."

Sasuke makin melebarkan senyumnya dan memegang tangan Sakura dengan tangannya yang kosong –gak dipake buat nyetir- membuat Sakura sedikit salah tingkah, "Kau, benar-benar jadi suka padaku ya?"

"Ihh... DASAR SASUKE-KUN NYEBELIINN!"

.

.

Miss Pesimis?

Naruto Masashi Kishimoto

Miss Pesimis © Karikazuka

Happy reading!

.

.

.

Korden yang memiliki warna soft pink itu sedikit tertiup angin dari jendela samping tempat tidur. Sementara sang pemilik masih bergelung di dalam selimutnya, mencari posisi yang pas untuk melanjutkan mimpi indahnya.

KRIIIINGG...

Sakura menggeliat sejenak dan mengerjapkan mata untuk melihat jam di sampingnya.

'Masih jam 06.45,' ia kemudian menyelinap mmasuk kedalam selimut lagi. Tapi sesaat kemudian ia langsung bangun dan berteriak keras, "AAAA...! AKU TELAAATT!"

*-DinDongDinDong-*

Secepat kilat Sakura berlari untuk sampai ke sekolah. Semalam ia tertidur cukup lama karena memikirkan kejadian yang dialaminya bersama Sasuke. Padahal mereka sebelumnya tidak pernah bicara sebelumnya, tapi sejak tugas Sasuke untuk mengajari Sakura, membuat gadis itu mengalami hal yang belum ia bayangkan sebelumnya.

Ia tersenyum riang, dan mengingat Sasuke yang selama ini selalu menolong dan melindunginya. Rasanya seperti mimpi, Sakura dapat sedekat itu dengan Sasuke. 'Berkah dari Tuhan,' ia tersenyum makin lebar dan melupakan acara terlambatnya.

"Sakura-chan! Ngapain senyum-senyum sendiri! Nanti terlambat lho! Ayo bareng!" tiba-tiba suara Naruto di samping Sakura sambil menyetir motor balap oranye.

"WUAAAAH! Benar juga, aku ikut Naruto-kun!" Sakura melompat naik ke kursi penumpang, dan motor itu langsung tancap gas.

"Pegangan Sakura-chan!" kata Naruto sambil mengebut kencang.

Sementara itu Sakura berteriak marah-marah di belakang sambil memegangi Naruto erat. Ia ketakutan melihat cara Naruto mengendalikan motornya. Walau itu memang ampuh membuat mereka tepat waktu, Sakura berjanji dalam hati tidak akan bonceng dengan Naruto lagi.

Setidaknya saat ia tidak terlalu butuh.

Dasar Sakura!

*-DinDongDinDong-*

Setelah sampai di parkiran, Sakura mengeluarkan aura yang membuat Naruto begidik. Tapi, tidak berlangsung lama. karena Sakura langsung berlari ke pojokan untuk memuntahkan sarapannya tadi pagi.

'Dasar Naruto sialan! Udah makan cuma sedikit, sekarang malah keluar semua!' Sakura mengutuk Naruto dalam hati.

Sementara Naruto kelabakan dan menemukan Hinata lewat di sampingnya. Langsung saja Naruto menarik tangan Hinata dan membawanya ke Sakura, "Hinata-chan! Tolong bantu aku menolong Sakura-chan!"

"Ke-kenapa Na-Naruto-kun?" Hinata turut kelabakan dan wajahnya sudah sangat memerah.

"Itu, tadi Sakura-chan naik motor bareng aku! eh, dia malah jadi gitu!" Naruto menunjuk-nunjuk Sakura yang sudah selesai dengan kegiatannya dan menatap Naruto horor.

"Narutoooo..." Sakura menggantungkan kata-katanya sebelum ia memukul Naruto yang sepertinya akan mental beberapa meter setelah ini, "SHANAROOO!"

Tuh, bener 'kan? Naruto mental jauh banget sampai ke arah Sasuke yang baru saja akan masuk ke dalam gedung sekolah. –bayangin jarak antara parkiran ke gedung itu 10 meter- untung saja Sasuke cepat menghindar. Kalau tidak mungkin dia juga akan terjatuh ke dalam tong sampah seperti Naruto saat ini.

"Na-Naruto-kun!" Hinata berteriak dan menghampiri Naruto yang matanya bergambar spiral dengan ayam-ayam kecil mengitari kepalanya.

"Ugh, Hi-Hinata-chan..." Naruto berpegangan pada lengan Hinata.

Kejadian itu, membuat murid yang kebetulan lewat tertawa geli dan para siswa sekaligus iri pada naruto yang mendapatkan perhatian dari Hinata. Maklum, Hinata idola di kalangan siswa sih.

"Kau kenapa?" tanya Sasuke ketika Naruto sudah mulai sadar dari pusingnya. Sementara itu, Sakura mendekat ke arah mereka.

"Sakura-chan memukulku, Teme! Padahal aku sudah berbaik hati memberikan tumpangan padanya!" Naruto mengerucutkan bibir sebal.

"Habisnya kau ngebut kencang sekali! Membuatku mual sampai sekarang!" Sakura membela diri.

'Sakura berboncengan dengan Dobe?' rahang Sasuke mengeras ketika menemukan fakta kejadian itu. Kemarin ia mengusir Naruto agar membiarkan dirinya saja yang menenangkan Sakura, tapi kenapa sekarang mereka malah makin dekat? Pakai boncengan segala, 'Tak akan kubiarkan si Dobe memanfaatkan kesempatan.'

Segera Sasuke menarik Sakura dan berbisik, "Besok aku saja yang jemput."

Mendengar hal itu, Sakura masih belum mengerti. Namun beberapa saat kemudian ia dapat menangkap maksud Sasuke. Sontak wajahnya seperti tomat segar yang dijual di pasar Konoha. Ia tidak dapat berkata apa-apa kecuali mengangguk malu.

"Oy, jangan mesra-mesraan di sini dong! Teme ini sama sekali tidak perduli dengan penderitaanku!" Naruto menyeletuk dan memarahi Sasuke.

"Hn," Sasuke berbalik dan pergi menjauhi Naruto yang mengejarnya sambil tidak sengaja menggenggam Hinata, membuat gadis itu ikut terseret mengikuti Naruto dari belakang.

sementara Sakura menoleh ketika melihat Ino yang datang sambil melambaikan tangan. Mereka berdua jadi ikut menjajari langkah Sasuke, Naruto,dan Hinata yang masih belum jauh dari mereka.

*-DinDongDinDong-*

"Wuah? Jadi sekarang makin akrab nih?" Ino berteriak histeris di kamar Sakura saat ia berkunjung ke rumah gadis pink tersebut.

Sang gadis yang ditanyai malah tersenyum malu-malu sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Tapi, aku masih belum yakin."

"Sakura, itu udah tanda-tanda, tahu! Percaya deh! Dan aku setuju dengan pendapatmu! Kau harus balas dendam kepada Karin! Supaya dia kapok. Kalau perlu, akan kubantu!" cerocos Ino bersemangat.

"Aku hanya akan menjahilinya sedikit kok Ino! Jadi, kau jadi pendukungku saja ya!" Sakura mengedipkan mata jahil.

"Huh, dasar! Tidak seru!" Ino melemparkan bantal ke wajah Sakura sambil cemberut. Dan belum 5 detik, bantal itu terlempar balik ke arahnya.

Perang bantal deh.

.

.

.

Hari ini Karin tidak menampakkan diri di hadapan Sasuke maupun Sakura. ia bukannya menyerah, tapi ia sementara membiarkan Sakura dengan Sasuke untuk saat ini. ia masih memikirkan cara yang bagus untuk membuat Sakura menjauhi Sasuke.

Cara kemarin bisa dibilang gagal total. Karena setelah Karin memotong rambut Sakura, Sasuke malah makin dekat terhadap gadis pink itu. Malahan Sakura makin cantik dengan potongan rambut barunya, membuat sebagian siswa terpesona dengan penampilan baru Sakura.

"Tck, tidak akan kubiarkan Sasuke-kun dimiliki orang lain!" gumam Karin pelan sambil menahan emosi.

*-DinDongDinDong-*

Benar kata Sasuke. Pagi ini Sasuke sudah datang kerumah Sakura dan menjemputnya. Sakura makin memiliki harapan, suatu saat nanti Sasuke dan dia akan menjadi pacar sungguhan. 'Amin,' jerit inner Sakura.

"Kenapa?" Sasuke menoleh dan menatap Sakura.

"Ah, bu-bukan apa-apa! Hehehe..." Sakura nyengir dan mengikuti langkah Sasuke menuju kelas.

"Kutunggu di perpustakaan pulang sekolah. Kita akan melanjutkan belajar yang kemarin," Sasuke mengalihkan topik pembicaraan dan melangkah pelan.

"Bagaimana kalau istirahat saja? Soalnya nanti pulang sekolah, aku harus pergi."

"Ke mana?" Sasuke penasaran. Dipikirnya Sakura akan pulang bersama Naruto lagi.

"Aku harus kerja sambilan," Sakura menjejeri langkah Sasuke sambil tersenyum riang.

Sasuke menghela napas lega, "Boleh juga. Tapi waktunya akan sangat sebentar,"

Sakura menjentikkan jari, "Kalau begitu, lanjutkan dirumahku saja malam nya! kita bisa belajar lagi dan lebih leluasa 'kan?"

Sasuke memberhentikan langkahnya dan menyeringai tipis, "Jadi kau mau lebih leluasa bersamaku, Sakura?"

Sang gadis malah menggelengkan kepalanya kuat dan menutupi wajahnya yang merona, "Bu, bukannya begitu! Ah, kau kok jadi GR gini sih?" ia berjalan cepat mendahului Sasuke.

"Baiklah. Tapi, nanti istirahat kau tetap harus datang," Sasuke mengejar langkah Sakura.

"Tentu," Sakura tersenyum malu-malu.

.

.

.

Jam istirahat, sesuai janji Sakura datang sambil membawa peralatan belajarnya. Ia duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari pintu perpustakaan, namun ia hanya sendiri disana. Sasuke belum datang, dan penjaga perpustakaan sedang keluar. Yang ada hanya beberapa siswi yang tidak ia kenal.

"Mana ya Sasuke-kun?" gumamnya sambil memelintir ujung rambutnya pelan. –jangan pada ngira ini pose genit ya-

Saat ia menunggu datanglah seorang siswa dan berbicara dengannya, "Sakura, ini bunga untukmu," ia menyodorkan setangkai bunga mawar.

"Maaf, tapi aku..." Sakura bermaksud menolak mawar dari lelaki itu.

"Ehm, anggap saja ini tanda pertemanan dariku." Kata lelaki itu gugup.

Dilihatnya Sakura tersenyum dan menerima bunga itu dengan sedikit semburat pink di pipinya. "Terima kasih," Sakura menghirup wangi mawar itu.

"Sama-sama," lelaki itu tersenyum kecil dan pergi dari hadapan Sakura.

Ah, kebetulan setelah itu, Sasuke memandang kejadian itu dari tadi. Ia menatap tajam lelaki yang memberi Sakura bunga dengan tatapan, mau-apa-kau-dengan-pacarku.

Sementara lelaki itu pergi menjauh dengan sedikit takut, dan menghilang di belokan.

.

"Sudah?"

"ya, sudah beres. Dengan ini, Sasuke akan marah pada Sakura."

"Bagus," karin tersenyum senang dan bermaksud melihat pertengkaran Sasuke dan Sakura.

.

Lelaki berambut raven itu melangkah ke arah Sakura dengan sedikit emosi. Ia tidak suka melihat Sakura tersipu seperti itu di hadapan lelaki tadi, kecuali dirinya. "Bunga dari siapa?" tanya Sasuke datar.

Sakura yang masih menghirup aroma mawar itu menoleh dan tersenyum gugup, "Ah, ini dari seseorang."

"Kau suka mawar?"

"Iya. Aku suka, kenapa?"

"Kupikir kau suka pada lelaki yang memberinya," kata Sasuke dingin.

"Ah, dia memberiku sebagai tanda pertemanan saja kok." Sakura tersenyum lembut dan meletakkan mawar itu di meja.

Sasuke mendekati Sakura dan menghimpitnya ke dinding, tapi ia tidak berkata apapun. Membuat Sakura bingung dan gugup. Saat itu, mata Sakura menangkap sosok Karin mengintip di balik rak buku yang tidak jauh darinya.

Ia tersenyum dalam hati dan berkata pada Sasuke yang ada di depannya, "Sasuke..."

"Hn?" Sasuke memandang wajah Sakura datar.

Cup.

Mata Sasuke melebar ketika merasakan bibir Sakura menempel di pipinya. Ia merasa jantungnya berdesir cepat.

Sementara Sakura memegang kepala Sasuke dan mencium pipinya dengan mesra. Ia sebenarnya malu, tapi ia juga ingin sedikit menjahili Karin. Lagi pula, tugasnya 'kan untuk membuat Karin menyerah tarhadap Sasuke 'kan? Sakura juga ambil kesempatan untuk merasakan mengecup pipi Sasuke.

Sementara yang menonton, hanya mampu terbelalak dan mematung. Tidak berani keluar ataupun marah –karena tidak kuat melihat Sasuke bersama gadis lain.

5 detik berikutnya, ciuman Sakura lepas dan Sasuke memandangnya lekat. Membuat gadis itu tersipu dan berkata, "I,itu u-ucapan terimakasihku pa-padamu, Sa-Sasuke-kun."

Sasuke menyeringai dan memegang pipi Sakura yang merona. Ia sangat senang melihat wajah Sakura yang merona, sangat manis. "Itu tidak cukup. Aku mau yang lain." Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura.

"A,apa itu Sasuke-kun?" kata Sakura gugup.

Sasuke tidak menjawab, malah mencium bibir Sakura dengan lembut. Mulanya Sasuke pikir Sakura akan menolak, tapi Sakura hanya terbelalak dan terdiam. Ia mengecupnya cukup lama, setelah itu melepaskannya. "Kau marah?"

Sakura merasa dirinya akan meleleh saat ini. wajahnya sudah sangat merah, dan ia tidak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya menggeleng pelan sambil menunduk malu.

Karena sikap Sakura, Sasuke memeluk Sakura dan kembali mengecupnya. Mereka merasakan, hal yang sama. Walau keduanya tidak saling mengaku satu sama lain, mereka merasakan perasaan itu lewat sentuhan keduanya.

"Mphh..." Sakura mulai dapat mengontrol dirinya dan melepaskan ciuman tersebut. Ia ragu, apakah Sasuke sungguh-sungguh? Jangan-jangan itu semua sandiwara saja di depan Karin? Ia takut kalau ia seenaknya mengambil keputusan bahwa Sasuke sudah menyukainya.

Sasuke sedikit kaget, tapi ia menyembunyikannya dengan wajah tanpa ekspresi. Walau tidak bisa dipungkiri, wajahnya mengeluarkan semburat merah. Mereka berdua terdiam dengan posisi Sasuke mendempetkan Sakura di rak buku.

"Kenapa?" Sakura bertanya lirih sambil menatap wajah Sasuke dengan sedikit berkaca-kaca. Ia takut dugaan kalau Sasuke hanya bersandiwara itu benar.

"..." Sasuke hanya diam.

.

Saat hening seperti itu, Karin keluar dari persembunyiannya dan berlari menjauh tanpa diketahui keduanya. Air mata nya sudah mengalir sejak melihat Sasuke mencium Sakura.

'Apakah aku benar-benar tidak ada di hatimu lagi, Sasuke-kun?' pikirnya sedih. Ia berlari ke arah lorong yang sepi. Karena istirahat, para murid memilih ke kantin daripada di lorong maupun kelas.

Ia menempelkan tubuhnya di tembok dan jatuh terduduk disana. Ia ingin membalas Sakura, tapi ia takut, Sasuke akan semakin membencinya. Ia melakukan itu semua karena terlalu terobsesi dengan Sasuke. Bagaimanapun ia juga perempuan biasa yang ingin dicintai.

"Kau kenapa, Karin?" suara seseorang terdengar di hadapannya. Karin mengangkat kepalanya dan menghapus airmatanya cepat.

"Bukan urusanmu, Sui!" jawabnya ketus, untuk menyembunyikan sisa tangisnya kemudian berdiri.

Suigetsu, lelaki itu menatap Karin yang akan pergi menghindar. "Lupakan saja Sasuke," katanya dengan memasukkan tangan kedalam saku celana.

Karin berbalik dengan wajah kesal, "Kau jangan ikut campur! Kau tidak tahu apa-apa, jadi diam saja!"

"Justru kau yang tidak tahu apa-apa!" Suigetsu membentak Karin sambil memojokkan Karin ke dinding. "Sudah jelas dia tidak mencintaimu! Buat apa kau terus mempertahankannya? Dia hanya akan membuat dirimu menangis!" ia menatap Karin tajam penuh amarah.

"Kau jangan sembarangan! Memangnya kenapa kalau aku berusaha mendapatkan Sasuke-kun? Kau tidak ada hubungannya!" karin beralih membentak Suigetsu dengan pandangan sebal.

"Tentu saja ada hubungannya! Karena aku suka padamu! Kau saja yang selalu terfokus pada lelaki ayam itu! Hingga tidak menyadari sekelilingmu!"

Karin terhenyak. Kedua matanya membulat, mencoba mencari jawaban di mata Suigetsu. Tapi, ia tidak menemukan kebohongan itu di matanya. Ia memutar memorinya ke masa lalu, mencari tahu kebenaran.

Flashback On.

"Suigetsu, kau tahu? Sasuke-kun dan aku akan bertunangan! Aku memohon pada ayah agar ia mengadakan pertunangan untukku dan Sasuke-kun karena ayahku dan ayahnya berteman! Aku senang sekali!" Karin menceritakan kejadian itu kepada Suigetsu.

Mereka sudah lama berteman dan bertetangga. Rumah mereka pun bersebelahan, jadi Karin dapat mengobrol sepuasnya di beranda kamar mereka. Suigetsu sebenarnya sudah lama menyukai Karin, tapi ia tahu Karin menyukai Sasuke. Jadi ia menyimpan perasaannya dan berusaha ikut senang

"Begitukah? Baguslah kalau kau senang," Suigetsu berusaha untuk tersenyum.

"Iya! Tapi, Sasuke-kun masih cuek-cuek saja denganku! Aku harus apa ya supaya ia juga menyukaiku?" karin berkata dengan semangat.

"Yang penting, kau harus jadi dirimu sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri," nasehat Suigetsu sambil masuk ke kamarnya. 'Aku senang, jika kau senang, Karin.'

Setelah percakapan itu, beberapa hari kemudian orangtua Karin mengalami kecelakaan pesawat dan membuat Karin yang dulu baik, ceria dan lembut berubah drastis. Ia menjadi perempuan yang jahat, ketus dan genit. Apalagi jika dengan Sasuke.

"Kau berubah Karin, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya suigetsu melihat dandanan Karin yang terkesan genit.

"Apanya? Ini semua kulakukan untuk Sasuke-kun!" Karin mengelak.

"Kau sekarang bahkan mengancam para perempuan! Sebenarnya apa maumu? Kau sudah gila!" Suigetsu marah dan pergi. Sejak saat itu hubungan mereka merenggang.

Flashback Off.

"K-kau tidak serius 'kan?" Karin memastikan kalau ia tidak salah dengar.

Suigetsu segera memeluk Karin erat dan membisikkan sesuatu, "Aku serius. Sekarang, lupakan saja Sasuke. Ada aku yang selalu bersamamu."

Karin terdiam sambil merona. Kata-kata Suigetsu membuat jantungnya berdebar kencang, perasaan yang belum pernah ia rasakan dengan Sasuke. Lelaki raven itu selalu tidak perduli padanya. Bahkan sekarang ia semakin menjauh. Apakah ia harus menyerah dan mengikuti kata Suigetsu?

"..." Karin tetap diam di pelukan lelaki itu.

.

.

"Kenapa kau melakukan ini Sasuke-kun? " tanyanya dengan sedikit membentak. "Apa ini semua sandiwara karena ada Karin?"

"Bukankah aku memintamu untuk itu?" Sasuke bertanya balik dengan memalingkan wajahnya. 'Aku meminta itu, karena aku menginginkannya,' kata Sasuke dalam hati saja.

Sakura membelalakkan matanya menatap Sasuke tidak percaya, "Jadi ini sebagian dari tugasku, ya?" ia mengubah ekspresinya dengan tersenyum palsu. "Hahaha... aku tertipu rupanya!"

Sasuke menatap Sakura yang tersenyum palsu itu. Sasuke terperanjat mendengar perkataan Sakura, "Bukan begitu maksudku aku-"

Belum sempat Sasuke menyelesaikan kata-katanya, Sakura sudah mendorong Sasuke. Ia berlari sambil memasang cengiran, "Sudahlah, aku tahu kok! Aku saja yang berpikir macam-macam! Hahahaha... sudah dulu ya Sasuke-kun! Aku harus pergi! Jaa..."

Seketika itu ia melihat, Sakura berlari keluar perpustakaan. "Hh... kenapa aku sebenarnya?" Ia mengacak rambut ravennya frustasi. Ia harus menyelesaikan ini segera, apapun caranya agar Sakura tidak salah paham.

*-DinDongDinDong-*

"Sakuraa-chan!"

"Sakuraaa!"

"Sa-Sakura-chan..."

Ketiga teman itu berteriak –kecuali Hinata- bersamaan ketika melihat Sakura berlari keluar perpustakaan dan menuju kelas. Sejak tadi, mereka bertiga mencari Sakura dan Sasuke yang mendadak hilang waktu jam istirahat.

Gadis bermata emerald itu menoleh dan sesegera mungkin menyeka airmatanya yang sempat keluar saat berbalik meninggalkan Sasuke, kemudian tersenyum ceria sambil berlari kearah teman-temannya itu. "Haii! Kemana saja kalian?" ia tersenyum layaknya tidak terjadi apa-apa.

"Harusnya kami yang bertanya begitu!" Ino menjitak kepala Sakura pelan.

"Ah, maaf! Aku tadi ada urusan sebentar."

"Wah, jangan-jangan Sakura-chan tadi berduaan dengan Teme ya?" Naruto menggoda Sakura dengan cengirannya.

Wajah Sakura memerah dan ia mengelak, "Kalian ini mau tahu saja!"

"Beritahu doong! Berarti ada yang kau sembunyikan ya?" Naruto semakin menggoda Sakura.

"Iya Forehead! Jangan-jangan kau tadi dengan Sasuke ya?" Ino pun ikut-ikut memasang tampang jahil.

KRIIING

"Ahahaha... Sudah masuk! Ayo cepat masuk!" Sakura mendorong Ino dan Naruto agar pergi.

Hal itu membuat keduanya sadar akan suatu hal, "Wuaaah! Aku belum mengerjakan tugas dari Anko-sensei!" mereka berlari dan Sakura menghembuskan napas lega.

Hinata yang sejak tadi terdiam angkat suara, "Sa-Sakura-chan. Bo, boleh aku bertanya se-sesuatu?"

"Apa itu Hinata-chan?"

"A, aku tadi melihatmu... Be-bersama Sasuke-kun..."

"Aah? Kau lihat semuanya Hinata-chan?"

Hinata mengangguk pelan, "Ta-tapi aku ti-tidak sengaja melihatnya... A-aku tadi he-hendak mengembalikan buku-,"

"Kau mendengar juga?" Sakura khawatir kalau Hinata mendengar rahasia Sasuke dan dirinya.

"Ma-maafkan aku..." Hinata menunduk merasa bersalah.

"Ah, tidak apa-apa kok Hinata-chan! Aku tidak marah kok! tenang saja," Sakura menghibur Hinata. "Tapi, tolong jangan cerita siapa-siapa ya?"

"Te-tentu! Ta-tapi, kenapa kalian melakukan i-itu?" Hinata merona saat mengatakan 'Itu'.

Sakura ikut-ikut memerah dan berkata cepat, "Na-nanti malam kuceritakan! Kita masuk kelas dulu ya?"

Hinata mengangguk lagi dan mengikuti Sakura yang berlari menuju pintu kelas.

*-DinDongDinDong-*

Selama bekerja sambilan, Sakura tidak dapat berkonsentrasi. Padahal ia bekerja sebagai pembuat kue dan cake di sebuah bakery. Walau ia baru SMA, ia dapat membuat kue yang beragam dan enak. Ia pun sering membuat kue bersama Hinata –Hinata dan Sakura cukup akrab dalam bagian ini –dan membuat Sakura makin mahir membuat kue.

Sepanjang jam kerjanya, sudah beberapa kali menjatuhkan adonan, lupa memakai serbet untuk mengambil roti dari oven, dan melamun hingga roti yang dibuat gosong. Untung saja, pemilik bakery itu baik hati dan mau mengerti.

"Kau hari ini terlihat kurang sehat Sakura," kata Shizune, pemilik bakery.

"Maafkan saya Shizune-san, saya akan berhati-hati," Sakura menyesali perbuatannya.

"Tidak apa-apa Sakura. Sebaiknya kau harus istirahat sekarang."

"Saya baik-baik saja kok. Saya masih harus melayani pelanggan."

"Baiklah kalau itu maumu. Tapi, kalau kau tidak kuat, kau harus pulang dan istirahat ya!"

"Baik!" Sakura tersenyum senang dan mulai ke meja pelanggan yang baru datang. "Selamat sore-, ah! Hinata-chan! Tumben kemari?" ia tersenyum senang dan menyambut Hinata.

"I-ya, a-ku mendadak ingin kue bu-buatanmu Sakura-chan. Ma-masih ada 'kan?" Hinata berbicara dengan gugup dan tersenyum malu.

"Ahahaha... kau ini, masih malu-malu! Oh, tentu saja. kau mau kue yang mana?" Sakura tertawa geli dan memberikan menu.

Hinata menerimanya dengan malu-malu dan melihat daftar menu, "A-aku mau strawberry cake dan milk tea..."

"Ok, tunggu sebentar ya!" Sakura langsung melesat ke dapur dan mengambil stok cake miliknya yang masih 'terselamatkan' dan membuat 2 cangkir milk tea.

"Ini, silahkan..." Sakura memberikan sepotong cake dan secangkir milk tea. Kemudian duduk di depan Hinata.

"Terimakasih Sakura-chan. Se-sepertinya aku pelanggan terakhir ya?" Hinata membenarkan gaun ungu mudanya dan mengambil garpu.

"Benar, nanti kita pulang bersama ya," Sakura menghirup milk tea nya.

"Iya. O-oh ya, soal tadi... A-aku benar-benar minta maaf Sakura-chan," Hinata sedikit membungkuk minta maaf.

Sakura tersedak dengan wajah memerah, "Tidak apa-apa kok! Kau tidak sengaja 'kan."

Hinata mengangkat kepalanya dan mengangguk malu, "Ta-tapi ke-kenapa kau me-melakukan sandiwara?"

"Aku terpaksa..." Sakura menatap jendela di samping mejanya, " karena Sasuke-kun butuh bantuanku. Ia ditunangkan dengan Karin, tapi karena ia tidak mau dan ia memintaku untuk jadi pacar bohongannya."

"A-apa? Ta-tapi, kenapa ka-kalian ber-ber,-" Hinata tidak sanggup megucapkannya dan wajahnya memerah ketika mengingat itu.

"A-aku juga tidak mengerti! Pada awalnya, aku hanya mencium pipinya untuk menjahili Karin yang sudah menjahiliku! Tapi tiba-tiba dia sudah menciumku!" Sakura berkata sedikit terbata dan wajahnya sudah sangat merah mengingat kejadian tadi siang.

"Ku-kurasa Sasuke-kun me-menyukaimu Sakura-chan," Hinata tersenyum lembut pada Sakura.

"Apa iya?" Sakura merasa tidak yakin. "Aku awalnya juga berpikir seperti itu, tapi aku tidak yakin."

"I-iya Sakura-chan. Te-terkadang orang se-seperti Sasuke-kun malu u-untuk mengungkapkan nya. Se-seperti Neji-nii terhadap Tenten-chan," Hinata tersenyum geli ketika mengingat kakaknya itu gengsi mengakui perasaanya.

"Benarkah? Neji berbuat seperti itu pada Tenten?" Sakura tertarik dengan cerita Tenten yang merupakan teman sekelasnya itu.

"I-iya, Neji-nii se-sebenarnya sangat sayang pa-pada Tenten-chan, tapi i-ia sedikit malu untuk mengakuinya. Me-menurutku, Sasuke-kun ju-juga sama. Jadi, ja-jangan berfikir negatif du-dulu,"

"Benar juga sih. Aduh, kalau makin dipikirkan malah makin bingung aku! Aku mau beres-beres dulu, kau tunggu di sini ya!" Sakura berlari ke arah dapur.

Hinata yang ditinggal Sakura tersenyum kecil, kemudian membuka handphone miliknya.

From: Ino-chan

Bgaimna keadaannya? Aku tdk tau apa yg trjadi sbnarnya, tpi tlong buat Sakura jadi org yg optimis y! Aku ksal kalo liat dia yg slalu negatif thinking itu! =="

Hinata mengetikkan sesuatu di handphone ungu miliknya dengan semangat.

To: Ino-chan

Sudah lebih baik. Sakura-chan kelihatannya akan brbaikan dengan Sasuke-kun. kita ttp hrus mgawasinya... ^^b

"Sudah selesai! Ayo pulang sekarang!" Sakura telah mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah dan menenteng tas sekolahnya.

"A-ayo!" Hinata memasukkan Handphone miliknya dengan cepat dan menjejeri Sakura. Tapi sesaat ia melihat Sakura yang sedikit pucat, "K-kau sakit Sakura-chan?"

Sakura menatap balik Hinata dan memandangnya aneh, "Hah? Tidak kok, aku sehat!"

"Ta-tapi kau sedikit pucat."

"Ah, mungkin hanya efek dari sinar saja. Atau gara-gara kedinginan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja kok! Oh ya, aku main ke rumahmu boleh?" Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Tentu saja boleh," Hinata tersenyum dan bercakap-cakap akrab dengan Sakura sepanjang perjalanan.

*-DinDongDinDong-*

Benar dugaan Hinata, Sakura sedikit kurang sehat hari ini. Sepulang dari rumah Hinata, tubuhnya makin melemah. Hal itu membuat Neji mengantarkan Sakura, takut Sakura pingsan di jalan. Sakura menolak dengan sopan, tapi Hinata memaksa untuk tetap diantarkan Neji. Sang pengantar sendiri juga dengan senang hati mengantarkan Sakura, karena ia menganggap Sakura seperti adik sendiri.

Sementara itu, Sasuke memutuskan tetap datang kerumah Sakura. ia harus menjelaskan perkataannya tadi dan juga mengajari Sakura pelajaran yang harusnya dipelajari saat di perpustakaan. Tapi, sudah 2 jam ia menunggu Sakura di depan rumahnya dan belum ada tanda-tanda Sakura muncul. Ia bahkan sudah menghubungi Sakura –walau akhirnya di jawab oleh mailbox-.

'Kemana dia?' Sasuke berkata dalam hati. Ia menyesal ketika berkata terlalu singkat, dan akhirnya menimbulkan kesalahpahaman. Tapi ia senang, itu artinya Sakura memiliki perasaan suka padanya. Ia bahkan tersenyum lebar ketika mengingat Sakura mencium pipinya, apalagi saat mereka berciuman. Rasanya menyenangkan, seolah ada sesuatu yang menggelitik perut dan hatinya.

Tapi senyumannya berubah menjadi kesal, karena melihat sang gadis yang ditunggu sejak tadi, malah pulang dengan lelaki berambut panjang. 'Neji.' geramnya pelan dalam hati. Ia dan Neji merupakan rival dalam pertandingan basket minggu lalu. Masa sekarang Uchiha juga harus menjadi rival Hyuuga dalam merebut hati Sakura?

"Sasuke-kun," Sakura mengucapkan nama lelaki bermata onyx itu dengan ekspresi kaget bercampu gugup. Setelah ia mengucapkan terima kasih pada Neji yang sekarang sudah menghilang di ujung jalan. Neji tampaknya tidak melihat Sasuke.

"Hn. Dari mana saja?" tanya Sasuke seperti ayah yang menangkap anaknya pulang malam.

"Da-dari rumah Hinata," Sakura sedikit gugup dengan suasana saat ini.

"Kau lupa dengan janjimu sendiri?" Sasuke berkata sarkastik.

"Ma-maafkan aku," Sakura menundukan kepalanya.

"Teleponku pun tidak kau angkat. Sibuk kencan dengan rambut panjang itu rupanya?" entah kenapa Sasuke jadi banyak bicara.

"H-hah? Bukan begitu. Aku tadi sedikit tidak enak badan, dan Hinata-chan memaksaku untuk pulang bersama Neji-kun."

"Aku tidak percaya," Sasuke makin kesal karena Sakura mengucapkan nama Neji dengan embel-embel 'kun'.

Sakura mulai emosi karena dipojokkan Sasuke. Badannya makin terasa berat dan kepalanya pusing, ia berjalan menuju pintu dan membuka pintu rumahnya, "Ya sudah kalau tidak percaya! Lagipula kau juga-" belum Sakura meneruskan kata-kata, badannya limbung dan terjatuh.

Jika tidak ditangkap Sasuke dengan sigap.

.

.

.

Lelaki berambut raven itu terus memandangi wajah manis di hadapannya. Sesekali ia mengusap peluh gadis itu dengan lembut. 'Ternyata tidak bohong,' ia berkata dalam hati sambil terus memandangi wajah Sakura. hatinya kembali damai dan tenang ketika mengetahui kenyataan itu.

'Apa aku benar-benar... Dengannya?' ia belum mau mengisi titik-titik tersebut. Karena ia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Tapi, apa bukti kurang jelas? Sudah jelas sekali 'kan kalau kau suka padanya?

'Tapi aku 'kan baru pertama kali! Jadi wajar kalau aku tidak tahu!' ia membela dirinya. Jadi apa kau mau bukti lagi? Mau dipastikan?

'Tentu saja aku mau memastikannya lagi!' sementara Sasuke dan author saling bertanya-jawab, Sakura mulai membuka kelopak matanya perlahan. Sasuke melupakan tanya jawab itu, kemudian langsung membantu Sakura duduk.

"Ugh..." Sakura mengerjapkan matanya pelan. "Sasuke-kun masih disini?" Sakura bertanya dengan polosnya.

"Hn." Sasuke menjawab singkat sambil mengambilkan teh yang sudah ia siapkan. 'Mana mungkin kau kutinggalakan disaat seperti ini.'

Sakura mengambil teh tersebut dan mengerucutkan bibirnya kesal, "Masih mau penjelasan? Tidak percaya?"

"Aku percaya," Sasuke duduk di samping Sakura dan menghirup tehnya. "Kenapa kau yang jadi marah?"

"Habisnya, Sasuke-kun tidak pernah percaya padaku! Di perpus juga-" Sakura memutuskan perkataannya karena melihat Sasuke tersedak dan memuncratkan tehnya. Ia melongo sesaat kemudian tertawa terbahak-bahak dengan wajah memerah.

"Tck, kenapa tertawa?" Sasuke menatap bajunya pura-pura kesal, padahal ia hampir saja tersenyum melihat tawa Sakura.

"Hahahahaaa... Ma,maaf... Hahahhaa... Habisnya, hahahhaa... Ekspresimu lucu sih, hahhahahahaaha..." Sakura berkata diselingi tawa.

"Kalau tertawa aku tidak akan mengajarimu lagi," ancam Sasuke.

"Hahhahahaaa... Biar saja, hahhahaa..." Sakura masih tertawa.

"Aku akan pulang," ancamnya lagi.

"Ahahhahaaa... Ya sudah, hahahhahaa..." Sakura makin terbahak-bahak melihat wajah Sasuke yang merajuk.

"Akan kucium kau," kata Sasuke mencoba untuk terakhir kalinya.

"Ahahhahaha... Aku tidak takut... Eh?" Ia langsung menhentikan tawanya dan melotot.

Sasuke menyeringai dan langsung mencium Sakura di pipinya. Saat ia melepaskannya, Sakura berwajah sangat merah mengalahkan tomat kesukaannya.

Sasuke terkekeh pelan dan menatap Sakura yang masih melongo di tempat.

1-2 detik. Sasuke tersenyum geli, Sakura melongo.

3-5 detik. Sasuke Tersenyum tipis, Sakura melongo.

6-8 detik. Sasuke bingung, Sakura melongo.

"Hei?" Sasuke mulai khawatir melihat Sakura yang tidak menunjukkan reaksi. Tapi tidak perlu khawatir, karena Sakura mulai sadar dan blushing berat sambil menimpuk wajahnya dengan bantal.

"H-hei! Stop!" Sasuke mencoba mengelak dari lemparan bantal Sakura.

"SASUKE-KUN GENIIIT!" Sakura kehabisan bantal, kemudian beralih memukuli Sasuke.

"Kau tadi juga 'kan?" Sasuke membela diri.

BLUUSSH

Wajah Sakura sudah sangat merah dan panas, "Ta-tapi kau malah menciumku tadi!"

"Aku 'kan ingin," Sasuke berkata pelan sekali, tapi tetap terdengar di telinga Sakura.

"Bu-bukannya kau berkata, 'Bukankah aku memintamu untuk itu'?" Sakura berkata pelan.

Wajah Sasuke merona tipis sekali, "Aku 'kan memang memintanya! Aku sudah bilang sebelum menciummu!" ia memalingkan wajah malu.

Sakura mengingat kejadian tadi, kemudian kembali blushing malu. Ia merasa senang, 'Ternyata, bukan karena Karin. Syukurlah...'

"Sudah mengerti?" Sasuke masih belum mau menoleh. Wajahnya sudah stoic lagi, tapi sifatnya sama sekali tidak mencerminkan Uchiha.

"Ah, eh, e-eto..." Sakura meracau gugup. Ia bingung mau bicara apa, karena terlalu senang dan gugup.

"Hn." Sasuke berusaha mengembalikan ke-Uchiha-annya *digetok Sasuke*

Kemudian keduanya terdiam. Sakura menarik lengan baju Sasuke, membuat Sasuke menghadap kearah Sakura. Onyx dan emerald saling bertatapan. Saat Sakura akan bicara...

GEE, GEE, GEE, GEE, BABY-BABY...

Keduanya sweatdroop ketika mendengar ringtone handphone Sasuke. Tapi, hanya sesaat. Karena Sakura kembali tertawa terbahak-bahak, dan Sasuke mengumpat kesal.

'Tck, pasti ulah Aniki lagi!' Sasuke menggerutu dan menjawab teleponnya.

"HOII! MAU SAMPAI KAPAN PACARAN? SUDAH MALAAM! NANTI MALU DILIHAT TETANGGA! BESOK AJA DILANJUTIN LAGIII!" teriak Itachi keras, membuat Sasuke menjauhkan telinganya. Padahal tidak di speaker, tapi suaranya tetep kenceng aja.

"Cih, berisik Aniki!" Sasuke membalas perkataan Itachi dengan singkat.

"SUDAAH! CEPETAN PULANG! IBU MENCARIMUU! KATANYA, 'MANA SASU-CHAN?' HAHAHHAHAHAAA..." Itachi tertawa keras.

Kebetulan Sakura yang ikut mendengar turut tertawa keras, "Ahahahahahahaa... Benar Sasu-chan! Kau harus pulang! Hahahahaha..."

"TUH 'KAN? PACARMU AJA SURUH KAMU PULANG! Ayo-" Itachi mendengar suara tawa Sakura pun ikut menimpali.

Sasuke langsung menutup sambungan karena kesal. Ia tahu, ibunya tidak mungkin berkata seperti itu. 'Dasar Aniki!'

Ia menatap Sakura yang masih tertawa terbahak-bahak. "Sakura!" ia berkata super kesal.

"I-iya!" Sakura berdehem kemudian tersenyum geli. "Pulanglah, Sasu-chan. Onii-sanmu sepertinya senang sekali menjahilimu ya," Sakura terkikik geli.

"Tck, berhenti memanggilku seperti itu!" Sasuke berjalan menuju pintu keluar.

"Ah, tidak mau! 'kan lucu..." Sakura mengikuti Sasuke dan berlogat manja.

Seketika Sasuke berbalik mendadak kemudian kembali mencium pipi Sakura cepat, "Hukuman untukmu. Aku pulang dulu," kemudian Sasuke pergi dengan mobilnya.

Wajah Sakura memerah dan panas. Ia menepuk pipinya, kemudian tersenyum senang, "Sasuke-kun ternyata lucu ya..." ia menutup pintu dan pergi tidur. Hatinya sungguh bahagia sekarang.

-TBC-

Halo Minna-saan! Ga nyangka ini cerita bakal sampai chapter 4. Padahal rencananya, hanya buat 2-3 chapter aja. Tapi, karena saya merasa alurnya bakal kecepetan kalau Cuma 2-3 chapter.(padahal dengan chap segini aja udah berantakan alurnya) XD

And... maaf ya updatenya lama buanget... Habis UAS, aku terserang flu dan langsung dilanjut libur natal dan tahun baru... jadilah sekarang januari baru update... T^T

Dan hontou ni arigatou, yang udah review dan juga baca fic ku... aku tahu, aku masih sangat pemula, jadi kalian kasih saran ya kalau ada kekurangan yang tidak kalian suka di sini. Aku tahu, aku lama apdett... ToT

Oh ya, untuk jaga-jaga sih... aku tidak janji bisa update dengan begitu cepat, tapi kuusahakan tidak terlalu lama juga. Aku punya kendala dalam mengupdate maupun publish fic... tidak unya flashdisk, cardreader, maupun kabel data... ToT modem pun tak punya... *ndeso banget sih*

Aku harap kalian mau mengerti... :"O

special thx buat:Angeline Uchiha Stephen ,Eunike Yuen , MemelSasusakuLove , Uchiha Hime Is Poetry Celemoet , Dijah-hime , Kamikaze Ayy , Sindi 'Kucing Pink , Naomi azurania belle , Yuuki Aika UcHiHa(chapter 1), Yuuki Aika UcHiHa (chapter 2),Yuuki Aika UcHiHa(chapter 3), WindyPikachu Girlfriend , CherryN , Yuuki AIKA Uchiha non login, Osaka Sakura , Tawaan MataHari , Rey619 , vanilla yummy , LeeSica , Dita (maaf juga gak bisa balas satu-satu...)

maaf kalau ada yg terlewat n salah pengetikan nama.. (marahi saya kalau itu terjadi)

oh ya, kemarin sebenarnya udah mau apdet, tapu lampu padam.. dan gak sengaja sebelumnya chapter 1 dan 2 terhapus.. T^T maafkan sayaaa... #nangis di pojokan

Review! Oke?

Karikazuka