Miss Pesimis?
Naruto Masashi Kishimoto
Miss Pesimis © Karikazuka
Happy reading!
.
.
.
"Ehehehe..."
"Sakura? Kau kesambet ya?" tanya Ino sambil melihat ekspresi Sakura yang tidak biasa. Pasalnya, Sakura tersenyum-senyum sendiri sambil melamun. Bagaimana orang tidak bingung?
"Sa-Sakura-chan kenapa ya?" tanya Hinata hati-hati. Tampaknya ia sangat bingung dengan kondisi temannya saat ini. dalam memori otaknya sudah tersusun berbagai bayangan-bayangan yang mencurigakan.
Pertama, Sakura mendadak gila memikirkan hubungannya dengan Sasuke yang makin lama makin rumit saja. Hinata menggeleng. Sakura orang yang mentalnya kuat, jadi tidak mungkin.
Kedua, Sakura baru bertemu dengan orang gila, dan membuat gadis itu turut gila. Hinata menggeleng sendirian lagi, tidak mungkin gila sekarang menular.
Ketiga, Sakura baru saja... Ah, tidak, tidak. Hinata menggeleng kuat-kuat dan mengetuk kepala dengan kedua tangan. Wajahnya memerah membayangkan yang ketiga ini. Masa...
"Mungkin habis dicium macan," kata Ino menyeringai. "Atau mungkin dicium macan yang satu ini," tambahnya saat melihat Sasuke masuk ke dalam kelas. Semua mata kali ini memandang Sasuke Uchiha berjalan mendekati bangkunya sendiri.
Hinata terkikik geli dengan wajah merah padam. Ternyata dugaannya yang terakhir tepat sasaran. Ekspresinya itu membuat para fans lelakinya menatap sang Hyuuga dengan mata berbentuk hati.
Sakura masih belum bereaksi dan terbuai dalam bayangannya sendiri, membuat Ino kehilangan kesabaran dan langsung menjitak puncak kepala Sakura, "Forehead! Honey-mu sudah datang tuh!"
Sakura sadar dan melihat Sasuke yang tengah bertengkar kecil dengan Naruto, "H-Honey apa?" Dilihatnya kekasih palsunya memandang dengan death glare andalannya pada si pemuda berambut blonde mentereng.
Ino dan Hinata terkikik geli melihat ulah Sakura, "ya ampun Sakura, kau dengannya pacaran masih tidak memanggilnya dengan ucapan sayang?" Ino memberikan cengiran jahil untuk sahabatnya seraya menjawil-jawil lengan gadis itu.
"Tidak. Siapa juga yang mau dipanggil begitu!" kata Sakura agak keras dan sampai di telinga Uchiha bungsu tersebut. Gadis itu malu saat digoda para sahabtanya, sehingga tidak tahu jika suaranya cukup keras untuk sampai ke telinga Sasuke.
Merasa disebut, Sasuke menoleh cuek pada ketiga orang yang tak jauh dari bangkunya. Matanya menelusur wajah Sakura yang kelabakan sekaligus memerah malu. Entah apa, dari ujung hatinya ia merasa sedikit kesal.
Sayangnya sang Uchiha bungsu memutuskan untuk diam saja dan pura-pura tidak mendengarnya.
.
.
.
"Jam 7," kata Sasuke sambil menuliskan rumus logaritma kedalam kertas catatannya. Mereka berdua sedang berada di perpustakaan dan seperti biasa, belajar bersama.
"Eh? Untuk apa?" tanya Sakura, sambil melepas pandangannya dari buku. Matanya bergulir ke wajah Sasuke dengan pandangna beri-tahu-ada-apa.
"Ke rumahku. Ibuku ingin bertemu denganmu," jawab Sasuke enteng tanpa melepaskan pandangannya pada rumus-rumus yang memusingkan bagi sebagian siswa.
Saking kagetnya Sakura, pensil yang dipegangnya terlepas dan mulutnya menganga sempurna, "a-apa katamu?" Nada suaranya naik satu oktaf saat mengucapkan dua suku kata tadi.
Sasuke menatap Sakura datar, "..." Ia memberikan tatapan, kau-harus-mau-atau-semua-hancur.
Ehm, terlalu hiperbola.
"A-aku, ta-tapi aku..." Sakura meracau sambil mencari pensilnya yang terjatuh dengan gugup. Tangannya meraba-raba permukaan meja dengan kegugupan medium.
"Kurasa itu berarti iya," putus Sasuke cepat. ia tidak mau banyak berdebat dengan masalah ini. Cukup sudah ia dijahili Aniki dan rengekan ibu tersayangnya saat ia pulang ke rumah.
Jangan salah, gini-gini Sasuke sayang mama!
Ia akan melakukan apapun demi ibunya. Agar ibunya merasa bangga dan tersenyum bahagia. Ia, Aniki, dan ayahnya. Semua sayang pada Istri Uchiha Fugaku yang manis dan lembut itu. Walau kadang si bungsu tidak memperlihatkannya langsung.
Ganti topik! Bukan saatnya memikirkan sang ibu di perpustakaan, dengan gadis berambut merah muda ini di depannya.
Sakura hanya menghela napas berat dan mulai meneruskan kegiatan belajarnya, "Kita..." Sakura menyembunyikan raut wajahnya di balik poni, "sampai kapan?"
Sasuke menaikkan sebelah alis kemudian bergumam pelan, "Hn?" Matanya tidak lepas dari buku dan tangannya yang menulis bergantian.
Sakura segera menggeleng cepat dan menatap Sasuke sambil tersenyum, "maksudku kegiatan kita belajar. Sampai kapan kau akan jadi mentorku?" Ia menyembunyikan maksud perkataannya tadi dengan hal lain.
"Tidak suka?" tanya Sasuke datar. Ia mengangkat kepalanya dan menatap lekat Sakura.
"Bukan begitu..." Sakura mengerucutkan bibirnya kesal sekaligus gugup, "maksudku, apa kalau nilaiku kembali baik, maka kegiatan ini sudah selesai?" Dalam hati ia berharap itu tidak akan terjadi. Ia rela selamanya bisa belajar bersama Sasuke Uchiha.
Sasuke menaikkan bahunya sambil menggelengkan kepala, "bisa jadi, sampai ulangan umum nanti."
"Apa aku bisa? Kurasa nilaiku banyak turun..." desah Sakura sambil menundukkan wajah ragu. Pesimis, sekaligus kecewa dengan kenyataan yang ada. Berarti tidak sampai sebulan lagi, mereka akan selesai belajar bersama.
Tuk
"Jangan pesimis," kata Sasuke dan mengetuk kepala Sakura dengan pensil. "Aku yakin kau pasti bisa." Sasuke kemudian membalik halamn buku pelajarannya dan mengerjakan soal matematika yang cukup rumit.
Wajah Sakura memerah saat Sasuke menyemangatinya.
Ia tahu, Sasuke jarang berbicara banyak dan sifatnya dingin –tapi terkadang Sasuke menyemangati dan menghiburnya dengan caranya sendiri. Cara yang kadang tidak dimengerti kebanyakan orang.
Dan Sakura menyukai itu semua. Cara yang ditujukan hanya untuknya, untuk dirinya seorang.
'Biarlah ia bersamaku sebentar saja Tuhan,' ucap Sakura dalam hati. Ia berusaha merelakan kenyataan yang terjadi sekarang dan tersenyum pedih di depan buku tulisnya. 'Walau aku tidak tahu, bagaimana perasaan Sasuke sesungguhnya kepadaku...'
*-DinDongDinDong-*
Ketika keluar dari perpusatakaan, Sasuke dan Sakura berpapasan dengan Karin. Sasuke hanya diam tanpa ekspresi, tapi jelas Sakura gelisah. Apalagi melihat Karin mendekati mereka dengan senyum menghiasi wajah putih porselennya.
"Sakura... Jangan kau pikir aku akan menyerah," kata Karin sambil tersenyum manis sekaligus tulus. Senyum yang jarang bahkan nyaris tidak pernah terukir di bibir gadis itu.
"E-eh?"
"Cukup," gertak Sasuke datar pada Karin. Ia tidak habis pikir, kenapa sih gadis ini tidak menyerah dan mencari yang lain? Seperti Suigetsu misalnya? Kenapa juga harus mengejarnya?
"Sasuke, aku berjanji tidak akan mengganggu Sakura lagi. Aku mengerti kalau kau memilihnya. Tapi bukan berarti aku akan menyerah," ucap karin sambil menatap Sasuke lembut. "Aku tetap menyayangimu." Dengan yakin dan mantap, Karin berkata beberapa suku kata tadi di depan keduanya.
Sakura hanya diam. Perlahan, Karin mengulurkan tangannya dan tersenyum yakin pada Sakura. Namun gadis itu tetap bergeming, membuat Karin hendak menurunkan tangannya.
Tapi nyatanya Sakura membalas uluran tangan itu dan menjabat tangan Karin, "kita berusaha sama-sama ya..." Sakura tersenyum manis ke rival berambut merahnya.
Karin pun tersenyum tidak kalah manisnya, "aku tidak akan kalah."
Sasuke mendengus saat Karin menatapnya minta persetujuan, "aku tidak perduli. Yang pasti perasaanku tidak akan berbalik padamu." Kemudian Sasuke berlalu meninggalkan Karin, diikuti Sakura yang melambaikan tangan pada Karin.
"Akan kupastikan itu, Sasuke-kun," kata Karin dengan senyum penuh arti.
Kau yakin akan ucapanmu, huh? Apa kau yakin tidak ingin mundur saja?
"Bagaimanapun aku tidak akan menyeraah!" jerit Karin tertahan. Sehingga tidak seorang pun mendengar kata-katanya. Napasnya naik turun dengan mata membara penuh semangat.
Kau benar-benar terpikat dengan Uchiha bungsu itu, heh?
*-DinDongDinDong-*
Sasuke berjalan sambil merenungkan perbuatannya. Ia tahu, Karin bukan orang yang mudah menyerah. Jika dilarang, gadis itu akan bertekad dan semakin menjadi. Lagi pula, asal pertunangan itu tidak terlaksana dan ia tidak harus menikah dengan Karin, ia tidak akan mengurusi. Ia tidak mempersalahkan apa mau Karin sekarang, tapi sekarang ia lebih fokus pada gadis di sampingnya.
Apa gadis itu bisa menghadapi persoalan bersamanya?
Sasuke menatap gadis di sebelahnya, dan kebetulan gadis itu juga membalas pandangannya sambil tersenyum. Sasuke memandang lekat mata emerald milik Sakura dengan lembut, "Tetaplah bersamaku." Ia menyentuh bahu Sakura dan menepuknya pelan, "karena aku butuh bantuanmu."
Gadis yang ditatap itu tersenyum kecut –tapi berusaha disembunyikannya- dan menjawab, "Iya, aku akan bersamamu.". 'Walau ini hanya sandiwara untuk Karin dan orang tua mu agar kau bisa bebas, aku akan selalu menolongmu Sasuke-kun...' Sakura tersenyum dalam hati.
.
.
Di kamar gelap berukuran 3x6 meter itu, berdiri seorang gadis di depan sebuah cermin rias yang minimalis. Wajahnya menatap sendu pantulan wajahnya di cermin sambil mengoleskan Lip gloss di bibir mungilnya dengan perlahan. Setelah itu ia mulai menggelung rambut sebahunya agar terlihat bergelombang, dan mengikatnya kesamping dengan jepit Sakura manis yang tersemat di rambut merah mudanya.
"Walau dirias seperti apapun, aku tidak bisa secantik Hinata yang tanpa make up sekalipun. Pantas saja, Sasuke tidak tertarik padaku." Ia perlahan menyentuh bibirnya pelan, "tapi kenapa ia menciumku..." Pertanyaan itu kembali muncul ke kepalanya.
Tiiin Tiin
Sakura menoleh sekilas, dan memakai high hells 3 sentinya dengan cepat. Sampai di ujung pintu, sekilas ia menoleh kearah cermin dengan menahan air mata.
'Itu hanya sandiwara saja 'kan?'
Ia berjalan sambil menahan air matanya yang siap mengalir, tapi tidak bisa. Air matanya jatuh dan mengalir ke pipinya. Untung saja ia memakai waterproof make up, sehingga ia tidak perlu menyiapkan bedak lagi dan menaburkan pada pipinya yang sudah dipoles sebelumnya.
Sampai di depan pintu, ia menarik napas dan mengatur detak jantungnya agar tidak terdengar suara sesenggukan yang ditahannya sejak tadi. Saat ia telah mengunci pintu, wajahnya berubah cerah seperti tidak ada apa-apa.
"Maaf lama ya Sasuke-kun," katanya riang sambil masuk ke dalam mobil Sasuke. Tidak ada jejak kesedihan sama sekali dari wajahnya. Yang terlihat hanya wajah cerah, senang, dan gembira.
Sasuke diam mematung, menatap Sakura dari atas ke bawah dan itu membuat Sakura melihat ke badannya sendiri dengan panik.
"E-eh. A-ada yang aneh ya?" tanya Sakura sambil membenahi pakaiannya.
Sasuke segera menggeleng dan segera mengalihkan pandangan pada kaca depan. Sakura tidak tahu, kalau si bungsu Uchiha itu sedang menahan senyum dan rona merah di wajahnya.
'Dia seperti bunga,' batin Sasuke sambil menoleh sekilas pada Sakura yang masih memandangi bajunya dengan bingung. 'Cantik.' Kemudian Sasuke segara fokus pada jalan di depannya.
*-DinDongDinDong-*
Dua pasangan itu sudah sampai di depan rumah keluarga Uchiha. Keduanya berjalan beriringan ke dalam rumah sambil sesekali melontarkan percakapan –-hanya Sakura tentunya yang bicara.
"Kalian sudah datang rupanya," sambut Mikoto, ibu Sasuke sambil tersenyum lembut.
Sasuke hanya bergumam dan Sakura mengucapkan salam sambil ber-ojigi.
"Ayo masuk, kebetulan kakakmu baru saja pulang dari Kirigakure," kata Mikoto lagi tanpa melepas senyum lembutnya. Ia mendorong kedua remaja itu masuk ke dalam rumah mewah Uchiha.
"Kakakmu yang waktu itu ya?" bisik Sakura sambil mengikuti Sasuke masuk. Ia teringat pada telepon heboh waktu itu.
"Hn," jawab Sasuke singkat. "Walau dia Anikiku, kita akan tetap berperan sebagai kekasih." Ia berbisik sambil memegang tangan Sakura. Tangan Sasuke dingin, sedingin wajahnya.
Sakura mengangguk pelan. 'Benar 'kan? Selama ini hanya sandiwara,' batin Sakura sedih.
Tapi ia selalu tidak dapat menolak tangan dan sentuhan itu. Ia benar-benar terperangkap dengan sang Uchiha bungsu. Dan saat ia terperangkap, akan sulit melepaskannya. Ia balas menggenggam tangan Sasuke dan melangkah ke depan, mengikuti lelaki itu.
"Otouto!" teriak sebuah suara. "Dia toh-" suara semangat Itachi yang menyambut kedatangan Sasuke dan kekasihnya mendadak terputus. "-Kekasihmu..." lanjutnya lirih, hampir menyerupai bisikan.
Sakura sendiri tidak kalah kagetnya dengan Itachi, "K-kau..." Memori otak kembali memutar kejadian masa lalunya. Kejadian yang masih terbayang-bayang di sudut otaknya, meluap keluar.
Sasuke, Mikoto, dan Fugaku yang berada di sana menatap kedua orang itu dengan bingung. Ketiganya menatap dua orang itu dengan pandangan berbeda-beda namun dengan inti yang sama.
"Cherry-blossom..." ucap Itachi dengan penekanan tiap katanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya dengan mengucapkan dua suku kata tersebut. Suku kata yang selalu mengingatkannya pada gadis kecil 9 tahun yang lalu.
Seketika mata Mikoto membulat dan tersenyum ceria, "Jadi kau gadis kecil itu?" Wajahnya berkali-kali lebih cerah dari sebelumnya.
"Gadis kecil di bawah pohon Sakura 9 tahun yang lalu?" kali ini Fugaku angkat bicara sambil menatap Sakura.
Lelaki –atau bisa disebut sang Uchiha bungsu hanya diam sambil memandangi Fugaku, Mikoto, Itachi, dan Sakura dengan pandangan bingung. Kenapa Itachi bisa kenal Sakura? dan kenapa reaksi orangtuanya agak berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya? Seperti pernah bertemu. "Kalian semua saling kenal sebelumnya?" tanya Sasuke.
Sakura sedikit bingung dan Itachi menggaruk kepalanya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Keduanya bingung menjelaskan pada Sasuke, apa yang sebenarnya telah mereka alami.
"Bisa dibilang... ia penyelamat hidupku," ungkap Itachi sambil menggenggam tangan Sakura lembut. Mata yang serupa dengan Sasuke itu menatap Sakura lembut.
"Dan penyemangat kami," tambah Mikoto sambil tersenyum disertai anggukan Fugaku. Bahkan ayah ibu Sasuke turut menatap Sakura lembut.
Sasuke masih belum paham memutuskan untuk mengalihkan pandangan pada Sakura yang bingung akan genggaman tangan Itachi. Sakura yang dipandangi Sasuke mulai menyusun kata yang pas untuk menghindari cerita ini. ia tidak mau menceritakannya sekarang, tida untuk saat ini.
"Jelaskan. Sakura," ucap Sasuke dengan penekanan di tiap kata. Bukan karena marah tidak di beritahu saja, tapi ia lebih marah saat melihat Itachi menggenggam tangan Sakura dengan raut wajah seperti orang kasmaran! KASMARAN!
Bisa-bisanya sang kakak lupa, kalau itu pacar (bohongan) adiknya, dan se-enak dengkul menggenggam tangan gadis itu. Membuat sang gadis merona malu. Sasuke jelas tidak terima! Ralat! Sangat-tidak-terima.
Secepat kilat, Sasuke menyentak tangan Itachi yang masih menggenggam tangan Sakura dan menarik Sakura kedalam pelukannya. Mengingatkan pada Anikinya dimana posisinya sekarang.
Itachi sedikit tersentak, tapi ia segera menutupinya, "akhirnya kita bertemu lagi, Cherry. Sudah lama aku mencarimu."Ia mengerjapkan mata dan terus memandang Sakura lekat-lekat, seolah gadis itu bisa hilang jika tidak dipandang seperti itu.
"Sayangnya kau kekasih adikku," ucapnya agak kecewa. Kecewa karena terlambat oleh adiknya sendiri.
Anehnya, Mikoto dan Fugaku yang dari tadi diam saja melihat dorama 3 remaja itu bangkit berdiri. "Ayo, kita makan malam dulu. Semua pasti lapar 'kan?" ajak Mikoto sambil menggandeng Sakura dan Itachi masuk ruang makan.
Wajah Sasuke makin masam.
"Selamat malam semuanya."
Kelimanya menoleh serampak dan menemukan seorang gadis berambut merah sedang tersenyum ceria dan mendekat. Ia memakai terusan merah hitam dengan renda di ujung lengan dan lehernya, membuatnya makin terlihat manis.
"Apa aku mengganggu?" tanya gadis itu sambil menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. "Eh, ada Sakura dan Itachi-nii juga. Sepertinya aku datang di saat yang tepat ya?" ia tersenyum lagi di balik kaca matanya.
'Sangat tidak tepat,' batin Sasuke dan Itachi berbarengan.
Mikoto tersenyum, "ayo Karin, kita baru saja akan mulai makan malam." Fugaku mengangguk menyetujui dan mendahului mereka ke ruang makan. Rupanya panggilan alam di perutnya sudah tidak bisa di kompromi lagi.
Karin tersenyum kecil dan mengangguk, kemudian menjejeri langkah Sasuke. "Hai Sasuke-kun?" gadis itu mencoba menyapa sehalus dan sebaik mungkin pada lelaki yang disukainya.
Sayangnya, Sasuke sedang tidak dalam kondisi yang cukup baik. Sehingga, yang ia dapat hanya tatapan super tajam Sasuke dan wajah Sasuke yang menahan kesal.
"Cherry, kau duduk di sini ya..." kata Itachi sambil menyiapkan bangku untuk Sakura duduk.
"Err... Terimakasih Itachi-kun." Sakura tersenyum malu dan duduk di bangku itu.
Itachi kembali tersenyum dan hendak duduk di sebelah kanan Sakura, namun dengan segera Sasuke duduk di sana. Jadinya Itachi mengalah dan duduk di samping kiri gadis bermata hijau bening tersebut.
Karin tidak mau ketinggalan, kemudian duduk di sebelah kanan Sasuke. Fugaku di ujung meja di samping Mikoto yang berada di depan Itachi. Sehingga urutannya mulai dari Mikoto, Fugaku, Itachi, Sakura, Sasuke, dan Karin.
"Lho? Kok semuanya di bagian kiri?" tanya Mikoto heran.
Karin nyengir, Sasuke cuek, Sakura tersenyum kecil, Itachi ikutan tersenyum. "Aku ingin makan bersama Cherry. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," ungkap Itachi sambil menepuk puncak kepala Sakura.
"Ibu tidak menyangka kalau Sakura adalah gadis kecil itu," kata Mikoto dengan pandangan takjub. "Lucu rasanya, tidak menyadarimu waktu pertama datang kemari," tambahnya dengan wajah tersenyum cerah.
"Ada apa sebenarnya, Itachi-nii dan Kaa-san?" tanya Karin tiba-tiba. Karin sudah lama kenal Mikoto jadi ia memanggilnya dan menganggapnya sebagai ibu sendiri.
"Sudah! Jelaskan saja!" kata Sasuke dingin dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia nyaris kehilangan kesabaran untuk hal ini.
Sakura bingung ditatap sedemikian rupa oleh Karin, Itachi, Fugaku, Mikoto, dan jelasnya Sasuke. Terlihat mata Sasuke yang berwajah datar itu menatapnya dingin.
'Tuhaan... Kenapa jadi begini runyam?" jerit batin Sakura dalam hati.
-TBC-
Akhirnya chapter 5! *jerit-jerit*
Oh my God! Ga nyangka banget bisa bikin fic ini sampai chapter segini... Ini semua berkat kalian yang udah kasih semangat dan review fic ku ini! XD
Aku berharap kalian semua tetap mau baca ini~ Karena semakin banyak yang review dan baca karyaku, itu membuat aku makin bersemangat melanjutkannya! :D
Dan maaf kalau update tidak bisa secepat kilat, petir, guntur, angin, dan lain-lain ya... Aku lagi gak semangat banget... teman-teman dekatku, tidak ada yang minat baca fic ini... ToT Padahal salah satu teman terdekatku sudah janji bakal baca, nyatanya tidak... U_U"
Makasih ya buat emakku yang mau ngoreksi fic ini... Gak nyangka emakku ini mau datang mampir dan mereview pula... Makasih emaak! ^^b #peluk Rie
Sama buat Sindi yang udah review di kotak review juga di sms! XD Yak apa neng, udah mendingan belum? XP (inner: Kuharap lebih baik, walau sedikit) makasih udah semangatin aku dan jadi teman nggosip ya..XD wkwkwkwkkkk...
Belum bisa balas semuanya.. aku nge warnet.. ToT
Special thanks to: Osaka Sakura, Ilana-lia, Rey619, vanilla yummy, LeeSica, Dita, Uzumaki namida-chan, Haruno Sakura Cherry Blossoms, skysunsets, Sindi 'Kucing Pink, Rievectha Herbst, nattually, Naomi Kanzaki, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Eunike Yuen :D (maaf kalau ada kesalahan nama)
(inner: Yang nge-review makin dikit.. ToT)
Dan untuk semua Reviewer (review lagi ya), silent reader (ayo review jangan malu-malu), dan yang lewat (baca ya) hahahaa... Kuucapkan:
Terima kasih.
Thank you.
Arigatou.
Sankyu.
Kamsa hamnida.
Gomawoyo.
Xie-xie.
Matur nuwun.
Review! Oke?
Karikazuka.
