Miss Pesimis?

Naruto Masashi Kishimoto

Miss Pesimis © Karikazuka

Happy reading!

.

.

.

"Ada apa sih sebenarnya Itachi-nii dan Kaa-san?" tanya Karin tiba-tiba. Karin sudah lama kenal Mikoto jadi ia memanggilnya dan menganggapnya sebagai ibu sendiri.

"Sudah! Jelaskan saja!" kata Sasuke dingin dengan wajah tanpa ekspresinya.

Sakura bingung ditatap sedemikian rupa oleh Karin, Itachi, Fugaku, Mikoto, dan jelasnya Sasuke. Terlihat mata Sasuke yang berwajah datar itu menatapnya dingin.

'Tuhaan... Kenapa jadi begini runyam?" jerit batin Sakura dalam hati.

Sakura P.O.V

Aduh, aku harus jawab bagaimana? Kulihat semua mata memandangku. Apalagi Sasuke. Matanya menatapku tajam sekali!

"Be-begini..." kataku terbata-bata. Aku menelan ludah pelan. Harusnya aku tidak kemari!

"Ceritanya nanti saja Karin. Kita makan dulu ya," tiba-tiba suara ibu Sasuke menyahut. Huffft... Syukurlah, paling tidak Karin tidak boleh tahu tentang hal ini. Aku tidak ingin dia menganggapku sok gaya di hadapannya.

Tapi mata itu, mata onyx itu masih menatapku tajam. Sasuke pasti kesal padaku. Aku memang payah...

Normal P.O.V

Selesai makan, semua berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar minum teh dan berbincang-bincang. Mikoto yang menyeduh teh dan menyiapkan cemilan ringan di ruangan itu, tersenyum lembut. Sesekali ia mengelus rambut soft pink Sakura dan menggumamkan kata 'Kau manis', 'Kau cantik sekali', 'Tidak disangka kita bisa bertemu lagi'.

Sakura tersenyum dengan wajah merona merah. Apalagi Itachi yang duduk di sebelah Sakura terus mengembangkan senyumnya sambil sesekali menepuk puncak kepala Sakura.

Mau tahu apa yang dilakukan si bungsu Uchiha?

Dia terlihat berwajah masam dan mengerut kesal, apalagi dengan Karin yang berada di sampingnya dan mengoceh tidak jelas –sebenarnya Sasuke tidak mau tahu dan dengar apa saja ocehan itu- mendingan diam saja.

Matanya menatap Sakura dan Itachi dengan pandangan tidak suka. Apalagi melihat Itachi menepuk atau mencubit pipi Sakura, benar-benar membuat kekesalannya menjadi-jadi.

"Kami sangat bersyukur bisa bertemu denganmu lagi," kata Fugaku setelah menyesap teh hijau miliknya.

"Iya, Sakura-chan. Kau sudah memberikan semangat untuk kami, sehingga kami sekarang bisa hidup seperti ini," tambah Mikoto sambil menepuk bahu Sakura.

Sakura hanya tersenyum sungkan.

"Tidak kusangka kau adalah kekasih Otouto-ku, Cherry. Padahal kau lebih cocok denganku," ucap Itachi sambil mengerling nakal. Ia sedikit melirik pada adiknya yang berada di seberang sofa bersama Karin.

"Maksudmu, hah?" bentak Sasuke sinis. Ia tidak terima dengan perkataan kakak tunggalnya yang terkesan menghina dirinya saat ini.

"Huh, memang benar kan?"

"Aniki..." Sasuke menggeram. Ia benar-benar kesal sekarang. Mungkin jika Sasuke itu gunung, ia sudah mencapai tahap 'waspada' dan bergetar panas.

Itachi memberikan tatapan mengejeknya pada Sasuke.

Sementara yang lain sweatdropped melihat tingkah kakak-beradik Uchiha itu. Apalagi Sakura, ia sendiri tidak menyangka bahwa kakak adik satu ini luar biasa daya saing dan ejek-ejekannya. Bayangan kakak adik yang rukun dan saling menyayangi runtuh seketika.

"Sudahlah Sasuke-kun," kata Karin menenangkan Sasuke sambil mengelus dada Sasuke agar emosinya turun.

Cnuut.

Hati Sakura mencelos melihat Karin mengelus Sasuke dan lelaki itu tidak menepisnya. Perlahan, matanya sudah merah –siap untuk menangis. Sebelum air mata itu benar-benar keluar, ia segera berdiri dan berbalik.

"Aku mau ke toilet sebentar, permisi..." kata Sakura pelan. Ia terdiam sejenak dan berbalik, "toiletnya di ujung sana?"

Mikoto mengangguk dan mempersilahkan Sakura lewat. Segera Sakura berjalan ke toilet. Tidak dikiranya tebakan acaknya benar. Ia beranjak masuk dan menutup pintu toilet tersebut.

"Hiks... Rasanya... Sakit sekali," kata Sakura nyaris berbisik dan menangis. Ia merasakan hatinya sakit, saat itu. Sakit yang berbeda dengan sakit pada umumnya. Sakit yang menghantam, dan terasa aneh sekaligus menyakitkan.

Ia menatap wajahnya di pantulan cermin, riasannya sudah sedikit berantakan akibat ia menggosok wajahnya dengan tangan. Matanya sembab merah dan wajahnya agak pucat. Napasnya tidak teratur karena menahan sesenggukan sejak tadi.

"Hn?"

Sakura menoleh kaget. Sasuke Uchiha berdiri di balik pintu yang sudah ditutup sambil menyilangkan tangan. Wajahnya datar, tapi dari sorot matanya memancarkan kekhawatiran.

Seingat Sakura, ia sudah menutup pintu tadi. Tapi tampaknya ia lupa menguncinya. Gadis itu menyesali perbuatannya yang ceroboh, membuatnya harus tampak konyol saat ini.

"Sa-Sasuke..." Sakura menggosok matanya cepat dan memasang senyum palsu, "ke-kenapa kemari?"

Sasuke tidak menjawab dan mendekati Sakura yang gelagapan tidak jelas. Perlahan tangannya terulur menyentuh pipi gadis itu dan mengusap berkas airmata gadis itu lembut. Pandangannya melekat erat pada mata hijau Sakura yang sedikit meredup binarannya.

"Kau menangis."

"A-ah, itu ta-tadi... A-anu..." Sakura makin gelagapan dengan wajah merah. Ia malu tertangkap basah seperti ini, apalagi usahanya mengalihkan perhatian Sasuke tidak berhasil. Mata Sasuke seolah merekat kuat, sehingga mata Sakura sendiri tidak sanggup berpaling.

Perlahan, Sasuke menarik tangan Sakura dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Ia dapat merasakan tangan dan tubuh gadis itu dingin. Ia mengeratkan pelukannnya dan mendekatkan bibirnya pada telinga Sakura.

"Aku kesal," katanya di telinga gadis itu, sehingga membuat napasnya menerpa daun telinga Sakura.

Sakura diam saja dengan wajah semerah tomat, ia menunggu.

"Aku seolah bodoh dan tidak tahu apa-apa di sini. Kau, dengan semua keluargaku sudah pernah bertemu sebelumnya. dan aku sama sekali tidak tahu hal itu." Sasuke meletakkan kepalanya di bahus gadis itu, sambil menghirup harum tubuh Sakura.

"Apalagi Aniki memanggilmu Cherry..."Ia menghela nafas tepat di telinga Sakura, nafas itu langsung membuat gadis itu berjengit kecil. "Kau harus ingat, kau kekasihku saat ini..."

Sakura tersentak pelan, perlahan air matanya keluar dan ia hampir akan membalas pelukan Sasuke. Tapi...

"...Walau hanya sanya sebatas peran."

Serasa gadis itu dijatuhkan dari tebing yang tinggi. Ia melepaskan pelukan Sasuke dan mundur beberapa langkah. Sinar matanya makin meredup dan nyaris kehilangan binar ceria dan semangatnya. Seolah binaran itu tidak pernah ada di sana.

"Aku mengerti ini tugasku. Aku hanya pacar bohonganmu di sini. Di luar itu semua, kita tetap saja teman 'kan?" kata Sakura dengan airmata berlinang. Ia menyangga tubuhnya yang bergetar dengan menempelkan tangan kanannya ke wastafel di belakangnya.

Sasuke hendak berkata sesuatu tapi suara dan dorongan dari pintu di belakangnya membuatnya terkejut. Matanya beralih pada pintu yang perlahan terbuka dan menampilkan sesosok lelaki berambut hitam panjang.

"Apa benar itu Otouto?"

Mata Sakura dan Sasuke membelalak melihat Itachi menatap mereka serius. Bahkan untuk Sasuke yang 17 tahun hidup bersama Aniki-nya, baru kali ini Itachi menatap seserius ini. seolah ini adalah rapat direksi yang sangat penting.

"..." Sasuke tidak menjawab apapun. Ia tidak mau berbohong maupun mengelak pada Aniki-nya saat ini.

"Cherry?" ulang Itachi, kali ini pada Sakura. Yang dipandang sedikit gelagapan meminta persetujuan dari Sasuke lewat matanya. Namun sayang, Sasuke tidak memandanganya saat ini.

"I-itu benar..." kata Sakura pelan. Percuma, ia tidak punya alasan lagi untuk mengelak. Orang lain mungkin bisa dibohongi, tapi ia tahu kalau Uchiha bersaudara ini bisa menangkap gelagat bohong atau benar dari dirinya.

Sasuke diam saja menatap keduanya. Ia menatap sebal Aniki-nya yang sudah seenak diri menguping. Kali ini, satu lagi yang tahu rahasia mereka. Ia harus mulai waspada dan bersiap akan kemungkinan petunangannya akan kembali terlaksana.

"Jadi, mau kalian jelaskan padaku?" Itachi gantian menatap Sasuke, yang dibalas adiknya dengan deathglare. Tapi Itachi sudah kebal, bahkan lebih kebal dari pada Naruto yang dikira Sakura sudah sangat kebal.

"Sebaiknya kita bicara di tempat lain," Sakura tersenyum canggung yang dipaksakan, melihat mereka mengobrol di toilet. Dan itu bukan tempat yang bagus untuk memulai pembicaraan serius.

Itachi mengangguk dan Sasuke mendengus. Itachi yang sebal dengan ulah Sasuke menjitak kepala adiknya. Sakura mendahului mereka ke ruang keluarga dan berusaha menampakkan wajah ceria.

"Kalian berangkat sendiri-sendiri, kenapa kembalinya berbarengan?" tanya Karin sambil menunjuk ketiganya bingung. Karena tidak ada jawaban, ia berdiri dengan sedikit menghela nafas kesal dan membungkuk sopan pada Mikoto serta Fugaku, "Kaa-san, Tou-san, aku pulang dulu kalau begitu. Maaf sudah merepotkan." Ia tahu ia sudah harus pulang sekarang.

Mikoto bangkit dan memegang pundak Karin, "sama-sama sayang... Kau sama sekali tidak mengganggu kok." Di mata Mikoto, semua teman Sasuke dan Itachi sudah dianggap anaknya sendiri.

"K-kalau begitu, aku juga mau pulang Paman, Bibi... Terima kasih atas makan malamnya," Kata Sakura turut membungkuk hormat bergantian pada Fugaku yang duduk dan Mikoto yang di samping Karin.

"Tentu Sakura-chan~ Main lagi ya kemari," balas Mikoto sambil memeluk Sakura. nampaknya ia sangat menyukai Sakura.

Fugaku berdiri dan menepuk bahu Sakura dengan senyum tipis khas Uchiha-nya, "hn." Ia menoleh pada kedua anaknya, "jadi, siapa yang akan mengantar nona-nona cantik ini pulang?"

Sasuke dan Itachi langsung berjalan sigap kearah Sakura, "biar aku yang mengantar!"

Mikoto mengangkat alisnya geli. Fugaku menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dan Karin terlihat kesal, pasalnya kedua Uchiha itu rela mengantar Sakura pulang! Bahkan Sasuke tidak memandangnya sedikitpun!

Sakura bingung, kedua tangannya sudah dipegang oleh duo Uchiha. Sasuke di tangan kanannya dan Itachi di bahu kirinya. Mau ikut yang mana Sakura? Author sendiri bingung jika jadi kau sekarang.

"Terus nona cantik satu ini siapa yang mengantar?" tanya Mikoto geli. "Itachi, Sasuke..."

"Aku kangen dengan Sakura, jadi aku yang akan mengantarnya pulang," tegas Itachi dan memandang Sasuke tajam, "bukan begitu, adikku?" Itachi berusaha untuk mengalahkan adu antar ini secepatnya dan segera mengantar gadisnya pulang.

Gadisnya? Bukannya itu gadis adiknya?

Sasuke tidak mau kalah, ia balas menatap Aniki-nya tajam, "dia kekasihku, aku yang membawanya pulang."

"Sudah, kumohon kalian berdua jangan bertengkar..." kata Sakura bingung. "Aku pulang sendiri saja kalau begitu..." Ia memutuskan jalan keluar pilihannya sendiri dan meraih telepon genggamnya untuk memanggil taksi

"Jangan. Oke, ayo Karin kuantar kau pulang." Itachi mengalah. Ia mendekati Sakura dan menyentuh pipi gadis tersebut, "kutunggu penjelasannya lain waktu, Cherry."

Sakura mengangguk dengan wajah merona, "ya, Itachi-kun. Hati-hati di jalan." Sakura berusaha sesopan mungkin saat ini.

Itachi mengangguk dan berbalik pergi setelah mengedip pada Sakura. Karin akan protes sesuatu pada Sasuke, tapi ia diam kemudian mengikuti Itachi menjauh. Setelah mereka menghilang, Sasuke menggandeng tangan Sakura dan hendak beranjak pula.

"Aku pergi dulu," kata Sasuke seraya mengambil kunci mobilnya. Ia menarik Sakura dan menghilang bersama mobilnya.

*-DinDongDinDong-*

"Itu alasannya?"

Sakura mengangguk, tangannya memainkan ujung gaunnya dengan gugup, "aku sendiri tidak menyangka ucapanku akan membawa pengaruh besar dalam keluargamu. Aku waktu itu hanya mengatakan apa yang ada di hatiku. Itu saja..."

Sasuke mengangguk sambil terus fokus pada jalan di depannya, "tanpa dirasa, pertemuan kita sangat kebetulan..."

Sakura turut mengangguk, "ya. Padahal awalnya hanya disuruh belajar agar menaikkan nilai, kemudian merambat pada sandiwara kita, dan akhirnya pertemuan pada masa lalu..." Gadis itu tertawa sendu, "Dunia itu memang sempit ya."

"Hn." Hanya itu yang keluar dari bibir Sasuke Uchiha saat ini.

Hening sejenak.

Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Yang terdengar hanya deru halus mesin mobil dan gesekan ban dengan aspal di jalan raya. Sasuke menatap jalan, sementara Sakura menatap kaca samping kanannya(*).

"Aku haus..." kata Sakura pelan. "Boleh kita ke mini market sebentar?" Ia memutuskan mengakhiri ketegangan ini dengan menyegarkan kerongkongannya yang kering sekarang.

"Ambil saja di kotak pendingin di belakang."

Sakura menurut dan mengambil sekaleng minuman, kemudian meneguknya cepat. Tapi tanpa Sasuke sadari, wajah Sakura mulai memerah dan gadis itu menampakkan seringainya. Ekspresi yang terlalu tiba-tiba dan terkesan ganjil setelah serentet kejadian tadi.

Sasuke memberhentikan mobilnya, karena mereka telah sampai. Sakura berterima kasih pada lelaki di sampingnya dan melepas sabuk pengamannya patah-patah. Matanya sayu dan bibirnya basah oleh minuman tadi membuatnya tampak seksi. Dan itu ganjil di mata Sasuke yang baru menangkap hal tersebut.

"Hei-"

Sakura menoleh dengan senyum lebar, "ya, Sasuke-kuun?" Bibirnya jelas-jelas masih basah oleh minuman itu, dan bukan karena lip gloss.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya kemudian mengalihkan perhatian dari bibir Sakura. Ia membuka mulutnya ragu saat berkata, "kau, suka pada Aniki?"

Gadis itu tertawa aneh, "hahahaa... Kenapa bertanya seperti ituu?"

"Hanya tanya," balas Sasuke singkat. Ia menghembuskan napas panjang, "kalau kau suka pada Aniki, itu tidak akan baik."

"Maksudmu, hmmm?" tanya Sakura dengan nada panjang di akhir kata. Jelas ada yang aneh saat ini, dan Sasuke belum sepenuhnya menyadari hal tersebut.

"Tugasmu adalah jadi kekasih palsuku. Kalau kau suka pada Aniki otomatis keluargaku termasuk Karin akan tahu. Dan mereka akan menginginkan lagi aku bertunangan dengan gadis itu." Sekali lagi Sasuke menghembuskan napas panjangnya, "dan aku tidak mau hal itu terjadi. Jadi jangan berhubungan dengan lelaki lain selain aku."

Perlahan senyum Sakura lenyap digantikan wajahnya yang terlihat marah dan kesal, "aku mengerti ini tugasku~ Aku hanya pacar bohonganmu. Pacar BOHONGAN!" Ia mengeluarkan suara 'Hik' pelan, "tapi aku di sini sekedar membantumu Sasuke-kuun~, aku tidak mendapatkan imbalan maupun pujian apapun! Semua... hik, yang kudapat hanya cela dari para fansgirl-mu dan calon tunanganmu itu." Sakura memberhentikan kalimatnya cepat dengan airmata berlinang dan wajah merah.

"..." Sasuke menyadari kalau ada yang salah pada gadis itu. Tapi ia diam dan mendengarkan penuturan Sakura.

"Kau tahu, hah? Bagaimana perasaanmu jika sudah berusaha berbuat kebaikan, namun yang kita dapat hanya celaan dan hinaan?" Ia cegukan kecil dan berusaha meneruskan kalimatnya.

"Padahal aku ingin membantumu agar kau tidak usah bertunangan dengannya, tapi kau secara sengaja maupun tidak sengaja menyakitiku." Gadis itu mulai terisak, tapi sesaat kemudian ia tertawa, "bahkan sekarang kau menyuruhku tidak dekat-dekat orang lain bahkan kakakmu sendiri. Aku sih tidak masalah kalau kau tidak menginginkan aku berteman dengan Nii-san mu, hehehe... tapi kau terlalu egois Sasuke..."

"Hn?"

"Egois. Kau bahkan mengatur hidupku seenakmu! Aku dekat dengan siapa, itu sama sekali tidak akan mengganggumu~ Dan kau tahu, aku dan Itachi-kun hanya bertemu sekali saja waktu itu Aku tidak mungkin menyukai Itachi-kun, Sasuke..." riasan wajahnya mulai luntur, karena ia menggosok wajahnya dengan tangan dan ber-'hik' lagi dengan keras.

"Kau sebegitu yakinnya tidak akan menyukai Aniki-ku?" katanya sambil mencari bukti dugaannya. 'Bir,' batinnya melihat kaleng yang telah diremat erat Sakura. Diam-diam Sasuke sendiri sudah mencoba minuman itu, walau masih tergolong dosis alkohol yang sangat rendah.

"YA~ Aku tidak akan menyukai Itachi-kuuuun! Karena aku sudah suka denganmu~" kata Sakura manja dan secepat kilat mencium pipi Sasuke dan keluar dengan langkah sempoyongan.

Sementara Sasuke?

"Sakura-" ia merasa jantungnya berhenti berdetak dalam beberapa detik. "-menyukaiku?" katanya saat melihat gadis itu menutup pintu rumahnya keras. Matanya terus menatap pintu rumah Sakura yang tertutup rapat.

Berikutnya ia memukul setir mobilnya dan menaruh kepalanya di atas sana, "Kenapa harus saat kau mabuk... Argghh!" kali ini rambut raven kebanggannya ia jambak, "Bodoh..."

Sasuke benar-benar menyesal. Bahkan ia sendiri baru tahu kalau Sakura pun merasakan hal seperti itu. Perasaan suka.

Padahal Uchiha, -khususnya Uchiha Sasuke- selalu terkenal dengan kejeniusan dan kemahirannya membaca seseorang. Kenapa pada gadis itu saja ia tidak tahu?

Sasuke menggenggam dadanya, dirasanya ada sesuatu yang aneh. Antara sakit, kesal, dan hangat menjalari setiap sel darahnya. Membuat kinerja organ dalamnya –seperti jantung miliknya, tidak berkerja semestinya. Dan itu terjadi jika bersama dengan gadis itu.

Perutnya terasa aneh, sesuatu seolah menggelitikinya dari dalam. Kali ini semuanya terasa lebih pekat, "benar-benar aneh."

*-DinDongDinDong-*

.

.

"Itachi-nii..."

"Hn?" gumamnya persis seperti Sasuke bergumam. Gadis di sebelahnya menahan nafas saat mendengar gumaman tadi. Dikiranya itu Sasuke, orang yang ia sukai.

Karin menghela napas seraya memandang layar handphone-nya, "Kenapa ya, mengambil hati Sasuke itu susaaah sekali?"

Itachi tertawa kecil, "Mungkin kau kurang berusaha Karin."

"Usaha apa lagi? Aku sudah melakukan apa yang ku bisa, agar setidaknya Sasuke mau melihatku. Aku bahkan sampai hati menyakiti Sakura, demi Sasuke. Ia sama sekali cuek padaku." Karin mendesah kecewa, kemudian mengelus layar handphone-nya.

"Kau menyakiti Sakura?" suara Itachi naik mendengar kata 'menyakiti' dan 'Sakura' spontan.

"Y-ya, padahal sebenarnya aku tidak benci-benci amat pada Sakura. aku iri, ia yang baru dekat dengan Sasuke bisa dapat perhatian sebesar itu. Aku sadar, aku tidak seharusnya marah pada Sakura sampai seperti itu..." ucap Karin takut-takut. Pasalnya mendengar suara Itachi naik dan mata lelaki itu menatapnya tajam.

"Jangan lampiaskan kekesalanmu pada orang lain Karin," ucap Itachi masih dengan mata tajamnya. Emosinya sedikit naik saat tahu kalau orang yang menyukai adiknya ini pernah melukai Sakura.

Karin mengangguk, "aku... dengar lho apa yang kalian bicarakan tadi di toilet." Karin berucap polos dan pandangannya menerawang ke jalan raya. Ia tersenyum dalam hati menunggu reaksi Uchiha sulung itu sekarang.

Itachi terlonjak, "lalu, kau akan menceritakan pada orang tua kami dan memaksa Sasuke lagi agar ia bertunangan denganmu?"

Karin menggeleng, kemudian tersenyum lemah, "aku tidak selicik itu Itachi-nii." Ia menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan, "setidaknya aku akan mencoba dengan caraku sendiri."

Itachi diam dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Ia tidak bertanya lagi pada Karin dan fokus pada mobil yang di setirnya.

*-DinDongDinDong-*

Pagi hari

Sakura bangun dengan mata yang sudah tidak terkira lagi rupanya. Bengkak, merah, dan panas. Belum lagi dengan riasannya yang sudah benar-benar berantakan, dan belum dibersihkan sejak tadi malam.

Rambut panjangnya berantakan, seperti semak belukar –karena kemarin di gelombangkan- Bahkan gaunnya semalam belum di ganti. Ia sendiri tertidur di kursi meja makan miliknya tanpa selimut maupun bantal guling. Satu kalimat.

Sakura Haruno benar-benar berantakan.

Bukan hanya luarnya, tapi dalamnya juga. Hatinya benar-benar berantakan.

Ia sudah terlanjur menyatakan perasaannya –apalagi pada saat yang tidak tepat. Sangat tidak tepat. Ia ingat saat serangan sakit membentur kepalanya.

Seharusnya menyatakan perasaan itu dengan hati yang senang dan berbunga-bunga. Enak banget berbunga-bunga, yang ada malah mabuk iya!

"Menyebalkan! Kenapa aku keceplosan bilang itu tadi malam?" seru gadis itu sesekali mengacak rambut Softpinknya kesal. "Tapi gara-gara aku salah ambil minuman! Minuman apa itu kemarin?" ia balik menata rambutnya. "Tapi... ARGGGGHHH! Gak tahu!" ia kembali mengacak rambutnya.

Tok tok tok

Sakura menoleh dan segera berlari menuju kamarnya –hendak mencuci muka dan berganti pakaian. Malu 'kan kalau orang yang datang melihat penampilannya saat ini. ia tidak sempat menyisir rambut panjangnya, karena akan menghabiskan banyak waktu. Jadi ia mengikatnya asal-asalan ke belakang dan berlari menuju pintu.

"Ya! Sebentar!" teriak Sakura terus berusaha mengikat plus menggulung rambutnya yang kusut.

Ia membuka pintu, "ad-" ia terdiam beberapa detik.

"Hai." Sosok di depannya berdiri santai sambil mengangkat sebelah tangannya.

"A-APA?"

-TBC-

* : sebelah kanan karena mobil luar negeri, kemudinya di sebelah kiri. Berbeda dengan Indonesia yang di sebelah kanan.

HALOOOO~~~ ^o^

Gimana nih kabar semuanya? Apa ini termasuk update cepet/malah lama ya?

Sudah pada bosen ya? Maafkan kalau para reader sudah bosan dengan cerita ini ya... ToT aku memang payah... #pundung

Nah, apa ada yang penasaran siapa tadi yang di depan rumah Sakura? *reader: cih, tidak.* hweeee... T^T aku tahu aku masih sangat jauh dari para senpai di sini, tapi paling tidak aku mau berusaha membuat fic yang bisa dinikmati semuanya. Aku harap kalian mau memberikan kritik dan saran lewat review ya... :")

Ada yang penasaran juga sama masa lalu Sakura dan keluarga Uchiha? Kalau banyak review yang minta kisah itu diulas, aku akan menampilkannya di update selanjutnya! Kalau tidak ada, ya gak papa sih... a

Untuk Reviewer, aku berterima kasih sekali atas kritik maupun saran kalian di fic sebelumnya. Aku akan berusaha memperbaikinya.

Aku akan menjawab beberapa pertanyaan kalian dari chap 4 kemarin (maaf tidak bisa balas satu-satu, tapi aku sangat menghargai dan memperhatikan review kalian)

SasuSaku saling cinta?

Wah, kalau Sakura memang benar-benar cinta, kalau Sasuke... *lirik Sasuke* udah ada hints di setiap cerita 'kan? :D

Itachi dan Saku itu ada apa?

Ada apa-apa...*plakk* XD Pokoknya mereka pernah ketemu... :D Dan akan kujelaskan ceritanya di side story mendatang... XD *dihajar*

Karin mendadak baik? Karena Suigetsu?

Aku sengaja memang bikin jadi tobat dan baik, karena aku sendiri gak mau bikin dia antagonis banget di sini... Karena Suigetsu? Hmmm... Lihat chapter mendatang ya.. XD *plakk*

SasuSaku kok kurang romantisnya?

Wah, jangan cepat-cepat..XD Karena pada dasarnya, sifat Sasuke itu cuek-cuek ganas (?) di sini, jadi belum bisa secepat ituuuuu... 3/ lagi pula, belum ada pernyataan dia suka Saku 'kan? *dihajar*

Update cepat!

Akan aku usahakan sebisaku, agar secepat mungkin. Tapi jadwalku padat sekali bulan ini... ToT sekolah masuk sore, pulang malam... Ngetik bisanya jam delapan malam ke atas... XO Maaf ya... :'(

Jadi, begitulah yang bisa kujawab... lagi-lagi aku update di warnet saat pulang sekolah, jadi gak bisa bales satu-satu...

Special Thanks: Sindi 'Kucing Pink, lee sica, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Shafira Layla, skysunsets, sakura3uchiwa, Naomi Kanzaki, Obsinyx Virderald, Libravenow, Rievectha Herbst, Haruno Sakura Cherry Blossoms, nattually, Sichi, Eunike Yuen, Lucy Uchino, saitou ayumu Uchiha (adakah yang tertinggal atau salah nama?)

Oh ya, mampir dong di fic aku yang lainnya! Silahkan dibaca-baca! :D

Akhir kata,

Review!

Karikazuka