Yunjae fanfiction
The Rocker That Hold Me
Remake from novel TerryAnne Browning
Genre : Romance, Drama
Desclaimer : THE GOD, THEMSELVES, THEY PARENT'S, CASSIE, SM Ent and Story by TerryAnne Browning
Warning : GS!Jae, EYD Kurang Baku, Typos, DLDR, OOC
Rate : M
Chapter 1
Aku membuka mata begitu bus berhenti. Sambil meringis, aku mendorong diri untuk bangun dari sofa dan melihat sekilas keluar. Bus wisata terparkir di parkiran sebuah hotel. Bus lainnya penuh dengan para kru dan dua trailer beroda delapan belas di tarik dibelakangnya, penuh dengan segala perlengkapan panggung dan band. Aku ingin mandi dan tidur sepanjang malam yang benar-benar penuh, tapi aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan.
Berdiri, aku berjalan menuju bagian belakang bus untuk membangunkan yang lain. Junsu tengkurap di tempat tidur paling bawah. Dia memegang sebotol Jack Daniel's di tangannya, setengah botolnya telah kosong. Di atasnya Yoochun sedang mendengkur dan memeluk gitar kesayangannya. Di sisi lain Changmin sedang mengigau, bergumam tentang beberapa "pengacau" dan mendekap erat makanan ringan.
Sambil mendesah, aku mengguncang bahunya terlebih dahulu.
"Min," aku harus mendekat ke telinganya dan meneriakkan namanya. Mereka semua tukang tidur yang parah, tapi Changminlah yang terparah.
"Min! Ayolah, mari kita pergi tidur di tempat tidur yang sebenarnya."
Changmin menguap kemudian membuka matanya.
"Jae?"
Aku menyeringai ke arahnya.
"Siapa lagi?"
aku mencium pipinya dan menarik lengannya.
"Bangunlah, kita sudah sampai."
Ketika dia sudah duduk, aku pindah ke Yoochun. Yang harus aku lakukan hanyalah mengambil bassnya. Dia mengencangkan tangannya di sekitar bassnya dan bangun.
"Aku sudah bangun," gerutunya.
"Junsu." Aku mengambil botol Jack Daniel's dari tangannya dan menutupnya kembali. Punggungnya telanjang dan tato 'Always Keep The Faith' sepanjang punggungnya itu menekuk saat aku membangunkannya.
"Ugh, kau benar-benar harus mandi." Aku hampir muntah mencium bau minuman keras di napasnya saat dia berbalik dan menarikku ke arahnya.
"Bangun kau, Pemabuk."
Dia mencium pipiku sebelum dia melepaskanku dan aku berdiri, bergerak maju menuju akhir bus.
"Kalian semua segera berpakaian. Setelah aku membangunkan Yunho, aku akan mengurus masalah kamar kita... Jangan kembali tidur, ChangChang," aku memperingatkannya.
Mengetahui dia akan melakukannya.
"Aku punya seember air es untukmu jika kau melakukannya."
Dia menggumam mengutukku, tapi aku hanya menyeringai. Televisi menyala. Aku mematikannya dan menjatuhkan diri di sofa di samping Yunho. Dia tidak memakai apa - apa kecuali celana boxernya.
Aku tidak berhenti untuk mengerlingkan mataku pada dadanya yang keras dan perutnya yang kencang. Aku sudah melakukannya berulang kali sebelumnya. Malahan aku membungkam mulutnya dan mencubit hidungnya. butuh beberapa detik saat sebelum dia tersentak dan mendorongku jatuh.
"Sialan!" Dia menggerutu tapi membantuku untuk bangun dari tempat aku terjatuh.
Aku berdiri sambil tertawa dan meraih kausnya.
"Apakah tidurmu nyenyak?"
"Aku baru saja tertidur beberapa jam lalu," dia mengambil kaus yang aku berikan padanya dan memakainya.
"Banyak hal yang aku pikirkan. Lagu-lagu yang ingin keluar tapi terkunci di otakku."
"Aku bermimpi," curhatku.
Dia menegang, mengetahui bahwa mimpi-mimpiku tidak pernah menyenangkan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya sembari meraih tanganku dan menarikku ke pangkuannya.
"Mau membicarakannya?"
Menenangkanku, dia menyisir rambutku dengan jari- jarinya. Aku memejamkan mata dan mengubur wajahku di lehernya.
"Oh Tuhan, dia begitu harum! Seperti biasa, kalian semua menjagaku. Itu salah satu dari sekian banyak mimpi ketika Ibuku mencambukku."
Lengannya yang keras memelukku dengan erat. Jari-jarinya mengencang di ikatan rambutku, tapi aku tak protes.
"Aku benci wanita sialan itu," ucapnya.
"Semoga dia membusuk di neraka sana."
Aku sangat setuju. Ibuku meninggal 6 tahun yang silam akibat overdosis obat-obatan terlarang. Untuk berkata aku merasakan kasihan rasanya merupakan pernyataan yang berlebihan. Semua yang aku rasakan ketika aku menemukan tubuh dinginya terbujur kaku saat aku pulang dari sekolah hari itu hanyalah kelegaan yang sangat luar biasa. Aku 15 tahun dan aku bebas dari penyakit yaitu Ibuku.
"Aku butuh kopi," Yunho berdiri dengan aku masih dalam pelukannya.
Aku memeluknya dengan erat untuk beberapa detik kemudian melepaskannya.
"Aku pastikan kau akan mendapatkannya,"
aku berbicara dari balik bahuku saat aku melangkah menuju bagian depan bus.
"Itu bukan tugasmu untuk mendapatkannya!" Dia berteriak kepadaku.
Tapi memang iya. Sepanjang hidupku, Yunho dan lainnya telah merawatku. Bahkan ketika mereka harus meninggalkanku setelah mendapatkan tawaran kontrak sepuluh tahun silam, mereka masih memperhatikanku. Mengirimkan aku uang dan hadiah-hadiah. Memastikan seseorang mengecekku setiap hari. Mereka tengah mengadakan tour, melakukan apa yang harus dilakukan oleh para rocker, tetapi mereka tetap menelponku setiap hari. Ponsel yang mereka berikan padaku adalah satu-satunya penghubungku ke mereka. Aku bisa menelpon, mengirim pesan singkat, mengirim surel atau apapun yang aku inginkan atau butuhkan, sehingga aku bisa berbicara dengan mereka setiap hari.
Kemudian ketika Ibuku meninggal, mereka kembali, meninggalkan segalanya segera setelah aku menelpon Yunho. Mereka mengurus pemakaman. Dan disaat petugas Dinas Sosial datang mencoba membawaku, mereka membelaku dengan mengatakan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Mereka membawaku jauh dari kehidupan gelap dimana selama ini kami dibesarkan. Mereka membelikanku laptop, mengatur agar aku mengikuti kelas online sehingga aku bisa menyelesaikan pendidikanku dari balik bus.
Para priaku takkan pernah meninggalkanku lagi. Dan aku berhutang pada mereka untuk selalu merawatku. Menjemputku, memulihkanku. Menjaga kewarasanku. Memberiku makan. Memberiku pakaian. Menyayangiku. Tidak semua orang bisa melakukannya. Tapi Yunho, Changmin, Yoochun dan Junsu berbeda. Mereka mengenalku sejak aku berumur 5 tahun. Membawaku di bawah sayap-sayap gelap mereka, melindungiku meskipun mereka 10 tahun di atasku. Mereka adalah keluargaku dan kini adalah saatnya aku untuk merawat mereka.
Jadi aku mengurus semuanya. Mereka ingin kopi, aku bawakan mereka kopi. Jika Junsu ingin sekotak Scotch berumur 50 tahun yang baru, yang sangat mustahil untuk di dapat, aku pastikan dia akan mendapatkannya. Aku mengurus semuanya, dari pemesanan kamar hingga perempuan. Yeah, aku telah menjadi seorang profesional yang mampu menyingkirkan wanita-wanita manapun yang telah lewat masa keberadaannya. Dan itu biasanya terjadi di pagi hari berikutnya.
Dua jam kemudian, aku telah mengatur mereka berempat masing-masing di kamarnya. Aku menghabiskan waktu lebih lama di kamar Junsu, untuk memastikan dia mandi dan menggosok giginya.
Memberikannya sepasang pakaian bersih dan menyuruhnya tidur. Ketika aku menuju kamarku, aku merasa melayang. Aku mandi dengan cepat dan hampir terlelap sebelum kepalaku menyentuh bantal.
"Jae!"
Changmin menggedor pintu kamarku membangunkanku beberapa jam kemudian. Aku menatap jam, melihat bahwa sudah saatnya menuju Civic Center untuk mempersiapkan konser malam ini dan bangun dari tempat tidur. Aku membuka pintu untuk Changmin supaya dia tidak merubuhkannya. Dia berjalan masuk saat aku mengganti baju tidurku.
"Kau baik- baik saja, Jae?" tanyanya bahkan tidak pusing untuk mengalihkan pandangannya saat aku memakai bra dan memasang kaus dari atas kepalaku.
"Kau tidak pernah lewat tertidur sebelumnya."
Kenyataannya aku merasa tidak enak badan untuk akhir-akhir ini.
Tapi, aku tak berniat untuk memberitahukannya. Dia akan memberitahu ke yang lain dan mereka akan mengerumuniku, memaksaku untuk pergi ke dokter. Aku benci dokter!
"Baru saja mengalami malam yang sulit kemarin."Elakku.
"Mimpi buruk."
Aku menarik celana dalam baru dan kemudian memasang celana jins ketat. Sepatu bot selutut dengan hak 3 inci dan aku siap. Aku mengikat rambut berantakanku menjadi ekor kuda. Tidak perlu berdandan, lalu berputar dengan dia masih menatapku.
"Aku baik-baik saja, Minnie." Aku memeluknya erat dan berjinjit untuk mencium pipinya.
"Tenang." Aku menarik satu tanganku ke atas dan mengusap kepalanya. Sayang sekali dia sangat tinggi. Aku jadi kesulitan saat mengusap kepalanya. Tapi ia merasa seksi dengan tinggi badannya. Dan semua orang sangat iri dengan ukuran dan bentuk tubuhnya.
"Aku pikir kita perlu sebuah liburan," ujarnya saat mengikutikukeluar dari kamar.
"Mungkin kita harus kembali ke rumah untuk beberapa saat."
Aku meliriknya melalui bahuku saat aku memencet tombol lift.
"Dan dimana tepatnya rumah itu? Kita telah tinggal di bus selama 6 tahun ini."
"Yunho berbicara tentang membeli rumah. Tapi kita tidak bisa memutuskan dimana kita akan menetap. Yoochun menyarankan di Seoul, Junsu ingin ke Jeju." Dia mengangkat bahunya sambil melangkah masuk bersamaku ke dalam lift.
"Bagaimana menurutmu?"
Sejujurnya, aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Aku akan mengikuti kemanapun mereka pergi asalkan kami tetap bersama. Aku tidak perduli. Tapi aku tidak menyangka mereka akan secepat ini menetap, bahkan di saat kita telah lelah untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain.
"Aku tak pernah memikirkannya," ucapku padanya.
"Well, kau harus memikirkannya. Kami ingin tahu dimana kau ingin tinggal dan menetap. Kau tahu kemanapun kau pergi, kami akan mengikutimu."
Kata-katanya menghangatkan hatiku dan aku memeluknya erat. Dia mencium puncak kepalaku dan kami keluar dari lift di lantai dasar.
Yunho, Junsu, dan Yoochun sudah menunggu kami. Mereka semua memberiku tatapan khwatir, tapi aku hanya melewati mereka menuju ke limo yang sudah menunggu di luar.
Menyiapkan peralatan dan melakukan cek suara adalah hal-hal yang tidak mampu aku lakukan. Jadi, aku memilih untuk berurusan dengan urusan dibelakang panggung. Aku memastikan buffet makan malam telah tersaji rapi sehingga para priaku dapat makan sebelum mereka tampil malam ini. Kemudian aku mengecek daftarku tentang apa yang harus dilakukan untuk menyiapkan diri menghadapi grup fans belakang panggung.
Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, yang semuanya berharap untuk dapat berakhir di ranjang setidaknya salah satu anggota band DBSK. Aku membenci satu persatu dari mereka, namun aku hanya memberi tatapan dingin meremehkan ke arah mereka sebagai gantinya. Mereka juga membenciku, karena siapapun yang menjadi penggemar DBSK pasti tahu bahwa hanya aku perempuan yang berarti bagi semua anggota band.
Aku memastikan fans setia belakang panggung tetap menempati area yang disediakan untuk mereka dimana para keamanan mengawasi mereka laksana elang- untuk menghindari salah satunya masuk ke ruang ganti untuk sebuah 'seks kilat' atau lebih parahnya untuk mencari ketenaran karena telah berhasil membunuh seorang rocker terkenal- sementara aku memastikan para priaku sudah diurus dengan baik. Aku lega ketika melihat mereka makan di kamar gantinya. Begitu pula dengan Junsu, walau dia tetap membuatku menggelengkan kepalaku saat aku melihat dia lebih memilih minum Jack Daniels dibanding soda ataupun air putih.
Aku mengambil botol itu dari tangannya dan menggantinya dengan sebotol air dingin dan berbalik untuk melihat apakah yang lain membutuhkan sesuatu. Ketika mereka telah selesai makan, aku membuang piring mereka ke tempat sampah dan memastikan bahwa mereka telah memegang sebotol Air ataupun Gatorade. Mereka butuh cairan karena sebuah konser selalu menghabiskanya. Terutama Yunho yang bernyanyi sambil berlari di atas panggung.
Aku menatap mereka satu persatu, menikmati ketampanan sejati mereka masing-masing. Junsu dan Yoochun dengan rambut gondrong gelapnya dan aura menawan yang dimiliki oleh dua bersaudara. Kedua saudara ini begitu tampan dengan struktur wajah yang tegas dan tubuh langsing berotot yang ditutupi tato. Changmin dengan tubuh tinggi menjulang dan mata besar coklatnya yang bisa berubah sesuai emosinya. Dia tampan, dengan kelebihan yang dimilikinya termasuk kelebihan tinggi badan, membuat orang terkagum-kagum akan dirinya yang entah bagaimana dapat memainkan drum dengan begitu lancar dan menawan.
Untuk beberapa detik lebih lama aku membiarkan mataku menatap Yunho. Dengan suaranya yang mampu mengacaukan wanita luar dalam dan sepasang mata tajam bak elangnya yang sebagian tersembunyi di balik tirai lembut bulu mata hitam dan tebal, tidak banyak wanita yang mampu untuk mengatakan bahwa seorang Jung Yunho tidak mempengaruhi gairah mereka bahkan hanya secuil sekalipun. Tubuh langsing berotot dengan wajah yang membuat para Dewa menangisi hari kelahirannya dan tubuh setinggi dengan para saudara band yang lainnya, dia telah membuat seluruh penggemar yang mengikuti DBSK karena cinta, nafsu maupun iri kepadanya.
"Jadi yang mana malam ini? Pirang, coklat atau rambut hitam?" aku bertanya sambil menaikkan alisku dan senyuman tipis dibibirku.
Yoochun menyeringai ke arahku dari sofa tempat dia berbaring.
"Aku akan mengambil salah satu dari masing-masing mereka."
Aku memutar mataku padanya. Dari mereka berempat, Yoochun adalah playboy terbesar. Membawa satu persatu dari tiap tipe wanita menurutnya "ringan".
"Hmm...ada banyak pilihan sih, tapi seperti biasa pasti yang pirang yang lebih banyak. Tolong berhati-hatilah."
Aku menatap Junsu penuh arti. "Kau sudah bersiap, kan?"
"Joongie!" nampak sedikit rona merah dipipinya. Aku terus menatapnya sambil mengangkat alis. Akhirnya dia membuang muka.
"Aku punya kondom," gumamnya.
Yang lain hanya tertawa mengejek. Aku mengabaikan mereka ketika berbalik ke pintu.
"Kalian punya wawancara jam 9 pagi besok. Aku telah mengatur agar kita dapat menggunakan salah satu ruang pertemuan sesampainya kita di hotel. Jadi, kumohon bawa badanmu keluar dari kamarmu sebelum aku menggedor pintu kamar kalian."
Aku tahu aku harus memperingatkannya sekarang sebab aku takkan bisa membayangkan akan dapat bertemu mereka lagi setelah konser hingga pagi menjelang.
"Yoochun, jangan buat aku memandikanmu di pagi hari. Secepatnya bersihkan badanmu dari aroma pelacur dan minuman."
"Oh Tuhan, Jaejoong!" Dia berteriak kepadaku. "Kenapa kau banyak memarahiku dan Junsu hari ini?"
Aku berhenti sejenak di pintu dan berbalik untuk melotot padanya.
"Tolong lakukan saja, Yoochun."
Dia menggerutu dan aku merasa sedikit buruk karena memperlakukannya begitu kejam. Tapi dia seorang pria dewasa dan lebih sering daripada tidak aku memandikannya karena dia terlalu mabuk atau terlalu melayang untuk melakukannya sendiri.
Konser hampir selesai ketika aku merasakan ponselku bergetar. Aku mengambilnya dari kantong belakang celanaku dan melihat nama manajer DBSK. Dia menyukaiku karena aku melakukan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Sementara dia enak-enakan tidur di rumahnya di ranjang besarnya yang nyaman, aku disini bekerja keras untuk para priaku.
"Apa yang kau inginkan?" Bentakku sambil mendekatkan ponsel ke telingaku, berjalan menjauh dari panggung sehingga aku bisa lebih jelas mendengarkannya daripada suara band.
Kim Song Nam tertawa, membuatku ingin menampar wajah tampannya.
"Siapa yang mengencingi cherrio-mu?"
"Aku sedang kesal," sungutku padanya, tidak yakin mengapa aku jadi pemarah sore ini. Tapi dia seharusnya sudah terbiasa dengan sifatku ini. Aku benci dia !
"Apa yang kau inginkan?"
"Seperti biasa...Dominasi dunia...Miliaran Dollar. Dan sebuah band yang membuatku terlihat bagus. Aku punya beberapa dari hal yang terakhir aku sebutkan tadi." Aku memutar mataku.
DBSK adalah band paling keren yang ditanganinya. Mereka lebih dari membuatnya tampak bagus. Mereka membuat orang-orang berpikir betapa jeniusnya dia "menemukan" mereka.
"Yunho mengatakan bahwa dia ingin mengambil waktu liburan musim panas, jadi aku hanya ingin memberitahumu bahwa Tur "Dong Bang Shin Ki World Tour" telah aku pindahkan ke bulan September."Ini mengejutkanku.
Yunho tidak pernah menyebut apapun tentang liburan musim panas. Kenapa dia tidak memberitahuku?. Aku menatap tajam ke belakangku, berharap aku bisa mendapatkan jawaban dari Yunho sekarang. Tapi sepertinya hal itu harus menunggu. Semenjak tur musim panas dipindahkan, kami hanya memiliki waktu beberapa minggu ke depan untuk menyelesaikan tur di Taiwan.
"Oke," jawabku pada Song Nam.
"Kirimkan padaku rincian jadwal barunya. Aku akan memastikan semuanya diurus dengan baik."
"Aku tahu kau bisa. Karena itu aku sangat menyayangimu, Tuan Putri. Kau membuat hidupku lebih mudah."
Aku menggertakan gigi.
"Jangan panggil aku Tuan Putri!", aku berteriak padanya dan mengakhiri pembicaraan. Aku sangat tidak menyukai si brengsek itu. Dan aku tidak suka dipanggil Tuan Putri. Si brengsek itu tahu, tapi dia selalu melakukannya setiap kali ada kesempatan.
Suara Yunho di panggung menyadarkanku dari kebencianku kepada Song Nam dan aku mengalihkan perhatianku kembali kepada para priaku.
Suara Yunho sungguh membuat populasi para wanita mabuk kepayang. Ketika salah satu speaker berdentum keras tak sengaja di dekatku, aku segera tersentak sadar dari lamunan penuh hasratku dan segera mencari kesibukan. Aku tidak bisa membiarkan orang lain mengetahui bagaimana Yunho mempengaruhiku. Aku tahu bahwa dia tidak merasakan hal yang sama. Untuknya dan para pria yang lain aku adalah adik kecil perempuan mereka. Mereka akan menyerahkan nyawanya untukku, sama seperti yang akan kulakukan untuk mereka.
Perpaduan antara parau dengan serak dan rayuan merupakan belaian pada tempat kegelapan diantara kedua kaki wanita. Aku jauh daripada kebal pada suara itu dan malah menemukan diriku membiarkan hasratku padanya terlihat saat aku berdiri disana menonton pertunjukan band mereka.
Dan bila pada Yunho aku tidak lain hanyalah gadis kecil yang telah dia rawat sepanjang 17 tahun masa hidupnya. Aku mengabaikan perasaanku karena aku tahu bahwa bukan aku yang diinginkannya. Kebahagiaannya lebih penting daripada kebahagianku. Dengan bibir gemetar, aku meyakinkan diriku untuk tidak mendengarkannya bernyanyi lagi di sisa malam ini.
Aku tidak pernah menjadi penyuka muntah. Aku telah membersihkan lebih banyak muntahan orang lain daripada diriku sendiri selama bertahun-tahun. Sebagian besar muntahan ibuku, dalam beberapa tahun terakhir ini para priaku – terutama Junsu. Tapi aku sendiri? Aku hanya melakukannya beberapa kali seumur hidupku.
Pagi ini adalah salah satunya.
Aku tahu bahwa aku takkan bisa menahannya secepat mungkin saat aku turun dari tempat tidur. Perutku memberiku peringatan dua detik sebelum aku mencoba untuk melompat dari tempat tidur. Aku melakukannya di ujung tempat tidur sebelum aku membersihkan semua sedikit makanan yang aku paksakan untuk ditelan sehari sebelumnya. Baunya sangat tidak mengenakan daripada melihatnya. Secepatnya ketika aku bisa sedikit menguasai refleks mualku aku berlari ke dalam toilet sehingga aku bisa menyelesaikannya. Rambutku menghalangi pandanganku dan aku memuntahi rambutku juga sebelum aku bisa menyingkirkannya dari wajahku. Baunya membuatku mual dan aku muntah sampai aku kehabisan nafas. Air mata bercucuran di wajahku, alisku berkeringat dan perutku terasa bergulung.
Aku berdoa kepada setiap Tuhan yang kuketahui dan memohon ampun. Tidak ada yang terjadi. Bahkan aku harus memaksa diriku untuk berdiri sendiri pada kakiku yang goyah dan memegang mulutku dibawah kran air sampai aku bisa menghilangkan sebagian besar rasa pahit di dalam mulutku. Aku ingin mandi tetapi pertama aku harus membersihkan kekacauan di kamar tidur sebelum aku melakukannya.
Ketika akhirnya aku mandi aku merasa lebih baik setelahnya. Tetapi aku terlambat sehingga tetap membiarkan rambutku basah dan tergesa-gesa berpakaian sebelum membangunkan para priaku.
Aku tidak terkejut ketika menemukan Yoochun masih diselimuti gadis-gadis ketika aku membuka pintu kamar hotelnya. Aroma seks didalam ruangan sangat kental membuat perutku protes, tetapi aku menelan rasa pahit di mulutku dan menyeretnya keluar dari bawah ketiga gadis. Tanganku mengepal di rambutnya dan aku menyentakknya sampai ia berdiri.
"Cepat mandi!" perintahku, sedang tidak ingin berurusan dengan para gadis nakal setelah mengalami pagi seperti tadi.
"Aku memberikan ceramah pada adikmu tentang hal ini, tetapi ternyata kau yang harus aku urus pagi ini."
"Joongie!" Yoochun protes ketika aku memaksanya berjalan pancuran air berdiri dan memutar air dingin dengan kekuatan penuh.
"Sialan!"
"Turun ke lantai bawah dalam sepuluh menit!" Aku berteriak padanya sebelum membanting pintu kamar mandi di belakangku.
Para pelacur di tempat tidur terbangun dan aku membelalak jijik pada mereka.
"Ambil baju kalian dan keluar. Kalian mempunyai waktu dua menit sebelum keamanan melemparkanmu keluar, berpakaian atau telanjang. Aku tidak perduli."
Changmin masih tidur ketika aku berjalan ke dalam kamarnya. Aroma seks masih tertinggal di dalam kamar tetapi dia sendirian di tempat tidur. Aku bahkan tidak mencoba membangunkannya dengan lembut. Aku mengisi air ke dalam gelas dan membuangnya ke kepalanya.
"Aku bangun. Aku bangun." Dia megap-megap.
"Bagus." Aku membentak lalu meninggalkannya untuk bersiap.
.
Aku terkejut menemukan Nik sudah bangun. Ketika aku meletakkan kunciku di pintunya ternyata sudah terbuka. Dia sudah berpakaian. Rambutnya tebal sudah tertata. Seperti biasa melihatnya aku merasakan sakit di tempat yang tidak seharusnya sakit. Dahinya berkerut khawatir saat melihatku.
"Emmie. Merasa lebih baik, baby girl?"
Berlari kesana kemari membuatku pusing dan perutku masih protes. Tetapi aku tidak ingin berdebat dengannya. Jika dia tahu aku sakit dia akan memaksaku untuk pergi ke dokter. Tidak akan terjadi.
"Terimakasih sudah bangun." Gumamku.
"Em..." Dia memanggil pelan ketika aku meninggalkannya.
Aku mengabaikannya dan melangkah ke lift dan pergi ke lantai atas. Kamar Junsu berbau keringat, minuman keras dan seks. Tapi untungnya gadis atau beberapa gadis mengingat jumlah bungkus kondom di atas lantai di samping tempat tidur lenyap. Dia sepertinya sudah bangun ketika aku masuk ke dalam. Tentu saja karena kepalanya ada di dalam toilet. Suara muntahannya membuat reflek muntahku bereaksi dan aku muntah ke dalam wastafel. Cairan pahit hijau adalah semua yang dapat kuhasilkan dan aku memutar keranair sehingga aku dapat menelan beberapa tegukan air. Setidaknya sekarang aku mempunyai sesuatu untuk di keluarkan.
Tangan Junsu yang berkeringat menyentuh punggungku.
"Jae?"
Suaranya parau memanggil namaku dan aku melihat sekilas kepadanya, menyeka keringat dari atas bibirku.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku memberinya senyum lemah.
"Sepertinya kita berdua mengalami pagi yang buruk." Gumamku.
Dia mengerang saat berdiri. Pantatnya telanjang tapi tak ada satupun dari kami perduli. Aku telah melihat setiap inci dari tubuh para priaku. Tidak ada yang memalukan dari bagian tubuh kami.… Tidak
ada satupun yang mengedipkan mata ketika kami melihat satu sama lain telanjang. Oke mungkin aku mengedipkan mata sekali atau dua ketika aku melihat Yunho telanjang, tapi aku tidak akan membiarkan mereka tahu.
"Kau tidak pernah sakit." Aku mengangkat bahu.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatikan. Pergi mandi, oke?" Dia mengangguk dan aku berbalik pergi.
"Sikat gigimu." Aku mengingatkannya.
Sepuluh menit kemudian mereka telah duduk di sofa panjang di ruang pertemuan. Hidangan makanan pagi telah disiapkan. Aku mencoba bernafas melalui mulutku untuk mengatasi aroma yang tidak mengenakan. Biasanya aku akan menyiapkan sepiring makanan dan secangkir kopi, tetapi pagi ini aku rasa aku tidak bisa berurusan dengan itu dan tidak muntah. Untungnya tidak ada satupun dari mereka perduli bahwa aku tidak menyiapkan segala kebutuhan mereka.
Wartawan dari majalah Rock Taiwan telah mulai mengajukan pertanyaan pada mereka. Kurus dengan kacamata tebal dan suara sengau membuatku saraf bawahku merinding mendengar setiap perkataan yang diucapkan dari mulutnya, aku heran bagaimana laki- laki seperti ini bisa menjadi wartawan di dunia musik rock. Mungkin mempunyai seseorang ayah orang penting. Aku tidak yakin dan aku tidak perduli.
Dia seseorang yang ingin mengetahui apa yang juga ingin diketahui semua fans DBSK. Bagaimana mereka bertemu? Apa makna signifikan dari nama band? Apa yang mereka lakukan saat musim panas? Kapan mereka akan membuat album baru?
Seperti yang selalu mereka lakukan mereka tidak pernah menjawab dua pertanyaan pertama dari orang tersebut-tidak ada yang tahu dari mana mereka berasal atau bagaimana kehidupan mereka sebelum terkenal; kebanyakan merupakan bentuk perlindungan mereka padaku karena gaya hidup ibuku yang tidak menyenangkan walaupun kehidupan masa kecil mereka juga tidak begitu bahagia. Tetapi mereka selalu menceritakan secara detil tentang musim panas dan lagu-lagu baru yang Yunho sedang kerjakan untuk album mereka selanjutnya. Sejam kemudian lelaki itu berdiri dan pergi. Setelah berjabat tangan dengan semua orang dia berbalik padaku.
"Jadi bagaimana rasanya kamu bekerja untuk DBSK?"
"Jaejoong bukan pembantu." Changmin memberitahu pria itu, yang mana kami semua sudah tahu bahwa pria itu sudah mengetahuinya.
"Wawancaramu telah selesai." Nada peringatan tegas dan jelas dari suara sang drumer dan membuat wartawan itu segera kabur. Changmin bisa mejadi si 'kepala panas', mudah marah dalam satu waktu dan cepat melayangkan sebuah tinju. Aku harus menjamin dia untuk keluar beberapa kali dari penjara karena ia terlibat perkelahian.
Aku menunggu beberapa saat untuk memastikan pria itu pergi sebelum aku berhadapan dengan mereka.
"Aku ingin meminta maaf karena bersikap mengesalkan kemarin dan pagi ini." Aku mengatakan pada mereka, penuh penyesalan. Aku tidak sering bersikap mengesalkan pada para priaku. Sejujurnya aku bisa menjadi seorang ratu jahat jika aku mau, tetapi bukan pada mereka.
"Duduk, Jae." Changmin memerintahkan padaku. Ketika aku hanya berdiri, dia menarik tanganku dan mendorongku ke sofa diantara dia dan Yunho.
"Kita perlu bicara."
Aku menggigit bibirku, takut jika mereka membuatku pergi ke dokter. Atau berteriak padaku. Dari kedua pilihan aku pikir aku memilih diteriaki, tapi keduanya tetap akan membuatku menangis.
Tangan Yunho membungkus disekitar pundakku, jarinya bermain di ujung rambutku yang masih basah. Ini menenangkan dan hanya dengan berada didekatnya membuatku aman dan dicintai.
"Joongie,kami bisa melihat jika kau mulai lelah. Ini tidak apa-apa. Kita semua seperti itu. Itu sebabnya kami memutuskan berlibur di musim panas."
"Aku sudah tahu bahwa kau merencanakan liburan musim panas ini." Aku memutar mataku padanya.
"Manager menelponku kemarin malam." Aku mengatakan padanya ketika ia terlihat bingung. "Kita akan tur bersama Jepang dan tur Otherworld dimulai bulan September."
"Manager sialan." Changmin bergumam.
"Kami ingin mengejutkanmu."
"Ngomong-ngomong...Kami berfikir untung menyewa sebuah rumah di suatu tempat. Tetapi kami pikir kau yang ingin memilihnya." Yunho tersenyum padaku, senyumnya selalu membuatku hatiku nyeri untuk sesuatu yang tidak mungkin aku miliki.
"Dimanapun di dunia ini yang kamu inginkan, Jae. Pilih sebuah tempat, temukan sebuah rumah untuk kita dan dimana kami bisa menghabiskan musim panas kita."
Daguku bergetar. Aku lega mereka tidak berteriak, bahwa aku tidak dikhianati Junsu mengadukan keadaanku tadi pada yang lain dan mereka tidak memaksaku untuk pergi ke dokter. Jadi kenapa tiba-tiba aku terisak-isak?
Satu konser lagi dan kemudian kembali ke jalanan.
Apakah kalian tahu seberapa sulitnya menyembunyikan muntah ketika kamu berada dalam bus wisata? Itu hampir tidak mungkin. Tetapi entah bagaimana aku bisa melakukannya. Untuk tiga minggu berikutnya aku merahasiakannya dari mereka. Dengan alarm bangun pagi yang aku dapatkan setiap pagi hari dimana aku tergesa-gesa untuk mencari kamar mandi, aku tidak pernah begitu senang para pria itu bisa tidur dengan nyenyak di dalam hidupku.
Setelah muntah-muntah setiap pagi aku biasanya bisa melalui sisa hari tanpa mengulanginya lagi. Walaupun perutku masih mual sepanjang hari dan aku kehilangan berat badan karena aku tidak dapat memaksa diriku sendiri untuk makan. Hal ini mulai disadari mereka, bahkan Junsu dalam keadaan hampir selalu mabuknya. Mereka mulai melihatku lebih dekat dan aku tahu bahwa mereka akan mulai mengeroyokku.
Dan sesungguhnya aku lebih khawatir apa yang salah dengan diriku daripada pergi ke dokter sekarang. Tetapi aku menundanya selama mungkin.
Aku menemukan rumah untuk kami secara online. Ini sempurna. Pantai pribadi, tak seorangpun dalam satu mil dapat mengganggu kami. Dan jika para lelaki merasa gelisah mereka hanya perlu mengemudi empat puluh lima menit untuk menemukan sebuah klub atau bar. Harga untuk sebuah rumah sewa di musim panas membuat perutku mengepal. Bahkan setelah bertahun-tahun dan gaya hidup yang kami jalani aku merasa ngeri untuk menghabiskan begitu banyak uang. Tetapi hal ini bahkan tidak akan membuat lekukan kecil di seluruh dompet kami sekarang. Bahkan dompetku sendiri. Song Nam membayarku dengan bagus untuk mengurus para priaku, sesuatu yang aku akan lakukan secara gratis. Tetapi Yunho dan Changmin menyuruhnya untuk memasukkan aku di daftar gajinya ketika aku berusia delapan belas tahun. Aku belum mempunyai keperluan untuk menyentuh uang yang aku peroleh. Jika ada sesuatu yang mereka pikir aku inginkan mereka hanya perlu membelinya untukku. Jika aku memerlukan sesuatu mereka menyerahkan kartu kredit mereka ke tanganku dan memastikan aku menggunakannya.
Pada saat semua rincian telah selesai diurus hanya ada beberapa hari yang tersisa hingga akhir tur. Satu pemberhentian, dua kali konser lagi dan kemudian kami akan naik pesawat. Aku sangat bersemangat. Kami tidak pernah liburan musim panas. Aku ingin tidur selama tiga bulan! Memikirkan itu sendiri membuat aku mendesah.
"Aku rasa kau harus pergi ke dokter."
Kepalaku tersentak saat mendengar suara Yunho. Dia dan Changmin telah duduk di bagian belakang bis denganku melihat TV untuk sejam terakhir. Aku merasa lebih baik setelah pagi penuh muntah yang menyenangkan.
"Tidak."
Dia duduk tepat disampingku jadi aku tidak punya waktu untuk pindah ketika dia meraih dan menarikku di atas pangkuannya.
"Ya, Joongie. Kamu hanya tinggal tulang sekarang. Kamu tidak makan. Dan aku mendengarmu pagi ini di kamar mandi. Kau tidur sepanjang waktu, dan suasana hatimu sering berubah-ubah menjadi cerewet. Ada yang salah."
"Aku tidak ingin pergi ke dokter." Oke, mungkin aku akan pergi. Aku takut jika ada sesuatu yang salah denganku, seperti ulcer atau sesuatu. Aku tidak pernah merasa begitu sakit dalam hidupku. Membutuhkan semua tenaga yang aku miliki untuk tidak memuntahkan lagi air yang aku telan akhir-akhir ini. Tetapi aku masih takut dokter.
"Kami akan pergi denganmu, Jae." Janji Changmin, memutar-mutar stick drum di jarinya dengan ahli.
"Kami tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."
Aku menatapnya lebih tajam. Dia benar-benar mengkhawatirkanku. Aku dapat melihat dari cara dia menatap padaku bahwa dia telah sedikit takut juga. Aku tidak bisa menahannya. Jadi aku mengalah.
"Okey." Aku berbisik.
"Aku akan menemui dokter ketika kita sampai di rumah pantai."
Mereka berdua tampak sedikit santai.
"Apapun itu, kita akan melewati itu."
Saat itu aku menyadari bahwa Changmin berfikir bahwa ada sesuatu yang buruk denganku. Aku turun dari pangkuan Yunho dan naik ke pangkuan sang drum. Tangannya mengepal di sekitar tubuhku dan aku membiarkannya memelukku. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun ketika kami melewati malam, kedekatanku tampaknya menenangkan sesuatu dalam pikiran pria Tinggi ini.
Aku bangun dengan tubuh hangat menyelimutiku. Ini sudah biasa bagiku untuk tidur di tempat tidur yang sama dengan salah satu dari mereka. Ketika kau hidup di dalam bis kau tidur dimanapun kau bisa. Aku tahu siapa itu dengan cara dia bernapas di belakang leherku. Changmin si Napas Bau. Menguap aku bergerak hingga aku duduk. Changmin bahkan tidak bergerak. Tangannya jatuh kembali di sofa di sampingnya dan aku berdiri, mencoba untuk merenggangkan beberapa kekakuan dari otot-ototku yang lelah.
Ketika aku melirik ke arah temanku hatiku sedikit meleleh. Dia, seperti para priaku lainnya, mencintaiku lebih dari apapun di dunia ini. Dan aku mencintainya sama banyaknya. Tersenyum aku mengambil selimut dari kursi di seberang dinding dan menutupkannya padanya sebelum membungkuk untuk menciumnya singkat di alisnya.
Bis masih tetap bergerak dan aku tahu aku harus tidur. Tidak akan ada waktu untuk tidur ketika kami sampai di Stage. Tidak akan ada hal lain kecuali bergerak cepat ketika kami telah berhenti. Perutku untungnya bekerjasama denganku dan aku tidak harus berjuang dengan keinginan untuk muntah. Jadi aku masuk melewati ruang tempat tidur, dimana ada dua set tempat tidur yang saling berlawanan di tepi setiap dinding.
Yoochun bergumam dalam tidurnya, Gibson favoritnya dicengkram dalam pelukannya seperti anak kecil dengan boneka hewannya. Di tempat tidur bawah adikknya sudah tidur. Aku memastikan bahwa dia tidak memiliki botol minuman keras yang terbuka tutupnya dan kemudian menarik selimut untuk menutupi punggung telanjang Junsu. Aku paling mengkhawatirkan Junsu. Tidak ada seorangpun yang pernah membicarakan tentang alasannya membutuhkan minuman untuk melupakan masa lalu. Kami semua tahu setan apa dalam dirinya. Dan kami semua tahu sampai dia telah siap tidak ada yang bisa kamu lakukan selain melihatnya. Dua kali kami membujuknya untuk ke rehabilitasi berakhir dengan tidak baik.
Aku menemukan Yunho tertidur di tempat biasa aku tidur di bagian depan bis. Dia terbaring tengkurap dengan memeluk erat bantalku dan selimut kesukaanku di pinggangnya. Kenapa dia tidur disini?
Dia benci bagian depan bis karena jendela-jendelanya tidak berwarna dan membiarkan masuk cahaya matahari terlalu banyak saat siang hari. Tetapi disinilah dia, air liur di seluruh bantalku dan memonopoli sofaku.
Sambil mendesah aku mendorong pundaknya, membuatnya berputar sehingga aku bisa naik di sampingnya. Dia bahkan tidak protes saat aku meringkuk dekat dengan dadanya yang telanjang dan berbantalkan kepalaku di dadanya. Aku menghirup aroma Yunho yang bersih, dan benar-benar unik dan aku memejamkan mata. Ini hamper mendekati surga yang hanya bisa aku dapatkan.
Bibir lembut yang hangat menyapu dahiku dan tangannya yang kuat melingkar di sekitarku menarikku lebih dekat lagi ke dadanya.
"Kau tidak tahu betapa bahagianya aku karenamu saat ini." Gumamnya.
Tetapi aku sudah setengah tertidur, aman dalam pelukan pria yang memiliki tubuh dan jiwaku.
Terimakasih yang sudah review dan mendukung ff ini… dan maaf gak bisa bales review yang udah masuk..
mohon review ya readerdeul..
kayaknya ff ini bakal jadi ff singkat, sampai chapter 3 atau 4 saja.
Semoga banyak yang suka dan jangan bosen-bosen untuk review.
Gomawo..
