(side story)
Miss Pesimis?
Naruto Masashi Kishimoto
Miss Pesimis © Karikazuka
(Side Story)
Happy reading!
.
.
.
9 tahun yang lalu
"Kaa-chan, aku mau mainan itu!" rengeng bocah laki-laki kecil sambil menggeret ibunya masuk ke dalam toko mainan.
"Tidak Sasuke. Uang kita akan dibuat membeli buku kakakmu dan makan malam... Lain kali saja ya?" tolak Mikoto lembut pada Sasuke 6 tahun.
Sasuke menggeleng keras dan makin menarik ibunya mendekati mainan yang diinginkannya, sebuah boneka ayam yang jika diputar maka akan bergerak dan mengeluarkan suara anak ayam. Ia merengek, "Sasu mohon Kaa-chan! Kaa-chan tahu 'kan kalau Sasu tidak punya mainan di rumah?"
Mikoto menggeleng tegas dan mensejajari tinggi anaknya, "tidak boleh. Kalau kau beli mainan ini, nanti kita tidak bisa membeli buku kakakmu dan membeli bahan makanan! Ayo, kita keluar. Kita sudah ditunggu Tou-san dan kakakmu di rumah."
Sasuke kecil tidak terima dan mulai menangis. Para pegawai toko dan pengunjung toko mainan melihati mereka berdua. Mikoto kebingungan dan panik. Ia ingin membelikan anak bungsunya mainan, tapi saat ini keuangan keluarga mereka sedang kurang baik. Dan uang ini, adalah uang terakhir mereka saat ini.
"Sudah Sasuke, jangan menangis..." bujuk Mikoto sambil menggandeng anaknya.
"Hiks... Pokoknya Sasu ingin mainan itu! Sasuke tidak mau pulang kalau tidak dibelikan!" gertak bocah kecil itu seraya memegang boneka ayam berwarna kuning.
Mikoto menghela napas, kenapa Sasuke tidak mau mengerti? Padahal uang mereka tidak terlalu banyak untuk dibelikan barang mewah seperti itu. –anggap saja tuh boneka lagi mahal-mahalnya- ia berjongkok dan mengelus puncak kepala anaknya, "ya sudah. Kita beli mainan ini. Tapi kita ambil uangnya di Tou-san dulu ya?"
Sasuke menggeleng, "tidak mau! Nanti kalau kita pergi, mainan ini bisa laku Kaa-chan! Sasu mau tunggu di sini!"
"Jangan Sasuke! Kalau kau tetap disini, kau bisa diculik orang! Mainannya pasti tidak akan diambil kok. Tenang saja ya..." Mikoto mengelus bahu Sasuke kecil.
"Benar Kaa-chan? tidak akan diambil orang lain?" tanya Sasuke ragu. Wajah polosnya menyiratkan keraguan.
"Ya. Kita pulang dulu ya," bujuk Mikoto dan menggandeng Sasuke keluar dari toko.
*Miss Pesimis Side Story*
"Jadi begitu ya?"
Mikoto mengangguk, "maaf ya Itachi, Kaa-san belum bisa membelikan buku tulis untukmu."
Itachi menggeleng, "tidak apa-apa Kaa-san, aku akan memakai buku lamanya dengan hemat. Kaa-san tidak apa-apa kalau mau membelikan boneka untuk Sasuke."
"Kau memang anak yang baik Itachi," kata Mikoto seraya memeluk anak bungsunya. Wanita itu sangat merasa beruntung memiliki anak sepengertian Itachi.
Fugaku yang ikut mendengarkan sejak tadi membuka suara, "kalau kau beli mainan tidak berguna itu untuk Sasuke, kita tidak akan bisa makan." Nampaknya ia protes akan keputusan istrinya tentang pengorbanan.
"Tapi, Sasuke sangat menginginkannya. Aku tidak tega melihatnya menangis..." katanya sambil menoleh pada Sasuke kecil yang sedang tertidur lelap. Wajah bocah itu sedang dama-damainya dalam tidur lelap.
"Baiklah. Aku juga akan berusaha mencari kerja sambilan agar kita bisa makan," ucap Fugaku mengalah akan perdebatan saat ini, ia turut mengelus kepala Sasuke dan beralih pada Itachi, "Kau tidak apa-apa, kan?"
Itachi sekali lagi menggeleng, "tidak apa. Sekarang aku akan membelikan mainan itu di toko bersama dengan Kaa-san."
"Kita jalan bersama saja Itachi, kebetulan Tou-san-mu akan mencari kerja juga," kata Mikoto, ia memakai jaket kusamnya dan memakaikan syal ke Itachi.
"Hn."
.
.
.
Akhirnya Itachi bersama Mikoto pergi ke toko mainan tadi untuk membeli mainan yang diinginkan Sasuke, sementara Fugaku berpisah di persimpangan jalan untuk mencari kerja sambilan.
Keduanya memasuki pintu kaca toko, kemudian beranjak ke rak khusus mainan hewan. Didapati mereka boneka tersebut hanya tinggal sebuah.
"Selamat datang!" sambut pegawai toko ramah. "Ada mainan yang diinginkan?"
"Ya. aku ingin-" belum sempat Mikoto menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya didorong seseorang dari belakang.
"Aku mau ambil yang ini!" teriak anak tersebut sambil meraih boneka ayam yang hendak dibeli keluarga Uchiha. Mata ruby miliknya berbinar semangat dan segera memeluk boneka itu dalam dekapannya
"Hei, kami yang duluan yang akan membelinya!" protes Itachi saat bocah kecil itu hendak membayar di kasir. Ia tidak terima diterobos begitu saja dan sekarang boneka itu tidak bisa ia dapatkan untuk adiknya.
"Cih, aku yang mengambilnya dulu!" decihnya meremehkan saat melihat Itachi dan Mikoto dengan pakaian lusuh. Ia tersenyum mengejek pada Itachi.
"Kau..." Itachi hendak maju menerjang bocah yang umurnya sekitar adiknya itu, tapi Mikoto menahan lengan anaknya.
"Sudah Itachi," kata Mikoto pelan. Ia benar-benar lelah saat ini.
"Nee-san, kau tahu juga 'kan kalau kami yang duluan kemari?" kata Itachi tegas pada pegawai toko yang sejak tadi terbengong-bengong melihat pertengkaran keduanya.
"E-eh, i-iya..." ucap pegawai tersebut terbata-bata. Nampaknya ia juga bingung dengan kejadian di depan matanya sekarang.
"Aku bayar dua kali lipat!" potong bocah itu cepat. rambut merahnya berkibar saat ia mendongakkan kepala pada pegawai toko.
"Ba-baik!" ucap pegawai toko itu agak canggung. "Maafkan saya!" pegawai itu ber-ojigi.
Bocah itu meleletkan lidahnya dan pergi dengan boneka ayam di tangannya, membuat Itachi mencak-mencak tidak karuan dan Mikoto berusaha menenangkan anaknya.
Mikoto dan Itachi keluar dengan langkah lesu. Di jalan mereka bertemu dengan Fugaku yang tidak kalah lesu pula. Terlihat pula kalau Fugaku juga sedang ada masalah.
"Bagaimana Tou-san?" tanya Itachi heran melihat ayahnya yang muram.
Fugaku diam saja dan menggeleng pelan. Dari wajah datarnya, tersirat kekecewaan dan kelelahan. Ia nyaris saja mendapatkan pekerjaan, jika ia umurnya setahun lebih muda.
"Sudah, kita pulang saja ya. Soal mainan itu semoga Sasuke mau mengerti," hibur Mikoto sambil tersenyum lemah.
Ketiganya berjalan menuju rumah mereka. Rumah mereka tidak besar, dan letaknya sangat jauh menuju ke jalan utama. Maka itu mereka harus melewati jalan berliku dan naik turun untuk pulang maupun pergi.
Saat akan menuruni bukit, Itachi tertinggal jauh dari orang tuanya. Lelaki kecil itu tidak tega harus melihat adiknya menangis karena tidak mendapatkan mainan yang diinginkan. Ia tahu, adiknya pasti sangat menginginkan mainan itu. Ia rela tidak membeli buku tulis yang sebenarnya sudah habis untuknya sekolah demi adik tercintanya itu.
"Woaaah!"
Fugaku, dan Mikoto menoleh bersamaan. Di belakang mereka Itachi tergelincir dan hendak menuju jalan raya yang ramai.
"Itachi!" teriak Mikoto dan Fugaku bersamaan mengejar Itachi yang sedikit lagi akan mencapai pinggir jalan. Di seberang, muncullah sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.
Brassh
Barang belanjaan untuk makan malam yang dibawa Itachi terlindas mobil itu. Hancur. Dan itu berarti, tidak ada makan malam untuk hari ini.
Sementara Itachi sendiri bertumpukkan dengan seorang gadis kecil di ujung jalan. Gadis kecil berambut permen kapas itu yang menolongnya. Mata hijau hutan gadis kecil itu mengernyit sambil membantu Itachi agar tidak berbaring di jalan raya.
"Sakit..." rintih Itachi sambil memegang sikunya yang berdarah.
"K-kau tidak apa-apa?" tanya gadis kecil itu sambil mengerjapkan matanya lucu. Mata hijau gadis itu terlihat menyejukkan dari sudut pandang Itachi saat ini, dan entah kenapa perlahan rasa sakit di lututnya berkurang.
"T-tidak. Hanya luka kecil. Terima kasih sudah menolongku," kata Itachi dan berdiri di samping gadis kecil yang kira-kira seumuran dengan adiknya.
"Sama-sama," balasnya dengan senyum manis.
"Kau tidak apa-apa Itachi?" tanya Mikoto dengan linangan air mata. Kejadian tadi berlangsung sangat cepat di matanya dan sekarang ia sangat khawatir dengan kondisi anak sulungnya saat ini.
"Ya, Kaa-san. Tapi maaf, bahan makanannya jadi hancur. Kita jadi tidak bisa makan malam hari ini. Bahkan untuk mendapatkan boneka ayam yang Sasu inginkan," ucap Itachi sendu dan mengambil kantong belanjaannya yang isinya sebagian sudah hancur.
"Yang penting kau selamat. Soal makanan dan mainan ayam itu biarkan saja," sergah Fugaku. Wajahnya sedikit melunak, walau jika selangkah lebih dekat maka detak jantungnya akan terdengar. Ia pun turut terkejut sekaligus lega.
Mikoto mengusap wajahnya dan mendekati gadis kecil tadi dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi gadis itu, "terima kasih ya. kalau tidak ada kamu bibi tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada Itachi..." ia sesenggukan kecil dan tersenyum penuh haru pada gadis kecil di depannya.
Fugaku yang tidak tahan dengan tangisan istrinya mendekatinya dan memeluknya dengan sebelah lengannya. Dari wajahnya terlihat sebuah kesedihan dan kelelahan yang cukup dalam.
"Bibi kenapa menangis?" kata gadis kecil berambut merah muda panjang itu polos.
"Kaa-san..." kata Itachi sambil menahan sakit di lutut dan pipinya yang berdarah. Ia tidak tega melihat ibu yang paling disayanginya bersedih seperti ini.
Hal itu membuat gadis kecil itu sigap mengambil sapu tangan soft pink dari kantung rok terusannya dan memberikannya pada Itachi, "ini untukmu..." ia tersenyum sehingga mata emerald-nya sedikit tertutup.
"..." Itachi menerima sapu tangan itu dengan wajah sedikit merona merah. "Thanks," ucapnya dengan logat bahasa inggris yang kental. Begini-begini, Itachi mahir menggunakan bahasa tersebut.
Gadis kecil itu tersenyum lagi, "Sama-sama!" Mata Itachi sendiri menyorotkan kekaguman saat gadis itu menanggapinya dengan sempurna, walau tanpa bahasa yang sama.
"Rumahmu di mana? Biar paman antar pulang," kata Fugaku setelah melihat sejenak saat Mikoto memeluk Itachi penuh ucapan syukur. Setidaknya ia orang yang bertanggung jawab dan tahu caranya berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkan anak sulungnya.
"Tidak usah paman, aku sebentar lagi akan dijemput," tolak gadis itu halus. Ia tersenyum manis sehingga mata hijaunya sedikit menyipit, tertarik oleh pipi tembem miliknya.
"Ya Itachi, nanti kita jelaskan pada adikmu soal mainan anak ayam itu. Kau tenang saja ya..."
"Tapi Kaa-san Sasu sangat ingin mainan itu! Bocah tadi memang jahat!" gerutu Itachi.
Tak lama, sebuah mobil limousin datang di hadapan mereka, "aku harus pulang." Gadis itu melambaikan tangannya dengan senyum cerah.
"Hati-hati ya..." kata Mikoto sambil mengusap pipi dan rambut pink gadis kecil itu pelan. Wajahnya masih sendu, tapi melihat senyum gadis kecil di hadapannya membuatnya sedikit senang.
Ia mengangguk dan mendekati mobil jemputannya, tapi ia kembali dengan sebuah kotak transparan gadis itu juga merogoh-rogoh ke dalam tas mungil berwarna sewarna rambutnya.
"Ini buat Itachi-kun... Maaf aku tadi dengar," katanya dengan sedikit merasa bersalah. Diingatnya sebuah kata-kata, kalau seseorang tidak boleh mencuri dengar perkataan yang bukan ditujukan untuknya. Dan ia anak yang mematuhi kata itu.
"Tidak, terima kasih," tolak Itachi. Semepet apapun keadaan keluarga mereka, tapi sifat Uchiha-nya tidak bisa luntur.
"Ini permintaan maaf karena sudah menguping tadi..." kata gadis itu dengan wajah hampir menangis, "Kata Kaa-san aku tidak boleh menguping, karena tidak baik... jadi aku mau menebusnya!"
Itachi terpaksa menerima kotak tadi, walaupun sebagian egonya menolak. Ia tidak tega melihat gadis yang menolongnya dari maut harus menahan wajah menangis. Ia bergumam terima kasih pelan, nyaris tak terdengar.
Mikoto menangis lagi saat melihat kebaikan hati gadis di hadapannya. Ia berharap anak bungsunya juga bisa sebaik gadis kecil di hadapannya itu. Selama ini, ia berharap agar anak bungsunya itu tidak egois lagi.
"Jangan menangis lagi bibi." Ia meletakkan buah cherry dari kantung tasnya tadi ke tangan Mikoto, "kata Tou-san, buah cherry bisa bikin orang tersenyum lagi. Ini buat bibi agar tetap semangat!"
Belum sempat Mikoto berkata apa-apa, gadis kecil itu berlari mendekati mobilnya. Kali ini ia menoleh pada Fugaku, "jangan menyerah paman!" ia tersenyum riang dan melambaikan tangan pada keluarga Uchiha, dan pergi dengan limousinnya.
Fugaku sedikit terkejut dan tersenyum tipis. Entah kenapa semangatnya bangkit lagi. Ia menoleh pada Itachi dan Mikoto yang melambaikan tangan pada mobil gadis itu yang menjauh, "benar kata gadis kecil tadi. Ayo pulang."
Itachi mengangkat kotak transparan berisi mainan ayam yang diinginkan adiknya, "apa tidak apa-apa?"
Fugaku mengacak rambut anaknya dan menggandeng istrinya pulang, "kali ini saja..." ia kemudian memandang pohon Sakura yang daunnya di hembuskan angin musim gugur, "...Karena dia malaikat yang diturunkan Tuhan untuk kita."
*Miss Pesimis Side Story*
"Ini Aniki sama Kaa-chan yang beli untuk Sasu?" tanya Sasuke dengan mata berbinar.
Itachi menggeleng, ia membantu ibunya menyiapkan makanan sederhana untuk makan malam mereka. Sementara itu, Mikoto tersenyum saat melihat anak bungsunya terlihat senang dengan mainan barunya. Perlahan ia merogoh buah yang diberikan gadis kecil itu dan tersenyum kecil.
"Aku pulang."
"Selamat datang," kata Mikoto bangkit dan menyambut suaminya yang kembali ke kota mencari pekerjaan. Nampaknya perkataan gadis kecil itu tadi meningkatkan semangatnya dan memutuskan kembali mencoba. "Bagaimana?"
Fugaku tersenyum tipis dan memeluk istrinya dengan sebelah lengannya, "aku mendapatkannya. Walau gajinya kecil, tapi tiap pulang kerja selalu dapat sushi lebih," katanya sambil mengangkat kantung di sebelah tangannya.
"Tidak apa-apa. Yang penting kita hidup bahagia dan sehat selalu, aku sudah sangat senang," kata Mikoto tersenyum lembut. Dalam hatinya, ia sangat berterima kasih pada gadis kecil berambut merah muda itu.
Itachi sendiri, tidak akan melupakan gadis itu. Walau ia tidak tahu nama gadis itu, tapi ia yakin, kalau suatu hari mereka akan bertemu lagi. Walau entah kapan mereka dapat bertemu, Itachi mencoba berharap.
"Lalu dari mana Aniki dan Kaa-chan dapat?"
Itachi duduk di lantai seperti adiknya dan mengusap kepala adiknya pelan, "Dari seorang malaikat Cherry ..." Sasuke menatap kakaknya bingung, "...yang baik hati dan manis."
Dan Itachi akan mengingat gadis itu seumur hidupnya. Demikian juga Mikoto dan Fugaku sendiri, yang juga merasakan semnagat dari seorang gadis kecil polos dengan senyum manisnya. Tidak akan lupa.
Itachi tidak akan lupa, dengan mata hijau dan rambut merah muda lembutnya yang berkibar saat ia berlari.
Si bungsu Uchiha akan selalu menganggap gadis itu sebagai malaikat keluarganya...
"Apa dia teman Aniki?" tanya Sasuke kecil yang sedang berusaha mengambil sendok makan kesayangannya di meja makan. Tampaknya ia pun penasaran dengan orang yang memberinya boneka itu.
Tapi Itachi hanya tersenyum tipis.
...dan juga sebagai cinta pertamanya.
*Miss Pesimis Side Story*
"Ibu, aku berangkat dulu."
"Kau akan lama ke Suna?" tanya Mikoto pada itachi. Di tangannya tersampir sehelai jaket anak sulungnya yang akan segera berangkat ke luar kota.
"Tidak sampai dua bulan, setelah penelitian selesai, aku akan pulang secepatnya," katanya berusaha menenangkan ibunya yang tengah kepalang cemas. Ia mengambil jaket hitam dari tangan ibunya, kemudian memakainya dalam beberapa detik.
"Kau juga yang memilih menjadi dokter, sekarang jadi sering pergi dan meninggalkan ibu sendiri di rumah!" gerutu ibunya seraya mencubit lengan anaknya. Ia sangat kesal harus ditinggal di rumah yang besar dan megah seorang diri saja.
Itachi mengaduh pelan, "ada Sasuke, kan?"
"Anak itu..." Mikoto menggeleng-geleng mengingat sifat anak bungsunya berubah drastis sejak mereka menjadi kaya. Dingin dan pendiam. "Ya sudah, hati-hati!" kata Mikoto sambil melambaikan tangan pada anak bungsunya yang mengendarai mercedes hitam kesayangannya.
Itachi mengangguk dan melambaikan tangan. Ia tersenyum samar saat melihat ibunya dari kaca spion.
"Suatu hari, aku akan membawa Cherry lagi untukmu bu," gumannya sambil tersenyum samar.
-TBC-
Alright! Ahahahahaa... akhirnya aku nekat bikin side story nya! XD
Gimana? Udah gak penasaran lagi 'kan? :D #plakk
Ya, alurnya keliatannya agak gak nyambung ya? hehehe... aku tahu kok... :P habisnya aku ingin menampilkan kalau gara-gara gadis kecil itu –Sakura maksudnya- keluarga Uchiha bisa kaya raya seperti sekarang! :D aku juga pengen kalau Itachi, Mikoto, sama Fugaku pada ditolong Sakura kecil! XD *sakti banget Sakura #duagh*
Hahahahaa... Sekian dulu deh.. XD
Balasan review aku mulai dari chapter 6 gak papa, kan? Aku bingung mana yang sudah dan belum dibales soalnya... XO
Tapi aku balesnya Chapter depan ya! Sampai Jumpaaaaaaa~! :D
Review?
Karikazuka
