"Ya! Sebentar!" teriak Sakura terus berusaha mengikat plus menggulung rambutnya yang kusut.

Ia membuka pintu, "ad-" ia terdiam beberapa detik.

"Hai." Sosok di depannya berdiri santai sambil mengangkat sebelah tangannya.

"A-APA?"

Miss Pesimis?

Naruto Masashi Kishimoto

Miss Pesimis © Karikazuka

Happy reading!

.

.

.

"Kaget?" ucap sosok tersebut dengan santai. Ia menggunakan kaos biru muda dengan celana santai, dan meletakkan kedua tangannya di masing-masing kantong celana santai itu.

"Kau..." Sakura membuka mulutnya perlahan, "Siapa?" Ia menatap lekat-lekat sosok tersebut dengan wajah bertanya-tanya. Ia tidak pernah merasa bertemu dengan sosok lelaki di depannya.

Si lelaki memandang Sakura bosan bercampur meremehkan, "Aku Suigetsu. Teman Karin." Ia mendekati Sakura selangkah sambil merogohkan tangannya ke saku celana kanannya.

"Oh, Suigetsu. Ya,ya... Salam kenal ya!" salam Sakura sambil nyengir minta maaf. "Err... memangnya kau mengenalku?" tanyanya sekali lagi dengan tatapan yang sama.

Sekali lagi, lelaki itu mengulangi ekspresinya saat ditanya si gadis, tapi ia mencoba bersabar dan tidak memarahi gadis di depannya ini. "Siapa yang tidak kenal kau sekarang... Semua pelajar KHS juga kenal kau," ucapnya dengan lamat-lamat, mencoba menahan emosi yang ditahannya.

Sakura menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk kanannya, "Memangnya aku se-beken itu ya?" Ia masih tidak percaya kalau semua murid KHS bisa tahu dirinya yang sama sekali tidak ada menarik-menariknya.

Suigetsu mulai gusar oleh ekspresi yang ditunjukkan Sakura padanya, "Hentikan basa-basi ini sekarang." Segera ia mengeluarkan amplop dari saku celananya dan mengangkatnya ke udara, "aku tahu kau yang dulu dan statusmu."

"Heh?" seloroh Sakura saat Sui mengangkat amplop cokelat itu dan berkata sinis padanya. Perlahan ia merasakan ada yang tidak beres pada kedatangan lelaki ini ke rumahnya. Inginnya ngusir, tapi Sakura penasaran banget sama amplop yang dipegang itu.

Suigetsu menyeringai ketika Sakura mulai terpancing, "Kau, Sakura Haruno..."

"Aku memang Sakura Haruno," potong Sakura sambil terus memandangi si amplop dengan ekspresi ingin tahu. Sungguh, ia sangat penasaran dengan amplop itu.

'Aku belum selesai bicara...' geram Suigetsu dalam hati, tapi ia mencoba tetap biasa di muka luarnya. "Sakura Haruno, anak dari mantan pasangan Akemi Haruno dan Yui Haruno yang mendirikan Haruno Corporation," ucapnya dengan jelas dan perlahan-lahan, berusaha menikmati momen ini.

Sakura membelalak kaget.

"Pada umur 10 tahun orangtuamu bercerai dan kau mulai ditelantarkan. Pernah memiliki urusan dengan para berandal perempuan di diskotik dan beberapa preman di sana. Tapi walau adanya kejadian itu, orangtuamu tidak ada yang peduli padamu dan sibuk dengan dirinya masing-masing. Benar?" tanya Suigetsu mengejek.

Sakura hanya diam dengan wajah merah padam. Bukan malu, tapi ia marah sekarang. Sangat marah sekaligus sedih saat mengingat bagaimana orangtuanya meninggalkan dirinya dan sibuk mengurusi urusannya masing-masing. Bahkan saat ia mulai bergaul dengan preman-preman wanita hingga bertengkar dengan mereka, orangtuanya menutup mata dan pura-pura tidak tahu.

"Kau..." ucap gadis itu pelan-pelan. "Tidak memiliki urusan dengan masa laluku..." entah kenapa, ia jadi tidak ingin melihat isi dari amplop yang dibawa lelaki itu di tangan kanannya. "Kau ingin apa dariku?" ia bertanya dengan wajah menahan amarah.

"Jauhi Sasuke Uchiha," ucapnya tegas dengan wajah serius. Ia meletakkan amplop yang di bawanya ke meja kecil di teras rumah Sakura dengan santai.

"Kenapa?" tanya Sakura dongkol. Lagi-lagi masalah Uchiha bungsu itu.

"Demi Karin," jawab Suigetsu dengan pandangan melembut. Tapi sedetik kemudian ia memandang Sakura dengan biasa.

Sakura meraih amplop yang diletakkan Sui di meja terasnya sambil berkata, "kalau aku menolak?" kemudian ia membuka amplop itu pelan-pelan.

"Menurutmu?" tanya Suigetsu menyeringai, tepat saat Sakura melihat isi dari amplop cokelat tersebut.

Mata Sakura menatap datar beberapa foto dan sepucuk surat yang dimabilnya. Fotonya waktu satu gank dengan beberapa preman wanita, fotonya waktu menari di tiang dansa diskotik dengan rambut highlight, jaket jins dan rok. Dan foto ayah dan ibunya.

Ia membuka sepucuk surat dan membacanya datar, tanpa terlihat ekspresi ketakutan maupun kaget. Ia sudah terbiasa dengan hal ini sebelumnya. "Kau pikir aku akan takut?" tanya gadis itu sambil memasukkan lagi foto-foto dan surat itu ke dalam amplop.

Suigetsu memandang lurus wajah Sakura, "Mungkin tidak?" Ia memasukkan kedua tangannya lagi ke dalam saku celana. "Tapi bagaimana kalau preman-preman wanita itu tahu kau ada di Konoha?" Ia menyeringai lagi, "Apa kau tidak takut dikeroyok mereka karena seenaknya saja meninggalkan mereka dari gank?"

Sakura tetap diam.

"Bukankah karena kau pemasok uang mereka?" tambah lelaki itu sambil beranjak pergi. "Pikirkanlah baik-baik..." kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Sakura yang masih membatu di depan pintu.

Gadis itu masih diam di depan pintu rumahnya. Pikirannya benar-benar kacau sekarang, dan tidak ada yang bisa diajaknya untuk berbagi. Matanya melirik pada amplop cokelat yang isinya setengah kelihatan itu. Dengan tangan bergetar, ia membereskan amplop itu dan membawanya masuk ke dalam rumah sambil sesekali mengusap matanya yang basah.

Kami akan mendatangimu jika kau tidak mau bergabung ke dalam kami dan memberi kami uang lagi, Sakura haruno. Jam tangan berhargamu masih di tangan kami.

*-DinDongDinDong-*

"Aku kecewa."

Keduanya hanya diam dengan ekspresi yang tidak terbaca. Sakura hanya menunduk dan Sasuke hanya memasang wajah datar.

Tsunade, sang kepala sekolah menggebrak meja, "KALIAN SUDAH KELAS 12! BAGAIMANA BISA NILAI KALIAN TURUN?" Ia menghela nafas kesal dan menurunkan nada suaranya, "Ternyata usaha membuat kalian belajar bersama pun percuma! Nilai kalian tetap saja turun!"

Melihat kedua anak didiknya yang tanpa ekspresi maupun jawaban, ia menarik nafas sekali lagi mencoba sabar. "Baiklah," ucapnya tegas sambil berdiri.

Kedua murid di depannya menatapnya.

"Kalian akan masuk kelas spesial yang dibentuk sampai ujian nanti! Dan..." ia menoleh pada guru-guru yang sebelumnya sudah berbaris di belakang Sasuke dan Sakura sejak tadi, dan berbalik ke belakangnya, "Shizune akan menjadi wali kelas kalian!"

JDEEEER

Bagaikan petir di siang bolong, Shizune yang menggendong babi peliharaan sang kepala sekolah terkaget-kaget tidak percaya. "Tapi kenapa..."

"Tidak ada penolakan!" ia memotong sanggahan Shizune tajam. "Aku sudah meminta Kakashi mencari anak-anak yang akan masuk ke kelas special. Sebentar lagi ia akan datang," ucapnya tegas. Beberapa guru di belakang Sasuke dan Sakura menghela nafas lega melihat kepala sekolah mereka mulai tenang.

Sakura sendiri menarik nafas tertahan. Ia sekarang dalam posisi kurang dari tiga meter dengan posisi Sasuke, orang yang membuatnya pusing seharian kemarin. Awalnya ia lega saat kepala sekolah menunjukkan tanda-tanda akan membubarkan kegiatan belajar mereka. Tapi ia kembali panik saat ia termasuk lelaki itu akan masuk kelas spesial bersama.

'Kenapa aku rasanya tidak bisa lepas darinya?' batin Sakura dalam hati. 'Aku harus bagaimana kalau ditanyai soal kemarin malam?'

Tok tok tok

"Masuk!" perintah sang kepala sekolah tegas. Ia memutar duduknya menghadap pintu dan memperhatikan seorang guru dan tiga orang anak masuk ke dalam kelas.

Guru yang masuk itu menunduk hormat sejenak dan berkata dengan sopan, "Ini mereka yang akan masuk ke dalam kelas khusus. Mereka masuk dengan keinginan mereka sendiri dan nilai mereka kebetulan perlu dinaikkan lagi." Ia mempersilahkan para murid berdiri di samping Sakura dan Sasuke.

Tiga murid itu menampakkan ekspresi yang berbeda-beda. Tsunade sendiri mengamati mereka satu persatu dengan teliti.

Pertama yang berambut kuning jabrik, cengengesan tidak jelas dan itu membuat Sasuke terganggu untuk ke sekian kalinya. Naruto Uzumaki.

Kedua, berambut biru tua. Ia sedang tersenyum malu-malu sambil sesekali curi pandang pada Naruto, Hyuuga Hinata.

Ketiga, berambut merah menyala. Sasuke sedikit terbelalak melihat gadis ini masuk. Karin.

'Mau apa dia?' batin Sasuke kesal. Ia benar-benar tidak ingin bertemu Karin sekarang. Merepotkan baginya.

Tsunde sendiri menyandarkan dirinya pada kursi kerja besar yang ia duduki saat ini. ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kemudian berkata, "Apa kalian siap menjalani pelajaran kelas special? Jika ada yang mau keluar, aku persilahkan sekarang. Karena aku tidak main-main soal ini!"

Tidak ada yang menjawab, mengangguk maupun menggeleng. Semuanya dia kaku.

"JAWAB!" bentak Tsunade mengagetkan mereka. Keempatnya berjengit kaget(kecuali Sasuke) mendengar bentakan kepala sekolah mereka. Kakashi dan Shizune hanya tersenyum diam-diam melihat wajah anak didiknya.

Keempatnya mengangguk cepat-cepat, kecuali Sasuke yang lagi-lagi biasa saja.

Tsunade mengangguk puas, "Baik, kelas kalian sudah disiapkan. Sekarang, selama 2 minggu ini, kalian akan mendapatkan pelajaran ketat! Persiapkan diri kalian." Selesai mengucapkan nasehat tadi, kepala sekolah segera mengambil teh di meja dan meminumnya. Sepertinya haus juga berteriak-teriak seperti tadi.

Murid yang berada di sana mengangguk dengan cara khas mereka dan beranjak keluar menuju kelas baru mereka. Kelimanya kemudian duduk dengan rapi sesuai dengan meja berisikan nama mereka.

"Woaaah! Rasanya aneh duduk di kelas yang berisikan 5 orang!" celoteh Naruto sambil menatap sekelilingnya. Ia duduk di pojok sebelah kiri, berdekatan dengan jendela koridor.

"Be-benar..." tanggap Hinata turut menatap sekelilingnya. Ia duduk di sebelah kiri depan Naruto.

"Hn," ternyata Sasuke juga menanggapi. Ia menatap Sakura yang berada di depannya. Ia duduk di samping Naruto, posisi tengah.

"Apakah akan sulit?" tanya karin pada dirinya snediri. Ia duduk di sebelah Sasuke dan di seblahnya jendela yang menghadap ke arah lapangan.

"..." Sakura yang duduk di sebelah kanan depan sendiri diam. Ia tidak berkomentar apa-apa. Hanya diam.

"Sa-Sakura-chan ke-kenapa?" tanya Hinata melihat keganjilan Sakura. Tidak biasanya gadis itu diam tanpa berkomentar apa-apa.

Sakura menoleh dan tersenyum tipis. Ia menggeleng tanda ia tidak apa-apa. Padahal dari wajahnya terlihat awan mendung di sana.

"Oke class. Kita mulai pelajarannya sekarang," celetuk seseorang yang masuk ke dalam kelas sebelum ada yang berkomentar lagi tentang Sakura. Sasuk sendiri diam-diam melihat Sakura dari mejanya, seraya mengambil buku pelajaran.

'Apa dia...'

*-DinDongDinDong-*

"Jangan lupa besok kelas special akan mengadakan pelajaran di luar alam. Kita akan menginap di villa milik kepala sekolah, dan kalian akan mendapat kamar masing-masing satu. Pada jam tertentu, kalian bisa keluar berjalan-jalan, dan sisanya kalian akan diajarkan unuk belajar sendiri dengan guru masing-masing," terang Shizune, wali kelas mereka panjang lebar.

Sebagian siswa menghela napas kesal akan adanya kebijakan barusan. Walau diajak ke villa di daerah pegunungan yang super duper indah, namun jika tidak boleh keluar bebas, apa gunanya?

"Apa harus sensei?" tanya Karin dengan wajah tidak bersemangat. Ia menatap wali kelasnya dengan tatapan memohon.

"Atau kalian ingin menginap saja di sekolah sambil membawa tenda? Waktu kalian hanya dua minggu lagi sebelum ujian kelulusan, dan itu tidak akan cukup jika kalian diberikan pengajaran yang biasa," jawab Shizune sedikit sarkastik. Ia tersenyum sambil merapikan map-map susunan acara mereka dua minggu ini.

Naruto berdiri dari kursinya dan angkat bicara, "apa akan ada ramen di sana sensei? Pokoknya aku tidak mau pergi jika tidak ada ramen!" Ia berucap sambil menaruh kedua tangannya masing-masing di samping perut.

"Kau jangan khawatir Uzumaki. Semua makanan sudah disiapkan oleh kepala sekolah di sana," katanya seraya berdiri dari tempat duduknya dan mendekati meja Sakura, "Ada apa Sakura?"

Sakura berjengit kecil dan menggeleng cepat, "Tidak ada apa-apa sensei..." Ia berusaha sekeras mungkin menarik ujung bibirnya ke atas agar kelihatan tersenyum. Berusaha menunjukkan keadaan baik-baik saja.

"Baiklah, kalian bisa pulang untuk berkemas, dan besok pagi harus kumpul jam 6.30 pagi ya!" kata Shizune sambil merapikan buku-buka pelajarannya, begitu pula dengan murid kelas spesial. "Sakura, kau bisa tinggal sebentar?" tanya Shizune saat Sakura akan keluar terakhir.

"Ya, sensei?" tanya Sakura sambil tersenyum.

Shizune membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menutup mulutnya dan tersenyum. Kemudian ia berkata, "Bisa kau bawakan bukuku ke kantor dan memberitahu Kakashi-sensei kalau ia juga akan ikut?"

Sakura mengangguk, kemudian ia meletakkan handphone dan tas ranselnya di atas meja dan mengambil buku-buku pelajaran Shizune. Guru berambut hitam cepak itu mengucapkan terima kasih pada Sakura saat gadis itu akan pergi.

Kemudian ia melihat handphone milik Sakura.

*-DinDongDinDong-*

Malam hari, saat Sakura sedang belajar, ia menoleh saat ada sms masuk di ponselnya. Ia meletakkan pensil mekanik merah mudanya dan meraih ponsel. Ia memencet tombol itu dan membuka pesan apa.

From: Hinata

Sakura-chan tidak apa2 kn? Kita semangat ya menghdpi latihan ini! ^^b

Sakura tersenyum kecil saat melihat pesan yang dikirim Hinata. Belum sempat ia mengetikkan balasan, ada lagi sms yang masuk. Ia segera membukanya.

From: Naruto

Dattebayo! Semangat Sakura-chan! Kita berjuang sama2 supaya masuk universitas!

Kali ini Sakura mendengus sambil tersenyum melihat pesan Naruto. Kenapa hari ini banyak yang sms ya? Tapi ia memeriksa, kalau pesan yang masuk ada sebuah lagi, jadi ia cepat-cepat membukanya.

From: Sasuke petok-petok

Jangan sampai terlambat bangun dan tertinggal.

Namun, kali ini Sakura tersenyum tipis sambil memandang sayu pesan yang terpampang di layar ponselnya. Ia kembali mengingat kejadian yang baru-baru ini dilaluinya, dan kejadian-kejadian itu membawanya kembali pada masa lalunya.

Air mata, setetes demi setetes jatuh.

Pelan, tapi lama-lama berubah jadi isakan.

Dan kemudian, Sakura tertidur di meja belajarnya, sambil memegang ponsel berisi sms dari Sasuke.

*-DinDongDinDong-*

"Sudah siap semuanya?" tanya Kakashi sambil memasukkan koper dan ransel para murid ke dalam mobil. Sekarang ini, mereka membawa dua mobil dan yang satunya di kendarai oleh Sasuke Uchiha sendiri. Jelas saja, Sasuke sudah memiliki SIM dan siap mengemudi.

Pembagian tempat duduk juga dimulai. Mobil Sasuke diisi oleh Shizune (karena gurunya masih khawatir kalau anak didiknya mengebut), Naruto dan Hinata. Sasuke sendiri pasrah dengan wajah datarnya.

Dan sisanya, ikut dengan guru Kakashi di mobil yang dikendarai guru bermasker itu. Karin dan Sakura sama-sama duduk di kursi penumpang.

Keduanya terdiam kaku di perjalanan. Yang ada hanya suara musik yang dipasang oleh guru mereka. Sakura sedikit-sedikit menoleh pada karin yang berada di sebelah kirinya.

"Apa?" tanya Karin sambil melirik dengan sudut matanya. Sementara tangannya ia sandarkan ke pintu mobil sambil menopang kepalanya.

Sakura menggeleng cepat dengan kaget. Sedikit malu juga saat tertangkap basah seperti ini. Ia kembali diam dan memandang jalan di sebelah kanannya. Baginya, sulit sekali untuk akrab dengan gadis sekaligus rivalnya yang agak judes ini.

"Kau..." ucap karin tiba-tiba tanpa merubah posisinya, "Pura-pura dengan Sasuke ,kan?" Ia berkata tanpa mengubah posisi awalnya. Rambut yang ia ikat jadi satu melambai-lambai terkena angin yang masuk ke dalam mobil.

Sakura terbelalak saat Karin mengatakan hal itu. Bukan kali ini saja Karin menduga hal ini, tapi tetap saja gadis ini ia lakukan hanya diam, tanpa berani menjawab apapun.

Entah musik yang disetel guru mereka terlalu keras, atau guru mereka terlalu fokus, sehingga ia tidak menanggapi maupun bertanya tentang ucapan-ucapan dua gadis di belakangnya.

Karin memperbaiki posisi kepalanya jadi menyender pada pintu mobil dan berucap ringan, "Aku tahu saat makan malam waktu itu, jadi mengaku saja." Ia berucap santai sambil memandang sungai besar di pinggir jalan. Tampak bersinar biru ditempa sinar matahari.

Lagi-lagi, Sakura keget mendengar penuturan Karin. Ia tidak bisa menjawab, tapi hanya mengangguk pelan dengan gugup. Sedikit-sedikit ia melirik guru mereka di depan, memastikan ia tidak mendengar atau setidak tertarik dengan perbincangan mereka.

"Aku akan merelakannya," ucap Karin sambil terus memandang sungai besar nan panjang itu dengan senyum tipis yang tulus. "Aku tahu, aku tidak berhak memaksanya..." ia terus tersenyum, padahal air mata sudah menggenang di kelopak matanya. Gadis itu berusaha tegar.

Sakura menoleh cepat dan berkata, "Kenapa? Kupikir kau akan kembali-" Sakura menutup mulutnya karena keceplosan bicara.

"Kembali memaksanya?" yakin Karin dengan pelan. "Aku tahu, matanya terus memandangmu," ucap Karin lirih seraya menoleh lebih ke kiri lagi untuk menyembunyikan air mata yang sudah mengalir di pipi putihnya.

"Aku bahagia, kalau Sasuke-kun juga bahagia..."

Sakura tercengang dengan ucapan tulus Karin barusan. Ia tidak menyangka gadis yang judes, ambisius, dan arogannya tidak karuan ini akan jadi seperti ini. Ia merasa, kalau Karin sangat tabah dengan semua yang dijalaninya selama ini.

"Aku juga..." ucap Sakura pelan sambil memeberikan sebungkus permen pada Karin dengan senyum tipis, "Aku juga bahagia kalau Sasuke-kun bahagia..." Ia sangat ingin bersahabat dengan Karin sekarang.

Karin menoleh dengan air mata yang tersisa, tapi ia mengambil permen dari Sakura kemudian tersenyum pongah, "Kalau kau tidak bisa membahagiakan Sasuke-kun, akan kurebut dia." Ia menoleh lagi ke arah jendela mobil, untuk menyembunyikan tangisan sekaligus senyumnya.

Sakura hanya bisa menjawab, "Ya." Walau ia sendiri tidak yakin akan ucapannya tentang Sasuke.

Sasuke yang memaksanya menjadis pacar bohongan, Sasuke yang terkadang marah-marah tidak jelas, Sasuke yang dingin, Sasuke yang tersenyum tipis, Sasuke yang selalu membantunya mengerjakan soal, Sasuke yang memeluknya hangat, Sasuke yang menciumnya,

Sasuke.

Sasuke.

Sasuke.

Setidaknya, beberapa hal yang Sakura tahu...

Karena Sasuke, ia bisa memiliki banyak warna di hidupnya. Membuatnya lebih ceria dan bersemangat. Membuatnya lebih banyak tersenyum dan menguras air mata, tidak kosong seperti dulu dan sebelumnya.

Dan juga mendapatkan pelajaran berharga dari rival yang menjadi temannya mulai sekarang,

Kalau orang yang dicintai bahagia, kita juga pasti bahagia...

"Aku bahagia, kalau Sasuke-kun juga bahagia..."

-TBC-

UWOOOOOOOOO!

Saya mengetik dengan reflek! Maaf kalau tidak sesuai keinginan kalian! ToT

Aku hanya ingin membuat Karin di sini adalah orang yang baik, berbeda dengan yang sering dibuat, kalau Karin itu selalu dapet peran antagonis. Di sini aku pengen buat, kalau Karin itu sebenernya baik. :P

Chapter ini tidak ada SasuSaku yang berarti, malah konflik dan Friendship-nya yang kerasa... :d Aku bingung sih mau buat apa...

Jujur, saya kehabisan ide... =="a Doakan saya agar segera dapet ide untuk ending dan meneruskan cerita-cerita yang lain... :P

Makasih yang buat yang sudah review, concrit, dan baca cerita ini... :D

Balasan review chap 6:

Sindi 'kucing Pink: maaf sin... ToT sebenarnya itu pake gini, "Walau hanya sebatas peran..." jadi gak pake sanya... Aku lupa hapus sanya-nya...XD Makasih review-nya... :D

Skysunsets: hahahaha... aku juga bangga sama diriku yang sudah buat ini #plakk Maksudku bangga sama Sakura..XD Makasih doa dan review-nya ya... #peluk sky :'D

Saito ayumu Uchiha: Hahahhaa... endingnya udah ada, kan? Wah jangan apdet macam geledek badai kilat dong...XD Maksih review-nya..:D

Eunike Yuen: Hahahaha... iya tahu... kamu juga tahu toh? #plakk Maksih review-nya ya.. :D

WindyPikachu Girlfriend (sekarang udah ganti nama kayaknya): sinyaaal? XD kayak operator jadinya deh... XD #plakk Makasih.. :D

Shafira Layla: maaf membuatmu penasaran.. #pundung Makasih review-nya.. :D

Hakuya Cherry Uchiha Blossom: Salam kenal..XD #peluk Haku Tambah keyeeen? :O hahahaha... makasih.. :D

ria alisia: Makasih udah menunggu ya... aku berusaha secepat mungkin updatenya.. #pundung Makasih ya... review lagi lho ya! XD

Honeya: Ini sudah cepet belum? :'O Siapa yang dateng? Di chap ini sudah ketauan, kan? ;D makasih review-nya ya! :D

Lucy Uchino: Yayaya! Buncis! #ditabok ayooo... ini sudah apdet..XD makasih lho ya... :D

Lee sica: ahhahahaa.. iya nih... hayoooo Sasuke... #plakk makasih review-nya...XD

Obsinyx Virderald: Buset dah, namanya sulit amaaat... #plakk Hahahhaa... makasih ya... :D Iya, Karin gak jahat-jahat benget kok..XD hohoho...

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet: sudah, kan? :D makasih review-nya... :D

momijy-kun: Kyaaaaa! Aku juga pengen teriak..XD masa lalu udah, kan? Makasih review-nya... :D

Rievectha Herbst: Emaaaakkk... Sungguh mujarab cc mu..XD makasih maaak... maaf kalau cucumu ini bandel ya soal Typo..XO

Trancy Anafeloz: Trasiiiii..XD #plakk aku datang menjawab review kamuuuuuuu~ XD makasih ya.. :D ini udah apdet.. :D pasti dilanjutin kok.. :D

Balasan review chap 7:

Sindi 'kucing Pink: iya, yang itu side story-nya..XD Abal ya? hahahaha... Sakura emang baik... XDD ini udah apdet... :D makasih ya.. :D

Saito ayumu Uchiha: Waah... masa? #plakk Makasih ya... :D

Wazuka Arihyosi: Waaah... Kamu gak asik ah... XO pantesan sepi nih... #jitak Wazuka Ayo, pokoknya review lho yaaaaa! :D wah, pasti chpater depan itu Sasuke jeles..:P Makasih... XD

WindyPikachu Girlfriend: Iya, itu flashback-nya..XD Apa ini sudah panjang? :O makasih... :D

Lucy Uchino: Iya, banyak...XD Sekalian, solanya kemaren banyak libur, jadi biar kalian banyak bacaan gitu..XD iya, banyak typo... #pundung Aku mau perbaiki, tapi belum ada waktu... U_Ua Maksih ya... :D

momijy-kun: Kyaaaaaaa! Makasiiih..XD Hahahaha.. Begitulah.. :P Ya, sudah terjawab, kan? Makasih ya.. :D

Hakuya Cherry Uchiha Blossom: Makasih kamu udah sukaaa.. :D ini udah lanjut..XD

Kazuka Ayam Cherry: Iya, mereka berubah..XD hahahaha.. Iya, terkesan gimanaaaaa getooo.. #plakk Makasih ya.. :D jadi malu udah di Fave.. /b

Trancy Anafeloz: wkwkwkwkwk.. segambreng? XD ini dah kilat belum tras? #plakk Makasih lho yaaa.. :D

Eunike Yuen: iya, ada typo... ToT Makasih ya koreksinya.. ;'D Semangat! :D

Rei Fujisaki 27: wkwkwkwkwkwkkk..XD iya, aku suka aja kalau mainannya ayam...XD hahahahahaa... Makasih ya.. :D

Maaf kalau ada kesalahan pengetikan nama... :')

Review again? No silent reader! XD

Karikazuka