Miss Pesimis?
Naruto Masashi Kishimoto
Miss Pesimis © Karikazuka
Happy reading!
.
.
.
"Sudah sampai!" ucap sang guru—Shizune sambil meregangkan tubuhnya begitu keluar dari mobil. Ia terlihat begitu senang bisa menghirup udara pegunungan yang begitu segar dan nyaman.
"Horeeeee! Kita bisa main sepuasnyaaaa!" teriak Naruto begitu ia melompat keluar dari pintu mobil. Ia menarik-narik Hinata agar cepat keluar dan merasakan hawa yang sejuk disana.
"Kita kemari bukan untuk bermain-main saja, tapi untuk belajar," sergah Kakashi sesudah ia menutup pintu kemudinya. Segera saja, lelaki itu mengeluarkan tas berisi barang-barang miliknya dan anak didiknya dan membawanya ke suatu rumah.
Karin, sudah keluar dengan wajah biasanya, sama sekali tidak terlihat kalau ia habis menangis atau bersedih. Ia segera membantu sensei-nya mengangkati tas-tas yang hendak dibawa masuk.
Sejenak, ia bersisihan dengan Uchiha Sasuke yang baru saja keluar dan menjinjing tas punggungnya. Sasuke tetap pada wajah stoic-nya dan memandang singkat dirinya yang hanya setinggi bahu pria tersebut.
Karin hanya tersenyum sejenak—pergi melewati Sasuke yang hanya diam memandanginya.
"Yaaaah sensei! Masa kita tidak boleh main siiiih? Teme, ayo cepat kita pilih kamar!"
Suara Naruto hanya terdengar sayup-sayup di telinga Karin, karena gadis itu menutup matanya seraya mengeluarkan setetes air mata—tanpa ada seorangpun yang tahu.
'Biarlah, kali ini aku melepaskannya...'
.
.
"Oke, kalian bisa memilih kamar mana yang ingin kalian gunakan. 10 menit lagi keluar ke lapangan yang ada di kiri jalan dengan memakai baju training lengkap," jelas Kakashi saat mereka semua sudah selesai makan siang.
Semuanya diam.
"Ada yang ditanyakan?" kali ini suara Shizune mendominasi ruangan tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke lima orang anak didiknya yang masih berdiri diam saja.
Naruto mengangkat tangan, "Untuk apa kita ke lapangan? Ujian yang akan diberi bukan olahraga, kan? Seharusnya langsung saja kita belajar mata pelajaran yang memang harus diujikan."
Semua murid yang ada disana menoleh pada Naruto yang menggosok hidungnya canggung dan agak nyengir-nyengir itu. Hanya Sasuke yang memutar bola matanya dan hal itu membuat Naruto mencibir kesal.
Kakashi tersenyum dibalik masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya, "Pendapat yang bisa diterima." Naruto langsung nyengir penuh kemenangan dan langsung meleletkan lidah pada Sasuke.
"Tapi, aku punya cara tersendiri agar kalian belajar, mau ataupun tidak mau," tambah Kakashi sambil menyeringai puas. Shizune hanya terkikik kecil saat melihat anak didiknya hanya diam melongo(kecuali Sasuke yang tetap pada wajah datarnya) tidak mengerti apa maksud sensei-nya.
"Oke, ayo bergegas! Waktu kurang 8 menit lagi! Yang terlambat tidak akan mendapat jatah makan malam!" ucap Shizune sambil menepukkan kedua tangannya agar murid-muridnya yang sedari tadi hanya bengong cepat bertindak.
Dan benar.
Semua sudah lari ke lantai dua dengan koper dan tas masing-masing—memilih kamar mana yang akan mereka gunakan. Shizune dan Kakashi saling memandang dan bertoss ria.
"Sudah kau siapkan?" tanya Kakashi seraya mengambil air minum, menoba mengurangi dahaga yang sedari tadi ditahannya.
Shizune mengangguk dan berjalan ke arah bak cuci piring sambil berkata, "Sudah siap semuanya."
"Bagus," kata Kakashi dan sesudah itu ia meneguk air mineral di tangannya dengan cepat.
.
.
.
"Woah, kamarnya besar dan nyaman sekali!" teriak Naruto dengan heboh. Ia segera memasuki kamar pertama di sebelah kiri tangga dan menidurkan diri di ranjang single yang terlihat sangat nyaman dan empuk.
Hinata yang di belakang Naruto hanya tersenyum dengan wajah merah dan berlari ke sebelah kamar Naruto yang hanya tinggal satu. Ketika ia membukanya, harum bunga lavender yang lembut meraba penciumannya.
'Semoga aku dan Naruto-kun bisa dekat seperti kamar kamiii~' doa Hinata dalam hati dengan wajah membara merah.
Sasuke sendiri tidak banyak bicara, langsung masuk ke ruangan sebelah kanan tangga, tepat di depan kamar Naruto. Ia dengan cepat menutup pintu kamarnya untuk segera mandi dan berganti pakaian.
"Aku yang mana ya?" pilih sang gadis berambut merah panjang saat ditemukan dua pilihan kamar yang tersisa. Ia melirik kamar-kamar di sekitarnya dengan sigap.
Suara Naruto yang berteriak-teriak terdengan di ujung kirinya saat ini. Jelas kamar tersebut sudah dihuni sang Uzumaki kuning.
Sebelah kamar Naruto sedikit terbuka. Memperlihatkan dekorasi warna ungu lembut—dan ia yakini tidak mungkin Sasuke akan menggunakan kamar tersebut ataupun Sakura yang masih dibawah.
Ia menatap kamar ujung kanannya. Sepi dan tenang. Ia yakin, kamar yang tertutup itu milik Uchiha bungsu.
Gadis bermata ruby itu langsung memilih kamar yang paling ujung, melewati kamar Sasuke Uchiha dan satu kamar lagi yang kosong. Ia sedang mencoba untuk menjauhi sang Uchiha dan melupakan segalanya.
Dan, Sakura?
Gadis berambut merah muda itu baru sampai ujung tangga saat terdengar suara pintu tertutup. Ia mengedarkan mata ke seluruh kamar. Dan yang kosong hanya satu kamar di sebelah kanan bagian tengah.
Tanpa banyak bicara, gadis itu masuk dan menutup pintu.
Ia tidak menyadari—
—kalau sang takdir, mempermainkannya—
—bahkan dalam urusan kamar tidur.
.
.
.
Tepat sepuluh menit sejak mereka berkumpul di meja makan tadi, kelima murid sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi. Jelas, mereka tidak mau jika sampai tidak mendapatkan makan malam.
"Jadi kita akan mengadakan ujian di alam terbuka," kata Kakashi mengawali kegiatan mereka setelah ini. Seluruh murid saling berpandangan—kecuali Sasuke Uchiha—dan bertanya-tanya melalui kontak mata.
Shizune tersenyum dan melanjutkan, "Kalian semua akan disebar di hutan sebelah sana dan di tiap pos akan ada satu pertanyaan juga 4 amplop yang berisikan petunjuk jalan kalian. Jika jawaban kalian salah, bisa saja kalian akan berputar ke arah soal peserta lain bahkan kembali ke posisi start."
Kelima murid serentak mengikuti arah jari sang guru dan mata mereka terbelalak. Di sebelah sana, ada hutan yang cukup besar dan lebat, seolah menyatakan kalau disana perang terhadap soal akan dimulai.
Bayangan mereka tentang belajar maupun ujian di lapangan hancur berkeping-keping. Ternyata kedua guru mereka sudah menyiapkan cara yang paling jitu, agar murid-muridnya menjawab dengan tepat.
"Ada tambahan, setiap soal dan amplop jawaban yang sudah dibaca harus langsung dikembalikan di tempat semula. Dan bagi siapa yang pertama ke garis finish akan mendapat poin seratus yang artinya bisa tidak mengikuti ujian selanjutnya," tambah Kakashi sambil memegang stopwatch di tangan kanannya.
" Sensei ya-yakin?" tanay Hinata ragu-ragu seraya memainkan kedua ujung jarinya. Ia takut bertemu ular ataupun binatang buas di dalam sana.
"?" Kakashi hanya memberikan tatapan tanya pada murid perempuannya yang pemalu itu.
"Maksud kami, apa Sensei yakin kita bisa keluar dengan selamat? Aku masih ingin makan ramen!" tambah Naruto yang mencak-mencak. Dirinya juga ketar-ketir jika akhirnya tersesat dan tak ada yang menemukannya.
"Hal tersebut tidak akan terjadi selama kalian masih mengikuti instruksi yang ada di amplop yang kalian pilih. Kami akan membagikan kompas agar bisa memperkirakan arah jalan nanti," ucap Shizune. Ia langsung mengambil beberapa kotak kompas yang masih terlihat baru dan membagikannya.
"Aku ragu..." kata Sakura pelan saat menerima kompas dari gurunya. Ia juga takut jikalau tidak bisa keluar dari sana.
"Jangan takut, ini termasuk melatih kalian agar bisa memilih jawaban dengan cepat dan tepat saat ujian nanti. Kalau dengan kondisi seperti ini, kalian tidak akan main-main menjawab pertanyaan," kata Shizune menenangkan murid-muridnya yang ketakutan.
Kelimanya berpandangan satu sama lain. Lalu mereka mengangguk bersamaan. Siap tidak siap, perang harus dihadapi.
"Mulai!" kata Kakashi memberi aba-aba untuk masuk pos masing-masing.
Kelimanya mulai berlari ke pos yang berjumlah 5 buah dan membuka kotak yang terpasang di pohon.
Sasuke dengan cepat memilih amplop yang berisi jawaban di sampulnya dan membuka isinya.
5 meter ke depan.
Ia dengan cepat meninggalkan yang lainnya—yang masih membuka amplop jawaban maupun yang masih berpikir akan memilih yang mana.
'Sasuke-kun memang cepat,' batin Sakura. dengan cepat ia memilih mana amplop yang akan dibukanya dan melihat isinya.
10 meter ke arah barat laut.
'Barat laut yang mana pula?' batin Sakura geregetan dan mengambil kompas dari saku training. Ia juga harus cepat, tidak kalah dari Sasuke.
"Waduh, aku bisa ketinggalan!" kata Naruto yang sedang memilih amplop. Segera saja ia memilih satu amplop dan membuka isinya.
7,5 meter ke arah timur laut.
Glek.
Naruto lupa, kalau ia tidak hafal mata angin maupun mampu membaca kompas.
"Kariiin..."
"Apa?" balas Kairn sengit. Ia kesal karena konsentrasinya dibuyarkan oleh Naruto.
"Bisa kau beritahu aku arah mata angin?" tanya Naruto sambil nyengir malu.
Karin menggeleng-gelengkan kepala prihatin. Dengan cepat ia membuat tanda di udara dan berkata, "Utara, selatan, barat, timur." Kemudian dengan kecepatan kilat ia berlari masuk kedalam hutan.
Naruto jingkrak-jingkrak kesal dan berteriak, "Kalau itu aku juga tahu!" Ia segera menoleh pada Hinata yang berada di sebelah kanannya menggunakan wajah memelas andalannya.
"Hinata-chan..."
Hinata menoleh dengan gugup, "Y-ya Naruto-kun?"
"Bisa kau beritahu arah mata angin dengan jelas?" tanya Naruto dengan wajah andalannya tersebut. Ia mulai menunjukkan arah jalan di dalam amplop jawabannya dengan wajah malu.
"Bi-bisa Naruto-kun... Tu-tunggu sebentar..." Hinata langsung mengambil kertas dan pulpen yang ia simpan di jaket training-nya dan menggambar di kertas tersebut. Beberapa detik, ia mengulurkannya pada Naruto.
"Makasih!" Naruto nyengir bahagia sambil menjabat kedua tangan Hinata senang. Walau tak bisa baca kompas, asal ada catatan Hinata pasti amaaan.
Seketika wajah gadis berambut lavender itu memerah sempurna dan ia berlari masuk ke dalam hutan. Malu sekaliii~
Satu info, sebenarnya ia sudah menentukan jawaban dan arah jalan. Tapi ia menunggu Naruto terlebih dahulu.
Haaah~ Masa remaja memang indah...
.
.
.
"Ne, Itachi mau pergi lagi?"
Sang Uchiha sulung yang masih memasang dan mengikat tali sepatu menoleh. Ia kemudian tersenyum tipis dan berkata, "Tidak jauh, hanya di hutan perbatasan Konoha-Suna."
Mikoto, sang ibu mendekat dengan jaket anaknya di tangan, "Masa liburan seperti ini masih harus observasi?"
Itachi mengangguk dan mengambil jaket dari tangan ibunya, "Ya, tugasku 'kan mencari tanaman obat yang bisa dijadikan percobaan di lab." Ia membuka pintu rumahnya dan menoleh pada sang ibu.
"Aku pergi dulu."
Mikoto tersenyum dan melambaikan tangan, "Selamat jalan... Hati-hati mengendarai mobil!" Itachi hanya melambaikan tangan tanpa menoleh dan mengemudikan mobilnya menjauh.
Perempuan paruh baya itu mendesah dan berbalik ke dapur. Masih diingatnya—anak-anaknya yang dulu masih bergelayutan manja di pangkuannya, bermain dan berlari-lari di halaman rumah dan bertanya pada ibunya akan masak apa.
Dan kini, ia hanya sendiri di sebuah rumah besar nan megah. Hanya desiran angin yang lewat masuk dari pintu kaca—tembus ke halaman rumah—memainkan anak rambutnya.
Dan ia sadar... Kalau semua anak-anaknya sudah beranjak dewasa...
"Aku rindu saat-saat dulu..." batinnya sambil tersenyum kecil.
.
.
.
Peluh membasahi dahi dan leher sang gadis berambut panjang itu. Ia mengedarkan pandangannya—berusaha mencari dimanakah pos soal selanjutnya. Mata emerald -nya segera menemukan lokasi tersebut.
Soal:
Tentukan dimensi dari rumus luas!
Ngek.
Gadis itu segera memutar otak cepat. ia mengingat ingat apa saja satuan internasional besaran pokok dari luas.
Luas:
m²
= [L]²
'Ketemu!' batinnya berseru kegirangan saat menemukan amplop berisi jawaban yang ia pikirkan sejak tadi. Dengan terburu-buru, ia membuka isi petunjuk selanjutnya.
5 meter arah tenggara.
'Tenggara arah mana ya?' mendadak ia lupa tenggara arah mana. Segera ia membuka kompas dan mencari arah yang benar. Namun sayang, jarum kompas tersebut malah berputar-putar tidak jelas.
Mata Sakura membelalak.
Kompas satu-satunya yang menjadi penunjuk jalan...
...rusak.
"Bagaimana ini?" bisiknya bingung. Ia menoleh kanan kiri yang berupa pohon dan menyempatkan diri menengadah ke atas. Terlihat awan putih dan langit biru di atas sana.
Bagaimana kalau ia tersesat?
Bagaimana kalau ia hilang?
Bagaimana ia kalau dimakan hewan buas?
Sakura menggeleng cepat dan memegangi kepalanya. Gadis itu menurunkan arah pandangnya dan menggigit bibir atasnya.
Kali ini, tidak ada kata pesimis.
Dengan atau tidak adanya penunjuk arah, ia pasti bisa keluar dari hutan ini dengan urutan pertama.
Dan dengan langkah pasti, ia berjalan ke arah serong kanan. Ia sudah bertekad, harus jadi pemenang!
"Hah? Kok buntu?" tanya Sakura terbengong-bengong saat melihat tembok batu di hadapannya. Jelas ia yakin ini bukan jalan yang benar. Ia menoleh kiri dan kanan lalu berjalan ke arah kanan dari posisinya sekarang.
"Lho? Kok balik ke pos 4?" sekali lagi ia bertanya pada dirinya sendiri kenapa ia bisa berbalik arah dari pos 12 ke pos 4. Tangannya mulai berkeringat gugup sekaligus takut.
Kembali ia kejalan tembok batu dan berjalan ke arah kiri. Ternyata ada jalan setapak disana, tapi kirinya merupakan bekas longsoran yang cukup dalam. Ia berjalan pelan-pelan.
Sruuut
Namun sayang, ia kurang berhati-hati sehingga ia jatuh terperosok ke bekas longsoran tersebut. Ia bangkit terpatah-patah sambil memegangi pantatnya yang sakit sekali. Matanya melotot ketika tahu kalau dirinya sudah jatuh dan tidak ada sulur maupun tanaman yang bisa ia pijaki naik.
Segera saja ia menoleh kiri dan kanan, barangkali ada jalan setapak lain. Namun nihil, tidak ada satupun jalan. Yang ada hanya semak-semak tinggi menjulang.
Ia ingat kata ibunya. Kalau dalam semak-semak yang rimbun, itu merupakan tempat ular berbisa bersembunyi. Ia takut, apalagi ia tidak bisa menjamin kalau dibalik semak semak tersebut adalah jalan keluar.
"Ugh," lenguhnya pelan. Crap, disaat seperti ini kaki kanannya terkilir dan sebagian betisnya mengeluarkan darah. Ia tidak sanggup menopang tubuhnya dan jatuh terduduk di tempat.
'Bagaimana ini, Tuhan?' batinnya takut.
.
.
.
"Wah, kau pemenangnya!" kata Shizune senang saat mendapati seseorang keluar dari hutan rimbun di belakang. Ia segera berlari sambil membawa handuk serta air minum.
"Sudah jam 4 sore, seharusnya paling lama dua jam lagi mereka semua sudah berkumpul lagi," kata Kakashi yang melihat jam tangannya. Ia menoleh pada sang pemenang yang duduk di kursi semen dengan keringat penuh, "Bagaimana Sasuke? Apa menyenangkan?"
Sasuke yang meneguk minumnya berhenti dan berkata datar, "Biasa." Ia bangkit sambil meraih handphone-nya yang ditinggalkannya bersama yang lain di garis awal kemudian berlalu pergi.
Lelaki berambut raven itu menggeser layar handphone-nya perlahan dengan wajah datar. Dahi dan lehernya yang berkeringat tidak ia usap dengan handuk yang tersampir di bahunya.
Ia memandang...
...foto seseorang yang tersenyum dengan wajah merah merona...
...Sakura Haruno.
'Akan kukatakan...' batinnya dengan kata-kata yang tidak dipahami.
.
.
"Waaahh~ Syukurlah aku bisa keluar dari hutan itu!" teriak Naruto sambil melompat kegirangan. Ia harus memuji syukur setelah ini karena ia bisa keluar dan makan ramen untuk seterusnya.
"Kakashi-sensei! Aku yang pertama, kan?" kata Naruto GR sambil membusungkan dada bangga. Hatinya melonjak kegirangan dan mengira kalau sahabatnya yang dingin itu belum keluar.
Shizune tersenyum dan melemparkan botol minuman, "Bukan, Sasuke Uchiha yang pertama. Kau yang kedua." Secepat kilat wanita itu berbalik mendekati Kakashi untuk bicara suatu hal.
Seketika itu juga, Naruto tertimpuk telak oleh botol minuman yang terlambat ia raih.
"Wah, aku berhasil keluaaar!" teriak seorang gadis berambut panjang dengan langkah senang. Keringat mengucur pula di wajah gadis itu—namun ia merasakan kesenangan tersendiri oleh permainan tadi.
"Itu, Naruto kenapa pingsan ya?" tanya sang gadis berambut panjang—Karin. Ia berjongkok menatapi Naruto yang pingsan dan dengan tambahan darah di hidung. Tak lupa sebotol air minum yang tampaknya belum terbuka isinya.
Kakashi dan Shizune yang mengobrol menoleh bersamaan. Seketika mata mereka terbelalak dan berlarian mendatang Naruto yang terkapar tidak berdaya.
Karin menggaruk pipinya bingung, sementara Sasuke memutar bola matanya dari kejauhan.
'Selalu saja berbuat konyol,' batin Sasuke bosan saat melihat sahabat kuningnya digotong oleh kedua gurunya masuk villa.
.
.
.
"Tolooong!"
"Seseorang tolong aku!"
"Heeei!"
Sakura Haruno, dengan posisi terduduk dan kaki membiru sedang berusaha berteriak. Luka sekaligus terkilir tadi membuat kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Yang bisa ia lakukan hanya berteriak mencari bantuan.
"Hinataaa... Kariiin... Narutooo..." lama-lama berteriak, suaranya mulai melemah. Ia melongokkan kepala ke atas. Langit sudah berwarna kemerahan yang ia yakini jam 5 sore lebih.
"Heeeeeeiii... Tolong aku..." kali ini, suaranya sudah tak sekeras pertama lagi. Napasnya memburu karena terlalu banyak berteriak. Air mata mulai tergenang di sudut mata emerald-nya.
Ia takut. Takut sekali. Hari mulai gelap dan ia tidak bisa berjalan satu langkahpun dari tempat itu.
"Hinataaa... Kariiin... Narutooo..." ia mengatur napasnya, air mata sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. Disaat seperti ini ia kembali teringat dengan kejadian-kejadian masa lalunya. Masa lalu yang beraneka ragam.
Terasa sakit di luka kakinya—
"Sasuke..."
—dan juga hatinya.
.
.
.
"Hinataaa! Syukurlah kau sudah keluaaar!" teriak Karin kencang sambil berlari menjemput Hinata yang berjalan lunglai. Terlihat raut kelelahan dari wajah gadis berambut lavender itu.
Hinata tersenyum lemah, mengangguk pelan.
Shizune segera mengambil handuk, air minum dan kotak P3K begitu melihat luka sayatan ranting di sekitar tangan dan pipi Hinata Hyuuga.
"Kau baik-baik saja?" tanya Shizune sambil membuka peralatan pengobatannya. Ia menatap cemas wajah muridnya, kalau-kalau gadis itu pingsan.
"A-aku baik-baik saja..." jawab gadis berambut panjang lavender tersebut dengan senyum tipis. "Aku orang ke berapa?"
"Keempat," jawab Karin dengan wajah cemas. Ia turut membantu sang guru membuka plester dan mengambil kapas berisikan alkohol.
"Ma-mana yang lain?" tanya Hinata lagi. Ia mengambil air minumnya dengan tangan gemetaran dan meneguknya pelan-pelan. Masih diingatnya jalan yang ia lalui tadi—sangat menyeramkan.
"Naruto istirahat di dalam villa karena tadi ketimpuk sama botol yang dilempar Shizune -sensei, kalau Sasuke aku tidak tahu," jawab Karin datar. Ia sudah tidak menambahkan embel-embel pada Sasuke lagi.
Hinata mengangguk-anggik paham, "Ja-jadi tinggal Sakura?"
Shizune mengangguk, "Kita tunggu saja, ia pasti pulang dengan selamat."
Karin dan Hinata mendadak begidik mendengar pernyataan itu.
.
.
.
"Sasuke..."
Air mata Sakura sudah tidak dapat dibendung lagi. Setetes demi setetes jatuh ke pahanya yang tertutupi celana training.
Ia takut...
Takut sekali...
Dengan keadaan kaki macam ini, suasana nyaris petang dan tidak ada jalan keluar membuat sang gadis merasa tercekam. Ia mengusap air matanya dan berusaha membangkitkan tubuhnya, tapi selalu merosot jatuh lagi.
"Sasuke..."
Lagi-lagi nama itu yang bisa diucapkan Sakura. Suaranya sudah nyaris seperti bisikan—terlalu lelah dan lapar. Napasnya tersengal-sengal dan matanya mulai berat.
Namun nama itu yang terus teringat.
Yang ia ingat... Hanya saat dimana ia menyukai Sasuke, belajar di perpustakaan bersama Sasuke, bergandengan tangan dengan Sasuke, bertemu orang tua Sasuke, makan dengan Sasuke, berciuman dengan Sasuke,
Srak
"..." mata yang penuh air mata itu menoleh dengan cepat dan terkejut.
Srak
Tangannya mulai mengepal, gemetaran di beberapa bagian.
Sakura menahan napas.
Seekor kelinci berbulu putih, dengan kuping yang bergerak-gerak melompat-lompat tak jauh dari posisinya sekarang.
Gadis itu mendesah lega dan mengusap air matanya, "Chappy nakal..." Ia segera tersenyum lega. Namun tidak lama, karena ia lihat si kelinci kecil punya luka merah di kaki kanannya yang belakang.
Ia berusaha bergerak maju, namun tidak bisa. Ia dengan paksa menyeret tubuhnya diantara tanah dan bebatuan. Bermaksud meraih sang kelinci yang masih diam tak bergerak.
Bagaimanapun ia harus meraihnya.
Dan 'HUP' kedua tangannya sudah meraih tubuh sang kelinci dan mengelusnya pelan. Ia segera merobek kaus kakinya dan membebatkannya pada kaki si kelinci putih.
Gadis itu tersenyum. Si kelinci diam saja, malah duduk melingkar di pangkuan sang Haruno seolah nyaman di tempat itu.
Sakura makin tersenyum. Setidaknya ia tak sendirian sekarang.
SRAAAK
But, rasanya tidak secepat itu Haruno bisa bernapas lega. Ada suara yang lebih besar dari sebelumnya dan itu berasal dari semak-semak lebat tadi. Sakura dengan spontan menajamkan telinga.
SRAAK SRAAAK
Sakura mulai ketakutan, ia meraih tubuh sang kelinci dengan hati-hati dan memeluknya. Ia berharap itu bukanlah hewan buas maupun ular yang bisa saja membunuhnya dan kelinci ini.
"Sasuke..." bisiknya sambil menutup kedua matanya—belum siap melihat sosok di balik semak-semak itu.
.
.
.
"Ini sudah jam 6 dan Sakura belum kembali," ucap Kakashi dengan Shizune yang masih menunggu di garis finish. Murid-muridnya yang lain disuruh masuk dan tinggal di dalam villa. Tinggalah mereka berdua menunggu sang murid terakhir.
Di dalam, Naruto yang sudah datar duduk bersama yang lain. Makanan sudah tersedia di depan mereka namun tak ada seorangpun yang menyentuhnya. Bahkan ramen kesukaan Naruto pun tidak disentuhnya.
"Ke-kenapa Sakura belum pulang y-ya?" tanya Hinata pada yang lainnya di depan meja makan. Ia memainkan tali terusannya dengan khawatir.
"Sakura, mungkin masih menjawab pertanyaan," duga Karin yang mengetuk-ngetukkan jari tangannya di meja makan.
"Apa Sakura-chan dimakan macan?" tebak Naruto dan mendadak berdiri. Ia mengambil jaket di sofa dan berlari keluar, "Aku mau ikut menunggu Sakura-chan!"
Hinata juga bengkit dan berlari keluar, "A-aku juga!" kemudian ia berlari mengikuti Naruto keluar.
Karin mendesah dan bangkit. Namun ia menoleh pada Sasuke yang masih diam di tempatnya, "Kau tidak ikut?"
Sasuke tetap diam di tempatnya. Matanya memandang lurus ke depan dan dengan wajah datar ia berkata, "Aku yakin Sakura pasti kembali."
Karin tertegun di tempat.
Sebegitu percayakah Sasuke pada Sakura? Sampai gadis yang tidak diketahui kabar maupun keadaanya tetap ia percayai akan kembali.
Perlahan, Karin tersenyum tipis dan menarik Sasuke bangkit. Sasuke menatap balik karin dengan pandangan datarnya.
"Kalau menunggu sendirian disini tidak asyik, kan?" Karin tersenyum dengan cerianya, "Ayo kita tunggu bersama-sama..." Ia menarik Sasuke keluar bersama yang lain.
Sasuke hanya diam , namun ia memandang Karin dari belakang dengan wajah yang tidak bisa dimengerti.
.
.
.
SRAAAAAAK SRAAAAK SRAAK
Sakura Haruno menutup matanya dengan keringat dingin di dahinya. Ia menduga, bisa saja itu macan, serigala, singa ataupun ular yang datang.
"SASUKEEEE!"
'Ayo kita tunggu bersama-sama...'
'Aku yakin Sakura pasti kembali.'
-TBC-
Halo semuaaaaaa! Senangnya bisa kembali ke fic ini! XD
Chapter 8 sebagai ucapan terima kasih atas review yang mencapai 100 lebih! Aaaaaaaaaaa~ seneng bangeeeeeeet! Review 3 digit pertamakuuuuuu! *nangis terharu* #peluk reviewer n reader satu satu
Rasanya chapter 8 drama banget ya? =="a
Otak saya sudah terkontaminasi sama drama-drama, jadinya ya kayak gini deeh... ==a
Maaf kalau kurang bagus dan menarik... a
Kurasa, chapter 10 akan jadi chapter terakhir miss pesimis... Kuharap kalian semua mau membacanya sampai akhir ya... :')
Terima kasih untuk semuanya ya... Balasan review akan kulampirkan di chapter depan... :D
Review lagi?
Karikazuka
